Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ANALIS VIDEO

SISTEM TRANSPORTASI TERINTEGRASI


DI DKI JAKARTA
DENGAN MENGGUNAKAN METODE
ANALISIS PEMETAAN PEMANGKU KEPENTINGAN

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas


Pelatihan Dasar CPNS Agenda 2

KELOMPOK II
Dede Rohimah, S.Pd.
Beni Muharam, S.Pd.
Dini Andriyani, S.Pd.

PELATIHAN DASAR CPNS KABUPATEN


TASIKMALAYAPPSDM REGIONAL BANDUNG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah ini dapat terselesaikan
dengan cukup baik. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas kelompok pembelajaran agenda dua, dengan judul ”Analisis
Video Sistem Transportasi Terintegrasi Di DKI Jakarta Dengan
Menggunakan Metode Analisis Pemetaan Pemangku Kepentingan”.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan,
terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang.
Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari pihak lain, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan. Karena itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima kasih
kepada Pa Deny Herdiyana, S.Kom, M.AP yang tidak lelah dan bosan untuk
memberikan arahan dan bimbingan kepada kami setiap saat.
Kami sadar, sebagai seorang ASN yang masih dalam proses
pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Dengan
segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan
dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki pembuatan
makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Tasikmalaya, 21 April 2021


Tim Penyusun

Kelompok II

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………… i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………… 1
B. Tujuan Penulisan ……………………………………………………… 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Transportasi ……………………………………………… 3
B. Sistem Transportasi Terintegrasi ……………………………………. 3
C. Sistem Transportasi di DKI Jakarta ………………………………….. 4
D. Penyebab Masalah Kemacetan DKI Jakarta ……………………….. 6
E. Analisis Pemetaan Pemangku Kepentingan ……………………….. 7
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………….. 10
B. Saran …………………………………………………………………… 10
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 29
Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota
NKRI, memiliki fungsi dan peran yang penting dalam mendukung
penyelenggaraan pemerintahan negara berdasarkan UUD Tahun 1945.
Penyelenggaraan pemerintahan negara dimaksud sebagai tempat
kedudukan lembaga pusat baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, tempat
kedudukan perwakilan negara asing, dan tempat kedudukan kantor
perwakilan lembaga internasional.
Selain sebagai Ibu Kota Negara, Provinsi DKI Jakarta sekaligus
sebagai daerah otonom pada lingkup provinsi memiliki tugas, hak,
wewenang, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Salah satu tugas, wewenang, dan tanggung jawab tersebut
dalam bidang transportasi. Penyelenggaraan bidang transportasi tersebut
diharapkan dapat mewujudkan tujuan penyelenggaraan lalu lintas dan
angkutan jalan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 3 Undang-Undang
Nomor. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa lalu
lintas dan angkutan jalan diselenggarakan dengan tujuan:
 Terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman,
selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk
mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum,
memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu
menjunjung tinggi martabat bangsa.
 Terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa.
 Terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi
masyarakat.
Pada awal tahun 2015 Jakarta dinobatkan sebagai kota termacet di
dunia berdasarkan hasil survei data indeks Stop-Start yang dibuat oleh
Castrol Magnatec dengan angka Stop-Start sebanyak 33.240 kali dalam

1
setahun. Hal ini semakin mempertegas bahwa permasalahan kemacetan
merupakan permasalahan yang sangat serius di Jakarta yang menimbulkan
banyak dampak buruk. Tidak hanya berupa kerugian dari segi waktu yang
terbuang, akan tetapi juga memberikan dampak lain berupa pemborosan
bahan bakar minyak (BBM) dan polusi udara dari gas buang kendaraan yang
memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan saya dalam menyusun makalah ini adalah disamping
untuk memenuhi tugas Pelatihan Dasar CPNS, juga untuk memahami
tentang transportasi terintegrasi di DKI Jakarta.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Transportasi
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat
ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan
oleh tenaga manusia atau tenaga mesin. Transportasi digunakan untuk
memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara
maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (busway) dan
taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena
mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi
mereka. Alat ranportasi merupakan salah satu kemajuan teknologi yang
membantu manusia dalam berbagai kegiatan sehari-hari dalam menempuh
perjalanan ke suatu tempat. Transportasi dapat berupa mobil pribadi, taxi,
angkutan umum, kereta api, kapal laut bahkan pesawat terbang. Dan
berbagai alat transportasi tersebut merupakan hasil dari pemikiran akal
manusia dalam mempermudah seseorang mencapai tujuan yang jaraknya
jauh dengan waktu yang relative lebih singkat atau cepat.

B. Sistem Transportasi Terintegrasi


Sistem transportasi terintegrasi merupakan suatu model jaringan
transportasi public yang terintegrasi yang dapat dilihat dari
penentuan rute jaringan yang tidak hanya didasarkan pada
permintaan kebutuhan perjalanan, tetapi juga mekanisme jangkauan
p e l a ya n a n ya n g o p t i ma l ( Mu r r a y, 2 0 0 1 ) . Be r d a sa r ka n
p e n g e r t i a n t e r se b u t d a p a t disimpulkan bahwa sistem transportasi
terintegrasi bisa diartikan sebagai keterpaduan secara utuh dari
moda transportasi yang digunakan untuk memindahkan orang atau
barang dari satu tempat ke tempat lain. Adanya integrasi dari moda
transportasi satu dengan lainnya akan berpengaruh terhadap suatu
wilayah karena masyarakat akan selalu bisa terhubung dan terintegrasi.
Selain itu, integrasi jaringan merupakan kunci kesuksesan sistem

3
pelayanan transportasi publik di suatu wilayah atau kota (Neumann
dan Nagel,2011).
Indikator Penunjang Integrasi Moda Transportasi, antara lain:
• Waktu Tempuh Perjalanan: Menurut Tamin (2008) waktu tempuh
merupakan daya tarikutama dalam pemilihan moda yang digunakan
oleh suatu perjalanan (manusia ataupunbarang).
• Biaya Perjalanan: Menurut Tamin (2008) untuk perjalanan yang
memerlukan beberapa moda transportasi, faktor lainnya yang lebih
menentukan (selain waktu tempuh) adalah biaya transit (biaya
perpindahan barang atau penumpang
Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 103 Tahun 2007.
ditegaskan bahwa arah pengembangan sistem transportasi pada Provinsi
DKI Jakarta adalah:
a. Meningkatkan aksesibilitas di seluruh wilayah Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta dan sekitarnya dan menata ulang moda transportasi
secara terpadu.
b. Memasyarakatkan sistem angkutan umum massal.
c. Menggalakkan penggunaan angkutan umum dan kereta api.
d. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan.
e. Menambah jaringan Jalan Primer, Bus Rapid Transit (BRT), Light Rail
Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT)
f. Meningkatkan jaringan jalan non tol dan membangun jalan baru.

C. Sistem Transportasi DKI Jakarta


Saat ini, hadirnya moda transportasi terintegrasi bukan lagi sebuah
impian bagi warga Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek). Pasalnya,
upaya merealisasikan transportasi yang terintegrasi saat ini terus dilakukan
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkerja sama dengan
pemangku kepentingan lainnya (Pemerintah pusat, BUMD, BUMN, dll). Hal
tersebut bisa dapat kita lihat dari kehadiran moda transportasi seperti Trans
Jakarta, KRL Commuter Line, MRT, dan LRT, dan MiniTrans/ Mikro
Trans dengan “bendera” PT JakLingko Indonesia sebagai pelaksana konsep
integrasi antar moda transportasi di Jabodetabek. JakLingko

4
Indonesia berdiri untuk melakukan pengelolaan dan pengusahaan integrasi
tarif dan pembayaran antarmoda Jabodetabek yang telah dicanangkan oleh
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Perhubungan Budi Karya
Sumadi bersama Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo pada tahun
2020. JakLingko Indonesia merupakan perusahaan patungan antara PT
MRT Jakarta (Perseroda), PT Jakarta Propertindo (Perseroda), PT
Transportasi Jakarta dan PT Moda Integrasi Transportasi
Jabodetabek. Nama Jak Lingko diambil dari dua kata, yaitu Jak yang berarti
Jakarta dan Lingko yang bermakna jejaring atau integrasi (diambil dari sistem
persawahan tanah adat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur). Nama ini
dipilih karena mencerminkan makna sistem transportasi terintegrasi yang
sedang dibangun di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan optimis sistem transportasi
yang terintegrasi dapat meningkatkan animo masyarakat dalam
menggunakan angkutan umum. Dengan begitu, penggunaan mobil pribadi
menjadi berkurang sehingga kemacetan teratasi dan kualitas udara ibukota
membaik.
Untuk menyukseskan Program Jak Lingko, pihaknya menambah
jumlah armada dan memperbanyak rute lintasan. peran masyarakat dalam
menciptakan suasana Ibukota yang lebih baik juga sangat penting. Program
yang dirancang berpotensi minim hasil, bila masyarakat malas berpartisipasi.
Ditargetkan pada tahun 2021, integrasi tarif dan pembayaran
antarmoda akan mulai dioperasikan JakLingko Indonesia untuk para
penyelenggara transportasi publik Jabodetabek yaitu MRT Jakarta,
Transjakarta, LRT Jakarta, KAI Commuter dan Railink Bandara Soekarno-
Hatta yang bergabung di JakLingko Indonesia. Sistem pembayaran cashless
dengan kartu Jak Lingko bertarif maksimal Rp5.000 per tiga jam, khusus
untuk transportasi berbasis jalan. Misal, Anda naik bus TransJakarta pukul
07.00, lalu naik angkot yang sudah berlogo Jak Lingko pukul 08.30, dan
kembali naik bus TransJakarta pukul 10.00, maka saldo dalam kartu Jak
Lingko Anda akan berkurang Rp5.000. Kartu Jak Lingko seharga Rp30.000
yang bersaldo Rp10.000 dapat diisi ulang melalui ATM Bank DKI dan BNI.

5
Selain itu, pembelian kartu Jak Lingko dapat dilakukan di halte busway dan
angkutan umum yang sudah berlogo Jak Lingko. Pemprov DKI Jakarta
berharap, dengan adanya sistem transportasi yang terintegrasi ini,
masyarakat dapat berkolaborasi dengan pemda dalam mengurangi tingkat
pencemaran udara dan kemacetan dengan ikut bersama menggunakan
transportasi publik.

D. Penyebab Masalah Kemacetan DKI Jakarta


1. Kebijakan Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta
Masalah transportasi dipengaruhi oleh penataan ruang dalam hal ini
tata guna lahan. Ditinjau dari karakteristik fungsi kota, telah terjadi
pergeseran (pembauran) fungsi kota Jakarta dari fungsi sebagai Ibukota
Negara menjadi sebuah kota Jasa dengan fungsi yang jamak berbaur antara
kegiatan (penggunaan lahan) politik, sosial, budaya, ekonomi (perdagangan
dan jasa) yang terus meningkat.
2. Kondisi Angkutan Umum
Harapan masyarakat terhadap pelayanan dan kondisi angkutan umum
sebagai bagian dari pelayanan dasar tentu sangat maksimal. Dapat
diidentifikasi sekurang-kurangnya harapan masyarakat terhadap angkutan
umum adalah: aman ,nyaman, bersih, tidak pengap, tidak berdesakan, tarif
terjangkau , tepat waktu.
3. Karakter Sosial Budaya Masyarakat
Sementara dari sisi sosial budaya, keinginan seseorang untuk memiliki
kendaraan pribadi sedikit banyak dipengaruhi adanya pandangan bahwa
memiliki kendaraan bermotor mencerminkan status sosial di masyarakat.
Memiliki mobil pribadi menjadi tolok ukur kesuksesan dalam bekerja,
terutama bagi para perantau. Akibatnya ruas-ruas jalan yang dibangun di
kota lebih banyak dipenuhi oleh kendaraan pribadi yang notabene hanya
mengangkut penumpang jauh lebih sedikit dibandingkan daya angkut sarana
angkutan umum massal.

6
4. Penerapan Insentif dan Disinsentif Lalu Lintas (Masalah Penegakan
Hukum)
Selama ini penyelenggaraan transportasi DKI Jakarta kurang
menerapkan prinsip insentif dan disinsentif. Kalaupun prinsip ini telah ada
dalam praktiknya tidak berjalan secara efektif (dan tidak konsisten). Contoh
pemberian insentif bagi masyarakat pengguna sarana angkutan umum bus
Trans Jakarta dengan adanya jalur khusus bus (bus way). Namun pada saat
peak hours terjadi antrian penumpang yang panjang, kondisi beberapa
prasarana tidak terawat dan rusak, bahkan tingkat pelanggaran tehadap jalur
khusus bus (bus way) tetap tinggi. Contoh disinsentif berupa pemberlakuan
jalur three in one pada jam-jam tertentu di ruas jalan tertentu. Namun dalam
praktiknya terjadi manipulasi dengan kehadiran joki three in one. Bentuk
disinsentif lainnya seperti kenaikan harga bahan bakar dan tarif jalan tol juga
relatif tidak berpengaruh terhadap tingkat penggunaan kendaraan pribadi.

E. Analisis Pemetaan Pemangku Kepentingan dari Hasil Koordinat Peran


dan Matriks Kolaborasi Pemangku Kepentingan
Pemangku kepentingan terdiri dari pihak-pihak internal dan eksternal
organisasi yang berkepentingan dan berpengaruh terhadap kinerja humas
pemerintah. Setiap pemangku kepentingan memiliki kebutuhan yang
berbeda sehingga diperlukan pemetaan pemangku kepentingan secara
akurat sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pemangku kepentingan
internal merupakan khalayak/publik yang menjadi bagian dari kegiatan
organisasi atau instansi pemerintah, sedangkan pemangku kepentingan
eksternal adalah publik yang berada di luar organisasi/instansi yang harus
diberi informasi agar dapat membina hubungan dengan baik. Dalam upaya
mencari penyelesaian terkait sistem transportasi di DKI Jakarta, kami
menggunakan analisis pemetaan pemangku kepentingan dari hasil koordinat
peran dan matriks kolaborasi pemangku kepentingan. Berikut ini adalah hasil
analisisnya.

7
Koordinat Peran Pemangku Kepentingan
No Stakeholder Pengaruh (Power) Kepentingan (Interest)

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1 Pemerintah √ √

3 Sektor Privat √ √

4 Masyarkat √ √

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah


menjadi pemangku kepentingan kunci karena instansi-instansinya memiliki
kewenangan secara legalitas sebagai perumus kebijakan, pelaksana
kebijakan, memberi bimbingan teknis dan melakukan evaluasi pelaksana
bimbingan teknis terkait dengan sistem transportasi.
Sektor privat ini sebagai pemangku kepentingan utama yang
merupakan pemangku kepentingan seperti penyedia transportasi yang
secara langsung terkena dampak, baik positif maupun negatif terkait sistem
transportasi.
Sedangkan Masyarakat ini sebagai pemangku kepentingan
pendukung yang merupakan pemangku kepentingan penerima manfaat
kebijakan dan memiliki kepedulian terkait sistem transportasi

8
Matrik dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

Kolaborasi Pemangku Kepentingan


STAKEHOLDERS PERAN HAMBATAN UPAYA INTEGRASI

Pemerintah Sebagai Masih banyak Membangun Meningkatkan


pembuat dan masyarakat kepercayaan koordinasi
pengatur yangbelum dengan terus kelembagaan
kebijakan menggunakan memperbaiki Dewan
(pemain kunci) transportasi pelayanannya Transportasi
umum Kota (DTK)
Sektor privat Penyedia Tuntutan dari Meningkatkan Menghasilkan
transportasi berbagai pihak dan pelayanan yang
atas kualitas dan memperbaiki baik
kuantitas kinerja maupun
transportasi fasilitas
Masyarakat Pengguna Ketidaknyamana Berupaya untuk Melakukan
transportasi ndan beralih edukasi baik
umum dan kekhawatiran menggunakan lisan atau
Penerima dalam transportasi tulisan melalui
Manfaat penggunaan umum berbagai media
Kebijakan transportasi
umum

9
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat
diperoleh suatu simpulan sebagai berikut:
1. Pedoman umum pemetaan pemangku kepentingan diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan praktisi humas pemerintah dalam melakukan
pemetaan pemangku kepentingan secara akurat dan relevan, mudah
dimengerti, dipahami, dan diterima secara optimal, efektif, dan efisien.
Dengan demikian terjalin hubungan yang saling mendukung dan
menguntungkan antara instansi pemerintah dan pemangku kepentingan.
2. Dibutuhkan komitmen bersama semua pihak untuk melakukan
pembenahan sistem transportasi DKI Jakarta. Serta kerjasama yang baik
anatara pemerintah dengan lembaga pemerintah yaitu Dewan
Transportasi Kota Jakarta, Sektor Privat, dan masyarakat itu sendiri.
Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTK) merupakan lembaga yang
mengurus pengembangan masalah transportasi di Jakarta.
3. Permasalahan transportasi memberikan dampak negatif terhadap
lingkungan udara yang berupa polusi asap kendaraan, terhadap
lingkungan air melalui air buangan dari jalan raya, dampak kebisisngan
suara yang ditimbulkan oleh suara mesin kendaraan, dampak bagi
kesehatan manusia serta dampak kemacetan terhadap nilai waktu yang
mencapai 8,3 triliun per tahun.
B. Saran
1. Diharapkan pemerintah dapat memprakarsai pembenahan sistem
transportasi DKI Jakarta yang membutuhkan keterpaduan multidimensi dan
komitmen lintas sector. Dengan adanya sistem transportasi terintegrasi ini,
dapat mengurangi tingkat polusi udara dan kemacetan dengan ikut bersama
menggunakan transportasi publik.
2. Perencanaan sistem transportasi harus disertai dengan pengadaan
prasarana yang memadai dan memenuhi persyaratan dan kriteria
transportasi yang baik.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis Zulhakim, Pedoman UmUM Pemetaan Pemangku


Kepentingan Di Lingkungan Instansi Pemerintah, Surakarta. 2012.

Ahmad Munawar. Pengembangan Angkutan Umum di Perkotaan


Indonesia. Yogyakarta. 2020.

11

Anda mungkin juga menyukai