Anda di halaman 1dari 23

R JA

KE

1
N
UA
AC

2
A
GK

0
N
RA
KE

2
DINAS PEKERJAAN UMUM
DAN PENATAAN RUANG
BIDANG BINA MARGA

Pengadaan Jasa Konsultansi


Perencanaan Pemeliharaan Jalan
Cibugel - Bts. Kab. Garut Desa Cibugel
Kel. Cibugel Kec. Cibugel
Kab. Sumedang (Bantuan Provinsi)

Rp. 80.000.000,00

1
KERANGKA ACUAN KERJA

1 LATAR : Ketersediaan sarana dan prasarana transportasi


BELAKANG merupakan faktor penting dalam menunjang
pengembangan wilayah. Sarana jalan dan jembatan
merupakan jalur yang menghubungkan beberapa titik
wilayah sehingga dapat menjadi akses perpindahan
barang dan orang dari satu tempat ke tempat yang lain.
Jadi pembangunan jaringan jalan dan jembatan sebagai
urat nadi perekonomian yang diharapkan mampu
menghubungkan lintas jalan primer, sekunder, dan lokal.

Dalam rangka keberlanjutan pembangunan yang


terintegrasi di berbagai sektor yang telah dilakukan
pemerintah Kabupaten Sumedang, salah satu komponen
prasarana yang sangat penting adalah pengembangan
prasarana jalan yang efisien dengan kualitas yang baik,
sehingga perencanaan jangka menengah yang telah
disusun dapat tercapai guna peningkatan pelayanan
transportasi serta membuka dan meningkatkan akses
antar wilayah guna meningkatkan roda pembangunan dan
ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Sumedang
dan sekitarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut Dinas Pekerjaan Umum dan


Penataan Ruang Kabupaten Sumedang dengan bantuan
Jasa Konsultansi Perencanaan membuat perencanaan
teknik jalan sederhana (simplified design) yang
dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2021.

1
2 MAKSUD DAN : Maksud
TUJUAN Membantu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
Kabupaten Sumedang dalam rangka melaksanakan
perencanaan teknis jalan pada Ruas Jalan Kabupaten.

Tujuan
Tersedianya perencanaan teknis terinci yang berwawasan
lingkungan, berkeselamatan, sesuai dengan standar dan
prosedur yang berlaku guna tercapainya mutu pekerjaan
perencanaan, dan meningkatkan pelayanan jalan.

3 SASARAN : Tersedianya dokumen perencanaan teknis berupa data,


analisis, gambar rencana yang telah sesuai dengan
standar perencanaan jalan dan penunjang lainnya.

4 NAMA DAN : Paket Pekerjaan : Pengadaan Jasa Konsultansi


ORGANISASI Perencanaan Pemeliharaan Jalan
PENGGUNA Cibugel - Bts. Kab. Garut Desa
JASA Cibugel Kel. Cibugel Kec. Cibugel
Kab. Sumedang (Bantuan Provinsi)
PPK : Pemeliharaan Berkala Jalan
SKPD : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang
Nama : HELMI HASANUDIN, S.T.
NIP : 19680621 199803 1 004

5 SUMBER : Bantuan Keuangan Khusus dari Pemerintah Daerah


PENDANAAN Provinsi

6 RUANG : Lingkup jasa konsultansi berupa konsultansi teknik.


LINGKUP Tanggung jawab konsultan perencanaan teknis adalah
sebagai berikut :

a) Melaksanakan survey dan perencanaan teknis sesuai


standar perencanaan;

2
b) Menyediakan dokumen perencanaan teknis detail
konstruksi, seperti Spesifikasi, Analisa Harga Satuan,
Rencana Anggaran Biaya, Rencana Jadwal
Pelaksanaan, Daftar Kuantitas Volume dan Backup
Perhitungan serta Gambar Perencanaan Konstruksi;

c) Mengidentifikasi jenis jenis risiko/bahaya untuk setiap


item pekerjaan;

d) Melakukan revisi perencanaan teknis sesuai kebutuhan.

e) Melakukan pemaparan dan presentasi pada setiap


prosedur pelaksanaan pekerjaan kepada Pejabat
Pembuat Komitmen;

f) Menyusun Laporan – laporan kegiatan.

7 LOKASI : Lokasi Kegiatan Jasa Konsultansi Konstruksi adalah


KEGIATAN sebagai berikut:

Paket Pekerjaan Nilai Pagu

Pemeliharaan Jalan Cibugel - Bts. Kab.


Garut Desa Cibugel Kel. Cibugel Kec. Rp. 2.392.444.000,00
Cibugel Kab. Sumedang (Bantuan Provinsi)

a. Pemeliharaan Jalan Cibugel - Bts. Kab.


Garut Desa Cibugel Kel. Cibugel Kec.
Cibugel Kab. Sumedang (e-Catalog)

b. Penunjang Pemeliharaan Jalan Cibugel


- Bts. Kab. Garut Desa Cibugel Kel.
Cibugel Kec. Cibugel Kab. Sumedang

8 DATA DAN :
a) Laporan dan data data teknis hasil inventori
PRASARANA
PENUNJANG b) Staf Pengawas/Pendamping
DARI PPK
Pejabat Pembuat Komitmen akan mengangkat petugas
3
atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau
pendamping (Counterpart) atau Project Officer (PO)

9 STANDAR DAN : Standar dan pedoman yang digunakan:


PEDOMAN
a) UU RI No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

b) PP RI No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan;

c) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan


Rakyat Nomor No. 19/PRT/M/2011 : Persyaratan Teknis
Jalan (PTJ) dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan
(KPTJ);

d) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan


Rakyat Nomor 21/ PRT/ M/ 2019 tentang Pedoman
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi.

e) Surat Edaran Dirjen Bina Marga No. 04/SE/Db/2017,


Tgl 27 Juni 2017: Manual Desain Perkerasan Jalan
Revisi Tahun 2017, No.02/M/BM/2017;

f) Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Marga Nomor


16.1/SE/Db/2020 tentang Spesifikasi Umum Bina Marga
2018 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan
(Revisi 2) tanggal 27 Oktober 2020.

g) Pt T-03-2002-B tentang Tata cara identifikasi awal di


daerah longsoran.

h) Pd T-09-2005-B tentang Rekayasa penanganan


keruntuhan lereng pada tanah residual dan batuan.

i) Pd. T-02-2006-B tentang Perencanaan Sistem Drainase


Jalan.

j) SNI 8460 : 2017 tentang Persyaratan perancangan


4
geoteknik.

k) SNI 8457:2017 Rancangan Tebal Jalan Beton Untuk


Lalu Lintas Rendah

10 PENDEKATAN :
A. PERSIAPAN PELAKSANAAN DESAIN
DAN
METODOLOGI 1) Tujuan
Tenaga Ahli harus berusaha untuk mendapat informasi
umum mengenai kondisi jalan yang akan didesain,
sehingga dapat mempersiapkan hal-hal yang diperlukan
dalam pelaksanaan survey pada setiap ruas jalan yang
bersangkutan.
2) Lingkup Pekerjaan
Kegiatan pekerjaan ini meliputi :

a) Mengumpulkan data kelas, status fungsi jalan yang


akan di desain.

b) Mempersiapkan peta-peta dasar berupa:

 Peta Lokasi Pekerjaan;

c) Mengumpulkan informasi harga satuan/ upah, sewa alat


dan harga bahan untuk disekitar lokasi pekerjaan.

d) Mengumpulkan dan mempelajari laporan terdahulu dan


data-data lain yang terkait atau relevan dengan obyek
yang dipengaruhi oleh perencanaan.

B. SURVEI DAN INVESTIGASI

Survey lapangan dan investigasi harus dilaksanakan untuk


mendapatkan data di lapangan sampai dengan tingkat
ketelitian tertentu dengan memperhatikan beberapa faktor,

5
seperti kondisi lapangan aktual yang ada dan sasaran
penanganan yang hendak dicapai. Konsultan Perencana
dengan persetujuan Pengguna Jasa harus menghindarkan
suatu kondisi bahwa informasi terlalu berlebihan atau
terlalu minimal. Jenis-jenis survey atau investigasi yang
harus dilaksanakan tersebut bergantung kepada jenis
pekerjaan penanganan yang akan dikerjakan oleh
Kontraktor Pelaksana Konstruksi kelak. Sebagai acuan
dasar, apabila tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa
pada saat review hasil Survey Pendahuluan, jenis-jenis
survey dan investigasi yang harus dilaksanakan oleh
Konsultan Perencana adalah sebagaimana di bawah ini.

I. Survei Pendahuluan dan Detail Kondisi

1) Tujuan
Sasaran Survey Pendahuluan dan Detail Kondisi adalah :
(a) Pengumpulan informasi menyangkut ruas jalan dan
jembatan serta bangunan struktur yang ada, termasuk
data sekunder dari berbagai sumber yang relevan,
untuk maksud menetapkan survey detail berikutnya
yang diperlukan.
(b) Pencatatan kondisi perkerasan secara umum dan
prakiraan penyebab kerusakan yang telah dan
mungkin akan terjadi Perkiraan secara umum tentang
penanganan yang diperlukan, baik pada perkerasan
maupun pada pekerjaan-pekerjaan lainnya di luar
perkerasan, seperti bahu jalan, lajur pedestrian,
drainase, perbaikan lereng timbunan dan galian,
perbaikan geometri jalan, jembatan dan bangunan-

6
bangunan struktur lainnya, dan peningkatan
keselamatan jalan
(c) Identifikasi lebar ruang milik jalan, dan perkiraan
kebutuhan pembebasan lahan.
(d) Penyiapan koordinasi dengan institusi-institusi yang
berkaitan seperti Unit Pelaksana Teknis Dinas PUPR,
Kepala Desa, Perangkat Desa, Badan
Permusyawaratan Desa, Forum Delegasi Masyarakat,
atau Lembaga Pemerintahan Lainnya.
(e) Identifikasi lokasi-lokasi yang memerlukan penanganan
khusus untuk peningkatan keselamatan jalan.

2) Lingkup Pekerjaan
Sebelum Survey Pendahuluan dilaksanakan, terlebih
dahulu Tim Survey harus menyiapkan dan mempelajari
data pendukung, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada
antara lain :
(a) As built drawing di lokasi yang bersangkutan dari
pekerjaan penanganan sebelumnya (jika ada);
(b) Peta-peta dasar yang relevan;

Tahapan dalam survei detail kondisi

(a) Menginventarisasi komponen-komponen melintang


jalan secara umum yang meliputi titik koordinat awal
dan akhir ruas jalan, panjang jalan, lebar perkerasan,
lebar bahu jalan. serta kondisi medan secara
stationing/urutan jarak dengan mengelompokkan
kondisi: medan datar, rolling, perbukitan, pegunungan/
bukit curam dalam bentuk tabelaris;
(b) Mengumpulkan data koordinat dan ketinggian
permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan dan
jembatan di dalam koridor yang ditetapkan untuk
perencanaan geometrik jalan dengan ketentuan :

7
 Penggambaran poligon harus dibuat dengan
skala 1:1.000 untuk jalan dan 1:500 untuk
jembatan.
 Garis-garis grid dibuat setiap 10 Cm.
 Interval garis kontur maksimal 10 meter.
 Sistem koordinat proyeksi yang digunakan
adalah sebagai Sistem koordinat proyeksi
Universal Transverse Mercator (UTM)
 Koordinat grid terluar (dari gambar) harus
dicantumkan harga absis (X) dan ordinat (Y)-
nya.
 Pada setiap lembar gambar dan atau setiap 1
meter panjang gambar harus dicantumkan
petunjuk arah Utara.
 Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai
X,Y,Z-nya dan diberi tanda khusus.
(c) Mengidentifikasi nilai kondisi perkerasan jalan. Kondisi
perkerasan jalan dilakukan secara visual. Untuk nilai
kekasaran jalan IRI (International Roughness Index);
(d) Menentukan titik koordinat awal proyek (Sta. 0+000)
dan akhir proyek yang tepat untuk mendapatkan
overlaping yang baik dan memenuhi syarat geometrik
pada penentuan titik awal dan titik akhir pekerjaan,
diwajibkan mengambil data sejauh 200 m sebelum titik
awal dan 200 m setelah titik akhir pekerjaan seperti
disajikan dalam Gambar berikut:

8
(e) Mengidentifikasi bangunan pelengkap jalan (jenis
konstruksi, dimensi, kondisi serta mengusulkan
penanganan yang diperlukan. (lihat format survei
inventarisasi jalan);
(f) Mengidentifikasi data histori penanganan jalan, tata
guna lahan dan utilitas yang diperkirakan terkena
dampak pekerjaan;
(g) Mengidentifikasi kebutuhan pekerjaan seperti lokasi:
galian/timbunan, sumber material, gorong- gorong dan
jembatan (oprit jembatan), persimpangan yang bisa
terlihat dengan dibuatnya sketsa-sketsa serta tabelaris
di lapangan dari identifikasi kondisi lapangan secara
stationing dari awal sampai dengan akhir proyek;
(h) Jika terdapat masalah-masalah geoteknik, bahaya,
resiko-resiko, yang mempengaruhi keamanan/
kestabilan proyek seperti tanda - tanda/gejala – gejala
erosi maka dilengkapi dengan sketsa lokasi, foto –
foto, serta lakukan pengambilan data karakteristik
tanah, pengujian DCP, Test Pit, atau pengujian lainnya
serta membuat rekomendasi untuk mengantisipasi
lokasi yang mengalami masalah;
(i) Semua kegiatan ini harus disertai dokumentasi baik
berupa catatan-catatan khusus/ formulir survei, sketsa,
foto dan video serta dikonfirmasikan kepada anggota
tim yang saling terkait dengan pekerjaan ini.

9
3) Keluaran
Laporan lokasi survey dan cakupan yang diperlukan dalam
perencanaan teknis. Diagram Strip Longitudinal, mulai
dari titik awal ruas sampai dengan titik akhir ruas, yang
memuat gambaran :
a) Komponen melintang jalan secara umum meliputi titik
koordinat awal dan akhir ruas jalan, panjang jalan,
lebar perkerasan, lebar bahu jalan serta kondisi
medan.
b) Kondisi perkerasan, termasuk jenis-jenis kerusakan
yang terjadi
c) Lokasi dan kondisi dari struktur jembatan
d) Lokasi dan kondisi dari bangunan pelengkap lainnya
e) Lokasi yang membutuhkan perbaikan/peningkatan
f) Informasi dalam bentuk tabel atau daftar, yang lebih
memerinci hal-hal tersebut dalam diagram strip
longitudinal tersebut dalam butir berikut :
(1) Gambar-gambar atau peta-peta yang menunjukkan:
 Sketsa alinyemen horisontal dan alinyemen vertikal
 Batas ruang milik jalan
 Lokasi deposit material jalan yang diperkirakan
dapat dimanfaatkan, seperti quarry pasir, batu, atau
bahan timbunan
 Kondisi alam tertentu yang dapat atau akan
mempengaruhi konstruksi jalan, seperti misalnya
sungai, danau, laut, lembah, jurang, bukit, gunung,
dan sebagainya yang disampaikan dalam peta
ikhtisar dengan kontur.
 Lokasi bangunan-bangunan tertentu sepanjang
ruas jalan yang diperkirakan dapat atau akan
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan konstruksi
maupun pelayanan lalu lintas jalan

10
(2) Foto-foto lapangan, sesuai dengan keperluan.

II. Jenis-Jenis Survei Geologi dan Geoteknik

Tujuan penyelidikan geologi dan geoteknik dalam


pekerjaan ini adalah untuk melakukan pemetaan
penyebaran tanah/batuan dasar termasuk kisaran tebal
tanah pelapukan, memberikan informasi mengenai
stabilitas tanah, menentukan jenis dan karakteristik tanah
untuk keperluan bahan jalan dan struktur, serta
mengidentifikasi lokasi sumber bahan termasuk perkiraan
kuantitasnya.
Sangat disarankan untuk dilakukan bilamana kondisi tanah
dasar diperkirakan berupa tanah lunak (Soft Soil) atau
berpotensi mempengaruhi konstrusi.

a) Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji (Test


Pit)
Pada setiap test pit dilakukan pengamatan/deskripsi
struktur dan jenis tanah, dan diambil sampelnya serta
dilakukan pengujian laboratorium antara lain compaction
dan CBR laboratorium. Pengambilan contoh tanah dari
sumuran uji 25-40 kg untuk setiap contoh tanah. Setiap
contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor
sumur uji, lokasi, kedalaman). Penggalian sumuran uji
dilakukan pada setiap jenis satuan tanah yang berbeda
atau maksimum 5 km bila jenis tanah sama, dengan
kedalaman 1-2 m. Setiap sumuran uji yang digali dan
contoh tanah yang diambil harus difoto. Dalam foto harus
terlihat jelas identitas nomor sumur uji, dan lokasi. Ukuran
test pit panjang 1,5 m (Utara- Selatan) lebar 1,0 m, Log
sumuran uji digambarkan dalam 4 bidang, dengan diskripsi
yang lengkap dan 1 kolom untuk unit satuan batuan.
Jenis pengujian laboratorium yang diperlukan dalam
11
rangka penyelidikan tanah terinci, antara lain :

(a) Indeks properties tanah

(b) CBR rendaman Laboratorium

b) Pengambilan contoh tanah tak terganggu


Pengambilan contoh tanah tak terganggu dilakukan
dengan cara bor tangan menggunakan tabung contoh
tanah (“split tube” untuk tanah keras atau “piston tube”
untuk tanah lunak). Setiap contoh tanah harus diberi
identitas yang jelas (nomor bor tangan, lokasi, kedalaman).
Pemboran tangan dilakukan pada setiap lokasi yang
diperkirakan akan ditimbun (untuk perhitungan penurunan)
dengan ketinggian timbunan lebih dari 4 meter dan pada
setiap lokasi yang diperkirakan akan digali (untuk
perhitungan stabilitas lereng) dengan kedalaman galian
lebih dari 6 meter; dengan interval sekurang - kurangnya
100 meter dan/atau setiap perubahan jenis tanah dengan
kedalaman sekurang-kurangnya 4 meter.
Setiap pemboran tangan dan contoh tanah yang diambil
harus difoto. Dalam foto harus terlihat jelas identitas nomor
bor tangan, dan lokasi. Semua contoh tanah harus
diamankan baik selama penyimpanan di lapangan maupun
dalam pengangkutan ke laboratorium.

c) Pemboran Mesin
Pengeboran adalah suatu proses pembuatan lubang
vertikal/miring/horisontal pada tanah/batuan dengan atau
tanpa menggunakan alat/mesin untuk keperluan deskripsi
tanah/batuan, biasanya dapat dilakukan bersama-sama
dengan Pengujian lapangan dan pengambilan contoh
tanah/batuan. Pemboran dilakukan dengan acuan SNI 03-

12
2436-1991 sedangkan cara mendeskripsikan contoh tanah
mengacu pada SNI 03-4148-1996. Metode pemboran
kering diterapkan dalam pekerjaan ini untuk mendapat
deskripsi tanah yang tepat. Pemboran antara pekerjaan ini
menggunakan Single Tube Core Barrels berdiameter 76
mm dan panjang 100 cm, dan Double Tube Core Barrels
dengan diameter core dalam. Thin Walled digunakan
dalam pengambilan contoh tanah tak terganggu. Dalam
pekerjaan ini juga dilakukan standard Penetration Test
(SPT) yang mengacu pada SNI 03-4153-1996.
(1) Pendalaman dilakukan dengan menggunakan
sistem putar (rotary drilling) dengan diameter mata
bor minimum 75 mm.
(2) Putaran bor untuk tanah lunak dilakukan dengan
kecepatan maksimum 1 putaran per detik.
(3) Kecepatan penetrasi dilakukan maksimum 30 mm
per detik
(4) Kestabilan galian atau lubang bor pada daerah
deposit yang lunak dilakukan dengan menggunakan
bentonite (drilling mud) atau casing dengan
diameter minimum 100 mm
(5) Apabila drilling mud digunakan, harus menjamin
bahwa tidak terjadi tekanan yang berlebih pada
tanah
(6) Apabila casing digunakan, casing dipasang setelah
mencapai 2 m atau lebih. Posisi dasar casing
minimal berjarak 50 cm dari posisi pengambilan
sampel berikutnya.
Jenis pengujian laboratorium yang diperlukan dalam
rangka penyelidikan tanah terinci, antara lain :
(1) Indeks properties tanah
(2) Uji Triaxial UU, CU, CD (Disesuaikan dengan
kebutuhan analisis)
(3) Uji kuat tekan bebas (Unconfined Compression
13
Test)
(4) Uji geser langsung
(5) Uji konsolidasi

d) Pemboran Tangan
Pemboran tangan dilakukan dengan mengacu pada ASTM
D 4719

e) Pengujian Kompaksi Batu Gamping


Suatu studi untuk menilai kelayakan batu gamping sebagai
bahan timbunan dilakukan dengan memperhatikan:
(1) Perilaku pemadatan laboratorium.
(2) Persyaratan material untuk timbunan termasuk yang
berkaitan dengan kekuatan dan konsistensi
material.
(3) Sifat kimia yang berkaitan dengan pengaruh
lingkungan dan air terhadap durabilitas kinerja
timbunan.

f) Sondir (Pneutrometer Static)


Sondir dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan
tanah keras, menentukan lapisan-lapisan tanah
berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat tanah
setiap kedalaman yang diselidiki, alat ini hanya dapat
digunakan pada tanah berbutir halus, tidak boleh
digunakan pada daerah aluvium yang mengandung
komponen berangkal dan kerakal serta batu gamping yang
berongga, karena hasilnya akan memberikan indikasi
lapisan tanah keras yang salah.
Ada dua macam alat sondir yang digunakan :
(1) Sondir ringan dengan kapasitas 2,5 ton
(2) Sondir berat dengan kapasitas 10 ton
Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa
sedalam 20 cm, pekerjaan sondir dihentikan apabila
14
pembacaan pada manometer berturut-turut menunjukan
harga >150 kg/cm2 , alat sondir terangkat keatas, apabila
pembacaan manometer belum menunjukan angka yang
maksimum, maka alat sondir perlu diberi pemberat yang
diletakan pada baja kanal jangkar.

g) Survei DCP
Untuk mendapatkan nilai CBR lapisan tanah dasar yang
dilakukan pada jalan yang belum beraspal, seperti jalan
tanah, jalan kerikil atau jalan aspal yang telah rusak
sehingga tampak lapisan pondasinya. Pemeriksaan nilai
struktural jalan, yang dilakukan dengan alat Dynamic Cone
Penetrometer (DCP). Survei dilaksanakan mengacu
kepada SNI 03–1743–1989.
Prosedur Pelaksanaan Survei adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan dilakukan pada sumbu jalan dan pada
permukaan lapisan tanah dasar.
(1) Dicatat ketebalan dan jenis setiap bahan perkerasan
yang ada, seperti : sirtu, lapisan telford, lapisan
pasir dan sebagainya.
(2) Pemeriksaan dilakukan hingga kedalaman 90 cm.
dari permukaan lapisan tanah dasar, kecuali bila
dijumpai lapisan tanah yang sangat keras.
(3) Selama pemeriksaan dicatat kondisi-kondisi khusus
yang perlu diperhatikan seperti : timbunan, kondisi
drainase dan sebagainya.
(4) Data yang diperoleh dari pemeriksaan ini dicatat
dalam Formulir pengambilan data DCP.

III. Pengendalian Survei Pendahuluan dan Survei


Detail

Pengendalian survei bertujuan sebagai kendali mutu


15
pengambilan data, kendali mutu tersebut diantaranya :

(1) Setiap akan melakukan kegiatan survei baik


pendahuluan maupun survei detail pelaksana kegiatan
wajib mengajukan jadwal kegiatan yang kemudian
ditindaklanjuti dengan surat ijin melakukan survei baik
pendahuluan maupun detail yang dikeluarkan oleh
Pejabat Pembuat Komitmen.

(2) Proses survei baik pendahuluan maupun survei detail


wajib diawasi dimulai dari persiapan peralatan sampai
pada proses survei oleh petugas yang ditunjuk oleh
Pejabat Pembuat Komitmen.

(3) Data hasil pengambilan pada survei detail wajib


diperiksa kebenarannya sebelum dilakukan proses
desain. proses desain dapat dilakukan apabila data
hasil survei detail sudah dapat diterima oleh Pejabat
Pembuat Komitmen.

(4) Adanya berita acara pemeriksaan baik terhadap survei


pendahuluan maupun survei detail yang dikeluarkan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

C. PERENCANAAN TEKNIS

1) Tujuan

Mendapatkan desain perencanaan teknik jalan sesuai


dengan peraturan dan pedoman yang berlaku

2) Lingkup Pekerjaan

Hal hal yang menjadi lingkup pekerjaan adalah :

(a) Menetapkan awal dan akhir rencana proyek pada

16
peta, serta menarik beberapa Alternatif rencana As
Jalan/AIinyemen Horizontal dengan dilakukan
pengecekan Alinyemen Vertikal sesuai dengan kondisi
medan yang memenuhi Standar Perencanaan
Geometrik Jalan dan dibahas.

(b) Melakukan perencanaan alinyemen horizontal dan


vertikal berdasarkan alternatif yang dipakai dengan
tetap mengacu pada standar geometrik jalan antar
kota maupun perkotaan.

(c) Menentukan jenis perkerasan.

(d) Melakukan perencanaan dan perhitungan tebal


perkerasan baik perkerasan kaku maupun fleksibel
dengan mengacu pada pedoman perencanaan tebal
perkerasan lentur dan tebal perkerasan kaku.

(e) Melakukan perencanaan dan perhitungan drainase


atau bangunan perlengkapan jalan lainnya.

(f) Melakukan perhitungan kuantitas pekerjaan yang


disusun menurut mata pembayaran didalam
Spesifikasi Umum yang dipakai.

(g) Menyampaikan laporan Analisa Harga Satuan


Pekerjaan untuk semua mata pembayaran yang
mengacu pada Analisa Harga Satuan terbaru yang
diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga.

(h) Menentukan metode pekerjaan dan jadwal


pelaksanaan.

(i) Menyiapkan laporan perkiraan kebutuhan biaya


pekerjaan konstruksi.

17
3) Persyaratan

Proses perencanaan harus mengacu pada standar,


pedoman yang berlaku seperti standar atau pedoman
yang tertulis pada acuan normatif atau referensi lain yang
tertuang dalam Kerangka Acuan Kerja. Pihak Konsultan
Perencana dalam proses perencanaan wajib membuat
perhitungan.

4) Penggambaran

Penggambaran yang dihasilkan berdasarkan kriteria:

 Ukuran kertas minimal A3

 Tata letak/Layout dengan Skala 1 : 2000

 Alinyemen Horisontal dengan Skala 1:1000

 Alinyemen Vertikal dengan Skala 1:100

 Potongan Melintang Skala Horisontal 1:100, Skala


Vertikal 1:100

 Gambar – gambar detail dengan skala sesuai dengan


kebutuhan.

Album Gambar terdiri dari :


(a) Cover
(b) Lembar Pengesahan
(c) Umum (Daftar Isi, Legenda, Singkatan, Peta Lokasi
Pekerjaan)
(d) Stripmap Penanganan dan Kerusakan yang disertai
Foto setiap awal dan akhir lokasi pekerjaan
(e) Situasi dan Potongan Memanjang
(f) Tipikal Potongan Melintang
(g) Detail Bangunan Pelengkap

18
(h) Standar Jalan dan Jembatan

5) Pengendalian Proses Perencanaan

Pengendalian pada saat proses perencanaan dilakukan


agar desain yang dihasilkan memenuhi persyaratan secara
teknis, proses pengendalian dilakukan terhadap :

(a) Konsep desain awal berdasarkan data sekunder harus


mendapat persetujuan dari Pejabat Pembuat
Komitmen.

(b) Konsep desain berdasarkan data survei pendahuluan


dan survei detail yang merupakan review terhadap
desain awal harus diperiksa dan diasistensikan
kepada Pejabat Pembuat Komitmen.

(c) Pemeriksaan dan Asistensi perencanaan secara


bertahap wajib dilaksanakan oleh Konsultan
Perencana kepada Pejabat Pembuat Komitmen.

(d) Pengecualian terhadap desain yang tidak memenuhi


standar harus mendapat persetujuan dari Pejabat
Pembuat Komitmen.
11 JANGKA : Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 30 (Tiga
WAKTU Puluh) hari kalender.
PELAKSANAAN

12 KEBUTUHAN : Kebutuhan tenaga ahli yang diperlukan untuk


TENAGA melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
Kualifikasi
Jumlah Waktu Jumlah
No Posisi Pendidikan Sertifikat Pengalaman
(Orang) (Bulan) (OB)
Keahlian (Tahun)
I Tenaga Ahli
1 Team Leader S1-Teknik Ahli 4 1 1 1
Sipil Teknik
Jalan
2 K3 Konstruksi S1 Ahli K3 1 1 0,25 0,25
Konstruksi
II Tenaga
Pendukung
1 Asisten Ahli S1-Teknik - 2 1 1 1

19
Jalan Raya Sipil
2 Surveyor SMK/SMA - 2 3 0,50 0,50

3 Operator SMK/SMA - 2 1 1 1
Komputer CAD
4 Tenaga SMK/SMA - 2 1 1 1
Administrasi

13 KEBUTUHAN : Kebutuhan Survei untuk masing – masing Ruas Jalan


DAN JENIS adalah sebagai berikut :
SURVEI
a) Survei Pendahuluan

b) Survei Detail Kondisi

c) Survei Penyelidikan Tanah (Jika diperlukan)

14 KELUARAN- : Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan ini berupa Laporan


KELUARAN – laporan yang terdiri dari :

a) Laporan Pendahuluan dan Survei Pendahuluan

Laporan Pendahuluan dan Survei Pendahuluan yang


berisikan: Latar Belakang, Data Umum Pekerjaan,
Metodologi dan Rencana Kerja, Menyampaikan Kriteria
Desain secara detail, Pengenalan Lokasi Awal,
Organisasi Pelaksanaan Kegiatan, Laporan Hasil
Survei Pendahuluan, Penentuan Lokasi dan Jadwal
Pelaksanaan Survei Detail. Laporan harus diserahkan
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak
SPMK diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan.

b) Laporan Hasil Survei

Laporan ini berisi tentang metode dan hasil


pelaksanaan survei untuk masing – masing survei
detail yang dilaksanakan. Untuk pekerjaan ini laporan
hasil survei yang dilaksanakan meliputi :

1) Laporan Survei Detail

20
2) Laporan Survei Penyelidikan Tanah (jika diperlukan)

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 14


(empat belas) hari kerja sejak SPMK diterbitkan
sebanyak 5 (lima) buku laporan.

c) Laporan Akhir

Laporan akhir terdiri dari :

1) Laporan Detail Desain/ Perencanaan sekurangnya


berisi analisa perhitungan konstruksi, analisa harga
satuan disertai hasil survei harga.

2) Laporan Kuantitas (Backup) dan Biaya


(Engineering Estimate) (RAB)

3) Identifikasi Bahaya dan Penetapan Resiko K3

4) Gambar – Gambar Rencana

5) Metode Pelaksanaan dan Rencana Jadwal


Pelaksanaan Konstruksi

6) Flashdrive Original USB 3.0 (Soft Copy) 64 Gb.

Laporan ini diserahkan selambat-lambatnya 7 (tujuh)


hari kalender sebelum masa akhir layanan dan
diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan.

Sumedang, April 2021


PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
KABUPATEN SUMEDANG

HELMI HASANUDIN, S.T.


NIP. 19680621 199803 1 004

21
22