Anda di halaman 1dari 17

Teknik Penggunaan Alat Pelindung Diri

Saat melakukan prosedur pemakaian alat pelindung diri (APD), perlu ada seorang petugas
terlatih yang melakukan supervisi prosedur sesuai protokol dan juga seorang asisten yang
membantu memakaikan atribut tertentu. Berikut ini prosedur penggunaan (donning) APD:
1. Sebelum menggunakan alat pelindung diri, petugas melepaskan seluruh perhiasan yang
dikenakan termasuk jam tangan. Petugas yang berambut panjang harus mengikat rambut.
Petugas yang berkacamata harus melekatkan kacamata supaya tidak jatuh

2. Inspeksi kondisi alat pelindung diri, memastikan ukurannya sesuai dengan tubuh petugas
dan tidak ada kerusakan pada alat

3. Lakukan cuci tangan (hand hygiene)


4. Kenakan sepatu Lalu, pasang boot cover, ikat tali yang melingkari boot cover. Usahakan
tangan tidak menyentuh lantai. Tahap ini sebaiknya dikerjakan dalam posisi duduk
5. Kenakan sarung tangan (dalam)

6. Kenakan baju pelindung dan buat agar lengan baju menutupi pergelangan sarung tangan
dalam. Pastikan semua bagian lengan sarung tangan masuk di bawah lengan baju pelindung.
Pakaikan plester di pergelangan tangan apabila masih ada celah antara baju dengan sarung
tangan

7. Kenakan masker N95. Pastikan seluruh bagian tepi menyesuaikan bentuk wajah sehingga
tidak ada celah.

8. Kenakan hood, pastikan bagian telinga dan leher tertutup dan tidak ada rambut yang
keluar. Bagian bawah hood harus menutupi kedua bahu. Asisten dapat membantu proses
pemakaian
9. Kenakan apron (tidak wajib) apabila menangani pasien dengan gejala muntah dan diare

10. Kenakan sarung tangan luar yang biasanya memiliki pergelangan lebih panjang. Tarik
bagian lengan sarung tangan hingga menutupi bagian lengan baju pelindung. Penggunaan sarung
tangan yang berbeda warna dengan sarung tangan dalam dapat membantu identifikasi

11. Kenakan pelindung wajah (face shield)


12. Evaluasi kelengkapan dan kesesuaian penggunaan alat pelindung diri menggunakan
bantuan cermin, ditambah dengan verifikasi oleh petugas donning[5,12]
Teknik Melepaskan Alat Pelindung Diri

Berdasarkan pedoman WHO, prosedur melepaskan alat pelindung diri sesuai urutan adalah
sebagai berikut:

1. Lakukan cuci tangan (hand hygiene) dengan tetap menggunakan sarung tangan
2. Robek apron di bagian leher kemudian gulung ke bagian depan dan bawah. Hindari
tangan menyentuh bagian coverall di belakang
3. Lakukan cuci tangan. Cuci tangan dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut alat
pelindung diri

4. Lepaskan pelindung kepala-leher (bila hood terpisah dari baju pelindung) dengan cara


menarik bagian atas penutup kepala. Bila menggunakan coverall kepala-mata kaki, buka terlebih
dahulu resleting di bagian dada, kemudian lepaskan hoodie ke arah belakang secara perlahan
dengan cara menggulung bagian dalam menjadi bagian luar. Hindari menyentuh bagian
luar coverall
5. Setelah coverall terlepas melewati bahu hingga pertengahan siku, tarik lengan perlahan
agar coverall terlepas bersama dengan sarung tangan luar. Teruskan membuka dan
menggulung coverall dengan tetap menggunakan sarung tangan dalam, hingga terlepas
seluruhnya dari bagian kaki
6. Lakukan cuci tangan kembali (terus dilakukan setiap selesai melepaskan 1 jenis atribut)

7. Lepaskan pelindung mata dengan memegang tali di bagian belakang

8. Lepaskan masker dengan menarik bagian tali bawah di belakang melewati kepala ke
bagian depan. Dilanjutkan dengan melepaskan tali bagian atas

9. Lepaskan boot cover. Lalu, lepaskan sepatu boot tanpa menyentuh dengan tangan


10. Lepaskan sarung tangan dalam

11. Lakukan cuci tangan di akhir prosedur[21]


Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19
di Ruang Rawat Jalan

Tenaga kesehatan yang menangani pasien tanpa gejala infeksi saluran napas hanya perlu
menggunakan masker bedah dengan tetap menjaga jarak minimal 1 meter.

Tenaga kesehatan yang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien dengan gejala infeksi saluran
napas perlu menggunakan alat pelindung diri sebagai berikut:

 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Pada petugas yang melakukan pemeriksaan atau tindakan yang menghasilkan aerosol pada
pasien dengan/tanpa gejala infeksi saluran napas, masker bedah diganti dengan masker respirator
N95, dan tambahkan penggunaan apron.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19
di Laboratorium

Di laboratorium, tenaga kesehatan yang mengerjakan sampel saluran napas perlu mengenakan
alat pelindung diri sebagai berikut:

 Masker respirator N95


 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19
untuk Tenaga Kebersihan

Tenaga kebersihan yang bertugas membersihkan ruang rawat pasien COVID-19, ruang rawat
jalan, atau ruang isolasi, perlu menggunakan alat pelindung diri sebagai berikut:

 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan tebal
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Alat pelindung diri tersebut juga perlu digunakan saat membersihkan Ruang poli batuk, BP
umum, R. UGD, R.Pendaf dan ambulans yang digunakan untuk memindahkan pasien yang
dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19.
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Pandemi COVID-19
di Ambulans

Tenaga kesehatan yang mengantar pasien dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19 ke RS rujukan
perlu menggunakan alat pelindung diri sebagai berikut:

 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Sopir yang mengendarai ambulans cukup menggunakan masker bedah dan menjaga jarak
minimal 1 meter dengan pasien. Namun, jika sopir membantu mengangkat pasien yang dicurigai
atau terkonfirmasi COVID-19, sopir perlu menggunakan alat pelindung diri yang sama dengan
tenaga kesehatan, yaitu:

 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung[25]

Manfaat Pelatihan Khusus Penggunaan Alat Pelindung Diri


Pelatihan khusus cara penggunaan alat pelindung diri (APD) memiliki manfaat menurunkan
kontaminasi dari 60% menjadi 18,9% menurut sebuah penelitian di 4 rumah sakit di Ohio.
Penurunan kontaminasi dilaporkan menetap selama pengamatan di bulan pertama dan ketiga
tanpa pelatihan ulan
Langkah Memakai Alat Pelindung Diri yang Benar

1. Pakai terlebih dahulu baju dan sepatu kerja khusus

2. Cuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer

3. Pakai topi bedah sekali pakai

4. Pakai masker pelindung medis (N95)

5. Pakai sarung tangan dalam

6. Pakai kacamata pelindung

7. Pakai sarung tangan karet sekali pakai

8. Pemakaian selesai

Langkah Melepas
Tata Cara Melepas Alat Pelindung Diri yang Benar

1. Ganti sarung tangan

2. Lepaskan pakaian pelindung

3. Lepaskan kacamara pelindung

4. Lepaskan masker

5. Lepaskan topi

6. Lepaskan sarung tangan

7. Pelepasan selesai
Catatan: cuci tangan setiap melepas perlengkapan demi perlengkapan
6. Pilih Belimbing Wuluh sebagai Pembersih Alternatif

Sumber: grid

Belimbing wuluh merupakan salah satu bahan masakan yang biasa digunakan sebagai penyedap
makanan. Ternyata, buah dengan rasa yang asam ini mengandung zat asam alami yang dapat
melunturkan noda kusam pada keramik lho. Terlebih lagi, zat asam yang terkandung di dalam
belimbing wuluh ini tidak akan merusak bahan keramik.

Bersihkan Noda dengan Kaporit

Sumber: sos-antibacterial

Kaporit biasanya digunakan untuk menjernihkan air. Namun ternyata, kaporit juga bisa lho
digunakan untuk membersihkan keramik yang terlihat kusam. Caranya cukup dengan
menaburkan kaporit di atas keramik dan diamkan selama 30 menit. Kemudian, bilas keramik
dengan air bersih. Untuk menghilangkan noda yang melekat, gosok keramik menggunakan sikat
sambil dibilas dengan air bersih. Lakukan cara ini 2 hingga 3 kali hingga keramik terlihat
kembali mengkilap.
Taburkan Tepung Terigu

Sumber: cubitsorganics

Salah satu penyebab keramik kusam adalah noda minyak. Nah, tempat yang paling rentan
terkena minyak adalah dapur. Jika lantai dan dinding dapur Anda dilapisi dengan keramik, maka
kemungkinan besar keramik Anda lama kelamaan akan kusam dan penuh noda minyak. Cara
membersihkan keramik yang kusam akibat noda minyak adalah dengan menggunakan tepung
terigu.

Taburkan tepung terigu di keramik berminyak dan diamkan selama beberapa saat. Setelah itu,
bersihkan sisa terigu dan noda minyak dengan kain lap. Untuk lantai, Anda bisa mengepelnya
menggunakan larutan air dan campuran pembersih. Sementara keramik dinding bisa dibersihkan
menggunakan spons cuci piring yang dicelupkan di larutan sabun cair.
  Lebih lanjut, SE MENLHK 2/2020 juga menguraikan penanganan limbah infeksius dan sampah rumah
tangga penanganan COVID-19, yaitu:[3]

1. Limbah infeksius yang berasal dari fasyankes

a. Melakukan penyimpanan dalam kemasan tertutup maksimal 2 hari sejak dihasilkan;


b. Mengangkut dan/atau memusnahkan pada pengolahan LB3 menggunakan fasilitas incinerator
dengan suhu pembakaran minimal 800°C atau autoclave yang dilengkapi dengan pencacah;
c. Residu hasil pembakaran atau cacahan hasil autoclave dikemas dan dilekati simbol “Beracun”
dan label LB3 yang selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan sementara LB3 untuk
selanjutnya diserahkan pada pengelola LB3.

2. Limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga ODP

a. Mengumpulkan limbah infeksius berupa limbah alat pelindung diri, antara lain, berupa masker,
sarung tangan dan baju pelindung diri;
b. Mengemas tersendiri dengan menggunakan wadah tertutup;
c. Mengangkut dan memusnahkan pada pengolahan LB3;
d. Menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang pengelolaan limbah infeksius dari
masyarakat, sebagai berikut:

1. Limbah alat pelindung diri, antara lain, masker, sarung tangan, baju pelindung diri,
dikemas tersendiri dengan menggunakan wadah tertutup yang bertuliskan “Limbah
Infeksius”;
2. Petugas dari dinas yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan
kesehatan melakukan pengambilan dari setiap sumber untuk diangkut ke lokasi
pengumpulan yang telah ditentukan sebelum diserahkan ke pengolah LB3.

3. Sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga

a. Seluruh petugas kebersihan atau pengangkut sampah wajib dilengkapi alat pelindung diri,
khususnya masker, sarung tangan dan safety shoes yang setiap hari harus disucihamakan;
b. Dalam upaya mengurangi timbunan sampah masker, masyarakat yang sehat diimbau untuk
menggunakan masker guna ulang yang dapat dicuci setiap hari;
c. Kepada masyarakat yang sehat dan menggunakan masker sekali pakai harus merobek,
memotong atau menggunting masker dan dikemas rapi sebelum dibuang ke tempat sampah;
d. Pemerintah daerah menyiapkan tempat sampah khusus masker di ruang publik.

 
Masa berlaku SE MENLHK 2/2020 sampai dengan status keadaan tertentu darurat bencana wabah
COVID-19 di Indonesia dicabut.[4]

Sebagai contoh, bentuk pelaksanaan dari terbitnya ketentuan di atas, Dinas Lingkungan Hidup
Kabupaten Gunungkidul telah menerbitkan Surat Edaran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Gunungkidul Nomor: 660/139 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan
Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19).

Kami juga telah mengkompilasi berbagai topik hukum yang sering ditanyakan mengenai dampak wabah
Covid-19 terhadap kehidupan sehari-hari mulai dari kesehatan, bisnis, ketenaga kerjaan, profesi,
pelayanan publik, dan lain-lain. Informasi ini dapat Anda dapatkan di tautan
berikut covid19.hukumonline.com.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun;
2. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.56/MENLHK-SETJEN/2015 Tahun
2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
3. Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor:
SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah
B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19);
4. Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.167/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020
Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah B3 Medis pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan Darurat
Covid-19;
5. Surat Edaran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul Nomor: 660/139 Tahun 2020
tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan
Corona Virus Disease (COVID-19).