Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

SEORANG PRIA USIA 59 TAHUN DENGAN NEOPLASMA JINAK MANDIBULA

Diajukan untuk melengkapi syarat kepaniteraan


senior Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Disusun oleh:

Agung Satria Winahyu 22010119220193


Aysha Nurin Sharfina 22010119220174
Hafidh Bagus Aji Prasetyo 22010119220137

Pembimbing:
drg. Devi Farida Utami , Sp.BM

BAGIAN ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARAN
G 2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus

Seorang Pria Usia 59 Tahun dengan Neoplasma Jinak Mandibula

Disusun oleh :

Agung Satria Winahyu 22010119220193


Aysha Nurin Sharfina 22010119220174
Hafidh Bagus Aji Prasetyo 22010119220137

Semarang, Maret 2020


Pembimbing,

drg. Devi Farida Utami, Sp.BM

2
BAB I
PENDAHULUAN

Beragam kelainan dan penyakit dapat ditemukan di dalam rongga mulut, di


antaranya adalah tumor, baik tumor jinak maupun tumor ganas. Pengetahuan dan
keterampilan dokter gigi dalam mendeteksi dan mendiagnosis awal tumor rongga mulut
sangat diperlukan pada praktik sehari-hari sehingga dapat dilakukan terapiyang dini dan
adekuat untuk mencegah perluasan penyakit yang memperburuk prognosis. Istilah tumor
menunjukkan suatu pembesaran atau pembengkakan akibat pertumbuhan berlebihan
patologi jaringan. Bila ditinjau dari ilmu patologi maka istilah tumor identik dengan
neoplasma, yaitu merupakan kumpulan sel abnormal yang tumbuh terusmenerus, tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitar dan tidak berguna bagi tubuh. Etiologi suatu tumor
belum diketahui dengan jelas, dan dengan kemajuan di bidang biomolekuler khususnya
onkologi molekuler maka telah diketahui bahwa faktor genetik melalui beragam gen terkait
tumor berperan penting pada tumorigenesis.

Mandibula merupakan bagian dari muka yang ikut menentukan bentuk wajah

seseorang, terutama sepertiga bagian bawah. Selain berfungsi estetik, mandibula berperan

dasar mulut yang berfungsi untuk mengunyah, menelan, bicara dan menguap. Seperti organ

tubuh lainnya, tulang mandibula dapat mengalami kelainan antara lain tumor jinak maupun

ganas. Diantara tumor jinak mandibula yang sering dijumpai adalah ameloblastoma,

sedangkan tumor ganas primer terutama osteosarkoma. Paska reseksi tumor mandibula

biasanya timbul defek besar.Tumor mandibula adalah tumor jinak odontogenik pada

mandibula yang mempunyai kecenderungan tumbuh ekspansif dan progresif, hingga


menimbulkan deformitas wajah.Tumor mandibula adalah tumor jinak epitel yang besifat
infltratif, tumbuh lambat, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik. Lebih dari 75 % terjadi
akibat adanya kista folikular.

3
BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi

Neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh

terus menerus secara tidak terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak

berguna bagi tubuh. Pada rongga mulut, tumor atau neoplasma dapat didefinisikan sebagai

suatu pertumbuhan jaringan di dalam dan di sekitar rongga mulut yang pertumbuhannya

tidak dapat dikembalikan dan tidak berguna bagi tubuh. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada

bibir, pipi, dasar mulut, palatum, lidah, dan didalam tulang rahang. Jaringannya dapat terdiri

dari jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, jaringan saraf, jaringan tulang, pembuluh

darah.

Berdasarkan garis besarnya dan keganasannya neoplasma atau tumor dapat

diklasifikasikan menjadi : jinak (benigna) dan ke pertumbuhan ganas (maligna atau kanker).

Tumor jinak (benigna) dan tumor ganas (maligna atau kanker) memiliki ciri-ciri sebagai

berikut :

1. Tumor Jinak (Benigna)

a. Pertumbuhannya ekspansif

Pertumbuhan ekspansif yaitu mendesak jaringan sehat sekitarnya sehingga

jaringan sehat yang terdesak membentuk simpai atau kapsul dari tumor, maka

dikatakan tumor jinak umumnya bersimpai atau berkapsul. Karena tidak ada

pertumbuhan infiltratif biasanya tumor jinak dapat digerakkan dari dasarnya.

b. Tidak bersifat residif

Tumor jinak yang berkapsul bila diangkat mudah dikeluarkan seluruhnya

sehingga tidak ada jaringan tumor tertinggal dan tidak menimbulkan kekambuhan.

4
c. Tidak bermetastase

Tumor jinak biasanya tidak dapat bermetatase sehingga tumor jinak tidak

dapat menyebar kejaringan sekitarnya.

d. Pertumbuhan yang lambat

Dengan pertumbuhan yang lambat tumor tidak cepat membesar dan dari

pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan gambaran mitosis abnormal. Adanya

gambaran mitosis sugestif tumor itu ganas.

e. Tidak menyebabkan kematian

Tumor jinak tidak membahayakan atau mengancam jiwa, namun bila tumor

tersebut tumbuh didaerah vital maka tumor tersebut dapat mengancam jiwa.

2. Tumor Ganas ( Maligna atau Kanker )

a. Pertumbuhan infiltratif

Pertumbuhan infiltratif yaitu tumbuh bercabang menyebuk kedalam jaringan

sehat sekitarnya, menyerupai jari kepiting sehingga disebut kanker. Karena itu tumor

ganas biasanya sulit digerakkan dari dasarnya.

b. Residif

Tumor ganas sering tumbuh kembali ( residif ) setelah diangkat atau diberi

pengobatan dengan penyinaran. Keadaan ini disebabkan adanya sel tumor yang

tertinggal, kemudian tumbuh dan membesar membentuk tumor ditempat yang sama.

c. Metastase

Walaupun tidak semua, umumnya tumor ganas sanggup mengadakan anak

sebar ditempat lain melalui peredaran darah ataupun cairan getah bening.

d. Pertumbuhan yang cepat


5
Secara klinik tumornya cepat membesar dan secara mikroskopik ditemukan

mitosis normal ( bipolar ) maupun abnormal ( atipik ). Sebuah sel membelah menjadi

dua dengan membentuk bipolar spindle. Pada tumor yang ganas terjadi pembelahan

multiple pada saat bersamaan sehingga dari sebuah sel dapat menjadi tiga atau empat

anak sel. Pembelahan abnormal ini memberikan gambaran mikroskopik mitosis

atipik seperti mitosis tripolar atau multipolar.

e. Tumor ganas bila tidak diobati akan menyebabkan kematian

Berbeda dengan tumor jinak biasanya tidak menyebabkan kematian bila

letaknya tidak berada didaerah vital.

2.2 Etiologi dan Predisposisi Tumor Mandibula

Etiologi tumor mandibula menurut beberapa ahli mengatakan bahwa tumor

mandibula dapat terjadi setelah trauma, ekstrinsik karsinogenik, karsinogenik kimia dan

virus. Trauma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya trauma.

Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama karena tulang

yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah jarang menyebabkan tumor.

Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis juga

diduga merupakan penyebab terjadinya tumor ini. Ada dugaan lain bahwa penggunaan

thorium untuk penderita tuberkulosis mengakibatkan pasien berkembang menjadi tumor

mandibula. Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan tumor baru dilakukan pada

hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan onkogenik virus pada osteosarkoma

manusia tidak berhasil. Walaupun beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti

virus pada sel tumor.

Tumor ini tumbuh dari berbagai asal, walaupun rangsangan awal dari proses
6
pembentukan tumor ini belum diketahui. Tumor ini dapat berasal dari sisa sel dari enamel

organ atau sisa-sisa dental lamina. Struktur mikroskopis dari beberapa spesimen dijumpai

pada area epitelial sel yang terlihat pada perifer berbentuk kolumnar dan berhubungan

dengan ameloblast yang pada bagian tengah mengalami degenerasi serta menyerupai

retikulum stelata.

Terlihat sisa-sisa epitel Malassez yang biasanya terdapat pada membran periodontal

dan kadang-kadang dapat terlihat pada tulang spongiosa yang mungkin menyebabkan

pergeseran gigi dan menstimulasi terbentuknya kista odontogenik.

Sedangkan predisposisi terjadinya tumor mandibula adalah dengan melakukan

kebiasaan buruk seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, obesitas, faktor usia, faktor

genetik, terkena paparan sinar matahari atau ultraviolet, dan polusi udara.

2.3 Anatomi
Mandibula adalah tulang rahang bawah dan merupakan tulang muka yang paling
besar dan kuat. Mandibula merupakan satu – satunya tulang pada tengkorak yang dapat
bergerak. Mandibula dapat ditekan dan diangkat pada waktu membuka dan menutup mulut.
Dapat ditonjolkan, ditarik ke belakang dan sedikit digoyangkan dari kiri ke kanan dan
sebaliknya sebagaimana terjadi pada waktu mengunyah. Pada perkembangannya tulang ini
terdiri dari dua belahan tulang yang bersendi di sebelah anterior pada simpisis mental,
persatuan kedua belahan tulang ini terjadi pada umur dua tahun membentuk sebuah korpus
yang letaknya horizontal dan berbentuk seperti tapal kuda, menonjol ke muka serta
mempunyai dua buah cabang yang menonjol ke atas dari ujung posterior korpus (gambar 1).

Bagian – bagian mandibula, yaitu :


A. Korpus
Korpus juga mempunyai dua permukaan, yaitu :
1) Permukaan eksternus
7
Permukaan eksternus kasar dan cembung. Pada bagian ini terdapat suatu linea oblikum yang
meluas dari ujung bawah pinggir anterior ramus menuju ke bawah dan ke muka serta
berakhir pada tuberkulum mentale di dekat garis tengah. Dan terdapat juga foramen montale
yang terletak di atas linea oblikum dan simpisis menti yang merupakan rigi di garis tengah
yang tidak nyata di bagian atas pada tengah pada tempat persatuan dari kedua belahan
foetalis dari korpus mandibula.

2) Permukaan internus
Permukaan internus agak cekung. Pada permukaan ini terletak sebuah linea milohyodea,
yang meluas oblik dari di bawah gigi molar ke tiga menuju ke bawah dan ke muka mencapai
garis tengah, linea milohyodea ini menjadi origo dari muskulus milohyodeus. Linea
milohyoidea membagi fossa sublingualis dari fossa submandibularis (gambar 2).
Korpus mempunyai dua buah pinggir, yaitu :1,2
1) Pinggir atas (alveolaris)
Merupakan lekuk dari gigi geligi tetap. Terdapat delapan lekuk dari masing – masing
belahan mandibula ( dua untuk gigi seri, satu untuk gigi taring, dua untuk gigi
premolar dan tiga untuk gigi molar). Pada orang tua setelah gigi – gigi tanggal lekuk –
lekuk ini tidak tampak karena atropi tulang yang mengakibatkan berkurangnya lebar
corpus mandibula.
2) Pinggir bawah (basis)
Pinggir ini tebal dan melengkung yang melanjutkan diri ke posterior dengan pinggir
bawah ramus. Sambungan kedua pinggir bawah ini terletak pada batas gigi molar ke
tiga, di tempat ini basis disilang oleh arteri fasialis. Fossa digastrika yang merupakan
lekukan oval terletak pada masing – masing sisi dari garis tengah. Merupakan origo
dari venter anterior muskulus digastrikus. Sepanjang seluruh basis dilekatkan lapis dari
fasia kolli dan tepat di atasnya (superfasialis) dilekatkan platisma (gambar 3).

B. Ramus
Ramus terdiri dari dua permukaan, yaitu :
1) Permukaan eksternus (lateralis)
Permukaan ini kasar dan datar. Bagian posterior atas licin yang berhubungan dengan
glandula parotis. Sisa dari permukaan merupakan insersio dari muskulus masseter.
8
2) Permukaan internus (medialis)
Pada permukaan ini terletak foramen mandibulare yang merupakan awal dari kanalis
mandibularis serta dilalui oleh nervus dentalis dan pembuluh – pembuluh darahnya.
Pinggir – pinggir pada ramus, yaitu :
 Pinggir superior, merupakan insisura – insisura tajam dan cekung
mandibularis di antara prosesus – prosesus koronoideus dan prosesus
kondiloideus.
 Pinggir anterior, melanjutkan diri ke bawah dengan garis oblik.
 Pinggir posterior, tebal dan alur – alur merupakan permukaan medialis dari
glandula parotis.
 Pinggir inferior, melanjutkan diri dengan pinggir inferior korpus dan bersama
– sama membentuk basis mandibula. Mandibula termasuk ke dalam bagian
sepertiga bawah wajah. Mandibula berhubungan dengan basis kranii dengan
adanya temporo mandibula joint dan disangga oleh otot-otot pengunyahan.
Mandibula terdiri dari korpus berbentuk tapal kuda dan sepasang ramus.
Korpus mandibula bertemu dengan ramus masing-masing sisi pada angulus
mandibula. Pada permukaan luar digaris tengah korpus mandibula terdapat
sebuah rigi yang menunjukkan garis fusi dari kedua belahan selama
perkembangan, yaitu simfisis mandibula.

Nervus Mandibularis merupakan cabang terbesar, yang keluar dari ganglion Gasseri. Saraf
keluar dari cranium melalui foramen ovale, dan bercabang menjadi 3 percabangan yang
mensyarafi mandibula. Mandibula dipersyarafi oleh 3 cabang nervus, yaitu N. Lingualis, N.
Alveolaris Inferior, dan N. Bukalis (Gambar 4).

9
Gambar 1
Anatomi kraniumdari lateral

Gambar 2
Anatomi kranium dari bawah

10
Gambar 3
Anatomi kranium dari frontal

Gambar 4 Nervus yang berada di wajah pada pandangan lateral

2.4 Klasifikasi

Tumor jinak diklasifikasikan berdasarkan:

2.4.1 Berasal dari jaringan epitel

2.4.1.2 Karsinoma sel squamosa (KSS)


11
Gambaran klinis KSS:

 Merupakan kanker yang sering terjadi pada rongga mulut.

 Plak keratosis

 Ulserasi

 Tepi lesi indurasi dan kemerahan.

 Dapat terjadi pada seluruh permukaan rongga mulut.

 Pemeriksaan DNA menunjukkan mutasi oncogenes p53.

Gambar 5

Karsinoma sel squamosa pada rahag bawah kiri pasien.

2.4.1.2 Karsinoma sel basal ( Basal Cell Carsinoma / BCC)

Gambaran klinis :

• Umumnya terjadi pada kulit akibat terpapar sinar matahari yang

berlebihan.

• Terutama pada orang yang berkulit terang atau putih.

• Lokasinya pada bibir dan berkembang dari sel-sel basal

12
epidermis,terutama dari benih folikel rambut atau mukosa.

• Lesi terlihat menonjol dengan bagian tengah lesi mengalami ulserasi.

Gambar 6

Karsinoma Sel basal

2.4.2 Berasal dari jaringan ikat

Tumor yang berasal dari jaringan ikat adalah :

2.4.2.1 Fibrosarkoma

Gambaran klinis :

Merupakan tumor ganas jaringan ikat fibrosa.Sarkoma adalah tumor ganas

jaringan mesenkim, missal limfosarkoma, osteosarkoma, kondrosarkoma.

Predileksi tempat : dapat terjadi dimana saja dalam rongga mulut. Lebih sering pada

jaringan ikat fibrosa rahang bawah disbanding di maksila. Tumor pada rahang

biasanya berasal dari jaringan periosteum atau endosteum. Laki-laki lebih sering

dibanding wanita.

2.4.2.2 Neurosarkoma

Gambaran klinis :

 Juga disebut malignant schwannoma atau fibrosarkoma dari selubung saraf.

13
 Tumor yang berkembang dari sel schwann atau dari saraf perifer

 Biasanya lesi primer terjadi sepanjang proksimal batang saraf utama

 Tumor biasanya asimtomatis sampai terjadi adanya neuropraksia

 Pemeriksaan menunjukan massa fusiform yang besar

2.4.3 Berasal dari jaringan otot

Tumor yang berasal dari jaringan otot adalah : Leiomyoma, Granular cell

myoblastoma

2.4.4 Berasal dari jaringan syaraf

Tumor yang berasal dari jaringan syaraf adalah : Traumatic neuroma, Neurofibroma,

Pigmented ameloblastoma

2.4.5 Berasal dari kelenjar ludah

Tumor yang berasal dari kelenjar ludah adalah :

2.4.5.1 Karsinoma mukoepidermoid ( Mucoepidermoid carsinoma)

Gambaran klinis :

 Pada umumnya melibatkan kelenjar ludah mayor, yaitu kelenjar ludah parotis.

 Sebagian kecil dapat timbul dari kelenjar ludah minor, dan yang paling sering

melibatkan kelenjar ludah minor di palatum.

• Sering terjadi pada orang dewasa.

• Penderita wanita mempunyai resiko lebih tinggi daripada laki-laki.

• Tumor ini tumbuh lambat.

• Berasal dari sel epithelium duktus.

14
2.4.5.2 Karsinoma adenoid kistik ( Adenod cystic carsinoma)

Gambaran klinis:

• Tumbuhnya lambat.

• Cenderung local invasive.

• Kambuh setelah operasi.

• Sepertiga angka kejadian terjadi pada kelenjar ludah mayor.

• Dapat pula timbul pada kelenjar lakrimalis, bagian bawah salura

pernafasan, nasopharinx, rongga hidung, dan sinus paranasalis.

• Umumnya terjadi pada penderita usia 40-60 tahun.

• Berpotensi metastasis.

• 5-10% melibatkan kelenjar ludah mayor dan paling sering adalah

kelenjar ludah parotis

2.4.6 Tumor jinak ectodermal yang asalnya odontogenic.

Termasuk didalamnya Enameloma, Ameloblastoma/Adamantinoma.

2.4.7 Tumor jinak tepi jaringan periodontal

Tumor jinak yang berasal dari tepi jaringan periodontal contohnya adalah epulis gravidarum,

epulis angiomatosa, epulis giant cell, epulis kongenital, epulis fibromatosa, epulis

granulomatosa dan epulis fissuratum

2.5 Lesi Prakanker

Umumnya lesi prakanker muncul sebagai lesi putih, merah atau bercampur antara
lesi merah dan lesi putih. Kondisi ini dikenal sebagai leukoplakia atau
eritroplakia. Kondisi patologis lainnya yang juga dikaitkan sebagai lesi prakanker
yaitu oral lichen planus dan oral submucous fibrosis.
2.5.1 Leukoplakia
15
Leukoplakia didefinisikan sebagai bercak putih atau plak, yang
melekat erat pada mukosa mulut dan tidak dapat dibedakan dengan lesi putih
lainnya. Leukoplakia merupakan lesi putih pada mukosa rongga mulut dan
sebagai prekursor terjadinya Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC).
Leukoplakia dapat berkembang menjadi kanker rongga mulut tergantung dari
beberapa faktor yaitu progresifitas lesi, jenis kelamin penderita, ukuran lesi
dan tingkat terjadinya displasia.

Secara mikroskopis, leukoplakia nampak sebagai keratinosis


hiperplasia dengan karakter hiperorthokeratosis, hiperparakeratosis, dan
acantosis atau beberapa atypia selular yang diklasifikasikan sebagai lesi
ringan, sedang atau berat, tergantung dari jumlah munculnya atipia dan
keterlibatan epitelium. Lesi ini biasanya terletak di dasar mulut.

Leukoplakia yang terjadi pada pemakaian tembakau dengan cara snuff


dipping sebesar 1.3%, hal ini disebabkan karena tembakau yang digunakan
berupa bubuk sehingga dapat cepat larut dalam saliva jadi kontak antara
bubuk tembakau dengan mukosa mulut relatif lebih singkat, tidak adanya
iritasi lain berupa panas akibat pembakaran pada merokok atau mekanis akibat
kekuatan menggeser tembakau pada pengunyahan.

16
Leukoplakia biasanya akan tampak pada tempat dimana tembakau
itu sering ditempatkan, karena iritasi yang terjadi. Dimana daerah
leukoplakia yang terjadi dapat juga sebagai penentu kemungkinan kearah
keganasan. Daerah yang mengalami keratinisasi seperti palatum durum,
lidah, gingiva dan mukosa bukal mengalami displasia yang lebih rendah
daripada daerah yang tidak mengalami keratinisasi seperti palatum molle
atau dasar mulut. Leukoplakia pada perokok hoakli banyak ditemukan pada
daerah labial sebab daerah labial yang paling banyak mendapat iritasi oleh
panas yang dihasilkan pipa tanah liat. Leukoplakia pengunyah tembakau
banyak ditemukan pada daerah alveolar ridge dan 10% pada gingiva karena
tembakau yang dibentuk bulat seperti bola tersebut banyak ditempatkan
pada daerah alveolar ridge, sedangkan leukoplakia pada pemakaian
tembakau dengan cara dikulum banyak terdapat pada daerah vestibulum.

Perubahan leukoplakia menjadi ganas (karsinoma sel skuamosa) sukar


atau tidak dapat ditentukan secara makroskopis klinis. Eksisi percobaan
harus selalu dibuat dan diperiksa apakah sudah terdapat tanda-tanda ganas
seperti displasia dan atipia. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa sekita
10% leukoplakia dapat mengalami degenerasi keganasan. Tipe
eritroleukoplakia, verukosa, speckled, dan erosive mempunyai risiko tinggi
kearah keganasan.

Keadaan displasia dan keganasan ditentukan berdasarkan gambaran


inti sel seperti perubahan dalam inti sel dalam ukuran (membesar), bentuk
(bervariasi atau pleomorfik), warna menjadi lebih gelap (hiperkromatik),
perbandingan inti (sitoplasma bertambah, dinding inti tidak teratur, anak inti
lebih dari satu dan tidak teratur, serta distribusi kromatin yang tidak
normal).

Displasia dapat meliputi hanya bagian sepertiga basal lapisan epitel,


dinamakan displasia ringan. Bila sudah meliputi setengah lapisan epitel
termasuk displasia tingkat sedang, dan displasia tingkat berat bila sudah

17
meluas ke seluruh ketebalan lapisan epitel. Leukoplakia dengan tingkat
displasia ringan

18
mempunyai risiko berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa sebesar
3%. Sekitar 43% leukoplakia dengan displasia berat dan karsinoma in situ
akan berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa. Oleh karena itu,
leukoplakia yang disertai displasia harus dianggap sebagai keadaan praganas
yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang menjadi karsinoma.

Tingkat displasia menentukan prognosis dan rencana perawatan karena


memengaruhi perkembangan klinis penyakit, sehingga tingkat displasia
merupakan kriteria kunci dalam menentukan prognosis dan bentuk
perawatan yang paling efektif.
2.5.2 Eritroplakia

Eritroplakia adalah salah satu lesi yang jarang timbul pada mukosa
rongga mulut, akan tetapi risiko dari perkembangan kanker rongga mulut
adalah yang terbesar diantara semua lesi prakanker. Eritroplakia didefinisikan
sebagai lesi mukosa mulut yang muncul sebagai lesi merah terang yang dapat
berupa plak yang tidak biasa dikarakteristikkan secara klinis maupun patogen
sebagai kondisi patogen yang dikenali. Lesi ini dapat muncul di bagian
manapun pada rongga mulut, tapi lebih sering muncul pada dasar mulut,
palatum molle’, lidah bagian ventral, dan tonsillarfauces. Lesi ini umumnya
asimptomatik akan tetapi beberapa pasien mengeluh adanya rasa terbakar
pada rongga mulut. Pengkonsumsi alkohol dan pengguna tembakau
merupakan penyebab utama terjadinya eritroplakia. Epitelium atropik dan
menunjukkan kurangnya keratin, serta kadang menimbulkan hiperplasia.
Warna merah dari eritroplakia diakibatkan oleh menipisnya lapisan epitel
sehingga memungkinkan nampaknya struktur microvasculature. Eritroplakia
harus segera dirawat, hal ini dikarenakan tingginya kemungkinan eritroplakia
berubah menjadi maligna (tumor ganas).
2.5.3 Human Papilloma Virus (HPV)

HPV adalah DNA virus yang bisa menyebabkan infeksi. Penelitian


menunjukkan beberapa tipe DNA virus yang dapat menyebabkan infeksi

19
mukosa epitelium yang terbagi menjadi dua bagian yaitu sub tipe risiko tinggi
(HPV-16, 18, 31, 33, dan 35) dan sub tipe risiko rendah (HPV-6, 11, 13, dan
32). Risiko rendah HPV berimplikasi pada patogenesis dari tumor jinak,
squamous sel papiloma, common wart (verrucous vulgaris),
condylomaacuminatum dan focal epithelial hyperplasia (heck disease).

Sementara risiko tinggi HPV berimplikasi pada prekanker dan kanker


rongga mulut serta lesi orofaringeal.
2.5.4 Oral submucous fibrosis

Oral submucous fibrosis adalah gejala kronis penyakit dengan karakter


adanya inflamasi dan progresif fibrosis dari jaringan submukosa (lamina
propria dan jaringan penghubung yang lebih dalam), sehingga mengakibatkan
terjadinya rigid pada daerah tersebut dan kesulitan membuka mulut (trismus).
2.5.5 Oral lichen planus (OLP)

Oral lichen planus (OLP) adalah inflamasi kronis dari penyakit


mukosa rongga mulut dengan etiologi yang belum diketahui. OLP muncul
sebagai white striations, papula putih atau plak berwarna putih. Simptomatik,
dengan gejala klinis erithema, erosi atau blisters yang sangat sakit. OLP
biasanya terletak pada mukosa bukal, lidah dan gingiva. OLP terjadi pada 1%-
2% orang dewasa. Potensi OLP menjadi maligna masih kontroversi, akan
tetapi beberapa penelitian menunjukkan tingginya kemungkinan kejadian
kanker rongga mulut pada penderita OLP. Sehingga OLP dikategorikan
sebagai kondisi yang berpotensi berubah menjadi kanker rongga mulut. World
Health Organization (WHO) mengklasifikasikan OLP sebagai lesi prakanker.
2.6 Klasifikasi Kanker Rongga Mulut

Kanker rongga mulut adalah kanker yang menyerang bibir dan kavitas
rongga mulut. Untuk mengetahui tingkat keparahan kanker rongga mulut, dapat
digunakan sistem Tumor-Node-Metastasis (TNM), dengan T adalah tumor
primer yang dikelompokkan berdasarkan ukuran dan sifat dari tumor. N merujuk
pada nodus limfe regional dengan subkategori mengenai keterlibatan, fiksasi
dan
20
lokasinya. M yaitu penandaan terhadap terjadinya metastasis/ penyebaran di
tempat lain, umumnya M-0 menunjukkan tidak terjadi metastasis dan M-1 terjadi
metastasis. Tingkatan kanker rongga mulut, yaitu:
a. Tahap I : Tumor primer dengan diameter di bawah 2 cm dan limfonodi tidak
teraba (T-1, N-0, M-0).
b. Tahap II: Tumor primer dengan ukuran 2-4 cm tetapi limfonodi tidak teraba
(T-2, N-0, M-0).
c. Tahap III: Tumor primer dengan diameter lebih dari 4 cm dengan atau tanpa
metastasis pada lomfonodi (T-1-2, N-1-2); atau (T-1-3, N-0, M-0).
d. Tahap IV: Tumor primer yang luas dengan metastasis pada nodus yang
melekat pada mandibula, atau tempat lain yang jauh (T-1-3, N-3, M-0-1).
Klasifikasi kanker rongga mulut berdasarkan TMN ( Tumor, Nodul, Metastase):
a) T is : karsinoma in situ.
b) T o : tidak jelas bentuk tumor primer.
c) T 1 : lesi dengan diameter < 2 cm.
d) T 2 : lesi dengan diameter antara 2 – 5 cm.
e) T 3 : lesi dengan diameter > 5 cm.
f) T 4 : lesi telah menyebar ke otot dan tulang.
g) N o : tidak ada penyebaran kelenjar getah bening regional.
h) N 1 : penyebaran homolateral dan mudah digerakkan.
i) N 2 : bilateral dan mudah digerakkan.
j) N 3 : melekat di jaringan sekitarnya.
k) M o : tidak jelas metastase.
l) M 1 : metastase jauh.

Klasifikasi kanker rongga mulut menurut International Classification of Diseases


(ICD), berdasarkan letaknya yaitu:
a) Lip (ICD-10, C00).
b) Tongue (ICD-10, C01, C02).
c) Gingiva (ICD-10, C03).
d) Dasar mulut (ICD-10, C04).

21
e) Bagian mulut yang lain (ICD-10, C06).
f) Tonsil (ICD-10, C09).
g) Oropharynx (ICD-10, C10). B
h) agian mulut yang mengalami sakit (ICD-10, C14)

2.7 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari tumor rongga mulut merupakan akibat dari


pertumbuhan sel tumor yang meliputi gangguan massa dan gangguan fungsional
pada rongga mulut. Lesi pada selaput lendir rongga mulut dengan asal yang tidak
jelas dan berdurasi lebih dari 2 minggu harus dicurigai sebagai tanda awal dari
keganasan pada rongga mulut , hal ini meliputi:
a. Bintik merah atau putih (eritroplakia dan leukoplakia) pada selaput lendir
rongga mulut.
b. Defek atau ulkus pada selaput lendir rongga mulut.
c. Pembengkakan pada rongga mulut.
d. Gigi goyah, dapat melibatkan lebih dari satu gigi tanpa disertai adanya
kelainan periodontal sebelumnya.
e. Terasa adanya benda asing yang persistent didalam mulut unilateral.
f. Nyeri.
g. Disfagia.
h. Kesulitan berbicara.
i. Berkurangnya mobilitas dari lidah, lidah kaku
j. Kebas pada bibir, lidah, dan gigi.
k. Perdarahan pada rongga mulut tanpa sebab yang jelas.
l. Pembengkakan KGB leher.
m. Fetor ex ore
n. Perubahan posisi gigi saat oklusi.

22
2.8 Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Indikasi operasi:

1) Tumor operabel.
2) Usia penderita relatif muda.
3) Keadaan umum baik.
4) Tidak terdapat ko-morbiditas yang berat.

Hal yang harus diperhatikan pada pembedahan tumor rongga mulut ialah:

1) Eksisi luas dari tumor.


 Apabila memungkinkan, harus dilakukan eksisi luas sepanjang 1-2 cm
dari tepi luar margin tumor. Batas garis eksisi dengan tepi luar margin
tumor secara histopatologi yang kurang dari 1 mm disebut sebagai
positive resection margin, 1-5 mm disebut sebagai narrow resection
margin, lebih dari 5 mm disebut sebagai safe resection margin.
Apabila dalam melakukan eksisi dicurigai adanya positive atau narrow
resection margin, harus dilakukan terapi tambahan berupa radioterapi
atau kemoterapi pasca pembedahan
 Apabila tumor menginvasi tulang, dilakukan eksisi luas yang disertai
reseksi pada tulang yang terinvasi.
2) Diseksi KGB regional (RND atau modifikasinya) harus dilakukan apabila
terdapat metastase pada KGB regional (N≥1). Diseksi KGB harus
dikerjakan secara enblok dengan tumor primer apabila memungkinkan
3) Rekonstruksi defek yang terjadi akibat tindakan pembedahan.
b. Radioterapi
Radioterapi dapat diberikan secara interstisial atau eksternal. Tumor
yang eksofitik dengan ukuran kecil akan memberikan hasil terapi yang lebih
baik daripada tumor yang endofitik dengan ukuran besar.

23
Indikasi radioterapi:

1) Tumor inoperabel.
2) T1,2 pada bibir dan bukal.
3) Keganasan pangkal lidah.
4) Usia penderita relatif tua.
5) Pasien menolak operasi.
6) Terdapat ko-morbiditas

yang berat. Radioterapi dapat

diberikan dengan cara:

1) Teleterapi : Ortovoltase, Cobalt-60, atau Linec dengan dosis total


sebesar 5000-7000 rads (50-70 Gy).
2) Brakiterapi: implantasi intratumoral jarum Irridium-192 atau
Radium-226 dengan dosis 2000-3000 rads (20-30
Gy).

BAB III

24
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. MBP
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 59 tahun / 16 Juni 1960
Alamat : Sriwulan 4/4 Sayung
No. RM : C808684

2.2 Skrining dan tanda vital


Alergi : Tidak ada
Nyeri : Nyeri (+) VAS 2
Gizi : Baik
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 70 kali/menit
TB : 168 cm
BB : 69 kg

2.3 Pemeriksaan Subjektif


Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis di Poli Gigi dan Mulut RSDK pada
tanggal 4 Maret 2020 pada pukul 11.00 WIB.
a. Keluhan utama : Benjolan pada rahang bawah.

b. Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang berobat sendiri ke RSDK dengan keluhan timbul benjolan di
rahang bawah sejak ± 1 tahun belakangan ini. Daerah di sekitar benjolan berwarna
sama dengan kulit sekitarnya, tidak ada perabaan hangat, dan konsistensi teraba
sedikit keras, semakin lama semakin membesar. Tidak ada keluhan lain yang
menyertai keluhan utama pada pasien. Tidak ada penurunan berat badan, BAB dan
BAK normal. Pasien mengatakan dahulu pernah tumbuh daging pada rahang bawah

25
namun sudah dioperasi pada 1974, 1998, dan 2012. Benjolan tidak mengganggu
aktivitas sehari-hari pasien, namun pasien merasa cemas karena benjolan dirasa
semakin membesar, sehingga pasien memeriksakan diri ke RSUD Sunan Kalijaga
Demak dan selanjutnya dirujuk ke RS Dr. Kariadi.
Riwayat oral hyigine teratur. Pasien gosok gigi 2 kali sehari setiap kali
mandi.

c. Riwayat penyakit dahulu

- Riwayat keluhan serupa sebelumnya (+)


- Riwayat trauma tumpul pada dagu (+)
- Riwayat operasi (+) : 1974, 1998, 2012.
- Riwayat infeksi intra dan ekstra oral (-)

d. Riwayat penyakit keluarga

- Riwayat keluhan serupa sebelumnya (-)

e. Riwayat sosial ekonomi


Pasien tinggal bersama istri dan satu anaknya . Pasien merupakan pensiunan
dan istri pasien merupakan ibu rumah tangga. Pembiayaan menggunakan JKN non
PBI.
Kesan ekonomi: cukup

2.4 Pemeriksaan Objektif


Pemeriksaan fisik dilakukan di Poli Gigi dan Mulut RSDK pada tanggal 4 Maret
2020 pada pukul 11.00 WIB.

a. Status generalis
Kondisi umum : Baik, komposmentis (GCS 15)
Sistem Respirasi :
- Inspeksi : simetris statis dinamis, rektraksi (-)

26
- Palpasi : stem fremitus kanan sama dengan kiri
- Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru
- Auskultasi : suara dasar vesicular (+/+), suara tambahan (-/-), ronkhi (-/-)
Sistem Kardiovaskular :
- Inspeksi : iktus cordis tak tampak
- Palpasi : iktus cordis tak kuat angkat
- Perkusi : batas jantung dbm
- Auskultasi : bunyi jantung I-II normal, bising (-), gallop (-)

b. Pemeriksaan fisik
Ekstra Oral :
Kelenjar limfe submandibular kiri : dalam batas normal
Kelenjar limfe submandibular kanan : dalam batas normal
Asimetri muka : (-)

Intra Oral :
Mukosa pipi kanan dan kiri : luka (-), edema (-), hiperemis (-), perdarahan (-)
Mukosa palatum : luka (-), edema (-), hiperemis (-), perdarahan (-), pucat (-)
Mukosa dasar mulut : luka (-), edema (-), hiperemis (-), perdarahan (-), pucat (-)
Mukosa pharynx : luka (-), edema (-), hiperemis (-), perdarahan (-), pucat (-)
Mukosa labial : luka (-), edema (-), hiperemis (-), perdarahan (-), luka (-)
Kelainan periodontal : (-)
Ginggiva RA : luka (-), edema (-), Hiperemis (-),Perdarahan (-), Pucat (-),
Resesi (-)
Ginggiva RB : luka (-), edema (-), hiperemis (-), Perdarahan (-), Pucat (-),
Resesi (-)
Kalkulus/plak : (+)

c. Status Lokalis
Benjolan di mandibula anterior.
Inspeksi : wajah simetris, benjolan di mandibula anterior, trismus (-),

27
kemerahan (-)
Palpasi : Nyeri tekan (+), bengkak (+), fluktuasi (-), perabaan hangat seperti
kulit sekitar, berbatas tegas, permukaan halus.
d. Status Dental
Inspeksi : Missing teeth : 1.5/2.4/2.7/3.1/3.2/3.3/3.5/3.6/
3.7/4.1/4.2/4.5/4.6/4.7
Radiks : 1.8/3.4/4.3/4.8
Karies distal : 1.2/2.2
Karies oklusal : 1.6/1.7/2.8/3.8
Karies palatal : 1.4
Sondasi : nyeri (-)
Perkusi : nyeri (-)
Palpasi : nyeri (-)
Vitalitas : tidak dilakukan
Mobilitas : mobile (-)

Gambar 1. Foto klinis Pasien

28
2.5 Pemeriksaan Penunjang
a. X-Ray Panoramic (20 Januari 2020)

Gambar 2. X-Foto Panoramic

Interpretasi :
- Struktur tulang baik
- Tampak lesi radiolusen besar, unilocular, expansile, scalloping border, pada
regio simfisis mandibula disertai floating akar gigi 34 & 43.
- Tampak sisa akar 18 ; 48
- Tak tampak tumpatan
- Canalis mandibula kanan dan kiri baik
- Temporo mandibular joint kanan kiri normal

Kesan :
Suspek odontogenic keratocyst DD/Aemloblastoma pada regio simfisis mandibula.

29
b. Pemeriksaan Histopatologik (24 April 2013)
- Makroskopik sediaan berupa keeping-keping jaringan kurang lebih 2 cc
kecoklatan.
- Mikroskopik menunjukkan tumor terdiri atas jaringan ikat fibrous,
perdarahan kalsifikasi, dengan bagian nekrosis mengandung sel-sel
odontogenic dan kalsifikasi.
- Sesuai dengan : Adenomatoid odontogenic fibroma.

2.6 Odontogram

Gambar 3. Odontogram
Keterangan :
Missing teeth : 1.5/2.4/2.7/3.1/3.2/3.3/3.5/3.6/
3.7/4.1/4.2/4.5/4.6/4.7
Radiks : 1.8/3.4/4.3/4.8
Karies distal : 1.2/2.2
Karies oklusal : 1.6/1.7/2.8/3.8
Karies palatal : 1.4

30
2.7 Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding
Diagnosis kerja : Neoplasma jinak mandibula
Diagnosis banding : - Ameloblastoma
- Kista odontogenik
- Skuamous cell carcinoma

2.8 Initial Plan


Tatalaksana sebagai dokter umum
Dx : S : -
O : Darah rutin
Rx : Rujuk ke spesialis bedah mulut
Mx : Tanda nyeri, tanda vital

31
SURAT RUJUKAN

Semarang, 9 Maret 2020


Yth. TS Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut
di RSDK

Mohon pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut terhadap penderita,


Nama : Tn. MBP
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 59 Tahun
Alamat : Sriwulan 4/4 Sayung
Keluhan : Benjolan yang semakin membesar pada mandibula anterior
Diagnosa sementara : Tumor jinak mandibula
Tatalaksana yang sudah diberikan : -
Demikian surat rujukan ini kami kirim. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu
kami ucapkan terima kasih.

Salam sejawat,
dr. ANS
SIP 22010119220174

32
BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan laporan kasus tersebut, diketahui bahwa pasien tersebut adalah seorang laki-
laki berusia 59 tahun. Dari anamnesis didapatkan bahwa kurang lebih sejak 1 tahun belakangan,
pasien mengeluhkan terdapat benjolan yang semakin membesar pada rahang bawah bagian
depan. Tidak ada keluhan lain yang menyertai kondisi utama pasien. Tidak ada demam maupun
penurunan berat badan, BAB dan BAK normal. Pasien mengatakan bahwa pernah memiliki
riwayat tumbuh daging pada tempat yang sama dan telah dioperasi pada 1974, 1998, dan 2012.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan benjolan teraba sedikit keras, tidak ada fluktuasi,
berbatas tegas, permukaan halus, perabaan hangat seperti kulit sekitar. Benjolan dirasakan sedikit
nyeri apabila ditekan. Tidak ada trismus, kemerahan, maupun pembesaran limfonodi. Dari hasil
pemeriksaan fisik ini, didapatkan gambaran tumor berasal dari jaringan keras dan tidak
ditemukan tanda-tanda keganasan. Pada pemeriksaan gigi ditemukan Missing teeth pada gigi 1.5,
2.4, 2.7, 3.1, 3.2, 3.3, 3.5, 3.6, 3.7, 4.1, 4.2, 4.5, 4.6, 4.7. Radiks pada 1.8, 3.4, 4.3, 4.8. Karies
distal pada gigi 1.2, 2.2. Karies oklusal pada gigi 1.6, 1.7, 2.8, 3.8. Karies palatal pada gigi 1.4.
Untuk penatalaksanaan lebih lanjut, pasien dirujuk ke dokter gigi spesialis bedah mulut
untuk dilakukan reseksi mandibula. Sebelum dilakukan pembedahan, dilakukan beberapa
pemeriksaan untuk mencari risiko-risiko selama pembedahan yaitu pemeriksaan darah rutin.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Cawson RA, Odell EW, Porter S. 2005, Cawson’s essentials of oral pathology and oral
medicine. 7th ed. New York: Churchill living stone.
2. Khandekar SP, Badgey PS, Tiwari RR. Oral cancer and some pidemiological factors : a

hospital based study. Indian J Community, 2006; 31 (3): 157 – 159.

3. Robbins, Stanley LA, Kumar V. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 9 Vol. 2. Jakarta:
EGC; 2015.

4. White SC, Pharoah MJ. Oral radiology : principles and interpretation. 5th ed. St.Louis:
Mosby; 2004.

5. Wolff, K. D., Follmann, M., dan Nast, A. 2012. The Diagnosis and Treatment of Oral

Cavity Cancer. Deutsches Ärzteblatt International, (109(48): 829-835.

6. Sri Rahayu. 2012. Titanium Bone Screw: Alternatif Fiksasi Intermaksilar pada Fraktur

Mandibula Sederhana. Majalah Kedokteran FK UKI 2012 Vol XXVIII No.2; Hal 1-8.

7. Rahmat Babuta, Moch. Affandi. 2004. Perawatan Fraktur Berganda Mandibula Dengan

Reduksi. Jurnal Kedokteran Gigi Edisi Khusus Komit. Hal 141-142.

34