Anda di halaman 1dari 109

PENGARUH TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP

KECEMASAN PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN


TINDAKAN PTCA DI BANGSAL JANTUNG
RSUP. DR. M. DJAMIL

PENELITIAN KEPERAWATAN DASAR

SKRIPSI

OLEH :

ELVIANIS
BP. 1911319006

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS


PADANG
2020
SKRIPSI
PENGARUH TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP
KECEMASAN PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN
TINDAKAN PTCA DI BANGSAL JANTUNG RSUP. DR. M. DJAMIL
PADANG

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) Pada Fakultas


Keperawatan Universitas Andalas

Oleh :

ELVIANIS

BP. 1911319006

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERITAS ANDALAS
TAHUN 2021

i
fERSETUJLANGKRI2M
iii
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERITAS ANDALAS

SKRIPSI, JANUARI 2021

ELVIANIS

PENGARUH TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKI TERHADAP


KECEMASAN PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN
TINDAKAN PTCA DI BANGSAL JANTUNG RSUP. DR. M. DJAMIL
PADANG

ABSTRAK
PTCA merupakan prosedur invasive dengan memasukan selang kecil ke
pembuluh darah arteri untuk membuka arteri koroner yang tersumbat sehingga
melancarkan aliran darah. Tindakan ini menimbulkan kecemasan pada pasien,
beberapa intervensi, diantaranya pijat refleksi kaki digunakan untuk
meredakannya. Tujuan penelitian: mengetahui pengaruh terapi pijat terhadap
kecemasan pada pasien yang akan menjalani prosedur PTCA.
Disain penelitian menggunakan quasi experiment denganpre-post test control
group design. Sampel: 34 orang pasien PJK dengan tindakan PTCA yang dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang diberikan pijat refleksi kaki dan
kelompok yang tidak diberikan pijat refleksi kaki. Kecemasan diukur dengan
kuesioner STAI. Data dianalisis dengan menggunakan uji paired sample t test
Hasil ditemukan sebagian besar sampel berada pada umur dewasa madya yaitu
64,7% (intervensi) 100% (control). Pendidikan sampel lebih dari sebagian adalah
SMA yaitu 58% (intervensi) dan 76,5% (control). Lebih dari sebagian sampel
berjenis kelamin laki-laki yaitu 88,2% (intervensi) dan 70,6% (control). Sebagian
besar sampel berstatus kawin yaitu 88,2% (intervensi) dan 100% (control).
Sebagian besar sampel berstatus ekonomi menengah baik pada kelompok
intervensi maupun control (88,2%). Rata-rata kecemasan sampel sebelum
intervensi 49,59 ± SD dan sesudah intervensi 34,12 ± SD. Rata-rata kecemasan
pada kelompok control sebelum penelitian 52,53 ± SD dan sesudah penelitian
49,29 ± SD. Ada perbedaan rata-rata kecemasan sampel sebelum dan setelah
diberikan pijat refleksi kaki (kelompok intervensi). Tidak ada perbedaan rata-rata
kecemasan sampel yang tidak diberikan pijat refleksi kaki sebelum dan setelah
penelitian (kelompok kontrol).
Disarankan untuk mengaplikasikan terapi pijat refleksi kaki pada pasien dengan
tindakan PTCA.

Kata kunci: Pijat refleksi kaki, kecemasan, PTCA

iv
STUDY PROGRAM OF S1 NURSING FACULTY OF NURSING
ANDALAS UNIVERSITY

THESIS, JANUARY 2021

ELVIANIS

EFFECT OF FOOT REFLECTION MASSAGE THERAPY TOWARDS


ANXIETY OF CORONARY HEART DISEASE PATIENTS WITH PTCA
ACTION IN CARDIOVASCULAR RSUP. DR. M. DJAMIL

ABSTRACT
PTCA is an invasive procedure that involves inserting a small tube into an artery
to open blocked coronary arteries to increase blood flow. This action causes
anxiety in the patient, several interventions, including foot reflexology are used to
relieve it. The research objective: to determine the effect of massage therapy on
anxiety in patients undergoing PTCA procedures.
The research design used a quasi experiment with pre-post test control group
design. Sample: 34 CHD patients with PTCA action divided into 2 groups,
namely the group that was given foot reflexology and the group that was not given
foot reflexology. Anxiety was measured by using the STAI questionnaire. Data
were analyzed using paired sample t test
The results found that most of the samples were in middle adulthood, namely
64.7% (intervention) 100% (control). More than half of the sample education is
SMA, namely 58% (intervention) and 76.5% (control). More than some of the
sample were male, namely 88.2% (intervention) and 70.6% (control). Most of the
samples are currently married, namely 88.2% (intervention) and 100% (control).
Most of the samples had middle economic status in both the intervention and
control groups (88.2%). The average sample anxiety before the intervention was
49.59 ± SD and 34.12 ± SD after intervention. The mean of anxiety in the control
group before the study was 52.53 ± SD and 49.29 ± SD after the study. There was
a difference in the average anxiety of the sample before and after being given foot
reflexology (intervention group). There was no difference in the average anxiety
of the samples who were not given foot reflexology before and after the study
(control group).
It is recommended to apply foot reflexology therapy to patients with PTCA
measures.

Key words: Foot reflexology, anxiety, PTCA

v
UCAPAN TERIMAKASIH

Segala puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat dan Karunia kepada makhluk-Nya. Shalawat serta salam
dikirimkan kepada nabi Muhammmad SAW sehingga peneliti dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan judul. “Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Kaki
Terapi Kecemasan Pasien Penyakit Jantung Koroner Dengan Tindakan
PTCA Di Bangsal Jantung RSUP. DR. M. DJamil Padang”. Skripsi ini
diajukan sebagai salah satu syarat untuk pembuatan skripsi agar memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.

Terima kasih yang sebesar-besarnya peneliti ucapkan kepada pembimbing


Ibu Ns. Rika Fatmadona.M.Kep. Sp.Kep. MB dan Ibu Ns. Efyra. M. Kep yang
telah penuh telaten dan penuh kesabaran dalam membimbing peneliti dalam
menyusun skripsi ini. Selain itu juga ucapan terima kasih kepada :

1. Ibu Hema Malini, S.Kp, MN, PhD selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas Padang.

2. Ibu Emil Huriani, S. Kp., MN selaku Ketua Program Studi S1 Keperawatan


Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.

3. Direktur RSUP DR. M. DJAMIL Padang yang telah memberi izin dan
kesempatan untuk melakukan penelitian di Instalasi Pusat Jantung Terpadu.

4. Seluruh Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas yang telah


memberikan berbagai ilmu pengetahuan kepada peneliti selama perkuliahan.
Keluarga yang selama ini selalu memberikan dukungan dan do’a kepada
peneliti dalam seluruh tahapan proses penyusunan skripsi ini.

5. Suami ku tercinta Eddy dan anak-anakku tersayang yang turut membantu


dalam menyusun skripsi ini baik secara moril maupun materi.

Peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam


skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran dari
berbagai pihak demi lebih baiknya skripsi ini.

Padang, Januari 2021

Peneliti

vi
DAFTAR ISI

COVER.....................................................................................................................i
PERSETUJUAN SKRIPSI....................................Error! Bookmark not defined.
PENETAPAN PANITIA PENGUJI......................Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK..............................................................................................................iv
ABSTRACT.............................................................................................................v
UCAPAN TERIMAKASIH................................................................................... vi
DAFTAR ISI......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL...................................................................................................vi
DAFTAR BAGAN................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................... 8
C. Tujuan Penelitian.................................................................................................8
1. Tujuan Umum.......................................................................................................... 8
2. Tujuan khusus.......................................................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian............................................................................................. 9
1. Bagi pelayanan/ Rumah sakit................................................................................... 9
2. Bagi Pendidikan....................................................................................................... 9
3. Bagi profesi.............................................................................................................. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................10
A. Penyakit Jantung Koroner................................................................................. 10
1. Pengertian penyakit jantung koroner...................................................................... 10
2. Faktor resiko penyakit jantung coroner.................................................................. 11
3. Patofisiologi penyakit jantung koroner.................................................................. 15
B. Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA)............................16
1. Definisi PTCA....................................................................................................... 16
2. Anatomi dan Fisiologi............................................................................................ 17
3. Kontra indikasi....................................................................................................... 18
4. Prosedur PTCA...................................................................................................... 18
5. Komplikasi PTCA.................................................................................................. 21
C. Kecemasan........................................................................................................ 22
1. Pengertian kecemasan............................................................................................ 22
2. Tingkat kecemasan................................................................................................. 22
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecemasan...................................................... 24
D. Pijat refleksi kaki...............................................................................................25
1. Pengertian pijat refleksi kaki.................................................................................. 25
2. Titik pijat refleksi kaki........................................................................................... 25
3. Tujuan dan Manfaat refleksi pijat kaki................................................................... 27
4. Prosedur pelaksanaan Pijat..................................................................................... 28

vii
BAB III KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL DAN
HIPOTESIS............................................................................................................31
A. Kerangka Teoritis..............................................................................................31
B. Kerangka Konseptual........................................................................................ 33
C. Hipotesis Penelitian...........................................................................................34
BAB IV METODE PENELITIAN........................................................................ 45
A. Desain Penelitian...............................................................................................45
B. Waktu dan Lokasi Penelitian.............................................................................45
C. Populasi dan Sampel......................................................................................... 45
1. Populasi dan sampel penelitian.............................................................................. 45
D. Alat Penelitian...................................................................................................48
E. Variabel Penelitian............................................................................................ 49
1. Variabel independen.............................................................................................. 49
2. Variabel dependen................................................................................................. 49
F. Definisi Operasional..........................................................................................50
G. Prinsip Etik Penelitian.......................................................................................50
H. Pengumpulan Data............................................................................................ 52
I. Pengolahan dan Analisa Data...........................................................................53
J. Prosedur Operasional........................................................................................ 55
K. Kerangka Operasional Penelitian......................................................................56
BAB V HASIL PENELITIAN.............................................................................. 57
A. Gambaran Umum Sampel Penelitian................................................................ 57
B. Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah Penelitian pada Kelompok
Intervensi dan Kelompok Kontrol..........................................................................59
C. Uji Normalitas...................................................................................................59
D. Uji Homogenitas............................................................................................... 60
E. Perbedaan Rata-Rata Selisih Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah
Penelitian pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol.............................. 60
BAB VI PEMBAHASAN......................................................................................63
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................70
A. Kesimpulan........................................................................................................70
B. Saran..................................................................................................................71
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 72
LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Defenisi Operasional...............................................................................34

Tabel 5.1 Distribusi Kriteria Sampel Intervensi.....................................................57

Tabel 5.2 Distribusi Kriteria Sampel Kontrol.........................................................58

Tabel 5.3 Uji Normalitas.........................................................................................59

Tabel 5.4 Perbedaan Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan setelah Intervensi
Pijat Refleksi Kaki..................................................................................................59

Tabel 5.5. Perbedaan Rata-rata Kecemasan Sampel Kontrol dan Setelah Penelitian
Pada Kelompo Kontrol...........................................................................................60

vi
DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1 Kerangka Teoritis..................................................................................30

Bagan 3.2 Kerangka Konseptual.............................................................................32

Bagan 3.3 Kerangka Operasional Penelitian..........................................................43

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Percutaneous Transluminal Caronary Angioplasty (PTCA)...............15

Gambar 2.2 Titik Pijat Refleksi Di Telapak Kaki Kanan.......................................24

Gambar 2.3 Titik Pijat Refleksi Di Telapak Kaki Kiri...........................................25

Gambar 2.4 Contoh Cara Pemijatan Kaki...............................................................28

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 kuisioner

Lampiran 2 Inform Consent

Lampiran SOP

Lampiran Hasil Output

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian, kecacatan,

penderitaan dan kerugian materi serta menyebabkan keterbatasan fisik dan sosial

yang memerlukan penataan kehidupan pasien, komplikasi yang ditimbulkan oleh

penyakit jantung koroner tidak hanya masalah bagi pasien tapi juga pada keluarga

(HIPERKI, 2015). Penyakit jantung koroner adalah penyempitan atau

penyumbatan pembuluh darah koroner, biasanya disebabkan oleh atherosklerosis.

Atherosklerosis adalah penumpukan kolesterol dan timbunan lemak (disebut plak)

di dinding bagian dalam arteri. Plak ini dapat mengurangi aliran darah ke otot

jantung dan mengurangi suplai darah sehingga jantung menjadi kekurangan

oksigen dan nutrisi penting yang dibutuhkannya untuk bekerja dengan baik. Gejala

yang dapat dirasakan berupa nyeri dada yang disebut angina maupun serangan

jantung (Pratiwi and Saragi, 2018).

Insiden penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian paling

sering dengan jumlah kematian 1,8 juta jiwa di Eropa (Wihastuti, 2016). Menurut

data WHO tahun 2016 penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian

di negara-negara Asia. Untuk wilayah Asia Tenggara ditemukan 3,5 juta kematian

penyakit kardiovaskuler, 52% diantaranya disebabkan oleh penyakit infark

miokard. Kejadian Penyakit Jantung di negara berkembang seperti Indonesi

1
2

tingkat kejadian terus meningkat setiap tahun. Hasil survei dari Riset Kesehatan

Dasar tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia

berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala adalah sebesar 1,5% atau

diperkirakan sekitar 2.650.340 orang.

Sumatera Barat merupakan Provinsi dengan prevelansi penyakit jantung

tertinggi ke-5 di Indonesia setelah Kalimantan Utara, Daerah Istimewa Yogjakarta,

Gorontalo dan Aceh dengen prevelansi 1,6%. Prevenlensi penyakit jantung

koroner di Sumatera Barat yang terdiagnosis dokter adalah 0,4 persen, sedangkan

yang terdiagnosis dengan gejala mirip penyakit jantung koroner adalah 1,2 persen.

Berbagai upaya dalam penurunan tingkat kematian akibat penyakit jantung

koroner terus dikembangkan mulai dari penurunan faktor risiko, terapi medis

sampai operasi jantung (Go et al., 2013; Rahmani & Mollashahi, 2013). Berbagai

metode operasi jantung telah digunakan, dan yang paling umum digunakan adalah

kateterisasi jantung antara lain Percutaneous Coronary Intervention (PCI) yang

juga biasa disebut Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA)

(Aalto et al. 2006; Roohafza et al. 2015; Sharif et al. 2014; Potluri et al. 2014;

Sharif et al. 2014).

PTCA (Percutaneous Transluminal Angioplasty Coronary / Angioplasti

koroner transluminal perkutan ) juga disebut PCI (Percutaneous Coronary

Intervention / intervensi koroner perkutan) adalah prosedur invasif dengan

menggunakan metode kateterisasi memasukan selang kecil kedalam pembuluh

darah arteri dan/ vena dan menelusurinya hingga kejantung dengan menggunakan

sinar-X untuk melihat sumbatan pembuluh darah koroner dan untuk membuka
3

arteri koroner yang tersumbat penyempitan baik dengan cara baloonise atau

stenting sehingga memungkinkan aliran darah koroner kembali lancar (PERKI,

2018). Proses terjadinya penyumbatan karena terdapat plak – plak yang kaya lipid

dalam pembuluh darah arteri koroner yang menyebabkan terjadinya penyempitan,

sehingga mengurangi aliran darah ke miokardium. Akumulasi plak kaya lipid di

arteri dikenal sebagai aterosklerosis. Ketika aterosklerosis mempengaruhi arteri

koroner, gangguan tersebut dikenal sebagai penyakit arteri koroner (Malik and

Tivakaran, 2018).

Pelaksanaan prosedur PTCA dalam mengobati penyakit jantung koroner

semakin marak digunakan. Pada tahun 1983, kira-kira 32.300 PTCA dikerjakan di

Amerika Serikat, tetapi tiga tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi

159.643. Pada tahun 1990 meningkat menjadi 300.000, pada tahun 1995

meningkat menjadi 400.000 (884.000 PTCA seluruh dunia). Sampai saat ini jutaan

pasien penyakit jantung koroner telah terbukti dapat diobati dengan prosedur

PTCA ini. Di RSUP Dr. M. Djamil Padang pelaksanaan prosedur PTCA juga

sudah banyak dilakukan dalam pengobatan jantung koroner. RSUP dr. M. DJamil

Padang merupakan rumah sakit rujukan sumatera tengah, yang mana tindakan

PTCA ini dimulai dari tahun 2006 dengan alat yang lengkap IPJT. tindakan PTCA

merupakan tindakan unggulan yang mana pasien dalam periode Juli-Desember

2019 didapatkan data jumlah pasien yang dilakukan Tindakan kateterisasi jantung

sebanyak 645 pasien (PTCA 329 pasien, CAG dan PCI 162 pasien) sedangkan

pada masa pandemi periode Maret-Agustus 2020 pasien yang menjalani


4

kateterisasi jantung sebanyak 349 orang. Jadi rata rata pasien 58 per bulan dan rata

rata perhari 5-6 pasien.

Prosedur tindakan invasif sering menimbulkan rasa cemas pada pasien

(Kern & Samady, 2010). Kecemasan ini bisa disebabkan oleh ketakutan akan

kematian, masalah / komplikasi yang mungkin terjadi, perasaan keterasingan pada

lingkungan ruangan kateterisasi, ketakutan akan perubahan gaya hidup pasca

tindakan, hospitalisasi dan menunggu tindakan merupakan sumber stress dan

ketegangan terbesar bagi pasien. Semakin Panjang masa rawatan bagi pasien yang

non jaminan BPJS, berarti akan menambah biaya. Hal ini merupakan faktor stress

tersendiri bagi pasien dengan social ekonomi yang rendah (Gu et al, 2016).

Kecemasan dapat terjadi saat pasien masuk rumah sakit, sebelum tindakan

PCI, setelah tindakan PCI sampai pasien keluar dari rumah sakit (Delewi et al,

2017). Hasil penelitian di China menunjukkan bahwa kejadian kecemasan pasien

tertinggi terjadi 1 hari setelah tindakan PCI yaitu sebesar 54,7% (Gu et al, 2016)

dan di Brazil kejadian kecemasan setelah PCI paling banyak kecemasan berat

sebesar 29,7 % (Mea et al, 2018). Zigmond dan Snaith menemukan peningkatan

depresi (25,8% vs 17,5%) dan kecemasan (34,0% vs 24,7%) dua hari sebelum dan

10 hari setelah PCI (Nedeljkovic I, 2018)

Studi pendahuluan yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada

tanggal 5 Juni 2020 di ruangan inap bangsal jantung, dari 5 pasien yang akan

menjalani prosedut PTCA, semuanya merasa cemas, mulai dari kecemasan ringan,

sedang dan berat, yang ditandai dengan gemetar, keringat dingin, sering bertanya
5

– tanya, merasa kuatir dengan kondisi yang dihadapinya serta sulit berkonsentrasi.,

bahkan ada pasien yang mengalami tekanan darah dan denyut nadi meningkat.

Kecemasan digambarkan sebagai suatu kondisi di mana seseorang

mengalami sensasi ketakutan, bersama dengan aktivasi sistem saraf otonom,

sebagai respons terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik ( Gross and

Hen, 2004). Tingkat kecemasan yang tinggi dikaitkan dengan penurunan respons

imun dan perubahan fungsi kardiovaskular seperti gangguan variasi denyut

jantung, disfungsi endotel dan peradangan vaskular, yang mungkin mengakibatkan

hasil klinis yang lebih buruk (Munk et al, 2012).

Tingkat kecemasan dan stres yang tinggi pada pasien akan mampu

meningkatkan pelepasan epinefrin atau norepinefrin dan kortisol dengan

menstimulasi sistem hipotalamo-hipofisis dan simpatis (Dogru et al, 2020).

Peningkatan ini dapat menyebabkan percepatan metabolisme basal, serta

peningkatan kebutuhan oksigen miokard dan beberapa parameter fisiologis seperti

pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah. Situasi ini turut berkontribusi

menimbulkan masalah selama dan setelah prosedur, yang kemudian dapat

meningkatkan durasi rawat inap karena komplikasi. Juga menyebabkan masalah

selama dan setelah prosedur, terkait morbiditas, dan mortalitas (Akarsu et al, 2019;

Khaledifar et al, 2017; Chandrababu et al, 2019).

Hal ini tentu memiliki dampak pada rumah sakit, karena memperpanjang

hari rawatan. Sehingga daftar antrian pasien elektif akan semakin Panjang, dan

akan menimbulkan permasalahan pada klaim BPJS. Melihat peralatan yang serba
6

canggih merupakan penyebab tambahan kecemasan pasien yang akan dilakukan

tindakan (Cho et al, 2013;Ziyaefard et al, 2016)

Dalam rangka meminimalkan kecemasan pada pasien yang menjalani

tindakan PTCA/ PCI perlu diberikan suatu intervensi sentuhan keperawatan agar

terapi yang diberikan dapat efektif dan efesien. Sentuhan keperawatan untuk

mengatasi kecemasan pasien ini dapat berupa farmakologik dan non-farmakologik

(Hasavari et al, 2018).

Di RSUP Dr. M. Djamil Padang sentuhan keperawatan yang dilakukan

untuk mengurangi kecemasan selama ini kurang terperhatikan, terutama terkait

dengan psikologis pasien. Tindakan untuk mengurangi kecemasan pasien hanya

dilakukan dengan meminta pasien untuk menarik nafas dalam dan berdasarkan

pengamatan, kegiatan tersebut masih menyisakan kecemasan pada pasien,

Ada banyak cara dalam mengurangi kecemasan selain teknik pengambilan

nafas dalam. Terapi komplementer menjadi salah satu pengobatan secara non-

farmakologik yang dapat menjadi solusi untuk mengurangi kecemasan, stres atau

rasa sakit (Hasavari et al, 2018). Berbagai penelitian terapi komplementer telah

banyak dilakukan seperti; relaksasi dengan musik dan aroma terapi, pijat refleksi

kaki.

Pijat refleksi, yang merupakan salah satu metode pengobatan

komplementer dan integratif, didasarkan pada penerapan tekanan tertentu pada

titik-titik refleks yang berhubungan dengan bagian tubuh tertentu di kaki

merangsang pelepasan berbagai zat biokimia dengan meningkatkan aktivitas

parasimpatis, mengurangi kecemasan dan stres dengan menurunkan kadar kortisol,


7

dan memberikan relaksasi dan homeostasis (Abbaszadeh et al, 2018; Chandrababu

et al, 2019; Dogru et al, 2020).

Adapun penerapan pijat refleksi bisa merilekskan dan menyeimbangkan

tubuh. Dalam beberapa penelitian yang dilakukan pada pasien yang berbeda,

efektivitas dan hasil positif dari refleksiologi telah dilaporkan. Dampak relaksasi

dianggap sebagai dimensi positif (Nasiri ae al, 2016; Öztürk and Sevil, 2013;

Habur and, Basaran, 2009), dan efek refleksologi atau terapi pijat refleksi kaki

pada kecemasan pasien sebelum angiografi koroner diselidiki secara individual

(Hajbaghery et al, 2014; Mahmoudirad et al, 2014; Jamshidi et al, 2012;

Vardanjani, et al, 2013)

Untuk prosedur pijat refleksi kaki lama pemberian dalam rentang 20 – 30

menit sebelum tindakan (Vardanjani et al , 2013) ( Mahmoudirad et al,2014).

Penerapan pijat refleksi sebelum tindakan PTCA telah mengurangi tingkat

kecemasan, stress, dan kortisol dan tidak menimbulkan efek samping (Dogru et al,

2020). Dengan demikian pijat refleksi kaki efektif untuk mengurangi kecemasan.

Penelitian pendahuluan yang dilakukan di Bangsal Jantung RSUP Dr. M.

Djamil Padang, tentang penurunan kecemasan dengan pijat refleksi kaki,

ditemukan bahwa dari 5 orang pasien yang dipijat kakinya didapatkan 4 orang

pasien menurun tingkat kecemasannya yang ditandai dengan adanya perasaan yang

nyaman, tidak gemetar dan menurunkan rasa khawatir berdasarkan pengakuan

pasien. sementara itu tekanan darah dan nadi pasien yang sebelumnya meningkat

setelah pijat kaki ditemukan kembali normal.


8

Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian

tentang Pengaruh Terapi Pijat Refleksi. Kaki terhadap Kecemasan Pasien

Penyakit Jantung Koroner dengan Tindakan PTCA Di Bangsal Jantung RSUP. Dr

. M. Djamil Padang 2020

B. Rumusan Masalah

Tindakan PTCA merupakan tindakan invasive pada pasien

Kardiovaskuler, tindakan ini cendrung menimbulkan kecemasan, dan bila tidak

diatasi bisa terjadi peningkatan percepatan metabolisme basal seperti pernafasan

,nadi dan tekanan darah. Sehingga diperlukan sebuah intervensi keperawatan untuk

mengatasi kecemasan pasien. Dari beberapa penelitian terapi pijat kaki terbukti

efektif untuk mengatasi kecemasan pasien,untuk itu peneliti ingin mengetahui,

“Bagaimana pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap kecemasan pada pasien

yang akan menjalani prosedur PTCA di Bangsal Penyakit Jantung RSUP M.

Djamil Padang?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh terapi pijat terhadap kecemasan pada pasien

yang akan menjalani prosedur PTCA di Bangsal Penyakit Jantung RSUP M.

Djamil Padang

2. Tujuan khusus

a. Diidentifikasikan gambaran karakteristik sampel


9

b. Mengatahui kecemasan pasien penyakit jantung koroner dengan tindakan

PTCA sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok intervensi dan

kontrol

c. Mengatahui perbedaan kecemasan pasien penyakit jantung koroner

dengan tindakan PTCA sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok

intervensi dan control

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi pelayanan/ Rumah sakit

Dapat menyediakan sarana dan prasarana serta memberikan pelatihan dan

SOP sebagai masukan untuk tindakan keperawatan dalam mengurangi atau

mengatasi kecemasan pada pasien dengan tindakan PTCA

2. Bagi Pendidikan

Sebagai tambahan literatur bagi pendidikan terkait dengan metode yang

dapat digunakan dalam mengurangi kecemasan pada pada pasien yang akan

menjalani tindakan PTCA

3. Bagi profesi

Dapat dijadikan sebagai intervensi tambahan dalam mengurangi kecemasan

pasien yang akan menjalani PTCA


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyakit Jantung Koroner

1. Pengertian penyakit jantung koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung akibat

otot jantung kekurangan darah karena adanya penyumbatan atau penyempitan

pada pembuluh darah koroner akibat kerusakan lapisan dinding pembuluh

darah(Aterosklerosis)

Penyakit jantung koroner (PJK), juga disebut penyakit arteri koroner,

adalah penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika Serikat. PJK terjadi

ketika plak menumpuk di dalam arteri koroner. Arteri ini memasok otot jantung

Anda dengan darah yang kaya oksigen. Plak terdiri dari lemak, kolesterol,

kalsium, dan zat lain yang ditemukan di dalam darah. Seiring waktu, plak

mengeras dan mempersempit arteri, mengurangi aliran darah ke otot jantung.

Akhirnya, area plak bisa pecah, menyebabkan bekuan darah terbentuk di

permukaan plak. Jika bekuan menjadi cukup besar, sebagian besar atau

seluruhnya dapat menghalangi aliran darah kaya oksigen ke bagian otot jantung

yang diberi makan oleh arteri. Ini dapat menyebabkan angina atau serangan

jantung (Aaronson et al, 2007)

PJK mempengaruhi arteri koroner, yang memasok darah beroksigen ke

otot jantung. PJK meliputi plak aterosklerotik di dalam arteri koroner, yang

menyebabkan stenosis arteri. Aliran darah ke jantung disuplai oleh arteri koroner

10
11

kanan dan kiri, yang menyediakan darah di sisi jantung yang sesuai. Setiap cabang

arteri koroner menjadi arteri tambahan, yang bertanggung jawab untuk memasok

darah beroksigen ke area tertentu di jaringan jantung. Stenosis dan penurunan

suplai darah melalui salah satu segmen arteri ini mungkin memiliki efek

berbahaya pada otot jantung dan menyebabkan infark miokard (MI)

(Themistocleous et al, 2017).

2. Faktor resiko penyakit jantung coroner

Faktor resiko penyakit jantung koroner terdiri dari :

a. Faktor resiko mayor

1) Umur memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan proses

atherosclerosis. Studi penelitian yang dilakukan oleh Rahimi et al , 2013

menunjukkan bahwa atherosclerosis yang dideteksi di arteri karotis

menunjukkan peningkatan ketebalan tunika intima seiring dengan

bertambahnya usia. Pada pria resiko atherosclerosis meningkat setelah usia

45 tahun dan sedangpada wanita meningkat setelah usia 55 tahun.

2) Jenis kelamin

Wanita memiliki resiko lebih rendah mengalami penyakit kardiovaskuler

dibandingkan laki-laki. Estrogen merupakan salah satu kunci proteksi dari

penyakit kardiovaskuler pada wanita. Estrogen berperan penting dalam

vasodilatasi vaskuler. Reseptor estrogen lebih banyak didapatkan pada

wanita dibandingkan laki-laki (Herman, 2002). Studi lain menunjukkan

bahwa wanita dapat meningkatkan kadar HDL pada diet dengan lemak

jenuh, sedangkan laki-laki tidak. Hal ini juga mendasari efek protektif
12

kardiovaskuler pada wanita. Faktor menopause menyebabkan wanita

memiliki resiko penyakit kardiovaskuler yang sama dengan laki-laki di

usia yang sama .

3) Keturunan (Ras)

Penelitian Anand et al 2000 di Kanada menunjukkan bahwa ras Asia

Timur mengalami peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskuler

dibandingkan dengan ras Eropa dan Cina. Ras Eropa memiliki prevalensi

lebih tinggi dibandingkan ras Cina. Peneliti menyebutkan bahwa ras Asia

Timur memiliki lebih banyak plasma lipid dan abnormalitas glukosa

dibandingkan ras lain. Selain itu ras Asia Timur juga mengalami

peningkatan konsentrasi fibrinogen plasma, plasminogen activator

inhibitor 1, lipoprotein a dan homosistein. Studi lain menunjukkan bahwa

ada peningkatan prevalensi atherosclerosis pada orang kulit putih SF

dibandingkan hispanik dan ras kulit hitam (Carnethon et al, 2005).

Riwayat keluarga mengalami gangguan kardiovaskuler merupakan factor

resiko yang kuat untuk terjadinya penyakit aterosklerosis. Resiko

ateroslerosis akan meningkat pada laki-laki yang didiagnosis sebelum usia

55 tahun atau wanita yang didiagnosis sebelum usia 65 tahun. Riwayat

keluarga yang positif terhadap penyakit aterosklerosis akan meningkatkan

kemungkinan timbulnya aterosklerosis premature (Wihastuti et al, 2016).

4) Merokok

Merokok merupakan faktor resiko mayor untuk terjadinya penyakit

jantung, termasuk serangan jantung dan stroke, dan juga memiliki


13

hubungan kuat untuk terjadinya PJK sehingga dengan berhenti merokok

akan mengurangi resiko terjadinya serangan jantung ( Setyani, 2009).

Merokok satu bungkus atau lebih per hari selama beberapa tahun dapat

meningkatkan resiko kematian akibat PJK sampai 200% (Robbin and

Cotran, 2007)

5) Hipertensi

Pada pasien dengan hipertensi, terjadi peningkatan konsentrasi angiotensin

II. Angiotensin II merupakan vasokontriktor yang berperan dan

berkontribusi pada aterogenesis melalui stimulasi otot polos. Hal ini terjadi

melalui ikatan antara angiotensin II pada reseptor spesifik otot polos yang

mengaktivasi fosfolipase C. Aktivasi tersebut meningkatkan konsentrasi

kalsium intrasesuler dan kontraksi otot polos. Efek lainnya berupa

peningkatan aktivitas lipoksigenase yang dapat meningkatkan respon

inflamasi dan oksidasi LDL. Hipertensi dapat menyebabkan peningkatan

hydrogen peroksida dan radikal bebas yang berdampak pada penurunan

NO pada endotel, emningkatkan adhesi leukosit serta meningkatkan

resistensi perifer (Wihastuti et al, 2016).

6) Diabetes Mellitus

Berbagai studi menunjukkan bahwa konsumsi glukosa yang berlebihan

mempengaruhi kondisi dinding arteri termasuk sel endotel, sel otot polos

serta makrofag. Kadar glukosa tinggi dalam tubuh berperan pada proses

aterogenesis. Proses ini terjadi karena glukosa meningkatkan akumulasi

diacyl-glyserol (DAG) dan protein kinase C(PKC) di vaskuler serta


14

meningkatkan kadar glukosa melalui jalur aldosa reduktase. Kondisi

tersebut meningkatkan respon inflamasi seperti aktivasi Nf-kB, Nf-kB

meningkatkan superoksida yang berperan pada stres oksidatif dimediasi

glukosa. Auto oksidasi glukosa menyebabkan pembentukan Reaktive

Oxygen Spesies (ROS) dan mengubah struktur LDL menjadi oxLDL.

Proses selanjutnya akan berlanjut pada proses pathogenesis aterosklerosis

(Chait et al, 2009).

b. Faktor resiko minor

1) Stres

Stres didefinisikan sebagai keadaan yang dapat menyebabkan perubahan

homeostasis yang diprovokasi oleh berbagai stressor lingkungan, psikologi

maupun fisiologi. Stres dapat menginduksi saraf simpatis dan

hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis. Peningkatan aktivasi saraf

simpatis dapat menginduksi inflamasi vascular yang menyebabkan

aterosklerosis serta meningkatkan adhesi dan agregasi platelet, mobilisasi

lipid dan aktivasi makrofag. Norepinephrine (NE) dapat mengontrol

pelepasan corticotrophin-releasing-hormone (CRH), yang merupakan kuni

coordinator stres. Hiperkortisolemia yang diinduksi oleh HPA axis juga

berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler (Mo chung, 2005).

2) Diet dan Nutrisi

Diet tinggi lemak berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler melalui

efek aterogenik lipid plasma (total kolesterol, fraksi lipoprotein dan

trigliserida). Lemak trans dan lemak jenuh berpotensi meningkatkan


15

resiko penyakit kardiovaskuler, sedangkan asam lemak tak jenuh memiliki

efek protektif. Diet garam berhubungan dengan peningkatan tekanan

darah, sementara diet kalium menurunkan resiko hipertensi dan stroke.

Mengkonsumsi buah dan sayuran secara teratur akan memproteksi dari

penyakit jantung koroner (PJK), hipertensi dan stroke (Reddy dan Katan,

2004).

3) Alkohol

Mengkonsumsi alcohol dalam jumlah banyak dalam satu waktu

meningkatkan progresifitas penyakit kardiovaskuler. Alkohol secara

berlebihan dapat menyebabkan obesitas. Peningkatan kadar trigliserida,

peningkatan tekanan darah, stroke dan kanker. Alkohol akan

meningkatkan progresifitas ateroklerosis. Hubungan antara perubahan

Intima Media Thickness (IMT) dan plak aterosklerosis terlihat pada laki-

laki yang minum alcohol ≥ 6 porsi tiap satu waktu. Selain itu

mengkonsumsi alcohol berlebih juga meningkatkan resiko infark miokard

yang fatal serta dapat menyebabkan kematian (Rantakomi, 2013).

3. Patofisiologi penyakit jantung koroner

PJK terutama terjadi karena aterosklerosis dan perkembangannya

berhubungan dengan faktor lingkungan dan genetik (Sayols-Baixeras, Lluís-

Ganella, Lucas, Elosua, 2014).

Aterosklerosis adalah proses kronis, ditandai dengan akumulasi progresif

lipid, elemen berserat, dan molekul inflamasi di dinding arteri besar (Moreno &

Fuster, 2012). Aterosklerosis dimulai dengan penghabisan kolesterol low density


16

lipoprotein (LDL) ke ruang sub-endotel, yang dapat diubah dan dioksidasi oleh

berbagai agen. Partikel LDL teroksidasi/termodifikasi adalah molekul chemotactic

yang kuat yang mendorong ekspresi molekul adhesi sel vaskular dan molekul

adhesi antar sel pada permukaan endotelium, dan merangsang adhesi monosit dan

migrasi ke ruang subendotel (Sayols-Baixeras et al., 2014). Monosit berubah

menjadi makrofag dalam media intima. Macrophages enchain mengoksidasi LDL

melalui reseptor pemulung menjadi sel busa (Niosia et al, 2017) dan melepaskan

sitokin proinflamasi termasuk interleukin dan faktor nekrosis tumor.

Perkembangan lapisan lemak dimana sel busa muncul di ruang sub-

endotel itu adalah hasil akhir dari proses ini (Sayols-Baixeras et al., 2014). Selain

itu, dalam ruang subendotelial menumpuk bentuk leukosit lain, termasuk limfosit

dan sel mast (Libby, Ridker & Hansson, 2011). Interaksi antara monosit,

makrofag, sel busa dan sel T menginduksi respon imun seluler dan humoral

(radang kaskade) dengan produksi beberapa molekul proinflamasi seperti

interleukin-6 (IL-6) dan faktor nekrosis tumor (TNF-α). ) (Libby, 2012; Witztum

& Lichtman, 2013).

B. Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA)

1. Definisi PTCA

Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA) perkutan juga

disebut intervensi koroner perkutan (PCI) adalah prosedur invasif minimal untuk

membuka arteri koroner tersumbat atau tersumbat yang memungkinkan aliran

darah terhalang ke miokardium. Penyumbatan terjadi karena plak yang kaya lipid

dalam arteri, mengurangi aliran darah ke miokardium. Akumulasi plak kaya lipid
17

di arteri dikenal sebagai aterosklerosis. Ketika aterosklerosis mempengaruhi arteri

koroner, gangguan ini dikenal sebagai penyakit arteri koroner. Pasien dengan

CAD biasanya hadir dengan nyeri dada aktivitas, atau dengan dispnea dengan

aktivitas. Pada infark miokard akut, terdapat ruptur plak dengan agregasi

trombosit, dan pembentukan trombus akut, yang mengakibatkan oklusi arteri

koroner mendadak. Pasien-pasien ini hadir dengan berat dada akut, diaforesis, dan

mual. PTCA yang mendesak sering diperlukan untuk membatasi kerusakan

miokard (Malik et al, 2018).

Gambar 2.1

Percutaneous Transluminal Caronary Angioplasty (PTCA)

2. Anatomi dan Fisiologi

Arteri koroner utama yang memasok jantung adalah arteri koroner kanan

dan kiri. Arteri koroner kiri (LCA) membelah menjadi cabang anterior descending

(LAD) kiri dan kiri sirkumfleksa iliaka (LCX). LCA memasok darah ke ventrikel

kiri jantung. Arteri koroner kanan (RCA) membelah menjadi cabang

posterolateral posterior kanan (PDA) dan a (PL). RCA memasok darah ke

ventrikel, atrium kanan, dan simpul sinoatrial. Arteri koroner adalah arteri akhir
18

yang memasok miokardium dan penyumbatan dapat menyebabkan efek samping

yang serius. Penyakit arteri koroner terjadi karena penumpukan plak di dalam

arteri koroner dengan penyempitan dan penyumbatan yang selanjutnya

mengurangi aliran darah ke miokardium (Malik, 2018).

3. Kontra indikasi

PTCA memiliki kontraindikasi terbatas. Pasien dengan CAD utama kiri

adalah kandidat yang buruk untuk prosedur ini karena resiko obstruksi akut atau

kejang arteri koroner kiri utama selama prosedur. Juga tidak dianjurkan untuk

pasien dengan stenosis arteri koroner yang secara hemodinamik tidak signifikan

(kurang dari 70%) (Malik, 2018).

4. Prosedur PTCA

Prosedur PTCA terdiri dari :

a. Tahap Persiapan

Pada proses persiapan ini tim interprofesional mengevaluasi pasien dan

melakukan pengujian praprosedural untuk menentukan pencalonan yang akan

menjalani prosedur tersebut. Persiapan dapat berupa : (Malik, 2020)

1) Memberikan pertanyaan terkait dengan riwayat alergi makanan laut atau

yang lainnya di masa lalu.

2) Melakukan tes laboratorium praprosedur yang penting yang meliputi PT

dan PTT, elektrolit serum, BUN, dan kreatinin. Patiet harus dihidrasi

dengan baik.
19

3) Tinjauan pengobatan sangat penting termasuk penghentian antikoagulan

jika memungkinkan. Selain itu, obat-obatan umum termasuk NSAID, atau

ACEI dapat ditahan untuk mencegah memburuknya insufisiensi ginjal.

4) Pengobatan diabetes metformin dilakukan sebelum kateterisasi jantung

untuk menghindari memburuknya insufisiensi ginjal dan asidosis laktat.

Cairan dan makanan dibatasi 6 hingga 8 jam sebelum prosedur.

5) Ketika kasus dilakukan melalui akses arteri radial, pasien sering diberikan

penghambat saluran kalsium intra arterial, nitrogliserin, dan heparin untuk

mencegah vasospasme. Penyedia layanan kesehatan harus menjelaskan

prosedur dan resiko serta komplikasi terkait kepada pasien untuk

mendapatkan persetujuan yang ditandatangani.

b. Teknik

Prosedur ini dilakukan dengan bius lokal. Sedasi secara sadar

diberikan secara rutin untuk menghindari stres dan menenangkan pasien.

Pendekatan yang paling sering digunakan adalah pendekatan femoralis

perkutan (Judkins). Setelah pasien dibius dengan suntikan lidokain superfisial

ke kulit, dan jaringan subkutan di atas arteri femoralis kanan, jarum

dimasukkan ke dalam arteri femoralis (akses perkutan). Penyisipan jarum

yang berhasil diikuti dengan penyisipan kabel pemandu melalui jarum ke

dalam lumen pembuluh darah. Jarum kemudian dilepas dengan kawat

pemandu yang tersisa di lumen pembuluh darah. Selubung dengan pengantar

ditempatkan di atas kabel pemandu dan ke dalam arteri femoralis. Selanjutnya,

kabel pemandu dan pengantar dilepas, meninggalkan selubung di lumen


20

bejana. Ini memberikan akses mudah ke lumen arteri femoralis. Selanjutnya,

tabung sempit panjang, yang dikenal sebagai "kateter diagnostik", dimasukkan

melalui selubung dengan kawat pemandu panjang di lumen kateter. Kateter

diagnostik mengikuti kawat pemandu dan dilewatkan retrograde melalui arteri

femoralis, arteri iliaka, descendingaorta, melewati lengkung aorta ke aorta

asendens proksimal. Kabel pemandu dilepas meninggalkan ujung kateter

diagnostik di aorta asendens. Kateter diagnostik dipasang ke manifold dengan

semprit. Manifold memungkinkan kemampuan untuk menyuntikkan kontras,

memeriksa tekanan interarterial, dan mengelola obat-obatan (Malik 2018).

Kateter diagnostik kemudian dimanipulasi ke dalam ostium arteri

koroner utama kiri, atau arteri koroner kanan. Pewarna kontras disuntikkan,

dan gambar sinangiografi diperoleh dari berbagai tampilan kedua arteri. Jika

stenosis parah ada di salah satu arteri, PTCA dapat dilakukan. Kateter

diagnostik dilepas dan ditukar dengan kateter pemandu serupa. Kateter

pemandu memiliki diameter luminal yang lebih besar untuk memudahkan

lewatnya kabel dan balon selama angioplasti. Setelah kateter pemandu

ditempatkan di ostium arteri masing-masing, kabel pemandu PTCA

dimasukkan melalui kateter dan melintasi stenosis. Setelah kabel pemandu

PTCA melewati stenosis, kabel tersebut akan tetap di tempatnya hingga akhir

prosedur. Kabel balon dapat ditempatkan di atas kabel pemandu PTCA dan

dimajukan sampai balon berada tepat di atas stenosis. Ahli jantung mengontrol

arah dan pergerakan kabel pemandu PTCA, dan kabel balon dengan memutar

bagian kabel pemandu yang berada di luar pasien. Balon tersebut kemudian
21

dikembangkan dan dikempiskan berulang kali sampai arteri dipatenkan.

Dalam banyak kasus, diperlukan stent. Kawat balon dilepas dan ditukar

dengan stent. Sebuah stent adalah perancah logam berkisi-kisi yang dikirim

dikerutkan di atas balon kawat balon. Stent kemudian ditempatkan pada posisi

stenosis, dan balon mengembang (Malik, 2018).

Stent kemudian ditempatkan pada posisi stenosis, dan balon

mengembang. Setelah stent diperluas, stent tidak dapat dikeluarkan dari arteri.

Balonnya kempes, dan stent tetap di tempatnya. Stent dapat mempertahankan

patensi jangka panjang. Suntikan berulang media kontras digunakan untuk

memeriksa patensi arteri. Setelah pemasangan stent dan perluasan pembuluh

berhasil dilakukan, kawat balon dilepas. Terakhir, kabel pemandu PTCA

dilepas. Selama prosedur, antikoagulasi diberikan untuk mencegah

pembentukan gumpalan. Seluruh prosedur dapat memakan waktu dari 30

menit hingga 3 jam tergantung pada kesulitan teknis kasus tersebut (Malik,

2018).

5. Komplikasi PTCA

PTCA dipraktikkan secara luas dan memiliki resiko, tetapi komplikasi

prosedural utama jarang terjadi. Angka kematian selama angioplasti adalah 1,2%.

(Welsh et al, 2010) Orang yang berusia di atas 65 tahun, dengan penyakit ginjal

atau diabetes, wanita, dan orang dengan penyakit jantung berat memiliki resiko

komplikasi yang lebih tinggi. Kemungkinan komplikasi termasuk hematoma di

tempat penyisipan arteri femoralis, pseudoaneurisma arteri femoralis, infeksi kulit

di atas arteri femoralis, emboli, stroke, cedera ginjal akibat pewarna kontras,
22

hipersensitivitas terhadap pewarna, pecahnya pembuluh darah, diseksi arteri

koroner, perdarahan, vasospasme, pembentukan trombus, dan infark miokard

akut. Ada resiko jangka panjang restenosis pada pembuluh stent (Malik, 2018).

C. Kecemasan

1. Pengertian kecemasan

Kecemasan adalah keadaan psikologis dan fisiologis dengan karakteristik

kognitif, somatik, emosional, dan komponen perilaku. Bentuk gangguan

kecemasan tersebut memiliki gejala seperti peningkatan tekanan darah,

peningkatan denyut jantung tinggi, berkeringat, kelelahan, perasaan tidak enak,

ketegangan, mudah tersinggung, dan gelisah (Lee et al. 2011). Kecemasan

didefinisikan sebagai keadaan tidak nyaman atau ketakutan sebagai akibat dari

antisipasi kejadian atau situasi yang nyata dirasakan (Labrague & Mcenroe-petitte

2016).

2. Tingkat kecemasan

Tingkat kecemasan terdiri dari :

a. Kecemasan ringan

Kecemasan ringan, yaitu kecemasan yang berhubungan dengan

ketegangan dalam kehidupan sehari–hari dan menyebabkan seseorang

menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat

memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan.


23

b. Kecemasan sedang

Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal

yang penting dan mengesampingkan yang lain. Orang tersebut mengalami

perhatian selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.

c. Kecemasan berat

Kecemasan berat ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.

Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan

spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku

ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan

banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.

d. Panik

Panik yaitu kecemasan yang berhubungan terperangah, ketakutan dan

teror. Kehilangan kendali dapat menyebabkan orang tersebut yang

mengalami panik sehingga tidak mampu melakukan sesuatu walaupun

dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.

Seseorang dengan panik, terjadi peningkatan aktivitas motorik, penurunan

kamampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang

dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini tidak

sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang

lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart 2007)
24

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecemasan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan menurut (Varcarolis et al.

2010) antara lain:

a. Potensial stresor. Stresor psikososial menyebabkan perubahan dalam

kehidupan sehingga seseorang terpaksa beradaptasi.

b. Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang

mudah mengalami stres.

c. Tipe kepribadian. Misalnya tipe kepribadian Sanguinis cenderung ingin

populer, ingin disenangi orang lain, suka berbicara, dan emosinya tidak stabil.

Orang sanguinis juga agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir

pendek, dan hidupnya serba tidak teratur. Sedangkan tipe kepribadian

melankolis sebaliknya yaitu cenderung melihat masalah dari sisi negatif,

murung, mudah tertekan, mempunyai sifat pendendam, mudah merasa

bersalah, lebih menekankan pada cara dari pada tercapainya tujuan, terlalu

kritis menganalisa dan merencanakan, standar tinggi, sulit bersosialisasi,

sensitif terhadap kritik yang menentang dirinya, dan sulit mengungkapkan

perasaan.

d. Usia. Seseorang yang lebih muda lebih mudah terkena stres. Namun dari

penelitian (Tang & Tse 2014), lansia juga cenderung mengalami peningkatan

kecemasan, depresi dan stres disebabkan sakit atau memiliki penyakit kronik.

e. Jenis kelamin. Tingkat kecemasan wanita baik sebelum maupun sesudah

kateterisasi jantung lebih tinggi jika dibandingkan laki-laki (Moradi &

Hajbaghery 2015).
25

D. Pijat refleksi kaki

1. Pengertian pijat refleksi kaki

Refleksologi berasal dari kata refleks, yang artinya suatu gerak cepat yang

tidak disengaja tanpa diperintah secara sadar oleh otak. Karena itu dalam

refleksologi, refleks adalah suatu reaksi otomatis salah satu organ tubuh terhadap

perangsangan (Widyaningrum, 2013)

Pijat refleksi adalah cara memijat tangan, kaki, dan anggota tubuh yang

lain dengan mengacu pada titik pusat urat-urat saraf (Atmojo, 2017). Pemijatan di

tempat-tempat tertentu itu mewakili semua organ internal, system tubuh, anggota

badan dan kelenjer. Dengan pemijatan tertentu, organ-organ yang berhubungan

akan mendapatkan efek langsung (Widyaningrum, 2013))

2. Titik pijat refleksi kaki

Di dalam tubuh manusia terdapat banyak organ yang memerlukan darah

agar dapat berfungsi dengan normal. Tubuh manusia memerlukan gizi (oksigen,

antibiotic, hormone, sari-sari makanan dan lain-lain) dan gizi tersebut ada di

dalam darah, selain itu darah juga berfungsi sebagai alat pengangkut kotoran-

kotoran yang ada di dalam tubuh. Dari hal tersebut dapat disimpulkan semakin

lancar aliran darah seseorang maka semakin sehat pula kondisi tubuh orang

tersebut.

Pemijatan titik reflleksi salah satunya refleksi di kaki dapat membantu

memperlancar aliran darah tersebut. Titik-titik refleksi di kaki adalah sebagai

berikut:
26

Gambar 2.2 Titik Pijat Refleksi di Telapak Kaki Kanan


(Atmojo, 2007)
27

Gambar 2.3 Titik Pijat Refleksi di Telapak Kaki Kiri (Atmojo,


2007)

3. Tujuan dan Manfaat refleksi pijat kaki

Terapi pijat refleksi sangat berguna untuk memperbaiki kondisi kesehatan

seseorang dan cocok untuk segala usia, misalnya seseorang yang sedang

mengalami masalah pada area punggung dan leher, masalah pencernaan dan

reproduksi, masalah keseimbangan hormone ataupun fertilitas, juga kondisi dada

atau paru-paru yang sedang bermasalah bisa diatasi dengan melakukan pemijatan

pada titik –titik tertentu (Widyaningrum, 2013)


28

Tujuan dan manfaat dari ilmu pijat pengobatan refleksi sebagai berikut

(Hendro dan Yustri,2015):

a. Meningkatkan daya tahan dan kekuatan tubuh (promotif)

b. Mencegah penyakittertentu (preventif)

c. Mengatasi keluhan dan pengobatan terhadap penyakit tertentu (kuratif)

d. Memulihkan kondisi kesehatan (rehabilitatif).

4. Prosedur pelaksanaan Pijat

Melaksanakan terapi pijat refleksi ini sangat mudah sekali dilakukan.

Ketika kita melakukan penekanan kaki dapat memberikan rangsangan bioelektrik

pada organ tubuh yang berhubungan dengan titik syaraf telapak kaki. Meski

penekanan ini dilakukan tanpa menggunakan teknik pijat refleksi seperti ketika

kaki menginjak kerikil tanpa alas kaki (Widyaningrum, 2013).

Selanjutnya rangsangan bioelektrik itu kemudian memeperlancar aliran

darah sehingga tubuh menjadi segar dan sirkulasi penyaluran nutrisi dan oksigen

ke sel-sel tubuh menjadi lancer tanpa ada hambatan sedikitpun. Selain ketetapa

pemijitan pada titik-titik syaraf, waktu pemberian terapi juga harus diperhatikan

yaitu sekitar 30 menit, dengan frekuensi 3-6 hari sekali untuk mencegah penyakit

dan 2-3 hari sekali untuk mengatasi gangguan penyakit. Kondisi tapak kaki

pasienpun tidak dalam keadaan luka (Widyaningrum, 2013).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemijatan adalah : (Atmojo, 2017)

a. Sebaiknya pada penderita tulang dipijat dengan keras agar cepat sembuh
29

b. Selama waktu pemijatan kadang-kadang bisa timbul kehitam-hitaman di tubuh

atau menjadi lebih sakit. Hal ini merupakan gejala baik terutama bagi

penderita reumatik dan infeksi

c. Bagi penderita penyakit seperti diabetes, jantung, lever dan kanker, cara

memijatnya jangan terlalu keras. Setiap daeraf refleksi dipijat sekitar 2-5

menit

d. Dalam waktu 1 jam setelah makan jangan memijat

e. Selama memijat hentikan dulu obat-obatan dari apotek, karena obat-obatan

tersebut akan menghambat kesembuhan. Kecuali penderita diabetes dan

jantung, obat-obatan tetap diperlukan

f. Meminum 2-3 gelas air putih (sedikitnya 500 cc) selesai dipijat, supaya

kotoran dalam tubuh mudah terbuang dan bagi penderita ginjal berat jangan

minum air lebih dari 150 cc.

g. Selesai memijat segeralah mencuci tangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga

kebersihan diri sendiri

h. Jika yang memijat badannya kurang sehat, maka jangan memijat dulu karena

memijat itu memerlukan banyak energi

i. Memijat daerah refleksi kelenjer jangan terlalu keras, supaya tidak

menimbulkan reaksi yang lainnya

j. Untuk penyakit-penyakit yang gawat dan parah sebaiknya pemijatan

dilakukan oleh professional atau paling tidak dalam pengawasan ahli


30

Pijat refleksi selain untuk kesehatan fisik, juga dapat meredakan gejala

gangguan mental, yang salah satunya gangguan kecemasan. Teknik refleksi yang

digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah sebagai berikut : (Putri, 2020)

a. Tekuk jari-jari kaki. Setelah ditekuk, akan terlihat cekungan di bawah bantalan

kaki.

b. Tekan area tersebut menggunakan jempol dan letakkan jari-jari lainnya di

punggung kaki.

c. Pijat area tersebut dengan gerakan memutar.

Gambar 2.4. Contoh Cara Pemijatan Kaki (Atmojo, 2007)

E. Penelitian pijat refleksi kaki untuk mengatasi kecemasan

Penelitian Rindang Azhari Rezky (2015) yang berjudul pengaruh pijat

refleksi kaki terhadap 30 orang sampel berpengaruh pada rasa cemas yang

dirasakan Ketika dirawat dengan penyakit hipertensi. Wahyuni (2014) dari

penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pijat refleksi kaki lebih efektif

disbanding hipnoterapi dalam menurukan nyeri.


BAB III

KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL DAN

HIPOTESIS

A. Kerangka Teoritis

Berdasarkan berbagai literatur maka dapat digambarkan kerangka teori

penelitian sebagai berikut :

Faktor Resiko PJK


a. Faktor minor
Umur
Jenis kelamin
Keturunan Penyakit
Merokok Jantung PTCA
Hipertensi dan DM Koroner (PJK)
b. Faktor mayor
Stress
Diet dan nutrisi
Alkohol
Keemasan:
Ringan
Sedang
Berat
Panik

Pijat refleksi
kaki

Gambar 2.2 kerangka teori

Sumber : Rahimi et al , 2013 ; ( Adnand et al , 2007) ; ( Wihastuti et al , 2016) ;


(Robbin and cotran , 2007) ; ( Mo hcung , 2005) ; ( Reddy dan katan 2004 ) ;
( Reantakomi , 2013) ; ( Aronsun et al , 2007 ) ; ( Niosia et al, 2017) ; (Malik et
al, 2018) ; ( Labraque dan M cenvoe – petitle 2016) ; (Atmojo , 2007)

31
32

Dari gambar diatas di gambarkan pasien penyakit jantung Koroner disebabkan


oleh beberapa faktor resiko yang terdiri
a. Faktor resiko mayor yaitu : umur ( Rahimi et al, 2013), jenis kelamin

(Herman, 2002) ,keturunan (Ras) ( Anand et al, 2000), Merokok (Robin

and Cotran, 2007) , Hipertensi ( Wihastuti et al, 2016) , Diabetes Melitus

(Chait et al, 2009 ).

b. Faktor resiko minor : Stres (Mo Chung, 2005) , Diit dan nutrisi (Reddy

dan Katan, 2004) , Alkohol ( Rantakomi, 2013)

Penyakit jantung koroner adalah gangguan fungsi jantung akibat otot

jantung kekurangan darah karena adanya penyumbatan atau penyempitan pada

pembuluh darah coroner akibat kerusakan lapisan dinding pembuluh darah

(Aterosklerosis) ( Aronson et al, 2007) yang mana penatalaksanaan dengan

tindakan PTCA, yang mana PTCA ini adalah prosedur invasive minimal

membuka arteri coroner tersumbat dan penyempitan yang memungkinkan aliran

darah terhalang ke miokardium. (Malik et al, 2018). Tindakan PTCA ini

merupakan situasi yang dapat menyebabkan stress, kecemasan dan depresi pada

pasien.

Kecemasan menurut ( Labrague & Mcenroe – petite 2016) ada 4

kecemasan terdiri dari : kecemasan ringan, kecemasan sedang, kecemasan berat,

panik. Tingkat kecemasan dan stres yang tinggi pada pasien akan mampu

meningkatkan pelepasan epinefrin atau norepinefrin dan kortisol dengan

menstimulasi sistem hipotalamo-hipofisis dan simpatis (Dogru et al, 2020).

Peningkatan ini dapat menyebabkan percepatan metabolisme basal, serta


33

peningkatan kebutuhan oksigen miokard dan beberapa parameter fisiologis seperti

pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah.

Kecemasan dapat dikurangi dengan terapi pijat refleksi pada kaki

( Widyaningrum, 2013). Pijat refleksi, yang merupakan salah satu metode

pengobatan komplementer dan integratif, didasarkan pada penerapan tekanan

tertentu pada titik-titik refleks yang berhubungan dengan bagian tubuh tertentu di

kaki merangsang pelepasan berbagai zat biokimia dengan meningkatkan aktivitas

parasimpatis, mengurangi kecemasan dan stres dengan menurunkan kadar

kortisol, dan memberikan relaksasi dan homeostasis (Abbaszadeh et al, 2018;

Chandrababu et al, 2019; Dogru et al, 2020).

B. Kerangka Konseptual

Variabel penelitian terdiri dari variable independent dan variable dependen

Variabel independen pada penelitian ini adalah refleksi pijat kaki dan variable

dependennya adalah kecemasan pasien yang dilakukan tindakan PTCA


34
35

Kecemasan Kecemasan
pasien Pijat refleksi Pasien
Kasus
Sebelum kaki Setelah
Intervensi Intervensi

Kecemasan Kecemasan
pasien Pasien Kontrol
Sebelum Setelah
Intervensi Intervensi

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual


Pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap kecemasan pasien yang akan di
lakukan tindakan PTCA

C. Hipotesis Penelitian

H0 : Tidak terdapat pengaruh pijat refleksi kaki terhadap kecemasan Pasien

Penyakit Jantung Koroner dengan tindakan PTCA di Bangsal Jantung RSUP Dr

M Djamil Padang.

H1 : Terdapat pengaruh pijat refleksi kaki terhadap kecemasan Pasien Penyakit

Jantung Koroner dengan tindakan PTCA di Bangsal Jantung RSUP Dr M Djamil

Padang.
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan pre-post test

control group design . yaitu peneliti memberikan perlakuan tertentu pada suatu

kelompok yang diobservasi setelah dilakukan intervensi. Perlakuan yang

diberikan pada kelompok control tidak diberikan intervensi dan hanya diminta

untuk tenang. Pengukuran kecemasan dilakukan 20 menit setelah waktu intervensi

berakhir.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2020 – Januari 2021

Wawancara tentang kecemasan pasien dilakukan di Bangsal jantung, Yellow Zone

Jantung, Cath Lab dan CVCU, Instalasi Pusat Jantung Terpadu, RSUP Dr. M.

Djamil Padang.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi dan sampel penelitian

Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien penyakit

jantung koroner yang akan menjalani tindakan PTCA di Bangsal jantung RSUP

Dr. M. Djamil Padang rata-rata 52 pasien per bulan pada tahun 2019. Sampel

dipilih dari populasi sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi.

45
46

c. Besar Sampel

1) Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi

(Notoatmodjo, 2012). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 17 orang diambil

menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

a. Kriteria Sampel

1) Kriteria Inklusi :

a. Pasien baru pertama kali menjalani tindakan PTCA

b. Bersedia dijadikan sampel dengan menandatangani surat persetujuan /

inform consent

c. Pasien PJK yang mengalami kecemasan ringan, sedang dan berat yang

ditandai dengan gemetar, keringat dingin, sering bertanya-tanya, tekanan

darah, denyut nadi dan pernafasan yang meningkat .

d. Berusia dewasa ( dewasa awal 21-40 tahun), dewasa madya (41-60 th) dan

dewasa lanjut usia (60 tahun keatas)

e. Dapat berkomunikasi dengan baik

2) Kriteria Eksklusi :

a. Pasien Emergency (PTCA)

b. Keadaan umum klien tidak baik (sesak nafas, palpitasi, patigue)

c. Pasien dengan kecemasan panik

d. Pasien yang mengalami penurunan kesadaran

e. Pasien gangguan jiwa


47

Rumus dalam menentukan sampel :

keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi
d = presisi yang ditetapkan (0,1)
Sehingga jumlah sampel yang didapatkan yaitu
:

dibulatkan menjadi 34 pasien

Berdasarkan perhitungan di atas maka didapatkan jumlah sampel 17 orang

dan untuk menghindari adanya sampel yang dropout maka dilakukan koreksi

sebesar 10 % maka jumlah sampel yang dikumpulkan adalah 17 orang. Jumlah

kelompok pada penelitian ini adalah sebanyak 2 kelompok yaitu kelompok

perlakuan dan kelompok control. Sampel untuk kelompok perlakuan sebanyak 17

orang dan kelompok kontrol 17 orang. Total sampel yang digunakan adalah 36

pasien.
48

b. Cara Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling

suatu pengambilan sampel bukan secara acak atau non random dengan teknik

pengambilan sampel yaitu dengan dengan teknik purposive sampling dimana

pengambilan sampel penelitian sesuai dengan kriteria inklusi. Ketika ditemukan

sampel yang akan menjalani PTCA kemudian dipantau kecemasannya dan

kemudian ditentukan secara acak sampel tersebut masuk kelompok intervensi atau

kelompok kontrol

D. Alat Penelitian

1 Alat yang digunakan dalam penilaian kecemasan adalah kuesioner State Trait

Anxiety Inventory (STAI) form-Y. STAI terdiri dari dua dimensi, yakni

kecemasan sesaat (state) dan kecemasan dasar/yang menetap (trait) (Shariet al,

2014). Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan alat ukur kecemasan

state atau State Anxiety Inventory (S-AI) form-Y karena kecemasan yang

diteliti adalah kecemasan pada situasi tertentu, yakni saat menghadapi proses

kateterisasi jantung, kuisioner ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami

oleh semua kalangan dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam

pengisian. Pengukuran tingkat kecemasan dengan S-AI form Y dilakukan

duakali, yakni sebelum dan setelah intervensi, saat 10 menit setelah terapi pijat

refleksi kaki.

2 Skala S-AI form Y Spielberger terdiri dari 20 pernyataan dengan 4 respon

skala likert. Sebagian dari item tersebut merupakan pernyataan positif


49

(favorable), yakni merasa aman, nyaman, tidak gelisah, dan sebagainya, yang

terdapat pada 10 nomor dengan skor: 4= tidak sama sekali; 3= kurang; 2=

cukup; 1= sangat merasakan. Sepuluh lainnya merupakan pernyataan negative

(unfavorable), seperti ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, gelisah,

cemas, dan ketegangan. Pemberian skor pada pernyataan negatif merupakan

kebalikan dari skor pernyataan positif, yakni: 1= tidak sama sekali; 2=

kurang;3= cukup; 4= sangat merasakan.

E. Variabel Penelitian

1. Variabel independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah pijat refleksi

2. Variabel dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kecemasan pasien


50

F. Definisi Operasional

Cara
Alat
Variabel Definisi Operasional Penguku Skala Hasil Ukur
Ukur
ran

Kecemasan Kecemasan merupakan Wawanca Kuesioner Interval Skor


reaksi emosional dari ra State kecemasan
keadaan jiwa sampel Trait
yang akan menjalani Anxiety
tindakan PTCA yang Inventory
gejalanya bisa bersifat (STAI)
psikologis dan
fisiologis yang muncul
akibat gangguan dan
ancaman fisik maupun
psikologis respon stres
Pijat Pijat refleksi kaki Observasi Kuesioner Ordinal Terlaksananya
refleksi merupakan terapi pijat refleksi
kaki nonfarmakologis yang kaki pada
dapat diaplikasikan kelompok
kepada pasien yang perlakuan dan
akan menjalankan Tidak
prosedur PTCA terlaksananya
sebagai terapi pijat refleksi
menurunkan kaki pada
kecemasan dengan kelompok
cara pijat refleksi kaki kontrol

G. Prinsip Etik Penelitian

Sampel dalam penelitian keperawatan mendapat penjelasan dan

perlindungan karena melibatkan atau berhubungan dengan manusia secara

langsung (Saryono, 2015). Etika yang di perhatikan adalah sebagai berikut.

1. Informed Consent

Informed Consent adalah pernyataan persetujuan (consent) atau izin dari

subyek yang diberikan dengan bebas, rasional, tanpa paksaan (voluntary) tentang

tindakan yang akan diberikan. Peneliti menyampaikan informasi secara lengkap

dan spesifik kepada setiap calon subyek. Penyampaian informed consent secara
51

lengkap adalah agar subjek dapat mengerti dan menentukan apakah bersedia atau

tidak menjadi subyek penelitian. Subjek yang bersedia akan menandatangani

lembar persetujuan, namun peneliti harus menghormati hak dan keputusan sampel

yang tidak bersedia menjadi subyek penelitian.

2. Anonymity

Anonymity adalah jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan

cara tidak mencantumkan nama sampel. Peneliti tidak 42 mencantumkan nama

sampel, namun hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiallity

Confidentiallity adalah menjaga informasi dari orang yang tidak berhak

mengakses. Peneliti merahasiakan identitas sampel, dan hanya data-data yang

berhubungan dengan penelitian saja yang ditampilkan.

4. Justice

Hak setiap orang untuk diperlakukan sama (facione et all, 1991).

Merupakan suatu prinsip moral untuk berlaku adil bagi semua individu. Artinya

individu mendapat tindakan yang sama mempunyai kontribusi yang relative sama

untuk kebaikan kehidupan seseorang. Prinsip dari keadilan menurut beauchamp

dan childress adalah mereka uang sederajat harus diperlakukan sederajat,

sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan

kebutuhan mereka.

5. Uji Etik untuk penelitian yang akan dilakukan oleh Komite Etik Penelitian

Kesehatan RSUP Dr. M. Djamil Padang.


52

H. Pengumpulan Data

1. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder.

a. Data Primer

Jenis data primer yang dikumpulkan adalah :

Data umum pasien PJK yang dijadikan subjek peneliti seperti umur, jenis

kelamin, daerah asal. Pasien yang terpilih sebagai sampel dibagi secara acak

menjadi dua kelompok intervensi dan kontrol. Setiap pasien dalam kelompok

intervensi menerima refleksi kaki selama 20 menit dan pasien masuk

kelompok kontrol tidak menerima pijat refleksi. Pijat refleksi kaki dilakukan 1

hari sebelum tindakan PTCA dilakukan. Berdasarkan penelitian Zigmond dan

Snaith disimpulkan bahwa peningkatan depresi dan kecemasan dialami oleh

pasien yang akan menjalani PCI 2 hari sebelum tindakan (25,8% vs 17,5%)

(Nedeljkovic I, 2018), namun di RSUP Dr. M. Djamil Padang pasien masuk ke

bangsal Jantung sehari sebelum tindakan sehingga penelitian ini dilaksanakan

sehari sebelum pasien menjalani tindakan PTCA.

Data kecemasan pasien PJK yang akan menjalani tindakan PTCA yang

diberikan terapi pijat refleksi kaki dan yang tidak diberikan terapi pijat refleksi

kaki di bangsal Jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang diperoleh melalui

wawancara dengan menggunakan kuesioner ,state trait Anxiety inventori(STAI)

setelah intervensi.
53

b. Data Sekunder

Data sekunder meliputi data gambaran RSUP Dr. M. Djamil Padang dan

jumlah pasien di bangsal jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data ini

dikumpulkan dengan melihat langsung ke lapangan dan mewawancarai pihak

Rumah Sakit.

I. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan cara :

a. Pengecekan Data (Editing)

Memeriksa apakah daftar pertanyaan, yang dilakukan pada saat

pengumpulan data telah terisi dengan baik dan melakukan perbaikan data

yang salah untuk mempersiapkan proses pengolahan selanjutnya.

b. Pengkodean Data (Coding)

Apabila proses editing telah selesai dilakukan maka hasil catatan atau

jawaban kuesioner yang dinilai telah memenuhi syarat data, maka

dilakukan proses memberi kode pada daftar pertanyaan yaitu merubah dari

bentuk huruf menjadi angka untuk memudahkan pengolahan.

c. Memasukan Data (Entry Data)

Pada tahap ini data yang diberi kode dimasukkan ke dalam master tabel

yang tersedia atau pada program data.

d. Pengecekan Kembali (Cleaning)

Sebelum analisis data, terhadap data yang telah dimasukkan perlu

dilakukan pengecekkan kelengkapan data untuk memastikan bahwa data


54

telah bersih dari kesalahan dalam pengkodean maupun dalam membaca

kode sehingga data dapat dianalisis.

e. Pengolahan Data (Processing)

Pengolahan data dengan menggunakan program komputer. Hasil

pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan tabel silang.

2. Analisis data

a. Analisis univariat

Analisa univariat dilakukan untuk melihat masing-masing dari hasil

penelitian dengan judul pengaruh pijat refleksi kaki terhadap tingkat kecemasan

pasien PJK yang akan menjalankan prosesdur PTCA di RSUP Dr. M. Djamil

Padang yaitu distribusi frekuensi kelompok yang mendapatkan pijat refleksi dan

yang tidak, data rata-rata dan distribusi frekuensi kecemasan pasien

b. Analisis bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh pijat refleksi kaki

(Independen) terhadap kecemasan pasien PJK (dependen) yang akan menjalankan

prosedur PTCA. Untuk melihat pengaruh tersebut, analisa dilakukan dengan

menggunakan uji statistik paired sample t test untuk sebelum dan sesudah

penelitian baik kelompok intervensi maupun kontrol, sementara untuk melihat

perbedaan antara kelompok intevensi dan kontrol setelah penelitian dilakukan uji

secara independent sample t test. Untuk semua variabel ditetapkan signifikasi

dengan derajat penolakan 5% (p=0,05). Jika didapat p<0,05, maka hipotesis nol

ditolak yang berarti ada pengaruh antara variabel independen dengan variabel

dependen.
55

J. Prosedur Operasional

Pada penelitian ini dilakukan terhadap pasien PJK yang akan menjalani

tindakan PTCA di Bangsal Jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang. Peneliti

melakukan pendataan terhadap pasien PJK, selanjutnya pasien yang memenuhi

kriteria inklusi diberikan penjelasan oleh peneliti sendiri tentang penelitian yang

akan dilakukan. Bagi yang setuju maka diminta untuk menandatangani formulir

persetujuan. Kemudian semua sampel penelitian dibagi secara acak untuk

kelompok intervensi dan control.karena sekarang masa pandemic covid 19,untuk

itu peneliti di dalam Kelompok intervensi diberikan terapi pijat refleksi kaki dan

kelompok control tidak diberikan terapi pijat reflesi kaki peneliti memakai APD

level 3,seperti skor,face sheald,dan hand scoen. Sebelum dan sesudah intervensi

baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol di berikan kuesioner state

trait anxiety inventori (STAI) (terlampir), untuk menilai tingkat kecemasan

pasien. Setelah kuesioner selesai diisi kemudian dilakukan pengolahan.


56

K. Kerangka Operasional Penelitian

Dalam meneliti pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap kecemasan

pasien PJK yang menjalani tindakan PTCA di Bangsal Jantung RSUP Dr. M.

Djamil Padang , urutan langkah-langkah penelitian yang dilakukan tergambar

pada kerangka operasional berikut ini:

Populasi
Kriteria inklusi

Kriteria ekslusi sampel

Kontrol Intervensi

Kecemasan pasien sebelum

Perawatan umum pasien Perawatan umum pasien PJK


PJK +terapi pijat refleksi 20 menit

Kecemasan 10 jam setelah intervensi

Analisa data
BAB V
HASIL PENELITIAN

Penelitian mengenai pengaruh terapi pijat refleksi kaki terhadap kecemasan

pasien penyakit jantung koroner dengan tindakan PTCA di Bangsal Jantung

RSUP Dr. M. Djamil Padang telah dilakukan, dengan sampel sebanyak 34 orang,

yang terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok intervensi yaitu kelompok yang

diberikan terapi pijat refleksi kaki selama 20 menit dan kelompok kontrol yaitu

kelompok yang tidak diberikan pijat refleksi kaki. Masing-masing kelompok

terdiri dari 17 orang pasien, dengan rata-rata umur 50 tahun pada kelompok

intervensi dan 53 tahun pada kelompok Kontrol. Data yang digunakan sebagai

parameter penelitian adalah data kecemsan pasien yang diukur melalui wawancara

dengan menggunakan kuesioner SAI form Y, yang diukur 10 menit sebelum dan

setelah pasien di intervensi

A. Gambaran Umum Sampel Penelitian

Karakteristik sampel secara umum dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

57
58

Tabel 5.1 Distribusi Rersponden Berdasarkan Umur, Kenis Kelamin,


Pendidikan Status Perkawinan, dan Status Ekonomi pada Kelompok
Intervensi dan Kontrol

Variabel Kelompok Intervensi Kelompok kontrol


f % f %
Umur
- Dewasa awal 4 23,5 0 0
- Dewasa madya 11 64,7 17 100
- Dewasa lansia 2 11,8 0 0

Jenis kelamin
- Laki-laki 15 88,2 12 70,6
- Perempuan 2 11,8 5 29,4

Pendidikan
- SD 0 0 1 5,9
- SMP 4 23,5 1 5,9
- SMA 10 58,8 13 76,5
- Perguruan Tinggi 3 17,6 2 11,8

Status perkawinan
- Kawin 15 88,2 17 100
- Belum Kawin 2 11,8 0 0

Status ekonomi
- Rendah 2 11,8 5 11,8
- Menengah 15 88,2 12 88,2
- Tinggi 0 0 0 0

Tabel 5.1 menunjukkan pada kelompok intervensi lebih dari sebagian

sampel berada pada umur dewasa madya yaitu umur 41 sampai 60 tahun (64,7%)

dan berpendidikan SMA (58,8%), dan sebagain besar sampel berjenis kelamin

laki-laki (88,2%). berstatus kawin (88,2%) dan berstatus ekonomi menengah

(88,2%). Sementara itu pada kelompok kontrol ditemukan seluruh sampel berada

pada umur dewasa madya yaitu umur 41 sampai 60 tahun dan memiliki status

perkawinan kawin. Sebagian besar sampel berjenis kelamin laki-laki (70,6%),

berpendidikan SMA (76,5%), dan berstatus ekonomi menengah (88,2%).


59

B. Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah Penelitian pada

Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Rata – rata kecemasan sampel sebelum dan sesudah penelitian pada

kelompok intervensi dan control dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.2. Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah Penelitian


Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Kecemasan Sebelum Kecemasan Setelah


Variabel (Mean ± Min - Max 95% CI (Mean ± Min – Max 95% CI
SD) SD)
Kelompok 33,82 – 42, 54
49,59±10,87 31,00 - 65, 00 44,00-55,18 38,18 ± 8,65 28,00 - 65,00
intervensi
43,20 – 55,38
Kelompok
33,00 - 72,00 47,09 - 49,29 ± 11,84 32,00 - 68,00
52,53±10,57
Kontrol
57,97

Pada tabel 5.2 dapat diketahui bahwa rata-rata kecemasan sampel sebelum

intervensi adalah 49,59 ± SD, dan menurun setelah diintervensi dengan pijat

refleksi kaki menjadi 34,12 ± SD. Rata-rata kecemasan sampel pada kelompok

kontrol sebelum penelitian adalah 52,53 ± SD dan setelah penelitian 49,29 ± SD

C. Uji Normalitas

Tabel 5.3 Uji Normalitas

Variabel n Kecemasan p value


(Mean ± SD)
Kecemasan sebelum (intervensi) 17 49,59 ± 10,87 0,211
Kecemasan setelah (intervensi) 17 34,12 ± 8,45 0,217
Kecemasan sebelum (kontrol) 17 52,53 ± 10,57 0,826
Kecemasan setelah (kontrol) 17 49,29 ± 11,84 0,157
60

Dari tabel 5.3 diketahui bahwa hasil uji normalitas pada semua kelompok

penelitian menunjukkan p>0,05 yang berarti bahwa kecemasan sampel

terdistribusi normal, dengan demikian dapat dilanjutkan dengan uji paired sample

t test untuk melihat perbedaan kecemasan sampel sebelum dan setelah penelitian.

D. Uji Homogenitas

Uji homogenitas rata-rata kecemasan setelah pada kelompok intervensi

dan control adalah

Tabel 5.3 Uji Homogenitas

Variabel n Kecemasan p value


(Mean ± SD)
Kecemasan setelah (intervensi) 17 38,18 ± 8,65
0,053
Kecemasan setelah (kontrol) 17 49,29 ± 11,84

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa data setelah intervensi

menunjukkan p.0,053 yang berarti bahwa data homogeny untuk itu perbedaan

rata-rata setelah penelitian antara kelompok intervensi dan komtrol dapat

dilakukan dengan uji independent sample t test

E. Perbedaan Rata-Rata Selisih Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah

Penelitian pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Perbedaan rata-rata selisih kecemasan sampel sebelum dan setelah

penelitian pada kelompok intervensi dan kontrol dapat dilihat pada tabel 5.4

berikut ini:
61

Tabel 5.4. Perbedaan Kecemasan Selisih Sampel Sebelum dan Setelah


Penelitian pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Kecemasan
Variabel n Selisih p value
Sebelum Sesudah
(Mean ± SD)
(Mean ± SD) (Mean ± SD)
Kelompok 11,41 ± 8,00
49,59 ± 10,87 34,12 ± 8,45 17
intervensi
0,04
Kelompok 3,23 ± 7,22
52,53 ± 10,57 49,29 ± 11,84 17
kontrol

Tabel 5.4 menggambarkan bahwa selisih kecemasan sampel pada

kelompok intervensi terapi pijat refleksi kaki adalah 11,41 ± SD, dan pada

kelompok control adalah 3,23 ± 7,22. Setelah dilakukan uji secara statistik

didapatkan hasil ada perbedaan signifikan (p<0,05) antara selisih kecemasan

sampel pada kelompok intervensi dan kontrol.

Perbedaan rata-rata kecemasan sampel setelah penelitian antara kelompok

intervensi dan control dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.4. Perbedaan Kecemasan Sampel Setelah Penelitian pada Kelompok


Intervensi dan Kelompok Kontrol

Kecemasan Setelah
Variabel n p value
Penelitian (Mean ± SD)

Kelompok intervensi 49,59 ± 10,87 17


0,04
Kelompok kontrol 52,53 ± 10,57 17

Tabel 5.4 menggambarkan bahwa kecemasan sampel setelah penelitian

pada kelompok intervensi terapi pijat refleksi kaki adalah 49,59 ± SD, dan pada

kelompok control adalah 52,53 ± 10,57. Setelah dilakukan uji secara statistik
62

didapatkan hasil ada perbedaan signifikan (p<0,05) antara kecemasan sampel

setelah penelitian pada kelompok intervensi dan kontrol.


63

BAB VI
PEMBAHASA
N

A. Karakteristik Responden

Pada penelitian ini ditemukan bahwa pada kelompok intervensi lebih dari

sebagian sampel berada pada umur dewasa madya yaitu umur 41 sampai 60 tahun

(64,7%), dan pada kelompok kontrol ditemukan seluruh sampel berada pada umur

dewasa madya yaitu umur 41 sampai 60 tahun. Kajian epidemiologi menunjukkan

bahwa ada berbagai kondisi yang mendahului dan menyertai gagal jantung yang

disebut faktor risiko. Faktor resiko yang ada dapat di modifikasi artinya dapat

dikontrol dan faktor resiko yang nonmodifiable yang tidak dapat di control, dan

umur merupakan salah satunya. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian

Purbianto and Agustanti (2015), yang menemukan bahwa sebagian besar pasien

gagal jantung berada pada usia di atas 40 tahun (85,6%).

Menurut Betharossi (2011) jika usia sudah diatas 40 tahun semua faktor

resiko akan meningkat. Menurut Stanley & Beare (2006), dengan meningkatnya

usia, jantung dan pembuluh darah mengalami perubahan baik struktural maupun

fungsional. Dengan bertambahnya usia, sistem aorta dan arteri menjadi kaku dan

tidak lurus. Perubahan ini akibat hilangnya serat elastis dalamlapisan medial

arteri. Proses perubahan yang berhubungan dengan penuaan ini meningkatkan

kekakuan dan ketebalan yang disebut arterosklerosis yaitu merupakan salah satu

penyebab gagal jantung.


64

Pendidikan sampel pada penelitian ini ditemukan lebih dari sebagian pada

kelompok intervensi dan control adalah SMA yaitu 58,8% dan 76,5%. Pada

penelitian sampel dengan pendidikan perguruan tinggi hanya 17,6% pada

kelompok intervensi dan 11,8% pada kelompok control.

Pendidikan dianggap dapat memiliki dampak pada kesehatan seseorang,

seperti pengaruh pada perilaku hidup yang lebih sehat, kondisi pekerjaan yang

lebih baik, dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik. Yasuhiko

Kubota mengevaluasi hubungan antara tingkat pendidikan seseorang dengan

risiko penyakit jantung dan menilai bagaimana hubungan kedua variabel tersebut

dengan faktor sosioekonomi lainnya menyimpulkan laki-laki dan perempuan

dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah akan memiliki risiko terkena

penyakit jantung lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki tingkat

pendidikan tinggi (Wisnubrata, 2017).

Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagain besar sampel adalah

berjenis kelamin laki-laki yaitu 88,2% pada kelompok intervensi dan 70,6% pada

kelompok control. Menurut Pudiastuti (2013) jenis kelamin laki-laki lebih sering

terkena PJK dibandingkan dengan perempuan. Proses aterosklerosis terjadi dalam

waktu yang lama sejak usia 15 tahun. Pada laki-laki pertengahan tahun manula

yaitu usia 40 tahun ke atas kenaikan kadar kolesterol dalam darah mempunyai

risiko yang tinggi khususnya LDLuntuk pembentukan penyakit jantung koroner,

yakni hormon esterogen yang bisa sangat membantu dalam mengendalikan

kolesterol. Namun jika perempuan sudah mencapai usia menopouse, pelindung

alami tersebut sudah tidak berproduksi kembali, dan itu yang kemudian akan
65

menjadikan perempuan juga rentan terkena penyakit jantung koroner apabila tidak

berpola hidup yang sehat. Jadi laki-laki berisiko besar mengalami penyakit

jantung koroner dibandingkan dengan perempuan, karena perempuan mempunyai

pelindung alami yaitu hormon estrogen (Suherwin, 2018).

Pada penelitian ini pasien yang dijadikan sampel penelitian adalah pesien

dengan tindakan PTCA yang mengalami kecemasan, dengan tingginya persentase

sampel dengan jenis kelamin laki-laki dapat diartikan bahwa sampel dengan jenis

kelamin laki-laki lebih banyak ditemukan yang mengalami kecemasan dari pada

perempuan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh laki-laki merupakan

penanggungjawab dalam keluarga, sehingga sangat takut jika tindakan PTCA

yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

B. Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah Penelitian Pada

Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Pada penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata kecemasan sampel sebelum

intervensi adalah 49,59 ± SD, dan menurun setelah diintervensi dengan pijat

refleksi kaki menjadi 34,12 ± SD. Sementara itu rata-rata kecemasan sampel pada

kelompok control sebelum penelitian adalah 52,53 ± SD dan setelah penelitian

49,29 ± SD.

Dari hasil ini dapat dilihat penurunan kecemasan pada kelompok dengan

intervensi lebih menurun dibandingkan dengan kelompok control. Kelompok

intervensi yang diberikan terapi pijat refleksi kaki selama 20 menit lebih efektif
66

untuk menurunkan kecemasan dibandingkan dengan kelompok control yang

hanya mendapatkan asuhan keperawatan normal.

Mekanisme kerja refleksologi belum dikenali dengan baik, namun jenis

sentuhan dan tekanan yang digunakan dalam pijat refleksi tampaknya memiliki

efek yang melebihi sentuhan sederhana. Pijat refleksi menjadikan perubahan local

dan fisiologis sistematis dalam tubuh dan membuat keadaan relaksasi yang

mendalam dan keseimbangan pikiran-tubuh dan juga mengurangi gejala yang

berhubungan dengan stres yang sebagian besar orang melaporkan peningkatan

perasaan kesehatan dan perbaikan (Moghimi et al, 2012).

Pada penelitian juga ditemukan penurunan kecemasan pada kelompok

control yaitu kelompok yang tidak mendapatkan terapi pijat refleksi kaki, cuma

saja penurunan kecemasannya lebih rendah dari kelompok intervensi. Hal ini

kemungkinan disebabkan karena kelompok intervensi dan kelompok control

sama-sama mendapatkan asuhan keperawatan standar sebelum diberikan tindakan

PTCA, yaitu terapi obat dan penjelasan tindakan.

C. Perbedaan Rata-Rata Kecemasan Sampel Sebelum dan Setelah Penelitian

Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Hasil penelitian ini menemukan bahwa selisih kecemasan sampel pada

kelompok intervensi sebelum dan setelah terapi pijat refleksi kaki adalah 11,41 ±

SD, dan pada kelompok control adalah 3,23 ± 7,22. Setelah dilakukan uji secara

statistik didapatkan hasil ada perbedaan signifikan (p<0,05) antara selisih

kecemasan sampel pada kelompok intervensi dan control


67

Hal ini berarti ada pengaruh pijat refleksi kaki terhadap penurunan

kecemasan sampel dengan tindakan PTCA. Hasil ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Bahrami et al (2020) yang menyimpulkan bahwa ada

pernurunan tingkat kecemasan pada sampel setelah dilakukan pijat refleksi kaki.

Kecemasan adalah keadaan emosional yang digambarkan oleh perasaan,

ketegangan, kemarahan, kekhawatiran, ketakutan dan peningkatan aktivitas sistem

saraf otonom dan mengarah pada respons fisiologis dan mental dan bersamaan

dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah dan curah jantung (Nekouei et al,

2011). Kecemasan sebelum tindakan PTCA merupakan fenomena yang tidak dapat

dihindari, tetapi bila jumlahnya melebihi batas biasanya, maka dapat memiliki

efek negatif yang luar biasa pada berbagai bagian tubuh khususnya jantung. Jadi

kecemasan sebelum PTCA harus diatasi atau dikurangi melalui metode yang tepat

untuk mencegah komplikasinya (Mahmoudirad et al, 2014).

Pijat refleksi memiliki efek yang besar pada pengurangan kecemasan

karena meningkatkan suplai darah, meningkatkan respons penyembuhan dalam

tubuh dan mengurangi ketegangan melalui efek relaksan induksi pada sistem saraf

otonom (Gunnarsdottir & Jonsdottir, 2010). Titik refleksi ditemukan di metatarsus atau

telapak kaki yang memantulkan seluruh bagian tubuh seperti cermin kecil (Mokhtari

et al, 2009). Salah satu teori tentang metode refleksologi metatarsus adalah bahwa

tekanan dan ketegangan mental bertanggung jawab atas 75% masalah mental

manusia dan karena ada 7000 saraf di setiap kaki, pijatan kaki dan stimulasi

neuron membuat relaksasi dan mengurangi ketegangan dan karenanya

mengembalikan tubuh menjadi seimbang (Torabi et al, 2012).


68

Beberapa peneliti juga telah melakukan penelitian mengenai efek pijat

refleksi pada kecemasan, antara lain kecemasan pasien sebelum operasi cangkok

bypass arteri koroner (Moeini et al, 2011), kecemasan selama persalinan di antara

wanita nulipara (Moghimi et al, 2012) dan mendapatkan hasil yang sama dengan

penelitian ini. Demikian pula, penelitian yang dilakukan Bahrami et al (2017) dan

McVicar et al (2007) yang mengidentifikasi keefektifan pijat refleksi dalam

mengurangi kecemasan pada berbagai kelompok pasien.

Pasien dengan kecemasan yang lebih tinggi dapat memengaruhi prognosis

dan pemulihan mereka (Korkmaz, Korkmaz, Yildiz, Gündoğan, & Atmaca, 2017;

Delewi et al., 2017). Tingkat kecemasan dan stres yang tinggi pada pasien akan

mampu meningkatkan pelepasan epinefrin atau norepinefrin dan kortisol dengan

menstimulasi sistem hipotalamo-hipofisis dan simpatis (Dogru et al, 2020).

Peningkatan ini dapat menyebabkan percepatan metabolisme basal, serta

peningkatan kebutuhan oksigen miokard dan beberapa parameter fisiologis seperti

pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah. (Akarsu et al, 2019; Khaledifar et

al, 2017; Chandrababu et al, 2019).

Pijat refleksi mampu merangsang pelepasan berbagai zat biokimia dengan

meningkatkan aktivitas parasimpatis, mengurangi kecemasan dan stres dengan

menurunkan kadar kortisol, dan memberikan relaksasi dan homeostasis

(Abbaszadeh et al, 2018; Chandrababu et al, 2019; Dogru et al, 2020). Pijat

refleksi juga dapat merangsang pelepasan Endorphin dan Ankfalin yang

merupakan pereda nyeri alami dan peningkat suasana hati. Pijat refleksi efektif
69

dalam meningkatkan kenyamanan otot melalui peningkatan tekanan darah dan

merangsang parasimpatis sistem saraf (Mirzaee et al, 2010).

Pada penelitian ini terdapat beberapa kelemahan antara lain terdapatkan

kesulitan dalam mendapatkan sampel yang akan diintervensi, karena ada sebagian

pasien yang menolak untuk diintervensi pijat refleksi kaki, sehingga memperlama

proses penelitian. Pada penelitian ini hanya dilakukan satu kali pemijatan hal ini

dikarenakan keterbatasan waktu penelitian dan keterbatasan waktu pasien di ruang

rawat sebelum tindakan dilakukan.


70

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pada kelompok intervensi lebih dari separoh sampel berada pada umur dewasa

madya yaitu umur 41 sampai 60 tahun (64,7%) dan berpendidikan SMA

(58,8%), dan sebagian besar sampel berjenis kelamin laki-laki (88,2%).

berstatus kawin (88,2%) dan berstatus ekonomi menengah (88,2%). Pada

kelompok control seluruh sampel berada pada umur dewasa madya yaitu umur

41 sampai 60 tahun dan memiliki status perkawinan kawin. Sebagian besar

sampel berjenis kelamin laki-laki (70,6%), berpendidikan SMA (76,5%), dan

berstatus ekonomi menengah (88,2%).

2. Rata-rata kecemasan sampel sebelum intervensi adalah 49,59 ± SD, dan

setelah diintervensi dengan pijat refleksi kaki menjadi 34,12 ± SD. Sementara

itu rata-rata kecemasan sampel pada kelompok control sebelum penelitian

adalah 52,53 ± SD dan setelah penelitian 49,29 ± SD.

3. Ada perbedaan rata-rata selisih kecemasan sampel sebelum dan setelah

diberikan pijat refleksi kaki dan ada perbedaan rata-rata kecemasan setelah

penelitian antara kelompok intervensi dan kontrol


71

B. Saran
1. Bagi pelayanan/ Rumah sakit

Disarankan bagi pelayanan/Rumah Sakit untuk dapat menyediakan sarana

dan prasarana serta memberikan pelatihan dan SOP sebagai masukan untuk

tindakan keperawatan dalam mengurangi atau mengatasi kecemasan pada

pasien dengan tindakan PTCA

2. Bagi Pendidikan

Disarankan bagi pendidikan untuk menambah literature terkait dengan

metode yang dapat digunakan dalam mengurangi kecemasan pada pada

pasien yang akan menjalani tindakan PTCA

3. Bagi profesi

Disarankan bagi profesi untuk mengaplikasikan terapi pijat refleksi kaki

dalam mengurangi kecemasan pasien yang akan menjalani PTCA


72

DAFTAR PUSTAKA

Aalto, A. M., et al., 2006. Sociodemographic, disease status, and illness


perceptions predictors of global self-ratings of health andquality of life
among those with coronary heart disease: One yearfollow-up study.
Quality of Life Research, 15(8), pp. 1307–22. doi:10.1007/s11136-006-
0010-3

Abbaszadeh Y, Allahbakhshian A, Seyyedrasooli A, et al. Effects of foot


reflexology on anxiety and physiological parameters in patients
undergoing coronary artery bypass graft surgery: a clinical trial.
Complement Ther Clin Pract . 2018; 31:220–228.

AHA.Pengertian jantung koroner: konsep penyakit jantung koroner. 2012;

Akarsu K, Koç A, Ertug N. The effect of nature sounds and earplugs on anxiety in
patients following percutaneous coronary intervention: a randomized
controlled trial. Eur J Cardiovasc Nurs. 2019;18(8):651–657.

Barakate, M., Hemli, J., Hughes, C., Bannon, P., & Horton, M. (2003). Coronary
artery bypass grafting (CABG) after initially successful percutaneous
transluminal coronary angioplasty (PTCA): A review of 17 years
experience. European journal of cardio-thoracic surgery, 23, 179-186.
http://dx.doi.org/10.1016/S1010-7940(02)00764-9

Barakate, M., Hemli, J., Hughes, C., Bannon, P., & Horton, M. (2003). Coronary
artery bypass grafting (CABG) after initially successful percutaneous
transluminal coronary angioplasty (PTCA): A review of 17 years
experience. European journal of cardio-thoracic surgery, 23, 179-186.
http://dx.doi.org/10.1016/S1010-7940(02)00764-9

Baumeister, H., et al., 2015. Inpatient and outpatient costs in patients with
coronary artery disease and mental disorders: A systematic review.
BioPsychoSocial Medicine, 9(1). doi: 10.1186/ s13030-015-0039-z

Chandrababu R, Rathinasamy EL, Suresh C, et al. Effectiveness of reflexology on


anxiety of patients undergoing cardiovascular interventional
procedures: a systematic review and meta-analysis of randomized
controlled trials. J Adv Nurs. 2019;75(1):43–53.

Chaudhury, S., & Srivastava, K., 2013. Relation of depression, anxiety, and
quality of life with outcome after percutaneous transluminal coronary
angioplasty. The Scientific World Journal, 2013, pp.465979. doi:
10.1155/2013/465979
73

Choi MS, Lee EJ. Effects of foot-reflexology massage on fatigue, stress and
postpartum depression in postpartum women. J Korean Acad Nurs.
2015;45(4):587–594.

Dalir, Z., Vahdat Feizabadi, E., Mazlom, S., & Rajaee Khorasani, A., 2013. [The
effect of short-term cardiac rehabilitation program on anxiety and
depression in patients after coronary artery bypass surgery (Persian)].
Evidence Based Care, 3(3), pp. 33-42.

Delewi, R., Vlastra, W., Rohling, W. J., Wagenaar, T. C., Zwemstra, M.,
Meesterman, M. G., … Henriques, J. P. S. (2017). Anxiety levels of
patients undergoing coronary procedures in the catheterization
laboratory. International Journal of Cardiology, 228, 926–930.
https://doi.org/10.1016/j.ijcard.2016.11.043

Djunaidi AR, Bahrun Indrawan. 2014 Hubungan Usia dan Merokok pada
Penderita Penyakit Jantung Koroner di Poli Penyakit Dalam RS
MHPalembang Periode Tahun 2012 . Syifa’MEDIKA, Vol. 5 (No.1),
September 2014

Dogru BV, SenuzunAykar F, Yildirim Y, Yavuzgil O, Sözmen E, Memmedov H.


2020. The Effect of Foot Reflexology Applied Before Coronary
Angiography and Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty on
Anxiety, Stress, and Cortisol Levels of Individuals A Randomized
Controlled Trial. Journal of Cardiovascular Nursing Vol. 00, No. 0, pp.
00–00

Durmaz, T., Keles, T., Erdogan, K. E., Ayhan, H., Bilen, E., Bayram, N. A., …
Bozkurt, E. (2014, May). Coronary Slow Flow is Associated with
Depression and Anxiety. Acta Cardiologica Sinica.

Ebadi A, Moradian ST, Feyzi F, Asiabi M. Comparison of hospital anxiety and


depression among patients with coronary artery disease based on
proposed treatment. Iran J Crit Nurs. 2011;4(2):97-102.

Echteld, M. A., Vanelderen, T. M., & Leo, J. T. (2001). How goal disturbance,
coping and chest pain relate to quality of life: A study among patients
waiting for PTCA. Quality of life research, 10, 487-501.

Fathi M, Alavi SM, Joudi M, Joudi M, Mahdikhani H, Ferasatkish R, et al.


Preoperative anxiety in candidates for heart surgery. Iran J Psych Behav
Sci. 2014;8(2):90.

Fehder WP. Alterations in immune response associated with anxiety in surgical


patients. CRNA 1999;10(3):124-129.
74

Furuya, R. K., et al., 2013. [Anxiety and depression among men and women who
underwent percutaneous coronary intervention (Portuguese)]. Revista
da Escola de Enfermagem da USP, 47(6), pp.1333–7. doi:
10.1590/s0080-623420130000600012

Gallagher, R., Trotter, R., & Donoghue, J. (2010). Preprocedural concerns and
anxiety assessment in patients undergoing coronary angiography and
percutaneous coronary interventions. European Journal of
Cardiovascular Nursing, 9(1), 38–44.
https://doi.org/10.1016/j.ejcnurse.2009.09.001

Gu,G.,Zhou,Y.,Zhang,Y.,Chui,W. (2016). Increased Prevalence of Anxiety and


Depression Symptoms in Patients with Coronary Artery Disease Before
and After Percutaneous Coronary Intervention Treatment. BMC
Psychiatry,16:259

Gross C, Hen R. The developmental origins of anxiety. Nat Rev Neurosci


2004;5(7):545-552.

Habur H, Basaran EBZ (2009) Introduction in reflexology. (2 edn), Kitap Dostu


publish, Istanbul, Turkey, pp. 11-159. Rd

Hajbaghery MA, Moradi T, Mohseni R (2014) Effects of a multimodal


preparation package on vital signs of patients waiting for coronary
angiography. Nursing and Midwifery Studies Apr 3(1): 1-5.

Hasavari FE, Paryad M, Khorsandfard L, Kazemnejad (2018) The effect of foot


reflexive massage on anxiety in patients undergoing coronary
angiography. Complementary Medicine Journal 7(4): 25.

Hendro dan Yustri, (2010). Ilmu Pijat Pengobatan Refleksi Relaksasi, Direktorat
Pembinaan Kursus Dan Pelatihan. Jakarta

Holt, R. I. G., et al., 2013. The relationship between depression, anxiety and
cardiovascular disease: Findings from the Hertfordshire cohort study.
Journal of Affective Disorders, 150(1), pp. 84–90.
doi:10.1016/j.jad.2013.02.026

Jamshidi N, Abaszade A, Najafi KM (2012) Stress, anxiety and depression of


patients before coronary angiography. Zahedan Journal of Research in
Medical Sciences 13(10): 29.

Khaledifar A, Nasiri M, Khaledifar B, et al. The effect of reflexotherapy and


massage therapy on vital signs and stress before coronary angiography:
an open-label clinical trial. ARYA Atheroscler. 2017;13(2):50–55.
75

Korkmaz, H., Korkmaz, S., Yildiz, S., Gündogan, B., & Atmaca, M. (2017).
Determination of health anxiety, anxiety and somatosensory
amplification levels in individuals with normal coronary angiography.
Psychiatry Research, 252, 114–117. This article is protected by
copyright. All rights reserved.
https://doi.org/10.1016/j.psychres.2017.02.057

Labrague, L.J. & Mcenroe-petitte, D.M., 2016. Influence of Music on


Preoperative Anxiety and Physiologic Parameters in Women
Undergoing Gynecologic Surgery. Clinical Nursing Research, 25(2),
pp.157–173.

Lee, Y.-L. et al., 2011. A Systematic Review on the Anxiolytic Effects of


Aromatherapy in People with Anxiety Symptoms. Journal Of
Alternative And Complementary Medicine, 17(2), pp.101–108.

Libby, P. (2012). Inflammation in atherosclerosis. Arteriosclerosis, Thrombosis,


andVascular Biology, 32(9), 2045-2051.

Libby, P., Ridker, P. M., & Hansson, G. K. (2011). Progress and challenges in
translatingthe biology of atherosclerosis. Nature, 473(7347), 317-325.

Mahmoudirad G, Moslo MG, Bahrami H (2014) Effect of foot reflexology on


anxiety of patients undergoing coronary angiography. Iran J Crit Care
Nurs 6(4): 235-242.

Malik TF, Tivakaran VS. (2020) . Percutaneous Transluminal Coronary


Angioplasty (PTCA). StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL):
StatPearls Publishing; 2018 Jan-.

Mea, C.P.D.,Bettinelli,L.A.,Pasqualotti,A. (2018). Anxiety and Depression


Symptoms in Post-Percutaneous Coronary Adults and Elderly
Intervention. Acta Colombia De Psicologia, 20 (2) : 236-246

Mirzaee F, Kaviani M, Jafari P. Effect of reflexology on anxiety level in


nuliparous women. Hayat. 2010;16(1). [Persian]

Moeini M, Kahangi LS, Valiani M, Heshmat R. The effect of reflexotherapy on


patients’ vital signs before coronary artery ypass graft surgery. Iran J
Nurs & Midwifery res. 2011;16(1):8.

Moghimi Hanjani S, Shoghy M, Mehdizadeh Torzani Z, Ahmadi G,


Khodadvastan Shahraki M. The Effect of foot reflexology on anxiety
during of labor on primiparous.HBIJ. 2012;10(3):219-24. [Persian]
76

Mokhtari Nouri J, Sadeghi Shermeh M, Hajiamini Z. Effect of foot reflexology


massage and Benson relaxation on anxiety. J Behav Sci. 2009;3(2):159-
65.

Moradi, T. & Hajbaghery, M.A., 2015. State and Trait Anxiety in Patients
Undergoing Coronary Angiography. Int J Hosp Res, 4(3), pp.123–128.

Moradi, T., & Hajbaghery, M. A (2015). The effect of a multi-modal preparation


package on anxiety in patients undergoing coronary angiography.
International Cardiovascular Research Journal, 9(1), 10–16

Moreno, A. M., Castro, R. R., Sorares, P. P., Sant’Anna, M., Cravo, S. L., &
Nóbrega, A. C. (2011). Longitudinal evaluation the pulmonary function
of the pre- and postoperative periods in the coronary artery bypass graft
surgery of patients treated with a physiotherapy protocol. J
Cardiothorac Surg, 6, 62.

Munk PS, Isaksen K, Bronnick K, Kurz MW, Butt N, Larsen AI. Symptoms of
anxiety and depression after percutaneous coronary intervention are
associated with decreased heart rate variability, impaired endothelial
function and increased inflammation. Int J Cardiol 2012;158(1):173-
176.

Nasiri KH, Eyvanbagha R, Nazari N, Savadpoor M, Soleymanifard P, et al.


(2016) Physiological and therapeutic effects of reflexology in iran. A
Systematic Review. Depiction of Health 7(1): 49-61.

Nasiri KH, Eyvanbagha R, Nazari N, Savadpoor M, Soleymanifard P, et al.


(2016) Physiological and therapeutic effects of reflexology in iran. A
Systematic Review. Depiction of Health 7(1): 49-61.

Nedeljkovic I (2018). Assessment of depression and anxiety in patients before and


after percutaneous coronary intervention: A step forward in cardiac
rehabilitation?. European Journal of Preventive Cardiology 2018, Vol.
25(10) 1015–1016

Nekouei ZK, Yousefy A, Manshaee G, Nikneshan S. Comparing anxiety in


cardiac patients candidate for angiography with normal population.
ARYA Atherosclerosis. 2011;7(3):93.

Oztürk R, Sevil Ü (2013) The Effect of Reflexology on Women’s Health. Journal


of International Sports. Health, Medicine Sciences 8(3): 87-101.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman Tatalaksana


Gagal Jantung. Buku Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung. 2015
77

Potluri, R., et al., 2014. The role of angioplasty in patients with acute coronary
syndrome and previous coronary artery bypass grafting. International
Journal of Cardiology, 176(3), pp. 760–3. doi:
10.1016/j.ijcard.2014.07.097

Pratiwi FW, Saragi JS, 2018. Pemantauan Kateterisasi Jantung Pada Tindakan
Ptca Terhadap Pasien CAD. Jurnal Arsip Kardiovaskular Indonesia
(ARKAVI) | Volume 03, Nomor 01

Purbianto, Agustanti D. 2015. Analisis faktor risiko gagal jantung di rsud dr. H.
Abdul moeloek provinsi lampung Jurnal Keperawatan, Volume XI, No.
2, Oktober 2015

Putri NH, 2020.Kenali Titik Pijat Refleksi Kaki untuk Coba Sendiri di Rumah.
Hidup Sehat. https://www.sehatq.com/artikel/kenali-titik-pijat-refleksi-
kaki-agar-bisa-dicoba-di-rumah. diakses 8 September 2020

Rahmani, M., & Mollashahi, L. (2013). Depressive symptoms and health-related


quality of life: The Heart and Soul Study. Zahedan Journal of
Research in Medical Sciences, 15, 34-37.

Robbin. Kumar dan Cotran. 2007. Buku Ajar Patologi (Edisi ke-7 volume ke-2).
Terjemahan oleh: Pendit, B.U., Jakarta: EGC Indonesia, hal. 356-443

Roohafza, H., et al., 2014. [Psychological state in patients undergoing coronary


artery bypass grafting surgery or percutaneous coronary intervention
and their spouses (Persian)]. International Journal of Nursing Practice,
21(2), pp. 214–20. doi: 10.1111/ijn.12234

Sayols-Baixeras, S., Lluís-Ganella, C., Lucas, G., & Elosua, R. (2014).


Pathogenesis of coronary artery disease: focus on genetic risk factors
and identification of genetic variants. The application of clinical
genetics, 7, 15.

Serruys, P. W., Uunger, F., Sousa, J. E., Jatene, A., Bonnier, H. J., Schonberger, J.
P., ... Vanherwerden, L. A. (2001). Comparison of coronary-artery
bypass surgery and stenting for the treatment of multivessel disease.
New England Journal of Medicine, 344, 1117-1124.
http://dx.doi.org/10.1056/NEJM200104123441502.

Setyani, Rani, 2009. Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit
Jantung Koroner Pada Usia Produktif (< 55 tahun) [Versi elektronik].
Airlangga University Digital Library

Sharif, F., et al., 2014. The effects of discharge plan on stress, anxiety and
depression in patients undergoing percutaneous ransluminal coronary
78

angioplasty: A randomized controlled trial. tional Journal of


Community Based Nursing and Midwifery 60. PMCID: PMC4201194

Sharif, F., et al., 2014. The effects of discharge plan on stress, anxiety and
depression in patients undergoing percutaneous transluminal coronary
angioplasty: A randomized controlled trial. International Journal of
Community Based Nursing and Midwifery, 2(2), pp. 60. PMCID:
PMC4201194

Shibeshi WA, Young-Xu Y, Blatt CM. Anxiety worsens prognosis in patients


with coronary artery disease. J Am Coll Cardiol 2007;49(20):2021-
2027.

Spalding TW, Jeffers LS, Porges SW, Hatfield BD. Vagal and cardiac reactivity
to psychological stressors in trained and untrained men. Med Sci Sports
Exerc 2000;32(3):581-591.

Stuart, G.W., 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa 5th ed., Jakarta: EGC

Suherwin. 2018. Hubungan usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit dengan
kejadian penyakit jantung koroner di instalasi gawat darurat rumahsakit
tk.ii dr. Ak. Gani palembang tahun 2016 . Jurnal ‘Aisyiyah Medika
Volume 1, Nomor 1, Februari 2018

Tang, S.K. & Tse, M.Y.M., 2014. Aromatherapy : Does It Help to Relieve Pain ,
Depression , Anxiety , and Stress in Community-Dwelling Older
Persons ? BioMed Research Internationa, 2014, pp.1–12.

Torabi M, Salavati M, Ghahri Sarabi A. Effects of reflexology foot massage and


Benson relaxation on anxiety and physiological parameters of patients
candidate for angiography. Sci J Hamadan Nurs & Midwifery Faculty.
2012;20(1):63-71.

Vandgik, D., Nierich, A. P., Eefting, F. D., Buskens, E., Nathod, H. M., Jansen, E.
W., ... De medina, E. O. R. (2000). The Octopus Study: rationale and
design of two randomized trials on medical effectiveness, safety, and
cost-effectiveness of bypass surgery on the beating heart. Controlled
clinical trials, 21, 595-609. http://dx.doi.org/10.1016/S0197-
2456(00)00103-3

Varcarolis, E., Carson, V. & Shoemaker, N., 2010. Foundation of Psychiatric


Nursing Mental Health Nursing, Philadelphia: WB. Saunders Company.

Vardanjani MM, Alavi NM, Razavi NS, Aghajani M, Esmail AF, et al. (2013)
Randomized-controlled trial examining the effects of reflexology on
79

anxiety of patients undergoing coronary angiography. Nursing and


Midwifery Studies 2(3): 3-9.

Wang G, Cui J, Wang Y, Deng B, Liang X, Bai J, Guo S, Yang Z, Huang


L, Li C. Anxiety and adverse coronary artery disease outcomes in
Chinese patients. Psychosom Med 2013;75(6):530-536

Welsh RC, Granger CB, Westerhout CM, Blankenship JC, Holmes DR, O'Neill W
W, Hamm CW, Van de Werf F,Armstrong PW.APEX AMI Investigator
s. Prior coronary artery bypass graft patients with ST-segment elevation
myocardial infarction treated with primary percutaneous coronary
intervention. JACC Cardiovasc Interv. 2010
Mar;3(3):343-51. [PubMed: 20298996]

Winastuti TA, Andarini S, Heriansyah T. 2016. Patofisiologi Dasar Keperawatan


Penyakit Jantung Koroner ; Inflamasi Vaskular. Malang ; UB Press

Wisnubrata. 2017. Risiko Penyakit Jantung Dipengaruhi Tingkat Pendidikan?.


Kompas.com: diakses melalui
https://lifestyle.kompas.com/read/2017/10/10/052800520/risiko-
penyakit-jantung-dipengaruhi-tingkat-pendidikan-?page=all

Witztum, J. L., & Lichtman, A. H. (2013). The influence of innate and adaptive
immune responses on atherosclerosis. Annual review of pathology, 9,
73-102.

Yalvac, D., Ozturk, S., Sivri, N., Kiliç, Y., Bulut, E., Celik, A., … Yetkin, E.
(2017). Effects of patients anxiety and depression scores on coronary
flow in patients with normal coronary arteries. International Journal of
Cardiology, 180, 55–57. https://doi.org/10.1016/j.ijcard.2014.11.153

Zhang, P., 2015. Study of anxiety/depression in patients with coronary heart


disease after percutaneous coronary intervention. Cell Biochemistry and
Biophysics, 72(2), pp. 503–7. doi: 10.1007/s12013014-0495-2
80

LAMPIRAN

ANGGARAN BIAYA

Unit Cost
No Uraian (Rp) Volume Jumlah
A Proposal Penelitian
1 Kertas A4 (80 gr) 55,000 2 110,000
2 Tinta hitam dan warna 50,000 4 200,000
3 Fotocopy proposal skripsi 50,000 5 250,000
Sub total 560,000

B Penelitian
1 Biaya etik 500,000 1 500,000
2 Biaya pengambilan data 500,000 1 500,000
3 Analisa Data Penelitian 500,000 1 500,000
4 Cendramata untuk pasien 25,000 34 850,000
Sub total 2,350,000

C Seminar Hasil
1 Kertas 55000 3 165,000
2 Tinta 50000 4 200,000
3 Fotocopy laporan hasil 100000 5 500,000
4 Fotocopy skripsi 100000 5 500,000
5 Penggandaan skripsi 100000 10 1,000,000
Subtotal 2,365,000

Total 5,275,000
81
82
83
84
85
86

PERSETUJUAN IKUT DALAM PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

PEMBERIAN INFORMASI
PEMBERI INFORMASI ELVIANIS

PENERIMA INFORMASI /
PEMBERI PERSETUJUAN
JENIS INFORMASI ISI INFORMASI TANDA
(V)
1 Tujuan penelitian a.Diidentifikasikan gambaran karakteristik
sampel
b.Mengatahui kecemasan pasien penyakit
jantung koroner dengan tindakan PTCA
sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok
intervensi dan kontrol
c.Mengatahui perbedaan kecemasan pasien
penyakit jantung koroner dengan tindakan
PTCA sebelum dan setelah perlakuan pada
kelompok intervensi dan control
2 Manfaat penelitian a. Bagi pelayanan/ Rumah sakit
b. Dapat menyediakan sarana dan prasarana
serta memberikan pelatihan dan SOP sebagai
masukan untuk tindakan keperawatan dalam
mengurangi atau mengatasi kecemasan pada
pasien dengan tindakan PTCA
c. Bagi Pendidikan
d. Sebagai tambahan literatur bagi pendidikan
terkait dengan metode yang dapat digunakan
dalam mengurangi kecemasan pada pada
pasien yang akan menjalani tindakan PTCA
e. Bagi profesi
f. Dapat dijadikan sebagai intervensi tambahan
dalam mengurangi kecemasan pasien yang
akan menjalani PTCA

3 Tindakan Terapi Pijat Refleksi Kaki


4 Tata cara Melakukan Oijat Refleksi Kaki Sesuai dengan
SOP
5 Risiko Pemijatan terlalu keras membuat pasien
87

kesakitan
6 Komplikasi -
7 Tindakan atasi komplikasi -
8 Alternatif -

Dengan ini menyatakan bahwa saya telah menerangkan hal-hal di atas Tanda tangan
secara benar dan jelas dan memberikan kesempatan untuk bertanya /
berdiskusi
Dengan ini menyatakan bahwa saya telah menerima informasi sebagai Tanda tangan
mana di atas yang saya beri tanda / paraf di kolom kanannya, dan telah
memahaminya
*Bila subjek penelitian tidak kompeten atau tidak mau menerima informasi, maka penerima
informasi adalah wali atau keluarga terdekat
PERSETUJUAN IKUT DALAM PENELITIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya, nama ,
umur tahun,lakilaki/perempuan*,alamat
, dengan ini menyatakan persetujuan
untuk menjadi subjek penelitian terhadap saya/ saya*
bernama , umur tahun,
lakilaki/perempuan*,alamat

Saya memahami perlunya dan manfaat penelitian tersebut sebagaimana telah dijelaskan seperti di atas
kepada saya, termasuk risiko dan komplikasi yang mungkin timbul. Jika terjadi komplikasi, maka peneliti
akan memberikan pengobatan/tindakan yang akan ditanggung oleh peneliti. Partisipasi saya untuk ikut serta
dalam penelitian ini sepenuhnya bersifat sukarela. Jika saya menolak berpartisipasi, hal ini tidak akan
mengganggu hubungan saya dengan perawat yang meneliti, tetap dilayani dan mendapat pengobatan
sebagaimana mestinya. Semua data pribadi dan hasil pemeriksaan saya akan dijaga kerahasiaannya.
Informasi penelitian ini akan disimpan oleh peneliti dan diperlakukan sebagai data rekam medis yang dijaga
kerahasiaannya. Dan saya/keluarga telah diberi informasi cara mendapatkan akses ke penelitian yang
relevan dengan kebutuhan pengobatan saya.

, tanggal pukul

Yang menyatakan* Peneliti Saksi I Saksi II

( ) ( ) ( ) ( )
88

Lampiran

KUESIONER

PENGARUH TERAPI PIJAT REFLEKSI KAKITERHADAP


KECEMASAN PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN
TINDAKAN PTCA DI BANGSAL JANTUNG DI RSUP. DR. M. DJAMIL
PADANG

Nomor Kode Sampel...........................(diisi oleh peneliti)


Tanggal Pengisian : .......................
Tanggal lahir : ………………
Petunjuk : Isi dan Pilihlah Sesuai dengan Identitas Pribadi
IDENTITAS SAMPEL
a. Nama (Inisial) : ………………………
b. Jenis Kelamin : Laki-Laki/Perempuan
c. Umur :
☐ Dewasa awal (21-40 tahun)
☐ Dewasa madya (41-60 th)
☐ Dewasa lanjut usia (60 tahun keatas)

d. Tingkat Pendidikan :

☐ SD
☐ SMP
☐ SMA
☐ Perguruan tinggi
e. Status Perkawinan : Kawin / Belum kawin
89

Lampiran 3
Lembar Kuisioner Kecemasan
KUISIONER SKALA PENGUKURAN KECEMASAN DENGAN
STATEANXIETY INVENTORY (S-AI) FORM Y (State-Trait Anxiety
Inventoryoleh Spielberger,C.D.(1983)

Petunjuk Pengisian:
Bacalah masing-masing kalimat di bawah ini dan berikan tanda ceklis (√) pada
respon yang tepat yang menunjukkan apa yang Anda rasakan sekarang, padasaat
ini. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jangan berpikir terlalu lama dalam
menjawab setiap pernyataan tapiberikan jawaban yang palingmenggambarkan
perasaan Anda saat ini.

N Perasaan Tidak Agak Cukup Sangat


O sama sekali
1 Saya merasa tenang
2 Saya merasa taman
3 Saya merasa tegang
4 Saya merasa tertekan
5 Saya merasa tentram
6 Saya merasa kesal/marah
7 Saya sekarang khawatir dengan
kemungkinan ketidakberuntungan
8 Saya merasa lega
9 Saya merasa takut
10 Saya merasa nyaman
11 Saya merasakan kepercayaan diri
12 Saya merasa gugup
13 Saya merasa gelisah
14 Saya merasa bimbang
15 Saya merasa santai
16 Saya merasakan kepuasan
17 Saya khawatir
18 Saya merasa bingung
19 Saya merasa mantap/yakin
20 Saya merasa senang

Total Skor : Diisi oleh peneliti


90

Lampiran KISI-KISI KUESIONER

A. Pertanyaan positif

N Perasaan Tidak Agak Cukup Sangat


O sama sekali Mera merasa meras
(4) sakan kan (2) akan
(3) (1)
1 Saya merasa tenang
2 Saya merasa aman
5 Saya merasa tentram
8 Saya merasa lega
10 Saya merasa nyaman
11 Saya merasakan kepercayaan diri
15 Saya merasa santai
16 Saya merasakan kepuasan
19 Saya merasa mantap/yakin
20 Saya merasa senang

B. Petanyaan negatif

N Perasaan Tidak Agak Cukup Sangat


O sama sekali Mera merasa meras
(1) sakan kan (3) akan
(2) (4)
3 Saya merasa tegang
4 Saya merasa tertekan
6 Saya merasa kesal/marah
7 Saya sekarang khawatir dengan
kemungkinan ketidakberuntungan
9 Saya merasa takut
12 Saya merasa gugup
13 Saya merasa gelisah
14 Saya merasa bimbang
17 Saya khawatir
18 Saya merasa bingung

Total Skor : Diisi oleh peneliti

Keterangan : Nomor adalah nomor pertanyaan di kuesioner


91

Lampiran

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)

TERAPI PIJAT KAKI

TAHAP TINDAKAN
Persiapan 4. Pastikan dan identifikasi kebutuhan pasien yang akan dilakukan
petugas tindakan
5. Cuci tangan sesuai prosedur
6. Gunakan alat pelindung diri sesuai kebutuhan
Persiapan 1. Identifikasi pasien
pasien 2. Jaga privasi dan siapkan lingkungan aman dan nyaman
3. Jelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan
Pelaksanaan 1. Perawat meminta pasien untuk merelaksasikan pikiran
kemudian motivasi pasien
2. Berikan privasi , bantu pasien ke posisi yang nyaman dan minta
pasien untuk bersikap tenang.
3. Minta pasien untuk menjulurkan kaki ,kemudian kaki pasien
ditekan dengan jari -jari kaki ditekuk,akan terlihat cekungan
dibawah bantalan kaki
4. Tekan area tersebut menggunakan jempol dan letakakn jari-jari
lainnya di punggung kaki.
5. Pijat area tersebut denagan Gerakan memutar, dan dilanjutkan
ke kaki sebelahnya lagi dengan waktu keduanya selama 20
menit
6. Minta pasien menarik nafas dalam dengan tenang dan pelan
,hiruplah Bersama perasaan tenang ,dan berpikirlah untuk
mendapatkan kesembuhan.
7. Setelah selesai tanyakan respon pasien terhadap kecemasan
yang dirasakan setelah dilakukan refleksi pijat kaki
8. Lepaskan APD , cuci tangan , dan segeralah lakukan
kebersihan diri sesuai protocol Covid setelah selesai tindakan.
9. Dokumentasi respon pasien.
92

JADWAL PENELITIAN

Juli 2020 Agustus 2020 Sep-20 Oktober 2020 Nov-20 Desember 2020 Januari 2021
No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan Judul
Penelitian
1
Acc Judul Penelitian
2
Penyusunan proposal
3 penelitian
Persiapan seminar
4 ujian proposal
Seminar ujian
5 proposal
Perbaikan proposal
6 penelitian
Pelaksanaan dan
penyusunan hasil
7 penelitian
Seminar hasil
8
Perbaikan hasil ujian
9 skripsi
Penyusunan hasil dan
10 penggandaan
HASIL OUTPUT SPSS

1. Rata –rata umur sampel


a. Intervensi

Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
Umur 17 21 66 50.76 14.481
Valid N
17
(listwise)

b. kontrol

Descriptive Statistics
Std.
N Minimum Maximum Mean Deviation
Umur 17 41 60 53.29 6.459
Valid N
(listwise) 17

2. Distribusi frekuensi sampel berdasarkan criteria umur


a. Intervensi

Statistics
kriteria umur
N Valid 17
Missing 0
Mean 1.8824
Std. Deviation .60025
Minimum 1.00
Maximum 3.00

kriteria umur
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Dewasa awal 4 23.5 23.5 23.5
Dewasa madya 11 64.7 64.7 88.2
Dewasa lanjut usia 2 11.8 11.8 100.0
Total 17 100.0 100.0

b. Kontrol

Statistics
Status Status
kriteria umur Jenis kelamin Pendidikan perkawinan ekonomi
N Valid 17 17 17 17 17
Missing 0 0 0 0 0

kriteria umur
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Dewasa madya 17 100.0 100.0 100.0

3. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin


a. Intervensi

Jenis kelamin
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Laki-laki 15 88.2 88.2 88.2
perempuan 2 11.8 11.8 100.0
Total 17 100.0 100.0

b. Control

Jenis kelamin
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Laki-laki 12 70.6 70.6 70.6
Perempuan 5 29.4 29.4 100.0
Total 17 100.0 100.0
4. Distribusi frekuensi sampel berdasarkan pendidikan
a. Intervensi

Pendidikan
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid SMP 4 23.5 23.5 23.5
SMA 10 58.8 58.8 82.4
PT 3 17.6 17.6 100.0
Total 17 100.0 100.0

b. Kontrol

Pendidikan
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid SD 1 5.9 5.9 5.9
SMP 1 5.9 5.9 11.8
SMA 13 76.5 76.5 88.2
PT 2 11.8 11.8 100.0
Total 17 100.0 100.0

5. Distribusi sampel berdasarkan status perkawinan


a. Intervensi

Status perkawinan
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Kawin 15 88.2 88.2 88.2
Belum kawin 2 11.8 11.8 100.0
Total 17 100.0 100.0
b. kontrol

Status perkawinan
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Kawin 17 100.0 100.0 100.0

6. Distribusi sampel berdasarkan status ekonomi


a. Intervensi

Status ekonomi
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Rendah 2 11.8 11.8 11.8
Menengah 15 88.2 88.2 100.0
Total 17 100.0 100.0

b. Control

Status ekonomi
Valid Cumulative
Frequency Percent Percent Percent
Valid Rendah 5 29.4 29.4 29.4
Menengah 12 70.6 70.6 100.0
Total 17 100.0 100.0

7. Uji Normalitas data


a. Intervensi

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Kecemasan sebelum 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%
Kecemasan setelah 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Kecemasan sebelum 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%
Kecemasan setelah 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%

Descriptives

Statistic Std. Error

Kecemasan sebelum Mean 49.5882 2.63609

95% Confidence Interval for Lower Bound 44.0000


Mean
Upper Bound 55.1765

5% Trimmed Mean 49.7647

Median 50.0000

Variance 118.132

Std. Deviation 10.86887

Minimum 31.00

Maximum 65.00

Range 34.00

Interquartile Range 17.50

Skewness -.394 .550

Kurtosis -1.145 1.063

Keemasan setelah Mean 38.1765 2.05662

95% Confidence Interval for Lower Bound 33.8166


Mean Upper Bound 42.5363

5% Trimmed Mean 37.2516

Median 37.0000

Variance 71.904

Std. Deviation 8.47965

Minimum 28.00

Maximum 65.00
Range 37.00

Interquartile Range 9.50


Skewness 1.918 .550
Kurtosis 5.958 1.063

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Kecemasan sebelum .193 17 .092 .929 17 .211
*
Kecemasan setelah .145 17 .200 .930 17 .217
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.

b. Control

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Kecemasan sebelum 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%
Kecemasan setelah 17 100.0% 0 .0% 17 100.0%

Descriptives
Statistic Std. Error
Kecemasan sebelum Mean 52.5294 2.56406
95% Confidence Lower Bound 47.0939
Interval for Mean Upper Bound 57.9650
5% Trimmed Mean 52.5327
Median 53.0000
Variance 111.765
Std. Deviation 1.05719E
1
Minimum 33.00
Maximum 72.00
Range 39.00
Interquartile Range 15.00
Skewness -.203 .550
Kurtosis -.264 1.063
Kecemasan setelah Mean 49.2941 2.87198
95% Confidence Lower Bound 43.2058
Interval for Mean Upper Bound 55.3824
5% Trimmed Mean 49.2157
Median 51.0000
Variance 140.221
Std. Deviation 1.18415E
1
Minimum 32.00
Maximum 68.00
Range 36.00
Interquartile Range 23.50
Skewness -.152 .550
Kurtosis -1.301 1.063

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
Kecemasan sebelum .121 17 .200 .970 17 .826
Kecemasan setelah .180 17 .144 .922 17 .157
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
8. Uji Homogenitas Kelompok intervensi dan control setelah penelitian

Test of Homogeneity of Variances

Keemasan setelah

Levene Statistic df1 df2 Sig.

4.028 1 32 .053

ANOVA

Keemasan setelah

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 1050.618 1 1050.618 9.906 .004

Within Groups 3394.000 32 106.063

Total 4444.618 33

9. Kecemasan sampel sebelum dan setelah intervensi pada kelompok yang


diberikan pijat refleksi kaki

Paired Samples Statistics


Std. Std. Error
Mean N Deviation Mean
Pair 1 Kecemasan sebelum 49.5882 17 10.86887 2.63609
Kecemasan setelah 34.1176 17 8.45490 2.05061

Paired Samples Statistics


Std. Std. Error
Mean N Deviation Mean
Pair 1 Kecemasan sebelum 49.5882 17 10.86887 2.63609
Kecemasan setelah 34.1176 17 8.45490 2.05061

Paired Samples Test


Paired Differences
Std. 95% Confidence Sig.
Std. Error Interval of the (2-
Mean Deviation Mean Difference t df tailed)
Lower Upper
Pair Kecemasan
1 sebelum -
1.54706E1 11.81692 2.86603 9.39489 21.54629 5.398 16 .000
Kecemasan
setelah

10. Kecemasan sampel sebelum dan setelah intervensi pada kelompok yang
tidak diberikan pijat refleksi kaki (control)

Paired Samples Statistics


Std. Std. Error
Mean N Deviation Mean
Pair 1 Kecemasan sebelum 52.5294 17 10.57188 2.56406
Kecemasan setelah 49.2941 17 11.84148 2.87198

Paired Samples Correlations


N Correlation Sig.
Pair 1 Kecemasan sebelum &
17 .798 .000
Kecemasan setelah

Paired Samples Test


Paired Differences
95%
Confidence
Std. Interval of the
Std. Error Difference
Sig. (2-
Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed)
Pair Kecemasan
1 sebelum - -
3.23529 7.22435 1.75216 6.94971 1.846 16 .083
Kecemasan .47912
setelah
11. Perbedaan kecemasan setelah penelitian antara kelompok intervensi dan
control

Group Statistics

kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Keemasan setelah Intervensi 17 38.1765 8.47965 2.05662

Kontrol 17 49.2941 11.84148 2.87198

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence

Sig. Interval of the

(2- Mean Std. Error Difference

F Sig. t df tailed) Difference Difference Lower Upper

Keemasan Equal
- - -
setelah variances 4.028 .053 32 .004 -11.11765 3.53241
3.147 18.31294 3.92236
assumed

Equal
variances - - -
28.993 .004 -11.11765 3.53241
not 3.147 18.34232 3.89297
assumed

12. Kategori keemsan sebelum dan sesudah penelitian


Kategori kecemasan sebelum

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak emas 5 14.7 14.7 14.7

Sedikit cemas 11 32.4 32.4 47.1

Cukup cemas 17 50.0 50.0 97.1

Sangat emas 1 2.9 2.9 100.0


Kategori kecemasan sebelum

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak emas 5 14.7 14.7 14.7

Sedikit cemas 11 32.4 32.4 47.1

Cukup cemas 17 50.0 50.0 97.1

Sangat emas 1 2.9 2.9 100.0

Total 34 100.0 100.0

Kategorei keemsan setelah


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak emas 11 32.4 32.4 32.4

Sedikit cemas 13 38.2 38.2 70.6

Cukup cemas 9 26.5 26.5 97.1

Sangat emas 1 2.9 2.9 100.0

Total 34 100.0 100.0

Perbedaan rata-rata selisih keemsan sebelum dan sesudah

Group Statistics

kelompok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Selisih sebelum dan sesudah Intervensi 17 11.4118 8.00046 1.94040

Kontrol 17 3.2353 7.22435 1.75216

Independent Samples Test

Levene's
Test for
Equality of
Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence

Sig. Interval of the

(2- Mean Std. Error Difference

F Sig. T df tailed) Difference Difference Lower Upper

Selisih Equal
sebelum variances 1.577 .218 3.127 32 .004 8.17647 2.61442 2.85107 13.50188
dan assumed
sesudah Equal

variances
3.127 31.672 .004 8.17647 2.61442 2.84890 13.50404
not
assumed
CURICULUM VITAE

Nama : Elvianis
Tempat Tanggal Lahir : Padang, 4 Desember 1974
Pekerjaan : PNS
Status : Kawin
Nama Bapak : Alizar Luthan
Nama Ibu : Darminis (Almh)
Nama Suami : Eddy
Nama Anak : 1. Miftahul Chairani
2. M. Ikhsan Maulana
3. Bunga Eldya Pratiwi
4. Athallah Musyafa Eldyo

Riwayat Pendidikan 1. Sekolah Dasar Tamat 1987


2. Sekolah Menengah Pertama Tamat 1990
3. Sekolah Menengah Atas Tamat 1993
4. Diploma III Tamat 1996
5. FKEP Unand (2019 – Sekarang)

Riwayat Pekerjaan Perawat Pelaksana di RSUP Dr. M. Djamil


Padang Tahun 2004 sampai Sekarang