Anda di halaman 1dari 5

Hafidh Bagus Aji Praetyo

22010119202137
1. Waham apa yang khas di waham menetap?
Gangguan waham menetap, atau dikenal sebagai persistent delusional disorder, merupakan
gangguan mental yang jarang ditemukan dengan waham sebagai satu-satunya gejala utamanya.
Waham yang khas pada gangguan waham menetap adalah waham non-bizarre. Waham non-
bizarre artinya adalah suatu waham yang harus dapat terjadi pada kehidupan yang nyata.
misalnya merasa dicintai, merasa dilukai atau merasa pasangan selingkuh.

2. Perbedaan skizoafektif dengan bipolar dengan psikotik?


Skizoafektif
Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang persisten, seperti halusinasi
atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah suasana (mood disorder) seperti depresi,
manik, atau episode campuran. Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada
gangguan bipolar. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif
adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan,
atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama. Sebagian diantara pasien
gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang tipe manik, depresif
atau campuran keduanya.

Suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan manik yang samasama menonjol
dalam satu episode penyakit yang sama. Gejala-gejala afektif diantaranya yaitu elasi dan ide-ide
kebesaran, tetapi kadangkadang kegelisahan atau iritabilitas disertai oleh perilaku agresif serta
ideide kejaran. Terdapat peningkatan enersi, aktivitas yang berlebihan, konsentrasi yang
terganggu, dan hilangnya hambatan norma sosial. Waham kebesaran, waham kejaran mungkin
ada. Gejala skizofrenia juga harus ada, antara lain merasa pikirannya disiarkan atau diganggu,
ada kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha mengendalikannya, mendengar suara-suara yang
beraneka beragam atau menyatakan ide-ide yang bizarre. Onset biasanya akut, perilaku sangat
terganggu, namun penyembuhan secara sempurna dalam beberapa minggu

Gangguan Bipolar Dengan Ciri Psikotik


Hafidh Bagus Aji Praetyo
22010119202137
Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-
gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung
seumur hidup. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau
hipomania. Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania dapat bergantian secara
cepat, yang dikenal dengan rapid cycling. Gejala dari manik mencakup euphoria, peningkatan
kepercayaan diri, bicara cepat dan banyak pembicaraan, perhatian mudah teralih, dan
berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa
pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien
hipomania tidak memiliki gambaran psikotik seperti halusinasi, waham atau perilaku atau
pembicaraan aneh. Yang ada ialah peningkatan ringan dari suasana perasaan (mood) yang
menetap (sekurang-kurangnya selama beberapa hari berturut-turut), peningkatan enersi dan
aktivitas,

Sering ada peningkatan kemampuan untuk bergaul, bercakap, keakraban yang berlebihan,
peningkatan enersi seksual, dan pengurangan kebutuhan tidur; namun tidak sampai menjurus
kepada kekacauan berat dalam pekerjaan atau penolakan oleh masyarakat. Gejala dari depresi
mencakup konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang,
gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan sekali
pun), pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan
diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang. Pada tipe campuran, paling sedikit
satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan.
Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panik,
pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas,
hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung.

3. Fase skizofrenia?
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 4 fase yaitu fase premorbid, fase
prodromal, fase aktif dan fase residual.
a. Pada fase premorbid ditandai dengan periode munculnya ketidaknormalan
fungsi,walaupun hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari efek penyakit tertentu. Indikator
premorbid daripsikosis, diantaranya adalah riwayat psikiatri keluarga, riwayat prenatal,
Hafidh Bagus Aji Praetyo
22010119202137
dan komplikasi obstetrik dan deficit neurologis. Faktor premorbid lain adalah pribadi
yang terlalu pemalu dan menarik diri, hubungan sosial yangkurang baik dan
menunjukkan perilaku antisosial.
b. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa dalam
hitungan minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi
jelas. Fase prodromal dimulai dengan adanya perubahan fungsi premorbid dan meluas
sampai munculnya gejala psikotik. Fase ini dapat terjadi dalam beberapa minggu atau
bulan, tetapi banyak penelitian menyatakan bahwa fase prodromal terjadi antara 2 sampai
5 tahun. Pada fase ini tanda-tanda psikotik mulai muncul dengan intensitas rendah.
Pengenalan tanda dan gejala dan penanganan pada fase ini perlu diperhatikan agar tidak
berkembang menuju fase aktif .
c. Pada fase aktif gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,
inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampirsemua individu datang
berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang
spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan.
d. fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapigejala
positif/psikotiknya sudah berkurang. Di samping gejala gejala yangterjadi pada ketiga
fase diatas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan
berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan
sosial), dan kewaspadaan. Fase residual biasanya mengikuti fase aktif penyakit. Selama
faseresidual, gejala dari masa akut dapat hilang atau tidak mencolok lagi.Gejala negatif
mungkin masih ada, dan afek datar dan kerusakan fungsi peran biasa terjadi. Kerusakan
residual biasanya berkembang antara masa masa aktif psikosis.

4. Fase pengobatan skizofrenia?


Ada tiga fase pengobatan dan pemulihan skizofrenia :
1) Terapi fase akut
Pada fase ini pasien menunjukkan gejala psikotik yang intensif. Biasanya pada fase ini ditandai
dengan munculnya gejala positif dan negatif. Pengobatan pada fase ini bertujuan untuk
mengendalikan gejala psikotik sehingga tidak membahayakan terhadap diri sendiri maupun
orang lain. Terapi utamanya adalah dengan menggunakan obat dan biasanya dibutuhkan rawat
Hafidh Bagus Aji Praetyo
22010119202137
inap. Pemilihan antipsikotik yang benar dan dosis yang tepat dapat mengurangi gejala psikotik
dalam waktu enam minggu.

2) Terapi fase stabilisasi


Pada fase ini pasien masih mengalami gejala psikotik dengan intensitas yang lebih ringan. Pada
fase ini pasien masih memiliki kemungkinan yang besar untuk kambuh sehingga butuhkan
pengobatan yang rutin untuk menuju ke tahap pemulihan yang lebih stabil.

3) Terapi fase pemeliharaan


Pada fase ini dilakukan terapi jangka panjang dengan harapan dapat mempertahankan
kesembuhan, mengontrol gejala, mengurangi risiko kekambuhan, mengurangi durasi rawat inap,
dan mengajarkan keterampilan untuk hidup mandiri. Terapinya meliputi obat-obatan, terapi
suportif, pendidikan keluarga dan konseling, serta rehabilitasi pekerjaan dan sosial. Secara
umum, terapi penderita skizofrenia dibagi menjadi tiga tahap yakni terapi akut, terapi stabilisasi
dan terapi pemeliharaan. Terapi akut dilakukan pada tujuh hari pertama dengan tujuan
mengurangi agitasi, agresi, ansietas, dan lain-lain. Benzodiazepin biasanya digunakan dalam
terapi akut. Penggunaan benzodiazepin akan mengurangi dosis penggunaan obat antipsikotik.
Terapi stabilisasi dimulai pada minggu kedua atau ketiga. Terapi stabilisasi bertujuan untuk
meningkatkan sosialisasi serta perbaikan kebiasaaan dan perasaan. Pengobatan pada tahap ini
dilakukan dengan obat-obat antipsikotik. Terapi pemeliharaan bertujuan untuk mencegah
kekambuhan. Dosis pada terapi pemeliharaan dapat diberikan setengah dosis akut. Klozapin
merupakan antipsikotik yang hanya digunakan apabila pasien mengalami resistensi terhadap
antipsikotik yang lain

5. Obat skizofrenia ?
Penatalaksanaan Skizofrenia menurut Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer
a. Diberikan obat antipsikotik Haloperidol 2-3 x 2-5mg/hari atau Risperidon 2 x 1-3mg/hari
atau Klorpromazin 2-3 x 100-200 mg/hari. Untuk mengurangi agitasi dan memberikan
efek sedasi dapat digabungkan dengan benzodiazepin (contoh: diazepam 2-3 x 5 mg/hari,
lorazepam 1-3 x 1-2 mg/hari).
Hafidh Bagus Aji Praetyo
22010119202137
b. Intervensi sementara untuk gaduh gelisah dapat diberikan injeksi haloperidol 5mg, dapat
diulangi dalam 30 menit – 1 jam. Dosis maksimal injeksi haloperidol 30 mg/hari. Atau
dapat juga diberikan injeksi klorpromazin 2-3 x 50 mg/hari. Untuk pemberian haloperidol
dapat diberikan tambahan injeksi diazepam untuk mengurangi dosis antipsikotiknya dan
menambah efektifitas terapi.
c. Untuk pasien psikotik kronis yang tidak taat berobat, dapat dipertimbangkan untuk
pemberian injeksi depo (jangka panjang) antipsikotik seperti haloperidol deconas 50 mg
atau fluphenazine deconas 25 mg. Berikan injeksi I.M ½ ampul terlebih dahulu untuk 2
minggu, selanjutnya injeksi 1 ampul untuk 1 bulan. Obat oral jangan diberhentikan
dahulu selama 1-2 bulan, sambil dimonitor efek samping, lalu obat oral dapat diturunkan
perlahan.
d. Jika timbul efek samping ekstrapiramidal seperti tremor, kekakuan, akinesia, dapat
diberikan triheksifenidyl 2-4 x 2 mg. Jika timbul distonia akut berikan injeksi diazepam
atau difenhidramin, jika timbul akatisia (gelisah, mondar-mandir tak bisa berhenti bukan
akibat gejala) turunkan dosis antipsikotik dan berikan beta-blocker, propranolol 2-3 x 10-
20 mg.