Anda di halaman 1dari 15

Advocates and Legal

Consultants
Pinrang, 5 Oktober 2020
Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
Jl. Merdeka Utara No. 9-
13 Di Jakarta

Melalui

Yth. Ketua Pengadilan Negeri Pinrang


Jalan Jenderal Sukawati, Macorawalie, Watang Sawitto, Kabupaten
Pinrang, Sulawesi Selatan

Perihal : Kontra Memori Peninjauan Kembali Terhadap Memori


Peninjauan Kembali atas Putusan Kasasi Mahkamah
Agung R.I Nomor : 3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret
2007 jo Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan
Nomor : 327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember
2000 jo Putusan Pengadilan Negeri Pinrang Nomor :
04/PDT.G/1999/PN.Pinrang tanggal 21 Februari 2000.

Dengan hormat, perkenankan kami, BAMBANG SRI MARTONO, S.H.,


MUHAMMAD BERKAH AULIA S.H., Advokat atau Konsultan Hukum pada
Kantor Hukum BSM Law Office Advocates and Legal Consultants,
beralamat kantor di Jalan Kemangi Nomor 53 Sungai Kunjang, Kota
Samarinda, Kalimantan Timur, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri
berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 19 September 2020 bertindak
untuk dan atas nama:

Nama : LAKARIM Bin TOLA


Tempat, Tgl Lahir : Pinrang, 11 Maret 1961
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jalan Mangkupalas Nomor 131, RT 013, Kelurahan
Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota
Samarinda, Kalimantan Timur.
1
Jalan Kemangi Nomor 53, Sungai Kunjang, Samarinda
Kalimantan Timur Phone: +62811-1822-509
Email: bsm_rechten@gmail.com
untuk selanjutnya disebut sebagai TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI
(dahulu Termohon Kasasi/Pembanding/Tergugat).

Dengan ini mengajukan KONTRA MEMORI PENINJAUAN KEMBALI


sehubungan dengan adanya Memori Peninjauan Kembali yang diajukan
oleh PARUSSANGI ALIAS RUSTAN sebagai PEMOHON PENINJAUAN
KEMBALI (dahulu Pemohon Kasasi/Terbanding/Penggugat) yang telah
didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pinrang pada tanggal 8
September 2020 atas Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212
K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007 jo Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi
Selatan Nomor : 327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000 jo
Putusan Pengadilan Negeri Pinrang Nomor : 04/PDT.G/1999/PN.Pinrang
tanggal 21 Februari 2000.

Bahwa TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Termohon


Kasasi/Pembanding/Tergugat) terlebih dahulu menerangkan hal-hal
sebagai berikut:

Amar Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212


K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007, berbunyi:

MENGADILI

1. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi I: PARUSSANGI


alias RUSTAN tersebut;

2. Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara


dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp.200.000,- (dua ratus
ribu rupiah).

Amar Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan Nomor :


327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000, berbunyi:

MENGADILI

 Menerima permohonan banding dari Tergugat Pembanding;


 Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Pinrang tanggal 21
Pebruari 2000 No.04/Pdt.G/1999/PN.Pinrang yang dimohonkan
banding;

MENGADILI SENDIRI

 Menolak gugatan Penggugat seluruhnya;

 Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara dalam


keuda tingkat peradilan, yang dalam kedua tingkat pertama
sebesar Rp.145.000,- (Seratus empat puluh lima ribu rupiah) dan
pada tingkat banding sebesar Rp.73.000,- (Tujuh puluh tiga ribu
rupiah)

Amar Putusan Pengadilan Negeri Pinrang Nomor :


04/PDT.G/1999/PN.Pinrang tanggal 21 Februari 2000, berbunyi:

MENGADILI

1) Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk sebagian;

2) Menyatakan menurut hukum bahwa:

I. Sebidang tanah kering/ tanah perumahan luas ± 0,06 Ha (are)


Nomor persil 23 D II yang terletak di Kampung Barang, Desa
Barangpalie, dulunya Kecamatan Mattiro Sompe, sekarang
diganti nama Kecamatan Persiapan Lanrisang, Kabupaten
Pinrang dengan batas-batas sebagai berikut:

 Pada sebelah Utara dulunya dengan batas Karing bin Tola


sekarang sawah sengketa I;

 Pada sebelah Timur dulunya tanah Palladuku sekarang


tanah milik Dara;

 Pada sebelah Selatan dulunya tanah Mamma Sissang


sekarang tanah milik Rasyad;

 Pada sebelah Barat dulunya tanah milik Karing bin Tola


sekarang sawah sengketa II/ sawah Baddun;
II. 2 (dua) petak sawah seluas ± 0,11 ha (11 are) persil Nomor 24
S.I Kohir Nomor 148 yang terletak di Kampung Barang, Desa
Barangpalie, dulunya Kecamatan Mattiro Sompe, sekarang
diganti nama Kecamatan Persiapan Lanrisang, Kabupaten
Pinrang, dengan batas-batas sebagai berikut:

 Pada sebelah Utara Jalan Poros Langga;

 Pada sebelah Timur dulunya tanah milik Karing bin Tola


sekarang tanah milik Dara/tanah obyek sengketa I;

 Pada sebelah Selatan dulunya sawah milik Mahmud Naing


sekarang milik Beddu;

 Pada sebelah Barat dulunya batas Kar sekarang tanah


milik La badu;

Adalah milik sah Penggugat

3) Menyatakan menurut hukum bahwa penguasaan Tergugat atas


tanah obyek sengketa I dan sawah obyek sengketa II adalah
penguasaan secara tidak sah/penguasaan melawan hukum;

4) Menyatakan menurut hukum bahwa surat jual-beli yang dibuat di


muka PPAT masing-masing dengan surat:

 Jual-beli tanah obyek sengketa I tanggal 4 Pebruari 1993,


Nomor: 594.4 /11/ KMS / 1993;

 Jual-beli sawah obyek sengketa II tanggal 4 Pebruari 1993,


Nomor: 594.4 /12/ KMS / 1993;

Adalah menurut hukum dan Undang-Undang yang berlaku;

5) Menyatakan bahwa segala surat-surat yang ada


didalam/kekuasaan Tergugat yang berkenaan dengan tanah
obyek sengketa I dan sawah obyek sengketa II adalah tidak sah
dan tidak mempunyai kekuatan hukum apapun;
6) Menghukum Tergugat atau siapa saja yang ikut/turut
menguasai/menempati tanah obyek sengketa I dan sawah obyek
sengketa II tersebut diatas atas izin Tergugat untuk menyerahkan
kepada Penggugat dalam keadaan kosong/membongkar rumah
Tergugat dan memindahkannya dari atas tanah obyek sengketa I
dan sawah obyek sengketa II dalam keadaan bebas tanpa beban
hukum apapun diatasnya;

7) Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul


dalam perkara ini sebesar Rp.145.000,- (serratus empat puluh
lima ribu rupiah);

8) Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.

Adapun Kontra Memori Peninjauan Kembali yang diajukan oleh


TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Termohon
Kasasi/Pembanding/Tergugat) ini, disampaikan sebagai berikut :

1. Bahwa pada tanggal 17 September 2020 TERMOHON PENINJAUAN


KEMBALI menerima Relas pemberitahuan pernyataan peninjauan
kembali dan penyerahan memori peninjauan kembali yang pada
pokoknya memberitahukan PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI telah
menyatakan Peninjauan Kembali pada tanggal 08 September 2020 di
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pinrang atas Putusan Kasasi
Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret
2007 jo Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan Nomor :
327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000 jo Putusan
Pengadilan Negeri Pinrang Nomor : 04/PDT.G/1999/PN.Pinrang
tanggal
21 Februari 2000, dengan demikian berdasarkan Pasal 72 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Makamah Agung
yang berbunyi “Tenggang waktu bagi fihak lawan untuk
mengajukan jawabannya sebagaimana dimaksudkan ayat (1)
huruf a adalah 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya
salinan permohonan peninjauan kembali”, penyerahan Kontra
Memori Peninjauan Kembali yang diajukan oleh TERMOHON
PENINJAUAN KEMBALI masih dalam jangka waktu yang ditentukan
oleh Undang-Undang, maka sudah seharusnya dapat dipertimbangkan
dan diterima oleh Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang
Mulia Hakim Agung yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara
a quo;

2. Bahwa PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI dalam memori Peninjauan


Kembali menjelaskan alasan Peninjauan Kembali adalah adanya bukti
baru (Novum) yang bersifat menentukan dan Judex Factie pada tingkat
banding terdapat suatu kekhilafan dan kekeliruan;

3. Bahwa adapun alasan keberatan TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI


dalam Kontra Memori Peninjauan Kembali ini adalah jangka waktu
pengajuan permohonan peninjauan kembali oleh PEMOHON
PENINJAUAN KEMBALI melebihi batas waktu yang telah ditentukan
oleh Undang-Undang;

4. Bahwa ketentuan yang mengatur mengenai pemeriksaan peninjauan


kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap diatur dalam Pasal 67 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2004 tentang Mahkamah Agung yang berbunyi: ”Permohonan
peninjauan kembali putusan perkara perdata yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap dapat diajukan hanya berdasarkan alasan-
alasan sebagai berikut:

a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu


muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus
atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim
pidana dinyatakan palsu;

b. Apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang


bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak
dapat ditemukan;
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih
dari pada yang dituntut;

d. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus


tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya;

e. Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang


sama, atas dasar yang sama oleh Pengadilan yang sama atau
sama tingkatnya telah diberikan putusan yang bertentangan satu
dengan yang lain;

f. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan Hakim


atau suatu kekeliruan yang nyata.

5. Bahwa selanjutnya dalam Pasal 69 Undang-Undang Nomor 14 Tahun


1985 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung menyatakan : “Tenggang
waktu pengajuan permohonan peninjauan kembali yang
didasarkan atas alasan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal
67 adalah 180 (seratus delapan puluh) hari untuk :

a. Yang disebut pada huruf a sejak diketahui kebohongan atau tipu


muslihat atau sejak putusan Hakim pidana memperoleh kekuatan
hukum tetap, dan telah diberitahukan kepada para pihak yang
berperkara;

b. Yang disebut pada huruf b sejak ditemukan surat-surat bukti, yang


hari serta tanggal ditemukannya harus dinyatakan di bawah
sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang;

c. Yang disebut pada huruf c, d, dan f sejak putusan memperoleh


kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan kepada para pihak
yang berperkara;

d. Yang tersebut pada huruf e sejak sejak putusan yang terakhir dan
bertentangan itu memperoleh kekuatan hukum tetap dan telah
diberitahukan kepada pihak yang berperkara.”
6. Bahwa ketentuan Pasal 67 huruf b jo. Pasal 69 huruf b Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung,
menurut M. Yahya Harahap di dalam bukunya berjudul “Kekuasaan
Mahkamah Agung; Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan Kembali Perkara
Perdata”, terdapat 4 (empat) bagian yang dapat dijelaskan terkait dengan
Pasal 67 huruf b jo. Pasal 69 huruf b tersebut, yaitu :

1) Penerapan alasan permohonan peninjauan kembali (PK) ini


terbatas hanya pada bentuk Alat Bukti Surat.

2) Alat Bukti Surat, yang memenuhi alasan permohonan peninjauan


kembali (PK) ini, harus bersifat menentukan.

3) Hari dan tanggal alat bukti surat itu ditemukan, harus dinyatakan
di bawah sumpah dan disahkan penjabat yang berwenang.

4) Alat bukti surat itu telah ada sebelum proses pemeriksaan perkara.

7. Bahwa hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 3 Peraturan Mahkamah


Agung R.I. Nomor 1 Tahun 1980 tentang Peninjauan Kembali
Putusan Yang Telah Memperoleh Kekuatan Hukum Tetap yang
berbunyi:

“Permohonan itu harus diajukan dalam jangka


waktu 6 bulan setelah terhadap putusan tersebut
tidak lagi dapat diajukan perlawanan, banding dan
kasasi”.

8. Bahwa penemuan bukti baru (Novum) oleh PEMOHON PENINJAUAN


KEMBALI ditemukan pada hari Senin tanggal 10 Agustus 2020
dirumah saudara kandung PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI
bernama Rahmatia binti Rincing, beralamat di Dusun Barang, Desa
Barangpalie, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi
Selatan;
9. Bahwa penemuan bukti baru (Novum) tersebut setelah 13 (tiga belas)
tahun 7 (tujuh) bulan sejak Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I
Nomor : 3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007 telah berkekuatan
hukum tetap, sehingga membuat kami TERMOHON PENINJAUAN
KEMBALI mempertanyakan keaslian dan keabsahan bukti baru
(Novum) yang diajukan oleh PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI dalam
permohonan Peninjauan Kembali, karena patut diduga adanya indikasi
usaha untuk membuat kabur kebenaran fakta persidangan dan/atau
merekayasa alasan-alasan Peninjauan Kembali agar tidak menjalankan
dan/atau menunda Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212
K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007 yang telah berkekuatan hukum
tetap;

10. Bahwa alasan PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI yang menjelaskan


Putusan Judex Factie pada tingkat banding telah salah dalam
menerapkan hukum adalah tidak perlu untuk dipertimbangkan oleh
Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang Mulia Hakim Agung
pada tingkat Peninjauan Kembali dalam memeriksa, mengadili dan
memutus perkara a quo, dikarenakan alasan PEMOHON PENINJAUAN
KEMBALI tersebut telah melampaui batas waktu pengajuan
Peninjauan Kembali yaitu 180 (seratus delapan puluh hari) sejak
Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212 K/PDT/2001
tanggal 29 Maret 2007 telah berkekuatan hukum tetap;

11. Bahwa menurut hemat TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI haruslah


dipandang telah terjadi kekeliruan didalam mengajukan permohonan
Peninjauan Kembali dan karenanya menurut hukum haruslah
dipandang permohonan Peninjauan kembali a quo dinyatakan ditolak
atau tidak dapat diterima;

12. Bahwa TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI menolak dengan tegas


seluruh dalil-dalil sebagai alasan yang dikemukakan PEMOHON
PENINJAUAN KEMBALI karena hanya merupakan pengulangan belaka
dari apa yang sudah dikemukakan dalam persidangan terdahulu serta
tidak terdapat keadaan baru yang dapat menimbulkan dugaan kuat
bahwa jika keadaan itu sudah diketahui setidak-tidaknya keadaan
tersebut sudah diketahui pada waktu sidang/proses pemeriksaan
perkara ini masih berlangsung;

13. Bahwa menanggapi dalil-dalil PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI


dalam memori Peninjauan Kembali halaman 6 dan halaman 10 terkait
Novum PK-1 (Surat Pernyataan tertanggal 27-1-1993), Novum PK-2
(Surat Pernyataan tertanggal 27-1-1993), dan Novum PK-3 (Surat
Pernyataan tertanggal 27 Januari 1993) yang diajukan oleh PEMOHON
PENINJAUAN KEMBALI adalah tidak benar, mengada-ngada dan tidak
beralasan hukum, sebab telah diketahui pada fakta persidangan bahwa
TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI adalah Tuna Aksara (tidak
dapat membaca dan menulis) dan TERMOHON PENINJAUAN
KEMBALI tidak mengetahui terkait adanya Novum PK-1 (Surat
Pernyataan tertanggal 27-1-1993), Novum PK-2 (Surat Pernyataan
tertanggal 27-1-1993) dan Novum PK-3 (Surat Pernyataan tertanggal
27 Januari 1993), sehingga Novum PK-1 (Surat Pernyataan tertanggal
27-1-1993), Novum PK-2 (Surat Pernyataan tertanggal 27-1-1993) dan
Novum PK-3 (Surat Pernyataan tertanggal 27 Januari 1993) diragukan
kebenarannya dan patut diduga dokumen tersebut sengaja dibuat
untuk mengaburkan kebenaran fakta persidangan, oleh karena itu
Novum PK-1 (Surat Pernyataan tertanggal 27-1-1993), Novum PK-2
(Surat Pernyataan tertanggal 27-1-1993) dan Novum PK-3 (Surat
Pernyataan tertanggal 27 Januari 1993) haruslah dikesampingkan;

14. Bahwa menanggapi dalil-dalil PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI


dalam memori Peninjauan Kembali halaman 9 terkait Novum PK-2
(Surat Perjanjian tertanggal 1 Desember 1992) adalah tidak benar,
mengada-ngada dan tidak beralasan hukum, sebab tidak pernah ada
perjanjian tertulis sebagaimana yang PEMOHON PENINJAUAN
KEMBALI dalilkan dalam memori Peninjauan Kembali. Bahwa hal
tersebut merupakan hal yang tidak ada namun kemudian sengaja
dibuat-buat atau direkayasa untuk mengaburkan fakta persidangan
dengan memanfaatkan kelemahan pada diri TERMOHON PENINJAUAN
KEMBALI yang merupakan Tuna Aksara (tidak dapat membaca dan
menulis). Bahwa selama persidangan berlangsung PEMOHON
PENINJAUAN KEMBALI tidak pernah
menguraikan/menjelaskan/menerangkan terkait adanya perjanjian
tertulis antara PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI dan TERMOHON
PENINJAUAN KEMBALI baik itu didalam gugatannya maupun
keterangan saksi-saksi di persidangan, sehingga dengan demikian
cukup beralasan hukum bahwa Novum PK-2 (Surat Perjanjian
tertanggal 1 Desember 1992) diragukan kebenarannya dan patut
diduga dokumen tersebut sengaja dibuat untuk mengaburkan
kebenaran fakta persidangan, oleh karena itu Novum PK-2 (Surat
Perjanjian tertanggal 1 Desember 1992) haruslah dikesampingkan;

15. Bahwa menanggapi dalil-dalil PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI


dalam memori Peninjauan Kembali halaman 11 terkait Novum PK-2.1
(Surat Pernyataan tertanggal 7 Januari 1993 dari Pihak UD Adi Jaya
Motor) adalah tidak tepat dan tidak beralasan hukum, sebab
PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI tidak beritikad baik dan sengaja
mengaburkan kebenaran fakta persidangan dengan mengajukan
Novum PK-2.1 (Surat Pernyataan tertanggal 7 Januari 1993 dari Pihak
UD Adi Jaya Motor) karena apabila benar surat pernyataan yang
dikeluarkan oleh Pihak UD Adi Jaya Motor tersebut, maka sekurang-
kurangnya PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI
menguraikan/menjelaskan/menerangkan dalam gugatannya dan/atau
mengajukan saksi dari Pihak UD Adi Jaya Motor dalam persidangan,
namun faktanya dalam persidangan PEMOHON PENINJAUAN
KEMBALI dan TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI tidak pernah
membahas terkait hal tersebut, oleh karena itu maka Novum PK-2.1
(Surat Pernyataan tertanggal 7 Januari 1993 dari Pihak UD Adi Jaya
Motor) haruslah dikesampingkan;

16. Bahwa berdasarkan hal tersebut dapatlah ditegaskan Permohonan


Peninjauan Kembali yang diajukan oleh PEMOHON PENINJAUAN
KEMBALI tidak terdapat alasan hukum maupun bukti baru atau
keadaan baru yang dapat menimbulkan dugaan kuat, oleh karena itu
kiranya Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang Mulia Hakim
Agung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata di tingkat
Peninjauan Kembali berkenan menolak Permohonan Peninjauan
Kembali yang diajukan oleh PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI;

17. Bahwa terhadap alasan permohonan Peninjauan Kembali yang


diajukan oleh PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI didalam memori
Peninjauan Kembali halaman 12 poin ke-5 yang mendalilkan bahwa
Judex Factie tingkat banding dalam Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi
Selatan Nomor : 327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000
telah salah dalam menerapkan hukum adalah tidak perlu untuk
dipertimbangkan oleh Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang
Mulia Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata di
tingkat Peninjauan Kembali, dikarenakan alasan PEMOHON
PENINJAUAN KEMBALI tersebut telah melampaui batas waktu
pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali yaitu 180 (seratus
delapan puluh hari) yang diajukan setelah 13 (tiga belas) tahun 7
(tujuh) bulan sejak Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I Nomor :
3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007 telah berkekuatan
hukum tetap;

18. Bahwa pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis Hakim Judex Factie


tingkat banding dalam Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan
Nomor : 327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000 yang
dikuatkan dan ditegaskan oleh Putusan Kasasi Mahkamah Agung R.I
Nomor : 3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret 2007 adalah telah tepat
dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku serta telah
menunjukkan rasa keadilan bagi TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI
karena telah berdasarkan fakta-fakta persidangan baik yang diperoleh
dari bukti-bukti surat maupun saksi-saksi yang diajukan oleh
PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI dan TERMOHON PENINJAUAN
KEMBALI;

Maka berdasarkan dalil-dalil keberatan dalam Kontra Memori Peninjauan


Kembali tersebut diatas, dengan ini TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI
(dahulu Termohon Kasasi/Pembanding/Tergugat) memohon amar
putusan sebagai berikut ;

MENGADILI
1. Menerima Kontra Memori Peninjauan Kembali dari TERMOHON
PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Termohon
Kasasi/Pembanding/Tergugat) untuk seluruhnya;

2. Menolak permohonan Peninjauan Kembali dari PEMOHON


PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Pemohon
Kasasi/Terbanding/Penggugat) untuk seluruhnya;

3. Menyatakan pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali yang


diajukan oleh PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Pemohon
Kasasi/Terbanding/Penggugat) telah melampaui batas waktu
pengajuan yang telah ditentukan oleh Undang-Undang;

4. Menguatkan Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan Nomor :


327/PID/2000/PT.MKS tanggal 14 Desember 2000 jo Putusan Kasasi
Mahkamah Agung R.I Nomor : 3212 K/PDT/2001 tanggal 29 Maret
2007;
MENGADILI SENDIRI

1. Menyatakan gugatan PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI (dahulu


Pemohon Kasasi/Terbanding/Penggugat) tidak dapat diterima atau
ditolak secara keseluruhan;

2. Menghukum PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI (dahulu Pemohon


Kasasi/Terbanding/Penggugat) untuk membayar biaya perkara.

A t a u,
Apabila Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang Mulia Hakim
Agung yang memeriksa dan mengadili perkara ini dalam tingkat
Peninjauan Kembali berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya
(ex aquo et bono).

Demikianlah Kontra Peninjauan Kembali ini TERMOHON PENINJAUAN


KEMBALI (dahulu Termohon Kasasi/Pembanding/Tergugat) ajukan
kepada Yang Mulia Ketua Mahkamah Agung R.I. c.q. Yang Mulia Hakim
Agung yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo, atas
perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Hormat Kami,
Kuasa Hukum Termohon Peninjauan Kembali

BAMBANG SRI MARTONO, S.H.,

MUHAMMAD BERKAH AULIA S.H.,