Anda di halaman 1dari 21

TUGAS 4 AKUNTANSI PERPAJAKAN

SOAL

2. Apa yang dimaksud dengan wesel tagih?


4. Mengapa dalam akuntansi diperbolehkan dibentuknya penyisihan/cadangan piutang tak
tertagih?
6. Dalam pasal 9 ayat (1) huruf c diatur mengenai biaya atau pengeluaran yang tidak
diperbolehkan pajak. Salah satunya adalah biaya penyisihan piutang tak tertagih. Sebutkan
syarat-syarat tersebut.
8. PT Anugerah adalah produsen makanan kaleng yang sudah dikukuhkan sebagai PKP.
Perusahaan menjual makanan kaleng senilai Rp 30.000.000 kepada PT Budi yang juga PKP,
Rp 20.000.000 kepada PT Cika yang tidak PKP dan Rp 10.000.000 kepada Saudara Dandi
yang tidak memiliki NPWP. Harga belum termasuk PPN. Buatlah jurnal untuk masing-
masing transaksi di atas dari PT Anugerah, PT Budi, PT Cika dan Saudara Dandi.
10. PT Dion Leasing yang bergerak dalam bidang industry sewa guna usaha dengan hak opsi,
pada tahun 2011 bermaksud untuk membentuk dana cadangan piutang tak tertagih. Saldo
awal piutang sebesar Rp 500.000.000 dan saldo akhir piutang sebesar Rp 750.000.000.
Berapkah maksimal dana cadangan piutang tak tertagih yang dapat dibentuk PT Dion
leasing untuk tahun pajak 2011.
12. Sebuah perusahaan asuransi kerugian PT Multi Asuransi Raya secara komersial di akhir
tahun 2010 membentuk cadangan klaim asuransi sebesar Rp 45.000.000.000 dengan rincian
sebagai berikut.
 Klaim yang sudah selesai diproses (besarnya kerugian serta klaim yang akan
dibayarkan telah dihitung dan disetujui oleh kedua belah pihak) tetapi belum
dilakukan pembayaran adalah sebesar Rp 15.000.000.000
 Klaim yang belum selesai diproses (sudah dilaporkan oleh tertanggung tetapi jumlah
klaimnya masih dalam proses) sebesar Rp 25.000.000.000
 Klaimyang berhubungan dengan adanya peristiwa yang telah terjadi dan telah
diumumkan di media elektronik dan massa namun belum dilaporkan oleh
tertanggung sebesar Rp 5.000.000.000

Berapakah cadangan klaim asuransi yang dapat dijadikan biaya pada tahun 2010.

Jawaban

2. Wesel tagih merupakan wesel yang dapat ditagihkan kepada perusahaan lain yang memiliki
utang kepada perusahaan kita. Dengan kata lain, wesel tagih ini adalah dokumen piutang
yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan lain yang belum bisa membayar pada saat
penyerahan barang terjadi.
4. Dalam akuntansi diperbolehkan dibentuknya penyisihan/cadangan piutang tak tertagih
karena dalam praktik akuntansi komersial, pembentukan penyisihan (cadangan) berguna
mengantisipasi kemungkinan kerugian dari piutang tak tertagih merupakan hal yang lazim.
Terhadap piutang yang diragukan tingkat kolektibilitasnya, perusahaan dapat menghapuskan
dan membebankannya kepada cadangan dimaksud.
6. Sesuai dengan ketentuan perpajakan UU PPH No. 36 tahun 2008 pasal 9 ayat 1 huruf c,
memperkenankan adanya pembentukan penyisihan untuk jenis usaha tertentu seperti :
 Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen, dan perusahaan anjak piutang .
 Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan social yang dibentuk
oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
 Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan.
 Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan.
 Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan, dan
 Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industry
untuk usaha pengelolahan lmbah industry.
8. Diketahui : Barang dijual pada PT Budi = Rp 30.000.000
Barang dijual pada PT Cika = Rp 20.000.000
Barang dijual pada sdr Dandi = Rp 10.000.000
PPN = 10%

Ditanya : Buatlah jurnal untuk masing-masing transaksi di atas dari PT Anugerah, PT Budi,
PT Cika dan Saudara Dandi

Penyelesaian :

 Jurnal yang dibuat oleh PT Anugrah atas penjualan barang pada PT Budi
Piutang usaha Rp 33.000.000
PPN Keluaran Rp 3.000.000
Penjualan Rp 30.000.000
 Jurnal yang dibuat oleh PT Budi atas pembelian barang pada PT Anugrah
Pembelian Rp 30.000.000
PPN Masukan Rp 3.000.000
Utang usaha Rp 33.000.000

 Jurnal yang dibuat oleh PT Anugrah atas penjualan barang pada PT Cika
Piutang usaha Rp 22.000.000
PPN Keluaran Rp 2.000.000
Penjualan Rp 20.000.000
 Jurnal yang dibuat oleh PT Cika atas pembelian barang pada PT Anugrah
Pembelian Rp 22.000.000
Utang usaha Rp 22.000.000
 Jurnal yang dibuat oleh PT Anugrah atas penjualan barang pada saudara Dandi
Piutang usaha Rp 11.000.000
PPN Keluaran Rp 1.000.000
Penjualan Rp 10.000.000
 Jurnal yang dibuat oleh saudara Dandi atas pembelian barang pada PT Anugrah
Pembelian barang Rp 11.000.000
Utang usaha Rp 11.000.000

10. Cadangan maksimal piutang tak tertagih yang dapat dibentuk PT Dion Leasing untuk tahun
pajak 2011 adalah :
Rp 500.000.000 + Rp 750.000.000
x 0,5% = Rp 3. 125.000
2

12. Berdasarkan kasus tersebut maka perusahaan asuransi PT Multi Asuransi Raya hanya dapat
membebankan cadangan klaim tahun 2010 sebagai biaya yaitu sebesar :
 Rp 15.000.000.000 + Rp 25.000.000 = Rp 40.000.000.000
 Incurred but not reported (IBNR) sebesar Rp 5.000.000.000 tidak dapat dibebanan
sebagai cadangan klaim

TUGAS 5 AKUNTANSI PERPAJAKAN

SOAL

2. Dari jenis persediaan, sebutkan perbedaan antara perusahaan dagang dengan perusahaan
industry
4. Sebutkan perbedaan system pencatatan persediaan yang anda ketahui
6. Sebutkn perbedaan system penilaian persediaan yang anda ketahui
8. PT Ninoy melakukan usaha perdagangan. Perhitungan harga pokok menggunakan metode
FIFO dan system perpetual.
Berikut adalah perincian transaksi yang berhubungan dengan persediaan :
1 Januari 2011 Persediaan awal 300 unit @Rp 2.000
2 April 2011 Pembelian 200 unit @Rp 2.250
25 Mei 2011 Penjualan 400 unit @Rp 3.500
20 Agustus 2011 Pembelian 150 unit @Rp 2.500
21 Oktober 2011 Pembelian 125 unit @Rp 3.500
2 November 2011Pembelian 200 unit @Rp 2.600
Diminta :
a. Hitunglah HPP dengan menggunakan metode dan sitem yang dipakai PT Ninoy
b. Anda memberitahukan bahwa metode yang dipakai PT Ninoy tersebut tidak
diperbolehkan oleh ketentuan perpajakan. Menurut Anda, metode apa yang sesuai
dengan ketentuan perpajakan (PT Ninoy tetap ingin menggunakan system perpetual).
10. Dalam melakukan perhitungan persediaan akhir tahun 2011, perusahaan menggunakan
metode FIFO. Berikut adalah data transaksi selama tahun 2011 : (dalam rupiah)

Tanggal Deskripsi Unit Harga/unit


01/01/11 Saldo awal 1.000 4.000
12/02/11 Beli 1.500 5.000
21/03/11 Jual 2.200 6.000
11/06/11 Beli 450 5.500
09/08/11 Beli 2.300 4.500
21/09/11 Jual 500 7.500
Berapakah persediaan akhir tahun 2011.

12. PT APO adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha retai. Berikut ini adalah
datayang menyangkut persediaan PT APO selama bulan Maret 2012 (dalam Rp) yaitu :
 Persediaan awal (cost) = 40.000.000
 Persediaan awal (retai) = 45.000.000
 Pembelian (cost) = 60.000.000
 Pembelian (retai) = 67.500.000
 Ongkos angkut (cost) = 6.000.000
 Ongkos angkut (retai) = 1,125 x ongkos angkut (cost)
 Potongan pembelian (cost) = 5% dari pembelian (cost)
 Potongan pembelian (retail) = 2.250.000
 Retur pembelian (cost) = ongkos angkut (retai)
 Retur pembelian (retai) = purchase allowance (cost) + purchase allowance (retail)
 Purchase allowance (cost) : purchase return (cost) = 3 : 5
 Purchase allowance (retail) = 1.750.000
 Penjualan (retai) = 62.900.000
 Retur penjualan (retail) = 15% dai penjualan (retail)

Diminta :
Hitunglah nilai persediaan akhir PT APO per 31 Maret 2012 pada harga pokoknya
(cost).
JAWAB
2. Perbedaan antara perusahaan dagang dan perusahaan industry yaitu :
 Perusahaan dagang dalam pengadaan barang oleh usaha perdagangan seperti pasar
swalayan dan grosir, dimaksudkan dijual kembali
 Perusahaan industry (manufaktur) pengadaan barang dagang yang dimaksudkan
untuk diolah menjadi barang jadi sebelum dijual. Adapun 3 jenis persediaan dalam
usaha manufaktur yaitu :
a. Bahan Baku dan Bahan Pelengkap
Biaya perolehan bahan baku (raw material) terdiri dari harga pembelian, ongkos
angkut, biaya gudang, dan biaya lain-lain yang berhubungan dengan penyimpanan
sampai bahan tersebut dipakai dalam produksi.
b. Barang dalam Pengolahan
Barang dalam pengolahan (work in process) adalah barang yang masih dalam
tahap penyelesaian. Untuk menyelesaikan produk tersebut, perusahaan masih
memerlukan tambahan pekerjaan sehingga membutuhkan biaya tenaga kerja dan
biaya tidak langsung lainnya.
c. Barang Jadi
Barang jadi (finished goods) adalah produk yang telah selesai diolah dan siap
untuk dijual. Semua biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya tidak
langsung telah selesai dibebankan. Persediaan meliputi barang-barang yang ada
dalam perusahaan, dalam perjalanan maupun yang dititipkan kepada pihak lain.
Barang-barang yang tidak dapat lagi dijual atau digunakan untuk produksi tidak
digolongkan ke dalam persediaan. Persediaan semacam ini dimasukkan sebagai
asset lain-lain.

4. Perbedaan system pencatatan persediaan :

No System Periodik Sistem Perpetual


1 Inventarisasi setiap akhir periode. Tanpa inventarisasi, keterangan
mengenai persediaan dicatat setiap kali
transaksi.

2 Wajib dilakukan stock opname, untuk Stock opname hanya sebagai pelengkap
pengujian keakuratan nilai persediaan. untuk pengawasan persediaan.
3 Cocok untuk perusahaan dengan jenis Cocok untuk perusahaan dengan jenis
persediaan yang sedikit. persediaan yang banyak.

6. Perbedaan system penilaian persediaan yaitu :


Menurut Will dan Kwok (2011:201-220) penilaian persediaan barang dibagi atas :
 Spesific Identification Method, metode ini digunakan dengan cara mengidentifikasi
setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam akun persediaan.
 Cost Flow Method terdiri atas :
-
FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang
pertama kali dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian
yang termuda/terakhir.
- Rata-rata (average), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang
yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditemukan dengan cara dicari
rata-ratanya.
 Estimasi Persediaan Terdiri atas :
- Gross Profit Method, akuntan, auditor dan manajer sering menggunakan metode
ini untuk menguji kewajaran nilai persediaan akhir.
- Retail Inventory Method, Metode ini sering dipakai oleh partiel, seperti pasar
swalayan dan torseba, untuk menaksir nilai persediaan guna penyusunan laporan
perhitungan laba rugi untuk menentukan apakah terjadi kekurangan persediaan.
8. a. PT Ninoy menggunkan metode FIFO

PEMBELIAN PEMAKAIAN/HPP SALDO


URAIA harg harg
TGL
N un a jumla harga jumlah uni a jumlah
it (Rp) h (Rp) unit (Rp) (Rp) t (Rp) (Rp)

01/01/201 saldo 2.00 600.00


1 awal             300 0 0

01/04/201 20 2.25 450.00 2.00 600.00


1 beli 0 0 0       300 0 0

2.25 450.00
                200 0 0

25/05/201 600.00
1 jual       300 2.000 0      
225.00 2.25 225.00
          100 2.250 0 100 0 0

20/08/201 15 2.50 375.00 2.25 225.00


1 beli 0 0 0       100 0 0

2.50 375.00
                150 0 0

21/10/201 12 3.50 437.50 2.25 225.00


1 beli 5 0 0       100 0 0

2.50 375.00
                150 0 0
               
125 3.50 437.50
0 0

02/11/201 20 2.60 520.00 2.25 225.00


1 beli 0 0 0       100 0 0

2.50 375.00
                150 0 0

3.50 437.50
                125 0 0

2.60 520.00
                200 0 0

HPP persediaan akhir PT Ninoy :


100 unit @Rp 2.250 = Rp 225.000
150 unit @Rp 2.500 = Rp 375.000
125 unit @Rp 3.500 = Rp 437.500
200 unit @Rp 2.600 = Rp 520.000

Total Rp 1.557.500

 System pencatatan persediaan PT Ninoy menggunakan system perpetual

Tgl Keterangan Debit Kredit

01/01/201 Persediaan barang dagang Rp 600.000

1 Ikhtisar Laba/Rugi Rp 600.000

02/04/201 Persediaan barang dagang Rp 450.000

1 Kas/Bank/Hutang dagang Rp 450.000

25/05/201 Kas/Bank/Piutang dagang Rp 1.400.000

1 Penjualan Rp 1.400.000

HPP Rp 850.000

Persediaan Barang Dagang Rp 850.000


20/08/201 Persediaan Barang Dagang Rp 375.000
1 Kas/Bank/Piutang dagang Rp 375.000
21/10/201 Persediaan Barang Dagang Rp 437.500

1 Kas/Bank/Piutang dagang Rp 437.500


02/11/201 Persediaan Barang Dagang Rp 520.000

1 Kas/Bank/Piutang dagang Rp 520.000


b. Karena PT Ninoy menggunakan metode pencatatan persediaan FIFO maka metode
yang digunakan PT Ninoy sudah sesuai dengan ketentuan perpajakan. PT Ninoy
juga bisa menggunakan metode pencatatan Average, tetapi tidak bisa menggunakan
metode LIFO karena metode tersebut tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan.
PEMBELIAN PENJUALAN SALDO
URAIA harg harg
TGL
N a jumlah a jumlah harga jumlah
unit (Rp) (Rp) unit (Rp) (Rp) unit (Rp) (Rp)
Saldo
01/01/2011 Awal             1.000 4.000 4.000.000

1.50
12/02/2011 beli 0 5.000 7.500.000       1.000 4.000 4.000.000

                1.500 5.000 7.500.000

1.00 4.000.00
21/03/2011 jual       0 4.000 0      

1.20 6.000.00
          0 5.000 0 300 5.000 1.500.000

11/06/2011 beli 450 5.500 2.475.000       300 5.000 1.500.000

                450 5.500 2.475.000

2.30 10.350.00
09/08/2011 beli 0 4.500 0       300 5.000 1.500.000

                450 5.500 2.475.000

10.350.00
                2.300 4.500 0

1.500.00
21/09/2011 jual       300 5.000 0      

1.100.00
          200 5.500 0 250 5.500 1.375.000

10.350.00
                2.300 4.500 0
10. Perhitungan persediaan akhir dengan menggunakan metode FIFO

Maka nilai persediaan akhir tahun 2011 adalah :


250 unit @Rp 5.500 = Rp 1.375.000
2.300 unit @Rp 4.500 = Rp 10.350.000+
Total = Rp 11.725.000

12. Persediaan akhir = persedian awal + pembelian – penjualan


Persediaan awal (cost)                        = Rp 40.000.000
Pembelian (cost)                      = Rp 60.000.000 +
                                                   Rp 100.000.000

Ongkos angkut (cost)              = Rp 6.000.000


Potongan pembelian (cost)     = Rp 3.000.000
Retur pembelian (cost)            = Rp 6.750.000   +
                                                    Rp 15. 750.000

Nilai persediaan akhir              = Rp 100.000.000 – Rp 15.750.000


                                                 = Rp 84.250.000

Jadi nilai persediaan akhir PT APO per 31 Maret 2012

pada harga pokoknya (cost) adalah Rp 84.250.000

TUGAS 6 AKUNTANSI PERPAJAKAN

SOAL :

2. Bagaimanakah perhitungan PPh 22 atas impor tersebut?


4. PT Alam pemegang izin import (API) melakukan impor mesin dari korea dengan
perincian sebagai berikut.
 Harga mesin US $800.000
 Asuransi US $ 50.000
 Ongkos kirim US $ 10.000
 Bea masuk 30% dari harga mesin
 PPN 10% dari nilai import
 Pungutan di pelabuhan US $ 5.000

Informasi tambahan untuk perhitungan harga perolehan mesin adalah :

 Ongkos angkut dari pelabuhan ke gudang perusahaan US $1.000


 Biaya pemasangan sebesar US $4.000
 Kurs US $ = Rp 8.500
 Mesin tersebut dijual ke PT Semesta dengan harga jual 120% dari harga perolehan

Hitunglah CIF, nilai impor, PPh 22 impor, harga perolehan mesin, dan buatlah jurnal
untuk transaksi pembelian impor dan pada saat dijual ke PT Semesta.
6. PT BonBon berkedudukan dijalan Nirwana Bogor. Dengan NPWP
P001.234.567.891.234, selama bulan Juni 2012 telah melakukan transaksi sebagai
berikut.
a. Membayar bunga pinjaman kepada Bank Mama, Bogor sebesar Rp 50.000.000
b. Membayar fee sebesar Rp 21.000.000 kepada Kantor Akuntan Publik Diestri, Jakarta
c. Penagihan kepada Departemen Agama atas penjualan tekstil atas seragam Rp
70.000.000
d. Membayar bunga pinjaman kepada Tuan Herman sebesar Rp 5.000.000
e. Membayar tagihan catering dari perusahaan catering BoBoTop sebesar Rp 1.000.000

Buatlah jurnal untuk masing-masing transaksi diatas

8. PT Bonketh berkedudukan di jalan Cindelaras, Denpasar. Dengan NPWP


009.876.543.210.987 selama bulan Oktober 2011 telah melakukan transaksi sebagai
berikut.
a. Membayar dividen kepada Tuan Dion, Surabaya (memiliki NPWP) sebesar
Rp 78.000.000.
b. Membayar bunga pinjaman kepada Bank Papa, Jakarta sebesar Rp 52.500.000.
c. Membayar Fee sebesar Rp 25.000.000 kepada akuntan public Edson, Bogor.
d. Membayar sewa mesin produksi untuk bulan oktober sebesar Rp 15.000.000 karena
mesin yang dimilikinya sedang diperbaiki pada PT Cinta.
e. Membayar Dividen kepada PT Avatar Rp 150.000.000 dimana PT Avatar memiliki
30% saham PT Bonketh.
f. Membayar bunga pinjaman keoada Tuan Robert Jakarta sebesar Rp 5.000.000.
g. Penagihan pada Departemen Agama atas penjualan tekstil untuk seragam
Rp 700.000.000.
h. Membayar jasa cleaning service kepada PT Gembira Rp 75.000.000
i. Membayar jasa perbaikan mesin produksi Rp 20.000.000.

Buatlah jurnal perpajakan yang harus dipenuhi PT Bonketh dari transaksi diatas.

10. Pada tanggal 23 Februari 2012 PT Happy (PKP) mengadakan rekreasi ke Dunia Fantasi,
Ancol. Perusahaan menggunakan bus yang disewa dari PT HiHi sebanyak 5 bus dengan
membayar sewa @ Rp 1.265.000 diskon Rp 165.000. Pembayaran uang muka sebesar
50% pada saat pemesanan (14 Februari) dan sisanya dilakukan setelah ada tagihan dari
PT HiHi (23 Februari).
Buatlah jurnal untuk transaksi diatas yang dilakukan oleh PT Happy dan PT HiHi.
12. PT Moci telah membayar jasa audit kepada Kantor Akuntan Publik Edson dan rekan
sebesar Rp 20.000.000.
Hitunglah PPh 23 yang dipotong PT Moci dan PPN yang dibayar PT Moci, serta ayat
jurnal untuk PT Moci dari transaksi di atas. Juga buatlah ayat jurnal untuk KAP Edson
dan rekan atas transaksi di atas.
14. PT Utama di Jakarta memperoleh penghasilan neto dari tahun 2011 sebagai berikut :
a. Di Australia memperoleh penghasilan (laba) Rp 2.000.000.000 dengan tarif pajak
sebesar 40% (Rp 800.000.000).
b. Di Singapura, memperoleh penghasilan (laba) Rp 1.000.000.000 dengan tarif pajak
sebesar 25% (Rp 250.000.000).
c. Di Hongkong menderita kerugian Rp 1.500.000.000.
d. Penghasilan usaha di dalam negeri Rp 2.000.000.000

Hitunglah besarnya PPh badan yang masih harus di bayar.

16. Apakah yang di atur dalam PPh 24?


18. Pada tahun 2011 PT Bisnis mempunyai penghasilan dalam negeri sebesar Rp
600.000.000. pada tahun tersebut, PT Bisnis juga mendapatkan penghasilan luar negeri
sebesar Rp 80.000.000. berapa jumlah pajak luar negeri yang dapat dikurangkan dari
penghasilan kena pajak tahun 2011?
20. Diketahui dari SPT tahun 2011 penghasilan neto dari usaha Rp 100.000.000 , laba
penjualan asset sebesar Rp 100.000.000. PPh yang dibayar sendiri Rp 5.000.000. hitung
angsuran pasal 25 untuk tahun 2012.
22. Berdasarkan data soal nomor 20, jika diketahui terdapat kompensasi rugi tahun
sebelumnya Rp 50.000.000 dan terdapat PPh 23 yang dapat dikreditkan sebesar Rp
500.000. hitunglah angsuran PPh 25 tahun 2012.

JAWAB
2. Perhitungan PPh 22 atas impor tersebut yaitu :
Impor barang di mana importer non-Api dikenakan tarif 7,5% dari nilai impor.

Nilai impor = nilai CIF (Cost + Insurance + Freight) + bea masuk (pungutan
berdasarkan UU Kepabean)

Nilai impor dikurskan menggunakan kurs KMK, apabila nilai impor dalam mata uang
asing.
4. Diketahui :
Harga mesin =US $800.000
Asuransi =US $ 50.000
Ongkos kirim =US $ 10.000
Bea masuk =30% dari harga mesin
PPN =10% dari nilai import
Pungutan di pelabuhan =US $ 5.000

Informasi tambahan untuk perhitungan harga perolehan mesin adalah :

Ongkos angkut =US $1.000


Biaya pemasangan =US $4.000
Kurs US $ = Rp 8.500
Mesin tersebut dijual ke PT Semesta dengan harga jual 120% dari harga perolehan

Ditanya : Hitunglah CIF, nilai impor, PPh 22 impor, harga perolehan mesin, dan buatlah
jurnal untuk transaksi pembelian impor dan pada saat dijual ke PT
Semesta.

Penyelesaian :

 Menghitung nilai CIF = Cost + Insurance + Freight

= US $800.000 + US $ 50.000 + US $ 10.000

= US $860.000

CIF (dalam rupiah) = US $860.000 x Rp 8.500 = Rp 7.310.000.000

 Menghitung Nilai impor


Harga mesin =US $800.000
Harga mesin (dalam rupiah) =US $800.000 x Rp 8.500 = Rp 6.800.000.000
Pungutan dipelabuhan = US $ 5.000
Pungutan dipelabuhan (dalam rupiah) = US $ 5.000 x Rp 8.500 = Rp 42.500.000
Nilai impor = CIF + bea masuk + Pungutan lain
= Rp 7.310.000.000 + (30% x Rp 6.800.000.000) + Rp 42.500.000
= Rp 7.310.000.000 + Rp 2.040.000.000 + Rp 42.500.000
= Rp 9.392.500.000.
 Menghitung PPh 22 impor
PPh 22 yang dipungut (memiliki API) = 2,5% x nilai impor
= 2,5% x Rp 9.392.500.000
= Rp 234.812.500

Harga perolehan (harga mesin) = Rp 6.800.000.000


Ongkos angkut (10.000 x 8.500) = Rp 85.000.000
Biaya pemasangan (4.000 x 8.500) = Rp 34.000.000
PPN (10% x 9.392.500.000) = Rp 939.250.000
= Rp 7.858.250.000
 Jurnalnya yaitu :
- Jurnal transaksi impor
Mesin Rp 7.858.250.000
Uang muka PPh 22 impor Rp 234.812.500
Kas/Bank Rp 8.093.062.500
- Jurnal Penjualan :
Kas Rp 9.429.900.000
Penjualan Rp 9.429.900.000
(harga jual = 120% x Rp 7.858.250.000= Rp 9.429.900.000)
6. a. pembayaran bunga pinjaman
PPh 23 = 15% x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000
- Jurnal PT BonBon :
Beban bunga Rp 50.000.000
Utang PPh 23(15%) Rp 7.500.000
Kas/Bank Rp 42.500.000
- Jurnal untuk Bank :
Kas/Bank Rp 42.500.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 7.500.000
Beban Bunga Rp 50.000.000
b. Pembayaran Fee
PPh 23 = 2% x Rp 21.000.000
- Jurnal PT BonBon
Fee Rp 20.580.000
Utang PPh 23 (2%) Rp 420.000
Kas/Bank Rp 21.000.000
- Jurnal untuk Kantor Akuntan Publik (KAP)
Kas/Bank Rp 20.580.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 420.000
Pendapatan Jasa Rp 21.000.000
c. Penagihan atas tekstil oleh PT BonBon :
Kas/Bank Rp 70.000.000
Piutang Rp 70.000.000
d. Jurnal pembayaran bunga pinjaman
PPh 23 = 15% x Rp 5.000.000 = Rp 750.000
- Jurnal PT BonBon :
Beban Bunga Rp 5.000.000
Utang PPh 23 (15%) Rp 750.000
Kas/Bank Rp 4.250.000
- Jurnal Tn. Herman
Kas/Bank Rp 4.250.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 750.000
Beban Bunga Rp 5.000.000
e. Jurnal pembayaran tagihan catering
PPh 23 = 2% x Rp 1.000.000 = Rp 20.000
- Jurnal PT BonBon
Jasa Katering Rp 980.000
Utang PPh 23 (2%) Rp 20.000
Kas/Bank Rp 1.000.000
- Jurnal catering BoBoTop
Kas/Bank Rp 980.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 20.000
Jasa Katering Rp 1.000.000

8. a. Pembayaran Dividen
- Jurnal PT Bonkerth
Beban Dividen Rp 78.000.000
Utang PPh 23 Rp 7.800.000
Kas/Bank Rp 70.200.000
- Jurnal untuk PT Dion
Kas/Bank Rp 70.200.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 7.800.000
Pendapatan dividen Rp 78.000.000
b. Pembayaran bunga pinjaman
- Jurnal PT Bonkerth
Beban bunga Rp 52.500.000
Utang PPh 23 Rp 7.875.000
Kas/Bank Rp 44.625.000
- Jurnal untuk Bank
Kas/Bank Rp 44.625.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 7.875.000
Pendapatan Bunga Rp 52.500.000
c. Pembayaran Fee
- Jurnal PT Bonkerth
Beban Fee Rp 24.500.000
Utang PPh 23 Rp 500.000
Kas/Bank Rp 25.000.000
- Jurnal untuk Akuntan Publik Edson
Kas/Bank Rp 24.500.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 500.000
Pendapatan jasa Fee Rp 25.000.000
d. Pembayaran mesin produksi
- Jurnal PT Bonkerth
Sewa mesin dibayar dimuka Rp 15.000.000
PPN masukan Rp 1.500.000
Utang PPh 23 Rp 225.000
Kas/Bank Rp 16.275.000
- Jurnal untuk PT Cinta
Kas/Bank Rp 16.275.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 225.000
PPN Keluaran Rp 1.500.000
Pendapatan sewa Rp 15.000.000
e. Pembayaran dividen
- Jurnal PT Bonkerth
Beban dividen Rp 97.500.000
Utang pph 23 Rp 9.750.000
Kas/Bank Rp 87.750.000
- Jurnal utuk PT Avatar
Kas/Bank Rp 87.750.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 9.750.000
Pendapatan Dividen Rp 97.500.000
f. Pembayaran bunga pinjaman
- Jurnal PT Bonkerth
Beban Bunga Rp 5.000.000
Utang PPh 23 Rp 750.000
Kas/Bank Rp 4.250.000
- Jurnal untuk Tuan Robert
Kas/Bank Rp 4.250.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 750.000
Pendapatan Bunga Rp 5.000.000
g. Penagihan atas penjualan tekstil
- Jurnal PT Bonkerth
Kas/Bank Rp 700.000.000
Piutang Rp 700.000.000
h. Pembayaran jasa cleaning service
- Jurnal PT Bonkerth
Beban jasa Rp 75.000.000
Utang PPh 23 Rp 1.500.000
Kas/Bank Rp 73.500.000
- Jurnal untuk PT Gembira
Kas/Bank Rp 73.500.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 1.500.000
Pendapatan jasa Rp 75.000.000
i. Pembayaran jasa perbaikan mesin
- Jurnal PT Bonkerth
Beban jasa Rp 20.000.000
Kas/Bank Rp 20.000.000
10. Jurnal PT Happy
Keterangan Debit Kredit
Sewa bus dibayar dimuka Rp 6.325.000
PPN masukan Rp 632.000
Utang PPh 23 Rp 94.875
Kas/Bank Rp 6.862.625
Jurnal PT HiHi

Keterangan Debit Kredit


Kas/Bank Rp 6.862.625
PPh 23 dibayar dimuka Rp 94.875
PPN Keluaran Rp 632.500
Pendapatan Sewa Rp 6.352.000

Jurnal pada tanggal 14 Februari

- Jurnal PT Happy

Keterangan Debit Kredit


Beban Sewa Rp 3.162.500
Kas/Bank Rp 3.162.500

- Jurnal PT HiHi

Keterangan Debit Kredit


Kas/Bank Rp 3.162.500
Beban Sewa Rp 3.162.500

Jurnal tanggal 23 Februari

- Jurnal PT Happy

Keterangan Debit Kredit


Utang usaha Rp 3.162.500
Kas/Bank Rp 3.162.500

- Jurnal PT HiHi

Keterangan Debit Kredit


Kas/Bank Rp 3.162.500
Piutang Rp 3.162.500
12. PPh yang dipotong PT Moci
PPh 23 = 2% x Rp 20.000.000 = Rp 400.000
PPN yang dibayar PT Moci :
10% x Rp 20.000.000 = Rp 2.000.000
 Jurnal PT Moci

Keterangan Debit Kredit


Biaya jasa akuntan Rp 20.000.000
PPN Masukan Rp 2.000.000
Utang PPh 23 Rp 400.000
Kas/Bank Rp 21.600.000

 Jurnal untuk KAP Edson dan Rekan

Keterangan Debit Kredit


Kas/Bank Rp 21.600.000
PPh 23 dibayar dimuka Rp 400.000
PPN Keluaran Rp 2.000.000
Pendapatan Jasa Rp 20.000.000

14. Besarnya PPh badan yang masih harus dibayar


a. Penghasilan luar negeri
1. Laba di Australia = Rp 2.000.000.000
2. Laba di Singapura = Rp 1.000.000.000
3. Laba di Hongkong = Rp - +
Jumlah penghasilan luar negeri = Rp 3.000.000.000

b. Penghasilan dalam negeri


Penghasilan usaha di dalam negeri = Rp 2.000.000.000
+
c. Total penghasilan neto = Rp 5.000.000.000

d. PPh terutang pasal 21 :

5% x Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000
15% x Rp 200.000.000 = Rp 30.000.000
25% x Rp 250.000.000 = Rp 62.500.000
30% x Rp 4.500.000.000 = Rp 1.350.000.000+
Total PPh terutang = Rp 1.445.000.000
e. Batas maksimum kredit pajak luar negeri untuk masing-masi Negara yaitu :
 Untuk Negara Australia = Rp 2.000.000.000 x Rp 1.445.000.000
Rp 5.000.000.000

= Rp 578.000.000

Pajak terutang di Negara Australia = Rp 800.000.000

 Untuk Negara Singapura = Rp 1.000.000.000 x Rp 1.445.000.000


Rp 5.000.000.000

= Rp 289.000.000

Pajak terutang dinegara Singapura = Rp 250.000.000

Maka PPh yang masih harus dibayar yang diperkenankan di luar negeri adalah :

Rp 578.000.000 + Rp 250.000.000 = Rp 828.000.000

16. Pajak penghasilan pasal 24 (PPh pasal 24) mengatur tetang hak wajib pajak untuk
memanfaatkan kredit pajak mereka diluar negeri. Hal ini bertujuan supaya wajib pajak
tidak terkena pajak ganda. Karena wajib pajak telah membayar pajak asetnya di luar
negeri. PPh pasal 24 mengatur tentang nominal pajak yang dibayarkan diluar negeri yang
berfungsi sebagai pengurangan nilai pajak terutang yang dimiliki di Indonesia.

18. Perolehan penghasilan neto PT Bisnis tahun 2011 sebagai berikut


Penghasilan dalam negeri Rp 600.000.000
Penghasilan luar negeri (dgn tariff pajak 20%) Rp 80.000.000

Perhitungan jumlah maksimum Kredit Pajak Luar Negeri (KLPN) :

- Penghasilan luar negeri Rp 80.000.000


Penghasilan dalam negeri Rp 600.000.000+
Jumlah penghasilan neto Rp 680.000.000

- Apabila jumlah penghasilan neto sama dengan PhKP, maka PPh terutang menurut
tariff pasal 17 dan pasal 31E UU PPh, jumlah PPh terutang sebesar Rp 280.000.000
- Batas maksimum KPLN adalah sebagai berikut :
Rp 80.000.000 / Rp 680.000.000 x Rp 280.000.000 = Rp 32.941.176

Oleh karena batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp 280.000.000
Kurang dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau dibayar diluar negeri yaitu
sebesar Rp 680.000.000 maka jumlah KPLN yang diperkenankan adalah sebesar
Rp 32.941.176.

20. Angsuran pasal 25 untuk tahun 2012 :


Penghasilan neto = Rp 100.000.000
Pph terutang = Rp 100.000.000
= 25%
Penghasilan neto x 25% - pajak yang Terutang : 12
= Rp 100.000.000 x 25% - Rp 100.000.000 : 12
= Rp 25.000.000 - Rp 100.000.000 : 12
= Rp 75.000.000 : 12
= Rp 6.250.000

22. Pengahasilan neto Rp 100.000.000


Kompensasi kerugian Rp 50.000.000
Sisa kerugian yg masih dpt dikompensasikan di tahun 2012 Rp 500.000

Perhitungan pph 25 tahun 2012 adalah :

Penghasilan yang menjadi dasar penghitungan pph 25 adalah

Rp 100.000.000. - Rp 500.000 = Rp 99.500.000.

Pon terutama tahun 2011,berdasarkan asumsi, pendapatan dalam tahun pajak 2011
Kurang dari Rp 4.800.000.000 adalah

28% x 50% x Rap 99.500.000 = Rp 13.930.000

Apabila tahun 2011 pph yang dipotong/dipungut oleh pihak lain sebesar Rp 5.000.000,
maka besarnya angsuran pon 25 tahun 2012 adalah

= 1/12 x (Rp 13.930.000 - Rp 5.000.000)


= 1/12 x Rp 8.930.000 = Rp 744.166

Anda mungkin juga menyukai