Anda di halaman 1dari 11

Nama : Aprilia Pratiwi

NIM : 182210101151
Kelas : B2.4

Resume Diskusi P3. Pembuatan Sediaan Infus KCl 0,38% Isotonis cum Glucose
Sebanyak 100 ml, 2 kemasan

Sediaan infus merupakan sediaan parenteral yang digunakan dengan cara menginjeksi ke
dalam pembuluh darah melalui intravena. Larutan infus yang diberikan dapat berupa larutan
elektrolit atau mengandung bahan obat tertentu. Larutan elektrolit diberikan pada pasien yang
mengalami shock, kehilangan cairan tubuh karena dehidrasi atau kelaparan. Dalam
pembuatannya sering diberi zat tambahan yang berfungsi untuk mendapatkan larutan dengan
nilai tonisitas dan pH yang sesuai. Konsentrasi dari elektrolit dalam suatu larutan paernetral
(infus) biasanya dinyatakan dalam persen w/v, miliequivalen (mEq), atau miliosmol (mOsm).
Sediaan infus didalamnya bukan hanya berisi air melainkan ada beberapa bahan tambahan
berupa cairan ion. Infus termasuk sediaan single dose bukan multidose karena pada sediaan infus
penggunaannya sekali pakai dan tidak digunakan secara berulang. Tetesan pada infus berupa
cairan fisiologis, cairan ini berupa cairan yang isotonis dengan cairan didalam tubuh. Sediaan
infus yang fisiologis yang dimasukkan kedalam tubuh berisi NaCl 0,9% , sediaan ini merupakan
cairan fisiologis yang menggantikan cairan fisiologis yang hilang didalam tubuh.
Syarat minimal dari sediaan infus diantaranya:
1. Bebas dari pirogen dan partikel asing
2. Harus steril dan jernih dari partikel yang melayang.
3. Isotonis dengan plasma darah pada rentang pH 5-7 4.
4. Jika bukan emulsi maka digunakan pelarut air tidak disarankan menggunakan pelarut
minyak kecuali dibentuk sediaan emulsi
Pirogen merupakan segala sesuatu senyawa yang tidak diinginkan seperti mikroorganisme
yang masuk kedalam tubuh kita dan dapat menyebabkan kenaikan suhu tubuh. Selama tidak
menyebabkan kenaikan tubuh itu tidak masalah. Sedangkan Partikel merupakan kepingan-
kepingan kecil tidak larut pada larutan namun tidak menyebabkan demam. Partikel asing dalam
jumlah besar sangat berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya emboli. Emboli adalah
suatu kondisi di mana sebuah benda asing masuk dan terbawa aliran darah kemudian menyumbat
aliran darah ke suatu organ. karena aliran darah dan oksigen tersumbat, maka organ tersebut akan
mengalami gagal fungsi. Sehingga pada sediaan infus tidak diperbolehkan adanya partikel asing
dan harus bebas pirogen. Terdapat dua jenis pengecekan pirogen yaitu dengan cara kuantitatif
dan kualitatif sedangkan partikel asing dilakukan dengan pengecekkan secara manual. Pada
pirogen walaupun dia tidak kasat mata dan konsentrasi terlalu tinggi maka akan menyebabkan
terjadinya demam.
Secara umum ada beberapa cara/metode alat yang kita gunakan untuk produksi steril bebas
pirogen.
In aktivasi (meng in aktifkan
a. In aktivasi pemanasan (Pemanasan kering pada suhu tinggi dan pemanasan basah).
b. In aktivasi biologis.
c. In aktivasi non pemanasan ( hidrolisis asam basa, oksidasi, alkilasi, radiasi penisasi).
Removel (Menghilangkan) : Menghilngkan tanpa mematikan pirogen pada alat stb
(pembilasan (pirogen menggunakan aqua steril bebas pirogen dan dikeringkn dengan
menggunakan suhu tidak boleh menggunkan lap/tissue, filtrasi, absorbsi dengn norit)
a. Pembilasan hanya untuk alat bukan untuk sediaan. Pembilasan ini menggunakan aqua
steril bebas pirogen dan pengeringan menggunakan oven tidak boleh menggunakan
lap/tissue.
b. Destilasi
c. Osmosi balik
d. Karbon balik
Osmosis merupakan proses cairan untuk berpindah menembus membran permeable.
Sedangkan tonisitas adalah keadaan atau kemampuan untuk menyebabkan sel itu
kehilangan atau ketambahan air.tergantung dari konsentrasi solute pada dua sisi. Tonisitas
slalu berkaitan dengan perbandingan sedangkan pH tidak dibandingkan
Isotonis : Konsentrasi solut didalam dan diluar membran sel sama / konsentrasi air
di dalam dan dluar sama maka proses osmosis tetap terjadi, perpindahan air
mengalami kesetimbangan. Pada isotonis proses osmosis tetap terjadi maka air akan
tetap berpindah tapi perbedaan air dalam keadaan setimbang sama dengan yang
keluar. Karena konsentraso solute dan air sama. Sehingga kondisi ini yang
diinginkan pada sediaan steril.
Metode perhitungan isotonis diantaranya :
a. Penurunan titik beku.
b. Equivalen Nacl
c. Faktor disosiasi
d. Metode wigjtsincen
Hipotonis : Konsentrasi solute didalam sel lebih besar dibandingkan solute diluar
sel. Solven ada pelarut yang melarutkan sedangkan solute zat yang dilarutkan.
Kondisi hipotonis adalah ada perpindahan air dari luar sel kedalam sel karena
kosentrasi air diluar sel lebih tinggi dibandingkan didalam sel sehingga air akan
berusaha mengencerkan solute yang ada didalam sel dan air akan masuk pada sel
membran hal ini disebut osmosis karena air masuk kedalam. Hipotonis dapat
berbahaya karena dapat menyebabkan lisis sel ireversibel (tidak dapat kembali
seperti semula).
Ex : NaCl (Nacl didalam lebih banyak dibandingkan NaCl yang berada diluar sel.
Hypertonis : konsentrasi air diluar sel lebih banyak dibadingkan konsetras didalam
sel, konsentrasi solute didalam lebih kecil dibandingkankonsentrasi solute diluar
sel.

Gambar 1. Kondisi yang menggambarkan keadaan sel plasma ketika larutan


sediaan hipotonis, isotonis, dan hipertonis.
Berhubungan dengan syarat minimal ketiga, hal pertama yang harus diperhatikan
dalam formulasi infus adalah tonisitas sediaan. Sediaan infus harus dibuat dalam kondisi
isotonis sebab cairan isotononis memiliki osmolaritas yang hampir sama dengan darah.
Apabila sediaan dalam bentuk hipotonis maka dapat mengakibatkan pembengkakan sel
sehingga terjadi hemodialisis, sedangkan apabila larutannya hipertonis, sel akan
mengalami penyusutan atau krenasi, seperti pada gambar 1.
Jika kondisi tidak memungkinkan untuk dibuat isotonis lebih baik dipilih dalam
keadaan sedikit hipertonis, dimana tubuh akan berusaha membuat larutan tersebut menjadi
sama tonisitasnya dengan tubuh. Cairan yang ada di dalam sel akan tertarik keluar untuk
megencerkan larutan yang hipertonis tersebut, sebaliknya jika yang menuju sirkulasi
sistemik merupakan larutan hipotonis, maka cairan yang ada diluar sel akan masuk ke
dalam sel untuk menyamakan tonisitas di dalam dan luar sel sehingga dapat menyebabkan
sel mengembang dan lama-kelamaan akan tejadi hemodialisis. Namun tetap harus
diperhatikan bahwa, pada kondisi hipertonis sediaan harus diberikan dengan kecepatan
yang lambat dan secara perlahan melalui vena besar untuk memberikan kesempatan larutan
injeksi "diencerkan" oleh plasma darah.
Pada sediaan steril pH fisiologsinya yaitu 5-7. Jika pH kurang 5-7 maka akan
menyebabkan rasa nyeri karena adanya perbedaan pH didalam tubuh, namun jika masuk
kedalam pembuluh darah harus diperhatikan pH darah normalnya 7,4 , pH 5 menyebabkan
nyeri. Perlu kita ketahui tubuh kita mempunyai dapar fosfat. Dapar adalah menyamakan Ph
semua cairan yang masuk kedalam tubuh kita.
Pada praktikum dilakukan pembuatan sediaan steril infus kalium klorida (KCl)
0,38% isotonis cum glukosa sebanyak 100 ml. KCl merupakan senyawa yang
diindikasikan untuk terapi preventif dan kuratif defisiensi kalium (K + ) yaitu hipokalemia
maupun sebagai sumber ion K +. (KCl adalah garam yang paling banyak diberikan, pada
kebanyakan pasien alkalosis metabolik sebab kondisi ini sering disertai dengan penurunan
klorida akibat sekresi oleh gastrointestinal atau penggunaan diuretik yang secara signifikan
berkontribusi terhadap hilangnya K + dari renal. Dalam kasus ini, mengganti klorida
bersama dengan K+ sangat penting untuk mengobati alkalosis dan mencegah kehilangan
K+ lebih lanjut. Selain itu, sediaan ini banyak digunakan karena hypochloremic alkalosis
pada pasien hipokalemia dapat diatasi dengan ion klorida yang ada dalam formulasinya
Untuk membuat infus KCl 0,38% menjadi isotonis dapat dilakukan dengan
penambahan eksipien yang diklasifikasikan sebagai agen tonisitas atau tonisitas adjuster
oleh USP 29-NF 24, diantaranya dextrose, glukosa, sukrosa, gliserin, manitol, natrium
klorida (NaCl) (United States Pharmacopeial Convention, 2005) atau povidon. Namun,
pada praktikum tidak digunakan NaCl karena KCl incompatible dengan adanya HCl, NaCl,
dan MgCl yang mana akan menurunkan kelarutan KCl dalam air
Pada praktikum lebih dipilih glukosa yaitu dextrose sebab dapat membantu proses
penyembuhan hipokalemia dengan mekanisme memudahkan masuknya ion kalium (K+ )
ke dalam jaringan melalui mekanisme ion kanal dan keberadaannya dalam pembuluh darah
dapat mempercepat absorbsi potassium hydride (KH) pada pasien dengan. kondisi
hipokalemia, sehingga onset penyembuhan hipokalemia lebih cepat. Beberapa cara dapat
digunakan untuk menghitung nilai isotonis (tonisitas) suatu larutan antara lain metode
ekuivalensi NaCl, penurunan titik beku, faktor disosiasi, dan metode white-vincent. Niazi
(2009) dalam Second Edition Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations
Sterile Products Vol.6 menyebutkan bahwa kuantitas potassium chloride (KCl) untuk
sediaan intravena; larutan, injeksi ialah 0,382 % maka pada formulasi kali ini KCl
dibutuhkan 0,38%.
Selain KCl sebagai bahan aktif untuk terapi hipokalemia dan glukosa dextrose
sebagai agen tonisitas digunakan juga eksipien lain dengan fungsi sebagai berikut:
HCl sebagai pH adjuster untuk membuat pH sediaan sama dengan pH plasma
tubuh
Norit sebagai carbo-adsorbent untuk membebaskan sediaan dari pirogen
Aqua steril bebas pirogen sebagai pelarut Namun pada kasus ini juga glukosa
dapat diserap oleh norit, alasan praktikum kami menggunakan norit yaitu karena
norit dapat penyerap (absobsi ) pirogen dan jika kita menggunakan KCl dan HCl
jika dicampurkan maka akan menyebabkan penghambatan.
Bahan Bahan Pada Formulasi
1. Glukosa
Karakteristik glukosa yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan sediaan
ini ialah sifat glukosa yang akan terkaramelisasi pada suhu yang sangat tinggi.
Karamel merupakan 5- hydroxymethylfurfural (5-HMF) yang termasuk ke dalam
senyawa alergen, senyawa ini bersifat hepatotoksik dan dapat menyebabkan timbulnya
reaksi seperti yang diakibatkan pyrogen misalnya demam. Kemudian uji
genotoksisitas secara in vitro menunjukkan hasil yang positif ketika prakondisi
metabolik untuk pembentukan metabolit HMF terpenuhi (Abraham et al., 2011).
Kerugian lain ialah sediaan infus dapat mengalami perubahan warna larutan menjadi
kuning kecokelatan karena adanya polimerisasi 5-HMF.
Produk dari reaksi Maillard yaitu 5-HMF mudah dibentuk di bawah kondisi asam
melalui dehidrasi gula C6 (Ünüvar, 2018) yang dikatalisis oleh asam dari tiga molekul
air (Wilson et al., 2014). Kondisi pemrosesan makanan, seperti suhu, waktu dan
aktivitas air, mempengaruhi kandungan 5-HMF dalam makanan (Ünüvar, 2018). Daily
uptake yang diperbolehkan dari 5-HMF dalam makanan ialah 150 mg/hari (Ünüvar,
2018). Kadar 5-HMF yang sangat tinggi dapat ditemukan dalam makanan seperti buah
kering atau produk karamel (> 1 g/kg) (Ruiz et al., 2010).
Kemudian, 5-HMF juga diidentifikasi dalam sediaan farmasi berbasis gula selama
proses pemanasan maupun penyimpanan misalnya, dalam larutan nutrisi parenteral
yang mengandung glukosa/fruktosa lalu disterilkan dengan panas (Ghaderi et al.,
2015). Meskipun konsentrasi yang dilaporkan dalam sediaan farmasi sangat rendah,
ada kekhawatiran mengenai interaksi potensial antara 5-HMF dan gugus amino
fungsional farmaseutika (Abraham et al., 2011). Pada kondisi ini 5-HMF dapat
terbentuk secara spontan, umumnya selama proses autoklaf. Jika sediaan farmasi
disterilisasi dengan panas hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada kandungan
glukosa dan terbentuklah 5-HMF. Kondisi ini telah terdeteksi dalam larutan dialisis
yang mengandung 1 hingga 60% glukosa (pH 1-8) yang disterilkan dengan panas pada
121°C (Ünüvar, 2018).
Konsentrasi 5- HMF juga berkorelasi dengan adanya keasaman tinggi (pH 110 °
C) dan waktu sterilisasi yang lama (30 menit) (Ünüvar, 2018). Studi lain menyelidiki
ditemukan 0,10 μg/mL konsentrasi 5-HMF dalam larutan dekstrosa 50% dan
meningkat menjadi 0,72 μg/mL setelah 24 jam preparasi lalu diikuti penyimpanan
selama empat tahun pada 21,1°C, kadar 5-HMF meningkat menjadi 5,8 μg/mL
(Ulbricht, 1984). Berdasarkan European Pharmacopeia, tingkat dekstrosa dalam
larutan yang digunakan untuk dialisis peritoneal tidak boleh melebihi 25 mg dekstrosa
jika tidak mengandung bikarbonat yang menghasilkan 10 μg 5-HMF dan 25 mg
dekstrosa jika mengandung bikarbonat yang menghasilkan 20 μg 5-HMF (Ünüvar,
2018). Maka dari itu pada praktikum kali ini sterilisasi yang dipilih ialah sterilisasi
panas basah dengan suhu 115℃ selama 30 menit.
2. Hidrogen Klorida
(HCl) HCl dlm formula merupakan pH adjuster. pH untuk infus diperbolehkan
ialah pada rentang 5-7,4 dengan pH 5-7,4 maka dapat dipastikan rangsangan pada
dinding vena dapat terhindar sehingga tidak terjadi nyeri. Sehingga jika terdapat
sediaan steril intravena yang saat diinjeksikan agak terasa nyeri hal itu menandakan
jika pH sediaan tidak 7,4. Seperti yang telah dijelaskan karena sediaan harus isotonis
dengan plasma darah maka pH untuk sediaan infus harus dibuat pada rentang pH
plasma darah yaitu 7,4. Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam proses formulasi dan
sterilisasi akan ada proses pemanasan. Glukosa yg dipanaskan dlm kondisi larutan pH
basa atau mendekati basa akan cenderung membentuk karamel 5-HMF dan jika terlalu
asam dapat mengiritasi/merusak sel. Maka, dalam formula ini kita menggunakan pH 5-
6 dengan menambahkan HCl sedikit demi sedikit sembari memantau pH dengan kertas
pH indikator hingga pH mencapai pH 6 yang paling mendekati 7,4.
3. Karbon Aktif (Norit)
Adsorpsi adalah peristiwa menempelnya molekul, ion, maupun atom pada
permukaan. Proses ini menghasilkan lapisan tipis adsorbat (zat yang dijerap) pada
permukaan adsorben (zat yang menjerap). Sedangkan absorpsi adalah proses masuknya
zat cair pada zat padat atau zat cair lain. Norit dalam formulasi sediaan infus kali ini
berfungsi sebagai carbo adsorben yang diperlukan untuk membuat sediaan menjadi
bebas pirogen dan partikel asing.
4. Pirogen
Pirogen berasal dari kata pyro (api/panas) dan gen (pembawa) sehingga pirogen
merupakan senyawa kompleks lipopolisakarida/ protein lipid yang mengandung gugus
radikal N dan P yang jika diinjeksikan dalam jumlah tertentu ke dalam tubuh hewan
atau manusia dapat menghasilkan metabolik yang mengakibatkan kenaikan suhu tubuh
(reaksi pirogen). Secara teoritis terdapat dua jenis pirogen yaitu pirogen eksogen dan
ada pirogen endogen.
Pirogen endogen adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri
sebagai reaksi kekebalan melawan zat asing yang masuk ke tubuh. Misalnya kompleks
antigen-antibodi, limfosit T, steroid, interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL-6), alpha-
interferon, dan tumor necrosis factor (TNF). Sebaliknya pirogen eksogen merupakan
faktor eksternal tubuh misalnya bagian dari sel bakteri dan virus/hasil metabolisme
mikroorganisme hidup maupun hasil lisis sel mikroorganisme yang mati sehingga
menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh manusia. Misalnya. Selain itu, bisa juga
berupa zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau virus tertentu. Baik pirogen
endogen dan eksogen keduanya dalam jumlah tertentu akan menimbulkan peningkatan
suhu, maka dari itu sediaan steril parenteral harus bebas dari kandungan pirogen.
Sedangkan partikel asing merupakan bahan bergerak tidak larut yang secara tidak
sengaja terdapat pada sediaan dapat berupa pengotor yang ada dalam bahan, kemasan
atau tutup sediaan.
Prinsip Pengujian Uji pirogen ditujukan untuk membatasi risiko reaksi demam
pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi.
Pengujian meliputi pengukuran kenaikan suhu kelinci setelah penyuntikan sediaan uji
secara intravena dan ditujukan untuk sediaan yang dapat ditoleransi oleh kelinci
percobaan pada dosis tidak ≥ 10 menit. Untuk sediaan yang memerlukan penyiapan
pendahuluan atau cara pemberian khusus, ikuti petunjuk tambahan yang diberikan pada
masing-masing monografi.
Perhitungan
Volume cairan infus yang harus dibuat untuk memformulasi sediaan infus dengan
penandaan 100 mL adalah v = v’ + 50 mL, dimana v’ merupakan volume penandaan
sehingga volume cairan infus yang harus diformulasi ialah 100 mL + 50 mL = 150
mL. Maka untuk penandaan 100 mL perhitungan KCl 0,38% dan norit 0,1% harus
dikalikan total sediaan yang dibuat yaitu 150 mL.
Berikut penimbangan yang dibutuhkan zat aktif dan masing-masing eksipien:
KCl sebesar 0.38% dibutuhkan sebanyak 0.38 gram/100 mL × 150 mL = 0.57
gram
Norit dengan persentase 0.1% untuk penandaan 100 mL dibutuhkam 0.1
gram/100 mL × 150 mL = 0.15 gram.
Norit memiliki suatu kelemahan yaitu itu iya juga mengadsorbsi zat organik
dimana dalam sediaan ini zat organik tersebut adalah glukosa, untuk mengatasi hal
tersebut maka jumlah glukosa yang digunakan harus ditambahkan 35% dari berat
norit, sehingga jumlah glukosa yang ditambahkan akan sama dengan jumlah yang
diabdsorbsi oleh norit. Angka 35% ini merupakan modifikasi dari penelitian yang
dilakukan oleh Hayashi (1932) seperti pada gambar 2. Dalam tabel pda gambar
tersebut dalam kondisi pH 6-7 glukosa yang dapat teradsorbsi oleh arang aktif sekitar
34%, namun terkadang dalam proses formulasi praktikan dapat kurang tepat dalam
menimbang norit, jika norit sedikit saja berlebih maka glukosa yang diadsorbsi akan
lebih banyak sehingga akan menyebabkan larutan menjadi hipotonis kondisi ini tidak
diinginkan terjadi dalam sediaan infus. Maka dari itu penambahan glukosa disini
dilebihkan menjadi 35%. Kemudian kebutuhan glukosa agar sediaan menjadi isotonis
dapat dilakukan dengan metode NaCl ekivalen dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
Total kebutuhan KCl dalam sediaan yaitu sebanyak 0,57 g maka dihitung
dahulu NaCl yang dibutuhkan agar isotonis
1. Dilihat kesetaran KCl dan NaCl dalam tabel kesetaraan ekuivalensi KCl
terhadap NaCl yaitu 0,76 g. Artinya setiap 1 gram KCl setara dengan 0,76
g NaCl dalam formula, sehingga jika kita menambahkan 1 gram KCl akan
sama dengan ketika kita menambahkan 0,76 g NaCl
2. Suatu larutan dikatakan isotonis jika kandungan NaCl nya 0,9% sehingga
untuk 150 mL dibutuhkan NaCl 0,9% sebanyak: 0,9/100 x 150 ml sediaan
= 1,35 g NaCl
Dalam sediaan infus ini tidak digunakan NaCl untuk tonisity adjusternya
melainkan glukosa untuk menghitung berapa glukosa yang diperlukan, kita
harus mengetahui berapa kekurangan NaCl yg diperlukan untuk mencapai
isotonis.
1. Untuk membuat 150 mL sediaan isotonis diperlukan 1,35 g NaCl
2. Dalam sediaan terdapat KCl dan glukosa juga yang mampu mempengaruhi
tonisitas sediaan
3. Sehingga jika dibutuhkan 0,57 g KCl maka NaCl diperlukan sebanyak
0,4332 g. Jadi dengan menambahkan 0,57 g KCl sama dengan kita
menambahkan 0,4332 g NaCl
4. Untuk isotonis diperlukan NaCL 1,35 g maka kekurangan NaCl yang
dibutuhkan agar sediaan isotonis ialah = 1,35 g-0,4332 g = 0,9168 g
Pada praktikum NaCl diganti glukosa sebagai agen tonisitas, maka langkah
ketiga ialah dihitung ekivalensi glukosa terhadap NaCl yaitu 1 g glukosa setara
dengan 0,16 g NaCl
1. Maka dibutuhkan glukosa sebanyak = 0,9168 g/0,16g x 1g = 5,73 g
glukosa yang perlu ditambahkan untuk mengganti NaCl 0,9168 g.
Dikarenakan terdapat norit yang dapat menyerap glukosa maka glukosa yang
ditambahkan sebesar 35% (karena pengaruh carbo-adsorbent) sehingga perlu
ditambah glukosa 35% dari bobot norit yang dibutuhkan = 35% x 0,15g =
0,05g
Sehingga glukosa yang dibutuhkan agar sediaan isotonis ialah = 5,73 g + 0,05
g = 5,78 g.
Dalam formulasi kali ini sediaan dibuat 150 mL karena dalam preparasinya
tentu terdapat kehilangan volume ketika dilakukan proses penyaringan. Lalu ketika
pada preparasi akhir sesuai FI IV untuk infus yang lebih dari 50 mL volume
dilebihkan 2% dari volume penandaan maka volume yang dimasukkan dalam botol
infus adalah 102 mL karena saat penggunaannya pada pasien, pasti akan ada volume
yang tertinggal dalam kemasan infus.
DAFTAR PUSTAKA

Abraham K, Gürtler R, Berg K, Heinemeyer G, Lampen A, Appel KE. 2011.


Toxicology and Risk Assessment of 5-Hydroxymethylfurfural in Food. Mol Nutr
Food Res;55(5):67-78.
Dawson, Mick. 2017. ENDOTOXIN LIMITS For Parenteral Drug Products. USA:
Associates of Cape Cod, Inc.
DepKes RI. 2014. Farmakope Indonesia V. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Indonesia.
Ghaderi F, Shadbad MRS, Hoseinzadehm. 2015. Effect of pH and Storage
Temperature on 5- (hydroxymethyl) Furfural (5HMF) Formation in USP Syrup
Preparation. Pharm Sci.;21(1):1-5.
Kevin, L. Williams. 2007. Endotoxins: Pyrogens, LAL Testing and Depyrogenation,
Third Edition (Drugs and the Pharmaceutical Sciences). USA: Eli Lilly &
Company Indianapolis, Indiana.
Michael R. Clarkson, Ciara N. Magee and Barry M. Brenner. 2011. Disorders of
Potassium Metabolism. Pocket Companion to Brenner and Rector’s The Kidney.
USA: Elsevier Inc. All rights reserved 136–165. doi:10.1016/b978-1-4160-6640-
8.00007-5.
Ruiz-Matute AI, Weiss M, Sammataro D, Finely J, Sanz ML. 2010. Carbohydrate
Composition of High-Fructose Corn Syrups (HFCS) Used for Bee Feeding: Effect
on Honey Composition. J Agric Food Chem.;58(12):7317-22.
Rowe, Raymond C., Paul J Sheskey, Marian E Quinn. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipients S I X T H E D I T I O N. UK: Published by the
Pharmaceutical Press.
Sanjai. 2019. Potassium Chloride Injection. https://www.drugs.com/pro/potassium-
chloride injection.html [diakses pada 29 maret 2020].
Ulbricht RJ, Northup SJ, Thomas JA. 1984. A Review of 5-hydroxymethylfurfural
(HMF) in Parenteral Solutions. Fundam Appl Toxicol;4(5):843-53.

Anda mungkin juga menyukai