Anda di halaman 1dari 46

PEROLEHAN DAN PENYUSUTAN

AKTIVA TETAP
DALAM PERPAJAKAN
Dasar Hukum
a. Pasal 10 ayat (1) s/d (6) UU No 10 tahun 1994

b. Pasal 4 (1d) UU No 36 Tahun 2008

c. Pasal 6 UU UU No. 36 Tahun

d. Pasal 9 ayat (2) UU no 36 Tahun 2008

e. Pasal 11 ayat (1) s/d (11) UU No 36 Tahun 2008

f. Pasal 11 A ayat (1) s/d (9) UU No 36 Tahun 2008


HARGA
HARGA PEROLEHAN
PEROLEHAN Ps, 10 UU No, 10/1994

PAJAK ATAS Keuntungan


AKTIVA TETAP PENGHASILAN Penjualan &
Pengalihan Harta
{Ps 4 (1.d)
UU 36 Th 2008}

Biaya 3 M: Penyusutan
Amortisasi {ps 6(1b);9(2):
11 &11 A UU36 /2008}
BIAYA
Kerugian Penjualan &
Pengalihan Harta
{ps 6(1d) UU36 Th 2008}
Pengertian Aktiva Tetap

SAK No. 16 butir 05


Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk
siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu yang digunakan
dalam operasi perusahaan , tidak dimaksudkan untuk dijual,
dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun

Pasal 9 ayat UU N0 36 Tahun 2008


Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan
dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A.
PEROLEHAN AKTIVA TETAP (Pasal 10 UU No. 10 Tahun 1994)
(1) Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak
dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud pasal 18 ayat (4) adalah
jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat
hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
(2) Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar menukar harta adalah
jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima , berdasarkan harga pasar
(3) Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi
penggabungan, peleburan,pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar,
kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan (lihat Permenku 43 Tahun 2008)
(4) Apabila terjadi pengalihan harta :
a. yang memenuhi syarat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) huruf
a dan b maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai
sisa buku dari pihak yg melakukan pengalihan atau nilai yng ditetapkan Dirjen Pajak
b. yang tidak memenuhi syarat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (3)
huruf a maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai
pasar dari harta tersebut
(5) Apabila terjadi pengalihan harta sebagaimana dimaksud padal 4 ayat (3) huruf c ,
maka dasar penilaian bagi badan yang menerima pengalihan sama dengan nilai
pasar harta tersebut
CARA PENILAIAN AKTIVA

1. Penilaian berdasarkan harga perolehan


2. Penilaian berdasarkan harga pasar yang
wajar
3. Penilaian berdasarkan nilai buku
4. Penilaian berdasarkan revaluasi
5. Penilaian berdasarkan wewenang yang
diberikan UU
AKTIVA TETAP SEBAGAI PENGHASILAN DALAM PAJAK
(pasal 4 UU No. 36 Tahun 2008)

keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

1. keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan


badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
2. keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau
anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
3. keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan
dalam bentuk apa pun;
4. keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan,
kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk
yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan
kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri
Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
5. keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan;
HARGA PEROLEHAN AKTIVA TETAP

1.Harga Beli/Cost
2.Insurance
3.Freight
4.Bea Masuk dan Bea Masuk
Tambahan
5.PPN Masukan yang tidak dapat
dikredit
6.Biaya-biaya langsung terkait dengan
aktiva dapat dipakai
JUAL BELI TUNAI DAN ANGSURAN

TUKAR MENUKAR HARTA

PENYERTAAN MODAL / PENGALIHAN HARTA KRN


PENGGABUNGAN , PELEBURAN, PEMEKARAN ,
PENAGMBILALIHAN USAHA
PEROLEHAN
AKTIVA TETAP
HIBAH, SUMBANGAN

MEMBANGUN SENDIRI

LEASING
JUAL BELI AKTIVA TETAP
a. Jika tidak ada hubungan istimewa, maka harga
perolehan atau harga penjualan adalah jumlah
pengeluaran atau penerimaan yang sesungguhnya
b. Jika terdapat hubungan istimewa, maka harga
perolehan atu harga penjualan adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan atau diterima

Kasus 1 (aktiva diperoleh dari pembelian)


PT A membeli mesin dari PT D dengan harga tunai
Rp. 200.000.000,00
1) Jika PT A tidak ada hubungan istimewa dengan PT D

Jurnal PT A

| Mesin Rp. 200.000.000


| Kas Rp.200.000.000

Jurnal PT D

| KAS Rp. 200.000.000


| PENJUALAN Rp.200.000.000
2) Jika PT A dan PT D mempunyai hubungan istimewa,
maka harus dicatat sebesar harga pasar yg seharusnya

Misalkan harga pasar mesin yang wajar Rp.175.000.000

Jurnal PT A
| Mesin Rp.175.000.000
| Mesin(Bukan HP Pajak) Rp. 25.000.000
| Kas Rp.200.000.000

Jurnal PT D ?
| Kas Rp. 200.000.000
| Penjualan Mesin Rp. 175.000.000
| Pendapatan Lain2 Rp. 25.000.000
2) Jika PT A dan PT D mempunyai hubungan istimewa,
maka harus dicatat sebesar harga pasar yg seharusnya

Misalkan harga pasar mesin yang wajar Rp.220.000.000

Jurnal PT A
| Mesin Rp. 220.000.000
| Kas Rp. 200.000.000
| Pendapatan Lain2 Rp. 20.000.000

Jurnal PT D
| Kas Rp. 200.000.000
| Rugi Penjualan Rp. 20.000.000
| Penjualan Rp. 220.000.000
• Kasus 2 (Pembelian secara Gabungan)
PT A membeli Gedung, Mesin, dan Peralatan
secara paket seharga Rp. 540.000.000.
Harga pasar atas Gedung Rp 300.000.000 dan
Mesin Rp. 200.000.000 serta Peralatan Rp.
100.000.000
Jurnal PT A
| Gedung Rp. 270.000.000 *)
| Mesin Rp. 180.000.000 **)
| Peralatan Rp. 90.000.000 ***)
| Kas Rp.540.000.000
*) 300.000.000/ 600.000.000 x 540.000.000
**) 200.000.000 / 600.000.000 x 540.000.000
***) 100.000.000 / 600.000.000 x 540.000.000
• Jika harga pasar Peralatan tidak diketahui,
maka yang dicatat adalah selisih harga
gabungan dengan harga pasar dari aktiva yang
diketahui.
Jurnal PT A
| Gedung Rp. 300.000.000
| Mesin Rp. 200.000.000
| Peralatan Rp. 40.000.000
| Kas Rp. 540.000.000
Kasus 4
(aktiva diperoleh dari pembelian secara angsuran)
PT A membeli mobil dari PT D dengan syarat sbb:
a. harga tunai Rp. 250.000.000,00
b. Secara angsuran dengan uang muka
Rp.50.000.000,00 dan sisanya diangsur 8 kali angsuran
tiap bulan yang sama besarnya. Dalam jual beli
angsuran diperhitungkan bunga
18 % pertahun flate rate
Diminta :1) Buat jurnal saat pembelian
2) Buat jurnal saat angsuran pertama
3) Hitung harga perolehan mobil jika diketahui
PPN 10%; BBN Rp. 25.000.000,00 dan
Biaya Asesoris dll Rp. 5.000.000,00
Jurnal Saat Pembelian
| Mobil (Harga beli) Rp. 250.000.000
| Kas Rp. 50.000.000
| Utang Angsuran Rp. 200.000.000

Jurnal Saat Angsuran


| Utang Angsuran Rp. 20.000.000
| Beban Bunga Rp. 3.000.000
| kas . Rp 23.000.000

Harga Perolehan Mobil


Harga Mobil Rp. 250.000.000
PPN 10 % Rp. 25.000.000
BBN Rp. 25.000.000
Biaya Asesoris Rp. 5.000.000 (+)
Harga Perolehan Rp. 305.000.000
Tukar Menukar Harta
Kasus 5
Dalam tukar menukar aktiva , maka nilai perolehan
atau nilai penjualan adalah jumlah yang seharusnya
diterima berdasarkan harga pasar yang wajar
PT A PT B
(mesin D) (Mesin E)
Nilai Buku Rp 10 juta Rp. 12 juta
Harga Pasar Rp. 20 juta Rp. 20 juta
Dalam tukar menukar tersebut tidak ada pembayaran
tunai
Jurnal ?
Jurnal PT A
| Mesin E (baru) Rp. 20.000.000
| Laba Pertukaran Rp. 10.000.000
| Mesin D (lama) Rp. 10.000.000

Jurnal PT B
| Mesin D (baru) Rp. 20.000.000
| Laba Pertukaran Rp. 8.000.000
| Mesin E (lama) Rp. 12.000.000
• Contoh 6:
PT V menukar mesin V bekas dengan mesin
W milik PT W.
Nilai buku dan harga pasar masing-masing
mesin adalah sebagai berikut :
PT V PT W
Nilai buku Mesin Rp200 juta Rp 450 juta
Harga pasar mesinRp250 juta Rp. 400juta

Harga perolehan (cost) mesin V Rp.300 juta


dan mesin W Rp. 800 juta. PT V disamping
menyerahkan mesin V kepada PT W juga
membayar uang Rp. 180 juta
Jurnal PT V
| Mesin W Rp. 400 juta
| Akm Penyst Mesin Rp. 100 juta
| Mesin V (Bekas) Rp300 juta
| Kas Rp180 juta
| Laba Tukar Tambah Rp. 20 juta
• Jurnal PT W
| Mesin V Rp. 250 juta
| Akm.Penyst MesinRp. 350 juta
| Kas Rp. 180 juta
| RugiTukarTambah Rp. 20 juta
| Mesin W (bekas) Rp 800 juta
Perolehan Aktiva karena Penyertaan Modal/
Pengalihan Harta krn Penggabungan Usaha
(MERGER, KONSOLIDASI, AFILIASI, LIKUIDASI)
1) Metode Penyatuan Kepentingan (Pooling of Interest)
2) Metode Pembelian (Purchase)
Kasus 7:
PT A dan PT B akan menggabungkan usaha menjadi PT C.
Aktiva PT A dan PT B sbb:
PT A PT B
Nilai Buku 200 juta 300 juta
Harga Pasar 300 juta 450 juta
PT C menyerahkan saham kpd PT A dan PT B dengan nilai
nominal Rp. 500.000.000
Jurnal PT C (metode Pooling of Interest)
| Aktiva Rp. 500.000.000
| Modal Saham Rp. 500.000.000

Jurnal PT C (metode Purchase)


| Aktiva Rp. 750.000.000
Modal Saham Rp. 500.000.000
Agio saham Rp. 250.000.000
Contoh 8 :
PT WIDYA AKAN MENGGANTI AKTIVA NETTO
PT ARIF DENGAN MENERBITKAN SAHAM
12.000 LBR nominal @ Rp10000
Neraca Sebelum penggabungan sebagai
berikut :
NERACA SEBELUM BERGABUNG
KETERANGAN PT WIDYA PT ARIEF
KAS 50.000.000 30.000.000
PIUTANG 70.000.000 50.000.000
PERSEDIAAN 80.000.000 90.000.000
AKTIVA TETAP 200.000.000 130.000.000
UTANG 80.000.000 100.000.000
MODAL SAHAM 200.000.000 100.000.000
(NN @ 10.000)
AGIO SAHAM 20.000.000 40.000.000
LABA TAK DIBAGI 100.000.000 60.000.000
Menerbitkan 12.000 lembar saham
KETERANGA PT WIDYA PT ARIF PT WIDYA
N
KAS 50.000.000 30.000.000 80.000.000
PIUTANG 70.000.000 50.000.000 120.000.000
PERSEDIAAN 80.000.000 90.000.000 170.000.000
AKTIVA TETAP 200.000.000 130.000.000 330.000.000
UTANG 80.000.000 100.000.000 180.000.000
MODAL 200.000.000 120.000.000 320.000.000
SAHAM
(NN @ 10.000)
AGIO SAHAM 20.000.000 20.000.000 40.000.000
LABA TAK 100.000.000 60.000.000 160.000.000
DIBAGI
Jurnal PT Widya
Kas Rp. 30.000.000
Piutang Rp. 50.000.000
Pers. BarangRp. 90.000.000
Aktiva Tetap Rp130.000.000
Utang Rp.100.000.000
Modal Saham Rp.120.000.000
Agio Saham Rp. 20.000.000
Laba Tak Dibagi Rp. 60.000.000
• PENGALIHAN AKTIVA KARENA HIBAH,
BANTUAN, SUMBANGAN
Jika pengalihan harta karena hibah yang diterima
oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat dan oleh badan keagamaan
atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi , dan
bantuan atau sumbangan, sepanjang hibah,
bantuan atau sumbangan tersebut tidak ada
hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan antara pihak ybs, maka dasar
penilaian/harga perolehan adalah sama dengan
nilai buku aktiva
• PENGALIHAN AKTIVA BERUPA SETORAN
TUNAI SEBAGAI PENGGANTIAN
PENYERTAAN MODAL

• Penilaian aktiva adalah harga pasar dari aktiva


tersebut
Tuan B menyerahkan peralatan kepada PT
ABC dengan nilai buku Rp. 25 juta sebagai
pengganti penyertaan modal saham dengan
nilai nominal Rp. 20 juta. Harga pasar peralatan
Rp. 40 juta
• Jurnal PT ABC ( Penerima Setoran Modal)
| Peralatan Rp. 40.000.000
| Modal Saham Rp.20.000.000
| Agio Saham Rp.20.000.000

Jurnal Tuan A
| Investasi PT ABC Rp. 40.000.000
| Peralatan Rp.25.000.000
| Laba Pengalihan Aktiva Rp.15.000.000
Kasus 1
PT Naharina membeli mesin produksi untuk menghasilkan BKP
Harga Beli Rp. 800.000.000
Potongan harga 5 %
PPN Masukan 10 %
Biaya angkutan darat Rp. 5.000.000
Biaya persiapan lokasi Rp. 8.000.000
Biaya pemasangan Rp. 7.000.000
Biaya uji coba Rp. 5.000.000
Hitung harga perolehan atas mesin

Kasus 2
PT Arief membeli mesin dari Jepang, Pemberitahuan Impor Barang (PIB)
menyebutkan : Cost US $ 200,000 ; Insurance US $ 1,000 dan Freight US $
20,000. Kurs menurut menteri Keuangan US $ 1 = Rp. 9,000. Bea Masuk 20
%. PT Arief memiliki API . Pembayaran barang lewat bank devisa dengan kurs
US$ 1 = Rp. 8.900. Biaya jasa pabean Rp.20.000.000 dan biaya angkut Rp.
5.000.000 dan biaya pemasangan dan uji coba Rp. 15.000.000
Hitung harga perolehan atas mesin
Biaya Fiskal :
Penyusutan dan Amortisasi
Dasar Hukum :
1. UU No. 36 Tahun 2008
a. Pasal 6 ayat 1 huruf (b)
b. pasal 9 ayat 2
b. Pasal 11
c. Pasal 11 A
2. Peraturan Menteri Keuangan No 96/PMK.03/2009 tanggal 15 Mei 2009 tentang
Jenis-jenis Harta yang Termasuk Kelompok Harta Berwujud Bukan
Bangunan untuk Keperluan Penyusutan
3. Keputusan Menteri Keuangan No. 521/KMK.03/2000 tentang Jenis-jenis Harta
Untuk Keperluan Penyusutan Bagi Kontraktor yang Melakukan Eksplorasi
Minyak dan Gas Bumi dalam Rangka Kontrak Bagi Hasil dengan Perusahaan
Pertamina
4. Keputusan Dirjen Pajak No KEP-520/PJ/20002 tentang Jenis-Jenis Harta yang
Dipergunakan dalam Usaha Jasa Telekomunikasi Seluler yang termasuk
Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan untuk Keperluan Penyusutan
5. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: Kep-220/PJ./2002 Tentang Perlakuan
Pajak Penghasilan Atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler Dan Kendaraan
Perusahaan
CAPITAL
COST
EXPENDITURE
EXPENDITURE

REVENUE EXPENSE
EXPENDITURE
Konsep Penyusutan Menurut Akuntansi

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat


disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi.
Penyusutan untuk satu periode akuntansi dibebankan ke
pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang:


1)diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi, dan
2)memiliki suatu manfaat yang terbatas, dan ditahan oleh suatu perusahaan untuk
digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa, untuk disewakan atau
untuk tujuan administrasi.
3)Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan
suatu aktiva dikurangi nilai sisanya.
BIAYA AKTIVA TETAP
(DEPRESIASI/PENYUSUTAN)
Pasal 6
(1) Besar Penghasilan Kena Pajak bagi WP dalam negeri dan bentuk usaha
tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi:
a. biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihar penghasilan…………
b. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain
yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun sebagaimana
dimaksud dalam pasal 11 dan pasal 11

• Pasal 9
(1) Untuk menentukan besarnya PKP bagi WP dalam negeri dan bentuk usaha
tetap tidak boleh dikurangkan: a s/d k

(2) Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan


yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh
dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau
amortisasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 dan pasal 11 A
• Pasal 11
(1) Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian.
penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud,
kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan,
hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama
masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.
(2) Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) selain bangunan, dapat juga
dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa
manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa
manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat
dilakukan secara taat asas.
Pasal 11 A UU nomor: 36 Tahun 2008
(1) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh
harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya, termasuk
biaya perpanjangan HGB, HGU, dan HP, yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang
dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagian
yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang
menurun selama masa manfaatnya, yang dihitung
dengan menerapkan tarif amortisasasi atas
pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan
pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus
dengan syarat dilakukan secara taat azas
PENYUSUTAN

SECARA FISKAL SECARA FISKAL SECARA FISKAL


100% HANYA BOLEH 100%
BOLEH 50% TIDAK BOLEH

CONTOH : CONTOH : CONTOH :


• BANGUNAN • KENDARAAN SEDAN 1. PPh FINAL
• PERALATAN • HAND PHONE (HP) 2. KENIKMATAN

39
METODE PENYUSUTAN
(Pasal 11 Ayat 1, 2, 7)

HARTA BERWUJUD

SELAIN USAHA
BANGUNAN
BANGUNAN TERTENTU

SALDO MENURUN DITETAPKAN


GARIS LURUS PADA AKHIR MASA OLEH MENKEU
MANFAAT DISUSUTKAN
SEKALIGUS

KECUALI : TANAH YG BERSTATUS HM, HGU, HAK PAKAI


40
• Metode Penyusutan
1) Metode Garis Lurus (straight-line method)
2) Metode Saldo Menurun (declining-balance
method)

Tanah ➔ tidak dapat disusutkan


Bangunan ➔ disusutkan dg metode
garis lurus
Bukan Bangunan➔ disusutkan metode garis
lurus atau metode saldo
menurun
Masa Manfaat Aktiva Tetap dan
Tarif Penyusutan
Kelompok Harta Masa Tarif Penyusutan Tarif Penyusutan
Metode Garis Lurus Metode Saldo
Berwujud Manfaat Menurun
1. BUKAN BAGUNAN

KELOMPOK 1 4 TAHUN 25,00 % 50,00 %

KELOMPOK 2 8 TAHUN 12,50 % 25,00 %

KELOMPOK 3 16 TAHUN 6,25 % 12,50 %

KELOMPOK 4 20 TAHUN 5,00 % 10,00 %

2. BANGUNAN
Permanen 20 TAHUN 5,00 % -

Tidak Permanen 10 TAHUN 10,00 % -


MASA MANFAAT DAN TARIF AMORTISASI

KELOMPOK HARTA MASA TARIF AMORTISASI


TAK BERWUJUD MANFAAT
GARIS LURUS SALDO MENURUN
(TAHUN)

KELOMPOK 1 4 25 % 50 %
KELOMPOK 2 8 12,5 % 25 %
KELOMPOK 3 16 6,25 % 12,5 %
KELOMPOK 4 20 5% 10 %

43
• Contoh 1 (metode garis lurus)
Pada awal tahun dibeli mesin dengan harga
perolehan Rp20.000.000,00. Umur mesin 4 tahun.
Penyusutan dengan metode garis lurus

Tahun Tarif Beban Nilai Buku


Ke Penyusutan
0 Rp.20.000.000,00
1 25% Rp.5.000.000,00 Rp.15.000.000,00
2 25% Rp.5.000.000,00 Rp.10.000.000,00
3 25% Rp.5.000.000,00 Rp. 5.000.000,00
4 25% Rp.5.000.000,00 0
• Contoh 2 (metode saldo menurun)
Pada awal tahun dibeli mesin dengan harga
perolehan Rp20.000.000,00. Umur mesin 4 tahun.
Penyusutan dengan metode saldo menurun

Tahun Tarif Beban Nilai Buku


Ke Penyusutan
0 Rp.20.000.000,00
1 50% Rp.10.000.000,00 Rp.10.000.000,00
2 50% Rp. 5.000.000,00 Rp 5.000.000,00
3 50% Rp. 2.500.000,00 Rp. 2.500.000,00
4 50% Rp. 2.500.000,00*) 0
Saat Dimulainya Penyusutan?
1. Penyusutan dimulai saat pengeluaran
2. Penyusutan dimulai saat selesainya proses
pengerjaan
3. Penyusutan dimulai saat aktiva menghasilkan

Catatan :
Penyusutan dapat dilakukan bagian dari tahun