Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK Tn.

M DENGAN

MASALAH KESEHATAN GOUT ARTHRITIS

OLEH:

Kamaruzzaman
S.0019.P2.023

DOSEN: Diah Indriastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat tuhan yang maha Esa yang telah
memberikan Rahmat dan hidayahnya ,Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul” Asuhan Keperawatan Gerontik Dengan Gout Arthritis” Makalah ini di
susun untuk memenuhi salah satu tugas dalam matakuliah Keperawatan gerontik .

Dalam penyusunan makalah ini,penyusun banyak memperoleh bantuan serta


bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,perkenankan lah kami mengucapkan
terimakasih.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar
sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca umumnya dan kami khususnya.

Kendari, 07 maret 2021

Tini wahiyuni
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak
diindonesia. Keadaan dimana penyakit tidak menular masih merupakan masalah
kesehatan yang penting dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM
makin meningkat merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan
yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. Dimana
penyakit asam urat merupakan penyakit terbanyak kedua setelah hipertensi yang
menjadi masalah dalam keluarga.(NIM, 2019)
Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan tingginya kadar purin
didalam darah, kondisi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak orang yang
dinyatakan menderita penyakit tersebut. Penyakit asam urat cenderung diderita pada
usia yang semakin muda. Penderita paling banyak pada golongan usia 30-50 tahun
yang tergolong usia produktif(RAHMAWAN, 2018)
Di Indonesia sendiri penyakit gout pertama kali diteliti oleh seorang dokter
Belanda yang bernama dr. van den Horst, pada tahun 1935. Ia menemukan bahwa
terdapat 15 kasus gout berat pada masyarakat kurang mampu di pulau Jawa. Hasil
penelitian oleh Darmawan (1988) di Bandungan Jawa Tengah menunjukkan bahwa
diantara 4683 orang yang diteliti, 0.8% menderita asam urat tinggi berusia antara 15-
45 tahun. 1.7% pada pria dan 0.05% pada wanita, bahkan di antara mereka sudah
sampai pada tahap gout.(GorettaTogatorop, 2017)
Menurut hasil data Rikesdas tahun 2018 prevalensi penyakit sendi berdasarkan
wawancara yang di diagnosis dokter meningkat seiring dengan bertambah nya umur,
demikian juga yang didiagnosis dokter atau gejala. Prevalensi tertinggi pada umur
≥75 tahun (33% dan 54,8%). Prevalensi yang didiagnosis tenaga kesehatan lebih
tinggi pada perempuan (13,4%) disbanding laki-laki (10,3%)namun jika
dibandingkan dengan hasil rikesdas pada tahun 2013 justru pernyakit sendi cenderung
menurun dibeberapa kota besar di Indonesia khusus nya di kaltim mengalami
penurunan(NIM, 2019)
Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa
penyakit sendi di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan (nakes) sebesar
11.9% dan berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 24.7%, sedangkan berdasarkan
daerah diagnosis nakes tertinggi di Provinsi Bali sebesar 19.3% dan berdasarkan
diagnosis dan gejala tertinggi yaitu di Nusa Tenggara Timur sebesar 31.1%.
Prevalensi penyakit sendi di Jawa Tengah tahun 2013 berdasarkan diagnosis nakes
sebesar 11.2% ataupun berdasarkan diagnosis dan gejala sebesar 25.5%.
(GorettaTogatorop, 2017)
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan asam urat (Gout Artritis)?
2. Bagaimana etiologi dari asam urat (Gout Artritis)?
3. Sebutkan manifestasi klinik dari asam urat (Gout Artritis)?
4. Bagaimana patofisiologi dari asam urat (Gout Artritis)?
5. Sebutkan pathway dari asam urat (Gout Artritis)?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari asam urat (Gout Artritis)?
7. Sebutkan tatalaksana dari asam urat (Gout Artritis)?
8. Bagaimana asuhan keperawatan dari asam urat (Gout Artritis)?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari asam urat (Gout Artritis)?
2. Untuk mengetahui etiologi dari asam urat (Gout Artritis)?
3. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari asam urat (Gout Artritis)?
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari asam urat (Gout Artritis)?
5. Untuk mengetahui pathway dari asam urat (Gout Artritis)?
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari asam urat (Gout Artritis)?
7. Untuk mengetahui tatalaksana dari asam urat (Gout Artritis)?
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari asam urat (Gout Artritis)?
BAB II

KONSEP DASAR GERONTIK

A. Definisi
Lanjut usia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk
memperatahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini
berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
kepekaan secara individual, karena faktor tertentu Lansia tidak dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial. Seseorang
dikatakan Lansia ialah apabila berusia 60 tahun atau lebih, Lansia merupakan
kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase
kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan Lansia ini akan terjadi suatu proses
yang disebut Aging Process atau proses penuaan(Hidayah, 2019)
B. Batasan Lanjut Usia Menurut
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan Lansia menjadi
empat, yaitu usia pertengahan (middle age) adalah 45-59 tahun, lanjut usia
(elderly) adalah 60-74 tahun. lanjut usia tua (old) adalah 75-90, usia sangat tua
(very old) adalah diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Undang-Undang No.13
Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, seseorang disebut Lansia
bila telah memasuki atau mencapai usia 60 tahun lebih.
C. Tipe lanjut usia
1. Tipe Optimis: lanjut usia santai dan periang, penyesuaian cukup baik, mereka
memandang masa lanjut usia dalam bentuk bebas dari tanggung jawab dan
sebagai kesempatan untuk menuruti kebutuhan pasifnya.
2. Tipe Konstruktif: lanjut usia ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati
hidup, memiliki toleransi yang tinggi, humoristik, fleksibel, dan tahu diri.
Biasanya, sifat ini terlihat sejak muda. Mereka dengan tenang menghadapi
proses menua.
3. Tipe Ketergantungan: lanjut usia ini masih dapat diterima di tengah
masyarakat, tetapi selalu pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak
mempunyai inisiatif dan bila bertindak yang tidak praktis. Ia senang pensiun,
tidak suka bekerja, dan senang berlibur, banyak makan, dan banyak minum.
4. Tipe Defensif: lanjut usia biasanya sebelumnya mempunyai riwayat
pekerjaan/jabatan yang tidak stabil, bersifat selalu menolak bantuan, emosi
sering tidak terkontrol, memegang teguh kebiasaan, bersifat konpultif aktif,
dan menyenangi masa pensiun. 5) Tipe Militan dan serius: lanjut usia yang
tidak mudah menyerah, serius, senang berjuang, bisa menjadi panutanFungsi
Keluarga
5. Tipe Pemarah: lanjut usia yang pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung,
selalu menyalahkan orang lain, menunjukan penyesuaian yang buruk. Lanjut
usia sering mengekspresikan kepahitan hidupnya.
6. Tipe Bermusuhan: lanjut usia yang selalu menganggap orang lain yang
menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh, bersifat agresif, dan curiga.
Biasanya, pekerjaan saat ia muda tidak stabil. Menganggap menjadi tua itu
bukan hal yang baik, takut mati, iri hati pada orang yang muda, senang
mengadu masalah pekerjaan, dan aktif menghindari masa yang buruk.
7. Tipe Putus asa, membenci dan menyalahkan diri sendiri: lanjut usia ini bersifat
kritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, mengalami
penurunan sosial-ekonomi, tidak dapat menyesuaiakan diri. Lanjut usia tidak
hanya mengalami kemarahan, tetapi juga depresi, memandang lanjut usia
sebagai tidak berguna karena masa yang tidak menarik. Biasanya perkawinan
tidak bahagia, merasa menjadi korban keadaan, membenci diri sendiri, dan
ingin cepat mati. (Hidayah, 2019)
D. Proses Penuaan dan Perubahan yang Terjadi pada Lansia Proses
Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu
masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap
individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan pada
struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada pada
tubuh manusia. Proses ini menjadi kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduran
fisik ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, penurunan pendengaran,
penglihatan memburuk, gerakan lambat, dan kelaianan berbagai fungsi organ
vital. Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan sensitivitas emosional,
penurunan gairah, bertambahnya minat terhadap diri, berkurangnya minat
terhadap penampilan, meningkatkan minat terhadap material, dan minat kegiatan
rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang berbeda). (Hidayah,
2019)
Namun, hal di atas tidak menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, Lansia harus
senantiasa berada dalam kondisi sehat, yang diartikan sebagai kondisi :
1. Bebas dari penyakit fisik, mental, dan sosial.
2. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Mendapatkan dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat.
Adapun dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secara
sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat sel,
sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor lingkungan
fisik dan sosial, stres fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat mempercepat
proses penuaan. (Hidayah, 2019)
E. Masalah yang Terjadi pada Lansia
1. Perubahan Perilaku, pada Lansia sering dijumpai terjadinya perubahan
perilaku, di antaranya : daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada
kecenderungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya
sudah tidak menarik lagi, dan Lansia sering menyebabkan sensitivitas
emosional seseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah.
2. Perubahan Psikososial, masalah perubahan psikososial serta reaksi individu
terhadap perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu
yang bersangkutan. Lansia yang telah menjalani dengan bekerja, mendadak
dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Bila Lansia
cukup beruntung dan bijaksana, maka ia akan mempersiapkan diri dengan
menciptakan berbagai bidang minat untuk memanfaatkan waktunya, masa
pensiunya akan memberikan kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya.
Namun, bagi banyak pekerja, pensiun berarti terputus dari lingkungan, dan
teman-teman yang akrab.
3. Pembatasan Aktivitas Fisik, semakin lanjut usia seseorang, mereka akan
mengalami kemunduran, terutama di bidang kemampuan fisik yang dapat
mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini
mengakibatkan timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan
hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan
bantuan orang lain.
4. Kesehatan Mental, pada umumnya Lansia mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor, perubahan-perubahan mental ini erat sekali kaitanya
dengan perubahan fisik. Semakin lanjut usia seseorang, kesibukan sosialnya
akan semakin berkurang dan akan mengakibatkan berkurangnya interaksi
dengan lingkunganya(Hidayah, 2019)
BAB III
KONSEP DASAR ASAM URAT (GOUT ARTRITIS)
A. Defenisi
Asam urat (uric acid - dalam bahasa Inggris) adalah hasil akhir dari
katabolisme (pemecahan) purin. Purin adalah salah satu kelompok struktur kimia
pembentukan DNA. Termasuk kelompok purin adalah Adenosin dan Guanosin.
Saat DNA dihancurkan, purinpun akan dikatabolisme.(Keperawatan et al., 2018)
Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil
akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan nucleoprotein), yaitu salah satu
komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel-sel tubuh. Secara alamiah,
purin terdapat dalam tubuh kita dan dijumpai pada semua makanan dari sel hidup,
yakni makanan dari tanaman (sayur, buah, dan kacang-kacangan) ataupun hewan
(daging, jeroan, ikan sarden, dan lain sebagainya)
Gout adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat
yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas,
pergelangan dan kaki bagian tengah (Aspiani, 2014). Gout merupakan gangguan
metabolik yang ditandai dengan artritis inflamasi akut yang dipicu oleh kristalisasi
urat dalam sendi. Gout terjadi sebagai respon terhadap produksi berlebihan atau
ekskresi asam urat yang kurang, menyebabkan tingginya kadar asam urat dalam
darah (hiperurisemia) dan pada cairan tubuh lainnya, termasuk cairan synovial.
Gangguan progresif khas ini ditandai dengan penumpukan urat (endapan yang
tidak larut) dalam sendi dan jaringan ikat tubuh. Gout biasanya memiliki awitan
tiba-tiba, biasanya di malam hari, dan seringkali melibatkan sendi
metatarsophalangeal pertama (jari kaki besar). Serangan akut awal biasanya
diikuti oleh periode selama beberapa bulan atau beberapa tahun tanpa manifestasi.
Seiring dengan kemajuan penyakit, urat menumpuk di berbagai jaringan ikat lain.
Penumpukan dalam cairan synovial menyebabkan inflamasi akut sendi (artritis
gout). Seiring dengan waktu, penumpukan urat dalam jaringan subkutan
menyebabkan pembentukan nodul putih kecil yang disebut tofi. Penumpukan
kristal dalam ginjal dapat membentuk batu ginjal urat dan menyebabkan gagal
ginjal. (Keperawatan et al., 2018)
Masalah asam urat atau biasa disebut dengan gout merupakan salah satu
penyakit tertua yang dikenal manusia. Asam urat dianggap sebagai penyakit para
raja atau penyakit kalangan sosial elite yang disebabkan karena terlalu banyak
makan dan minum minuman keras, seperti daging dan anggur, atau dapat
dikatakan bahwa asupan makanan dan minuman yang tidak teratur sangat
berhubungan erat dengan kejadian asam urat. (Hery irwan, 2012). Asam urat
adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) suatu zat yang bernama purin.
Asam urat merupakan hasil buangan dari zat purin Zat purin adalah zat alami yang
merupakan satu kelompok struktur kimia pembentuk DNA dan RNA.(No Title,
2011)
B. Etiologi
Penyebab utama tejadinya gout adalah karena adanya deposit/penimbunan kristal
asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan
metabolisme asam urat abnormal dan kelainan metabolik dalam pembentukan
purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal.
a) Penyakit gout primer Penyebabnya kebanyakan belum diketahui (idiopatik).
Hal ini diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal
yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan
meningkatnya produksi asam urat. Atau bisa juga diakibatkan karena
berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh.
b) Penyakit gout sekunder
Penyebab penyakit gout sekunder:
1) Meningkatnya produksi asam urat karena pengaruh pola makan yang tidak
terkontrol, yaitu dengan mengonsumsi makanan yang berkadar purin
tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa organic yang menyusun asam
nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk dalam kelompok asam amino,
yang merupakan unsur pembentuk protein.
2) Produksi asam urat juga dapat meningkat karena penyakit pada darah
(penyakit sumsum tulang, polisitemia, anemia hemolitik), obat-obatan
(alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12, diuretika, dosis rendah asam,
salisilat)
3) Obesitas (kegemukan)
4) Intoksikasi (keracunan timbal)
5) Pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik. Dimana
akan ditemukan mengandung benda-benda (hasil buangan metabolisme
lemak) dengan kadar yang tinggi. Kadar benda-benda keton yang
meninggi akan menyebabkan kadar asam urat juga akan meninggi.
C. Faktor resiko
a) Gender pria
b) Usia
c) Diet : tinggi konsumsi daging dan makanan laut
d) Asupan alkohol, bir terutama
e) Konsumsi minuman ringan pemanis gula atau fruktosa
f) Obesitas
g) Medikasi : diuretik, aspirin.
D. Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan
berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah
produksi akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin menjadi
asam urat dapat diterangkan sebagai berikut: sintesis purin melibatkan dua jalur,
yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui
precursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribose-5-fosfat, yang diubah melalui
serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat,
asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme yang
kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu : 5-
fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amido-fosforibosiltransferase (amido-
PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang
terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa
purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak
melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas (adenine,
guanine, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk precursor
nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim : hioxan
guanin fosforibosiltrasferase (HGPRT) dan adenine fosforibosiltransferase
(APRT). Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus dan direabsorpsi di tubulus proksimal ginjal.
Sebagian kecil asam urat yang direabsorpsi kemudian diekskresikan di nefron
distal dan dikeluarkan melalui urin. Pada penyakit gout, terdapat gangguan
keseimbangan metabolisme (pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut,
meliputi:
1) Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik.
2) Penurunan ekskresi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal
3) Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang
meningkatkan cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek
enzim-enzim atau mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan).
4) Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin.
5) Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam
urat dalam tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat
rendah sehingga cenderung membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling
banyak terdapat di sendi dalam bentuk kristal monosodium urat.
Mekanismenya hingga saat ini masih belum diketahui.
Asam urat merupakan produk pemecahan meabolisme purin.
Normalnya,keseimbangan terjadi antara produksi dan ekskresi, dengan sekitar
dua pertiga jumlah yang dihasilkan setiap hari dikeluarkan oleh ginjal dan
sisanya dalam feses. Kadar asam urat serum normalnya dipertahankan antara
3,5 dan 7,0 mg/dL pada pria dan 2,8 dan 6,8 mg/dL pada wanita. Pada tingkat
yang lebih besar dari 7,0 mg/dL, serum tersaturasi dengan urat, bentuk asam
urat terionisasi. Saat peningkatan konsentrasi , plasma menjadi supersaturasi,
menciptakan risiko pembentukan kristal monosodium urat. Sebagian besar
waktu, hiperurisemia terjadi dari ekskresi asam urat yang kurang oleh ginjal,
produksi berlebihan terjadi pada hiperurisemia pada hanya sekitar 10%
individu. Pada hiperurisemia, peningkatan kadar urat ada dalam cairan
ekstraseluler lain, termasuk cairan sinavial, dan juga pada plasma. Akan tetapi,
cairan synovial merupakan pelarut yang buruk untuk urat daripada plasma,
meningkatkan resiko untuk pembentukan kristal urat. Kristal monosodium urat
dapat terbentuk dalam cairan synovial atau dalam membrane synovial,
kartilago, atau jaringan ikat sendi lainnya. Kristal cenderung terbentuk pada
jaringan perifer tubuh, sementara itu suhu yang lebih rendah mengurangi
kelarutan asam urat. Kristal juga terbentuk di jaringan ikat dan ginjal. Kristal
ini menstimulasi dan melanjutkan proses inflamasi, selama neutrofil berespons
dengan ingesti kristal. Neutrofil melepaskan fagolisosom, menyebabkan
kerusakan jaringan, yang menyebabkan terjadinya inflamasi terus- menerus.
Pada akhirnya, proses inflamasi merusak kartilago sendi dan tulang yang
menyertai (LeMone, 2015). Kadar asam urat dalam serum merupakan hasil
keseimbangan antara
produksi dan sekresi. Dan ketika terjadi ketidakseimbangan dua proses
tersebut maka terjadi keadaan hiperurisemia, yang menimbulkan hipersaturasi
asam urat yaitu kelarutan asam urat di serum yang telah melewati ambang
batasnya, sehingga merangsang timbunan urat dalam bentuk garamnya
terutama monosodium urat diberbagai tempat/jaringan. Menurunnya kelarutan
sodium urat pada temperatur yang lebih rendah seperti pada sendi perifer
tangan dan kaki, dapat menjelaskan kenapa kristal MSU (monosodium urat)
mudah diendapkan di pada kedua tempat tersebut
E. Pathway.
F. Komplikasi
Terdapat beberapa komplikasi pada penyakit gout arthritis ini yaitu:
a) Deformitas pada persendian yang terserang
b) Urolitiasis akibat deposit Kristal urat pada saluran kemih
c) Nephrophaty akibat deposit Kristal urat dalam intertisial ginjal
d) Hipertensi ringan
e) Proteinuria
f) Hyperlipidemia
g) Gangguan parenkim ginjal dan batu ginjal (Aspiani, 2014).
Penyakit ginjal dapat terjadi pada pasien gout yang tidak ditangani, terutama
ketika hipertensi juga ada. Kristal urat menumpuk di jaringan interstisial ginjal.
Kristal asam urat juga terbentuk dalam tubula pengumpul, pelvis ginjal, dan
ureter, membentuk batu. Batu dapat memiliki ukuran yang beragam dari butiran
pasir hingga struktur masif yang mengisi ruang ginjal. Batu asam urat dapat
berpotensi mengobstruksi aliran urine dan menyebabkan gagal ginjal akut.
(Keperawatan et al., 2018)
G. Pemeriksaan Penunjang
a. Serum asam urat
Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl. Pemeriksaan ini mengindikasikan
hiperurisemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan ekskresi.
b. Leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3 selama
serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masih dalam batas
normal yaitu 5000-10000/mm3 c. Eusinofil Sedimen Rate (ESR) Meningkat
selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate mengindikasikan
proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di persendian.
c. Urin specimen 24 jam Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan
prosuksi dan ekskresi.Jumlah normal seorang mengekskresikan 250-750
mg/24/jam asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat
maka level asam urat urin meningkat. Kadar kurang dari 800 mg/24 jam
mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum
asam urat. Intruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan feses
atau tisu toilet selama waktu pengumpulan. Biasanya diet purin normal
direkomendasikan selama pengumpulan urin meskipun diet bebas purin pada
waktu itu diindikasikan.
d. Analisis cairan aspirasi sendi Analisis cairan aspirasi dari sendi yang
mengalami inflamasi akut atau material aspirasi dari sebuah tofi
menggunakan jarum kristal urat yang tajam, memberikan diagnosis definitif
gout.
e. Pemeriksaan radiografi Pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan
menunjukkan tidak terdapat perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah
penyakit berkembang progresif maka akan terlihat jelas/area terpukul pada
tulang yang berada di bawah sinavial sendi.
H. Penatalaksanaan
1. Farmakologis
a. Stadium I (Asimtomatik)
1) Biasanya tidak membutuhkan pengobatan.
2) Turunkan kadar asam urat dengan obat-obat urikosurik dan
penghambat xanthin oksidase.
b. Stadium II (Artritis Gout akut)
1) Kalkisin diberikan 1 mg (2 tablet) kemudian 0,5 mg (1 tablet) setiap 2
jam sampai serangan akut menghilang.
2) Indometasin 4 x 50 mg sehari.
3) Fenil butazon 3 x 100-200 mg selama serangan, kemudian
diturunkan.
4) Penderita ini dianjurkan untuk diet rendah purin, hindari alkohol dan
obat- obatan yang menghambat ekskresi asam urat.
5) Stadium III (Interkritis)
6) Hindari faktor pencetus timbulnya serangan seperti banyak makan
lemak, alkohol dan protein, trauma dan infeksi.
7) Berikan obat profilaktik (Kalkisin 0,5-1 mg indometasin tiap hari).
8) Stadium IV (Gout Kronik)
9) Alopurinol 100 mg 2 kali/hari menghambat enzim xantin oksidase
sehingga mengurangi pembentukan asam urat.
10) Obat-obat urikosurik yaitu prebenesid 0,5 g/hari dansulfinpyrazone
(Anturane) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid
11) Tofi yang besar atau tidak hilang dengan pengobatan konservatif
perlu dieksisi
c. Non Farmakologis
Penyakit asam urat memang sangat erat kaitannya dengan pola
makan seseorang. Pola makan yang tidak seimbang dengan jumlah protein
yang sangat tinggi merupakan penyebab penyakit ini. Meskipun demikian,
bukan berarti penderita asam urat tidak boleh mengkonsumsi makanan
yang mengandung protein asalkan jumlahnya dibatasi. Selain itu,
pengaturan diet yang tepat bagi penderita asam urat mampu mengontrol
kadar asam dan urat dalam darah. Berkaitan dengan diet tersebut, berikut
ini beberapa prinsip diet yang harus dipatuhi oleh penderita asam urat.
1) Membatasi asupan purin atau rendah
purin Pada diet normal, asupan purin biasanya mencapai 600-1000
mg per hari.Namun penderita asam urat harus membatasi menjadi
120-150 mg per hari. Purin merupakan salah satu bagian dari protein.
Membatasi asupan purin berarti juga mengurangi konsumsi makanan
yang berprotein tinggi. Asupan protein yang dianjurkan bagi
penderita asam urat sekitar 50-70 gram bahan mentah per hari atau
0,8-1 gram/kg berat badan/hari
2) Asupan energi sesuai dengan kebutuhan Jumlah asupan energi harus
disesuaikan dengan kebutuhan tubuh
3) Mengonsumsi lebih banyak karbohidrat Jenis karbohidrat yang
dianjurkan untuk dikonsumsi penderita asam urat adalah karbohidrat
kompleks seperti nasi, singkong, roti, dan ubi. Karbohidrat kompleks
ini sebaiknya dikonsumsi tidak kurang dari 100 gram per hari, yaitu
sekitar 65-75% dari kebutuhan energi total.
4) Mengurangi konsumsi lemak Makanan yang mengandung lemak
tinggi seperti jeroan, seafood, makanan yang digoreng, makanan yang
bersantan, margarin, mentega, avokad, dan durian sebaiknya
dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya hanya 10-15% kebutuhan
energi total.
5) Mengonsumsi banyak cairan Penderita rematik dan asam urat
disarankan untuk mengonsumsi cairan minimum 2,5 liter atau 10
gelas sehari. Cairan ini bisa diperoleh dari air putih, teh, kopi, cairan
dari buah-buahan yang mengandung banyak air seperti: apel, pir
jeruk, semangka, melon, blewah, dan belimbing.
6) Tidak mengonsumsi minuman beralkohol Alkohol akan
meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini bisa menghambat
pengeluaran asam urat dari tubuh. Karena itu, orang yang sering
mengonsumsi minuman beralkohol memiliki kadar asam urat yang
lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak mengonsumsinya.
7) Mengonsumsi cukup vitamin dan mineral. Konsumsi vitamin dan
mineral yang cukup, sesuai dengan kebutuhan tubuh akan dapat
mempertahankan kondisi kesehatan yang baik (Ode, 2012).
8) Kompres hangat air rendaman jahe Kompres jahe hangat dapat
menurunkan nyeri. Kompres jahe merupakan pengobatan tradisional
atau terapi alternatif untuk mengurangi nyeri. Kompres jahe hangat
memiliki kandungan enzim siklo-oksigenasi yang dapat mengurangi
peradangan pada penderita asam urat, selain itu jahe juga memiliki
efek farmakologis yaitu rasa panas dan pedas, dimana rasa panas ini
dapat meredakan rasa nyeri, kaku, dan spasme otot atau terjadinya
vasodilatasi pembuluh darah, manfaat yang maksimal akan dicapai
dalam waktu 20 menit sesudah aplikasi panas.
BAB IV
KONSEP KEPERAWATAN GERONTIK

A. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan, kemudian dalam
mengkaji harus memperhatikan data dasar dari klien, untuk informasi yang
diharapakan dari klien (Iqbal dkk, 2011).

Fokus pengkajian pada Lansia dengan Gout Arthritis:

1. Identitas
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan dan pekerjaan.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang menonjol pada klien Gout Arthritis adalah nyeri dan
terjadi peradangan sehingga dapat menggangu aktivitas klien.
3. Riwayat Penyakit
Sekarang Didapatkan adanya keluhan nyeri yang terjadi di otot sendi. Sifat
dari nyerinya umumnya seperti pegal/di tusuk-tusuk/panas/di tarik-tarik dan nyeri
yang dirasakan terus menerus atau pada saat bergerak, terdapat kekakuan sendi,
keluhan biasanya dirasakan sejak lama dan sampai menggangu pergerakan dan
pada Gout Arthritis Kronis didapakan benjolan atan Tofi pada sendi atau jaringan
sekitar.
4. Riwayat Penyakit
Dahulu Penyakit apa saja yang pernah diderita oleh klien, apakah keluhan
penyakit Gout Arthritis sudah diderita sejak lama dan apakah mendapat
pertolongan sebelumnya dan umumnya klien Gout Arthritis disertai dengan
Hipertensi.
5. Riwayat Penyakit
Keluarga Kaji adakah riwayat Gout Arthritis dalam keluarga.
6. Riwayat Psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang diderita dan penyakit klien
dalam lingkungannya. Respon yang didapat meliputi adanya kecemasan individu
dengan rentan variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat
dengan adanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri dan
kurang pengetahuan akan program pengobatan dan perjalanan penyakit. Adanya
perubahan aktivitas fisik akibat adanya nyeri dan hambatan mobilitas fisik
memberikan respon terhadap konsep diri yang maladaptif.
7. Riwayat Nutrisi
Kaji riwayat nutisi klien apakah klien sering menkonsumsi makanan yang
mengandung tinggi Purin.
8. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dari ujung
rambut hingga ujung kaki (head to toe). Pemeriksaan fisik pada daerah sendi
dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi yaitu melihat dan mengamati
daerah keluhan klien seperti kulit, daerah sendi, bentuknya dan posisi saat
bergerak dan saat diam. Palpasi yaitu meraba daerah nyeri pada kulit apakah
terdapat kelainan seperti benjolan dan merasakan suhu di daerah sendi dan
anjurkan klien melakukan pergerakan yaitu klien melakukan beberapa gerakan
bandingkan antara kiri dan kanan serta lihat apakah gerakan tersebut aktif, pasif
atau abnormal.
9. Pemeriksaan Diagnosis
a. Asam Urat meningkat dalam darah dan urin.
b. Sel darah putih dan laju endap darah meningkat (selama fase akut).
c. Pada aspirasi cairan sendi ditemukan krital urat.
d. Pemeriksaan Radiologi.
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan pasti
tentang status dan masalah kesehatan klien yang dapat diatasi dengan tindakan
keperawatan. Dengan demikian, diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan
masalah yang ditemukan. Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran tentang
masalah dan status kesehatan, baik yang nyata (aktual) maupun yang mungkin terjadi
(potensial) (Iqbal dkk, 2011). Menurut NANDA (2015) diagnosa yang dapat muncul
pada klien Gout Arthritis yang telah disesuaikan dengan SDKI (2017) adalah:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (D.0077).
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri persendian (D.0054)
3. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130).
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit (D.0074).
5. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan kelebihan cairan (peradangan
kronik akibat adanya kristal urat) (D.0129).
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada persendian (D. 0055).
C. Intervensi keperawatan keluarga
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang
akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan
yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien.
D. Implementasi / Pelaksanaan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status
kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan
tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan
DAFTAR PUSTAKA

GorettaTogatorop, M. (2017). Asuhan Keperawatan keluarga pada Ny . S dengan Prioritas Masalah


Kebutuhan Dasar Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri Pada keluargaTn . S diLingkunganI
Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia. 142500043.

Hidayah, N. (2019). ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GOUT ARTHRITIS DI


PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA NIRWANA PURI SAMARINDA.

Keperawatan, A., Gout, P., Akut, K. N., Upt, D. I., & Jember, P. (2018). Digital Digital Repository
Repository Universitas Universitas Jember Jember Digital Digital Repository Repository
Universitas Universitas Jember Jember.

NIM, R. F. (2019). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN GOUT ARTHRITIS DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS JUANDA SAMARINDA.

No Title. (2011). 8–37.

RAHMAWAN, N. (2018). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY “A” DENGAN GOUT


ARTRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS POLINGGONA.