Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BENIH
“UJI DAYA KECAMBAH”

Di Susun Oleh :
SHAFA TASYA KAMILA RACHMADANI
19025010099
GOLONGAN C1

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA
TIMUR
2020
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih merupakan suatu kebutuhan wajib terutama untuk kegiatan
agronomis. Pada pemulia tanaman, teknologi benih merupakan suatu hal yang
utama untuk menghasilkan benih yang bermutu sehingga dapat dimanfaatkan oleh
petani. Akan tetapi, penggunaan benih oleh petani harus sesuai dengan kebutuhan
petani. Benih harus ada sebelum petani mulai melakukan kegiatan budidaya. Hal
ini mendorong para pemulia untuk berusaha dapat menyediakan benih sebelum
musimnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh petani. Oleh karena itu dilakukan
pengujian daya kecambah benih untuk mengetahui kemampuan benih dalam
berkecambah sebelum dikirim ke segala pelosok.
Perkecambahan merupakan serangkaian peristiwa penting sejak benih
dorman sampai kebibit yang sedang tumbuh tergantung dari viabilitas benih,
lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha
pemecahan dormansi. Oleh karena itu perlu dilaksanakan pengujian benih untuk
mengetahui viabilitas benih atau kemampuam benih untuk tumbuh menjadi bibit
pada kondisi lingkungan yang optimum. Uji perkecambahan itu meliputi uji daya
kecambah, yang erat kaitanya dengan viabilitas benih dan uji kecepatan
berkecambah yang berhubungan erat dengan vigor benih.
Perkecambahan biji adalah pengaktifan kembali aktifitas pertumbuhan
embryonic axis di dalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit
(seedling). Biji untuk dapat berkecambah memerlukan persyaratan baik dalam biji
itu sendiri maupun persyaratan lingkungan. Persyaratan untuk berkecambah yang
berbeda-beda dari bermacam-macam biji adalah penting diketahui untuk pedoman
penanaman biji, pedoman penetapan treatment tertentu dan pengontrolan
pertumbuhan. Persyaratan untuk berkecambah yang berbeda-beda dari bermacam-
macam biji adalah penting diketahui untuk pedoman penanaman biji, pedoman
penetapan treatment tertentu, dan pengontrolan pertumbuhan.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum teknologi benih mengenai uji daya kecambah benih
adalah sebagai berikut.
1) Mahasiswa mampu melakukan uji daya kecambah.
2) Mahasiswa mampu mengindentifikasi kecambah normal dan tidak normal
(abnormal).
3) Mahasiswa dapat menghitung nilai daya kecambah benih.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Benih merupakan simbol dari suatu pemuliaan, yang merupakan inti dari
kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaanya sebagai
penyambung dari kehidupan tanaman. Benih adalah biji tanaman yang digunakan
untuk tujuan penanaman. Pada konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu
tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi
maksimum dengan sarana peralatan serta teknologi yang maju (Sutopo, 2010).
Ketentuan dan syarat-syarat tertentu untuk memproduksi benih bermutu
yang harus mengacu pada suatu standar. Standar metode pengujian mutu benih
dianut produsen benih di Indonesia saat ini mengacu pada ketentuan Internasional
Seed Testing Association (ISTA). Penseragaman standar mutu dimaksudkan agar
mutu suatu benih yang diedarkan dan digunakan untuk penanaman bisa terjamin.
Dengan demikian, kemurnian dan mutu benih dari varietas unggul dapat terjaga
(Morla et al., 2011).
Alat-alat dalam laboratorium digunakan untuk pengujian benih, salah
satunya adalah pengujian daya tumbuh benih. Menurut Lesilolo (2012), pengujian
daya tumbuh benih merupakan proses yang penting. Hal tersebut dilakukan untuk
memberi jaminan kepada petani dan masyarakat untuk mendapatkan benih sesuai
dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Benih yang diuji bertujuan agar
mendapatkan benih yang berkualitas tinggi. Benih yang baik akan menguntungkan
bagi petani.
Penyiapan benih dengan kualitas yang baik merupakan langkah awal di
dalam usaha pembudidayaan tanaman. Benih merupakan biji tanaman yang
dipergunakan untuk keperluan dan pengembangan usaha tani serta memiliki fungsi
agronomis. Benih memegang peranan penting dalam budidaya pertanian karena
benih merupakan awal dari suatu kehidupan tanaman. Lesilolo et al., (2012)
menyatakan bahwa dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi
atau benih unggul, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang dapat
berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang semakin maju. Wiguna
(2013) menambahkan bahwa benih bermutu merupakan faktor utama suksesnya
produksi di bidang pertanian.
Rahmianna et al., (2015), menyatakan bahwa Benih bermutu adalah benih
yang telah dinyatakan sebagai benih yang berkualitas tinggi dengan daya tumbuh
>90%. benih bermutu adalah benih yang varietasnya benar dan murni, mempunyai
mutu genetis, fisiologis, dan fisik yang tinggi sesuai dengan standar mutu kelasnya.
Mutu genetis ditentukan oleh derajat kemurnian genetis sedangkan mutu fisiologis
ditentukan oleh laju kemunduran dan vigor benih. Mutu fisik ditentukan oleh
kebersihan fisik.
Sebelum menjadi tanaman, benih harus melalui proses perkecambahan
terlebih dahulu. Beberapa hal yang dapat menyebabkan turunnya mutu benih adalah
kadar air yang tidak tepat selama periode penyimpanan. Hal ini akan meningkatkan
laju deteriorasi, sehingga viabilitas dan vigor benih cepat menurun. Kemunduran
benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur - angsur dan kumulatif
serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisisologis yang disebabkan
oleh faktor dalam. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai
dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal,
penurunan pemunculan kecambah di lapangan (field emergence), terhambatnya
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap
lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Tefa,
2017).
Berdasarkan hal di atas maka perlu dilakukan pengujian viabilitas benih
untuk melihat mutu fisiologis benih. Secara umum pengujian viabilitas benih
mencakup pengujian daya berkecambah atau daya tumbuh dan vigor benih.
Perbedaan antara daya berkecambah dan vigor antara lain informasi daya kecambah
ditentukan oleh kecambah yang tumbuh normal pada lingkungan yang optimum,
sedangkan vigor adalah kecambah yng tumbuh normal pada lingkungan sub
optimum atau bibit yang tumbuh di lapang. Pengujian daya berkecambah
memerlukan kondisi optimum pada media perkecambahan, suhu dan kelembaban.
Berdasarkan penelitian Susanti (2010) terdapat perbedaan kecenderungan dari
setiap jenis benih tanaman tentang media yang sesuai untuk perkecambahannya.
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Teknologi benih Pertanian materi Pengenalan Alat dan Bahan
Laboratorium dilaksanakan pada hari Jumat, 26 Maret 2021 pukul 07.30 – 09.20
WIB. Tempat pelaksanaan praktikum secara daring menggunakan media
WhatsApp dan Google Meet di rumah masing-masing mahasiswa Agroteknologi.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan untuk dalam kegiatan praktikum adalah berbagai
peralatan laboratorium meliputi bak perkecambahan, modul, alat tulis, dan hp.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum meliputi benih kacang hijau, media
pasir, dan air.

3.3 Cara Kerja


1) Menyiapkan bak perkecambahan, 60 benih kacang hijau, dan pasir.
2) Menempatkan perkecambahan pada bak perkecambahan, masing-masing
bak terdiri atas 20 benih kacang hijau.
3) Menjaga kelembaban.
4) Mengamati kecambah normal, abnormal, mati, dan segar.
5) Melakukan perbandingan sejak penanaman hingga h+7 penanaman.
6) Menghitung daya kecambah.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 4.1.1 Daya Kecambah Benih Kacang Hijau
Benih Benih Benih Benih
Ulangan Jumlah
Normal Abnormal Mati Segar

I 15 2 3 0 20

II 16 3 1 0 20

III 13 4 3 0 20

Jumlah % 44 % 9% 7% 0% 60 %

Rata-rata 73,3 % 15 % 11,6 % 0% 100 %

Jangka waktu pengujian (hari) 7 hari

Tabel 4.1.2 Hasil Pengamatan Benih Kacang Hijau


KACANG HIJAU

Gambar 1. Benih Kacang Hijau Tumbuh Normal

Gambar 2. Benih Kacang Hijau Tumbuh Abnormal


Gambar 3. Benih Kacang Hijau Mati

4.2 Pembahasan
Kacang hijau (Vigna radiata, L) merupakan salah satu kelompok tanaman
palawija komoditas kacang-kacangan yang penting setelah kacang kedelai dan
kacang tanah yang telah di kenal oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Cahyono
(2017) mengemukakan bahwa pengembangan dan peningkatan produksi tanaman
kacang hijau menuntut ketersediaan benih yang cukup dan bermutu tinggi, yang
berasal dari hasil penanganan yang tepat dan efektif. Salah satu upaya untuk
meningkatkan produksi kacang hijau adalah melalui usaha ekstensifikasi (perluasan
lahan). Usaha perluasan lahan ini tidak hanya dengan menambah luas lahan tanam
tetapi dapat mencari alternatif lain yang mungkin dapat bersifat kontroversial,
misalnya dengan menggunakan benih berkualitas yang tanahan ditanam pada tanah
salin (Shannon, M.C. 2013 dalam Gedoan dkk, 2014 ; Dachlan, dkk, 2013).
Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit
tanaman, sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Menurut
Marthen et al. (2018), Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan
plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk
sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini
proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan
diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan
kotiledon.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pada
benih kacang hijau terdapat embrio yang terdiri dari (plumula, koleoptil, hipokotil,
epikotil, radikula), testa, dan endosperma. Widyawati et al. (2011) menyatakan
bahwa benih yang masak tersusun atas embrio, endosperma, dan kulit benih (testa).
Bagian terbesar dari benih kacang hijau adalah embrio, hal tersebut sesuai dengan
pendapat dari Purwaning (2011) yang menyatakan bahwa struktur di dalam benih
sebagian besar ditempati oleh embrio. Kecambah dengan pertumbuhan sempurna,
ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai,
daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi
untuk berkembang menjadi kecambah normal. Benih dikatakan mati apabila sampai
pada akhir masa pengujian tidak keras, tidak segar, dan tidak berkecambah. Benih
mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warna benih terlihat
agak kecoklatan. Hal ini disebabkan karena adanya penyakit primer yang
menyerang benih. Disebabkan karena pada saat kultur teknis di lapangan tanaman
yang menjadi induk telah terserang hama dan penyakit sehingga pada benih tersebut
berpotensi membawa penyakit dari induknya.
Hasil pengujian daya kecambah kacang hijau dibagi berdasarkan keadaan
benih setelah jangka waktu pengujian selama 7 hari. Terdapat 4 keadaan benih
kacang hijau, yakni benih normal, benih abnormal, benih mati, dan benih segar
yang dilakukan ulangan sebanyak tiga kali dengan jumlah masing-masing ulangan
20 benih sehingga total sebanyak 60 benih. Berdasarkan hasil data, persentase
keseluruhan benih dalam keadaan normal yakni sebesar 73,3%, benih abnormal
sebesar 15%, benih mati sebesar 11,6%, dan benih segar sebesar 0%. Secara
internal, proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan
inhibitor perkecambahan, terutama asam giberelin (GA) dan asam absisat (ABA).
Faktor eksternal yang merupakan ekologi perkecambahan meliputi air,
suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang
berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Akbar et al., 2018). Selain itu faktor
internal yang lain adalah kemasakan benih. Jika benih yang sudah masak maka
kandungan cadangan makan pada benih tersebut sudah ada, sehingga waktu benih
itu ditanam maka perkecambahan akan mudah karena dalam melakukan
perkecambahan benih melakukan aktivitasnya dengan cadangan makanan tersebut.
V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum teknologi benih mengenai uji daya kecambah yang
telah dilaksanakan dapat diperoleh kesimpulan adalah sebagai berikut.
1. Perkecambahan pertumbuhan bibit tanaman, sebelum berkecambah tanaman
relatif kecil dan dorman.
2. Kecambah pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yang
berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan
berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
3. Kecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi
untuk berkembang menjadi kecambah normal.
4. Benih mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warna
benih terlihat agak kecoklatan.
5. Persentase keseluruhan benih kacang hijau dalam keadaan normal yakni
sebesar 73,3%, benih abnormal sebesar 15%, benih mati sebesar 11,6%, dan
benih segar sebesar 0%.
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, M. R., Purwoko, B. S., Dewi, I. S., & Suwarno, W. B. 2018. Penentuan
indeks seleksi toleransi kekeringan galur dihaploid padi sawah tadah hujan
pada fase perkecambahan. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal
of Agronomy), 46(2), 133-139.
Cahyono B., 2017. Kacang Hijau, Teknik Budidaya Dan Analisis Usaha Tani.
Aneka Ilmu. Semarang
Dachlan, A., Kasim N., dan Kurnia Sari, 2013, Uji Ketahanan Salinitas Beberapa
Varietas Jagung (Zea mays, L.) Dengan Menggunakan Agen Seleksi NaCl.
Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Jurnal Biogenesis. Vol 1 (1):
9-17
Gedoan SP, Indradewa D dan Syukur A. 2014. Tanggapan Varietas Kacang
Tunggak Terhadap Cekaman Salinitas. Fakultas Pertanian, Universitas
Gadjah Mada. Jurnal Agrosains.vol17 (1):1
Lesilolo, M.K. J. Riry, dan E.A. Matamula. 2012. Pengujian Viabilitas dan Vigor
Benih Beberapa Jenis Tanaman yang Beredar di Pasaran Kota Ambon.
Agrologia, 2(1): 1 – 9.
Lesilolo, M. K., J. Patty, dan N. Tetty. 2012. Penggunaan desikan abu dan lama
simpan terhadap kualitas benih jagung (Zea mays L.) Agrologia 1: 51-59.
Lesilolo, M. 2013. Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Beberapa Jenis Tanaman
yang Beredar Dipasaran Kota Ambon. Agrologia, 2(1): 1-9.
Marthen, M., Kaya, E., & Rehatta, H. 2018. Pengaruh perlakuan pencelupan dan
perendaman terhadap perkecambahan benih sengon (Paraserianthes
falcataria L.). Agrologia, 2(1).
Morla, S., C.S.Ramachandra Rao, and R. Chakrapani. 2011. Factors affecting seed
germination and seedling growth of tomato plants cultured in vitro
conditions. Journal of Chemical, Biological and Physical Sciences 1(2) :
328-334.
Purwaning, D. 2011. Struktur benih dan dormansi pada benih panggal buaya
(Zanthoxylum rhetsa (Roxb.) D.C. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 15
(2): 66 – 74.
Rahmianna, A.A., J. Purnomo, dan D. Harnowo. 2015. Pemanfaatan Biji Keriput
Kacang Tanah sebagai Benih. IPTEK Tanaman Pangan, 10(2): 57 – 68.
Shannon, M.C. 2013. Adaptation of Plant Salinity. Advence in Agronomi.
Deleware Academic Press. San Diege.
Suwarno, F dan I Hapsari. 2011. Studi Alternatif Substrat Kertas untuk Pengujian
Viabilitas Benih Dengan Metode Uji UKDPdp. Buletin Agronomi, 36: 84-
91.
Sutopo, L. 2010. Biologi. Makasar: Tiga Serangkai
Susanti, M. 2010. Pengaruh Media Tanam dan Perlakuan Pra Perkecambahan
Terhadap Perkecambahan Benih Panggal Buaya (Zanthoxylum Rhetsa
(Roxb.) D.C.). Skripsi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Tefa, A. 2017. Uji Viabilitas dan Vigor Benih Padi (Oryza sativa L.) selama
Penyimpanan pada Tingkat Kadar Air yang Berbeda. Jurnal Pertanian
Konservasi Lahan Kering: Savana Cendana, 2 (3) 48-50.
Wahyuastuti, I.N., F.A. Cahyaningtyas, D. Maryam. 2013. Germinator Ekonomis
Dalam Pengujian Daya Perkecambahan Benih. Jurnal Budidaya, 3(1): 14 –
19.
Widyawati, N., Tohari, P. Yudono, & I. Soemardi. 2011. Permeabilitas dan
perkecambahan benih aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.). Jurnal
Agronomi, 37 (2) : 152 – 158.
Wiguna, G. 2013. Perbaikan Viabilitas dan Kualitas Fisik Benih Tomat Melalui
Pengaturan Lama Fermentasi dan Penggunaan NaOCl pada Saat Pencucian
Benih. MEDIAGRO, 2(2): 68 – 76.
LAMPIRAN I

I. Perhitungan Daya Kecambah Benih

a. Persentase Daya Kecambah Benih Normal

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙


Daya Berkecambah = x 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛

(15+16+13)
= x 100%
60
44
= x 100%
60

= 0,733 x 100% = 73,3 %


b. Persentase Daya Kecambah Benih Abnormal
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑎𝑏𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙
Daya Berkecambah = x 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛
(2+3+4)
= x 100%
60
9
= x 100%
60

= 0,15 x 100% = 15 %
c. Persentase Daya Kecambah Benih Mati
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑡𝑖
Daya Berkecambah = x 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛
(3+1+3)
= x 100%
60
7
= x 100%
60
= 0,116 x 100% = 11,6 %
d. Persentase Daya Kecambah Benih Segar
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑔𝑎𝑟
Daya Berkecambah = x 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛
(0+0+0)
= x 100%
60
0
= x 100%
60
= 0 x 100% = 0 %
LAMPIRAN II
II. Kriteria Kecambah
Kriteria kecambah pada uji daya kecambah adalah sebagai berikut :
a. Normal : - Tumbuh sempurna, sehat
b. Abnormal : - Cacat : akar pendek (salah satu bagian kecambah hilang
- Rusak : kotiledon/ perakaran putus
- Busuk : akibat serangan hama dan penyakit –
- Lambat : pertumbuhan kecambah tidak normal pada
akhir pengamatan
c. Benih Mati : - Busuk
d. Benih Segar : - Tidak Tumbuh
- Benih mengembang, tidak tumbuh plumula
(mengalami imbibisi)

Anda mungkin juga menyukai