Anda di halaman 1dari 9

STUDI KASUS

CEDERA KEPALA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Medikal Bedah II

Dosen Pengajar Ns. Gad Datak, M.Kep.,Sp.MB

Disusun Oleh:

Kelompok 7

Fanny Fitriana PO.6.20.1.19.408

Jhonatan Hilkia A.S PO.62.20.1.19.411

Novendra Aditya T PO.62.20.1.19.423

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN REGULER V


JURUSAN KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA

TAHUN 2021
STUDI KASUS CEDERA KEPALA

Tn. M, usia 17 tahun masuk ke IGD RS diantar polisi dengan kecelakaan lalu lintas. Saat dikaji
Tn.M membuka mata dan tangannya melokalisasi sumber nyeri serta terdengar suara merintih. Tn.
M gelisah, sakit kepala dan muntah nyemprot. Menurut polisi yang mengantar, Tn.M sempat tidak
sadar sekitar 15 menit dan sempat kejang. Hasil pemeriksaan fisik : pupil anisokor Ø 6 mm/4mm,
tensi : 110/30 mm Hg, Nadi 90 x/menit, suhu 37°C, RR 24 x/mnt. Terpasang infus infus NaCl 0,9%
dan O2 RM 8 ltr/menit

Hasil pemeriksaan Diagnostik : CT Scan: contusio serebri lobus frontoparietal kanan,sub


arachnoid hematoma, subdural hematoma di lobus frontalis kanan kiri, edema cerebri dan
cerebellum dengan herniasi sub falcii, fraktur diastasis sutura coronaria. Laboratorium tanggal 22
Oktober 2008 : Na 119, K 37.8, Cl 94.0, pH 7.47, pCO2 25.60, pO2 170.70, HCO3 17.40, total CO2
18.20, BE -5.60, O2 Saturasi 99.20, STD HCO3 21.2, STD BE -4.1, GDS 65.

Terapi:: IVFD NaCL 0,9 % : Aminovel 1000 (2:1)/ 24 Jam, Manitol 20 4 x 125, O2 RM 8 ltr/mnt,
Ketorolac 3 x 1 ampul IV, Extrace 1 x 400 gr IV, Nimotop 4 x 60 mg PO, Fenitoin 3 x 100 mg
PO, Citicolin 2 x 500 mg PO, PCT 3 x 500 mg PO, Diazepam 1 ampul k/p.

Pertanyaan 1 :
Berdasarkan kasus di atas berapa nilai GCS Tn.M dan jelaskan alasannya?
Jawab :
Eye (respon membuka mata) = Spontan (nilai 4)
Verbal ( respon verbal ) = Suara mengerang / merintih (nilai 2)
Motorik (gerakan) = Melokalisir nyeri ( nilai 5)
GCS: E4V2M5 : 11 (Derilium)

Pertanyaan 2 :
Berdasarkan penilaian GCS di atas, maka cedera kepala Tn. M termasuk kategori apa?
Jawab :
Cidera Kepala Sedang (CKS)
 GCS:11
 Sempat tidak sadar selama 15 menit
 Pemeriksaan CT Scan : contusio serebri lobus frontoparietal kanan,sub arachnoid hematoma,
subdural hematoma di lobus frontalis kanan kiri, edema cerebri dan cerebellum dengan herniasi
sub falcii, fraktur diastasis sutura coronaria.
Pertanyaan 3 :
Jelaskan implikasi keperawatan dari terapi yang diberikan !
Jawab :

1. IVFD NaCL 0,9 %


Indikasi :
Untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit pada pasien dehidrasi.

2. Aminovel
Indikasi:
 Kekurangan nutrisi pada sindroma usus pendek, anoreksia (kehilangan nafsu makan) dan
ketika diperlukan istirahat kerja saluran pencernaan.
 Meningkatkan kebutuhan metabolisme
 Kasus kritis lain yang memerlukan nutrisi eksogen

3. Manitol
Indikasi :
Infus Manitol 4x125 cc (1), 3x125 cc (2), 2x125 cc (3), dan 1x125 cc (4). Pertimbangan
keperawatan untuk mengurangi sakit kepala akibat benturan. Menurunkan tekanan intrakranial
yang tinggi karena edema serebral. Pada pasien dengan cedera kepala dengan hipotensi berfungsi
sebagai resusitasi cairan. Adanya tanda-tanda herniasi transtentorial/perburukan keadaan
neurologis.

4. O2 RM
Indikasi :
Diberikan jika pada pasien sesak napas (dispnea), kekurangan oksigen dalam jaringan (Hipoksia),
frekuensi pernapasan lebih cepat dari normal (takipnea), dalam keadaan gawat (misal : koma atau
kejang), trauma paru, syok, penurunan kadar PaO2, dll.
5. Ketorolac
Indikasi :
Ketorolac adalah obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID). Indikasi penggunaan
ketorolac adalah untuk inflamasi akut dalam jangka waktu penggunaan maksimal selama
5 hari. Ketorolac selain digunakan sebagai anti inflamasi juga memiliki efek anelgesik
yang bisa digunakan sebagai pengganti morfin pada keadaan pasca operasi ringan dan
sedang.

6. Extrace
Indikasi :
Pemberian dilakukan pada pasien yang kekurangan vitamin C

7. OMZ
Indikasi :
Terapi jangka pendek ulkus duodenal dan lambung, refluks esofagitis, sindroma
zolinger-ellison.

8. Nimotop PO
Indikasi:
Profilaksis dan pengobatan defisit neurologik iskemik yang disebabkan vasospasme
serebral akibat pendarahan subarakhnoid karena aneurisma. Jika selama pemberian
Nimotop® dilakukan operasi untuk mengatasi perdarahan, pemberian Nimotop®
intravena diteruskan sampai 5 hari setelah operasi.

9. Fenitoin PO
Indikasi :
Terapi pada semua jenis epilepsi, kecuali petit mal; status epileptikus (IONI p.153).
Fenitoin menghambat zat - zat yang bersifat antiaritmia. Walaupun obat ini memiliki
efek yang kecil terhadap perangsangan elektrik pada otot jantung, tetapi dapat
menurunkan kekuatan kontraksi, menekan pacemaker action, meningkatkan konduksi
antrioventrikular, terutama setelah ditekan oleh glikosida digitalis. Obat ini dapat
menimbulkan hipotensi jika diberikan secara intravena. Fenitoin memiliki aktivitas
hipnotik yang kecil. (AHFS p.2132). Menstabilisasi membran saraf dan menurunkan
aktivitas kejang dengan meningkatkan eflux atau menurunkan effux dari ion natrium
yang melewati membran sel pada kortek motorik dari implus saraf.

10. Citicholin PO
Indikasi :
Gangguan kesadaran yang menyertai kerusakan atau cedera serebral, trauma serebral,
operasi otak, dan infark serebral. menaikkan konsumsi O2 dari otak dan memperbaiki
metabolism otak. meningkatkan kerja formatio reticularis dari batang otak, terutama
system pengaktifan formatio reticularis ascendens yang berhubungan dengan
kesadaran.

11. Paracetamol
PO
Indikasi :
Menghilangkan rasa sakit dan penurun panas. Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk
bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi
rasa nyeri. Sedangkan sebagai antipiretik, misalnya mencegah infeksi.

12. Diazepam
Indikasi:
Untuk pengobatan jangka pendek pada gejala ansietas. Sebagai terapi tambahan untuk
meringankan spasme otot rangka karena inflamasi atau trauma; nipertdnisitairotot
(kelaTrian motorik serebral, paraplegia). Digunakan juga untuk meringankan gejala-
gejala pada penghentian alkohol akut dan premidikasi anestesi.

Pertanyaan 4 :
Susunlah diagnosa keperawatan & rencana keperawatan pada kasus Tn. M
1. Ds : Pasien mengatakan kepalanya sakit
Do : Hasil CT Scan : sub arachnoid hematom, edema cerebri dan cerebellum dengan
herniasi sub falcii
Diagnosa keperawatan : Perubahan perfusi jaringan serebral/peningkatan tekanan
intrakranial berhubungan dengan: edema serebral
2. Ds : -
Do : Rr : 24 x /menit, terpasang O2 RM 8 L/Menit
Diagnosa keperawatan : Pola Napas tidak efektif berhubungan dengan Adanya obstruksi
trakeobronkial
3. Ds : -
Do : Pasien mengalami muntah, kesadaran soporokoma
Diagnosa keperawatan : Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan cairan dan
elektrolit berhubungan dengan intake tidak adekuat : penurunan kesadaran (Derilium).
Perencanaan Keperawatan

DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL PARAF


KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
Perubahan perfusi Tujuan : - Kaji status status - Mengkaji adanya
Setelah dilakukan neurologis yang;
jaringan kecenderungan pada
tindakan Asuhan terutama GCS.
serebral/peningkatan keperawatan selama tingkat kesadaran.
1x24 diharapkan - Monitor tanda-
tekanan intrakranial - Mempertahankan aliran
penurunan tekanan tanda vital setiap
berhubungan dengan: intrakranial jam sampai darah otak yang konstan
keadaan pasien
edema serebral pada saat ada fluktuasi
Kriteria hasil : stabil..
 Pasien mengatakan tekanan darah sistemik.
sakit kepala (pusing) - Naikkan kepala
Ds : Pasien mengatakan - Meningkatkan aliran
berkurang dengan sudut 15o-
kepalanya sakit 45o tanpa bantal balik vena dari kepala,
 TD dalam batas dan posisi netral.
Do : Hasil CT Scan : sub normal sehingga akan
arachnoid hematom,  Pasien tampak rileks - Monitor asupan mengurangi kongesti dan
setiap delapan jam
edema cerebri dan edema.
sekali.
cerebellum dengan - Menurunkan edema
- Kolaborasi dengan
herniasi sub falcii serebral.
tim medis dalam
pemberian obat- - Dapat digunakan pada
obatan anti edema
fase akut untuk
seperti Manitol,
Gliserol dan Lasix. menurunkan air dari
sel otak, menurunkan
- Berikan oksigen
sesuai program edema otak dan TIK.
terapi.
- Menurunkan
hipoksemia yang dapat
meningkatkan
vasodilatasi dan
volume darah serebral
yang meningkatkan
TIK.
Pola napas tidak efektif Tujuan : - Kaji kecepatan,
- Perubahan dapat
Setelah dilakukan kedalaman,
berhubungan dengan
tindakan keperawatan frekuensi, irama menandakan awitan
adanya obstruksi selama 1x24 Setelah dan bunyi napas.
komplikasi pulmonal
dilakukan tindakan - Atur posisi klien
trakeobronkial
diharapkan pola nafas dengan posisi semi atau menandakan
Ds : - efektif. fowler (15o–45o).
luasnya keterlibatan
- Anjurkan klien
Do : Rr : 24 x /menit,
kriteria hasil : latihan napas dalam otak.
terpasang O2 RM 8 - Pola napas dalam apabila sudah
- Untuk memudahkan
batas normal sadar.
L/Menit
frekuensi 14–20 - Lakukan kolaborasi ekspansi paru dan
x/menit dan ramanya dengan tim medis
menurunkan adanya
teratur, dalam pemberian
- Tidak ada stridor, terapi. kemungkinan lidah
ronchi dan wheezing, jatuh yang menyumbat
gerakan dada simetris
tidak ada retraksi jalan napas.
- Nilai AGD normal, - Mencegah/menurunka
pH 7,35-7,45
PaO2 80-100 mmHg, n atelectasis
PaCO2 35-45 mmHg. - Untuk mencegah
terjadinya komplikasi

Resiko tinggi gangguan Tujuan :


- Kaji kemampuan - kelemahan otot dan
Setelah dilakukan
pemenuhan kebutuhan mengunyah,
tindakan keperawatan refleks yang hipoaktif/
menelan, refleks
cairan dan elektrolit selama 1x24 Setelah
batuk dan hiperaktif dapat
dilakukan tindakan
berhubungan dengan pengeluaran sekret.
diharapkan kekurangan mengidentifikasikan
- Auskultasi bising
intake tidak adekuat : nutrisi tidak terjadi
usus dan catat bila kebutuhan akan
dengan kriteria hasil
penurunan kesadaran terjadi penurunan
metode makan
bising usus.
(derilium) Kriteria hasil :
- Timbang berat alternatif.
- BB pasien normal,
Ds : - badan
- Tanda-tanda - kelemahan otot dan
- Berikan makanan
Do : Pasien mengalami malnutrisi tidak ada,
dalam porsi sedikit hilangnya peristaltik
- Hb tidak kurang dari
muntah, kesadaran tapi sering baik
10 gr%. usus merupakan tanda
melalui NGT
derilium
maupun oral. bahwa fungsi defekasi
- Tinggikan kepala
hilang yang kemudian
klien ketika makan
dan buat posisi berhubungan dengan
miring dan netral
kehilangan persyarafan
setelah makan.
- Lakukan kolaborasi parasimpatik usus
dengan tim
besar dengan tiba-tiba.
- mengkaji keefektifan
kesehatan untuk
aturan diet.
pemeriksaan HB,
Albumin, protein - dapat diberikan jika
total dan globulin pasien tidak mampu
untuk menelan.
- latihan sedang
membantu dalam
mempertahankan tonus
otot/berat badan dan
melawan depresi.
- pengobatan masalah
dasar tidak terjadi
tanpa perbaikan status
nutrisi.