Anda di halaman 1dari 1

Lelang jabatan merupakan katalis terciptanya good governance di dalam pemerintahan.

Karenanya, pemerintah harus terus mendorong terciptanya budaya lelang jabatan, baik
di level pusat maupun daerah. Sistem ini akan menjadi salah satu pengungkit
keberhasilan reformasi birokrasi, yang bisa mencegah terjadinya politisasi birokrasi,
atau sikap pemimpin yang memilih pejabat bermodal like and dislike. Bagi Kemenkeu,
sistem lelang jabatan yang telah berjalan selama ini juga harus terus dipertahankan dan
disempurnakan. Stigma masyarakat bahwa PNS adalah sebuah comfort zone harus
diubah menjadi sebuah competitive zone. Dan, lelang jabatan adalah salah satu di
antara pemicunya. Mekanisme lelang jabatan dilakukan secara transparan dan selektif.
Transparan karena dilakukan secara terbuka dan setiap orang yang memiliki syarat
administratif berupa tingkat kepangkatan dan golongan, diperbolehkan mendaftarkan
diri untuk mengisi lowongan yang tersedia. Dan dikatakan selektif karena proses
pelaksanaannya dilakukan melalui uji kompetensi ataupun fit and proper test.
Lelang jabatan mengubah paradigma pegawai, dimana pegawai yang berminat untuk
menduduki jabatan pimpinan tinggi harus mengajukan dirinya untuk kemudian
dibandingkan dengan kualitas calon pimpinan tinggi yang lain. Selain itu, instansi
pemerintah sebagai pihak yang wajib melakukan lelang jabatan harus mempersiapkan
diri melalui penyiapan perangkat lelang jabatan, baik peraturan pelaksanaannya,
organisasi pelaksana lelang jabatan, hingga personil yang memiliki kualitas yang
memadai untuk dipilih dalam lelang jabatan
Manfaat dalam kinerja yaitu Dengan adanya sistem lelang jabatan, sudah barang tentu
untuk pengisian jabatannya melalui fit and proper test, maka dengan adanya sistem
dapat menciptakan persaingan positif dalam kinerja, sehingga nantinya akan tercipta
pejabat yang berkompeten pada saat mengemban amanah jabatan mewakili rakyatnya.
Selain itu, dengan adanya lelang jabatan dapat meningkatkan kualitas dan mutu kinerja
di suatu daerah.