Anda di halaman 1dari 24

TUGAS 4 Akuntansi Pajak

1. Mengapa perusahaan harus menyajikan terpisah antara piutang usaha kepada pihak yang
mempunyai hubungan istimewa dengan piutang usaha pihak ke-3, didalam laporan keuangan?
Jawab :
Karena adanya hubungan istimewa dikhawatirkan terjadinya praktek transfer princing.
Sehingga apabila terjadi utang piutang antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa,
piutang harus disajikan dalam akun rekening tersendiri dan transaksi di perhitungkan
berdasarkan harga wajar.

3. Bagaimana penyajian piutang dalam laporan keuangan ?


Jawab :
Penyajian jumlah piutang dalam laporan keuangan harus mencerminkan suatu jumlah yang
dapat direalisasi dalam bentuk kas. Artinya, bila ada piutang yang di miliki oleh suatu
perusahaan, namun kecil kemungkinan dapat ditagih, piutang ini harus di keluarkan dari total
piutang. Piutang tidak tertagih biasa terjadi karena satu atau lain hal. Oleh karena itu, piutang
yang di cantumkan dalam laporan keuangan adalah piutang di kurangi dengan kemungkinan
tidak tertagihnya sebagian dari piutang yang ada.

5. Biaya piutang tak tertagih, tidak diperbolehkan mengurangi penghasilan bruto. Tetapi sesuai
dengan pasal 6 ayat (1) huruf h ditentukan syarat-syarat dari penghapusan piutang yang tidak
dapat ditagih. Sebutkan syarat-syarat tersebut.
Jawab :
 Telah di bebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial.
 Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat di tagih kepada
Direktorat Jendral Pajak
 Telah diserahkan perkara penagihnya kepada pengadilan negeri atau instansi
pemerintah yang menangani piutang negara, atau adanya perjanjian tertulis mengenai
penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang
bersangkutan atau telah di publikasikan dalam penerbitan umum atau khusus atau
adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah di hapuskan untuk jumlah
utang tertentu.
 Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil.

7. PT Alvonzo bergerak di bidang perdagangan umum. Bulan oktober menjual barang dagangan
Rp. 23.100.000 (termasuk PPN) secara kredit. Buatlah jurnal penjualan dengan harga jual
Rp. 25.000.000; bila (a) perusahaan non PKP, dan (b) perusahaan PKP.
Jawab :
Dik : dijual barang dagangan = Rp. 23.100.000 (termasuk PPN)
Harga jual = Rp. 25.000.000
Dit : jurnal penjualan dengan harga jual Rp.25.000.000, bila
a) Perusahaan non PKP
b) Perusahaan PKP

Penye :

a) Jurnal penjualan perusahaan non PKP


Oktober piutang usaha Rp. 21.000.000
Penjualan Rp. 21.000.000
Harga pokok penjualan Rp. 25.000.000
Persediaan Rp. 25.000.000
100/110×Rp.23.000.000 = Rp.21.000.000
b) Jurnal penjualan perusahaan PKP
Oktober piutang usaha Rp. 23.100.000
Pajak keluaran Rp. 2.100.000
Penjualan Rp 21.000.000
Harga pokok penjualan Rp. 25.000.000
Persediaan Rp. 25.000.000

9. Jelaskan aspek peruturan perpajakan yang menjadi dasar untuk mengantisipasi kemungkinan
tidak tertagihnya piutang perusahaan (pada kahir tahun 2011 di bentuk cadangan piutang tak
tertagih sebesar Rp.25.000.000).
Jawab :
Dalam ketentuan pajak tidak memperkenankan pembentukan cadangan penghapusan piutang.
Ketentuan pajak lebih melihat realitas dan memberlakukan dengan metode penghapusan
langsung. Sehingga jurnalnya :
Beban piutang tak tertagih Rp.25.000.000
Piutang usaha Rp.25.000.000

11. PT Noel mempunyai saldo piutang usaha dan dana cadangan piutang tidak tertagih sebesar
Rp. 231.000.000 dan Rp.27.500.000. kartu piutang usaha setiap pelanggan tahun 2012 adalah
sebagai berikut (dalam rupiah).

PT Apple PT Cherry
17 jan 120.000.000 8 feb 100.000.000 18 feb 95.000.000 18 apr 75.000.000
25 mei 70.000.000 22 jun 55.000.000 29 agt 70.000.000 19 sep 50.000.000
18 nov 50.000.000 10 des 90.000.000
19 des 65.000.000

PT Cappucino PT Espreso 147.000.000 12 jul


8 jan 72.000.000 19 mar 52.000.000 9 jun 100.000.000 24 okt
40.000.000
19 mei 51.000.000 20 mei 41.000.000 72.000.000
18 sep 12 nov 51.000.000
180.000.000
8 sep 69.000.000 10 okt 79.000.000 10 okt 68.000.000
9 des
PT Monica PT Queen
31 okt 117.000.000 20 nov 57.000.000 12 mei 40.000.000 21 jul 42.000.000
12 des 45.000.000 18 jun 23.000.000 13 des 24.000.000
23 jul 17.000.000

Syarat kredit adalah 5/10, n/60. Presentase atau estimasi piutang tak tertagih berdasarkan
golongan umur adalah :

Umur piutang presentase


Belum jatuh tempo 5%
1-30 hari 15%
31-60 hari 25%
61-90 hari 35%
90 hari 45%

Anda di minta untuk membuat skedul umur piutang usaha untuk PT Noel per tanggal 31
Desember 2012 dan jurnal yang di perlukan.
Jawab :

PT Apple 60.000.000 19 Des

PT Cherry 40.000.000 20 Agust


PT Cappucino 20.000.000 8 Sep
RP. 31.000.000 10 Okt
PT Espresso
Rp.51.000.000 9 Des
PT Monica 15.000.000 31 Okt
PT Queen 14.000.000 23 Juli

PT Cherry PT Cappucino PT Espresso

September 30-19 =11 Agustus 31-20 = 10 Oktober 31-8=23

Oktober 31 September 30 November 30

November 30 Oktober 31 Desember 31

Desember 31 November 30 84
Sesember
103 Desember 31 22
31-9

132 22
PT Monika PT Queen
November 30 Juli 31-23 8
Desember 31 Agustus 31
61 September 30
Oktober 31
November 30
Desember 31
160

Umur Piutang (hari)


Nama Debitur Jumlah Belum jatuh
1-30 hari 31-60 61-90 >90
Piutang tempo
PT Apple 60.000.000 60.000.000
PT Cherry 40.000.000 40.000.000
PT Cappucino 20.000.000 20.000.000
PT Espresso 82.000.000 51.000.000 31.000.000
PT Monica 15.000.000 15.000.000
PT Queen 14.000.000 14.000.000
Total 231.000.000 111.000.000 - - 46.000.000 74.000.000
Persentase
Penyisihan 5% 15% 25% 35% 45%
Jumlah
5.550.000 - - 16.100.000 33.300.000 54.950.000
Penyisihan

Jurnal :
Beban Kerugian Piutang dagang 27.450.000
Cadangan Kerugian Piutang Dagang 27.450.000

Cadangan Kerugian Piutang Dagang 54.950.000


Piutang Usaha 54.950.000

TUGAS 5 Akuntansi Pajak

1. Apakah yang dimaksud dengan persediaan menurut SAK-ETAP?


Jawaban : Dalam SAK-ETAP yang di atur oleh IAI (2009:52), persediaan adalah aset untuk di
jual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi untuk kemudian di jual,atau dalam
bentuk bahan baku atau perlengkapan untuk di gunakan dalam proses produksi atau pembelian
kerja. Persediaan merupakan aset yang di miliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal dalam
perusahaan dagang maupun dalam perusahaan manufaktur yang membutuhkan proses produksi.
2. –

3. Sebutkan sistem pencatatan persediaan menurut akuntansi dan pajak disertai dengan
peraturan-peraturannya!
Jawaban :
1) Sistem Pencatatan Persediaan Periodik (Periodic Inventory System)
Pencatatan persediaan sistem periodik disebut juga pencatatan fisik. Pada metode ini akun
persediaan akun diperbaharui nilainya hanya pada akhir periode saja sebelum penyusun laporan
keuangan, melalui perhitungan fisik persediaan (stock opname) di gudang.
Berikut ini perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan periodik :
a) Tidak ada pencatatan pada akhir persediaan;
b) Beban angkut pembelian akan didebet pada akun beban angkut pembelian;
c) Pembelian barang dagang secara tunai didebet pada akun pembelian, dan dikredit
pada akun kas. Jika pembelian secara kredit, dicatat pada akun utang dagang;
d) Retur dan potongan pembelian akan dikredit ke akun retur dan potongan
pembelian;
e) Potongan tunai pembelian akun dikredit ke akun potongan tunai pembelian;
f) Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan dihitung pada akhir periode
setelah melakukan perhitungan fisik dari penilaian persediaan akhir.
2) Sistem Pencatatan Persediaan Perpetual (Perpetual Inventory System)
Pencatatan persediaan sistem perpetual merupakan perhitungan jumlah dan nilai persediaan yang
dilakukan secara terus menerus setiap kali terjadi transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang
dagang.
Berikut ini perlakuan akuntansi terhadap sistem pencatata persediaan perpetual :
1) Pembelian barang dagang akan didebet pada akun persediaan;
2) Beban angkut pembelian akan dikredit ke akun persediaan;
3) Retur pembelian akan dikredit ke akun persediaan;
4) Potongan pembelian akan dikredit ke akun persediaan;
5) Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan diketahui bersamaan dengan
pengakuan penjualan dan akun persediaan akan dikredit;
Akun persediaan adalah akun pengendalian yang didukung dengan buku besar pembantu untuk setiap
jenis persediaan.
4. –

5. Sebutkan sistem penilaian persediaan menurut akuntansi dan perpajakan beserta


peraturan-peraturannya!
Jawaban :
Sistem Penilaian Persediaan Menurut Akuntansi Dan Perpajakan :
 Menurut Akuntansi
1) Berdasarkan harga Perolehan
a. Metode Identifikasi Khusus
Metode ini berasumsi arus barang harus sama dengan arus biaya, sehingga setiap
kelompok barang diberi identifikasi dan dibuat kartu. HP untuk setiap barang dapat
diketahui, sehingga HPP terdiri atas HP Barang yang dijual dan sisanya sebagai
persediaan akhir. Metode ini digunakan untuk perusahan yang mempunyai persedian
relatif sedikit tetapi harga per unitnya besar. Karena itu HPP dan HP Persediaan
menggunakan arus harga pokok sebenarnya (actual) dari persediaan.
b. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In Firt Out – FIFO)
Metode ini mendasarkan pada asumsi bahwa barang yang masuk pertama akan
dikeluarkan pertama.
c. Masuk Terakhir Keluar pertama (Last In First Out – LIFO)
Cara ini digunakan dengan mendasarkan pada asumsi bahwa arus pembebanan ke
Harga Pokok Penjualan berdasarkan pada harga pembelian terakhir.
d. Metode Rata-rata (Average)
Dengan metode rata-rata pembebanan ke harga pokok untuk barang yang dijual atau
untuk persedian akhir menggunakan harga rata-rata. Metode rata- rata terdiri atas:
• Rata – rata Sederhana (Simple Average), harga rata-rata dihitung dengan
cara menjumlahkan harga pokok per unit (tanpa mengalikan jumlah barang
) dibagi dengan banyaknya harga.
• Rata – rata Bergerak (Moving Average) seperti pada perhitungan rata-rata
tertimbang. Pembebanan ke harga pokok penjualan dilakukan setiap
terjadi pembelian. Metode ini digunakan pada perpetual.
2) Nilai Jual terhadap produk yang harga jual dapat ditentukan secara pasti, tetapi
harga perolehannya sulit ditetapkan, maka nilai persedian ditetapkan sebesar harga
jual dikurangi taksiran biaya-biaya penjualan yang dapat terjadi. Metode ini
digunakan untuk menetapkan persedian produk pertanian atau logam mulia.
 Menurut Perpajakan
Dalam UU PPh No 36 tahun 2008 Pasal 10 ayat (6) :

▪ Sistem pencatatan yang di perkenankan adalah sistem pencatan perpetual.


▪ Penilaian pemakaian persedian untuk perhitungan HPP ada dua yaitu metode rata-
rata (average) atau FIFO (First In First out). Pemilihan metode ini harus taat azas,
artinya sekali WP memilih salah satu cara penilaian pemakaian persedian untuk
perhitungan HPP, maka untuk selanjutnya harus digunakan cara yg sama.
Contoh: Tanggal 3 Maret 2012 PT. B membeli 100 unit barang dagangan dengan harga
Rp 5.000.000 (harga belum termasuk PPN ) secara tunai. PT. B telah dikukuhkan sebagai
PKP sejak 31 Januari 2005. Pembukuan atas persedian dilakukan secara perpetual.
Jurnal untuk transaksi tersebut:

Tanggal Keterangan Debet Kredit

03/03/12 Persedian barang dagangan 5.000.000 5.500.000


Pajak Masukan 500.000
Kas/Bank
Catatan:
Pajak Masukan : 10% X Rp 5.000.000 = Rp 500.000
Harga 1 unit barang dagangan adalah Rp 5.000.000 : 100 unit = Rp
500.000

Pada tanggal 31 Maret 2012, PT. B menjual 30 unit barang dagangan secara tunai dengan
harga jual per masing-masing unit sebesar Rp 70.000 (belum termasuk PPN) .

Jurnal
transaksi
tersebut:

Tanggal Keterangan Debet Kredit

31/03/12 Kas/bank 2.310.000 210.000


Pajak Keluaran 1.500.000 2.100.000
Penjualan 1.500.000
Harga Pokok Penjualan
Persedian Barang dagangan
(30 unit X Rp 50.000)
Catatan:
Pajak Keluaran : 10 % X Rp 2.100.000 = Rp 210.000
Persedian brg dagangan yg tersisa dan tercatat dlm pembukuan PT. B per tanggal 31 Maret
2012 adalah : 70 unit X Rp 50.000 = Rp 3.500.000

Jika PT. B belum dikukuhkan sebagai PKP maka jurnal pada saat pembelian barang
dagangan sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Debit Kredit

03/03/12 Persedian barang dagangan 5.500.000 5.500.000


Kas/ Bank

PT. B tidak dapat mengkreditkan Pajak Masukannya sehingga Pajak Masukan dimasukkan sebagai
harga perolehan barang dagangan. Jadi I unit barang dagangan adalah Rp 5.500.000 :

100 unit = Rp 55.000.


Jurnal transaksi
penjualan:

Tanggal Keterangan Debet Kredit

31/03/12 Kas/Bank 2.100.000 2.100.000


Penjualan 1.650.000 1.650.000
Harga Pokok Penjulan
Persedian brg dagangan
(30 unit X Rp 55.000)

Karena bukan PKP maka PT. B tidak memungut Pajak keluaran


6. –

7. Dalam masa inflasi, jelaskan mengenai dampak terhadap nilai persediaan akhir dan HPP
dari sistem penilaian persediaan untuk metode FIFO dan Average!
Jawaban :
Dampak Terhadap Nilai Persediaan Akhir Dan HPP Dari Sistem Penilaian Persediaan Untuk
Metode FIFO Dan Average
 Penggunaan metode FIFO Menurut (Hermawan, 2008), Metode FIFO menghasilkan
persediaan akhir yang paling tinggi dan menghasilkan HPP yang paling rendah. Hal
tersebut terjadi selama masa inflasi atau saat harga-harga meningkat. Namun
tingginya laba kotor hanya bersifat sementara karena persediaan harus diganti dengan
harga yang terus meningkat.
 Penggunaan Metode Rata-rata (Average) Menurut (Hermawan, 2008), penggunaan
Metode Rata-rata pada masa inflasi akan menghasilkan jumlah diantara metode FIFO
dan LIFO. Jumlah HPP metode rata-rata berada diantara metode FIFO dan metode
LIFO, demikian juga dengan jumlah persediaan akhir dan laba kotor.

8. –

9. Jelaskan dari peraturan perpajakan yang mendasarinya dalam hal:


a. Dalam mencatat persediaannya, perusahaan menggunakan metode penilaian harga
rata-rata dengan saldo persediaan akhir per 31 Desember 2011 sebesar Rp.
20.000.000.000, apabila dinilai dengan harga pasar, nilai persediaan akhir menjadi
sebesar Rp. 22.5000.000.
b. Dalam pencatatan persediaan, perusahaan menggunakan metode FIFO dengan saldo
akhir per 31 Desember 2011 sebesar Rp. 250.000.000. Apabila persediaan tersebut
dinilai dengan harga rata-rata nilai persediaan akhir menjadi sebesar Rp. 260.000.000
dan apabila dinilai dengan harga pasar nilai persediaan akhir menjadi sebesar Rp 225.000.000.
c. Dalam saldo akhir persediaan termasuk di dalamnya beban penurunan nilai persediaan
sebesar Rp. 25.000.000 dan telah menjadi beban dalam laporan keuangan.
d. Pada akhir tahun, perusahaan membuat cadangan penurunan nilai persediaan Rp.
15.000.000 karena harga pasar yang ada di gudang terjadi penurunan. Perusahaan menggunakan metode
nilai rata-rata.
Jawaban :
a. Perusahaan menggunakan penilaian harga rata, pasal 10 ayat 6..disitu disebutkan
hanya terdapat dua metode penilaian persediaan yang bisa dilakukan oleh Wajib
Pajak, yaitu metode rata-rata (average method) dan metode Fisrt In First Out (FIFO).
Jika dinilai dengan harga pasar, yang tidak sesuai dengan pasal 10 ayat 6, pada saat
tax audit, pihak fiskus akan melakukan koreksi, jika atas koreksi tersebut
menimbulkan kurang bayar PPh, maka akan kena denda 2% dari pajak yang kurang
dibayar
b. Wajib Pajak hanya boleh memilih salah satu metode penilaian persediaan barang
dalam pembukuannya yaitu rata-rata tertimbang (Weighted Average) atau First In
First Out (FIFO) dan berlaku untuk tahun-tahun berikutnya. Namun Wajib Pajak
dapat menggunakan metode penilaian persediaan barang dalam pembukuannya selain
metode rata-rata tertimbang (Weighted Average) atau First In First Out (FIFO)
sepanjang mendapat persetujuan Dirjen Pajak
c. Terkait dengan penuruna sementara nilai persediaan yang terjadi pada saat akhir tahun
pembukuan, ketentuan pajak tidak mengakui adanya antisipasi kerugian. Hal ini di
karenakam bahwa pajak cenderung berdasarkan pada fakta riil.
d. Pajak akan mengakui besarnya kerugian pada saat persediaan tersebut benar-benar
mengalami penurunan nilai sewaktu dijual. Akuntansi komersial mengakui adanya
antisipasi kerugian atas penurunan nilai persediaan yang terjadi pada saat akhir tahun
pembukuan.

10. –

11. PT Pearl adalah perusahaan yang menjual peralatan selam. Tahun ini mengalami
musibah kebakaran sehingga sebagian besar persediaan barang rusak terbakar.
Berikut ini adalah data sebelum kebakaran tanggal 3 april 2012 dalam ribuan rupiah, yaitu :
▪ Persediaan barang dagang awal = 85.000
▪ Pembelian = penjualan + 1/ 2 retur pembelian
▪ Ongkos angkut pembelian =9000
▪ Retur pembelian = 10% X persediaan barang dagang awal
▪ Potongan pembelian = 7000
▪ Penjualan = 100.000
▪ Retur penjualan = 11,5 % X ( penjualan – persediaan barang dagang awal )
▪ Potongan penjualan = 8.275
▪ Persediaan barang dagang yang selamat
=32.500 Diminta:
Hitunglah nilai kerugian PT Pearl atas barang dagang terbakar apabila perusahaan menggunakan metode
laba bruto ,jika diharapkan :
a) Laba Bruto sebesar 20 % dari HPP
b) Laba bruto sebesar 15 % dari penjualan
Jawab :
a) Laba Bruto sebesar 20 % dari HPP
- Jumlah barang tersedia dijual
Persediaan awal 85.000
Pembelian
(Penjualan + ½ Retur Pembelian)
(100.000 + (1/2) (10% × Persediaan barang awal)
(100.000 + 4.250) 104.250
189.250

- Laba Kotor
20% × Jumlah penjualan
20% × 100.000 = 20.000
- Harga Pokok Penjualan
Penjualan – Laba Kotor
100.000-20.000=80.000
b) Laba bruto sebesar 15 % dari penjualan
Persediaan barang awal 85.000
Pembelian bersih
(Penjualan + ½ retur pembelian)
(100.000 + ((1/2) (10% x Persediaan brg awal))
(100.000 + 4.250) 104.250
Barang Tersedia Untuk Dijual 189.250
Harga Pokok Penjualan
15% x 100.000 = 15.000
Hpp = 100.000 – 15.000 85.000
Persediaan Akhir 104.250
Persediaan Yang Masih Ada
15% x 32.500 4.875
Penjualan yang terbakar 99.375

Nama : Khofifa Nur Safitri Amu


Nim : 921418131
Kelas : D Akuntansi
TUGAS 6 Akuntansi Pajak

1. Dasar pemungutan PPh 22 terdiri dari : nilai impor, harga jual lelang, harga pembelian dan
harga penjualan. Apakah yang dimaksud dengan nilai impor ?
Jawaban :
Nilai impor yang dimaksud adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea yaitu
Cost Insurance and Freight (CIF) ditambah dengan Bea Masuk dan pungutan lainnya yang
dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan kepabeanan di bidang impor.
3. Sebutkan dan jelaskan mengenai kewajiban pajak atas sewa yang anda ketahui !
Jawaban :
Pajak atas sewa menyewa property
1) PPh ( Pajak Penghasilan )
 Dasar Hukum : Pasal 2 ayat 1 dan 2 Serta pasal 3 Peraturan Pemerintah No.
29/1996 yang diubah menjadi peraturan pemerintah No. 5/2002 Tentang
pembayaran PPh atas penghasilan dari persewaan tanah dan atau bangunan,
yang isinya :
o Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari penyewa yang
bertindak atau ditunjuk sebagai pemotong pajak wajib dipotong PPh.
o Bila penyewa bukan sebagai pemotong pajak, maka PPh yang terutang wajib
dibayar sendiri oleh orang pribadi atau badan yang menerima/memperoleh
penghasilan.
o Besarnya PPh yang wajib dipotong atau dibayar sendiri adalah 10%
dari jumlah bruto nilai sewa tanah maupun bangunan, dan bersifat final.
 Implikasi : Jika penyewa bukan pemotong pajak, maka PPh harus disetorkan oleh
pemilik ke bank memakai Surat Setoran Pajak ( SSP ) persepsi paling lambat
tanggal 10 bulan setelah transaksi.
 Aplikasi : SSP di atas harus dilaporkan ke kantor pelayanan pajak tempat
anda terdaftar.
 Mengenai pelaporan SPT tahunan, dengan menggunakan SPT 1770 S bukti
pemotongan PPh dari perusahaan ( 1721 AI ) dilampirkan pada SPT Tahunan
pemilik dan penghasilan dari sewa dimasukkan dalam kolom penghasilan
yang telah dikenai pajak final ( tidak perlu lagi digabungkan untuk
menghitung PPh pada akhir tahun ).
2) PPN ( Pajak Pertambahan Nilai )
 Dasar hukum : UU No. 18 Tahun 2008 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas barang mewah menyebutkan bahwa jasa persewaan tanah dan
atau bangunan merupakan jasa yang tidak dikecualikan dari pengenaan PPN.
 Implikasi : Jika nilai sewa mencapai Rp. 600 juta atau lebih dalam satu tahun
buku, pemilik harus dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak pada kantor
pelayanan pajak yang wilayah kerjanya meliputi lokasi tanah dan atau bangunan itu
( sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan No. 571/KMK.03/2003 tanggal 29
Desember 2003 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan No.
552/KMK.04/2000 tentang Batasan Pengusahan Kecil PPN ).
 Aplikasi : Setelah dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak, pemilik harus
memungut PPN sebesar 10% dari nilai sewa atas PPN yang dipungut,
pemilik harus menyetor ke bank persepsi atau kantor pos , paling lambat tanggal 15
bulan setelah terjadinya transaksi dan harus menyampaikan SPT masa PPN paling
lambat tanggal 20 bulan setelah transaksi.
5. PT Anaku beralamat di Jl. Harapan 82 Jakarta, NPWP :
009.876.543.211.234 adalah importir mobil yang telah mempunyai API.
Pada tanggal 18 Oktober 2011 perusahaan mengimpor 50 unit mobil, dengan harga faktur
$10.000 per unit. Total beban asuransi dan beban angkut yang berkaitan dengan impor mobil
tersebut masing-masing adalah $3.000 dan $7.000. Bea masuk yang dibayar oleh perusahaan
sebesar 5% dari CIF dan bea masuk tambahan sebesar 20% dari CIF. Kurs pada saat itu
ditetapkan oleh Menteri Keuangan $1 adalah Rp. 10.103. Dari 50 unit mobil impor tersebut, 2
unit mobil digunakan untuk komisaris dan direktur utama PT Anaku; dan sisanya akan dijual ke
pasaran.
Perusahaan menetapkan bahwa mobil tersebut mempunyai masa manfaat selama 10 tahun,
sedangkan menurut pajak mobil tersebut termasuk kelompok 2 ( 8 tahun ). Perusahaan
menggunakan metode garis lurus dalam perhitungan penyusutannya untuk akuntansi maupun pajak.
Buatlah jurnal pada tanggal 18 Oktober 2011 untuk pembelian 2 mobil impor tersebut dan pada
tanggal 31 Desember 2011 untuk penyusutan 2 mobil impor tersebut.
Jawaban :
 Harga Faktur 2 Unit Mobil $20.000
 Beban Asuransi $ 3.000
 Beban Angkut $ 7.000
CIF $30.000
CIF =$30.000
Bea Masuk 5% x $60.000 = $ 3.000
Bea Masuk Tambahan 20% x $60.000 = $12.000
Nilai Impor Mobil = $45.000 = Rp. 454.635.000
PPN 10% x $45.000 = $ 4.500 = Rp. 45.463.500
PPh 22 Impor = 2,5 % x Rp. 454.635.000 = Rp. 11.365.875

Jurnal Pembelian
18 Oktober 2011
untuk 2 Mobil
Impor :
Mobil Rp. 454.635.000
PPN Masukan Rp. 45.463.500
PPh 22 dibayar dimuka Rp. 11.365.875
Kas/Bank Rp. 511.464.375

 Penyusutan menurut Akuntansi


2/12 x 20% x $45.000 = $1.500 = Rp. 15.154.500
 Penyusutan menurut Pajak
2/12 x 25% x $45.000 = $1.875 = Rp. 18.943.125

Jurnal
Penyusutan 31
Desember 2011
untuk 2 Mobil
Impor :
 Untuk Akuntansi
Beban Penyusutan Mobil Rp. 15.154.500
Akumulasi Penyusutan Mobil Rp. 15.154.500
 Untuk Pajak
Beban Penyusutan Mobil Rp. 18.943.125
Akumulasi Penyusutan Mobil Rp. 18.943.125

7. PT Queen merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan umum dan jasa
lainnya yang berkedudukan di jalan Nirwana Bogor dan memiliki NPWP. Transaksi
yang berkaitan dengan PPh 22, 23 dan PPh 4 ayat ( 2 ) yang dilakukan oleh PT Queen
selama tahun 2012 adalah sebagai berikut.
a. Melakukan impor suku cadang kereta api dari Jerman menggunakan API dengan
CIF Euro 11.000 dengan kurs KMK untuk periode tersebut adalah Rp. 8.670.
b. Membayar tagihan kepada PT Siaga atas servis peralatan kantor dengan
perincian penggantian suku cadang Rp. 300.000 dan jasa servis Rp. 75.000.
c. Membayar tagihan katering dari perusahaan katering Enak Tenan dengan
perincian bahan makanan Rp. 500.000 dan jasa kateringnya Rp. 200.000.
d. Membayar bunga pinjaman kepada bank Noni sebesar Rp. 5.000.000.
e. Membayar dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp. 200.000.000
dimana semua pemegang saham adalah orang pribadi dan memiliki NPWP.
f. Menerima pembayaran deviden dari PT Avia sebesar Rp. 25.000.000 dimana
PT Queen memiliki 20% saham beredar dari PT Avia.
g. Ikut serta dalam penghijauan Bogor dari Pemda Jawa Barat untuk menanamsejuta
pohon, atas jasanya tersebut PT Queen menerima imbalan Rp. 10.000.000.
h. Membayar sewa gedung yang digunakan perusahaan sebesar Rp. 180.000.000
untuk jangka waktu 1 tahun mulai Mei 2012.

Buatlah jurnal untuk masing-masing transaksi di atas.


Jawaban :
a. Euro 11.000 x Rp. 8.670 = Rp.95.370.000
PPh 22 = 2,5 % x Rp.95.370.000 = Rp 2.384.250
Jurnal :
Persediaan suku cadang Rp.95.370.000
PPN masukan Rp 9.537.000
PPh 22 dibayar dimuka Rp 2.384.250
Kas/Bank Rp117.291.250
b. PPh 23 = 2% x Rp. 75.000 = Rp. 1.500
Utang Usaha Rp.300.000
Jasa service Rp 73.500
Utang PPh 23 Rp 1.500
Kas/Bank Rp375.000
c. PPh 23 = 2% x Rp. 200.000 = Rp. 4.000
Utang Usaha Rp.500.000
Jasa katering Rp.196.000
Utang PPh 23 Rp. 4.000 Kas/Bank
Rp.700.000
d. Beban bunga Rp.5.000.000
Kas/Bank Rp.5.000.000
e. PPh 23 = 15% x Rp. 200.000.000 = Rp. 30.000.000
Dividen Rp. 200.000.000
Utang PPh 23 Rp. 30.000.000
Kas/Bank Rp. 170.000.000
f. PPh 23 = 15% x Rp. 25.000.000 = Rp. 3.750.000
Kas/Bank Rp. 21.250.000
PPh 23 dibayar di muka Rp. 3.750.000
Pendapatan Dividen Rp. 25.000.000
g. PPh 23 = 2% x Rp. 10.000.000 = Rp. 200.000
Kas/Bank Rp. 9.800.000

PPh 23 dibayar dimuka Rp. 200.000


Imbalan Jasa Rp. 10.000.000

h. PPh Pasal 4 Ayat (2) = 10% x Rp. 180.000.000 = Rp. 18.000.000


Sewa dibayar di muka Rp. 180.000.000
PPN Masukan Rp. 18.000.000
PPh Pasal 4 Ayat (2) Rp. 18.000.000
Kas/Bank Rp. 180.000.000

9. PT Peace merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultasi manajemen


keuangan dan perpajakan yang telah terdaftar sebagai PKP sejak tahun 2002. Disamping
bergerak dalam bidang jasa konsultasi, perusahaan ini juga memiliki kelebihan ruangan
gedung kantor yang disewakan/dikontrakan kepada perusahaan lain. Selama bulan
Januari 2012 telah terjadi beberapa transaksi sebagai berikut.
 Menerima kontrak sewa dari PT Damai sebesar Rp. 490.000.000 (
belum termasuk pajak )
 Menerima jasa konsultasi perpajakan dari PT Kuark sebesar Rp.
70.000.000 ( belum termasuk pajak )
 Membayar tagihan katering dari perusahaan katering BoBoTop dengan
perincian bahan makanan Rp. 500.000 dan jasa katering Rp. 200.000 ( belum
termasuk pajak )

Buatlah jurnal untuk transaksi di atas oleh kedua belah pihak ( penerima penghasilan &
pembayar beban ).

a. Pada waktu menerima penghasilan & membayar beban.


b. Pada waktu menyetorkan pajak yang telah dipotong ke bank persepsi.
Jawaban :
A) :
a. Jurnal untuk PT. Damai ;
Sewa DDM Rp490.000.000
PPN masukan Rp49.000.000
PPh pasal 4 ayat (2) Rp 49.000.000
Kas/Bank Rp490.000.000

jurnal untuk PT. Peace ;


Kas/Bank Rp490.000.000
PPh pasal 4 ayat (2) Rp 49.000.000
PPN keluaran Rp 49.000.000
Pendapatan sewa Rp490.000.000

jika non-PKP maka jurnalnya


Sewa DDM Rp490.000.000
PPh pasal 4 ayat(2) Rp 49.000.00
Bank Rp441.000.000
b. Jurnal untuk PT. Peace ;
Kas/Bank Rp75.600.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 1.400.000
PPN keluaran Rp 7.000.000
Pendapatan jasa Rp70.000.00

Jurnal untuk PT. Kuark ;


Beban jasa konsultasi Rp70.000.000
PPN masukan Rp 7.000.000
Utang PPh 23 Rp 1.400.000
Kas/Bank Rp75.600.000

c. Jurnal untuk PT. Peace ;


Utang katering Rp500.000
Beban jasa Rp196.000
Utang PPh 23 Rp 4.000
Kas/Bank Rp700.000

Jurnal untuk Perusahaan BoBoTop ; Kas/Bank


Rp696.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 4.000
Piutang Rp500.000
Pendapatan jasa Rp200.000
B) :

a. PT. Damai

Tidak ada jurnal

PT. Peace ;
PPN keluaran Rp49.000.000
Kas/Bank Rp49.000.000
b. PT. Kuark ;

Tidak ada jurnal

PT. Peace ;
PPN keluaran Rp7.000.000

Kas/Bank Rp7.000.000
c. PT. Peace ;
Tidak ada jurnal

Perusahaan BoBoTop ;
PPh 23 atas jasa Rp4.000
Kas/Bank Rp4.000
11. Untuk memudahkan karyawannya, PT Wangi ( PKP ) menyediakan 3 buah bus antar - jemput
karyawan. Bus yang digunakan tersebut disewa dari PO Alam Segar ( PKP ) dengan membayar
sewa @ Rp. 5.000.000 Pembayaran dilakukan setiap bulan setelah ada tagihan dari PO Alam
Segar. Transaksi selama bulan juli dan Agustus 2011 yang berkaitan dengan pemotongan dan
penyetoran PPh 23 yang terdapat dalam pembukuan PT Wangi :
02/7/11 menerima tagihan sewa 3 bus dari PO Alam Segar sebesar Rp. 15.000.000 dan
telah menerima faktur pajak.
10/7/11 melunasi utang atas sewa bus kepada PO Alam Segar dan menyerahkan bukti
pemotongan PPh 23 kepada PO Alam Segar.
10/8/11 menyetorkan PPh 23 atas sewa bus dari PO Alam Segar. Buatlah
jurnal untuk transaksi di atas oleh PT Wangi dan PO Alam Segar. Jawaban :
Jurnal Tanggal 02 JULI 2011
PT.Wangi
Kas/ bank Rp 16.275.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 225.000
PPn keluaran Rp 1.500.000
Pendapatan sewa Rp 15.000.000
PT.PO.ALAM SEGAR
Sewa bus dibayar dimuka Rp 15.000.000
PPn masukan Rp 1.500.000
Utang PPh 23 Rp 225.000
Kas / bank Rp 16.275.000

Jurnal Tanggal 10 JULI 2011 PT. Wangi


Utang Usaha Rp 10.000.000
Kas/ bank Rp 10.000.000
PT.PO. ALAM SEGAR
Kas/bank Rp 10.000.000
Piutang Rp 10.000.000

Jurnal Tanggal 10 AGUSTUS 2011 PT.PO.ALAM SEGAR


PPh 23 atas sewa bis Rp 225.000
Kas/bank Rp 225.000

13. PT Poki menerima STP PPh 25 masa januari s.d. Maret 2012 dengan perincian yaitu : pokok
pajak sebesar Rp. 75.000.000 dan sanksi sebesar Rp. 4.500.000. Buatlah jurnal pembukuan
STP ini.
Jawaban :

Jurnal Pembukuan STP :


Keterangan Debit Kredit
Beban Pajak Rp. 75.000.000 -

Sanksi Pajak Rp. 4.500.000 -

Kas/Bank Rp. 79.500.000

15. Anda seorang tax accountant di sebuah perusahaan, sajikan jurnal berdasarkan transaksi bulan
September 2011 di bawah ini.

Tanggal Transaksi Nilai Keterangan


Transaksi

01/09/11 Pembayaran gaji Rp. PPh 5% ditanggung


karyawan 10.000.000 perusahaan

01/09/11 Pembayaran fee untuk US$ 450 Kurs Tengah BI


WP OP ( Pembicara Rp. 8.600 Kurs
seminar ) KMK Rp. 8.500

04/09/11 Penjualan barang ke Rp. Termasuk PPN


Departemen keuangan 11.000.000
secara kredit

08/09/11 Pembayaran sewa mesin Rp. Termasuk PPN


fotokopi 22.000.000

10/09/11 Bayar audit fee Rp. Termasuk PPN


5.500.000

Jawaban :

Jurnal Transaksi bulan September 2011 :


Tanggal Transaksi Nilai Transaksi Keterangan

01/09/11 Biaya Gaji Rp 10.000.000 –

Utang PPh Pasal – Rp 500.000


23
– Rp 9.500.000
Kas/Bank

01/09/11 Biaya Jasa fee Rp 3.870.000 -

Kas/Bank – Rp. 3.870.000

( Kurs BI Rp 8.600 x
US$450 = Rp
3.870.000)
Rp 3.825.000 -
Biaya Jasa fee
– Rp. 3.825.000
Kas/Bank

( Kurs KMK Rp 8.500x


US$450 = Rp 3.825.00

04/09/11 Piutang Dagang Rp. 11.000.000 -

Penjualan - Rp. 10.000.000

PPN Keluaran - Rp. 1.000.000

08/09/11 Biaya Sewa Rp.20.000.00 -

Mesin fotokopi 0 Rp. -

PPN Masukan 2.000.000 Rp.20.000.00

Kas/Bank - 0

- Rp. 2.000.000
10/09/11 Biaya Audit fee Rp.5.000.000 -

PPN Masukan Rp.500.000 -

Kas/Bank - Rp. 5.500.000


17. Apakah yang dimaksud dengan Fiskal Luar Negeri ?
Jawaban :
Fiskal Luar Negeri adalah pajak penghasilan (PPh) yang wajib dibayar oleh setiap orang pribadi
yang akan bertolak ke luar negeri.
19. PT Kencana mempunyai saham 40% di Z Corp. Di Perth, Australia. PT Kencana
mendapatkan dividen sebesar Rp. 300.000.000 dari keuntungan Z Corp. Tahun 2010, yang
ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang saham Z Corp. Pada tahun 2011 dimana dividen
dibagikan pada bulan Februari 2012. Atas dividen yang diterima tersebut bagaimana
perlakuan pajaknya.
Jawaban :
Menurut UU PPh menentukan bahwa WPDN dikenakan PPh atas penghasilan yang diterima
di Indonesia maupun dari Luar negeri. Maka untuk menghindari pengenaan pajak ganda,
sesuai ketentuan pasal 24, pajak yang terutang di luar negeri boleh dikreditkan terhadap
pajak yang terutang di Indonesia, tetapi tidak boleh melebihi perhitungan pajak yang
terutang berdasarkan UU PPh.

21. Berdasarkan data nomor 20, jika diketahui terdapat kompensasi rugi tahun sebelumnya Rp.
50.000.000 dan tidak terdapat kredit pajak, hitung angsuran PPh 25 tahun 2012. Jawaban :
Penghasilan yang dipakai sebagai dasar perhitungan angsuran PPh Pasal 25 adalah sebesar
Rp100.000.000 – Rp50.000.000 = Rp50.000.000.
PPh terutang:
22% x Rp50.000.000 11.000.000

PPh dipotong atau dipungut ( 0)

Dasar Perhitungan PPh Pasal 25 tahun 2015 11.000.000

Besarnya PPh Pasal 25 PT Sinar Rembulan tahun 2015 = Rp11.000.000/12 = Rp917.000

Anda mungkin juga menyukai