Anda di halaman 1dari 18

Laporan Resmi

Elektronika Terintegrasi

Praktikum 3
Inverting Amplifier

Nama kelompok:

Achmad Muhajjir S. Nursam P27838120002


Ajeng Kinanti P27838120007
Akbaryan Syah Reza Kusuma P27838120008

Nama asdos:
Putu Dody Surya A.
Arga Wihantara

Revisi 1 Revisi 2 Paraf asdos

Tgl: Tgl: Tgl:

Jam: Jam: Jam:

Jurusan Teknik Elektromedik


Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan
Surabaya
2021
PRAKTIKUM 3

Page |0
INVERTING AMPLIFIER

1. Tujuan
1.1 Mengetahui fungsi dari rangkaian Op-Amp sebagai inverting amplifier.
1.2 Merencanakan dan membandingkan kerja dari rangkaian Op-Amp sebagai inverting
amplifier.

2. Alat dan Bahan


a. Resistor

Gambar 2.1 Resistor


(Sumber: cerdika.com)
b. LED

Gambar 2.2 LED


(Sumber: res.cloudinary.com)
c. Op-Amp

Gambar 2.3 Op-Amp


(Sumber: teknikelektronika.com)
d. Osiloskop

Gambar 2.4 Osiloskop


(Sumber: cdn.images.fecom-media.com)
e. Catu Daya

Page |1
Gambar 2.5 Catu Daya
(Sumber: pudak-scientific.com)
f. Multimeter

Gambar 2.6 Multimeter


(Sumber: abi-blog.com)
g. Generator Sinyal

Gambar 2.7 Generator Sinyal


(Sumber: cerdika.com)

3. Dasar Teori
3.1 Inverting Amplifier

3.1.1 Diagram Skematik

3.1.2 Penjelasan Rangkaian


Rangkaian diatas menggunakan komponen alternator, resistor, LED, dan IC
LM741. Dimana alternator yang masuk ke input inverting komparator (pin nomer 2)
sebagai input AC dan pin nomer 3 komparator dihubungkan dengan potensiometer

Page |2
sebagai pengatur input DC. Kaki potensiometer juga dihubungkan dengan catu daya
+12V dan -5V. Kemudian pin kaki IC nomer 4 dihubungkan dengan catu daya -12V dan
pin IC nomer 7 dihubungkan dengan catu daya +12V. Dan untuk output pada IC yaitu
pin nomer 6 akan tersambung dengan channel 2 dari osiloskop, serta terhubung pula ke
beban berupa LED. Channel 1 pada osiloskop akan terhubung ke alternator.

3.1.3 Perhitungan
 Achmad Muhajjir S. Nursam
 Kalibrasi Osiloskop

Amplitudo : A

Frekuensi : F =

= 300 Hz

Periode : T =

 Duty Cycle

1. T.ON

T.OFF

2. T.ON =

T.OFF

Page |3
3. T.ON

T.OFF

 Ajeng Kinanti
 Kalibrasi Osiloskop

Amplitudo : A

Frekuensi : F

Periode : T

 Duty Cycle

1. T.ON

T.OFF

Page |4
2. T.ON

T.OFF

3. T.ON

T.OFF

 Akbaryan Syah Reza Kusuma

 Kalibrasi Osiloskop

Amplitudo : A

Frekuensi : F

Page |5
Periode : T

 Duty Cycle

1. T. ON

T. OFF

2. T. ON =

T. OFF

3. T. ON

T. OFF

4. Langkah Percobaan
1. Membuat rangkaian pada proteus sesuai dengan rangkaian skematik yang telah
dibuat.
2. Mengatur osiloskop pada proteus seperti berikut :
 CH1 : 1V/Div
 CH2 : 10V/Div
 Time Base : 1mS/Div
 AC Coupling
3. Pertama–tama hubungkan input inverting (Va) pada titik V1, atur function
generator sebagai input dengan setting gelombang sinus frekuensi 300Hz
dengan tegangan puncak ke puncak 5Vpp. Hubungkan input non-inverting (Vb)
pada titik V2, atur tegangan pada V2 sesuai tabel berikut dan catat hasilnya.
4. Mengisi tabel pengukuran di bawah ini:
NO V1 V2 VOUT T.ON T.OFF LED
1.

Page |6
2.
3.
4.

Page |7
5. Hasil dan Analisa
5.1 Hasil
5.1.1 Output dari Osiloskop
 Achmad Muhajjir S. Nursam

Gambar 5.1 Output praktikum 1 dengan input -2V

Gambar 5.2 Output praktikum 1 dengan input 0V

Gambar 5.3 Output praktikum 1 dengan input 2V

Page |8
 Ajeng Kinanti

Gambar 5.4 Output praktikum 1 dengan input -2V

Gambar 5.5 Output praktikum 1 dengan input 0V

Gambar 5.6 Output praktikum 1 dengan input 2V

Page |9
 Akbaryan Syah Reza Kusuma

Gambar 5.7 Output praktikum 1 dengan input -2V

Gambar 5.8 Output praktikum 1 dengan input 0V

Gambar 5.9 Output praktikum 1 dengan input 2V

P a g e | 10
5.1.2 Tabel
 Achmad Muhajjir S. Nursam
Perhitungan Pengukuran
No Vin Error
Acl Vout Acl Vout
1 1 Vpp 1x -1 Vpp -1x -1 Vpp 0
2 10 Vpp 1x -10 Vpp -1x -10 Vpp 0
3 24 Vpp 1x -24 Vpp -1x -24 Vpp 0
Tabel 5.1 Praktikum 2
 Ajeng Kinanti
Perhitungan Pengukuran
No Vin Error
Acl Vout Acl Vout
1 1 Vpp -1x 1 Vpp -1x -1 Vpp 2
2 10 Vpp -1x 10 Vpp -1x -10 Vpp -20
3 24 Vpp -1x 22 Vpp -1x -24 Vpp -48
Tabel 5.2 Praktikum 2
 Akbaryan Syah Reza Kusuma
Perhitungan Pengukuran
No Vin Error
Acl Vout Acl Vout
1 1 Vpp 1x 1 Vpp 1x 1 Vpp 0
2 10 Vpp 1x 10 Vpp 1x 10 Vpp 0
3 24 Vpp 1x 24 Vpp 1x 20 Vpp 4
Tabel 5.3 Praktikum 2

5.1.3 Analisa
Pada praktikum kali ini menggunakan komponen Op-Amp sebagai
komparator. Dengan tambahan komponen lain seperti potensiometer 50k, LED, dan
resistor. Rangkaian ini diberi inputan di kaki inverting sebesar 5Vpp dengan
frekuensi 300Hz dan untuk kaki non-inverting mendapat tegangan DC sebesar -2V,
0V, dan +2V
Pada percobaan 1 menggunakan input V1 inverting sebesar 5Vpp dan input
non-inverting sebesar -2V yang diperoleh dengan cara memutar potensiometer
yang mendapat supply +12V dan -5V. Hasil dari rangkaian ini menunjukkan Vout
berbentuk kotak-kotak yang tegangannya hampir sama dengan tegangan
sebelumnya dengan Ton yang lebarnya lebih pendek daripada Toff nya, serta LED
yang tidak menyala. Hal ini dikarenakan inputan dari V2 yang bernilai -2V
menyebabkan perpotongan tegangan input AC lebih besar dari DC sehingga
menyebabkan Toff lebih lebar daripada Tonnya. Toff lebih lebar dari Ton
menyebabkan rangkaian tidak dapat bekerja secara maksimal.
Pada percobaan 2 menggunakan input V1 inverting sebesar 5Vpp dan input
non-inverting sebesar 0V yang diperoleh dengan cara memutar potensiometer yang
mendapat supply +12V dan -5V. Hasil dari rangkaian ini menunjukkan Vout
berbentuk kotak-kotak yang tegangannya hampir sama dengan tegangan
sebelumnya dengan Ton yang lebarnya sama dengan Toff nya, serta LED yang

P a g e | 11
menyala redup. Hal ini dikarenakan inputan dari V2 yang bernilai 0 menyebabkan
perpotogan tegangan input AC dan DC berada ditengah-tengah sehingga Ton dan
Toff nya mempunyai lebar yang sama.
Pada percobaan 3 menggunakan input V1 inverting sebesar 5Vpp dan input
non-inverting sebesar 2V yang diperoleh dengan cara memutar potensiometer yang
mendapat supply +12V dan -5V. Hasil dari rangkaian ini menunjukkan Vout
berbentuk kotak-kotak yang tegangannya hampir sama dengan tegangan
sebelumnya dengan Ton yang lebih lebar daripada Toff nya, serta LED yang
menyala terang dari 2 percobaan yang lain. Hal ini dikarenakan inputan dari V2
yang bernilai +2 menyebabkan perpotongan tegangan input DC lebih besar dari AC
sehingga menyebabkan Ton lebih lebar daripada Toff nya. Ton lebih lebar dari Toff
menandakan rangkaian dapat bekerja secara maksimal.

6. Tugas
 Soal
1. Analisa perbedaan output sinyal pada point 3 prosedur percobaan dan point 5
prosedur percobaan 5. Mengapa terjadi demikian?
2. Sebutkan minimal 3 aplikasi yang berhubungan dengan jurusan teknik
elektromedik tentang rangkaian komparator.
3. Sekarang balik hubungan input ke Op-Amp, sehingga titik V1 terhubung
dengan VB (non inverting) dan titik V2 terhubung dengan inverting (VA). Atur
tegangan input pada titik V2 sesuai dengan tabel pada langkah 3 dan catat
hasilnya. (simulasikan menggunakan aplikasi PROTEUS atau dengan aplikasi
yang lainya).
4. Buat rangkaian komperator sudah dalam bentuk pcb, hasil dimasukkan dalam
lampiran.
5. Bandingkan gambar output sinyal pada percobaan 3 terhadap percobaan
tugas simulasi dan pcb.
 Jawaban
1. Ketika dibalik, hasil gelombang adalah kebalikan dari percobaan yang
sebelumnya telah dilakukan. Dimana ketika dibalik fase akan tetap dan tidak
berbalik 180˚.Hal ini terjadi karena saat dibalik nilai tegangan yang masuk
pada input non inverting lebih besar daripada nilai tegangan yang masuk pada
input inverting. Sehingga tegangan pada output akan +Vsaturasi.
2. Rangkaian doppler yang berfungsi mengukur denyut jantung, alat monitoring
infus, rangkaian PWM (Pulse With Modulation) yang berfungsi untuk memutar
motor, dan sensor suhu baby incubator.
3. Berikut output yang dihasilkan :

P a g e | 12
Gambar 6.1 Percobaan Pertama (-2V)

Gambar 6.2 Percobaan Kedua (0V)

Gambar 6.3 Percobaan Ketiga (2V)


4. Terlampir

5. Pada percobaan 3 hasil gelombang adalah kebalikan dari simulasi yang telah
dilakukan. Dimana nilai tegangan pada input non inverting lebih besar
daripada nilai tegangan pada input inverting. Sehingga fase akan tetap dan
tegangan pada output akan +Vsaturasi. Sedangkan PCB merupakan tempat
untuk menyusun komponen dan penghubung kaki-kaki komponen dari
rangkaian komparator tersebut sehingga menjadi sebuah rangkaian elektronik.

7. Kesimpulan

P a g e | 13
 Achmad Muhajjir S. Nursam
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu saat potensiometer kurang
dari 0, maka LED akan mati, karena LED mendapatkan tegangan negatif. Jika
potensiometer sama dengan 0, maka LED akan nyala tapi redup, karena mendapatkan
tegangan 0V. Sedangkan saat potensiometer diatur lebih dari 0, maka LED nyala
terang, karena LED mendapatkan tegangan positif.
 Ajeng Kinanti
Pada praktikum kali ini, komparator adalah perangkat yang berfungsi untuk
membandingkan dua tegangan/arus dan mengeluarkan sinyal digital yang menunjukkan
mana yang lebih besar. Yang memiliki prinsip kerja jika V+ > V- maka tegangan
keluaran +V saturasi = +Vcc. Jika V+ < V- maka tegangan keluaran –V saturasi = -Vee.
Namun jika nilainya V+ = V- nilainya menyesuaikan dengan tipe Op-Amp yang
diginakan, karena secara ideal apabila V+ = V- maka yang terjadi Vout = 0V.
Percobaan pertama didapatkan bahwa output yang dihasilkan adalah negatif,
karena +Vin < -Vin. Kemudian pada percobaan kedua didapatkan hasil yang sama yaitu
negatif karena +Vin < -Vin. Sedangkan pada percobaan ketiga dihasilkan hasil (output)
positif dikarenakan +Vin > -Vin.
 Akbaryan Syah Reza Kusuma
Pada praktikum ini didapatkan kesimpulan yaitu ketika potensiometer dibawah (0)
atau (-2V), maka lampu LED mati, dikarenakan LED mendapatkan tegangan (-), dan
apabila potensiometer di atas (0) atau (+2V), maka yang terjadi lampu LED mendapat
tegangan (+), dan mengakibatkan lampu LED menyala.
 Kelompok
Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan praktikum kali ini adalah
 Tegangan yang masuk di kaki 3 IC LM741 > dari tegangan kaki 2, maka output-
nya +12V.
 Tegangan yang masuk di kaki 2 IC LM741 > dari tegangan kaki 3, maka output-
nya -12V.
 Ketika kondisi inverting maka fasa gelombang output sama dengan kebalikan
fasa gelombang input.
 Ketika kondisi non-inverting maka fasa gelombang output sama dengan fasa
gelombang input.
 Jika Vref > Vpp maka gelombang output akan menjadi garis lurus.
 Jika Vref < Vpp maka gelombang output akan berbentuk gelombang kotak.
Semakin besar tegangan pada V2 yang dihasilkan melalui pengaturan
potensiometer kemudian menuju kaki non-inverting Op-Amp, maka semakin terang
nyala lampu LED. Kondisi nyala LED ini dapat dilihat dari pengaruh T.ON, maka
semakin besar persentase yang dihasilkan dari perhitungan T.ON, LED akan menyala
semakin terang. Namun lampu akan menyala redup jika tegangan V2 diperkecil.

P a g e | 14
Persentase dari T.ON akan menunjukkan nilai yang lebih kecil dari T.OFF-nya, hal ini
lah yang menyebabkan nyala LED menjadi lebih redup.
Selain kesimpulan diatas, yang dapat disimpulkan lagi yaitu pada rangkaian non-
inverting komparator ketika input inverting (Va) lebih besar dari input non-inverting (Vb)
maka Vout bernilai -12V, begitu juga sebaliknya apabila input non-inverting (Vb) lebih
besar dari input inverting (Va) maka Vout bernilai +12V. Dan pada percobaan kali ini
kondisi beban jika diberi tegangan referensi berbeda-beda akan tetap menyala hanya
berbeda pada intensitas cahayanya.

8. Daftar Pustaka
[1] Hari Wisana, I.D.G, dan Elnika Crew. ( 2021) Modul Elterin 2020-2021.
[2] Taufiqullah. (24 Mei 2020) Rangkaian Komparator.
https://www.tneutron.net/elektro/rangkaian-komparator/
[3] Faricha Arif. (22 Maret 2012) Prinsip Kerja Komparator
http://faricha-ariefzh.blogspot.com/2012/05/prinsipkerja-komparator.html?m=1
[4] Teknik Elektronika. (30 November 2013) Defini Komparator dan Rangkaian
http://anakteknikkeras.blogspot.com/2016/11/definisi-komparator-dan-
rangkaian.html?m=1

9. Lampiran
a. Skematik
 Achmad Muhajjir S. Nursam

 Ajeng Kinanti

P a g e | 15
 Akbaryan Syah Reza Kusuma

b. Layout

 Achmad Muhajjir S. Nursam

 Ajeng Kinanti

P a g e | 16
 Akbaryan Syah Reza Kusuma

P a g e | 17