Anda di halaman 1dari 16

Daftar Isi

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................2
2.1 Akuntansi Manajemen..........................................................................................................2
2.2 Penilaian atau Pengukuran Kinerja Sektor Publik................................................................ 5
BAB III PENUTUP .......................................................................................................................14
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................................14
3.2 Saran.................................................................................................................................14
DAFTAR RUJUKAN..............................................................................................................................15

iii
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengelolaan organisasi sektor publik sangat membutuhkan akuntansi manajemen sektor
publik. Akuntansi manajemen dapat memberikan informasi-informasi tidak hanya informasi keuangan
tetapi juga informasi secara keseluruhan serta membantu organisasi sektor publik dalam proses
perencanaan dan pengendalian. Proses perencanaan bisa memberikan gambaran yang jelas tentang
target yang akan dicapai organisasi. Penerapan akuntansi manajemen sektor publik merupakan
langkah untuk mengelola semua sumber daya dalam organisasi. Organisasi sektor publik merupakan
organisasi yang berusaha memberikan pelayanan baik kepada publik, sehingga publik bisa merasa
puas akan pelayanan tersebut. Selain itu, akuntansi manajemen sector publik juga membantu
organisasi dalam melakukan pengendalian yang dibutuhkan untuk menjamin apakah tujuan
organisasi yang telah diterapkan bisa tercapai. Akuntansi manajemen dalam organisasi sektor public
pun juga berperan dalam merencanakan strategi, memberikan informasi biaya, penilaian investasi,
penganggaran, dan penentuan biaya pelayanan dan tarif pelayanan. Maka dari itu, dengan adanya
akuntansi manajemen, seluruh kegiatan dalam organisasi sektor publik dapat dikelola dengan baik.
Pada saat ini kinerja organisasi sektor publik cukup mendapat sorotan oleh masyarakat,
terutama sejak timbulnya sistem yang lebih demokratis. Masyarakat mulai mempertanyakan atau
menilai apa saja yang mereka peroleh atas pelayanan yang diberikan. Sehingga organisasi sektor
publik sekarang ini dihadapkan oleh banyaknya tuntutan baik dari segi internal yaitu peningkatan
kinerja yang optimal dan segi eksternal yaitu adanya tuntutan masyarakat yang mengedepankan
akuntabilitas kinerja dan peningkatan pelayanan publik.
Salah satu peran akuntansi manajemen adalah melakukan penilaian atau pengukuran
terhadap organisasi sektor publik itu sendiri untuk menilai apakah organisasi tersebut sudah
menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga akuntabilitas kinerja dan kepuasan publik dapat
dicapai dengan mudah. Penilaian/pengukuran tersebut dapat dilakukan berdasarkan indikator-
indikator penilaian kinerja seperti indikator pada teknik analisis value for money yaitu ekonomi,
efisiensi dan efektivitas.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah hal-hal yang perlu kita ketahui tentang Akuntansi Manajemen terutama di Sektor Publik?
2. Apakah hal-hal yang perlu kita ketahui tentang Penilaian Kinerja di Sektor Publik?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang Akuntansi Manajemen terutama di Sektor Publik.
2. Untuk mengetahui tentang Penilaian Kinerja di Sektor Publik.
2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Akuntansi Manajemen
A. Definisi Akuntansi Manajemen
Akuntansi manajemen adalah disiplin ilmu yang berkenaan dengan penggunaan informasi
akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk keperluan penghitungan biaya
produk, perencanaan, pengendalian dan evaluasi, serta pengambilan keputusan.
Akuntansi Manajemen merupakan penerapan teknik-teknik dan konsep yang tepat dalam
pengolahan data ekonomi historikal dan dapat diproyeksikan dari suatu satuan usaha untuk membantu
manajemen dalam penyusunan rencana untuk tujuan-tujuan ekonomi yang rasional dan dalam membuat
keputusan-keputusan rasional dengan suatu pandangan ke arah pencapaian tujuan tersebut
(Kamaruddin, 2007: 5). Mulyadi (2001:3) menyatakan bahwa akuntansi manajemen adalah informasi
keuangan yang merupakan keluaran yang dihasilkan oleh tipe akuntansi manajemen, yang dimanfaatkan
terutama oleh pemakai intern organisasi. Akuntansi manajemen diperlukan dalam menyediakan informasi
yang diperlukan oleh manajemen dalam melakukan proses manajemen.
Akuntansi manajemen adalah proses dalam suatu organisasi yang bertujuan untuk menyediakan
informasi bagi para manajer untuk pengendalian, pengkoordinasian, dan perencanaan.
1. Pengendalian
Pengendalian merupakan proses yang digunakan oleh manajemen agar para pelaksana bekerja dengan
efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan organisasi atau tujuan bagian organisasi yang telah
ditentukan terlebih dahulu. Informasi akuntansi digunakan dalam proses pengendalian sebagai alat
komunikasi, pemotivasi, penarik perhatian, dan penilaian.
2. Koordinasi
Koordinasi adalah proses yang bertujuan agar kegiatan-kegiatan berbagai bagian di dalam rganisasi
secara bersama-sama dalam mencapai tujuan.
3. Perencanaan
Perencanaan adalah proses pengambilan keputusan mengenai tindakan yang akan dilaksanakan di masa
depan. Lingkup perencanaan dapat disususn untuk bagian-bagian di dalam organisasi atau untuk
organisasi sebagai keseluruhan.
B. Jenis Informasi Akuntansi Manajemen
Informasi akuntansi manajemen dapat dihubungkan dengan tiga hal, yaitu obyek informasi (produk,
departemen, aktivitas), alternatif yang akan dipilih, dan wewenang manajer. Oleh karena itu, informasi
akuntansi manajemen dibagi menjadi tiga tipe informasi:
1. Informasi Akuntansi Penuh (Full Accounting Information).
3

Informasi akuntansi penuh mencakup informasi masa lalu maupun informasi masa yang akan
datang. Informasi akuntansi penuh yang berisi informasi masa lalu bermanfaat untuk pelaporan
informasi keuangan kepada manajemen puncak dan pihak luar perusahaan, analisis kemampuan
menghasilkan laba, pemberian jawaban atas pertanyaan “berapa biaya yang telah dikeluarkan
untuk sesuatu”, dan penentuan harga jual dalam cost type contract.
Informasi akuntansi penuh yang berisi informasi masa yang akan datang bermanfaat untuk
penyusunan program, penentuan harga jual normal, penentuan harga transfer, dan penentuan
harga jual yang diatur oleh pemerintah.
2. Informasi Akuntansi Diferensial (Differential Accounting Information).
Informasi akuntansi diferensial merupakan taksiran perbedaan aktiva, pendapatan, dan/atau
biaya dalam alternatif tindakan yang lain. Informasi akuntansi diferensial mempunyai dua unsur
pokok, yaitu merupakan informasi masa yang akan datang dan berbeda di antara alternatif yang
dihadapi oleh pengambil keputusan. Informasi akuntansi diferensial yang hanya bersangkutan
dengan biaya disebut biaya diferensial (differential costs), yang hanya bersangkutan dengan
pendapatan disebut pendapatan diferensial (differential revenue), dan yang bersangkutan
dengan aktiva disebut aktiva diferensial (differential assets).
3. Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban (Responbility Accounting )
Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi aktiva, pendapatan, dan/atau
biaya yang dihubungkan dengan manajer yang bertanggungjawab atas pusat
pertanggungjawaban tertentu. Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi
yang penting dalam proses pengendalian manajemen karena informasi tersebut menenkankan
hubungan antara informasi keuangan dengan manajer yang bertanggungjawab terhadap
perencanaan dan pelaksanaannya. Informasi akuntansi pertanggungjawaban dengan demikian
merupakan dasar untuk menganalisis kinerja manajer dan sekaligus untuk memotivasi para
manajer dalam melaksanakan rencana mereka yang dituangkan dalam anggaran mereka
masing-masing.
Sistem informasi akuntansi manajemen tidak terikat oleh suatu kriteria formal yang menjelaskan
sifat dari masukan, proses dan keluarannya. Kriteria tersebut fleksibel dan berdasarkan pada tujuan yang
hendak dicapai manajemen.
Tujuan umum sistem akuntansi manajemen:
1. Menyediakan informasi yang diperlukan dalam penghitungan harga pokok jasa,produk, dan
tujuan lain yang diinginkan manajemen.
2.  Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian,
dan perbaikan berkelanjutan.
4

3.  Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan. Informasi akuntansi manajemen dapat


membantu mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja.
Jadi, informasi akuntansi manajemen dibutuhkan dan dipergunakan dalam semua
tahapmanajemen, termasuk perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.
C. Pengguna Akuntansi Manajemen
Dalam akuntansi manajemen tradisional hanya berfokus pada penyediaan kepada pengguna
internal seperti pabrik, divisi, atau lingkungan internal perusahaan dan tidak mengikuti perluasan ekonomi
perusahaan, terutama pada bagian eksternal dari bisnis yang terdiri dari persediaan, joint venture, dan
tujuan khusus perusahaan yang lain. Seiring dengan tuntutan global lebih diperhatikan focus pada
kemampuan akuntansi manajemen untuk mengukur dan mengevaluasi secara internal dan eksternal
bidang-bidang dalam perusahaan guna mengoptimalisasikan keputusan yang akan diambil oleh pihak
eksternal. Pihak-pihak tersebut adalah :
1. Pihak internal
Pihak internal adalah pihak yang berada dalam struktur organisasi. Manajemen adalah pihak yang paling
membutuhkan laporan akuntansi yang tepat dan akurat untuk mengambil keputusan yang baik dan benar.
Contohnya seperti manajer yang melihat posisi keuangan perusahaan untuk memutuskan apakah akan
membeli gedung untuk kantor cabang baru atau tidak.
2. Pihak eksternal
a. Investor
Investor membutuhkan informasi keuangan perusahaan untuk menentukan apakah akan
menanamkan modalnya atau tidak. Jika dalam prediksi investor akan memberikan keuntungan
yang baik, maka investor akan menyetorkan modal ke perusahaan, dan begitu juga sebaliknya.
b. Pemegang saham / pemilik perusahaan
Para pemilik perusahaan yang mempunyai bagian saham perusahaan membutuhkan informasi
keuangan perusahaan untuk dapat mengetahui sejauh mana kemajuan atau kemunduran yang
dialami perusahaan. Pemegang saham akan mendapatkan keuntungan dari dividen yang akan
semakin besar jika perusahaan untung besar.
c. Pemerintah
Besarnya pajak yang harus dibayarkan perusahaan atau organisasi kepada pemerintah sebagaian
besar berdasarkan atas informasi pada laporan keuangan perusahaan.
d. Kreditur
Jika perusahaan sedang terdesak dan membutuhkan dana segar perusahaan mungkin akan
meminjam uang pada kreditor seperti meminjam uang di bank, berhutang barang pada supplyer /
5

pemasok. Kreditur akan memberikan dana jika perusahaan memiliki kondisi keuangan yang baik
dan tidak akan memiliki potensi yang besar untuk merugi.
e. Pihak lainnya
Sebenarnya masih banyak pihak lain dari luar perusahaan perusahaan yang mungkin saja akan
menggunakan laporan / informasi akuntansi suatu organisasi seperti para karyawan, serikat
pekerja, auditor akuntan publik, polisi, pelajar / mahasiswa, wartawan, dan banyak lagi lainnya.
D. Akuntansi Sebagai Alat Perencanaan Organisasi
Perencanaan merupakan cara organisasi menetapkan tujuan dan sasaran organisasi
perencanaan meliputi aktivitas yang sifatnya strategic, taktis dan melibatkan aspek operasional.
Perencanaan organisasi sangat pnting dilakukan untuk mengantisipasi keadaan dimasa yang akan
datang. Bagi tiap-tiap jenis organisasi, sistem perencanaan berbeda – beda tergantung pada tingkat
ketidak pastian dan kestabilan lingkungan yang mempengaruhi.
E. Akuntansi Sebagai Alat Tujuan Organisasi
Untuk menjamin bahwa strategi untuk mencapai tujuan organisasi dijalankan secara ekonomis,
efisien, dan efektif maka diperlukan suatu sistem pengendalian yang efektif. Dalam memehami akuntansi
sebagai alat pengendalian perlu dibedakan penggunaan informasi akuntansi sebagai alat pengendalian
keuangan (financial control) dengan akuntansi sebagai alat pengendalian organisasik. Pengendalian
keuangan terkait dengan peraturan atau sistem aliran uang dalam organisasi, khususnya memastikan
bahwa organisasi memiliki likuiditas dan solvabilitas yang cukup baik.
F. Proses Perencanaan Dan Pengendalian Manajerial Organisasi Sektor Publik
Perencanaan dan pengendalian pada dasarnya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama,
sehinggan keduanya harus dipertimbangkan secara bersama-sama. Jones and Pendlebury (1996)
membagi proses perencanaan dan pengendalian manajerial pada organisasi sector publik menjadi lima
tahap yaitu:
1. Perencanaan tujuan dan sasaran dasar
2. Perencanaan operasional
3. Penganggaran
4. Pengendaliaan dan pengukuran dan
5. Pelaporan, analisis dan umpan balik
2.2 Penilaian/Pengukuran Kinerja Sektor Publik
Pengukuran kinerja merupakan proses yang dilakukan dalam mengevaluasi kinerja pekerjaan
seseorang (Mangkuprawira, 2003:25). Pengukuran kinerja dapat bermanfaat bagi perusahaan apabila
dilakukan dengan sebaik-baiknya, karena itu informasi yang dihasilkan harus efektif dan efisien.
Keefektivitasan suatu informasi tergantung dari cara penyampaian kepada pimpinan, yang menampung
6

setiap informasi dan kemudian akan diolah menjadi informasi yang berguna dalam menilai kinerja.
Penilaian kinerja dilakukan untuk menekankan perilaku yang tidak diinginkan, melalui umpan balik hasil
kinerja juga penghargaan baik yang bersifat intrinsic maupun ekstrinsik. Sehingga dapat disimpulkan
tujuan utama penilaian kinerja yaitu untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan
untuk mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan
hasil yang diinginkan.
Ivanovich dan Gomes dalam Narimawati (2007:32) mengatakan bahwa ada delapan dimensi
atau kriteria yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan penilaian atau pengukuran terhadap kinerja
berdasarkan deskripsi perilaku yang spesifik, yaitu : Quantity of work yaitu jumlah kerja yang dilakukan
dalam suatu periode waktu yang ditentukan. Quality of work yaitu kualitas kerja yang dicapai berdasarkan
syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya. Job knowledge yaitu luasnya pengetahuan mengenai
pekerjaan dan keterampilannya. Creativness yaitu keaslian gagasan yang dimunculkan dan tindakan-
tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul. Cooperation yaitu kesediaan untuk
bekerjasama dengan orang lain. Dependability yaitu kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran
dan penyelesaian pekerjaan. Initiative yaitu semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggung jawabnya. Personal qualities yaitu menyangkut kepribadian, kepemimpinan,
keramah tamahan, dan integrasi pribadi.
Kinerja pada sektor publik melalui sistem dan pengukuran yang menjembati suatu keadaan yang
dapat mengembangkan suatu pencapaian kinerja dan mengiringi laju perkembangan tolak ukur keuangan.
Tahap setelah operasionalisasi anggaran adalah pengukuran kinerja untuk menilai prestasi
manager dan unit organisasi yang dipimpinnya.
A. Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik
Landasan mengenai pengukuran kinerja organisasi mencapai batasan yang tak terhingga dan
sesuai dengan target kinerja pada organisasi. Organisasi sektor publik merupakan suatu landasan yang
riil dkean nyata yang kompeten pada anggota masing – masing yang memiliki ilmu serta wawasan yang
luas serta membantu keadaan serta kelayakan pada situsi tertentu. Sistem pengukuran kinerja sektor
publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manger public menilai pencapaian suatu
strategi melaluui alat ukur finansial dan nonfinansial.
Tujuan Sistem Pengukuran Kinerja secara umum, tujuan sistem pengukuran kinerja adalah:
1. Untuk mengkomunikasikan strategi secara lebih baik
2. Untuk mengukur kinerja finansial dan non finansial secara berimbang sehingga dapat ditelusur
perkembangan pencapaian strategi
3. Untuk mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan bawah serta
memonivasi untuk mencapai goal congruence, dan
7

4. Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan kemampuan kolektif
yang rasional.
Manfaat Pengukuran Kinerja
a. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen
b. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan
c. Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan membandingkannya dengan target
kinerja serta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja
d. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman secara obyektif atas pencapaian
prestasiyahng diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah disepakati
e. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi
f. Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi
g. Membantu memahami proses kegiatan instansni pemerintah, dan
h. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif
B. Informasi Yang Digunakan Untuk Pengukuran Kinerja
1. Informasi Finansial
Penilaian laporan kinerja finansial diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat. Penilaian
tersebut dilakukan dengan menganalisis varians (selisih atau perbedaan) antara kinerja actual dengan
yang dianggarkan. Analisis varians secara garis besar berfokus pada:
a. Varians pendapatan (revenue variance)
b. Varians pengeluaran (expenditure variance)
c. Varians belanja rutin (recurrent expenditure variance)
d. Varians belannja investasi/modal (capital expenditure variance)
2. Informasi Nonfinansial. Informasi nonfinansial dapat dijadikan sebagai tolak ukur lainnya.
Pengukuran dengan metode Balanced Scorecard melibatkan empat aspek, yaitu:
a. Perspektif finansial (financial perspective)
b. Persfektif kepuasan pelanggan (customer perspective)
c. Perspektif efisiensi proses internal (internal process efficiency), dan
d. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth perspective)
C. Peranan Indikator Kinerja Dalam Pengukuran Kinerja
Untuk melakukan pengukuran kinerja, variable kunci yang sudah teridentifikasi tersebut kemudian
dikembangakkn menjadi indicator kinerja untuk unit kerja yang bersangkutan.
1. Faktor Keberhasilan Utama adalah suatu area yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja
organisasi. Area ini merefleksikan preferensi manajerial dengan memperhatikan variable – variable kunci
finansial dan non finansial pada kondisi waktu tertentu.
8

2. Indikator Kinerja Kunci merupakan sekumpulan indicator yang dapat diianggap sebagai ukuran kinerja
kunci baik yang bersifaft finansial maupun nonfinansial untuk melaksanakan operasi dan kinerja unit
bisnis, indicator ini dapat digunakan dapat digunakan oleh manajer untuk mendeteksi dan memonitor
capaian kinerja.
3. Pengembangan Indikator kinerja Penggunaan indicator kinerja sangat penting untuk mengetahui
apakah suatu aktifitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif.
Penentuan indicator kinerja perlu mempertimbangkan komponen berikut:
a. Biaya pelayanan (cost of service)
b. Penggunaan (utilization)
c. Kualitas dan standar pelayanan (quality and standards)
d. Cakupan pelayanan (coverage); dan
e. Kepuasan (satisfaction)
Indikator biaya biasanya diukur dalam bentuk biaya unit (unit cost), misalnya biaya perunit
pelayanan (panjang jalaln yang diperbaiki, jumlah ton sampahyang terangkut, biaya persiswa).
D. Indikator Kinerja Dan Pengukuran Value For Money
a. Pengertian dan Peranan Indikator Kinrja
Istilah “indikator kinerja”. Ukuran kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara langsung,
sedangkan kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal yang bersifat
hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Untuk dapat mengukur kinerja pemerintah, maka perlu
diketahui indikator-indikator kinerja sebagai dasar penilaian kinerja.
Pengertian indikator kinerja berdasarkan penyampaian Lembaga Administrasi Negara dan Badan
Pengawas Keuangan Pemerintah (LAN BPKP 2000:5) diartikan sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif
yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Dengan
demikian indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang dapat diukur dan digunakan sebagai dasar
untuk menilai kinerja, baik pada tahap perencanan (ex-ante), tahap pelaksanaan (ongoing), maupun
setelah selesai (ex-post). Indikator kinerja juga dapat dgunakan untuk melihat kemajuan dalam hal
pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh organisasi pemerintahan. Tanpa indikator
kinerja akan menyulitkan pihak yang ingin memberikan penilaian terhadap kinerja dari kebijaksanaan,
program, kegiatan instansi pemerintahan, yang pada akhirnya akan menyulitkan memberi penilain kinerja
organisasi secara keseluruhan.
Secara umum, indikator kinerja menurut Badrul Munir (2003:61) sebagai berikut :
1. Memperjelas tentang apa berapa, dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan
9

2. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan
interprestasi selama pelaksanan kegiatan termasuk dalam menilai kinerja instansi pemeritah yang
melaksanakannya.
3. Membangun dasar pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja sector publik.
Adapun peranan indikator kinerja bagi pemerintah adalah sebagai berikut :
a. Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi
b. Untuk mengevaluasi target akhir (final outcome) yang dihasilkan.
c. Sebagai masukan untuk menetukan skema intensif manajerial.
d. Memungkinkan bagi pemakai jasa layanan pemerintah untuk melakukan pilihan
e. Untuk menunjukkan standar layanan kinerja
f. Untuk menunjukan efektivitas
g. Untuk membantu menetukan yang memiliki efektivitas biaya yang paling baik untuk mencapai taget
sasaran.
h. Untuk menentukan wilayah, bagian atau proses yang masih potensial untuk dilakukan penghematan
biaya.
Indikator kinerja menurut Bastian (2006:267) adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang
menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, dengan
memperhitungkan indikator masukan (Input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefits) dan
dampak (impacts). Maksud dari indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampa adalah :
1. Indikator masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat
berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia,
informasi, kebijakan, peraturan perundang undangan dan sebagainya.
2. Indikator keluaran (output) adalah suatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang
dapat berupa fisik dan/atau nonfisik.
3. Indikator hasil (outcome) adalah segala suatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan
pada jangka menengah (efek langsung).
4. Indkator manfaat (benefit) adalah suatu yang berkaitan dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan
5. Indikator dampak (impact) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif terhadap
setiap tingkatan indikator berdasarka asumsi yang telah ditetapkan.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu indikator kinerja menurut Bastian (2010:7) yaitu :
1. Spesifik, jelas, dan tidak ada kemungkinan kesalahan interprestasi.
2. Dapat diukur secara objektif baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, yaitu dua atau lebih yang
mengukur indikator kinerja mempunyai kesimpulan yang sama.
3. Relevan, indikator kinerja harus mengenangani aspek objektif relevan
10

4. Dapat dicapai, dan harus berguna untuk menunjukkan keberhasilan masukan, proses, keluaran, hasil,
manfaat serta dampak.
5. Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahan, penyesuaian pelaksanaan dan hasil
pelaksanaan kegiatan
6. Efektif ; dana/informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang bersangkutan dapat disimpulkan,
diolah dan dianalitis dengan biaya yang tersedia.
a. Pengertian Value For Money
Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sector publik yang mendasarkan
pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi, efesiensi dan efektivitas. Value for money merupakan inti
pegkuran kinerja pada sektor organisasi pemerintah. Value for money merupakan pendekatan nilai untuk
uang yang artinya dimana nilai uang untuk menilai biaya suatu produk atau layanan terhadap kualitas
penyediaan. Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah. Kinerja
pemerintah tidak dapat dinilai dari output yang dihasilkan saja, akan tetapi harus mempertimbangkan
input, output dan outcome secara bersama-sama.
Pengukuran kinerja berdasarkan alokasi biaya dan pelayanan. Menurut Mahmudi, Value for
money (VRM) merupakan konsep penting dalam organisasi sektor publik. Meskipun sama-sama
menggunakan kata Value for dan money , konsep value for money sangat berbeda pengertiannya dengan
konsep time value of money. Time of money memilki pengertian bahwa nilai uang bisa berubah dengan
adanya perubahan waktu, sedangkan value for money memilki pengertian penghargaan terhadap nilai
uang, hal ini berarti bahwa setiap rupiah harus dihargai secara layak dan digunakan sebaik-baiknya. Value
for money merupakan kunci pengukuran kinerja sektor publik,maka sistem pengukuran kinerja sektor
publik juga harus difokuskan untuk mengukur eonomis, efesiensi dan efektivitas (Mahmudi, 2015 :89).
Pengukuran kinerja value for money memberikan informasi yang dapat membentuk fungsi-fungsi
pengendalian serta mendorong tanggungjawabmanajer dalam melaksanakan fungsi akuntabilitas. Oleh
karena itu, value for money dapat membantu pihak manajemen dalam melakukan pengambilan keputusan
yang lebih baik. Indikator kinerja harus dapat memberikan manfaat kepada pihak internal yaitu berperan
untuk menunjukkan, memberikan indikasi atau memfokuskan perhatian pada bidang yang relevan
dilakukan tindakan perbaikan maupun kepada pihak eksternal yaitu mengontrol dan sekaligus
memberikan informasi dalam rangka mengukur tingkat akuntabilitas publik.
Value for money adalah suatu konsep untuk menilai kinerja suatu organisasi sektor publik yang
tidak hanya ditinjau dari aspek keuangan saja, Konsep value for money merupakan konsep untuk
mengukur ekonomi, efesiensi, dan efektivitas kinerja program, kegiatan organisasi. Konsep value for
money adalah konsep yang penting dalam organisasi sektor publik sehingga sering kali disebut dengan
inti dari pengukuran kinerja sektor publik. Menurut Mahmudi (2007) dalam Halim dan Kususfi (2013:132).
11

VFM juga mengandung arti sebagai penghargaan terhadap dalam nilai uang. Hal ini berarti setiap rupiah
harus dihargai secara layak dan digunakan sebagaimana mestinya.
Value for money menurut Mardiasmo (2002:130) merupakan konsep pengelolaan organisasi
sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen, yaitu ekonomis, efesiensi dan efektivitas. Ekonomis :
pemerolehan input dengan kualitas tertentu pada harga yang terendah. Ekonomis merupakan
perbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Efesiensi: pencapaian
output yang maksimum dengan input tertentu untuk penggunaan input yang terendah untuk mencapai
output tertentu. Efesiensi merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja
atau target yang telah ditetapkan. Efektivitas: tingkat pencapaian hasil program dengan target yang
ditetapkan. Secara sederhana efektifitas merupakan perbandingan outcome dengan output.
b. Manfaat Implementasi Value For Money pada Sektor Publik
Penerapan konsep value for money dalam pengukuran kinerja pada organisasi sektor publik
tentunya memberikan manfaat bagi organisasi itu sendiri maupun masyrakat. Manfaat yang dikehendaki
dalam pelaksanaan value for money pada organisasi sektor publik yaitu: ekonomis (hemat cermat) dalam
pengadaan dan alokasi sumber daya, efesiensi (berdaya guna) dalam penggunaan sumber daya, dan
efektif (berhasil guna) dalam mencapai tujuan dan sasaran (Mardiasmo, 2011:112).
Manfaat implementasi Konsep value for money pada organisasi sektor publik antara lain :
2. Meningkatkan efektivitas pelayanan pubik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepat sasaran.
2. Meningkatkan mutu pelayanan publik.
3. menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangya inefisiensi dan terjadinya penghematan dalam
penggunaan input.
4. Alokasi belanja yang lebih berorientasipada kepentingan publik.
5. Menigkakan kesadaran akan uang publik (public costs awareness) sebaga akar pelaksanaan
akuntabilitas publik.
Dari berbagai manfaat yang disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa penerpan konsep value
for money dalam pegukuran kinerja organisasi sektor publik sangat membantu suatu instansi pemerintah
agar dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan tepat dan sesuai sasaran sehingga
terciptanya mutu pelayanan yang baik dengan penggunaan sumber daya ekonomis dan efesien.
c. Indikator Value For Money
Peranan indikator kinerja adalah untuk menyediakan informasi sebagai pertimbangan untuk
pembuatan keputusan. Indikator value for money dibagi menjadi dua bagian yaitu :
(1) indikator alokasi biaya (ekonomis dan efesiensi)
(2) indikator kualitas pelayanan (efektifitas).
12

Indikator efesiensi mengagambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suatu unit
organisasai (seperti staf, upah, biaya administrasi) dan keluaran yang dihasilkan. Sedangkan indikator
efektivitas menggambarkan jangkauan akibat dam dampak (outcome) dari keluaran (otput) program dalam
mencapai tujuan program. Indikator efesiensi dan efektivitas harus digunakan secara bersamasama.
Karena disatu pihak mungkin pelaksanaannya sudah dilakukan secara ekonomis dan efesien akan tetapi
output yang dihasilkan tidak sesuai dengan target yang diharapkan atau dilain pihak sebuah program
dapat dikatakan efektif dalam mencapai tujuan. Akan tetap mungkin dicapai dengan cara yang tidak
ekonomis dan efesien. Jika suatu program efektif dan efesien maka program yang dijalankan dapat
dikatakan cost-effectiveness. Indikator efektivitas biaya merupakan kombinasi informasi efesiensi dan
efektivitas dan dapat memberikan ukuran kinerja bottom line yang dalam sektor publik diidentikkan
dengan pelayanan publik.
d. Langkah-langkah Pengukuran Value For Money
1. Pengukuran Ekonomi

Pengukuran ekonomis haya mempertimbangkan masukan (input) yang dipergunakan. Dalam hal
ini ekonomi merupakan ukuran relatif. Berbagai pertanyaan yang perlu diperhatikan dalam pengukuran
ekonomi, antara lain: (i) Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dianggarkan oleh organisasi;
(ii) Apakah organisasi lebih besar dari pada biaya organisasi sejenis yang dapat diperbandingkan; (iii)
Apakah organisasi telah meggunakan sumber daya finansial secara maksimal. Tiga pertanyaan ini dapat
dikatakan sebagai pertanyaan mendasar, dan selanjutnya masih dapat dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan informasi yang dibutuhkan dalam rangka mengetahui tingkat ekonomisnya.
2. Pengukuran Efesiensi
Efesiensi dapat diukur dengan rasio antara output dan input. Semakin besar rasio berarti
semakin tinggi nilai efesiensi. Dalam pengukuran indikator Value for money efesiensi teknis manajerial.
Efesiensi alokasi terkait dengan kemampuan untuk mendaya gunakan sumber daya input pada tingkat
kapasitas optimal. Efesiensi teknis atau manajerial terkait dengan kemampuan mendaya gunakan sumber
daya input pada tingkat output tertentu. Dalam organisasi sektor publik setiap perlu dibuat standar
belanjanya (standard spending assessment) sebagai bentuk standar biaya. Pengukuran efesiensi
dilakukan dengan cara membandingkan realisasi belanja dengan standar belanjanya. Penetapan standar
belanja tersebut sebelumnya juga sudah harus mempertimbangkan aspek ekonomi serta standar
pelayanan public minimum yang harus dipenuhi.
3. Pengukuran Efektivitas
Efektivitas dapat diukur dengan rasio antara outcome dan output. Berhasil tidaknya suatu
organisasi mencapai tujuannya dapat diukur dengan tingkat efektivitas dari kegiatan organisasi tersebut.
13

Apabila organisasi berhasil dalam mencapai tujuan dan sasaran yang dietapkan maka dapat dikatakan
bahwa organisasi tersebut telah berjalan dengan efektif.
14

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Akuntansi manajemen sektor publik memiliki kaitan yang erat dengan sistem pengendalian
manajemen sektor publik. Sistem pengendalian manajemen sektor publik memiliki dua komponen, yaitu :
1. Proses Pengendalian Manajemen, yang meliputi aktivitas, yaitu :
a. Perencanaan
b. Koordinasi
c. Komunikasi informasi
d. Pengambilan keputusan
e. Motivasi
f. Pengendalian, dan
g. Penilaian kinerja
2. Struktur Pengendalian Manajemen terkait dengan desain struktur organisasi yang tercermin dalam
bentuk pusat-pusat pertanggungjawaban.
Akuntansi manajemen sektor publik berfungsi sebagai penyedia informasi untuk pengambilan
keputusan ekonomi, sosial, dan politik serta membantu memberi informasi untuk perencanaan dan
pengendalian bagi manajer publik. Akuntansi manajemen dalam organisasi sektor publik berperan untuk
merencanakan strategi, memberikan informasi biaya, penilaian investasi, penganggaran, dan penentuan
biaya pelayanan (cost of service) dan tarif pelayanan (charging for service).

3.2 Saran

Prinsip akuntansi manajemen sektor publik pada dasarnya tidak memiliki banyak perbedaan
dengan prinsip akuntansi manajemen yang diterapkan padasektor swasta. Akan tetapi, harus diingat
bahwa sektor publik memiliki perbedaansifat dan karakterisitik dengan sektor swasta, sehingga penerapan
teknik akuntansimanajemen sektor swasta tidak dapat diadopsi secara langsung tanpa modifikasi.
15

DAFTAR RUJUKAN
Abdul Halim dan Syam Kususfi. 2013. “Akuntansi Sektor Publik “. Jakarta Salemba Empat.
Bastian,Indra. 2010.“Akuntansi Sektor Publik Di Indonesia“. Cet.I. Yogyakarta BPFE.
Kamaruddin, Ahmad. 2007. Akuntansi Manajemen : Dasar-dasar konsep biaya dan pengambilan
keputusan. Penerbit Raja Grafindo. Jakarta.
Mangkuprawira, Sjafri. 2003. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Penerbit Ghalia Indonesia.
Jakarta.
Mahmudi. 2010. “Manajemen Kinerja Sektor Publik “. Edisi Kedua. UPP STIM YKPN.Yogyakarta.
Mardiasmo.(2009). “ Akuntansi Sektor Publik”. Edisi IV Yogyakarta : BFE.
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen; Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Penerbit Salemba Empat.
Jakarta.
Munir, Badrul. 2003“ Perencanaan Anggaran Kinerja Memangkas Infensiensi Anggaran Daerah “.
Yogyakarta.
Narimawati, Umi. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Agung Media. Jakarta.
https://www.rwblog.id/2015/11/makalah-akuntansi-manajemen-dan.html Diakses Tanggal
05/03/2021