Anda di halaman 1dari 9

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : USWATUN NASUHA

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042338252

Tanggal Lahir : 01 JULI 2000

Kode/Nama Mata Kuliah : ORGANISASI DAN MANAJEMEN

Kode/Nama Program Studi : 50/ ILMU ADMINISTRASI NEGARA

Kode/Nama UPBJJ : 13/ BATAM

Hari/Tanggal UAS THE : SELASA / 15 DESEMBER 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama Mahasiswa : USWATUN NASUHA

NIM : 042338252

Kode/Nama Mata Kuliah : ORGANISASI DAN MANJEMEN

Fakultas : UNIVERSITAS TERBUKA

Program Studi : ILMU ADMINISTRASI NEGARA

UPBJJ-UT : BATAM

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Karimun, 15 Desember 2020


Yang Membuat Pernyataan

Uswatun Nasuha
NASKAH UAS-THE
UJIAN AKHIR SEMESTER-TAKE
HOME EXAM UNIVERSITAS
TERBUKA
SEMESTER: 2020/21.1

Organisasi dan Manajemen


ADPU4217

1. Dalam kasus dibahas bahwa “kedua delegasi juga membahas kerja sama dalam kerangka
organisasi regional, yakni di ASEAN dan Aliansi Pasifik”.
Seperti kita ketahui Organisasi ASEAN dan Aliansi Pasifik memiliki peranan yang penting dalam
membina kerjasama antara masing-masing negara sebagai anggotanya, dan tentunya suatu
organisasi berdiri karena memiliki tujuan yang disusun sebelumnya.
Berikan analisis saudara secara teoritis tentang organisasi (definisi, unsur-unsur, jenis, tujuan)?
dan jelaskan tentang Organisasi ASEAN serta Aliansi Pasifik tersebut?
Jawab :
organisasi sebagai “kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan
yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk
mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan”.
Dengan demikian, organisasi pada dasarnya merupakan kumpulan manusia yang memiliki
struktur tertentu dengan masing-masing bagian memiliki tugas dan perannya masing-masing
yang dipersatukan untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana organisasi dipandang sangat
dipengaruhi oleh pandangan terhadap manusia. Ada yang memandang manusia sebagai alat atau
bahkan suku cadang dari mesin yang bernama organisasi. Ada yang memandang manusia sebagai
bagian penting dari organisasi yang dihargai aspirasi dan kebutuhannya. Ada juga yang
memadukan kedua pandangan tersebut.
Organisasi Kita awali pembahasan kita tentang organisasi dengan merumuskan apa yang
dimaksud dengan organisasi. Robbins (1990:4) mendefinisikan organisasi sebagai “kesatuan
sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi,
yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan”. Berdasarkan definisi tersebut, selanjutnya Robbins menjelaskan aspek-
aspek dalam organisasi, yaitu sebagai berikut.
a. Kesatuan sosial, yaitu unit yang terdiri dari orang atau sekelompok orang yang berinteraksi
satu sama lain.
b. Dikoordinasikan secara sadar yang bermakna adanya manajemen.
c. Batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yakni batasan yang dapat membedakan mana anggota
dan bukan anggota organisasi. Namun, batasan ini dapat berubah sepanjang waktu dan tidak
selalu jelas.
d. Keterikatan yang terus-menerus, yang menunjukkan organisasi mengalami perubahan secara
konstan dan orang-orang yang berada dalam organisasi itu berpartisipasi secara relatif teratur.
e. Tujuan, yaitu apa yang ingin dicapai oleh individu-individu atau kelompok dalam organisasi
tersebut. Untuk definisi lain tentang organisasi, kita pelajari definisi yang dikemukakan Gibson
et.al. yang menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan yang memungkinkan masyarakat
mencapai satu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan.

Gibson et.al. pun menegaskan ciri organisasi adalah perilaku yang terarah pada tujuan. Di
samping itu, Gibson et.al. pun menyatakan bahwa organisasi itu memang kita perlukan karena
kita tak mungkin mencapai satu tujuan hanya seorang diri, melainkan harus bersama manusia
lain. Bisakah kita membayangkan kita mampu membuat dan memiliki baju dengan bekerja
seorang diri tanpa ada organisasi bisnis yang melayani kebutuhan kita akan baju? Sebagaimana
kita lihat tadi, dalam definisi yang dibuat Gibson et.al. secara implisit ditegaskan bahwa
organisasi itu berisikan manusia yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang tak mungkin
atau sulit dicapai oleh orang per orang. Oleh karena itu, manusia menjadi faktor penting dalam
organisasi. Berdasarkan dua pengertian di atas dan aspek-aspek organisasi, kita melihat betapa
ada dua hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu manusia dan manajemen. Akan halnya
manusia yang menjadi anggota organisasi, sudah sejak lama para ahli organisasi dan manajemen
melihat bagaimana hubungan antara manusia dan organisasi. Kita menyaksikan terjadinya
evolusi pandangan dalam hubungan manusia dan organisasi. Inilah yang akan kita bahasa
selanjutnya. Kita kaji bagaimana hubungan manusia dan organisasi. Awalnya, dalam teori
organisasi klasik, manusia dipandang sebagai mesin. Dalam pandangan klasik ini, yang menjadi
perhatian adalah struktur birokrasi dan kontrol organisasi sehingga organisasi dapat mencapai
tujuannya. Oleh karena ada struktur dan kontrol itu maka dalam organisasi dengan sendirinya
akan ada hierarki, yang kekuasaan tertinggi berada pada puncak hierarki itu. Dalam pandangan
organisasi klasik ini, tugas pengelola organisasi adalah Manajemen Penerbitan menyesuaikan
struktur organisasi dengan kebutuhan sehingga akan menghasilkan organisasi yang efektif dan
efisien. Ringkasnya, di sini manusia akan bertindak sesuai dengan struktur organisasinya.
Pandangan berikutnya tentang organisasi merupakan kebalikan dari pandangan klasik tersebut.
Inilah yang dinamakan dengan pendekatan human relations. Berbeda dengan pandangan
organisasi klasik yang melihat manusia semata seperti “suku cadang” dalam organisasi, dalam
pendekatan human relations ini manusia justru ditempatkan pada posisi penting dalam organisasi.
Manusia dipandang dapat mengontrol proses produksi dan pada dasarnya kebutuhan organisasi
itu sejalan dengan kebutuhan manusia atau individu pekerja. Pandangan ini biasanya dinamakan
sebagai pandangan yang melihat organisasi sebagai organisme hidup. Pandangan ketiga terhadap
organisasi, sering dikemukakan sebagai paduan antara pandangan klasik dan human relations.
Pandangan yang melihat organisasi sebagai satu sistem sosial ini lebih menaruh perhatian pada
perilaku pekerja dalam satu organisasi formal. Organisasi sebagai satu sistem sosial diisi oleh
manusia-manusia dengan perilakunya masing-masing yang berorientasi pada pencapaian tujuan
organisasi. Memang setiap individu dalam organisasi itu memiliki tujuan, nilai dan keyakinan
serta kemampuan belajarnya masing-masing yang berbeda, namun karena organisasi merupakan
satu masyarakat maka akan terjadi adaptasi pada masing-masing individu itu sehingga terbentuk
tujuan dan visi bersama dalam mencapai tujuan.
Pada Januari 1989, Perdana Menteri Australia Bob Hawke mengusulkan untuk didirikannya
kerja sama ekonomi yang lebih efektif untuk kawasan Asia-Pasifik. Hal ini berujung pada
pertemuan pertama APEC di ibukota Australia, Canberra, diketuai oleh Menteri Luar Negeri
Australia Gareth Evans. Rapat ini dihadiri oleh menteri dari 12 negara, dan berujung pada
komitmen untuk mengadakan pertemuan tahunan untuk masa depan di Singapura dan Korea
Selatan.[14][3]
Negara-negara dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menentang usulan
awal, dan sebagai gantinya mengusulkan Kaukus Ekonomi Asia Timur yang tidak memasukkan
negara non-Asia seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Usulan ini
ditentang oleh negara-negara di kawasan Amerika, dan dikiritik dengan pedas oleh Jepang dan
Amerika Serikat.
Pertemuan pertama Pemimpin Ekonomi APEC diadakan pada tahun 1993 ketika Presiden
Amerika Serikat Bill Clinton, setelah berdiskusi dengan Perdana Menteri Australia Paul Keating,
mengundang para kepala pemerintahan dari negara-negara anggota untuk menghadiri pertemuan
di Pulau Blake. Clinton berharap bahwa hal ini akan melanjutkan negosiasi Uruguay Round yang
sedang terhambat. Dalam rapat tsb., beberapa pemimpin menyerukan untuk kelanjutan
pengurangan batasan-batasan perdagangan dan investasi, dan menggagas visi sebuah komunitas
di kawasan Asia-Pasifik yang dapat mendorong kesejahteraan melalui kerja sama. Akhirnya,
didirikanlah pusat Sekretariat APEC di Singapura untuk mengkoordinasi kegiatan dari organisasi
tersebut.
Dalam pertemuan tahun 1994 di Bogor, Indonesia, para pemimpin APEC mengadopsi Bogor
Goals (bahasa Indonesia: Tujuan Bogor) yang bertujuan mendorong perdagangan dan investasi
terbuka di Asia-Pasifik dimulai tahun 2010 untuk ekonomi industri dan tahun 2020 untuk
ekonomi berkembang.[15] Tahun 1995, APEC mendirikan badan penasihat bisnis bernama APEC
Business Advisory Council (ABAC), yang terdiri dari tiga eksekutif bisnis dari masing-masing
negara anggota.

2. Untuk penguatan kerja sama yang telah berjalan selama 40 tahun, Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia dan Republik Kolombia telah sepakati untuk memperkuat kerja sama dalam
Pertemuan Konsultasi Politik yang pertama secara virtual di tingkat Pejabat Tinggi (03/11/2020).
Dalam kalimat kasus di atas, dijelaskan bahwa kerjasama ini dilakukan oleh Kementrian Luar
Negeri Republik Indonesia. Jelaskan tentang susunan organisasi pada Kementrian Luar Negeri
RI? Berikan analisis peranan Kementrian Luar Negeri pada struktur organisasi pemerintahan
Republik Indonesia?
Jawab :

susunan organisasi Kementerian Luar Negeri terdiri atas:

1. Sekretariat Jenderal;
2. Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika;
3. Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa;
4. Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN;
5. Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral;
6. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional;
7. Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik;
8. Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler;
9. Inspektorat Jenderal;
10. Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan;
11. Staf Ahli Bidang Politik, Hukum dan Keamanan;
12. Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi;
13. Staf Ahli Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar
Negeri;
14. Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga; dan
15. Staf Ahli Bidang Manajemen;
16. Pusat Pendidikan dan Pelatihan;
17. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian dan Perwakilan;
18. Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional.

Kementerian Luar Negeri RI mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di


bidang politik dan hubungan luar negeri dalam pemerintahan untuk membantu Presiden
dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.Dalam melaksanakan tugas sebagaimana,
Kementerian Luar Negeri RI menyelenggarakan fungsi: perumusan, penetapan, dan
pelaksanaan kebijakan di bidang politik dan hubungan luar negeri; pengelolaan barang
milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Luar Negeri; pengawasan
atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Luar Negeri; dan pelaksanaan kegiatan
teknis dari pusat sampai ke daerah

3. Apabila Anda diminta oleh pimpinan untuk mengembangkan organisasi tempat saudara
bekerja, model dan strategi apa yang akan saudara lakukan?
Analisis model organisasi dan manajemen di Indonesia, Jepang dan Amerika?

Jawab :

Saya lebih memilih manajemne ala Indonesia karena Manajemen ala Indonesia”dan “Manajemen
Pancasila yang semuanya merujuk kepada cara orang tertentu menyusun pekerjaan dan hubungan
antara pekerjaannya, pasti dipengaruhi tidak saja oleh sifat pekerjaan itu sendiri yang mungkin
bersifat universal, tetapi juga oleh cara orang-orang tersebut mengatur hidup pada umumnya.
Sifat pekerjaan bisa saja bersifat universal karena dilandasi teknologi yang berlaku di mana-mana
disebabkan hukum-hukum alam yang mendasari berlaku umum. Namun dapat dipastikan faktor-
faktor lainnya seperti kebudayaan, nilai, norma kehidupan dan yang lainnya menjadikan cara
hidup bangsa-bangsa berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Perlu juga diperhatikan
bahwa tidak hanya cara-cara orang mengatur pekerjaan dipengaruhi kebudayaannya, tapi
kebudayaan berpengaruh kuat pula pada perilaku pekerjaan. Dari hasil penelitian Budi Paramita
(1977) terhadap 172 buah perusahaan pemerintah dan swasta nasional dan asing tahun 1976 di
beberapa kota di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Solo dan Padang) dengan 500
responden menemukan bahwa umumnya organisasi bisnis Indonesia menurut para manajernya
sendiri dinilai bersifat rutin, formalistik, kurang tersentralisasi, kurang mengkomunikasikan
tugas, umumnya lebih dikoordinasi melalui rencana dari pada saling menyesuaikan ataupun
umpak balik, namun tidak seluruhnya birokratis. Ciri kebudayaan manusia Indonesia lainnya
yang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan berorganisasi adalah bermusyawarah menuju
mufakat dengan Bhinneka Tunggal Ika dan memutuskan segala sesuatu atas dasar konsensus
diantara seluruh kelompok organik, sekurang-kurangnya diantara kelompok seangkatan
pengalaman (peer group). Namun demikian, dewasa ini masyarakat Indonesia sudah tidak lagi
berada pada tatanan masyarakat tradisional seluruhnya, disebabkan dengan terbuka lebarnya arus
informasi yang berakibat dengan menggejalanya sikap mendunia (globalisasi), di mana
semuanya itu berpengaruh terhadap perilaku kehidupan masyarakat yang merupakan campuran
antara nilai-nilai tradisional dan modern. Berikut ini adalah Profil Manajer Indonesia menurut
hasil temuan Danand jaja (1986 :150) :
1. Bagi para Manajer, perusahaan adalah wujud lain dari pemilik, yang patut dihormati dan
dituruti segala kehendaknya dengan taat. Ucapan “terserah bagaimana maunya perusahaan”
sangat mudah diucapkan oleh Manajer di Indonesia, terutama kalau sedang frustasi. Karena tidak
ada ikatan lain kecuali sebagai wadah tempat ia memperoleh kesempatan kerja, jaminan dan
keamanan, maka para Manajer tersebut akan cenderung untuk keluar dari perusahaannya begitu
saja kalau hal-hal tersebut tidak dipenuhi.
2. Bagi para Manajer, pemilik adalah orang yang sampai batas tertentu dapat memberikan
kesempatan memperoleh apa yang dibutuhkannya. Sesuai dengan orientasi vertikalnya, para
Manajer akan menghormati pemilik, dan malah sering menganggapnya sebagai orang tua yang
mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral untuk memelihara anak buah dan menjamin
keberhasilannya. Profil Manajer seperti tersebut di atas, sejalan dengan temuan Astrid S. Susanto
(dalam Marbun, 1980:73-74) bahwa pegawai, dalam hal ini Manajer profesional mengharapkan
adanya solidaritas organik di dalam perusahaannya yang diidentikkan dengan pemilik. Harapan
tersebut sedemikian besarnya sehingga ia akan merasa sangat kecewa bila apa yang diharapkan
dari pemilik tidak terpenuhi. Sejauh pemilik perusahaan dapat memuaskan kebutuhan-
kebutuhannya, ia akan bekerja dengan setia. Akan tetapi bila kepuasan itu tidak lagi dapat
dicapai, maka ia akan pergi. Secara garis besar rangkaian diatas dapat digambarkan dalam bentuk
gaya manajemen Indonesia sebagai berikut :
(UbudSalim:1997) 182 Mahyarni dan Astuti Meflinda: Manajemen Indonesia dan
Perbandingannya dengan Negara China dan India Proses manajemen itu sendiri diarahkan
kepada usaha-usaha anggota organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya melalui
pemanfaatan secara efektif dan efisien sumber daya yang tersedia. Produktivitas adalah
perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input). Keluaran bisa terdiri barang atau
jasa. Sedangkan masukan terdiri dari sumber daya manusia (human resorces), dan modal
(capital), peralatanperalatan (materials), dan sumber daya lainnya. Efisiensi adalah kemampuan
untuk meminimalkan penggunaan sumber daya (masukan), sedangkan efektivitas adalah
kemampuan untuk menentukan tujuan yang memadai. Unsur-unsur manajemen, pada umumnya
terdiri dari 6 (enam) yang dikenal dengan the six M’S, yaitu Men, Money, Materials, Machines,
Methods and Markets. Diantara seluruh unsur tersebut, men (manusia) adalah unsur yang paling
penting di dalam proses manajemen, sebab manajemen itu ada karena adanya dua orang atau
lebih yang bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Hal ini berarti
manusia merumuskan tujuan, manusia yang menyusun organisasi sebagai wadah pencapaian
tujuan, manusia pula yang bekerja untuk mencapai tujuan dan sekaligus manusia pula yang
mengendalikan serta menikmati hasil-hasil yang dicapai.

4. Delegasi Indonesia juga menjelaskan upaya terobosan Pemerintah dalam menyederhanakan


aturan, meningkatkan kondisi berbisnis dan tingkatkan daya saing Indonesia”.
Analisis upaya pemerintah dalam hubungannya dengan peningkatan penyelenggaraan pelayanan
kepada masyarakat di era kepemimpinan JOKOWI?
Jawab :
Banyaknya satu fenomena menarik tentang penyelenggaraan pemerintahan Joko Widodo
(Jokowi) adalah perihal model hubungan politik antar aktor. Interaksi berlangsung antara elite
penguasa dan masyarakat. Oleh karenanya, sulit dihindari bila kemudian kompetisi kepentingan
antar elite penguasa dan masyarakat menjadi dominan dalam proses politik, baik saat
pengambilan keputusan maupun implementasi kebijakan. Dalam praktik kekuasaan, sangat biasa
muncul dan menguat empat pola interaksi politik yakni pola melengkapi, mengakomodasi,
menyaingi dan menggantikan. Model hubungan bersifat asimetris yakni tidak terlalu jelas siapa
lawan dan kawan. Kerjasama politik seringkali mengambil pilihan koopsi yang menyebabkan
potensi gonta-ganti pasangan dalam koalisi. Hal ini, disebabkan ketiadaaan partai pemenang
dominan di tengah sistem multipartai yang terfragmentasi kuat sehingga semua pihak lebih
memilih demokrasi konsensus. Di tengah himpitan beragam persoalan, publik seringkali
mengekspresikan partisipasinya lewat media massa dan media sosial. Hal ini dapat dipahami
sebagai bentuk partisipasi politik non konvensional.

Anda mungkin juga menyukai