Anda di halaman 1dari 2

Label yang diberikan pada Kartini sebagai pahlawan emansipasi membuat masyarakat tak

banyak mengetahui bahwa pemikirannya tidak sebatas mengenai perempuan. Selain


emansipasi, aspek lain yang dipermasalahkannya adalah keadilan yang menyangkut masalah
kemanusiaan. Termasuk di dalamnya pendidikan, kemiskinan, kesehatan, bahkan agama.

1. Bahkan kritik Kartini terhadap pemeluk agama juga dapat diketahui dalam isi suratnya
kepada Nyonya N. van Kol, 21 Juli 1902. “Selamanya kami maklum dan mengerti, bahwa inti
agama ialah kebaikan, bahwa semua agama itu baik dan bagus. Tetapi, aduhai! Manusia, apa
yang kau perbuat dengan agama itu! …. Meski agama itu baik, tapi yang membuat kami tidak
menyukai agama, bahwa para pemeluk agama yang satu menghina, membenci bahkan kadang-
kadang mengejar-ngejar pemeluk agama yang lain.” (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang: 285-
286). Kekecewaan Kartini tergambar jelas dalam surat tersebut, dia melihat para pemeluk
agama saling menghina dan membenci. Hal ini membuktikan bahwa dia saat itu begitu peduli
terhadap perkembangan agama di Jawa.Ini berkaitan dengan keberadaan agama yang
diharapkan mampu memberi solusi atas permasalahan umat. Karena setiap agama tentulah
mengajarkan kerukunan dan kedamaian. Sehingga keberadaan agama pada masyarakat plural
dapat tercipta suatu keharmonisan. Tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan tersebut.
Oleh karena itu begitu penting pendekatan dalam memahami suatu agama. Ibarat pepatah tak
kenal maka tak paham. Lebih jauh lagi pandangan Kartini bisa disebut sebagai respons terhadap
ajaran agama di tengah masyarakat yang plural. Tidak dapat dipungkiri pluralitas agama di Jawa
begitu rentan menimbulkan konflik bila tidak bisa disikapi secara damai. Seperti hari ini, begitu
maraknya ujaran kebencian, penistaan, eksklusivisme bahkan terorisme dapat kita jumpai
bahkan menjadi isu hangat dalam konsep beragama.

2. Perjuangan kemanusiaan Kartini pada saat itu adalah dengan mengangkat derajat kaum
perempuan akibat sikap feodal yang timbul di lingkungannya sendiri.

Melalui tulisan dan surat-suratnya Kartini menjadi perempuan pertama yang memperjuangkan
kesetaraan bagi kaum perempuan waktu itu. Perjuangan emansipasi yang dilakukan Kartini
dapat kita rasakan hingga saat ini, dimana seorang perempuan memiliki ruang yang sama untuk
mengoptimalkan kemampuan dan cita-citanya di ranah publik. Hal ini menjadikan perempuan
dapat menularkan nilai-nilai kemanusiaan bagi lingkungannya tanpa terhalang oleh kurungan
feodalisme yang menjerat hak-hak perempuan untuk menyuarakan pemikirannya dan
mengambil peran diberbagai bidang pekerjaan.Dapat dikatakan bahwa perjuangan Kartini
belum selesai sebatas adanya emansipasi. Lebih dari itu nilai kesetaraan dan kemanusiaan
menjadi hal besar yang diwarisakan untuk terus disuarakan dan diperjuangkan oleh kita
generasi bangsa saat ini.

3. Kartini juga mengingatkan pentingnya persatuan bagi bangsa Indonesia serta mengajak untuk
menggalang persatuan diantara kalangan muda Indonesia baik pria maupun wanita. Hal ini
terungkap dalam suratnya kepada kepada Ny. Abendanon pada tanggal 30 September 1901.
“The young guard, regardless of sex, should band themselves together. We can each of us do
something unaided, towards the uplifting and civilizing of our people, but if we were united our
strength would be multiplied many times. By working together we could gather a goodly store
of fruit. In union there is strength and power." Banyak orang mengenal Kartini sebatas tokoh
emansipasi wanita. Pandangan itu tidaklah keliru. Namun, sebenarnya sepak terjang Kartini
lebih luas daripada itu. Melalui serangkaian pemikiran yang ia tuangkan dalam
korespondensinya, ia pantas untuk diakui sebagai seorang pahlawan kebangkitan nasional. Ia
adalah tokoh yang menjadi titik tolak sejarah Indonesia untuk memasuki kesadaran sebagai
sebuah bangsa (nasion).Pemikiran utamanya adalah bahwa pembentukan nasionalisme suatu
negara harus diawali oleh terwujudnya nasionalisme etnis sebagai bangsa yang cerdas.

4. Meskipun dalam hidupnya Kartini memiliki perbedaan pendapat dengan orang tuanya, tapi ia
tidak pernah mengurangi rasa hormatnya kepada mereka. Kartini yang dilarang untuk
mendapatkan pendidikan yang tinggi oleh orang tuanya tak membuat wanita kelahiran Jepara
itu semerta-merta langsung membencinya. Malahan ia tetap menghormati keputusan orang
tuanya dan tetap mencari cara untuk belajar sendiri.