Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PRAKTIKUM

OBSERVASI DAN WAWANCARA

NAMA : FERA RAHAYUNINGTYAS


NIM : 07320211
KELAS : I
ASISTEN :FITRI AYU KUSUMANINGRUM

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2009
Halaman Pengesahan
Laporan Praktikum
Observasi dan Wawancara

Telah disetujui dan disahkan pada tanggal :

Yogyakarta, ...........................
2009

Mengesahkan, Menyetujui,
Kepala Laboratorium Asisten

Miftahun Ni’mah Suseno, S.Psi., M. A., Psi Fitri Ayu Kusumaningrum


I.Judul
Laporan Praktikum Observasi.

II.Tujuan Observasi
1. Untuk mengetahui sikap kepemimpinan yang
dimiliki observee dalam Focus Group Disscusion
serta interaksinya dalam kelompok.

III.Definisi Operasional
A. Definisi
Menurut Yukl (1994) beberapa definisi tentang kepemimpinan
yang dianggap cukup mewakili dari sekian banyak definisi tentang
kepemimpinan antara lain :
a. Kepemimpinan adalah perilaku, dari seorang individu yang
memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang
ingin dicapai bersama (shared goal). ( Hembill dan Coons,1957)
b. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan
dalam suatu situasi tertentu, seperti diarahkan melalui proses
komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.
( Tannenbaum, Weschler dan Massarik, 1961)
c. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit
pada bawahan dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap
pengarahan-pengarahan rutin organisasi. ( Kantz dan Kahn, 1978)
d. Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan
struktur dalam harapan dan interaksi ( Stogdill,1974)
e. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas
sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
( Rauch dan Behling, 1984)
f. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan
yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan
kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai
sasaran ( Jacobs dan Jacques, 1990)

3
g. Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi
kontribusi yang efektif terhadap orde sosial, dan yang diharapkan
dan dipersepsikan melakukannya. ( Hosking, 1988).
Dalam pandangan tradisional, menurut Riyono & Zulaifah
(1997), kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kriteria keturunan atau
usia atau senioritas. Kelemahan pandangan ini tampak jelas karena ia
pesimistik karena kepemimpinan hanya bisa terjadi secara ascribed
(anugerah dari Sana) bukan sesuatu yang bisa dicapai (achived).
Menurut Gibson, Ivancevich, & Donnelly (1997) mengatakan
bahwa ketika seorang individu berusaha mempengaruhi perilaku
lainnya dalam suatu kelompok tanpa menggunakan bentuk paksaan,
kita menggambarkan usaha ini sebagai kepemimpinan. Bernard
(Dalam Yukl, 1994), memberikan definisi kepemimpinan sebagai
suatu interaksi antar anggota suatu kelompok. Pemimpin merupakan
agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi
orang lain daripada perilaku orang lain yang mempengaruhi mereka.
Kepemimpinan timbul ketika satu anggota kelompok mengubah
motivasi / kompetensi anggota lainnya didalam kelompok.
Robert & Hunt (Dalam Riyono & Zulaifah,1997)
mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang
perilakunya dapat mempengaruhi atau menentukan perilaku
anggota lain dalam kelompoknya. Lebih lanjut lagi dikatakan
bahwa seorang pemimpin mampu mempertahankan motivasi
para pengikutnya, jadi bukan sekedar mempengaruhi dalam
sesaat saja. Seorang pemimpin biasanya akan memberika
pengaruh yang berjangka panjang / long lasting influence
bukan sekedar menggunakan power / kekuasaannya untuk
mempengaruhi pengikutnya.
B. Aspek
Menurut George. R. Terry, 1994, aspek-aspek yang harus
dimiliki seorang pemimpin adalah :
 Kekuatan (enersi)
Pemimpin harus mempunyai kekuatan jasmani dan rohani
 Keseimbangan emosi
Pemimpin harus dapat menguasai perasaannya dalam keadaan
apapun yang dihadapinya
 Pengetahuan tentang hubungan manusia
Pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mengetahui sifat
serta tingkah lakunya dalam pergaulan
 Motivasi pribadi
Keinginan menjadi pemimpin harus datang dari dirinya sendiri dan
ini berakibat pada timbulnya kegairahan dalam bekerja
 Kecakapan berkomunikasi
Pemimpin harus pandai menyampaikan informasi dan maksud-
maksudnya kepada pihak lain sehingga timbul kerjasama yang
harmonik dengan orang lain
 Kecakapan mengajar
Pemimpin yang baik adalah guru yang baik. Oleh karena itu
dibutuhkan kecakapan untuk mengajar, baik dengan keteladanan
maupun dengan petunjuk-petunjuk yang disampaikan kepada
bawahannya
 Kecakapan bergaul
Pemimpin harus mau bekerjasama dengan yang dipimpin, serta
dapat menyesuaikan diri dengan mereka sehingga memperoleh
kepercayaan dan kesetiaan, dan dengan sukarela mau bekerja.
Pemimpin harus dapat mengembangkan rasa saling menghargai
dengan bawahan.
Menurut Nawawi Hadari (2004) proses kepemimpinan akan
berlangsung efektif, bilamana kepribadian pemimpin memiliki
aspek-aspek sebagai berikut:

5
1. Mencintai kebenaran dan beriman pada Tuhan Yang Maha Esa.

Pemimpin yang mencintai kebenaran berarti selalu berpihak pada


obyektivitas, sehingga dalam mengambil keputusan selalu
didasarkan pada kepentingan kelompok/organisasi dan terarah pada
pencapaian tujuan. Kebenaran yang obyektifitas itu tidak saja
disandarkan pada fakta yang bersifat empiris, tetapi juga
berdasarkan petunjuk dan norma-norma dari ajaran agama.
Para pemimpin yang mencintai kebenaran dan beriman pada Tuhan
Yang Maha Esa, juga merupakan pemimpin yang kepribadiannya
mencintai keadilan, yang tidak lain adalah pemimpin yang jujur
2. Dapat dipercaya dan mampu mempercayai orang lain.

Sifat adil dan jujur akan menumbuhkan kepercayaan orang-orang


yang dipimpin pada pemimpinnya. Pemimpin yang dipercaya dan
yang mampu mempercayai orang lain, akan berkembang menjadi
percaya diri. Pemimpin tersebut harus yakin bahwa dirinya
memiliki kamapuan dalam mempengaruhi, mengarahkan,
mengendalikan dan membimbing orang yang dipimpinnya.
Dengan kemampuan itu pemimpin dapat menjelaskan,
membimbing, mengarahkan dan mengawasi secara baik para
anggotanya dalam melaksanakan tugas masing-masing.
3. Mampu bekerja sama dengan orang lain.

Pemimpin yang dipercaya, mempercayai orang lain dan percaya


diri selalu bersedia dan mampu memelihara kebersamaan. Dalam
kebersamaan itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap
anggota itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap
anggota kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak
menjauhkan diri atau mengasingkan diri dari anggota kelompok,
karena merasa dirinya lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap
orang akan memberikan sumbangan berupa usaha, karya dan
prestasinya, sesuai dengan posisi dan kemampuannya masing-
masing.
4. Ahli di bidangnya dan berpandangan luas didasari oleh kecerdasan
(inteligensi) yang memadai.

Seorang pemimpin harus mengetahui tentang seluk-beluk bidang


yang dijelajahi atau menjadi garapan kelompoknya. Perkataan
mengetahui berarti pemimpin perlu memiliki ketrampilan dan
bahkan keahlian di bidang yang dikelola organisasinya. Dengan
pengetahuan, pengalaman dan inteligensi yang memadai, seorang
pemimpin akan memiliki wawasan yang cukup luas dalam
menghadapi berbagai masalah.
5. Senang bergaul, ramah tamah, suka menolong, dan memberikan
petunjuk serta terbuka pada kritik orang lain.

Setiap pemimpin harus menampilkan kepribadian senang bergaul,


ramah tamah, dan suka menolong, sebagai prasyarat untuk dapat
mewujudkan hubungan manusiawi yang efektif. Kepemimpinan
hanya terwujud dalam pergaulan antar sesame manusia, yang akan
berlangsung secara efektif, jika pemimpin bersifat dan bersikap
ramah tamah, suka menolong dan terbuka terhadap kritik.
Pemimpin yang suka menolong tidak akan mempersulit urusan
yang mudah, bagi orang lain yang memerlukannya. Sebaliknya
selalu berusaha mempermudah urusan yang sulit, semata-mata
karena senang menolong orang lain.
6. Memiliki semangat untuk maju, pengabdian dan kesetiaan yang
tinggi, seta kreatif, dan penuh inisiatif.

Sikap dan sifat pengabdian dan kesetiaan mendorong pemimpin


selalu kreatif dan penuh inisiatif semata-mata untuk kemajuan dan
perkembangan kelompok/organisasi, atas dasar kepentingan

7
bersama. Dalam keadaan itu kehidupan kelompok/organisasi tidak
berlangsung rutin dan statis, karena selalu ada gagasan baru yang
positif dan realitas untuk dilaksanakan.
7. Bertanggung jawab dalam mengambil keputusan, konsekuen,
berdisiplin, dan bijaksana.

Pemimpin merupakan penggerak roda organisasi, yang


dilaksanakan oleh anggota organisasi yang taat pada keputusan dan
perintahnya. Oleh karena itu pemimpin harus berani menetapkan
keputusan dan memrintahkan pelaksanaanya, agar kegiatan tidak
tertunda-tunda. Keputusan yang harus ditetapkan kerap kali juga
untuk suatu kepentingan yang mendesak, yang mengharuskan
pemimpin menetapkannya secara cepat.
C. Indikator
1. Membuka
pembicaraan pada
forum.
2. Memberikan
instruksi
mengenai tugas
yang akan
dikerjakan.
3. Meminta pendapat
kepada anggota
kelompoknya.
4. Ikut mengerjakan
tugas tersebut.
5. Memberikan
semangat kepada
anggota kelompok
yang lain
6. Tidak memotong
pembicaraan
orang lain
7. Memberikan
gagasan
8. Membagi-bagi
tugas
9. Mengambil
keputusan
10. Berbicara sopan
11. Mampu
berkomunikasi
dengan semua
anggota kelompok
12. Mengajak untuk
membuat tugas
13. Mampu
menjelaskan hasil
karya yang di buat
14. Memberikan
solusi dalam
masalah yang
muncul
15. Mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok.

D. Faktor Yang Mempengaruhi


Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemimpin
Menurut Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1997) dari hasil studi yang
dilakukan Likert, menemukan beberapa criteria kepemimpinan yang

9
efektif, yaitu antara lain:
a. Produktivitas yang tinggi ditandai dengan tercapainya tujuan
organisasi.

b. Kepuasan kerja dari anggota organisasi.

c. Rendahnya tingkat turnover, absensi dan rasa kecewa pada


anggota.

d. Biaya

e. Bahan yang dibuang

f. Motivasi karyawan dan manajerial

Keberhasilan seorang pemimpin menurut Yukl (1994) ditandai


dengan meningkatnya solidaritas antar kelompok, mampu
memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan kejelasan peran
bawahannya, mampu mengoraganisir aktivitas-aktivitas karyawan,
adanya kesiapan karyawan dalam menghadapi perubahan dan krisis,
dan pemimpin tersebut telah mampu memperbaiki kualitas hidup kerja
karyawannya. Keberhasilan seorang pemimpin juga tidak lepas dari
adanya rasa percaya diri yang ditanamkan pada masing-masing
karyawan sehingga meningkatkan ketrampilan dan memberi kontribusi
terhadap pertumbuhan psikologis dan pengembangan mereka.
Dalam pandangan tradisonal, menurut Riyono dan Zulaifah (1997)
kepemimpinan selalu dikaitkan dengan criteria keturunan atau usia /
senioritas. Kelemahan pandangan ini tampak jelas karenaa ia
pesimistik karena kepemimpinan hanya bisa terjadi secara ascribed
(anugerah dari Sana) bukan sesuatu yang bisa di capai (achieved).
IV.Bentuk dan Metode Observasi
a. Bentuk Observasi
Teknik pencatatan pada saat mengobservasi adalah menggunakan
covert, non partisipan, dan contrived (buatan).
a. Covert : observee tidak sadar bahwa dirinya sedang
diamati.
b. Non partisipan: observer tidak ikut serta dalam kegiatan yang
sedang diobservasi.
c. Contrived : observer mengendalikan situasi yang dialami oleh
observee.
Sedangkan untuk desain observasi ini, menggunakan desain FGD
(Focus Group Discussion). Artinya merupakan salah satu group
exercise yang menempatkan observee dalam tugas pemecahan masalah
secara kelompok. Dalam FGD observee langsung diberikan tugas
secara kelompok untuk mendiskusikannya agar menghasilkan
rumusan, rekomendasi, atau keputusan tertentu sesuai
permasalahannya. Sebelum mengerjakan tugas, observee diberi sedikit
arahan cara mengerjakannya (perlakuan / intervensi) oleh pendamping.
Dalam diskusi ini observer dapat mengamati perilaku observee dalam
berinteraksi dengan observee lain, dan perilaku observee yang muncul
merupakan perilaku aktual.
b. Metode Pencatatan Data Observasi
 Anecdotal Record
Anecdotal Record = Daftar Riwayat Kelakuan
Berisi catatan mengenai perilaku-perilaku luar biasa yang dianggap
penting (typical behavior). Biasanya digunakan untuk mengamati
perilaku secara mendetail mengenai tugas tertentu yang memiliki
keunikan. Prinsip anecdotal record adalah pencatatan dilakukan segera
(secepatnya setelah peristiwa terjadi) tentang apa dan bagaimana
kejadiannya (faktual), bukan bagaimana menurutnya (interpretatif).
Keuntungan metode pencatatan ini observer dapat memperoleh
gambaran yang lebih lengkap mengenai apa yang diamatinya.
Kekurangannya umumnya waktu yang digunakan lama.
 Check list
Yaitu pencatatan terhadap ada/ tidak adanya suatu perilaku tertentu

11
yang disajikan dalam bentuk daftar statement perilaku. Digunakan
ketika perilaku yang tampil telah diketahui perwujudannya seperti apa,
dan ketika tidak memerlukan indikasi frekuensi/kualitas karakteristik.
 Rating Scale
Yaitu perluasan dari check list. Yang membedakannya adalah pada
rating scale observer mengindikasikan judgement dalam bentuk
frekuensi dan atau kualitas karakteristik performa, sedangkan pada
check list hanya ditulis hadir tidaknya perilaku.

V.Hasil Temuan Lapangan


A. Identitas Observee
1. Nama observee : Ambar Eko Hendratmo
2. Usia : 19 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Ciri Fisik : - lesung pipi sebelah kiri
- kurus
- tinggi ± 172 cm
- kulit coklat
5. Pekerjaan : Mahasiswa S-1 Arsitektur
B. Identitas Observer
1. Nama observer : Fera Rahayuningtyas
2. NIM : 07320211
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Usia : 19 tahun
5. Pendidikan : S-1 Psikologi
6. Asisten : Fitri Ayu Kusumaningrum

C. Waktu dan Tempat


1. Waktu
a. Hari / Tanggal : Rabu / 18 Maret 2009
b. Pukul : 10.00 – 11.15 WIB
2. Tempat
Laboratorium Observasi I, lantai 4.

1. Anecdotal Record
Baris Uraian Tema
1. Observee memasuki ruangan kemudian duduk, Memasuki ruangan,
2. beberapa saat kemudian fasilitator mempersilakan (S1, L, B 1)
3. untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan
4. namanya. Dia memperkenalkan diri “ nama saya Memperkenalkan diri,
5. Eko.” Sambil melihat sekelilingnya. Saat (S1, L, B 4-5)
6. mendengarkan observee yang lain Memperhatikan teman
7. memperkenalkan diri, dia mengetuk-ngetukkan yang lain, (S1, L, B 6-
8. jempolnya ke meja. Beberapa saat melihat 7)
9. sekeliling, kemudian memainkan jempolnya
10. kembali. Ketika fasilitator menginstruksikan
11. untuk mematikan HP, dia pun mengambil HPnya
12. dari saku celana, kemudian mematikannya. Dan
13. melihat observee-observee yang lain juga.
14. Kembali mengetuk-ngetukkan tangannya ke
15. meja. Saat fasilitator meminta untuk membuat
16. kelompok, dia kemudian melipat tangannya
17. sambil mengedipkan mata kepada observee yang
18. lain. Saat sudah bergabung dengan teman
19. sekelompoknya, dia duduk dan bertopang dagu.
20. Kemudian ngobrol dengan teman sebelahnya. Membuka
21. Fasilitator pun memberikan penjelasan tentang pembicaraan, (S1, L, B
22. tugas yang harus dilakukan oleh para observee 20)
23. dalam kelompok yaitu membuat menara dari
24. sedotan. Dia mendengarkan penjelasan sambil
25. melihat fasilitator. Setelah selesai, dia mulai
26. mengambil sedotan dan memberikan gagasan Memberikan gagasan,

13
27. untuk memulai membuat menara, kemudian (S1, L, B 26-27)
28. melihat teman sekelompoknya yang berbicara dan Memperhatikan teman
29. mulai membuat menara bagian bawah. Beberapa yang sedang berbicara,
30. saat dia menyamakan tinggi sedotan dan bersama (S1, L, B 28)
31. teman yang lain mengaitkan sedotan dengan Bekerjasama dengan
32. selotip. Kemudian mendengarkan teman yang teman sekelompoknya,
33. lain yang sedang memberikan gagasan dan (S1, L, B 30-32)
34. memulai membuat lagi. Ada teman yang lain
35. yang berbicara dan dia mendengarkannya.
36. Kemudian membuat menara lagi sambil ngobrol Berkomunikasi dengan
37. dengan teman yang lain. Kemudian mencoba teman sekelompoknya,
38. berbagai bentuk sedotan agar bisa kokoh. (S1, L, B 36-37)
39. Kemudian mendengarkan temannya yang sedang
40. memberikan gagasan. Kemudian menanyakan Meminta pendapat
41. yang lainnya. Berbicara dengan teman sebelahnya kepada yang lainnya,
42. dan mulai membuat kembali dan mengaitkan (S1, L, B 40-41)
43. sedotan dengan teman sebelahnya. Mendengarkan
44. teman yang sedang bicara, tersenyum dan mulai
45. membuat kembali. Mengaitkan sedotan dengan
46. selotip dan dibantu dengan teman sebelahnya.
47. Ngobrol dengan teman sebelahnya. Melihat Berkomunikasi dengan
48. kelompok yang lain. Kemudian berdiri sambil teman sekelompoknya,
49. mendengarkan teman yang sedang bicara. (S1, L, B 47-52)
50. Menambah sedotan diatasnya. Duduk sebentar,
51. kemudian berdiri kembali. Ngobrol dengan teman
52. sebelahnya dan menyambung sedotan kembali.
53. Melihat kelompok yang lain dan menggerak-
54. gerakkan sedotan. Mendengarkan teman yang Memperhatikan teman
55. lain yang sedang memberikan gagasan kemudian yang sedang berbicara,
56. menempelkan sedotan dibagian bawah. Berbicara (S1, L, B 54-55)
57. dengan teman sebelahnya dan mengaitkan
58. sedotan dengan temannya. Tersenyum dan
59. membuat kembali. Kemudian melihat teman yang
60. lain, ngobrol dan tersenyum. Mengaitkan sedotan
61. kembali dan mendengarkan teman yang lain.
62. Kemudian memberikan ide dan tersenyum. Memberikan ide dan
63. Melanjutkan membuat kembali. Ngobrol dengan ikut membuat menara,
64. teman yang lain, membuat yang lain. Memegang (S1, L, B 62-64)
65. kening sambil mendengarkan yang lain. Berdiri
66. dan memeriksa menara sambil melihat-lihat
67. bentuk menara. Mengaitkan sedotan kembali dan
68. melihat menara lagi. Kemudian melihat-lihat
69. menara dari sebelah kanan dan kiri. Meminta Mengajak teman yang
70. selotip kepada teman yang lain dan menempelkan lain ikut mengerjakan,
71. ke menara. Melihat menara dan menempelkan (S1, L, B 69-71)
72. selotip kembali. Garuk-garuk pipi, melihat
73. kelompok lain. Kemudian memberikan ide, Memberikan ide, (S1,
74. berdiri, mulai membuat kembali dan tersenyum. L, B 73)
75. Meminta selotip kemudian memasangkan
76. sedotan. Agak membungkuk kemudian duduk.
77. Berdiri kembali dan membungkukkan badannya
78. sambil membuat menara, duduk kembali
79. kemudian ngobrol dengan temannya.
80. Menyandarkan kepala ke meja sambil
81. mendengarkan gagasan dari teman yang
82. lain,kemudian membuat menara kembali. Mendengarkan teman
83. Kemudian Afan memberitahukan bahwa waktu yang sedang berbicara,
84. untuk membuat menara telah habis. Dia duduk (S1, L, B 81-82)
85. sambil melihat Afan, tertawa, kemudian melihat
86. kelompok yang lain. Sambil mendengarkan Afan
87. dan Tasya yang sedang memberikan instruksi
88. untuk memberikan tanggapan atau kesan atas apa

15
89. yang sudah dilakukan saat membuat menara, dia
90. tersenyum dan melihat sedotan. Kemudian
91. melihat teman yang sedang memberikan
92. komentar, menaikkan alis mata. Kemudian
93. ngobrol dengan teman sebelahnya. Memutar- Berkomunikasi dengan
94. mutarkan sedotan, sambil melihat teman yang teman sebelahnya, (S1,
95. lain. Tersenyum lagi dan mengetuk-ngetukkan L, B 92-93)
96. sedotan ke meja. Melihat teman yang sedang
97. memberikan komentar kemudian tersenyum
98. kembali sambil memainkan sedotan. Melihat
99. Afan, ngobrol dengan teman sebelahnya,
100. tersenyum sambil melipat-lipat sedotan.
101. Memasukkan sedotan yang berada di meja
102. kemudian memasukkan ke dalam tempatnya.
103. Mengeluarkan satu sedotan lagi kemudian
104. tersenyum, memutar-mutarkan sedotan sambil
105. dilihat. Kemudian tiba giliran dia untuk
106. memberikan tanggapan, “pertama yang dia
107. lakukan adalah ngobrol dengan teman Memberi tanggapan,
108. sekelompoknya, awalnya belum ada gambaran (S1, L, B 106-115)
109. apa yang akan dilakukan dengan sedotan-sedotan
110. itu, tapi dengan masukan-masukan dari yang lain
111. juga, akhirnya mendapatkan ide untuk membuat
112. seperti ini. Disini komukasi sangat penting dan
113. sangat berguna, walaupun sebelumnya tidak ada
114. koordinasi namun kita langsung mengerjakan
115. tugas masing-masing dan saling membantu.”
116. Setelah selesai, dia melihat ke meja, tersenyum,
117. memainkan sedotan kemudian melihat teman
118. yang sedang berkomentar. Melipat-lipat sedotan
119. kemudian mengetuk-ngetukkannya ke meja
120. sambil melihat sedotan yang sedang dimainkan.
121. Kemudian melihat yang sedang berkomentar,
122. sesekali tersenyum kemudian ngobrol dengan
123. teman sebelahnya. Menggerak-gerakkan sedotan
124. sambil melihat yang sedang berkomentar, sedikit
125. tersenyum dan memainkan sedotan kembali.
126. Kemudian Afan menanyakan apa sebenarnya
127. maksud dari kegiatan tersebut dan meminta
128. observee untuk menjawab satu per satu.
129. Kemudian dia memperhatikan yang sedang
130. bicara, tersenyum dan memainkan sedotan. Memperhatikan teman
131. Menutup mulut kemudian memainkan sedotan yang sedang berbicara,
132. kembali, melihat ke atas, tersenyum kecil. (S1, L, B 129)
133. Melihat fasilitator, tersenyum kembali,
134. menggerak-gerakkan sedotan sambil tersenyum.
135. Kemudian giliran dia untuk berkomentar kembali,
136. dia menjawab “kegiatan ini membuat kita agar
137. berpikir cepat dan menambah kreatifitas.” Setelah Memberikan
138. selesai dia memainkan sedotan kembali, tanggapan, (S1, L, B
139. tersenyum, kemudian ngobrol dengan teman 136-137)
140. sebelahnya, tersenyum dan melihat sekeliling.
141. Kemudian memainkan sedotan kembali, ngucek- Berkomukasi dengan
142. ngucek mata. Memainkan sedotan lagi dan teman sebelahnya, (S1,
143. menyambungkannya. Menyambungkan sedotan L, B 139-140)
144. lagi dan melihat sekeliling. Tersenyum, kemudian
145. memegang hidung. Memasukkan sedotan
146. kedalam tempat gunting sambil melihat fasilitator
147. yang sedang menilai kekokohan menara.
148. Tersenyum kemudian ngobrol dengan teman
149. sebelahnya, kemudian tepuk tangan sambil
150. tersenyum dan berkata “yes” karena menara Berkomunikasi dengan

17
151. buatan kelompoknya menang. Kemudian teman sebelahnya, (S1,
152. menempelkan sedotan ke mulut sambil L, B 148-149)
153. tersenyum. Sambil memegang sedotan dia
154. melihat Afan dan Tasya. Tersenyum saat dibagi
155. snak kepada kelompoknya. Garuk-garuk hidung
156. kemudian memegang sedotan kembali. Saat
157. fasilitator mengucapkan terima kasih atas bantuan
158. observee yang bersedia meluangkan waktu, dia
159. bertopang dagu dan tersenyum. Kemudian para
160. observee dipersilakan pulang, dia pun mengambil Kegiatan selesai,
161. tas dan barang bawaannya, kemudian keluar observee keluar
162. ruangan. ruangan, (S1, L, B 160-
162)

2. Check List
No Indikator Kesimpulan
Ya Tidak
1. Membuka pembicaraan pada forum. √ -
2. Memberikan instruksi mengenai tugas yang akan √ -
dikerjakan.
3. Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. √ -
4. Ikut mengerjakan tugas tersebut. √ -
5. Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang √ -
lain
6. Tidak memotong pembicaraan orang lain √ -
7. Memberikan gagasan √ -
8. Membagi-bagi tugas √ -
9. Mengambil keputusan √ -
10. Berbicara sopan √ -
11. Mampu berkomunikasi dengan semua anggota √ -
kelompok
12. Mengajak untuk membuat tugas √ -
13. Mampu menjelaskan hasil karya yang di buat - √
14. Memberikan solusi dalam masalah yang muncul - √
15. Mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota √ -
kelompok

3. Rating Scale
No Indikator Frekuensi Turus
HTP JR KD SR SL
1. Membuka pembicaraan pada √ |
forum.
2. Memberikan instruksi √ ||
mengenai tugas yang akan
dikerjakan.
3. Meminta pendapat kepada √ |||
anggota kelompoknya.
||||| ||||| |||||
4. Ikut mengerjakan tugas √
||||| ||
tersebut.
5. Memberikan semangat kepada √
||
anggota kelompok yang lain
6. Tidak memotong pembicaraan √
||||| ||||
orang lain
7. Memberikan gagasan √
|||
8. Membagi-bagi tugas √
||
9. Mengambil keputusan √
10. Berbicara sopan √ ||
||||| |||||
11. Mampu berkomunikasi √
dengan semua anggota ||||| ||||| ||||| |||

kelompok

19
12. Mengajak untuk membuat √
tugas |||||
13. Mampu menjelaskan hasil √
karya yang di buat
14. Memberikan solusi dalam √
masalah yang muncul
15. Mampu menjalin kerja sama √
dengan setiap anggota ||
kelompok

Keterangan :
1. HTP : hampir tidak pernah
Frekuensi : 0 % - 20 %
2. JR : jarang
Frekuensi : 21 % - 40 %
3. KD : kadang-kadang
Frekuensi : 41 % - 60 %
4. SR : sering
Frekuensi : 61 % - 80 %
5. SL : selalu
Frekuensi : 81 % - 100 %

VI.Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi ketika membuat menara dari sedotan,
observee menunjukkan indikator-indikator dalam kepemimpinan. Dia
membuka pembicaraan ketika sudah bergabung dengan teman
sekelompoknya, berdasarkan aspek senang bergaul, ramah tamah, suka
menolong, dn memberi petunjuk serta terbuka pada kritik orang lain.
Setiap pemimpin harus menampilkan kepribadian senang bergaul, ramah
tamah, dan suka menolong, sebagai prasyarat untuk dapat mewujudkan
hubungan manusiawi yang efektif. Kepemimpinan hanya terwujud dalam
pergaulan antar sesama manusia, yang akan berlangsung secara efektif,
jika pemimpin bersifat dan bersikap ramah tamah, suka menolong dan
terbuka terhadap kritik. Pemimpin yang suka menolong tidak akan
mempersulit urusan yang mudah, bagi orang lain yang memerlukannya.
Sebaliknya selalu berusaha mempermudah urusan yang sulit, semata-mata
karena senang menolong orang lain. Salah satunya membuka pembicaraan
ketika sudah bergabung dengan teman-teman sekelompoknya, sehingga
terwujud aspek diatas tersebut.
Seorang pepimpin juga harus mampu memberikan instruksi
mengenai tugas yang akan dikerjakan. Hal ini juga muncul pada observee.
Berdasarkan aspek kepemimpinan, pemimpin harus yakin bahwa dirinya
memiliki kemampuan dalam mempengaruhi, mengarahkan,
mengendalikan dan membimbing orang yang dipimpinnya. Dengan
kemampuan itu pemimpin dapat menjelaskan, membimbing, mengarahkan
dan mengawasi secara baik para anggotanya dalam melaksanakan tugas
masing-masing.
Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. Indikator
tersebut juga muncul pada observee dan sesuai dengan aspek
kepemimpinan mengenai kemampuan teknis yaitu kecakapan-kecakapan
pemimpin dalam hal merencana, mengorganisir, melimpahkan, memberi
nasehat, membuat keputusan, mengawasi dan bekerjasama.
Indikator ikut mengerjakan tugas merupakan indikator yang paling
banyak muncul. Berdasarkan aspek mampu bekerja sama dengan orang
lain, pemimpin yang dipercaya, mempercayai orang lain dan percaya diri
selalu bersedia dan mampu memelihara kebersamaan. Dalam kebersamaan
itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota itu selalu
mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota
kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak menjauhkan diri
atau mengasingkan diri dari anggota kelompok, karena merasa dirinya
lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap orang akan memberikan

21
sumbangan berupa usaha, karya dan prestasinya, sesuai dengan posisi dan
kemampuannya masing-masing.

Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang lain juga


muncul dalam observee. Seperti yang di kemukakan Robert & Hunt
(Dalam Riyono & Zulaifah,1997) mengatakan bahwa seorang pemimpin
adalah orang yang perilakunya dapat mempengaruhi atau menentukan
perilaku anggota lain dalam kelompoknya. Lebih lanjut lagi dikatakan
bahwa seorang pemimpin mampu mempertahankan motivasi para
pengikutnya, jadi bukan sekedar mempengaruhi dalam sesaat saja.
Seorang pemimpin biasanya akan memberika pengaruh yang berjangka
panjang / long lasting influence bukan sekedar menggunakan power /
kekuasaannya untuk mempengaruhi pengikutnya. Sesuai definisi mengenai
kepemimpinan juga yaitu proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah
kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. ( Rauch dan
Behling, 1984).
Sebagai pemimpin yang baik juga harus dapat mendengarkan
orang yang sedang berbicara seperti tidak memotong pembicaraan orang
lain. Seperti aspek kecakapan bergaul yaitu pemimpin harus mau
bekerjasama dengan yang dipimpin, serta dapat menyesuaikan diri dengan
mereka sehingga memperoleh kepercayaan dan kesetiaan, dan dengan
sukarela mau bekerja. Pemimpin harus dapat mengembangkan rasa saling
menghargai dengan bawahan. Observee juga menunjukkan sikap tersebut.
Berdasarkan aspek kemampuan teknis yaitu kecakapan-kecakapan
pemimpin dalam hal merencana, mengorganisir, melimpahkan, memberi
nasehat, membuat keputusan, mengawasi dan bekerjasama. Sesuai dengan
indikator memberikan gagasan, membagi-bagi tugas, mengambil
keputusan, berbicara sopan, mampu berkomunikasi dengan semua anggota
kelompok, mengajak untuk membuat tugas dan mengajak untuk membuat
tugas. Indikator-indikator tersebut juga muncul pada diri observee.
Namun ada dua indikator yang tidak muncul pada observee yaitu
mampu menjelaskan hasil karya yang di buat dan memberikan solusi
dalam masalah yang muncul. Menurut Stogdill (Dalam Yukl,1994) faktor-
faktor yang mempengaruhi kepemimpinan terdiri dari :
• Ciri-ciri individu
• Perilaku individu
• Pengaruh terhadap orang lain
• Pola-pola interaksi
• Hubungan peran
• Tempatnya pada suatu situasi
• Persepsi dari orang lain mengenai keabsahan pengaruh tersebut
Hal tersebut dapat terjadi karena salah satu faktor di atas, mungkin karena
pengaruh dari orang lain seperti ada orang yang lebih dominan sikap
kepemimpinannya dalam kelompok tersebut.
Observee juga menunjukkan indikator mampu menjalin kerja sama
dengan setiap anggota kelompok, dengan tetap berkomunikasi dan saling
membantu dalam membuat menara dari sedotan. Sesuai aspek mampu
bekerja sama dengan orang lain. Pemimpin yang dipercaya, mempercayai
orang lain dan percaya diri selalu bersedia dan mampu memelihara
kebersamaan. Dalam kebersamaan itu selalu mampu menjalin kerja sama
dengan setiap anggota itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap
anggota kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak
menjauhkan diri atau mengasingkan diri dari anggota kelompok, karena
merasa dirinya lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap orang akan
memberikan sumbangan berupa usaha, karya dan prestasinya, sesuai
dengan posisi dan kemampuannya masing-masing.

Berdasarkan pembahasan tersebut, hal-hal di atas menunjukkan


adanya sikap kepemimpinan observee dalam Focus group disscusion.

VII.Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan

23
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa observee
menunjukan sikap kepemimpinan sesuai pada indikator dan sesuai
dengan tujuan laporan praktikum.
2. Saran
1. Bagi Observer
Observer datang lebih awal dan sudah bersama observee, ruangan
observasi lebih di tata kembali agar observer tidak terhalangi oleh
observer yang lain, cctvnya lebih difungsikan kembali agar observer
tidak kesulitan dalam melihat observee jika posisinya membelakangi
observer dan suara observeenya dapat terdengar jelas.
2. Bagi Obsevee
Observee ditempatkan pada tempat tunggu yang sudah
disediakan agar ketika fasilitator memanggil dapat langsung masuk ke
ruang observee.

Lampiran

1. Hasil dari Rating Scale


1. Indikator 1) : 1/ 22 x 100% =
4,55 %
2. Indikator 2) : 2/ 22 x 100% =
9,09 %
3. Indikator 3) : 3/ 22 x 100% =
13,64 %
4. Indikator 4) : 22/ 22 x 100% = 100 %
5. Indikator 5) : 2/ 22 x 100% =
9,09 %
6. Indikator 6) : 9/ 22 x 100% =
40,91 %
7. Indikator 7) : 3/ 22 x 100% =
13,64 %
8. Indikator 8) : 2/ 22 x 100% =
9,09 %
9. Indikator 9) : 2/ 22 x 100% =
9,09 %
10. Indikator 10) : 10/22 x 100% = 45,45
%
11. Indikator 11) : 18/ 22 x 100% = 81,82
%
12. Indikator 12) : 5/ 22 x 100% = 22,73
%
13. Indikator 13) : 0/ 22 x 100% =0%
14. Indikator 14) : 0/ 22 x 100% =0%
15. Indikator 15) : 2/ 22 x 100% = 9,09 %

25
I. Judul
Laporan Praktikum Wawancara.

II. Latar Belakang Masalah


Di masa sekarang sudah banyak yang memiliki kendaraan
bermotor. Bahkan di setiap rumah pasti mempunyai kendaraan bermotor,
setidak-tidaknya memiliki satu kendaraan. Namun sekarang kita sering
menjumpai pengguna jalan yang melanggar tata tertib lalu lintas. Mulai
dari yang tidak memakai helm, melanggar lampu merah, belok
sembarangan, kebut-kebutan, sampai anak-anak di bawah umur yang
belum mempunyai SIM sudah mengendarai kendaraan bermotor di jalan
raya.
Tasca, 2002 mengatakan bahwa seorang pengendara harus lulus
lisensi, meningkatkan keamanan saat berkendaraan, wajib memakai
pengaman saat berkendara, mentaati setiap peraturan atau rambu-rambu
yang ada dijalan, dan hukuman bagi pengendara yang buruk.
Dapat dilihat pada kenyataannya masih banyak kecelakaan yang
disebabkan oleh kesalahan pengendara yang menyebabkan kerugian pada
orang lain. Seperti melanggar lampu merah, menyalip kendaraan lain dari
kiri, melewati marka jalan, dll.

Seiring dengan berkembangnya zaman diikuti dengan kemajuan


transportasi yang membuat masyarakat banyak menggunakan kendaraan
bermotor. Hal itu diikuti juga dengan semakin meningkatnya angka
kecelakaan lalu lintas. Hal itu disebabkan oleh pengendara yang memiliki
sifat aggressive driving.

III. Tujuan
Untuk mengetahui aggressive driving pada individu.

IV. Metode
Metode yang digunakan yaitu semi terstruktur. Yaitu ada daftar
pertanyaan secara tertulis, namun dapat menambah pertanyaan secara
spontan (probing) agar mendapat data yang lebih mendalam. Alat pencatat
data berupa MP3.

V. Pedoman Wawancara
a. Definisi
Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) aggressive driving adalah
suatu perilaku mengemudi disebut agresif jika dengan sengaja
meningkatkan risiko akan terjadinya kontak fisik yang membahayakan,
dan termotivasi dengan ketidaksabaran, ketidakpatuhan terhadap
rambu-rambu lalu lintas, segi emosional dan untuk menghemat waktu.
b. Aspek-aspek dan Indikator
Menurut Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih,
2008), beberapa aspek yang terkandung dalam aggressive driving
antara lain:
1. Lapse adalah kesalahan yang tidak tampak saat sedang berperilaku,
terkait dengan hilangnya konsentrasi saat akan menetapkan jalur
yang akan ditempuh untuk mencapai suatu tujuan (tempat) ketika
sedang mengemudi. Lapse terjadi lebih dahulu sebelum error.
Selain itu lapse seringkali merupakan sumber dari
ketidaknyamanan para pengemudi, tetapi bukan salah satu yang
membahayakan jiwa. Beberapa sumber menyatakan bahwa

27
sebagian besar yang melakukan lapse adalah pengemudi wanita.
Secara spesifik umur juga mempengaruhi hal ini. Sebagai contoh
ketika seseorang lupa atau tidak mengetahui secara pasti dimana
letak lapangan atau tempat parkir dan tidak ingat rute jalan yang
dituju ketika berkendara.
Indikator perilaku:
1.Mengantuk saat mengemudi kendaraan
2.Lelah
3.Tidak mengerti peraturan rambu-rambu lalu lintas.
4.Tidak tahu jalur yang digunakan (salah jalur)
5.Mengobrol di jalan
2. Error adalah perilaku menyimpang ataupun kesalahan yang
dilakukan tanpa sengaja. Error merupakan salah satu contoh
kesalahan pengemudi pada pelaksanaannya walaupun sebelumnya
telah direncanakan oleh pengemudi tersebut. Contohnya, ketika
seseorang salah memberi tanda ketika akan berbelok dan menyalip
kendaraan lain dari sebelah kiri.
Indikator perilaku :
1.Lupa menyalakan lampu di malam hari.
2.Lupa membawa SIM dan STNK.
3.Lupa menaikkan standar motor.
4.Belok secara mendadak.
5.Mengerem mendadak.
6. Lupa menyalakan dan mematikan lampu tanda belok.
3. Violation adalah dengan sengaja melakukan kesalahan dengan
maksud melanggar hukum. Violation merupakan salah satu bentuk
perilaku yang secara tipikal mengarah pada aggressive driving.
Dalam hal ini violation lebih didefinisikan sebagai bentuk
penyimpangan yang disengaja. Violation merupakan
penyimpangan norma-norma dan perilaku mengemudi di jalan.
Sebagai contoh seorang pengemudi yang memacu kendaraannya
dengan kecepatan yang tinggi dan melanggar rambu-rambu lalu
lintas karena berkendara dalam keadaan mabuk (dalam pengaruh
alkohol). Contoh lainnya yaitu ketika seorang pengemudi
memotong atau berpindah jalur dengan tiba-tiba ketika terjebak
macet.
Indikator :
1.Tidak memakai helm dan sabuk pengaman.
2.Tidak mempunyai SIM
3.Memodifikasi kendaraan.
4.Mengebut di jalan.
5.Menerobos lampu merah.
6.Berhenti di tempat sembarangan.
7.Parkir di tempat sembarangan.
8.Menyalip kendaraan dari arah kiri.
9.Menggunakan ponsel pada waktu mengemudi.
10.Melawan jalur kendaraan.
11.Menerobos jalur kereta api.
12.Melanggar rambu lalu lintas.
13.Mengemudi kendaraan pada saat dipengaruhi minuman
beralkohol

c. Daftar Pertanyaan
1. Menanyakan nama, kemudian menjalin raport dengan testee.
2. Apakah kamu bersedia jika wawancara ini direkam?
3. Sudah punya SIM belum?
4. Kendaraannya masih seperti keluaran pabrik atau gimana? (di
modifikasi)
5. Ketika mengendarai kendaraan bermotor, apa yang menjadi

29
kebiasaanmu?
6. Kalau naik motor pakai helm tidak?
7. Kalau mau belok biasanya menyalain lampu reting tidak?
8. Kalau ada yang menyalip, tapi mengagetkan apa yang kamu
lakukan?
9. Di lampu merah yang ada detikannya, biasanya nunggu sampai
lampu hijau atau gimana?
10. Kalau pergi-pergi tapi tempat tujuannya belum tahu pasti, kamu
biasanya suka melanggar aturan tidak?
11. Misal sedang terburu-buru, kamu mengendarai kendaraannya
gimana?
12. Mengucapkan terima kasih atas waktunya dan kesediaannya di
wawancara, data-data sangat berguna untuk saya.
d. Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi aggressive driving antara lain:
1. Usia dan Jenis Kelamin
Umur pengemudi menjadi suatu prediktor yang signifikan terhadap
aggressive driving, dimana pengemudi yang umurnya lebih tua
lebih sedikit melakukan aggressive driving (atau berbagai macam
pelanggaran). Wanita lebih memandang peraturan lalu lintas
sebagai sesuatu yang penting dan layak untuk ditaati. Hal ini
menyebabkan wanita memiliki perasaan yang lebih kuat untuk
melaksanakan kewajiban mematuhi peraturan lalu lintas bahkan
disituasi yang tidak membahayakan atau tidak berisiko.
2. Faktor Sosial
Berdasarkan perspektif belajar sosial, agresi adalah suatu respon
yang dipelajari melalui observasi atau meniru orang lain yang
relevan secara sosial. Oleh karena itu, agresi adalah hasil dari
norma-norma, penghargaan, hukuman, dan model dari individu
yang telah diarahkan. Pada sebagian pengemudi agresif, mereka
mempelajari perilaku mereka dari orang tua, teman sebaya, media
dan pengalaman selama mengemudi dijalan. Dari bukti yang
tersedia rata-rata orang memaklumi perilaku tersebut karena pada
kenyataannya memang tidak ada undang-undang yang secara tegas
mengatur tentang aggressive driving.
3. Kepribadian
Setiap individu mempunyai sifat atau ciri yang mengatur mereka
untuk bertindak secara teratur dan terus-menerus dalam berbagai
situasi. Salah satu sifat atau ciri kepribadian yang cenderung
tampak pada aggressive driving adalah sensation seeking.
Sensation seeking merupakan kebutuhan bervariasi individu yang
terdiri atas sensasi kompleks, pengalaman dan kesediaan untuk
mengambil risiko, baik secara fisik maupun sosial untuk
mendapatkan pengalaman itu.
4. Gaya Hidup
Konsep dari gaya hidup lebih mengarah kepada kelompok-
kelompok perilaku khusus yang ditunjukkan oleh individu dengan
kepribadian-kepribadian tertentu. Penelitian yang membahas hal
tersebut memfokuskan studinya pada pengemudi-pengemudi muda,
dimana ditemukan timbulnya suatu perilaku mengemudi berisiko
tinggi disebabkan oleh karakteristik gaya hidup mereka yang
menunjukkan agresi.
5. Sikap Pengemudi/ Pengguna Kendaraan Bermotor
Pengemudi akan melaporkan pelanggaran lalu lintas jika mereka
menemukan situasi yang menghalangi mereka atau ketika
pengemudi lain menunjukkan sikap permusuhan secara langsung.
Pengemudi yang menilai diri mereka memiliki kemampuan yang
tinggi dalam mengendalikan kendaraan akan mudah terpancing
emosinya untuk marah ketika merasa terganggu dengan pengemudi
lain, sebaliknya, pengemudi yang mementingkan keselamatan diri
mereka akan lebih sedikit terganggu oleh permusuhan dengan

31
pengemudi lain.
6. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan seperti lampu merah dapat menjadi pemicu
perilaku dari pengemudinya, misal sebentar atau lamanya waktu
lampu merah menyala dengan lampu hijau. Kendaraan lampu hijau
yang cepat menyala menyebabkan pengemudi memiliki perilaku
yang tidak sabar dan cenderung membunyikan klakson secara
cepat, sering dan lama. Sementara pada lampu hijau yang lama
menyala, pengemudi cenderung bisa menyesuaikan.

VI. Deskripsi Subjek


A. Interviewee 1
1. Nama : Winda Lestari
2. Jenis kelamin : Perempuan
3. Pekerjaan : Mahasiswa
4. Usia : 19 tahun
5. Ciri-ciri khusus : Kulit putih, tinggi 160 cm, gigi gingsul,
berjilbab.
B. Interviewee 2
1. Nama : Nita Septiani
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Usia : 20 tahun
4. Pekerjaan : Mahasiswa
5. Ciri Fisik : Kulit putih, Rambut ikal panjang sebahu, tinggi
160 cm.

VII. Hasil Wawancara


A. Waktu dan Tempat

1. Interviewee 1

- Waktu : 6 Mei 2009, durasi 13:26


- Tempat : Ruang Laboratorium 04.09, Lantai 4 Fakultas
Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia

2. Interviewee 2

-Waktu : 10 Mei 2009, 4:56

- Tempat : Kos Bu Mala, Jl. Kaliurang km.10, Yogyakarta.

B. Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara dengan interviewee


(interviewee 1), interviewee tidak menunjukkan perilaku
aggressive driving walaupun dia tidak memiliki SIM (S1, P, B 40,
Hal 36) saat ini namun dia akan membuat ketika pulang ke rumah
serta sangat berhati-hati saat mengendarai motor.
Hal ini dapat dilihat pada pernyataannya yaitu hanya fokus
pada jalan saja (S1, P, B 74, Hal 37), menyalip dari kanan (S1, P, B
94, Hal 38), belum pernah ketilang Polisi (S1, P, B 271-272, Hal
43), lebih memilih menunggu lampu merah walaupun sedang
terburu-buru (S1, P, B 120-122, Hal 38-39), kalau mau belok
menghidupkan lampu sign dulu (S1, P, B 136, Hal 39), tidak
pernah jalan berlawanan arah (S1, P, B 236-242, Hal 42). Hal
tersebut tidak menunjukkan adanya aggressive driving, namun
sangat berhati-hati ketika sedang mengendarai motor.

VIII. Pembahasan
Dari hasil wawancara terhadap interviewee, interviewee tidak
menunjukkan sikap aggressive driving walaupun dia tidak memiliki
SIM saat ini namun dia akan membuat ketika pulang ke rumah serta
sangat berhati-hati saat mengendarai motor.
Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) aggressive driving adalah
suatu perilaku mengemudi disebut aggresif jika dengan sengaja
meningkatkan risiko akan terjadi kontak fisik yang membahayakan,

33
dan termotivasi dengan ketidaksabaran, ketidakpatuhan terhadap
rambu-rambu lalu lintas, segi emosional dan untuk menghemat waktu.
Ada tiga aspek yang mempengaruhi aggressive driving yang
dikemukakan oleh Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih,
2008), yaitu : Lapse (kesalahan yang tidak tampak), Error (kesalahan
yang dilakukan dengan tidak sengaja), dan Violation (kesalahan yang
dilakukan dengan sengaja).
Berdasarkan jenis kelamin wanita lebih memandang peraturan
lalu lintas sebagai sesuatu yang penting dan layak untuk ditaati. Hal
ini menyebabkan wanita memiliki perasaan yang lebih kuat untuk
melaksanakan kewajiban mematuhi peraturan lalu lintas bahkan
disituasi yang tidak membahayakan atau tidak berisiko. Dapat dilihat
dari interviewee yang belum pernah ditilang Polisi (S1, P, B 271-272,
Hal 43), menggunakan helm (S1, P, B 50, Hal 36), Tidak mengebut
(S1, P, B 79, Hal 37).
Menurut Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih,
2008), beberapa aspek yang terkandung dalam aggressive driving.
Salah satunya violation (kesalahan yang dilakukan dengan sengaja),
interviewee menunjukkan hal ini yaitu tidak mempunyai SIM (S1, P,
B 40, Hal 36), dan mengerem mendadak (S1, P, B 248, Hal 43).
Selain itu dari faktor lingkungan seperti lampu merah dapat
menjadi pemicu perilaku dari pengemudinya, misal sebentar atau
lamanya waktu lampu merah menyala dengan lampu hijau. Kendaraan
lampu hijau yang cepat menyala menyebabkan pengemudi memiliki
perilaku yang tidak sabar dan cenderung membunyikan klakson secara
cepat, sering dan lama. Namun interviewee lebih memilih menunggu
lampu merah walaupun sedang terburu-buru (S1, P, B 120-122, Hal
38-39), dari pada menerobos lampu merah.
Namun walaupun interviewee menunjukkan indikator
aggressive driving, seperti tidak memiliki SIM dan mengerem
mendadak, hal ini tidak membuat interviewee termasuk dalam
aggressive driving. Karena selain itu, interviewee menunjukkan sikap
mematuhi lalu lintas dan berhati-hati ketika mengendarai motor.

IX. Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa interviewee
tidak menunjukan aggressive driving dilihat dari perilaku ketika
mengendarai motor yang sangat hati-hati dan mematuhi lalu lintas.
B. Saran
1. Bagi Interviewee
Suaranya agak lebih keras agar dapat masuk ke alat
perekam dengan baik karena kondisi ruangan bising.
2. Bagi Interviewer
Mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, jadi
ketika intervieweenya tidak mempunyai kendaraan di sini,
sudah siap dengan pertanyaan yang lain tapi masih
berhubungan dengan tujuan wawancara.

35
Lampiran

1. Verbatim Interviewee
1
Baris Uraian Tema
1 ER: Assalamu’alaikum mbak, Pembukaan dengan
2 EE: Wa’alaikumsalam, mengucapkan salam (S1,
3 ER: Mbak Winda ya? P, B 1-2, Hal 35)
4 EE: Iya. Introduction (S1, P, B 3-
5 ER: Perkenalkan saya Fera dari Psikologi 16, Hal 35)
6 UII, saya disini untuk berlatih
7 wawancara…praktikum wawancara,
8 saya e… meminta untuk direkam boleh,
9 wawancaranya?
10 EE: Boleh.
11 ER: Bisa tolong agak dikerasin sedikit
12 suaranya suaranya?
13 EE: Boleh.
14 ER: Hee.. makasih, Mbak Winda kuliah
15 dimana?
16 EE: Di UII Farmasi 2006.
17 ER: Oiya,, sebelumnya ini wawancara e…
18 kerahasiaannya kami jaga, Mbak bisa
19 mengeksplorasi apa yang ingin Mbak
20 utarakan disini. E… disini saya lihat
21 ada kursus Bahasa Inggris sama Menjalin raport dengan
22 Jama’ah Al Ghuroba? menanyakan kegiatannya
23 EE: Iya. (S1, P, B 21-32, Hal 35-
24 ER: E… ini salah satu hobi dari Mbak apa? 36)
25 EE: E…berorganisasi.
26 ER: O… berorganisasi, kalau kursus Bahasa
27 Inggrisnya bukan termasuk hobi apa
28 kesenangan Mbak?
29 EE: Hee,, ga.
30 ER: Bendahara ya Mbak? Guessing game
31 EE: Iya.
32 ER: Sering melakukan kegiatan di… Informational probes
33 EE: Sering.
34 ER: E…disini kan dalam berorganisasi Leading
35 Mbak sering e…apa… banyak
36 menggunakan kendaraan?
37 EE: Iya.
38 ER: Mbak sendiri udah punya SIM apa Pertanyaan tertutup
39 belum?
40 EE: Belum. Tidak mempunyai SIM
41 ER: O…belum,, tapi e…sering pakai (S1, P, B 40, Hal 36)
42 kendaraan motor atau mobil? Mirror probes,
43 EE: E…sering, tapi kalau misalnya kebawah pertanyaan tertutup
44 gitu belum pernah, belum pernah, bipolar
45 biasanya di bonceng gitu.
46 ER: Berarti cuma kos ke kampus aja? Reflective probes
47 EE: He’e..
48 ER: Terus kalau bonceng gitu Mbak pakai Clearinghouse probes
49 keamanan gitu ga?
50 EE: E…helm. Menggunakan helm(S1,
51 ER: Selalu..selalu pakai? P, B 50, Hal 36)

37
52 EE: Selalu. Pertanyaan tertutup
53 ER: Oiya..kalau misalnya di..apa ke, dari Pertanyaan tertutup
54 kos ke kampus, Mbak selalu dibonceng
55 atau pernah mengendarai di depan
56 sendiri?
57 EE: Mengendarai.
58 ER: Mengendarai sendiri? Clearinghouse probes
59 EE: Iya…
60 ER: Kendaraan yang biasanya Mbak pakai Pertanyaan tertutup
61 itu masih orisinil yang sesuai dari Kendaraan tidak
62 pabrik atau gimana? dimodifikasi (S1, P, B
63 EE: Insya Allah masih orisinil. 63-65, Hal 37)
64 ER: Belum ada yang di modif-modif? Clearinghouse probes
65 EE: Belum.
66 ER: Terus ketika Mbak mengendarai Pertanyaan terbuka
67 kendaraan itu, apa yang biasanya Mbak
68 lakuin?
69 EE: Maksudnya?
70 ER: Ya misalnya nyanyi, mainan HP, atau
71 apa liat-liat kanan-kiri atau apa gitu?
72 EE: Hehe.. ga pernah.
73 ER: Ga pernah, cuma fokus ke jalan aja? Mirror probes,
74 EE: Iya. pertanyaan tertutup
75 ER: Biasanya kecepatan rata-rata yang Fokus pada jalan (S1, P,
76 Mbak pakai berapa? B 74, Hal 37)
77 EE: E…50 paling. Pertanyaan terbuka
78 ER: Itu paling kenceng? Reflective probes
79 EE: 60 paling kenceng. Tidak mengebut (S1, P,
80 ER: Kalau..ini cuma daerah sini aja kan, B 79, Hal 37)
81 km.10 sampai km.14 aja? Pertanyaan tertutup
82 EE: Iya.
83 ER: Nah itu kan kalau pagi atau agak-agak Pertanyaan terbuka
84 siang itu kan rame tu, biasanya e.. di
85 saat Mbak terburu-buru dan ramai apa
86 yang Mbak bakal lakuin, ketika Mbak
87 naik motor?
88 EE: E…biasa aja sih, paling juga nyepetin Mempercepat laju
89 kendaraan. kendaraan ketika
90 ER: Nyepetin aja? terburu-buru (S1, P, B
91 EE: He’e. 88-91, Hal 37-38)
92 ER: E…menyalip-nyalip karena… kalau Clearinghouse probes
93 nyalip biasanya kanan atau kiri? Pertanyaan tertutup
94 EE: E..kanan. Menyalip dari kanan (S1,
95 ER: E..saat Mbak ini apa…mau nyalip itu P, B 94, Hal 38)
96 ngasih kode dulu atau langsung nyalip Clearinghouse probes
97 aj?
98 EE: E…biasanya kan kalau, kalau misalnya
99 e…didepan naik mobil gitu biasanya
100 mereka yang kasih kode kan?
101 ER: He’e.
102 EE: Biasanya kalau dia udah kasih kode kita
103 boleh nyalip.
104 ER: Ga Mbak yang ngasih kode dulu Pertanyaan tertutup
105 terus…
106 EE: Ga.
107 ER: Kalau dari kiri pernah? Restatement probes
108 EE: Ga pernah. Tidak menyalip dari kiri
109 ER: Ga pernah, pernah ketilang Polisi apa (S1, P, B 108, Hal 38)
110 ga? Pertanyaan tertutup
111 EE: Belum pernah.
112 ER: Belum pernah,hehe…ehm, kalau di Mirror probes
113 lampu merah kan di bawah itu ada yang Pertanyaan tertutup

39
114 pakai menitan, kalau yang disini kan ga
115 ada…
116 EE: Iya
117 ER: Itu biasanya Mbak lebih memilih Pertanyaan tertutup
118 nunggu atau kalau misal keburu
119 langsung nerobos aja? Tidak menerobos lampu
120 EE: Nunggu aja. merah (S1, P, B 120-
121 ER: Nunggu aja, pernah nerobos juga ga? 122, Hal 38-39)
122 EE: Ga, soalnya saya ga berani. Hehe.. Mirror probes,
123 ER: Oo…kalau Mbak pergi ke, misal ke clearinghouse probes
124 atas gitu yang lebih atas Mbak belum Pertanyaan terbuka
125 tahu tempatnya itu e…Mbak biasanya
126 gimana naik motornya?
127 EE: Maksudnya?
128 ER: Bakalan pelan-pelan terus nyari-nyari Pertanyaan tertutup
129 atau kenceng dulu aja ntar kalau kira-
130 kira udah nyampe tempatnya ntar belok
131 tiba-tiba atau gimana gitu?
132 EE: E..pelan-pelan sambil nyari-nyari.
133 ER: Terus kira-kira kalau mau belok Pertanyaan tertutup
134 gimana? E…ngidupin lampu sign dulu Menghidupkan lampu
135 atau… sign (S1, P, B 136, Hal
136 EE: Ngidupin lampu sign dulu. 39)
137 ER: Pernah ga Mbak ini…ngrasain misalnya Pertanyaan terbuka
138 ada orang naik motornya tu kenceng
139 banget nyalip, terus Mbak kaget, apa
140 yang Mbak rasain tu?
141 EE: Degdegan, hehe..
142 ER: Terus? Nudging probes
143 EE: Takut.
144 ER: Gimana?
145 EE: Takut.
146 ER: Ya…apa, berpengaruh ga sama apa… Pertanyaan tertutup
147 keadaan Mbak naik motornya?
148 EE: E… kalau saya merasa lebih…naik
149 motornya jadi lebih pelan malah.
150 ER: Ooo…lebih pelan Clearinghouse probes
151 EE: Karena takut itu
152 ER: Tapi ga pernah ya yang Mbak sendiri Pertanyaan tertutup
153 yang ini yang apa namanya yang
154 ngedahuluin bikin kaget orang?
155 EE: Ga, hehe..
156 ER: E… kan kalau mbak di klakson juga Pertanyaan terbuka
157 kaget juga ya?
158 EE: He’e.
159 ER: Nah itu Mbak ini ga e…keseringan Pertanyaan tertutup
160 Mbak bunyiin klakson tu gimana?
161 EE: Kenapa?
162 ER: Bunyiin klaksonnya itu diwaktu Pertanyaan tertutup
163 dibutuhin aja apa misalnya buru-buru
164 terus apa agak ngalangin ne terus di
165 klakson atau gimana?
166 EE: Kalau misalnya ngalangin ga pernah ya,
167 ngalangin misalnya ada orang di depan
168 terus ngalangin, nglakson orang tu ga
169 pernah, paling pas perlu aja, kalau
170 misalnya e…di…di lampu merah dah
171 gitu belum jalan gitu, diklakson aja.
172 ER: Terus misal Mbak ne yang di klakson Clearinghouse probes
173 orang, tin..tin..tin.. karena mungkin
174 agak kepinggiran atau agak ke tengah
175 atau gimana itu Mbak bakalan gimana?

41
176 Ya bakal kesel, terus malah lebih
177 kenceng, apa apa pasrah aja minggir
178 atau gimana?
179 EE: Paling minggir, hehe.
180 ER: Ga pernah yang langsung ini, Pertanyaan tertutup
181 ah..ngebut aja? Tidak mengebut (S1, P,
182 EE: Ga pernah. B 182, Hal 40)
183 ER: E…apa, waktu Mbak naik motor itu Pertanyaan tertutup
184 pernah apa, dapet kecelakaan atau?
185 EE: E…kalau di.. kalau ditempatku dulu
186 pernah.
187 ER: Di Bangka? Pertanyaan tertutup
188 EE: Di Belitung.
189 ER: Oo… di Belitung. Mirror probes
190 EE: He’e..pernah jatuh di…di sekolahan
191 gitu.
192 ER: Di SMA? Pertanyaan tertutup
193 EE: He’e.
194 ER: Terus itu Mbak yang naik motor atau Restatement probes
195 yang bonceng?
196 EE: Yang naik motor, itu soalnya habis
197 hujan terus licin kan, terus e...banyak-
198 banyak air kaya gitu, e… kepleset gitu
199 lho motornya.
200 ER: Gara…nge-rem apa kena batu? Pertanyaan tertutup
201 EE: Nge-rem,
202 ER: Oo...
203 EE: Tanahnya tu licin terus nge-
204 remnya...jadi e... jatuh.
205 ER: Minggir gitu. Pertanyaan tertutup
206 EE: He’e.
207 ER: Terus masih sekolah apa ini apa e... Pertanyaan tertutup
208 langsung dibawa balik?
209 EE: E... waktu itu se ga apa-apa, cuman
210 kotor ya kena air jadi pulang dulu baru
211 balik sekolah.
212 ER: Itu ada trauma tersendiri ga sama naik Reflective probes
213 motor?
214 EE: Ga, hehe, ga ada trauma se.
215 ER: Nyantai-nyatai aja? Pertanyaan tertutup
216 EE: Iya.
217 ER: E... kan pernah kecelakaan tu, kalau Pertanyaan tertutup
218 misal Mbak yang naik motor
219 terusnyebabin orang kecelakaan pernah
220 ga?
221 EE: Ga pernah.
222 ER: Ga pernah, cuma nyaksikin...nyaksiin Mirror probes,
223 kecelakaan tu pernah? pertanyaan tertutup
224 EE: Belum pernah.
225 ER: Belum pernah juga, terus kalau Mbak di Mirror probes
226 jalan terus ada orang yang tiba-tiba
227 belok, Mbak kan nge-rem mendadak
228 tu?
229 EE: He’e
230 ER: Mbak bakalan nglakson dia apa Pertanyaan tertutup
231 ngebiarin dia belok dengan seenaknya
232 itu?
233 EE: Ngebiarin dia paling.
234 ER: Ngebiarin dia? Mirror probes
235 EE: Iya, hehe...
236 ER: Kalau jalan balik arah pernah juga? Pertanyaan tertutup
237 EE: Belum pernah Tidak salah jalur (S1, P,

43
238 ER: Misal jalannya tu ke sana cuma Mbak B 236-242, Hal 42)
239 lewat sebelah kiri ke sini?
240 EE: Belum pernah ketemu orang seperti itu.
241 ER: Kalau Mbak sendiri...kalau Mbak Pertanyaan tertutup
242 sendiri?
243 EE: Belum pernah.
244 ER: Belum pernah juga, Mbak kalau ini Mirror probes,
245 misal di jalan tu mbak lagi 60, pakai pertanyaan tertutup
246 apa kecepatan 60 itu kan lumayan
247 kenceng juga kalau di jalan sepi, itu
248 pernah nge-rem mendadak apa ga? Mengerem mendadak
249 EE: Pernah. (S1, P, B 248, Hal 43)
250 ER: Itu karena depannya yang nge-rem Clearinghouse probes
251 ataugimana?
252 EE: Karena depannya yang nge-rem, karena
253 misalnya kan terlalu deket gitu
254 orangnya nge-rem mendadak terus saya
255 juga nge-rem.
256 ER: E...ga..ga terus yang karena Mbak lupa Pertanyaan tertutup
257 atau o... ini harusnya belok sini terus
258 nge-rem itu pernah apa ga?
259 EE: Pernah, kalau kelewatan jalan gitu kan?
260 ER: He’e.
261 EE: Iya.
262 ER: Terus gimana biasanya yang lain, pada Restatement probes
263 gimana, yang kendaraan yang
264 belakangnya?
265 EE: E... paling nglaksonin juga.
266 ER: Kalau ini, apa misalnya ada polisi..
267 EE: Iya.
268 ER: Terus di... ada razia SIM STNK tapi
269 Mbak kebetulan lewat situ...
270 EE: Iya.
271 ER: Gimana Mbak? Pertanyaan tertutup
272 EE: Ini maksudnya seandainya apa... Tidak pernah ditilang
273 soalnya saya belum pernah mengalami. Polisi (S1, P, B 271-272,
274 ER: O... belum pernah. Hal 43)
275 EE: Iya.
276 ER: Oiya, kalau apalagi ya, emm... Pertanyaan tertutup
277 kendaraan sendiri di rumah ada?
278 EE: Kenapa?
279 ER: Kendaraan pribadi.
280 EE: Iya, motor.
281 ER: Mbak di rumah sering naik motor juga Pertanyaan tertutup
282 kan?
283 EE: Maksudnya di sini apa...?
284 ER: Di rumah di Belitung.
285 EE: Iya sering.
286 ER: Itu e… jaraknya da... kaya yang di sini Pertanyaan tertutup
287 apa lebih, agak lebih jauh lagi?
288 EE: Jaraknya agak lebih jauh lagi.
289 ER: Misal dari sini kemana gitu? Informational probes
290 EE: E... dari sini ke...
291 ER: Paling jauh Mbak ngendarai motor di
292 Belitung maksudnya?
293 EE: Kalau e… misalnya dari sini ke Pantai
294 Depok itu bisa.
295 ER: Kemana?
296 EE: Pantai Depok.
297 ER: Pantai Depok, o... Mbak pernah, pernah Mirror probes,
298 ngendarain di depan? pertanyaan tertutup
299 EE: Maksudnya jaraknya kalau dari

45
300 Belitung itu.
301 ER: He’e... jarak mbak ngendarain motor di Reflective probes
302 Belitung itu dari, misalnya dari sini
303 sampai ke Pantai Depok?
304 EE: Iya.
305 ER: Itu Mbak yang di depan? Restatement probes
306 EE: Iya.
307 ER: Dengan kecepatan yang sama kaya di Clearinghouse probes
308 sini atau ada yang lebih lagi?
309 EE: Kecepatan yang sama. Tidak mengebut (S1, P,
310 ER: 50-60 aja? B 308-310, Hal 45)
311 EE: Iya.
312 ER: Berarti ga apa... di saat sepi pun Mbak Pertanyaan tertutup
313 tetap segitu?
314 EE: Iya, hehe.
315 ER: E... kalau SIM, Mbak ingin… punya Pertanyaan tertutup
316 keinginan untuk buat SIM ga?
317 EE: Punya, soalnya saya pulangnya cuma
318 satu tahun sekali jadi rencananya mau
319 buat pas tahun depan gitu.
320 ER: O... tahun depan...
321 EE: Pas balik lagi ke sana.
322 ER: Emm, terus bawa motor lagi ke sini? Pertanyaan tertutup
323 EE: Iya.
324 ER: Kalau Mbak bawa motor ke sini, Mbak Informational probes
325 juga bakalan dari sini ke kampus aja
326 atau keliling Jogja… gimana?
327 EE: E… kayaknya ga deh kalau keliling
328 Jogja, hehe...
329 ER: Ga... maksudnya jalan-jalan ke agak ke Pertanyaan tertutup
330 bawah lagi?
331 EE: Iya.
332 ER: Mbak pernah, pernah sampai Pertanyaan tertutup
333 mengetahui apa… letak-letak di Jogja,
334 jalan-jalan misalnya agak ke Amplaz
335 atau ke Malioboro, Mbak tahu jalannya
336 kan?
337 EE: Tahu.
338 ER: Pernah di bonceng sampai situ apa Pertanyaan tertutup
339 pernah naik motor sampai situ?
340 EE: Pernah di bonceng.
341 ER: Cuma di bonceng aja? Mirror probes
342 EE: He’e.
343 ER: Ga pernah coba buat ngendarai sendiri? Clearinghouse probes
345 EE: Ga pernah.
346 ER: E... ya udah Mbak saya kira cukup, Penutupan dan salam
347 wawancaranya ini dulu, terima kasih (S1, P, B 346-350, Hal
348 atas informasinya, datanya ini sangat 46)
349 berguna untuk saya untuk latihan
350 praktikum ini...
351 EE: Iya.
352 ER: Dan terima kasih, wassalamu’alaikum Closing (S1, P, B 352-
353 wr. wb. 354, Hal 46)

354 EE: Wa’alaikumsalam wr. wb.

2. Verbatim Interviewee
2 (Significant Other)
Baris Uraian Tema
1 ER: Assalamu’alaikum Mbak? Opening dengan
2 EE: Wa’alaikumsalam. mengucap salam (S2, P,
3 ER: Selamat sore, maaf ganggu waktunya. B 1-2, Hal 46)
4 Kenalin nama saya Fera Perkenalan dan menjalin

47
5 Rahayuningtyas, dari Psikologi UII. report (S2, P, B 3-13,
6 Saya disini akan mewawancarai Mbak Hal 46)
7 untuk mengkroscek kembali data yang
8 saya peroleh dari Mbak Winda. E….
9 Mbak tenang aja karena informasi
10 Mbak beri… kasih untuk kami akan
11 dijaga kerahasiaannya. Oiya…
12 sebelumnya boleh ga wawancara ini
13 saya rekam?
14 EE: Emm… boleh.
15 ER: Dengan Mbak Nita Septiani ya? Personal inquiries
16 EE: Iya Mbak.
17 ER: Nama panggilannya siapa Mbak? Informational probes
18 EE: Em… panggil aja Nita.
19 ER: Mbak kuliah dimana? Informational probes
20 EE: Em… aku kuliah di Farmasi UII.
21 ER: O… di Farmasi UII. Mirror probes
22 EE: Iya.
23 ER: Mbak kenal dengan Mbak Winda Pertanyaan tertutup
24 Lestari?
25 EE: E… Winda anak Farmasi juga kan, iya
26 kenal, dia sekampus sama aku kok.
27 ER: Terus ada hubungan apa Mbak Nita Pertanyaan tertutup
28 dengan Mbak Winda?
29 EE: Saya bersahabat dengan Winda, ya
30 lumayan deket lah.
31 ER: O… temen deket ya? Pertanyaan tertutup
32 EE: Iya Mbak.
33 ER: Sudah berapa lama Mbak kenal dengan Informational probes
34 Mbak Winda?
35 EE: Kira-kira dari pertama kuliah disini lah, Teman dekat interviewee
36 ya dari tahun 2006 saya kenal dia, (S2, P, B 35-38, Hal 46)
37 berarti sekitar 3 tahunan, terus lama-
38 lama jadi temen deket deh.
39 ER: O… gitu, kira-kira Mbak tahu ga Pertanyaan tertutup
40 kebiasaannya Mbak Winda, termasuk
41 saat dia mengendarai motor?
42 EE: Ya jelas tahu dong Mbak, kan dia kalau Mengetahui kebiasaan
43 pergi ke kampus atau pergi maen dan interviewee ketika
44 kemana pun dia pasti bareng ma aku berkendara (S2, P, B 42-
45 kok. 45, Hal 47-48)
46 ER: Terus yang biasanya ngendarai motor Restatement pobes
47 siapa Mbak?
48 EE: Ya gantian, kadang aku yang di depan,
49 tapi kadang juga dia yang di depan.
50 Cuma seringnya sih aku, kalau aku
51 capek baru gantian.
52 ER: Kalau misalnya Mbak Winda yang di Clearinghouse probes
53 depan, biasanya gimana sih dia naik
54 motornya?
55 EE: E…ya dia kalau dia naik motornya Tidak mengebut (S2, P,
56 lumayan pelan ya menurutku ga B 55-59, Hal 48)
57 pernah lebih dari 60 km/ jam, soalnya
58 juga cuma di kampus aja jadi ga
59 kenceng-kenceng amat, e… kalau
60 misal pergi juga sih, dia juga cuma
61 sekitar jakal atas e… ga pernah
62 sampai ke bawah-bawah.
63 ER: Terus kalau naik motor gitu pakai helm Pertanyaan tertutup
64 ga?
65 EE: Kalau dia tu rajin banget pakai helmnya Menggunakan helm (S2,
66 Mbak, mau jauh apa deket juga pakai P, B 65-67, Hal 48)

49
67 helm.
68 ER: O… jadi kemana-mana selalu pakai Clearinghouse probes
69 helm ya Mbak? Menggunakan helm (S2,
70 EE: Iya. P, B 70, Hal 48)
71 ER: Mbak tahu ga, Mbak Winda itu sudah Pertanyaan tertutup
72 punya SIM apa belum?
73 EE: E… setauku sih belum ya, soalnya dia Tidak mempunyai SIM
74 juga ga ada motor disini. Katanya sih (S2, P, B 73, Hal 48)
75 baru mau bikin pas e… besok dia mau
76 pulang ke Belitung sekalian bawa
77 motor ke sini.
78 ER: E… selama Mbak kenal dengan Mbak Pertanyaan tertutup
79 Winda pernah ga dia ketilang? Tidak melanggar lalu
80 EE: Ketilang, kalau dia lagi pergi sama aku lintas (S2, P, B 80-81,
81 sih e… ga pernah ketilang tu mba. Hal 49)
82 ER: Terus kalau lagi ga sama Mbak pernah Restatement probes
83 ketilang juga ga?
84 EE: Setahuku sih ya Mbak ga juga, soalnya
85 kalau ada apa-apa sama dia, dia pasti
86 cerita sama aku.
87 ER: O… selalu curhat gitu ya Mbak ya, Pertanyaan tertutup
88 kalau nglanggar lalu lintas pernah ga?
89 EE: Uh… dia tu tertib banget sama lalu Tidak melanggar lampu
90 lintas, ga pernah nglanggar lampu merah, menaati tata tertib
91 merah, kalo ngendarain motor aja lalu lintas (S2, P, B 89-
92 Mbak di pinggir, pokoknya dia tu 93, Hal 49)
93 tertib banget deh Mbak.
94 ER: O… gitu, jadi hati-hati banget ya Mbak Clearinghouse probes
95 kalau naik motornya? Menaati tata tertib lalu
96 EE: Iya, dia tu udah hati-hati, tertib juga… lintas (S2, P, B 96-97,
97 hehe… Hal 49)
98 ER: E… terima kasih Mbak atas waktunya Appreciation (S2, P, B
99 dan kesediaannya untuk wawancara, 98-101, Hal 49)
100 informasi yang Mbak berikan sangat
101 berguna untuk kelengkapan data saya.
102 EE: Iya sama-sama ya Mbak.
103 ER: Iya, Assalamu’alaikum wr. wb. Closing (S2, P, B 103-
104 EE: Wa’alaikumsalam. 104, Hal 49)
Keterangan :
ER : Interviewer
EE : Interviewee
S1 : Subjek 1 (interviewer)
S2 : Subjek 2 (significant other)
P : Perempuan
B : Baris
Hal : Halaman

51
Daftar Pustaka

As’ad. 1986. Kepemimpinan Efektif Dalam Perusahaan. Yogyakarta : Liberty


Yogyakarta.
Bima Taufan, Andika. 2008. Skripsi : Proses Pengembangan Kepemimpinan
Profetik. Universitas Islam Indonesia.
Kartono, Kartini. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. PT. Raja grafindo Persada,
Jakarta.

Kusumadewi, Wijayani. 2002. Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan


Demokratis Dengan Komitmen Organisasi. Skripsi (tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam
Indonesia.
Najih, Achmad. 2000. Hubungan Antara Fungsi Kepemimpinan Dengan
Kepuasan Kerja Karyawan PT Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Daerah
Istimewa Yogyakarta. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas
Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia
Nawawi, Hadari. 2004. Kepemimpinan Yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Pardiningsih, Nopiyanti. 2008. Hubungan antara Risk Taking Behavior dengan


Aggressive Driving. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Available at
http://72.14.235.132/search?
q=cache:6bo1WguvUzgJ:dhimaskasep.files.wordpress.com/2008/03/09b-
teori
kepemimpinan.pdf+kepemimpinan+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=13&
gl=id&lr=lang_id.

53