Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi

Penurunan penglihatan pada glaukoma terjadi karena adanya apoptosis sel


ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan lapisan
inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus. Diskus optikus
menjadi atrofi disertai pembesaran cawan optik. Kerusakan saraf dapat
dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler. Semakin tinggi tekanan
intraokuler semakin besar kerusakan saraf pada bola mata. Pada bola mata
normal tekanan intraokuler memiliki kisaran 10-22 mmHg. Tekanan intraokuler
pada glaukoma sudut tertutup akut dapat mencapai 60-80 mmHg, sehingga
dapat menimbulkan kerusakan iskemik akut pada iris yang disertai dengan
edema kornea dan kerusakan nervus optikus

Tekanan intraokular (TIO) ditentukan oleh laju produksi akuos humor di badan
siliaris dan hambatan aliran akuos humor dari mata. TIO bervariasi dengan siklus
diurnal (tekanan tertinggi biasanya pada waktu bangun tidur) dan posisi tubuh
(meningkat ketika berbaring). Variasi normal biasanya tidak melebihi 2-3 mmHg. TIO
dan tekanan darah tidak berhubungan satu sama lain, tetapi variasi pada tekanan
darah sistemik dapat berhubungsn dengan variasi TIO. Peningkatan TIO dapat
terjadi karena peningkatan produksi humor auous atau obstruksi aliran. Jika humor
aquous terakumulasi pada mata, peningkatan tekanan suplai darah ke saraf optik
dan retina. Jaringan lunak ini menjadi iskemik dan terjadi penurunan fungsi secara
bertahap. Jika TIO tetap tinggi, akan terjadi kerusakan-kerusakan hebat pada mata,
yaitu:

 Degenerasi nervus optikus berupa ekskavasi yang dikenal sebagai cupping


 Degenerasi sel ganglion dan serabut saraf dari retina berupa penciutan
lapangan pandang(skotoma)
 Atropi iris dan corpus siliar serta degenerasi hialin pada prosesus siliar