Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

GURU PROFESIONAL SEBAGAI KOMONIKATOR DAN FASILITATOR

Oleh

Siti jubaida Adam (20900120027)

Ainun Aisyah ( 20900120030)

Nurul Fajriani ( 20900120040)

Citra Dewi ( 20900120020 )

JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

TAHUN 2020
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Proses pembelajaran merupakan suatu sistem untuk meningkatkan kualitas pendidikan

yang dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan

mempengaruhi proses pembelajaran. Namun demikian, komponen yang selama ini dianggap

sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah komponen guru. Bagaimanapun bagus dan

idealnya kurikulum pendidikan, lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan, tanpa diimbangi

dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang

bermakna. Proses pembelajaran akan tercipta dengan baik apabila terjadi interaksi antara guru

dan siswa. Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik,

mengajar dan membimbing peserta didik. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam

keberhasilan proses pembelajaran. Keberhasilan seorang guru dalam proses pembelajaran dapat

dilihat dari tercapainya tujuan pembelajaran. Salah satu tercapainya tujuan pembelajaran adalah

siswa dapat memahami dan mengerti mengenai materi yang disampaikan oleh guru. Dalam

keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang

paling pokok.

Keberhasilan pencapaian dari tujuan pendidikan terutama ditentukan oleh bagaimana

proses belajar mengajar yang dialami siswa. Siswa yang belajar tentu akan mengalami sesuatu

perubahan baik perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. Guru

sebagai orang yang dianggap memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan kepada siswa

diharapkan mampu mengemban tugas secara profesional sesuai dengan disiplin ilmu yang

dimilikinya.

Guru juga memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang

diselenggarakan secara formal di sekolah serta memiliki pengaruh yang sangat besar dalam

proses pembelajaran salah satunya adalah keberhasilan belajar siswa. Untuk mencapai
keberhasilan belajar siswa diperlukan peran guru yaitu sebagai fasilitator dan motivator. Tugas

guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator

yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta

didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat,

tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Rasa gembira penuh semangat,

tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupakan modal dasar bagi

peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi

berbagai kemungkinan, dan memasuki era globalisasi yang penuh berbagai tantangan (Mulyasa,

2013:53-54).

Guru sebagai fasilitator harus memiliki sikap yang baik, pemahaman terhadap peserta

didik melalui kegiatan dalam pembelajaran dan memiliki kompetensi dalam menyikapi perbedaan

individual peserta didik Mulyasa, 2013:55-57). Selain guru berperan sebagai fasilitator juga harus

berperan sebagai motivator dalam memberikan semangat kepada siswa. Hasil belajar akan

optimal kalau ada motivasi yang tepat. Terkait dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan

begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi

motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar.

Jadi tugas guru adalah bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi

(Sardiman,2016:75-76). Dalam memotivasi siswa guru harus mengetahui prinsip dalam

memotivasi siswa, yaitu peserta didik akan bekerja keras kalau memiliki minat dan perhatian

terhadap pekerjaannya,memberikan tugas yang jelas dan dapat dimengerti. memberikan

penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi peserta didik, menggunakan hadiah, hukuman

secara efektif dan tepat guna serta memberikan penilaian dengan adil dan transparan (Mulyasa,

2013:59).

Siswa akan termotivasi dalam belajarnya jika pinsip tersebut dapat dilaksanakan dengan

baik oleh guru. Untuk membangkitkan motivasi siswa dapat dilakukan dengan memberi angka,

hadiah, saingan, ego-involvement, memberi ulangan, mengetahui hasil, pujian, hukuman, hasrat
untuk belajar, minat dan tujuan yang diakui (Sardiman, 2016:92-95). Peranan guru sebagai

motivator ini sangat penting dalam interaksi belajar-mengajar, karena menyangkut esensi

pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial. Peran guru sebagai fasilitator dan

motivator adalah memberikan kemudahan atau memfasilitasi siswa dalam belajar dan guru juga

harus bisa membangkitkan semangat siswa. Namun, pada kenyataannya peran guru sebagai

fasilitator dan motivator kurang maksimal di lakukan oleh guru. Hal ini terlihat dari hasil

pengamatan peneliti bahwa peran guru sebagai fasilitator masih kurang maksimal dilaksanakan

karena masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang

diberikan guru, kemudian siswa tersebut bertanya kepada siswa lain bukan bertanya kepada guru.

Guru adalah tokoh bermakna dalam kehidupan anak. Guru memegang peran lebih dari

sekedar pengajar, melainkan pendidik dalam arti yang sesungguhnya.5 Secara umum dapat

dikatakan bahwa setiap guru memiliki tiga peran dalam proses belajar-mengajar, yaitu peran

sebagai komunikator, motivator, dan fasilitator. Sebagai komunikator, dalam megajarkan bahan

bahan ilmu pengetahuan guru mengalihkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan kepada siswa

dan membuat mereka mampu menyerap, menilai, dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang

dipelajari. Sebagai motivator, guru menimbulkan motivasi dan semangat pada siswa untuk secara

terus menerus mempelajari dan mendalami ilmunya. Guru terus berperan untuk merangsang

siswanya agar mau dan senang belajar. Sebagai fasilitator, guru berupaya untuk mempermudah

dan memperlancar proses belajar bagi siswanya.


BAB. II
PEMBAHASAN

A. Guru profesional

Secara etimologi, “profesi” berasal dan bahasa Yunani yang mengandung anti “pekerjaan

job”. , yaitu menghabiskan adanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui persiapan dan

latihan Namun arti itu kemudian berkembang tidak hanya sekedar pekerjaan atau job, tetapi di

dalamnya terpaku juga suatu “panggilan” atau suatu “ailing”, suatu strong inner impulse.

Menurut bahasa, profesionalisme adalah sikap yang mengedepankan aspek tanggung

jawab terhadap profesinya atau berperan sebagaimana jabatan yang diembannya. Profesionalisme

merupakan sesuatu yang berkenaan dengan profesi, dimana seseorang dengan profesinya tersebut
memiliki kemampuan untuk melaksanakan sesuai dengan norma-norma atas profesi yang

dijabatnya.

Tugas profesional guru yang meliputi mendidik, mengajar, dan melatih mempunyai arti

yang berbeda. Tugas mendidik mempunyai arti bahwa guru harus meneruskan dan

mengembangkan nilai-nilai hidup, sedangkan tugas mengajar berarti meneruskan dan

mengembangkan ketrampilan-ketrampilan kepada anak didik. Sehingga dengan demikian

sebelum terjun dalam profesinya, guru sudah harus memiliki kemampuan baik yang bersifat

edukatif maupun non edukatif.

Adapun tugas pokok seorang guru dalam kedudukannya sebagai pendidik professional

atau tenaga pendidik seperti disebutkan dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 39 tentang Sistem

Pendidikan Nasional menyebutkan:

1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan,

pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan

pendidikan.

2) Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan

proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian, dan pengabdian

kepada mayarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

3) Pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan

pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen.

Guru merupakan ujung tombak dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Oleh

karena itu kemampuan guru marupakan indikator pada keberhasilan proses belajar mengajar.

Disamping itu tugas profesionalisme guru juga mencakup tugas terhadap diri sendiri, terhadap

keluarga, dan terutama tugas dalam lingkungan masyarakat dimana guru tersebut tinggal. Tugas-

tugas tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang guru, karena bagaimanapun juga

sosok kehidupan seorang guru adalah merupakan sosok utama yang berkaitan dengan lingkungan

dimana guru tinggal, sehingga guru harus mempunyai pribadi yang rangkap yang harus dapat
diperankan dimana guru itu berada. Tugas personal guru yang dimaksud disini adalah tugas

yang berhubungan dengan tanggungjawab pribadi sebagai pendidik, dirinya sendiri dan konsep

pribadinya.

Untuk mendapatkan hasil belajar yang obtimal, banyak dipengaruhi komponen-komponen

belajar-mangajar. Sebagai contoh bagaimana cara mengorganisasikan matrri, metode yang

terapkan, media yang digunakan, dan lain-lain. Tatapi disamping komponenkomponen pokok

yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, ada faktor lain yang ikut mepengaruhi keberhasilan

belajar siswa, yaitu soal hubungan antara gura dan siswa. Hubungan guru dengan siswa/anak

didik di dalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat menentukan.

Bagaimanapun banyak bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnanya metode yang

digunakan, namun jika hubungan guru-siswa merupakan hubungan yang tadak harmonis, maka

dapat diciptakan suatu hasil yang tidak diinginkan.

Tugas guru yang berhubungan dengan tanggung jawab sebagai seorang pendidik, sangat

erat hubungannya dengan tugas profesionalisme yang harus dipenuhi oleh seorang guru dalam

kaitannya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar. Dewasa ini sering dijumpai bahwa

seorang guru lebih mementingkan tugas pribadinya dari pada harus melaksanakan tugas dan

kewajibannya sebagai seorang pendidik, sehingga tidak mustahil adanya guru yang tidak bisa

melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan baik, karena lebih mementingkan persoalan

yang berkenaan dengan pribadinya sendiri. Misalnya seorang guru tidak mengajar karena harus

mengajar ditempat lain untuk menambah pendapatan pribadinya. Hal semacam ini seringkali

mengakibatkan jatuhnya korban pada salah satu pihak, yaitu anak didiknya, hal ini dikarenakan

keteledoran guru yang berusaha mencari tambahan penghasilan untuk dirinya pribadi.

B. Guru sebagai fasikitator.


Fasilitator adalah istilah Inggris yang telah di Indonesia kan. Fasilitator bermakna bahwa

guru juga harus berfungsi sebagai pemberi fasilitas atau melakukan fasilitasi. Guru menjadi

jembatan yang baik di depan para siswanya. Dalam fungsinya ini guru lebih banyak melakukan

sharing belajar, atau bisa disebut belajar bersama. Ketika guru menyampaikan kompetensi dasar

sebuah mata pelajaran, ia tidak akan mengeksplorasi pelajaran itu, ia hanya memancing

pengetahuan yang ia yakin telah diketahui oleh para siswanya. Kumpulan- kumpulan

pengetahuan itu ketika dicakupkan akan menjadi sistematika pengetahuan yang luar biasa.

Dalam hal ini murid tidak dipandang sebagai semata objek pembelajaran, tetapi ia adalah

subjek pembelajaran itu sendiri, dan bahkan guru harus siap terbuka untuk mengalami

pembelajaran bersama. Guru sebagai Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan

melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya. Guru Sebagai Fasilitator, guru

hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegitan belajar anak

didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau

kemudahan dalam proses pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan

belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan anak sehingga interaksi pembelajaran

akan berlangsung secara efektif.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru akan bertindak sebagai fasilisator dan motivator yang

bersikap akrab dengan penuh tanggung jawab, serta memperlakukan peserta didik sebagai mitra

dalam menggali dan mengolah informasi menuju tujuan belajar mengajar yang telah

direncanakan. Guru dalam melaksanakan tugas profesinya selalu dihadapkan pada berbagai

pilihan, karena kenyataan di lapangan kadang tidak sesuai dengan harapan, seperti cara

bertindak, bahan belajar yang paling sesuai, metode penyajian yang paling efektif, alat bantu

yang paling cocok, langkah-langkah yang paling efisien, sumber belajar yang paling lengkap,

sistem evaluasi yang sesuai.


Meskipun guru sebagai pelaksana tugas otonom, guru juga diberikan keleluasaan untuk

mengelola pembelajaran, dan guru harus dapat menentukan pilihannya dengan

mempertimbangkan semua aspek yang relevan atau menunjang tujuan yang hendak dicapai.

Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengambil keputusan. Sebagai fasilitator guru hendaknya

mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan

dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku, teks, majalah, atau pun surat

kabar.

C. Guru sebagai komonikator.

Komunikasi dalam bahasa Inggris adalah communication, berasal dari kata commonicatio

atau dari kata comunis yang berarti “sama” atau “sama maknanya”. Dengan kata lain komunikasi

memberi pengertian bersama dengan maksud mengubah pikiran, sikap, perilaku, penerima dan

melakukan yang diinginkan oleh komunikator. Komunikasi berarti penyampaian informasi,

gagasan, pikiran, perasaan, keahlian dari komunikator kepada komunikan untuk mempengaruhi

pikiran komunikan dan mendapatkan tanggapan balik sebagai feedback bagi komunikator.

Sehingga komunikator dapat mengukur berhasil atau tidaknya pesan yang di sampaikan kepada

komunikan.

Komunikasi mendapatkan tempat strategis dalam dunia pendidikan. Pendidikan adalah

komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri dari

guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan. Tujuan pendidikan akan tercapai jika

prosesnya komunikatif.

Pada umumnya pembelajaran berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka

(face to face) dan kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi antara siswa dan guru dalam

ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, guru sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi

komunikasi antarpersonal. Terjadilah komunikasi dua arah atau dialog dimana siswa menjadi

komunikan dan komunikator. Mengingat pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang


melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif

dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar, maka pembelajaran dapat melibatkan dua

pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Guru merupakan sumber utama

dalam menentukan kesuksesan belajar siswa. Faham atau tidaknya siswa tergantung bagaimana

guru menjelaskan. Menarik atau tidaknya pembelajaran juga tergantung guru dalam mendesain

pembelajaran dan mengkondisikan suasana.

Guru sebagai komunikator dituntut mempunyai keterampilan berkomunikasi yang baik

agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan memberikan kesan yang baik kepada

siswa. Untuk itu, seorang guru harus mengetahui kebutuhan, karakteristik, minat, serta hobi anak

didiknya yang menjadi pihak komunikan. Komunikasi dan performa guru menjadi titik pusat

perhatian siswa dalam belajar. Siswa akan senang belajar jika guru mampu mengemas dan

mendesain komunikasi pembelajaran dengan sebaik-baiknya, walaupun hakekatnya siswa kurang

suka terhadap materi yang disampaikan guru. Begitu pula sebaliknya, apabila guru tidak peka dan

tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik, maka siswa dipastikan akan kurang berminat

untuk belajar walaupun sebenarnya siswa menyukai terhadap materi pembelajaranya.

Di dalam komunikasi pembelajaran, tatap muka seorang guru mempunyai peran yang

sangat penting di dalam kelas yaitu peran mengoptimalkan kegiatan belajar. Ada tiga kemampuan

esensial yang harus dimiliki guru agar peran tersebut terealisasi, yaitu kemampuan merencanakan

kegiatan, kemampuan melaksanakan kegiatan dan kemampuan mengadakan komunikasi. Ketiga

kemampuan ini disebut generic essensial. Ketiga kemampuan ini sama pentingnya, karena setiap

guru tidak hanya mampu merencanakan sesuai rancangan, tetapi harus terampil melaksanakan

kegiatan belajar dan terampil menciptakan iklim yang komunikatif dalam kegiatan pembelajaran.

Iklim komunikatif yang baik dalam hubungan interpersonal antara guru dengan guru,

guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan

berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif, karena setiap personal diberi kesempatan

untuk ikut serta dalam kegiatan di dalam kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sehingga timbul situasi sosial dan emosional yang menyenangkan pada tiap personal, baik guru

maupun siswa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Dalam menciptakan iklim komunikatif guru hendaknya memperlakukan siswa sebagai

individu yang berbeda-beda, yang memerlukan pelayanan yang berbeda pula, karena siswa

mempunyai karakteristik yang unik, memiliki kemampuan yang berbeda, minat yang berbeda,

memerlukan kebebasan memilih yang sesuai dengan dirinya dan merupakan pribadi yang aktif.

Untuk itulah kemampuan berkomunikasi guru dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan.

Adapun usaha guru dalam membantu mengembangkan sikap positif pada siswa misalnya

dengan menekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan kelemahannya, menghindari

kecenderungan untuk membandingkan siswa dengan siswa lain dan pemberian insentif yang tepat

atas keberhasilan yang diraih siswa. Kemampuan guru untuk bersikap luwes dan terbuka dalam

kegiatan pembelajaran bisa dengan menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa dan

orang lain, sikap responsif, simpatik, menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian dan sabar.

Dengan terjalinnya keterbukaan, masing-masing pihak merasa bebas bertindak, saling

menjaga kejujuran dan saling berguna bagi pihak lain sehingga merasakan adanya wahana tempat

bertemunya kebutuhan mereka untuk dipenuhi secara bersama-sama.

Kemampuan guru untuk tampil secara bergairah dan bersungguh-sungguh berkaitan

dengan penyampaian materi di kelas yang menampilkan kesan tentang penguasaan materi yang

menyenangkan. Karena sesuatu yang energik, antusias, dan bersemangat memiliki relevansi

dengan hasil belajar. Perilaku guru yang seperti itu dalam proses belajar mengajar akan menjadi

dinamis, mempertinggi komunikasi antar guru dengan siswa, menarik perhatian siswa dan

menolong penerimaan materi pelajaran.

Kemampuan guru untuk mengelola interaksi siswa dalam kegiatan pembelajaran

berhubungan dengan komunikasi antara siswa, usaha guru dalam menangani kesulitan siswa dan

siswa yang mengganggu serta mempertahankan tingkah laku siswa yang baik. Agar semua siswa

dapat berpartisipasi dan berinteraksi secara optimal, guru mengelola interaksi tidak hanya searah
saja yaitu dari guru ke siswa atau dua arah dari guru ke siswa dan sebaliknya, melainkan

diupayakan adanya interaksi multi arah yaitu dari guru ke siswa, dari siswa ke guru dan dari

siswa ke siswa. Jadi semua kemampuan guru di atas mengarah pada penciptaan iklim

komunikatif yang merupakan wahana atau sarana bagi tercapainya tujuan pembelajaran yang

optimal.

BAB. III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan.
1. Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, rasa kesejawatan

dan piawai dalam melaksanakan profesinya. Karakter guru profesional itu diantaranya,

mempunyai pengetahuan yang tinggi pada mata pelajaran spesialisnya, berpengalaman

dalam mengajar, selalu ceria dan santai dalam membawakan pelajaran, ucapannya jelas

dan antusias.
2. Sebagai fasilitator, guru bertugas menyediakan kemudahan-kemudahan belajar bagi

siswa, seperti memberikan informasi tentang cara belajar yang efektif, menyediakan buku

sumber yang cocok, memberikan pengarahan dalam pemecahan masalah dan

pengembangan diri peserta didik.

3. Sebagai komunikator, guru bertugas mengomunikasikan murid dengan berbagai sumber

belajar. Pekerjaannya antara lain memberikan informasi tentang buku sumber yang

digunakan, tempat belajar yang kondusif, bahkan mungkin sampai menginformasikan

narasumber lain yang ditugasi jika diperlukan.

B. Saran

Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.

1) Guru hendaknya menguasai konsep fasilitator dan komunikator untuk mengembangkan

profesionalismenya.

2) Guru hendaknya menerapkan fasilitator dan komunikator dalam pembelajaran sehari-

hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://makalahmahasiswariau.blogspot.co.id/2015/05/organisasi-profesi-guru.html

Proyek P2MPD. 2000. Fasilitator dalam Pendidikan Kemitraan (Materi IV-4-1). Jakarta.

http://artikelria.blogspot.com/2011/05/guru-sebagai-komunikator.html, diakses Sabtu, 07

Mei 2011

http://suranto-antasura.blogspot.com/2012/04/guru-profesional-guru-sebagai-

motivator.html, diakses Jumat, 20 April 2012

http://apipsupendi05.blogspot.com/2012/09/guru-sebagai-pasilitator-dan-motivator.html,

diakses Selasa, 25 September 2012


http://sntsusan.blogspot.com/2014/01/makalah-guru-profesional-sebagai.html, diakses

Kamis, 02 Januari 2014

www.psychologymania.com. [3 October 2013].