Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Kepemimpinan Aparatur


Angkatan : II Tahun 2021
Mata Pelajaran : Hubungan Kelembagaan
Widyaiswara : Dr. Ganefo Ginting, S.T., MM
Nama Peserta : Agustina Simanjorang
Nomor Daftar Hadir : 05
Lembaga Penyelenggara : Pusdiklat pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran
Konsep Dasar Hubungan Kelembagaan
Pemerintah Daerah adalah bagian yang terpisahkan fungsinya dari penyelenggaraan negara sebagai
amanat undang-undang,yaitu adanya pembagian kewenangan dalam menyeleggarakan pemerintahan
dari pusat ke daerah. Dalam hal pembagian kekuasaan terhadap daerahnya digunakan asas otonomi
ssuai dengan yang diatur dalam asal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun1945. Hubungan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan prinsip perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagai mana telah digariskan dalam Undang-
undang No. 33 Tahun 2004 dan No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah merupakan suatu pembagian keuangan
yang adil, proporsional, demokratis, transparan dan efesien dalam rangka pendanaan
penyelenggaraan deentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah,
serta besaran pendanaan penyelenggaraan desentralisasi dan tugas bantuan. Pemberian sumber
keuangan kepada pemerintah daerah dilakukan dalam rangka pelaksanaan desentralisasi yang
didaraskan atas penyerahan tugas oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan
memperhatikan stabilitas kondisi perekonomian nasional dan keseimbangan fiscal anatara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Kerjasama daerah adalah usaha bersama antar daerah dan daerah lain, antar daerah dan pihak ketiga
dan atau antar daerah dan lembaga atau pemerintah daerah di uar negeri yang didasarkan pada
pertimbangan efesiensi dan efektifitas pelayanan publik serta saling menguntungkan.

Ada 4 (empat) variabel penentu keberhasilan kerja sama antar lembaga (Cafaye, 1995) antara lain;
1. Leadership (kepemimpinan) Pemimpin berperan penting dalam kesuksesan organisasi
2. Comminication (komunikasi) komunikasi yang terbuka dan kemampuan komunikasi yang baik
akan meningkatkan produktifitas individu dan organisasi
3. Trust (kepercayaan) kepercayaan sangann penting karena melibatkan beberapa pihak dalam
mencapai tujuan bersama
4. Commitmen (komitmen) Kepercayaan dan komitmen merupakan faktor berpengaruh dalam
terhadap kesuksesan organisasi
B. DAMPAK DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP (DAK) INDIKATOR KINERJA
PEMBANGUNAN DI DAERAH (STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA)

Dalam konteks hubungan keuangan antara pusat dan daerah, pemerintah pusat saat ini telah
mengalokasikan Dana Perimbangan (DP) untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka
mendukung pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan pembangunan sebagai wujud nyata
political will pemerintah untuk melakukan reformasi dan demokratisasi. Sesuai dengan Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Dana Perimbangan dibagi dalam
tiga kelompok yaitu Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi
Hasil (DBH). Selain Dana Perimbangan, Pemerintah Pusat juga mengalokasikan Dana Otonomi
Khusus (Otsus) dan Dana Penyesuaian sebagai komponen Belanja Daerah dalam Anggaran
Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Kebijakan alokasi Dana Alokasi Khsusus (DAK) diberikan sebagai salah satu cara untuk
mengakomodasi berbagai kebutuhan prioritas nasional dan merupakan urusan daerah, namun
tidak atau belum tertampung dalam formulasi dana alokasi Umum (DAU). Oleh karena itu,
kebijakan alokasi DAK diprioritas-utamakan untuk membantu daerah dengan kemampuan
keuangan di bawah rata- rata nasional (dalam hal ini menjadi kriteria umum daerah penerima
DAK). Akan tetapi dalam realita pengelolaan DAK masih dihadapkan dengan beberapa
permasalahan yang berkaitan dengan aspek keuangan, teknis, kelembagaan, dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance).

Dalam aspek keuangan, permasalahan utama adalah belum optimalnya kinerja DAK bagi daerah
karena ketidaksesuaian (mismatch) antara besaran alokasi dengan kebutuhan daerah. Dalam
aspek teknis, terdapat permasalahan yang berkaitan dengan masih belum optimalnya kebijakan
teknis DAK. Dalam aspek teknis, terdapat permasalahan yang berkaitan dengan masih belum
optimalnya kebijakan teknis DAK. Sampai saat ini masih belum ada sasaran/target yang jelas,
yang ingin dicapai dengan pelaksanaan DAK dalam periode waktu tertentu.

Dalam aspek kelembagaan, terdapat permasalahan yang berkaitan dengan belum mantap dan
optimalnya koordinasi kelembagaan antara pusat dan daerah, belum terbentuknya tim
koordinasi di Pusat dan Provinsi, serta belum optimalnya kinerja tim koordinasi di
Kabupaten/Kota. Dalam aspek tata kepemerintahan yang baik (good governance)
terdapat permasalahan yang berkaitan dengan masih rendahnya kinerja penerapan prinsip
transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi dalam pengelolaan DAK. Penyediaan data dan
informasi teknis yang diperlukan dalam perhitungan alokasi DAK juga masih lemah.
C. ANALISIS DAMPAK DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) TERHADAP INDIKATOR
KINERJA PEMBANGUNAN DI DAERAH (STUDI KASUS KABUPATEN/KOTA)

Sehubungan dengan berbagai permasalahan tersebut maka diperlukan berbagai upaya untuk
memperbaiki kualitas seluruh proses, siklus, dan mekanisme pengelolaan DAK sejak dari
perumusan kebijakan, perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.
Dalam mewujudkan Efektifitas dan Efesiensi Alokasi DAK dibutuhkan variabel dari pemimpin:
1. Leadership (kepemimpinan). Seorang pemimpin dalam pemerintahan baik pusat dan daerah
harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang mampu, memotivasi dan menggairahan
bawahannya. Pun demikian untuk pemerintah yang berhubungan langsung dengan perencanaan
dan peleksanaan dana perimbangan pemeritah pusat dan daerah terkait Dana Alokasi Khusus.
2. Comminication (komunikasi). Komunikasi yang terbuka dan efektif akan memberikan reaksi
yang baik terhadap pendanaan alokasi DAK. Adanya Sinergisitas yang baik antara Pusat dan
Daerah dalam penyelenggaraan Tugas desentralisasi dan Tugas bantuan yang melibatkan dana
DAK, sehingga permasalahan yang muncuk dapat diminimalisir dan dicari solusi yang baik.
3. Trust (kepercayaan). Kepercayaan juga tidak bisa di indahkan dalam menjalin kerjasama daerah
dengan pemerintah pusat, dengan adanya sikap salig percaya diantara pemimpin pusat dan
daerah, serta masing-masing pemimpin dengan jajarannya (bawahan), akan mendukung
manajemen kinerja penyelenggaraan pengelolaan dana DAK dengan efektif dan Efesien.
4. Commitmen (komitmen) Kepercayaan dan komitmen merupakan faktor berpengaruh dalam
terhadap kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan. Dengan komitmen dengan integritas
yang kuat baik dari Pusat dan pemerintah Daerah, maka kedepannya kebijakan-kebijakan dalam
dana perimbangan pemerintah pusat dan Daerah terkait dana perimbangan keuangan DAK akan
mampu menjawab permasalahan yang terjadi di daerah baik Kabupaten maupun Kota.

Alokasi DAK dari waktu ke waktu mengalami peningkatan secara nyata dari waktu ke waktu,
baik berdasarkan nilai total alokasi, jumlah bidang alokasi, jumlah daerah penerima, dan rata-
rata nilainya per daerah penerimanya. Alokasi DAK yang mengalami peningkatan tersebut
sebagian besar merupakan alokasi Dak yang ditujukan untuk Kabupaten/Kota. Sementara itu,
alokasi DAK untuk Provinsi relatif kecil dibandingkan alokasi DAK untuk Kabupaten/Kota
dan tidak konsisten dari waktu ke waktu. Beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diberikan
dari hasil pelaksanaan analisis dan evaluasi DAK ini antara lain adalah:
1. Prioritas nasional perlu ditentukan target dan sasarannya secara jelas, yang bila didasarkan
atas optimalitas ekonomi sebagai satu kesatuan, fungsi perencanaan ekonomi nasional
perlu dimantapkan sebagai landasan penentuan prioritas.
2. Memfokuskan ulang bidang penerima DAK. DAK berfokus pada bidang infrastruktur
(jalan, irigasi, dan air bersih) dan kesra (pendidikan dan kesehatan). Potensi DAK sebagai
salah satu sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur dapat ditingkatkan dengan
pengalihan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan menjadi DAK.
3. Penyederhanaan kriteria dan mekanisme serta fleksibilitas dari alokasi DAK.