PENGOLAHAN BENIH
SEED TREATMENT
OLEH:
KELOMPOK 10
KELAS : AGRO B
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2021
DAFTAR ISI
i
BAB I PENDAHULUAN
Benih tanaman dapat berupa biji, pucuk, setek, sulur, atau umbi. Perlakuan benih
merupakan strategi dalam pengendalian hama dan patogen (OPT) paling dini, aman,
dan ramah lingkungan. Perlakuan benih tanaman rempah dan obat dapat dilakukan
secara fisik, kimia, dan biologi, seperti perendaman dalam air panas (45oC),
perlakuan pestisida kimia dan nabati, serta agens hayati. Pestisida kimia yang khusus
direkomendasikan untuk perlakuan benih tanaman rempah dan obat sangat terbatas
atau bahkan belum ada di Indonesia, padahal permasalahan dalam produksi benih
sangat besar, terutama berupa setek dan rimpang. Jenis OPT tular benih tanaman
rempah dan obat cukup banyak dan merugikan. Beberapa inovasi perlakuan benih
1
tanaman rempah dan obat sudah dirintis di dalam negeri, seperti metode pencelupan
dan pelapisan, tetapi masih terbatas pada benih lada dan jahe. Keefektifan perlakuan
benih vegetative yang massanya cukup besar, seperti rimpang-rimpangan, adalah
terbatasnya penyerapan bahan aktif ke dalam jaringan benih sehingga pengaruhnya
terhadap OPT yang sudah ada dalam benih kurang berhasil.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini sebagai tugas mata kuliah pengolahan benih
dan untuk mengetahui tentang seed treatment.
2
BAB II PEMBAHASAN
Menurut Agrawal & Sinclair (1996), beberapa kondisi benih yang perlu
diberi perlakuan benih adalah (1) luka pada kulit benih yang dapat
menstimulasi cendawan untuk memasuki benih sehingga dapat mematikan
benih atau melemahkan kecambah; (2) benih mengalami luka selama
pemanenan dan pascapanen yang dapat memudahkan benih terserang patogen;
(3) benih yang terinfestasi oleh patogen pada saat panen dan saat benih diolah;
(4) benih yang ditanam pada keadaan lingkungan yang tidak sesuai seperti
tanah lembab atau sangat kering sehingga menstimulir pertumbuhan dan
perkecambahan spora cendawan yang dapat menyerang dan merusak benih; dan
(5) melindungi masa-masa perkecambahan dan awal pertumbuhan tanaman dari
organisme tular tanah.
3
Teknik pengendalian penyakit terbawa benih lebih sering dilakukan
secara kimia dan fisik. Huynh & Gaur (2005) menyimpulkan adanya
penurunan kerusakan pada benih padi yang diberi perlakukan dengan fungisida
Vivatax, Mancozeb, dan Thiram setelah disimpan selama dua bulan.
Penurunan kerusakan berturut-turut 0.69% ;1.5%, dan 0.75%. Sementara
tanpa perlakuan fungisida penurunan mencapai 14%. Setelah 6 bulan, penurunan
kerusakan hanya mencapai 0.63%; 0.5%, dan 0.13% serta tanpa perlakuan
fungisida kerusakan mencapai 10%. Percobaan pengendalian secara fisik dilakukan
oleh Pattaya et al. (2005) yang mendapatkan bahwa perlakuan panas melalui
frekuensi radio dapat efisein mengontrol jamur Alternaria padwickii pada benih
padi.
4
matriconditioning hidrasi benih menggunakan media lembab yang didominasi
oleh kekuatan matriks. Bahan bioprotektan dan atau pestisida dapat dikom-
binasikan/ditambahkan dalam matricondtioning.
1. Perlakuan mekanis
Biji Semangka yang mendapat perlakuan mekanis, setelah 24 jam sudah 90%
mulai berkecambah, sedang yang tanpa perlakuan belum ada yang berkecambah.
Setelah 48 jam (hari ke-2) biji yang diberi perlakuan mekanis telah 100%
berkecambah, sedang pada biji tanpa perlakuan baru mulai berkecambah (20%).
5
kertas amplas pada bagian kulitnya. Disamping itu dapat pula dengan cara menutup
persemaian benih Kemirinn dengan karung goni kemudian pada permukaan karung di
perciki dengan minyak tanah.
2. Perlakuan kimia
a) Untuk menjadikan agar kulit benih menjadi lebih lunak sehingga mudah dilalui air
pada waktu penyerapan.
Perlakuan kimia ini dapat dilakukan dengan cara merendam benih dalam
larutan kimia dengan konsentrasi dan waktu tertentu, selain itu perlakuan kimia yang
dilakukan untuk mencegah atau mengendalikan hama penyakit dapat dilakukan
dengan cara memberikan pestisida tertentu kepada benih, baik sebelum benih
dikemas untuk disimpan maupun sewaktu benih akan ditanam di lahan. Hal ini
tergantung pada karakter dari benih.
Bahan kimia yang bisa digunakan dalam perlakuan secara kimia ini antara lain
asam sulfat, asam nitrat, potassium hydroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat,
urea, hormon tumbuh dan pestisida.
Contoh :
a) Benih kentang direndam dalam larutan asam sulfat pekat selama 20 menit sebelum
ditanam.
b) Benih Jagung sebelum disimpan diberi fungisida redomil dengan konsentrasi 100
gram benih/1 gram fungisida.
c) Untuk mencegah serangan penyakit rendam benih dalam larutan fungisida dan
bakterisida sekitar 2-3 gr/liter.
6
3. Perlakuan fisis
Perlakuan fisis adalah perlakuan yang dilakukan terhadap benih dengan memberi
tindakan yang bersifat fisis. Perlakuan fisis ini dapat dilakukan dengan cara :
a) Perendaman dengan air panas Benih dimasukkan ke dalam air panas dan
dibiarkan sampai menjadi dingin selama beberapa waktu tertentu, agar kulit
menjadi lunak sehingga wadah dilalaui air dan udara. Contoh : benih apel
direndam pada air mendidih selama 2 menit, kemudian diangkat dan
dikecambahkan.
b) Perlakuan dengan temperatur tertentu Benih disimpan pada temperatur
tertentu sebelum disemai pada temperatur yang cocok untuk
perkecambahannya. Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan bahan-
bahan penghambat pertumbuhan atau agar terjadi pembentukan bahan-bahan
yang dapat merangsang pertumbuhannya. Contoh : benih selada akan
berkecambah apabila disimpan pada suhu rendah, dan akan dorman pada suhu
30 oc – 35 oc.
Pada benih yang mempunyai masa dormansi fisik yang lama seperti pada biji
Sengon, Akasia, Jambu mete dan Kaliandra bisa dilakukan dengan penyiraman
dan perendaman dengan air hangat selama 2-5 menit kemudian rendam dalam air
dingin selama 1-2 hari.
7
masalah fitotoksisitas sehubungan dengan penggunaan pestisida berlebihan,
pestisida sintetis mulai dibatasi penggunaannya dengan berbagai ketentuan.
8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Adapun saran dari makalah ini yaitu semoga pembaca dapat memahami
isi makalah ini sehingga dapatdijadikan sebagai referensi dalam proses
pembelajaran.
9
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, V.K., Sinclair, J.B. 1996. Principles of Seed Pathology. Lewis Publishers,
New York.
Desai, B.B., P.M. Kotecha, D.K. Salunkhe. 1997. Seeds Handbook: Biology,
Production, Processing, and Storage. Marcel Dekkerm, New York.
Huynh VN, Gaur A. 2005. Efficacy of seed treatment in improving seed Quality in
rice. Omonrice. 13(1):42-51.
Sharma, K.K., U.S. Singh, P. Sharma, A. Kumar, and L. Sharma. 2015. Seed
treatments for sustainable agriculture-A review. Journal of Applied and
Natural Science 7(1): 521–539.
Silva HSA, Romeiro RSR, Macagnan D, Vieira BAH, Pereira MCB, Mounteer A.
2004. Rhizobacterial induction of systemic resistance in tomato plants: non-
specific protection and increase in enzyme activities. Biol Control 29:288-
295.
Taylor, A. dan G.E. Harman. 1990. Concept And Technologies Of Selected Seed
Treatments. Ann. Rev. Phytopathol. 28 : 321-339.
10