Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Toksikologi Lingkungan

Disusun oleh :

Nama : Ricky Ardiansyah ( Kelompok 1 )

NIM : 12018065

Semester V ( Lima )

Program : S1 Farmasi

Dosen : Apt.Feri Setiadi.S.Farm.,M.Farm.

STIKES PRIMA INDONESIA

2020/2021
Kata Pengantar

Puji syukur terpanjatkan kepada Allah SWT Atas karunia dan nikmat-Nya penulis dapat
menyusun kumpulan laporan praktikum yang berjudul “ Laporan Praktikum Toksikologi”
dengan maksimal.

Sholawat dan salam kami sampaikan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW yang telah
menerangi dunia dengan ilmu dan keteladanannya. Salam dan doa juga tak lupa kami
sampaikan kepada keluarga, sahabat dan seluruh umatnya yang setia hingga akhir zaman.

Isi dari laporan ini adalah kumpulan dari pelaporan selama praktikum toksikologi lingkungan
yang meliputi : Tata Cara Pengambilan Sampel Biologis, Uji Ketoksikan Akut, Uji Ketoksikan
Subkronis, Uji Klinik Metode Marquis Menggunakan Sampel Urine, Uji Klinik Metode
Kalium Dikromat Menggunakan Sampel Urine, Terapi Antidot Obat Paracetamol dan Antidot
Sianida. Tak lupa pula saya berterimakasih kepada dosen Praktikum Toksikologi Lingkungan
yaitu Bapak Apt.Feri Setiadi.S.Farm.,M.Farm yang sudah membimbing saya dalam menyusun
kumpulan pelaporan hasil dari praktikum toksikologi lingkungan ini.

Meski telah disusun dengan sebaik mungkin, penyusun menyadari masih banyak kesalahan
dalam laporan ini. Sehingga kami mengharapkan keridhoan pembaca sekalian untuk
memberikan kritik dan saran yang bisa kami jadikan sebagai bahan evaluasi.

Akhir kata, semoga kumpulan laporan hasil praktikum toksikologi lingkungan ini dapat
diterima oleh pembaca dan juga sebagai ilmu yang bermanfaat.

Bekasi, Maret 2021

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar ...................................................................................................................................... i


Daftar Isi ................................................................................................................................................ ii
PERCOBAAN 1 .................................................................................................................................... 1
Tata Cara Pengambilan Sampel Biologis ........................................................................................... 1
PERCOBAAN 2 .................................................................................................................................. 17
Uji Ketoksikan Akut ........................................................................................................................... 17
PERCOBAAN 3 .................................................................................................................................. 27
UJI KETOKSIKAN SUBKRONIS ................................................................................................... 27
PERCOBAAN 4 .................................................................................................................................. 36
UJI KLINIK METODE MARQUIS MENGGUNAKAN SAMPEL URINE ................................ 36
PERCOBAAN 5 .................................................................................................................................. 43
UJI KLINIK METODE KALIUM DIKROMAT MENGGUNAKAN SAMPEL URINE .......... 43
PERCOBAAN 6 .................................................................................................................................. 48
Uji Terapi Antidotum Obat Paracetamol ......................................................................................... 48
PERCOBAAN 7 .................................................................................................................................. 55
Uji Terapi Antidot Sodium Nitrit Dan Sodium Thiosulfat ............................................................. 55

ii
PERCOBAAN 1

Tata Cara Pengambilan Sampel Biologis

Hari/tanggal : Selasa, 15 Desember 2020


Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi
Materi praktikum : Tata Cara Pengambilan Sampel Biologis

A. Tujuan
• Mahasiswa dapat mengenal dan memahami tata cara pengambilan sampel biologis,
seperti cara mengorbankan hewan uji, cara Pengambilan organ hewan uji serta cara
pengambilan darah pada hewan uji.
• Mahasiswa dapat mengetahui letak, struktur serta fungsi dari organ dalam hewan uji.

B. Dasar Teori
• Klasifikasi dari Mencit (Mus musculus) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus

• Sifat Biologis Mencit (Mus musculus) adalah sebagai berikut:

Kriteria Keterangan
Berat badan Jantan = 20-40 gram
Betina = 18-35 gram
Lama hidup 1-3 tahun
Temperatur tubuh 36,5 C
Kebutuhan air Ad libitium
Kebutuhan makanan 4-5 gram/hari

1
Mencit merupakan hewan bertulang belakang, hewan berdarah panas dan memiliki
organ tubuh mirip dengan manusia hanya saja jumlah kromosomnya yang berbeda.
Mencit hidup berkelompok. Mencit berbeda dengan tikus, dimana ukurannya mini,
berkembang biak sangat cepat, dan 99% gennya mirip dengan manusia. Oleh karena itu
mencit sangat representative jika digunakan sebagai model penyakit genetic manusia
(bawaan). Selain itu, mencit juga sangat mudah untuk di rekayasa genetiknya sehingga
menghasilkan model yang sesuai untuk berbagai macam penyakit manusia. Cuplikan
hayati yang sering diambil dalam uji toksikologi meliputi darah, urin, dan berbagai
organ tubuh seperti lambung, usus, hati, limpa, pankreas, ginjal, uterus, ovarium, testis,
jantung, paru, tiroid, dan otak.

Pengorbanan Hewan Uji


Euthanasia merupakan teknik membunuh hewan uji secara manusiawi, mudah mati
tanpa kesakitan. Teknik tersebut mensyaratkan adanya aksi depresi pada saraf pusat
sehingga memungkinkan kepekaan terhadap rasa sakit berkurang. Teknik-teknik
euthanasia yang ada tersebut harus disesuaikan dengan tujuan penelitian dan
jumlah hewan uji. Penggunaan teknik yang tidak tepat akan mempengaruhi hasil
dari penelitian. Sebagai contoh, penelitian yang berhubungan dengan pengukuran
plasma kortikosteron atau yang terkait (kortisol dan katekolamin), maka hewan uji
tidak tepat bila dieuthanasia dengan teknik pemberian kloroform atau eter, karena
kloroform dan eter akan menaikkan kortikosteron plasma. Namun, hal tersebut
tidak terjadi apabila hewan uji di dekapitasi. Sementara itu teknik euthanasia juga
harus mempertimbangkan jumlah hewan uji. Hewan uji yang banyak tentunya akan
tidak efektif jika dilakukan euthanasia secara individu. Euthanasia dapat dilakukan
secara masal atau simultan dengan menggunakan eter atau metoksifluran.

Membedah Mencit
Pembedahan atau disebut nekropsi merupakan salah satu prosedur untuk mendapatkan
sampel organ atau jaringan suatu hewan uji. Setelah mencit dibius dengan salah satu
teknik yang disebutkan di bab sebelumnya, maka mencit siap untuk dibedah.
Hendaknya telah diketahui tujuan nekropsi, apakah untuk pemeriksaan bakteriologi,
virologi, histopatologi atau immunohistopatologi. Nekropis atau disebut juga
autopsi/obduksi tidak dapat mengungkapkan semua sebab-sebab penyakit atau sebab
kejadian penyakit.
2
Nekropsi sering dapat digunakan untuk mengidentifikasi proses penyakit infeksius,
kejadian defisiensi nutrisi, keracunan, penyuakit parasitik dan tumor. Untuk
keperluan identifikasi, nekropsi akan lebih baik jika dipadukan dengan pemeriksaan
lapangan untuk dapat menentukan penyebab masalah. Nekropsi atau dikenal juga
sebagai pemeriksaan postmortem dapat dilakukan untuk menentukan penyebab
penyakit dengan cara deskripsi penyayatan makroskopis dan tinjauan mikroskopis
dari jaringan serta melakukan pemeriksaan serologis, mikrobiologis yang memadai.
Pada umumnya ada dua jenis nekropsi yaitu:
• Seksi lengkap = setiap organ atau jaringan dibuka serta dilakukan pemeriksaan.
• Seksi non lengkap = Bila hewan sakit/mati karena penyakit yang sangat menular atau
zoonis (Anthrax, AI, TBC dan hepatisis)
Nekropsi harus segera dilakukan sebelum mengalami autolisis atau kerusakan jaringan
permanen. Nekropsi harus dilakukan 6-8 jam setelah kematian. Lewat dari itu, maka
kemungkinan kerusakan jaringan atau organ sangat besar dan akan mengganggu
identifikasi.

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Toples Kloroform

Kapas

Styrofoam

Pentul

Pinset

Gunting

Cutter

3
D. Cara Kerja
a. Pengorbanan hewan uji
Sebelum pengambilan berbagai organ tubuh, hewan uji biasanya dikorbankan terlebih
dahulu. Cara pengorbanan mencit, yakni cara kimia (eter atau kloroform ) yaitu :
1. Masukkan mencit ke dalam toples yang telah berisi kapas yang telah di basahi
kloroform.
2. Tunggu sampai mencit tidak sadar.

b. Pengambilan organ Dilakukan dengan cara berikut:


1. Korbankan mencit dengan cara kimia
2. Tempatkan mencit pada meja atau tempat bedah/fiksasi.
3. Terlentangkan mencit, rentangkan keempat kakinya dan tancap dengan jarum.
4. Basahi dengan air di daerah sekitr perut.
5. Angkat kulit perut dengan pinset, kemudian potong dengan gunting tepat di
bawah pinset.
6. Lanjutkan pemotongan ke arah kiri dan kanan, serong ke atas meuju pangkal
kaki depan, dan serong kebawah menuju pangkal kaki belakang. Dengan cara
demikian, sekarang terlihat isi perut dan rongga dada, meliputi usus, hati dan
diafragma.
7. Selanjutnya, angkat seluruh bagian usus dan rentangkan. Potong lambung,
duodenum, jejenum, dan ileum. Bersihkan isi lambung dan usus tersebut,
kemudian masukkan ke dalam pot yang berisi formalin 10%.
8. Berikutnya buka rongga dada, pisahkan hati yang melekat. Balikkan hati dan
potong pada jaringan ikatnya. Bersihkan dengan air dan masukkan pot
berformalin 10%.
9. Setelah hati terambil, akan terlihat limfa, pankreas, dan ginjal. Ptong limfa dan
pankreas yang melekat di bawa limfa. Ambil pula ginjal yang menyerupai biji
kopi. Uterus, ovarium atau testis dapat diambil dari bawah perut. Bersihkan dan
masukkan ke dalam pot berformalin.
10. Dalam rongga dada terdapat jantung dan paru di bawah tulang rusuk. Buka
tulang rusuk, potong jantung dan ambil parunya, masukkan ke dalam pot
berformalin.

4
11. Berikutnya buka kulit di atas rongga dada sampai pangkal trakea. Kelenjar tiroid
terlekat pada pankal trakea tersebut (jumlah dua, warna lebih bening).
Pengambilan tiroid dapat dilakukan dengan memotong pangkal trakea yang
mengandung tiroid, atau kelenjar tiroidnya saja. Bungkus tiroid dengan kertas
perkamen sebelum dimasukkan ke dalam pot berformalin.

12. Terakhir pengambilan otak. Untuk itu, bukak kulit kepala, kemudian potong
pangkal lehernya sampai terlihat medula spinalisnya. Lanjutkan pemotongan
pada garis tengah batok kepala. Ambil tulang tengkorak kea rah kiri dan kanan.
Segera terlihat otak besar dan kecil berwarna putih di bawah tulang tengkorak
dengan hati-hati ambil keseluruhan otak dari ronga kepala, masukkan ke dalam
pot berformalin.

E. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Praktikum kali ini yang dilakukan berjudul “Tata cara pengambilan sampel biologis”
dilakukan pengujian dengan cara menganestesi atau mengorbankan hewan uji dan
pengambilan organ hewan uji.
• Pengorbanan hewan uji
Pada pengujian mengorbankan hewan uji, di anastesi menggunakan kloroform.
Anestesi dengan kloroform dilakukan dengan memasukan mencit kedalam wadah
(toples) yang sudah berisi kapas yang telah dibasahi dengan kloroform. Didapatkan
hasil seperti pada tabel di mana mencit tidak sadar pada waktu 1 menit 26 detik.

Berat Badan Mencit Tidak Sadar


20 gram 1 menit 26 detik

Gambar 1.1 Mencit mulai tidak sadar pada waktu 1 menit 26 detik.

5
• Pengambilan Organ mencit
Pada pengujian pengambilan organ, mencit yang didalam toples diangkat setelah sudah
dirasa tidak bergerak lagi dan selanjutnya dilakukan pembedahan dengan cara
merentangkan mencit di atas styrofoam dan di tancapkan jarum pada ke empat kakinya
kemudian angkat kulit perut dengan pinset, kemudian potong dengan gunting tepat di
bawah pinset, dilakukan sampai organ dalam mencit terlihat sehingga dapat di amati.
Hasil pengamatan organ mencit dapat di lihat pada gambar.

Keterangan :
1. Kerongkongan / Esofagus
2. Jantung
3. Lambung
4. Hati
5. Pankreas
6. Pembuluh Darah
7. Usus Besar
8. Rectum
9. Usus Halus
10. Usus dua belas jari

6
11. Diafragma
12. Paru – Paru
13. Kulit
14. Tenggorokan
15. Hidung
16. Mulut

Untuk dapat memahami anatomi mencit, beberapa istilah di bawah ini yang perlu
dipahami :

1. Cranial = Mengarah ke kepala/cranium


2. Rostral = Mengarah ke hidung/rostrum
3. Caudal = Mengarah ke ekor
4. Ventral = Mengarah ke bagian abdomen
5. Distal = Mengarah ke bagian kaki
6. Proksimal = Menuju tubuh
7. Dorsal = bagian tulang belakang
8. Palmar = Menuju telapak tangan atau telapak kaki

Pada mencit, istilah ventral dan dorsal lebih tepat digunakan daripada anterior dan
posterior. Sementara cranial dan caudal digunakan sebgai pengganti superior dan
inferior. Proksimal dan distal digunakan pada skeleton appendicular. Medial dan lateral
digunakan sebagai acuan posisi relative terhadap sumbu tubuh.

Pada Anatomi Organ dalam, Mencit memiliki beberapa sistem yaitu :

I. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan mencit terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar - kelenjar
pencernaan yang saling berhubungan. Sistem pencernaan mencit secara umum
berfungsi untuk:
• Ingesti dan digesti makanan.
• Absorbsi sari makanan.
• Eliminasi sisa makanan.

7
Organ-organ pencernaan pada mencit yaitu: gigi yang berada di rongga mulut,
esophagus/ kerongkongan, ventrikulus (lambung), pankreas, usus halus, usus dua belas
jari, usus besar dan rektum.

a. Gigi
Gigi normal mencit terdiri atas sebuah incisicus dan tiga buah molar di tiap
kuadrantnya. Perkembangan dan erupsi gigi berawal dari gigi depan ke belakang. Molar
ketiga merupakan gigi terkecil di tiap rahang. molar ketiga di bagian atas adakalanya
tidak ada pada beberpa mencit liar dan beberapa strain inbred. pertumbuhan gigi
incicivus berlangsung terus menerus dan luruh selama pengunyahan.
Fungsi gigi untuk merobek atau mengunyah makanan sehingga membantu proses
pencernaan.

b. Esophagus/ Kerongkongan
Esophagus mencit berupa saluran yang tersusun atas epitelium squamosa. Bagian
ventrikulus mengalami keratinisasi, sementara bagian distal ventrikulus dijumpai
kelenjar-kelenjar ventrikulus. Sekret ventrikulus selalu ada, baik ada makanan atau
tidak di ventrikulus. Di bagian intestinum mencit dijumpai lebih dari 100 spesies bakteri
yang berkoloni dan menguntungkan bagi mencit. Koloni bakteri tersebut meningkatkan
resistensi terhadap bakteri pathogen lain di intestinum, memproduksi vitamin-vitamin
dan fungsi .homeostatis.
Fungsi Esofagus / Kerongkongan untuk membawa makanan, cairan dan air liur dari
mulut menuju hati. Di esofagus terjadi proses penggulungan makanan dengan
memanfaatkan gerak peristaltik.

c. Ventrikulus (Lambung)
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kacang
kedelai. Terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus, dan antrum. Makanan masuk ke
dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin ( sfingter ) yang bisa
membuka dan menutup, dalam keadaan normal sfingter menghalangi masuknya
kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung mempunyai fungsi yaitu
menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltic
lambung dan getah lambung.

8
d. Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar datar yang ditemukan dalam jaringan antara lambung dan
usus kecil dengan warna kecoklatan. Fungsi pankreas antara lain :
• Memproduksi enzim-enzim pencernaan yang dikirim ke usus kecil melalui saluran
pankreas.
• Menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam
darah.

e. Usus Halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang
merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum
melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh,
duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati.
Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut sfingter
Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan. Gerakan
peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan
mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus.
Fungsi usus halus adalah menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap
melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe, menyerap protein dalam
bentuk asam amino, karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, di dalam usus
halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan
makanan.

f. Usus Dua Belas Jari


Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum),yang
merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum
melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh,
duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati.

9
Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut sfingter
Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan. Gerakan
peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan
mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus.
Fungsi usus dua belas jari bertanggung jawab untuk menyalurkan makanan ke usus
halus. Secara histologis, terdapat kelenjar Brunner yang menghasilkan lendir. Dinding
usus dua belas jari tersusun atas lapisan-lapisan sel yang sangat tipis yang membentuk
mukosa otot.

g. Usus Besar
Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens
(kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Apendiks (usus buntu) merupakan
suatu tonjolan kecil berbentuk seperti tabung, yang terletak di kolon asendens, pada
perbatasan kolon asendens dengan usus halus. Usus besar menghasilkan lendir dan
berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Ketika mencapai usus besar, isi usus
berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rektum bentuknya menjadi padat. Banyaknya
bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan
membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat
zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus.
Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di
dalam usus besar. Akibatnya akan terjadi iritasi yang bisa menyebabkan
dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

h. Rektum
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih
tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke
dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya
dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem
saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak
terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air
akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, maka
konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
10
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari
tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari
usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari
tubuh melalui proses defekasi (buang air besar), yang merupakan fungsi utama anus.

II. Sistem Ekskresi


Sistem Ekskresi adalah suatu proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme tubuh
yang sudah tidak diperlukan lagi. Fungsi sistem ekskresi adalah untuk menjaga
kesetimbangan (homeostasis) tubuh secara osmoregulasi. Sistem eksresi mencit terdiri
dari ginjal, hati, kulit, paru-paru. Berikut penjelasan mengenai bagian - bagian dalam
sistem organ eksresi pada mencit.

• Ginjal
Ginjal merupakan organ ekskresi yang utama. Organ ini berperan penting dalam
mempertahankan homeostasis cairan tubuh dengan cara mengatur volume cairan,
keseimbangan osmotik, asam basa, ekskresi sisa metabolisme, dan pengaturan
hormonal dan metabolisme. Ginjal memiliki bentuk seperti kacang merah, berjumlah
dua buah, terletak di dalam rongga perut bagian dorsal di kedua sisi tulang belakang.
Ginjal memiliki beberapa fungsi, antara lain Mengatur volume di dalam tubuh,
Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion dalam
plasma, Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh, Mengekskresikan sisa-sisa
hasil metabolisme, serta fungsi hormonal dan metabolisme.

• Hati
Hati adalah kelenjar terbesar, dengan warna cokelat. Letak hati berada dalam rongga
perut di sebelah kanan atas dan di bawah diafragma. Hati berfungsi sebagai tempat
metabolisme asimilasi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan produksi energi;
sebagai tempat detoksikasi racun; membentuk darah dan heparin serta memproduksi
empedu. Hati berfungsi memproduksi organ ekskresi. Empedu merupakan suatu cairan
yang memiliki warna kuning kehijauan dengan komposisi garam - garam empedu,
pigmen empedu, kolesterol, lesitin, lemak, dan garam organik.

11
• Kulit (integumen)
Kulit merupakan bagian tubuh yang terluas dan membungkus seluru bagian luar tubuh.
Kulit memiliki beberapa fungsi, antara lain:
➢ Fungsi proteksi yaitu kulit melindungi bagian dalam tubuh dari gangguan fisik
maupun mekanik, seperti gesekan, tarikan, gangguan kimia yang dapat
menimbulkan iritasi.
➢ Fungsi absorpsi yatu memungkinkan kulit mengabsorpsi oksigen,
mengeluarkan CO2 dan uap air.
➢ Fungsi pengaturan suhu tubuh yaitu untuk mengatur suhu tubuh, kulit
mengeluarkan keringat. Jika udara panas, maka kulit akan mengeluarkan
keringat lebih banyak.
➢ Fungsi ekskresi yaitu kelenjar-kelenjar pada kulit mengeluarkan zat-zat sisa
metabolisme tubuh yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh seperti urea, NaCl,
asam urat, dan amonia. Kelenjar minyak menjaga kelembapan kulit. Kelenjar
lemak dan kelenjar keringat menyebabkan keasaman kulit.
• Paru-paru
Paru-paru terletak di dalam rongga di kanan dan kiri jantung. Paru-paru sebelah kanan
terdiri atas tiga kelompok alveolus dan merupakan dua belahan paru- paru (dua lobus).
Didalam paru-paru, bronkus sebelah kanan bercabang tiga, sedangkan bronkus sebelah
kiri bercabang dua, sama jumlahnya dengan jumlah lobus paru-paru. Cabang bronkus
disebut bronkiolus. Fungsi dari paru-paru adalah menukar oksigen dari udara dengan
karbondioksida dari darah.

III. Sistem Respirasi


Respirasi merupakan rangkaian proses meliputi pengambilan gas atau udara,
penggunaannya untuk memecah zat, pengeluaran gas sisa pemecahan zat, serta
pemanfaatan energi yang dihasilkannya, yang berlangsung di dalam tubuh makhluk
hidup.
Secara umum respirasi mempunyai fungsi:
• Menyediakan permukaan untuk pertukaran gas antara udara dan sistem aliran darah.
• Sebagai jalur untuk keluar masuknya udara dari luar ke paru-paru.

12
• Melindungi permukaan respirasi dari dehidrasi, perubahan temperatur, dan berbagai
keadaan lingkungan yang merugikan atau melindungi sistem respirasi itu sendiri dan
jaringan lain dari patogen.
• Memfasilitasi deteksi stimulus olfactori dengan adanya reseptor olfactori di bagian
superior pada rongga hidung.

1. Hidung
Adapun fungsi hidung sebagai berikut :
• Bernapas
Hidung memiliki dua buah lubang sebagai perantara tubuh dengan lingkungan luar.
Melalui lubang tersebut, oksigen dari udara luar dihirup masuk ke dalam sistem
pernapasan, lalu masuk ke dalam paru-paru untuk melalui pemrosesan selanjutnya.
• Temperatur Udara
Jalinan pembuluh darah yang terdapat di dalam rongga hidung berfungsi
menghangatkan dan menyesuaikan temperatur udara yang dihirup, sehingga sesuai
dengan suhu inti tubuh.
• Melembapkan Udara
Dinding dalam hidung yang disebut juga dengan mukosa berfungsi melembapkan udara
yang masuk ke dalam agar hidung tidak menjadi kering.
• Membersihkan Udara
Beberapa senjata yang dimiliki oleh hidung, yaitu lendir dan rambut-rambut halus
(disebut juga dengan silia) memiliki fungsi yang tak kalah penting. Silia bertugas
menyaring dan menangkap partikel-partikel asing yang berpotensi membahayakan
tubuh. Lendir yang bersifat lengket juga dapat menangkap benda-benda kecil yang
tidak diinginkan.

2. Tenggorokan
Fungsi tenggorokan adalah sebagai saluran pernafasan yang menghubungkan hidung
dengan paru-paru. Tenggorokan memiliki silia atau rambut halus untuk menyaring
kotoran yang masuk bersama udara. Tenggorokkan dikenal dengan trakea. Cabang
trakea adalah bronkus, sedangkan cabang bronkus adalah bronkeolus. Tenggorokan
tersusun atas tulang rawan.

13
3. Diafragma
Berfungsi untuk otot-otot pernapasan di rongga dada mengembang dan diafragma akan
berkontraksi menjadi lebih datar. Ini memudahkan udara atau oksigen bergerak masuk
menuju paru-paru karena tekanan rongga dada turun mendadak. Sedangkan ketika
mengembuskan napas, diafragma akan mengendur hingga membuat ukuran paru-paru
turut mengecil. Tekanan udara dalam rongga dada meningkat dan udara mengalir
keluar.

IV. Sistem Sirkulasi


Darah kotor dari tubuh masuk ke atrium kanan, kemudian melalui katup yang disebut
katup trikuspid mengalir ke ventrikel kanan. Nama trikuspid berhubungan dengan
adanya tiga daun jaringan yang terdapat pada lubang antara atrium kanan dan ventrikel
kanan. Darah masuk ke dalam arteri pulmoner yang langsung bercabang-cabang
menjadi cabang kanan dan kiri yang masing-masing menuju paruparu kanan dan kiri.
Arteri-arteri ini bercabang pula sampai membentuk arteriol. Arteriol-arteriol memberi
darah ke pembuluh kapiler dalam paru-paru. Di sinilah darah melepaskan
karbondioksida dan mengambil oksigen. Selanjutnya, darah diangkut oleh pembuluh
darah yang disebut venul, yang berfungsi sebagai saluran anak dari vena pulmoner.
Empat vena pulmoner (dua dari setiap paru-paru) membawa darah kaya oksigen ke
atrium kiri jantung. Hal ini merupakan bagian sistem sirkulasi yang dikenal sebagai
sistem pulmoner atau peredaran darah kecil. Dari atrium kiri, darah mengalir ke
ventrikel kiri melalui katup bikuspid. Kontraksi ventrikel akan menutup katup bikuspid
dan membuka katup aortik pada lubang masuk ke aorta. Cabang-cabang yang pertama
dari aorta terdapat tepat di dekat katup aortik. Dua lubang menuju ke arteri-arteri
koroner kanan dan kiri. Arteri koroner ialah pembuluh darah ang memberi makan sel-
sel jantung. Arteri ini menuju arteriol yang memberikan darah ke pembuluh kapiler
yang menembus seluruh bagian jantung. Kemudian, darah diangkut oleh venul menuju
ke vena koroner yang bermuara ke atrium kanan. Sistem sirkulasi bagian ini disebut
sistem koroner.
Selain itu, aorta dari ventrikel kiri juga bercabang menjadi arteri yang mengedarkan
darah kaya oksigen ke seluruh tubuh (kecuali paru-paru), kemudian darah miskin
oksigen diangkut dari jaringan tubuh oleh pembuluh vena ke jantung (atrium kanan).

14
Peredaran darah ini disebut peredaran darah besar.
a. Pembuluh Darah
Fungsi pembuluh darah yaitu mengangkut plasma darah beserta zat yang terdapat di
dalam plasma darah serta mengangkut sel-sel darah.
b. Jantung
Fungsi jantung yang utama adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Sebagai alat
transportasi dalam tubuh, darah bertugas membawa nutrisi dan oksigen yang
dibutuhkan oleh organ-organ tubuh, sekaligus mengangkut zat-zat sisa.

F. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah di praktekkan didapatkan kesimpulan bahwa :
• Penggunaan mencit sangat representative jika digunakan sebagai model penyakit
genetic manusia (bawaan). Selain itu, mencit juga sangat mudah untuk di rekayasa
genetiknya sehingga menghasilkan model yang sesuai untuk berbagai macam penyakit
manusia.
• Pada pengorbanan mencit digunakan teknik Euthanasia yang merupakan teknik
membunuh dengan mensyaratkan adanya aksi depresi pada saraf pusat sehingga
memungkinkan kepekaan terhadap rasa sakit berkurang.
• Pembedahan atau disebut nekropsi merupakan salah satu prosedur untuk mendapatkan
sampel organ atau jaringan suatu hewan uji.
• Pada pengamatan anatomi organ dalam mencit didapatkan organ dalam yang lengkap
yaitu : kerongkongan, jantung, lambung, hati, pankreas, pembuluh darah, usus besar,
rectum, usus halus, usus dua belas jari, diafragma, paru – paru , kulit, tenggorokan,
hidung dan mulut.

15
G. Daftar Pustaka
1. Nugroho, Rudy Agung. 2018. Mengenal Mencit Sebagai Hewan Laboratorium.
Mulawarman University Press. Samarinda.
2. Samsinar. 2018. Pengaruh Pemberian Tuak terhadap Morfologi Fetus Mencit (Mus
Musculus) ICR. UIN Alauddin Makassar : Makassar.

Bekasi, 19 Desember 2020 bekasi, 19 Desember 2020

TTD Praktikan Pembimbing

16
PERCOBAAN 2

Uji Ketoksikan Akut

Hari/tanggal : Selasa, 22 Desember 2020

Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi

Materi praktikum : Uji ketoksikan akut

A. Tujuan
• Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, tata cara pelaksanaan, luaran, dan
manfaat uji ketoksikan akut suatu obat.
• Mahasiswa dapat mengamati gejala – gejala klinis yang terjadi dan waktu kematian
mencit dengan dosis yang berbeda.
• Mahasiswa dapat mnghitung harga LD 50 suatu obat.

B. Dasar Teori
Toksikologi adalah ilmu pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh dan
sebenarnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek terapeutis
obat berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis
yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme (“Sola dosis
facit venenum”: hanya dosis membuat racun, Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya
reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek
toksis dapat dikurangi pula.
Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi. Antara lain dapat
dibedakan atas:
• Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan zat toksik.
• Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit diterima
tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan terakumulasi mencapai
konsentrasi toksik dan dengan demikian menyebabkan terjadinya gejala
keracunan.

Toksisitas akut merupakan percobaan yang meliputi Single Dose Experiments yang
dievaluasi 3-14 hari sesudahnya tergantung dari gejala yang ditimbulkan. Batas dosis

17
harus dipilih sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh suatu kurva dosis respons
yang dapat berwujud respons bertahap (misalnya mengukur lamanya waktu tidur) atau
suatu respon skuantal (misalnya mati). Biasanya digunakan 4-6 kelompok terdiri dari
sedikitnya 4 ekor tikus. Kematian yang timbul oleh kerusakan pada hati, ginjal atau
system hemopoetik tidak akan terjadi pada hari pertama. Kematian yang ditimbulkan
karena kerusakan alat tersebut, baru timbul paling cepat pada hari ketiga.

Prediksi metabolisme atau toksisitas obat secara in vitro terhadap manusia selama ini
menggunakan sistem in vivo pada hewan uji, genomik yang tinggi dan metode
proteomik, dan baru-baru ini dilakukan pendekatan komputasi. Memahami
kompleksitas sistem biologis membutuhkan perspektif yang lebih luas daripada
berfokus hanya pada satu metode dalam isolasi untuk prediksi. Oleh karena itu beberapa
metode mungkin diperlukan dan dikombinasikan untuk lebih akurat prediksi. Di bidang
metabolisme obat dan toksikologi, kita telah melihat pertumbuhan, dalam beberapa
tahun terakhir, dari struktur-aktivitas hubungan (QSARs), sebagai serta data empiris
dari mikroarray. Dalam studi saat ini telah dikembangkan lebih lanjut pendekatan
komputasi dengan memprediksi metabolit untuk molekul berdasarkan struktur kimia,
memprediksi aktivitas asli metabolitnya dengan absopsi, distribusi, metabolisme,
excretion, and toxicity models, menggabungkan sinyal sel manusia dan jalur metabolik
dan mengintegrasikan jaringan-jaringan dan metabolitnya.

Tolak ukur kuantitatif yang paling sering digunakan untuk menyatakan kisaran dosis
letal atau toksik, berturut-turut adalah dosis letal tengah (LD50) atau dosis toksik tengah
(TD50) yaitu suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna menyatakan dosis
tunggal suatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan efek
toksik yang berarti pada 50% hewan uji. Harga LD50 merupakan tolak ukur toksisitas
akut racun. Semakin kecil harga LD50, racun berarti semakin besar potensi toksik atau
toksisitas akut racun.

Pada dasarnya uji ketoksikan akut suatu obat merupakan salah satu mata rantai uji
toksikologi dalam kaitannya dengan penilaian keamanan obat terkait bila digunakan

18
oleh manusia. Jadi, hasil uji ketoksikan akut, terutama potensi ketoksikannya (LD50),
bersama-sama dengan hasil uji potensi keefektifan (ED50), bermanfaat sekali untuk
mengevaluasi batas aman dan indeks terapi (LD50/ED50) obat terkait. Selain itu,
pengetahuan tentang potensi ketoksikan akut juga dapat dimanfaatkan untuk
merancang uji ketoksikan subkronis/kronis, maupun untuk memperkirakan dosis awal
atau dosis terapi penelitian yang lain (5-10% LD50).

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Lumpang dan Alu Tablet Paracetamol 500 mg


Sonde
Aquades

Spuit Na.CMC

Beaker glass 100 ml & 250 ml

Batang pengaduk

Kertas perkamen

Spatel

Gelas ukur 5 ml & 100 ml

Hot plate

Neraca analitik

D. Cara Kerja
Uji ketoksikan akut parasetamol

19
• Kelas dibagi menjadi empat kelompok
• Masing-masing kelompok mendapatkan empat ekor mencit
• Masing-masing mencit diberi suspensi parasetamol secara per oral dengan dosis
125 mg/kg BB, 250 mg/kg BB, 500 mg/kg BB, dan 1000 mg/kg BB
• Amati gejala-gejala klinis yang timbul
• Catat jumlah mencit yang mati dalam waktu 24 jam
• Gunakan data seluruh kelompok untuk menghitung harga LD50

E. Hasil Pengamatan
Perhitungan Obat Paracetamol Yang Diberikan Pada Hewan Uji Coba :
Na CMC 1 % = 1/100 x 50 mL = 0,5 gr dalam 50 mL (Untuk 5 kelompok).
a. Dosis 125 mg/kg
BB mencit = 25 gram = 0,025 kg
Paracetamol = 125 mg/kg x 0,025 kg = 3,125 mg
Volume pemberian obat = 3,125/20 x 25
1 ml
= 3,9 mg/ 1mL
= 39 mg/ 10 mL
No Waktu ( menit) Gejala klinis
1 15 Lemas sesekali
2 20 Aktif
3 45 Aktif
4 60 Aktif

Keterangan : Mencit hidup

b. Dosis 250 mg/kg


BB mencit = 26 gram = 0,026 kg

20
Paracetamol = 250 mg/kg x 0,026 kg = 6,5 mg
Volume pemberian obat = 6,5/20 x 26
1 ml
= 8,5 mg/ 1mL
= 85 mg/ 10 mL
No Waktu ( menit) Gejala klinis
1 15 Aktif
2 20 Tidur
3 45 Diam
4 60 Aktif

Keterangan : Mencit hidup

c. Dosis 500 mg/kg


BB mencit = 22 gram = 0,022 kg
Paracetamol = 500 mg/kg x 0,022 kg = 11 mg
Volume pemberian obat = 11/20 x 22
1 ml
= 12,1 mg/ 1mL
= 121 mg/ 10 mL
No Waktu ( menit) Gejala klinis
1 15 Ekor berdiri, gatal-gatal,
detak jantung meningkat
2 30 Tidak timbul gejala klinis
3 45 Tidak timbul gejala klinis
4 60 Tidak timbul gejala klinis

Keterangan : Mencit mati pada waktu 24 jam

d. Dosis 1000 mg/kg


BB mencit = 25 gram = 0,025 kg

21
Paracetamol = 1000 mg/kg x 0,025 kg = 25 mg
Volume pemberian obat = 25/20 x 25
1 ml
= 31,25 mg/ 1mL
= 312,5 mg/ 10 mL
No Waktu ( menit) Gejala klinis
1 15 Kaki belakang mulai
diseret, nafas cepat, kaki
kaku, kejang cepat
2 30 Tidak timbul gejala klinis
3 45 Tidak timbul gejala klinis
4 60 Tidak timbul gejala klinis

Keterangan : Mencit mati pada waktu 15 menit

e. Dosis 150 mg/kg


BB mencit = 25 gram = 0,025 kg
Paracetamol = 150 mg/kg x 0,025 kg = 3,75 mg
Volume pemberian obat = 3,75/20 x 25
1 ml
= 4,68 mg/ 1mL
= 46,8 mg/ 10 mL
No Waktu ( menit) Gejala klinis
1 15 Ekor berdiri, mata sipit,reflex
telinga, reflex mata
2 30 Ekor berdiri,reflex mata, bobot
3 45 Ekor berdiri,reflex mata, bobot
4 60 Ekor berdiri

Keterangan : Mencit mati pada waktu 58 menit

Data untuk mencari nilai LD50 :

Dosis Jumlah Hewan Jumlah Hewan Jumlah Hewan Pi

22
Seluruhnya Yang Mati Yang Hidup
500 mg/kgBB 10 10 0 1
250 mg/kgBB 10 8 2 0.8
125 mg/kgBB 10 5 5 0.5
62,5 mg/kgBB 10 2 8 0.2
31,25 mg/kgBB 10 1 10 0
∑Pi = 2,5

Perhitungan untuk mencari nilai LD50 :

Rumus LD50 Menurut FI Edisi III :

m = a – b ( ∑Pi – 0,5 )

Keterangan:

• m : Log LD50
• a : Log dosis terendah yang menyebabkan kematian 100% tiap kelompok.
• b : Beda log dosis yang berurutan.
• Pi : Jumlah hewan yang mati menerima dosis sebanyak i dibagi jumlah hewan
seluruhnya yang menerima dosis i.

Perhitungan LD50:

LD50 = Log 500 – (Log 500- Log 250) (2,5 - 0,5)

= 2,70 – ( 2,70 - 2,40 ) (2)

= 2,70 – (0,30) (2)

= 2,70- 0,60

= 2,10

AntiLog = 2,10 ~ 125,89 mg/KgBB

F. Pembahasan

23
Pada praktikum kali ini dilakukan uji toksisitas akut pada mencit, terdapat 5 kelompok
praktikan yang masing-masing kelompok terdiri dari 1 ekor mencit. Pada uji ini diberi
dosis tunggal/sekali suspensi paracetamol yang berbeda – beda yaitu 125 mg/kgBB,
250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, 1000 mg/kgBB dan 150 mg/kgBB secara peroral lalu
diamati perilaku masing-masing mencit dalam waktu 15, 30, 45, 60, dan 24 jam sambil
mencatat jumlah mencit yang mati. Uji tosisitas akut dilakukan untuk mengetahui
derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi dalam waktu singkat (24 jam) setelah
pemberiannya dalam dosis tunggal/sekali. Setelah masing-masing mencit diberikan
dosis tunggal seketika perilaku beberapa mencit berubah seperti mencit pada dosis 125
mg/kgBB mencit lemas sesekali pada menit ke-15 dan pada menit ke 30, 45, dan 60
mencit aktif kembali. Pada dosis 250 mg/kgBB mencit pada menit 15 aktif, menit ke
30 tidur, menit ke 45 diam dan menit ke 60 aktif kembali. Pada dosis 500 mg/kg BB
mencit pada menit ke 15 Ekor berdiri, gatal-gatal, detak jantung meningkat, menit ke
30, 45 dan 60 tidak timbul gejala klinis.
Pada dosis 1000 mg/kgBB mencit pada menit ke 15 Kaki belakang mulai diseret, nafas
cepat, kaki kaku, kejang cepat, menit ke 30, 45 dan 60 tidak timbul gejala klinis. Dan
pada dosis 150 mg/kgBB mencit pada menit ke 15 Ekor berdiri, mata sipit,reflex
telinga, reflex mata, menit ke 30 dan 40 Ekor berdiri,reflex mata, bobot, dan menit ke
60 ekor berdiri. perilaku ini berlangsung terus hingga pengamatan selesai 24 jam.
Sehingga mencit yang mati berjumlah 3 ekor pada dosis 500mg/kgBB yaitu mati pada
waktu 24 jam, dosis 1000 mg/kgBB mencit mati pada menit ke-15, dan dosis 150
mg/kgBB mencit mati pada waktu ke-58 menit, sedangkan pada dosis 125mg/kgBB
dan 250 mg/kgBB mencit masih hidup. Mencit yang masih hidup kemudian
dikumpulkan bersama mencit kelompok lain yang masih hidup.
Kemudian hasil dari praktikum didapatkan, dari data hasil pengamatan digunakan
untuk menentukan Nilai LD50 Suspensi Paracetamol pada mencit, menggunakan
metode FI Edisi III sebesar 125,89 mg/KgBB berdasarkan klasifikasi toksisitas
termasuk dalam kategori “Sedang” dimana kategori ini memiliki range 50 - 500mg/Kg
BB, secara umum semakin kecil nilai LD50 semakin toksik senyawa tersebut, begitu
pula sebaliknya semakin besar nilai LD50 semakin rendah toksisitasnya. Hasil yang
diperoleh (dalam mg/kgBB) dapat digolongkan menurut potensi ketoksikan akut
senyawa uji menjadi beberapa kelas, yaitu :

24
No Kategori Nilai LD 50 (mg/kgBB)

1. Sangat tinggi ≤ 1 mg/kg

2. Tinggi 1 – 50 mg/kg

3. Sedang 50 – 500 mg/kg

4. Sedikit toksik 500 – 5000 mg/kg

5. Hampir tidak toksik 5 – 15 g/kg

6. Relatif tidak berbahaya ≥ 15 g/kg

G. Kesimpulan
Dari hasil praktikum kali ini, dapat disimpulkan bahwa :
• Dari setiap dosis yang berbeda dengan waktu yang berbeda didapatkan gejala
klinis yang berbeda pada setiap mencit percobaan.
• Rumus LD50 Menurut FI Edisi III : m = a – b ( ∑Pi – 0,5 )

• Nilai LD50 yang didapatkan pada data pengamatan sebesar 125,89 mg/Kg BB.
Kategori toksisitas Paracetamol yang dihasilkan menurut klasifikasi ketoksikan
merupakan termasuk kedalam kategori “ sedang ”.

25
H. Daftar Pustaka
• Oktaviani, Silvia. 2018. Uji toksisitas akut. Universitas Muhammadiyah Prof Dr.
Hamka : Jakarta.
• Keswara, Yanne Dila. 2015. Uji Ketoksikan Akut. Univesitas Setia Budi : Surakarta.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

26
PERCOBAAN 3

UJI KETOKSIKAN SUBKRONIS

Hari/tanggal : Selasa, 5 Januari 2021

Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi

Materi praktikum : Uji ketoksikan subkronis

A. Tujuan
• Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, tata cara pelaksanaan, luaran, dan
manfaat uji ketoksikan subkronis suatu obat.
• Mahasiswa dapat mengetahui penentuan kadar SGPT dan SGOT pada hepar.

B. Dasar Teori
Uji toksisitas jangka pendek (juga dikenal sebagai penelitian subakut atau subkronik)
dilaksanakan dengan memberikan bahan uji berulang-ulang, biasanya setiap hari atau
lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang lebih 10% dari masa hidup hewan.
Meskipun demikian, beberapa peneliti menggunakan jangka waktu lebih pendek,
misalnya pemberian zat selama 14 dan 28 hari. Uji toksisitas oral pada tikus 28 hari
atau 90 hari sering digunakan untuk uji toksisitas jangka pendek dan jangka panjang.
Dosis tertinggi diberikan dirancang untuk menyebabkan beberapa keracunan, tetapi
tidak menimbulkan kematian.
Uji toksisitas jangka pendek ini disarankan untuk memilih tiga dosis yaitu satu dosis
yang cukup tinggi, dosis rendah yang diharapkan tidak akan memberikan efek toksik
sama sekali dan dosis menengah. Kadang kala ditambahkan satu dosis atau lebih untuk
memastikan tujuan diatas agar dapat dicapai dan kelompok pembanding harus
diikutsertakan. Tujuan utama dari uji ini adalah untuk mengungkapkan dosis tertinggi
yang diberikan tanpa memberikan efek merugikan serta untuk mengetahui pengaruh
senyawa kimia terhadap tubuh dalam pemberian berulang. Uji ini ditujukan untuk
mengungkapkan spektrum efek toksik senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah
spektrum efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis.

27
Uji toksisitas subkronik menyangkut evaluasi seluruh hewan yang bertujuan untuk
mengetahui efek patologi kasar dan efek histologi. Uji ini dapat menghasilkan
informasi toksisitas zat uji yang berkaitan dengan organ sasaran, efek pada organ
tersebut dan hubungan dosis efek dan dosis respons. Informasi tersebut dapat
memberikan petunjuk jenis penelitian khusus lainnya yang perlu dilakukan.
Persyaratan dalam uji toksisitas subkronik antara lain hewan yang digunakan adalah
rodensia tikus putih (strain Sprague Dawley atau Wistar) atau mencit (strain ddY atau
BALB/c dan lain-lainnya). Syarat hewan uji adalah sehat, umur 6-8 minggu. Dosis yang
digunakan adalah sekurang-kurangnya digunakan 3 kelompok dosis yang berbeda
antara lain dosis sediaan uji yang paling tinggi menimbulkan efek toksik tetapi tidak
menimbulkan kematian atau gejala toksisitas yang berat, dosis menengah menimbulkan
gejala toksik yang lebih ringan sedangkan dosis yang paling rendah tidak menimbulkan
gejala toksik (NOAEL).
SGPT adalah enzim yang utama banyak ditemukan pada sel hati serta efektif dalam
mendiagnosis kerusakan hepatoseluler. Kadar SGPT dapat lebih tinggi dari kadar
sekelompok transaminase lainnya dalam kasus kerusakan hati akibat penggunaan obat
atau zat kimia. SGPT dan SGOT merupakan enzim yang lebih dulu keluar ke dalam
darah sehingga digunakan sebagai indikasi kerusakan hati. Enzim SGPT banyak
ditemukan disitosol sel hati sedangkan SGOT ditemukan dalam jumlah yang sama
dijantung, otot rangka, dan hati. Kenaikan jumlah SGPT dalam serum lebih khas
menunjukkan adanya kerusakan hati.

28
C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Jarum oral Tablet Paracetamol


Kuvet
Aquades

Spuit Na.CMC 1%

Mikropipet Ekstrak daun kembang merak

Pengaduk elektrik Perekasi SGOT dan SGPT

Rotavapor

Sentrifugasi

Tabung Sentrifuge

Spektrofotometer UV Vis

Gelas kimia

D. Cara Kerja
a. Uji toksisitas subkronis
Tikus jantan (Rattus norvegicus), sebanyak 15 ekor, dengan bobot badan antara
130-240 g. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri
dari 3 ekor Tikus.
• Kelompok I diberikan Na-CMC 1% sebagai kontrol negatif.
• Kelompok II merupakan kontrol positif yang diinduksi Parasetamol 1000 mg/g
BB Tikus
• Kelompok II merupakan perlakuan I yang diberi ekstrak daun kembang merak
270 mg/200 g BB Tikus
• Kelompok III merupakan perlakuan II yang diberi ekstrak daun kembang merak
540 mg/200 g BB Tikus
• Kelompok III merupakan perlakuan III yang diberi ekstrak daun kembang
merak 1080 mg/200 g BB Tikus

29
b. Pengukuran SGPT dan SGOT darah hewan uji
Prinsip pengukuran aktivitas SGPT dan SGOT adalah mengukur laju berkurangnya
jumlah NADH menjadi NAD+ pada reaksi yang terjadi antara enzim dan substrat
yang dapat diukur pada panjang gelombang 340 nm. Sampel darah tikus
disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit untuk mendapatkan
serumnya. Setelah itu, dilakukan analisis kadar ALT dan AST. Sebanyak 100 µl
serum darah Tikus dicampur dengan 1000 µl reagen, kemudian diukur serapannya
dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm, Pada
menit ke 1 , 2 dan 3.
Pengukuran aktivitas kedua enzim tersebut dilakukan dengan cara yang sama,
hanya saja reagen yang digunakan berbeda. Reagen yang digunakan
dalampengukuran SGOT mengandung buffer Tris pH 7.8 , L-aspartat, 2-
oksoglutarat, laktat dehydrogenase, malat dehidrogenase, dan NADH. sedangkan
pereaksi yang digunakan dalam pengukuran SGPT mengandung buffer Tris, L-
alanin, 2-oksoglutarat, laktat dehydrogenase, dan NADH.

E. Hasil Pengamatan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada Ekstrak Etanol Daun Kembang Merak
(Caesalpinia pulcherrima L) sebagai hepatoprotektor yang diuji pada hewan coba, maka
diperoleh hasil sebagai berikut :

30
31
F. Pembahasan
Pada penelitian ini digunakan tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebagai hewan
coba. Adapun alasan digunakan tikus sebagai hewan coba dikarenakan tikus tidak
bersifat fotofobik, aktivitasnya tidak terganggu oleh manusia, lebih tenang, lebih besar,
relatif resisten terhadap infeksi. Sehingga, untuk percobaan laboratorium tikus lebih
menguntungkan daripada mencit. Pengunaan tikus jantan dikarenakan tikus jantan
mempunyai kecepatan metabolisme yang lebih cepat dan kondisi biologi yang relatif
stabil dibanding tikus betina. Tikus yang akan digunakan terlebih dahulu diadaptasi
selama 1 minggu yang bertujuan untuk mengkondisikan hewan dengan suasana
laboratorium. Untuk menginduksi kerusakan hati digunakan parasetamol dosis toksis
(1000 mg/kgbb).

32
Menurut penelitian Abraham (2004), pemberian parasetamol dengan dosis 1000 mg/kg
BB sudah dapat memperlihatkan kerusakan hati yang ditandai dengan peningkatan
kadar enzim SGPT. Hal ini didukung pula oleh penelitian Roy dan Das (2010) dimana
pemberian parasetamol dengan dosis 1000 mg/kg BB per oral pada tikus putih jantan
setelah 48 jam menunjukkan terjadi peningkatan level ALT, AST, ALP, dan serum
bilirubin. Dalam penelitian ini digunakan 15 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
dengan berat 100-200 gram yang dibagi secara acak menjadi 5 kelompok perlakuan.
kelompok I diberi Na-CMC 1% sebagai kontrol, kelompok II diberi Parasetamol 1000
mg/kgbb selama 3 hari, kelompok III, IV dan V diberi Parasetamol selama 3 hari,
kemudian dilanjutkan dengan pemberian ekstrak etanol daun kembang merak
(Caesalpinia pulcherimma (L) selama 7 hari dengan variasi dosis berturut-turut
270mg/200 gram BB tikus, 540mg/200 gram BB tikus, 1080mg/200 gram BB tikus.
Sebelum diberi perlakuan, dilakukan pengambilan darah melalui vena lateralis untuk
mengukur kadar SGPT dan SGOT awal. Selanjutnya pada hari ke 8, diukur kembali
kadar SGPT dan SGOT akhir pada masing-masing kelompok. Pengukuran nilai enzim
SGPT dan SGOT pertama dilakukan sebelum pemberian parasetamol dan ekstrak
etanol kembang merak (Caesalpinia pulcherrimaL). Tujuannya adalah untuk
mengetahui nilai awal dari enzim SGPT dan SGOT yang terkandung dalam serum
darah tikus jantan sehingga nilai awal ini dapat dibandingkan dengan nilai saat
diberikan parasetamol dan ekstrak etanol kembang merak (Caesalpinia pulcherrima L).
pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran kedua setelah diinduksi parasetamol,
dikarena berdasarkan literatur penelitian Roy dan Das (2010) dimana pemberian
parasetamol dengan dosis 1000 mg/kg BB per oral pada tikus putih jantan setelah 48
jam menunjukkan terjadi peningkatan level ALT, AST, ALP, dan serum bilirubin.
Hal ini didukung dengan tingginya kadar SGPT dan SGOT pada kontrol paracetamol
yaitu berturut-turut sebesar 103.5 U/L dan 131 U/L yang berbeda signifikan dengan
kontrol Na-CMC yaitu sebesar 73.33333 U/L.
Menurut Mangkoewidjojo (1988), kadar normal SGOT pada tikus sebesar 45,7-80,8
U/L dan kadar SGPT menurut (Giknis dan Clifford 2008), yaitu sebesar yaitu 18-45
U/l. Pengukuran nilai enzim SGPT dan SGOT kedua dilakukan pada hari ke delapan,
dimana sebelumnya diberikan parasetamol dosis 1000 mg/kg BB selama 3 hari dan
dilanjutkan dengan pemberian ekstrak hingga hari ke 7.

33
Hasil pengukuran kadar rata-rata SGPT kelompok dosis ekstrak I, II dan III berturut-
turut 63 U/L, 52.3333 U/L dan 87.66667 U/L dan kadar rata-rata SGOT berturut-turut
sebesar 81.33333 U/L, 80.16667 U/L dan 95.16667 U/L. Dapat dilihat dari ketiga
kelompok dosis tersebut terjadi penurunan kadar enzim SGPT dan SGOT yang sangat
signifikan dengan kelompok kontrol Na-CMC dan Paracetamol.
Meskipun terjadi penurunan kadar enzim SGPT dan SGOT dari ketiga dosis, hanya
kelompok dosis ekstrak II ( 540 mg/200 gBB) yang menunjukkan penurunan nilai
enzim SGPT dan SGOT yang lebih baik. Hasil perhitungan persen (%) penurunan kadar
SGPT pada kelompok Kontrol Na-CMC, kelompok Parasetamol (1000mg/200g BB
Tikus) , kelompok I (270mg/200 g BB Tikus ), kelompok II (540 mg/200 g BB Tikus)
dan Kelompok III (1080 mg/200 g BB Tikus), berturut-turut adalah 10.7%, 44.3%,
20.2%, 12.5% dan 20.6%. Dari data yang dihasilkan menunjukkan bahwa kelompok IV
(540 mg/200 g BB Tikus) menunjukkan persen penurunan yang hampir mendekati
kelompok control Na-CMC, yang artinya bahwa kelompok IV dapat menurunkan kadar
SGPT yang baik dibandingkan dengan kelompok yang lain. Sedangkan hasil
perhitungan persen (%) penurunan kadar SGOT pada kelompok Kontrol Na-CMC ,
kelompok Parasetamol (1000mg/200g BB Tikus) , kelompok I (270mg/200 g BB Tikus
), kelompok II (540 mg/200 g BB Tikus) dan Kelompok III (1080 mg/200 g BB Tikus),
berturut-turut adalah 14.8%, 62.1%, 21.9%, 19.7% dan 35.1%. Dari data yang
dihasilkan menunjukkan bahwa kelompok IV (540 mg/200 g BB Tikus) menunjukkan
persen penurunan yang hampir mendekati kelompok control Na-CMC dibandingkan
dengan kelompok yang lain, yang artinya bahwa kelompok IV dapat menurunkan kadar
SGOT yang baik dibandingkan dengan kelompok yang lain.

G. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada Ekstrak Etanol Daun Kembang Merak
(Caesalpinia pulcherrima L) terhadap hewan uji dapat disimpulkan bahwa :
• Ekstrak Etanol Daun Kembang Merak (Caesalpinia pulcherrima L) dosis I
(270mg/200 gram BB tikus), dosis II (540mg/200 gram BB tikus) dan dosis III
(1080mg/200 gram BB tikus) memperlihatkan efek hepatoprotektor.
• Dosis yang paling efektif sebagai hepatoprotektor adalah dosis ekstrak III (540
mg/200 gBB.

34
H. Daftar Pustaka
• BPOM, 2014. Pedoman Uji Toksisitas Secara In Vivo. Jakarta: Menteri Hukum dan
HAM.
• Hendriani, Rini. 2007. Uji Toksisitas Subkronis Kombinasi Ekstrak Etanol Buah
Mengkudu (Morinda citrifolia linn.) dan Rimpang Jahe Gajah (Zingiber officinale
rosc.) Pada Tikus Wistar. Karya Ilmiah Yang Tidak Dipublikasikan. Fakultas
Farmasi Universitas Padjadjaran.
• Rofiqoh, Ariek D. 2015. UJI TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK AIR DAUN
KATUK (Sauropus androgynous) TERHADAP KADAR BILIRUBIN SERUM
DAN HISTOLOGI HEPAR TIKUS (Rattus norvegicus) BETINA.
• Ramdaniah, Putri. 2014. UJI EFEK HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK ETANOL
DAUN KEMBANG MERAK (Caesalpinia pulcherrima L) DENGAN
PARAMETER ENZIM SGPT & SGOT PADA TIKUS JANTAN (Rattus
norvegicus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

35
PERCOBAAN 4

UJI KLINIK METODE MARQUIS MENGGUNAKAN SAMPEL URINE

Hari/tanggal : Selasa, 9 Februari 2021


Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi
Materi praktikum : Uji Klinik Metode Marquis Menggunakan Sampel Urine

A. Tujuan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip dari metode marquis.
• Mahasiswa dapat mengetahui hasil yang didapat pada uji klinik metode marquis.

B. Dasar Teori
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh dan
sebenarnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek terapeutis
obat berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis
yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme (“Sola dosis
facit venenum”: hanya dosis membuat racun, Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya
reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek
toksis dapat dikurangi pula. Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan
toksikologi. Antara lain dapat dibedakan atas:
• Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan zat toksik.
• Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit diterima
tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan terakumulasi mencapai
konsentrasi toksik dan dengan demikian menyebabkan terjadinya gejala
keracunan.
Uji klinik adalah suatu uji yang dilaksanakan pada manusia yang meliputi 4 tahapan
fase uji, yang dilaksanakan pada orang sehat dan orang sakit yang disesuaikan dengan
tujuan penggunaan bahan uji untuk dipakai di klinik, termasuk uji monitoring efek
samping obat. Pada dasarnya uji klinik memastikan efektivitas, keamanan dan
gambaran efek samping yang sering timbul pada manusia akibat pemberian suatu obat.

36
Setiap obat yang ditemukan melalui eksperimen in vitro atau hewan coba tidak terjamin
bahwa khasiatnya benar-benar akan terlihat pada penderita. Pengujian pada manusia
sendirilah yang dapat “menjamin” apakah hasil in vitro atau hewan sama dengan
manusia. Uji klinik terdiri dari 4 fase, yaitu :
• Uji klinik fase I.
• Uji klinik fase II
• Uji klinik fase III
• Uji klinik fase IV
Uji klinik fase I dilakukan pada manusia sehat, bertujuan untuk menentukan dosis
tunggal yang dapat diterima, Uji klinik fase II, dilakukan pada 100-200 orang penderita
untuk melihat apakah efek farmakologik yang tampak pada fase I berguna atau tidak
untuk pengobatan. Uji klinik fase III dilakukan pada sekitar 500 penderita yang
bertujuan untuk memastikan bahwa suatu obat baru benar-benar berkhasiat. Uji klinik
fase IV merupakan pengamatan terhadap obat yang telah dipasarkan. Fase ini bertujuan
menentukan pola penggunaan obat di masyarakat serta pola efektifitas dan
keamanannya pada penggunaan yang sebenarnya. Uji klinik yang baik dilakukan
dengan prosedur yang sudah digariskan dan komponen - komponennya disiapkan
dengan matang sehingga hasilnya betul - betul dapat dimanfaatkan sebagai acuan
pengobatan. Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian
akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urine diperlukan
untuk membuang molekul – molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostatis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang
menggunakan urine sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urine disaring didalam ginjal,
dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat –
obatan dari dalam tubuh ( anggapan urine sebagai zat yang kotor ). Reagen Marquis
merupakan reagen yang dibuat dari 40% formalin yang diasamkan. Reagen ini biasanya
digunakan untuk uji terhadap methamphetamin (atau bahasa pasarnya: sabu-sabu).
Spesifik memberi warna jingga, apabila dibiarkan berubah warna menjadi kehitaman.
Pada reagen Marquis, asam yang digunakan adalah asam sulfat. Formalin yang
diasamkan itu membentuk hidrat stabil. Prinsip kerja dari metode Marquis adalah
dengan pembentukan senyawa berwarna antara zat dengan fomaldehid dalam suasana
asam sulfat pekat.

37
C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Rak Tabung NaOH 4 N


Gelas Ukur 5 ml
Dietil Eter

Lampu Spiritus Pereaksi Marquis

Gelas Kimia Etanol 96 %

Tabung Sentrifuge Sampel Urine

Sentrifugasi

Penjepit kayu

pH Meter

Kapas

D. Cara Kerja
1. Metode Marquis
• Masukan 2 ml urine kedalam tabung sentrifuge dan cek pH urine terlebih dahulu
• Tambahkan NaOH 4 N sampai pH urine 9 – 10
• Ekstraksi dengan 5 ml eter, masukan dalam vortex mixer dan di sentrifuge 6000
rpm selama 1 menit
• Ekstrak eter dipisahkan dan diuapkan sampai kering
• Residu dilarutkan dalam 1 ml etanol 95% (secukupnya) kemudian dikeringkan
kembali

38
• Tambahkan 1 tetes pereaksi marquis, kemudian hasilnya diamati dan dicatat
serta difoto

E. Hasil Pengamatan
Dari hasil praktikum uji klinik sampel urine menggunakan metode marquis diperoleh
hasil sebagai berikut:
Gambar Keterangan

Residu yang dihasilkan setelah ditetesi


pereaksi marquis berwarna hitam
kemerahan ( merah bata ) yang
menandakan negative mengandung zat
narkotika.

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan analisis sampel urine menggunakan metode uji
Marquis. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya zat narkotika
pada sampel urine dengan metode uji Marquis. Prinsip dari percobaan ini adalah
dengan pembentukan senyawa berwarna antara zat narkotika dengan formaldehida
dalam suasana asam sulfat pekat. Reaksi ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya
cincin aromatis pada zat narkotik.
Reagen Marquis merupakan reagen yang dibuat dari 40% formalin yang diasamkan.
Reagen ini biasanya digunakan untuk uji terhadap methamphetamin dan berbagai
macam zat narkotika. Spesifik memberi warna jingga, apabila dibiarkan berubah warna
menjadi kehitaman. Pada reagen Marquis, asam yang digunakan adalah asam sulfat.
Formalin yang diasamkan itu membentuk hidrat stabil.

39
Air didapatkan dari formalin yang tidak pekat. Tetapi perlu diingat bahwa sifat asam
sulfat adalah bereaksi hebat dengan air. Hal ini membuat air yang bereaksi dengan
formalin berkurang dan kesetimbangan bergeser ke arah formalin dan air. Akibatnya
formalin lebih banyak daripada gem-diolnya.

Formalin ini bereaksi dengan inti benzene, inti benzena pada methamphetamin sifatnya
aktif. Karena methamphetamin termasuk golongan benzilik yang aktif. Sehingga dapat
bereaksi dengan formalinnya. Methamphetamin ini bereaksi dengan berubah warna
menjadi jingga, ternyata membentuk dimer. Warna jingga ini sebenarnya adalah kation
dimer ini. Kation ini dapat terjadi, karena asam sulfat yang memiliki sifat oksidator.
Reaksinya terlihat pada gambar ini.

Pada umumnya semua narkotika akan memberikan reaksi warna ungu jika direaksikan
dengan pereaksi marquis. (Morfin, heroin dan codei + Marquis à ungu; Pethidine +
Marquis à jingga). Hasil positif untuk opium, morfin, heroin, kodein adalah warna
merah-ungu. Zat kandungan narkotika ini jika dilarutkan dengan H2SO4 + larutan
formalin encer di dalam tabung reaksi, maka akan terbentuk cincin (merah, cokelat,
jingga, ungu, hijau, dan sebagainya). Asam salisilat memberikan hasil cincin merah
positif warna merah dan zat + formalin ( 2 tetes).

40
Cara kerja dari praktikum ini yaitu dilakukan metode uji marquis dengan cara masukan
2 ml urine ke dalam tabung sentrifuge dan cek pH urine, tambahkan NaOH 4N sampai
pH urine 9 – 10 kemudian diekstraksi dengan 5 ml eter masukan ke vortex mixer dan
di sentrifuge 6000 rpm selama 1 menit, ekstrak eter dipisahkan dan diuapkan sampai
kering lalu residu dilarutkan dalam 1 ml etanol 95% kemudian keringkan kembali
sesudah kering tambahkan 1 tetes pereaksi marquis amati, hasil pengamatan didapatkan
yaitu residu yang dihasilkan setelah ditetesi pereaksi marquis berwarna hitam
kemerahan ( merah bata ) yang menandakan sampel urine negative mengandung zat
narkotika.
Tabel berikut ini adalah hasil positif sampel yang mengandung zat narkotika jika
mengalami perubahan warna sebagai berikut :

G. Kesimpulan
Dari hasil praktikum uji klinik metode marquis menggunakan sample urine dapat
disimpulkan bahwa :
• Percobaan ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya zat narkotika
pada sampel urine dengan metode uji Marquis. Metode Marquis ini
mengidentifikasi adanya cincin aromatis pada zat narkotik yang ditandai dengan
pembentukan senyawa berwarna.
• Prinsip dari percobaan ini adalah dengan pembentukan senyawa berwarna
antara zat narkotika dengan formaldehida dalam suasana asam sulfat pekat.

41
• Reagen Marquis merupakan reagen yang dibuat dari 40% formalin yang
diasamkan, asam yang digunakan adalah asam sulfat. Formalin yang diasamkan
itu membentuk hidrat stabil.
• Hasil pengamatan dari praktikum didapatkan yaitu residu yang dihasilkan
setelah ditetesi pereaksi marquis berwarna hitam kemerahan ( merah bata ) yang
menandakan sampel urine negative mengandung zat narkotika.
• Tabel berikut ini adalah hasil positif sampel yang mengandung zat narkotika
jika mengalami perubahan warna sebagai berikut :

H. Daftar Pustaka
• Septriani N. 2019. Uji Marquis. Anonim : STIKES.
• Tri S. 2018. Pemeriksaan Fisik dan Zat Organik dalam Urine. Makassar : Universitas
Muslim Indonesia.
• Dinkes. 2019. Toksikologi Klinik. Jakarta : Badan PPSDM Kesehatan Republik
Indonesia.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

42
PERCOBAAN 5

UJI KLINIK METODE KALIUM DIKROMAT MENGGUNAKAN SAMPEL URINE

Hari/tanggal : Selasa, 09 Februari 2021


Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi
Materi praktikum : Uji klinik metode kalium dikromat menggunakan sampel urine

A. Tujuan
• Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja dari metode kalium dikromat.
• Mahasiswa dapat mengetahui hasil yang didapat pada uji klinik metode kalium
dikromat.

B. Dasar Teori
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh dan
sebenarnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek terapeutis
obat berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis
yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme (“Sola dosis
facit venenum”: hanya dosis membuat racun, Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya
reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek
toksis dapat dikurangi pula. Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan
toksikologi. Antara lain dapat dibedakan atas:
• Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan zat toksik.
• Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit diterima
tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan terakumulasi mencapai
konsentrasi toksik dan dengan demikian menyebabkan terjadinya gejala
keracunan.
Uji klinik adalah suatu uji yang dilaksanakan pada manusia yang meliputi 4 tahapan
fase uji, yang dilaksanakan pada orang sehat dan orang sakit yang disesuaikan dengan
tujuan penggunaan bahan uji untuk dipakai di klinik, termasuk uji monitoring efek
samping obat. Pada dasarnya uji klinik memastikan efektivitas, keamanan dan
gambaran efek samping yang sering timbul pada manusia akibat pemberian suatu obat.
Setiap obat yang ditemukan melalui eksperimen in vitro atau hewan coba tidak terjamin

43
bahwa khasiatnya benar-benar akan terlihat pada penderita. Pengujian pada manusia
sendirilah yang dapat “menjamin” apakah hasil in vitro atau hewan sama dengan
manusia. Uji klinik terdiri dari 4 fase, yaitu :
• Uji klinik fase I.
• Uji klinik fase II
• Uji klinik fase III
• Uji klinik fase IV
Uji klinik fase I dilakukan pada manusia sehat, bertujuan untuk menentukan dosis
tunggal yang dapat diterima, Uji klinik fase II, dilakukan pada 100-200 orang penderita
untuk melihat apakah efek farmakologik yang tampak pada fase I berguna atau tidak
untuk pengobatan. Uji klinik fase III dilakukan pada sekitar 500 penderita yang
bertujuan untuk memastikan bahwa suatu obat baru benar-benar berkhasiat. Uji klinik
fase IV merupakan pengamatan terhadap obat yang telah dipasarkan. Fase ini bertujuan
menentukan pola penggunaan obat di masyarakat serta pola efektifitas dan
keamanannya pada penggunaan yang sebenarnya. Uji klinik yang baik dilakukan
dengan prosedur yang sudah digariskan dan komponen - komponennya disiapkan
dengan matang sehingga hasilnya betul - betul dapat dimanfaatkan sebagai acuan
pengobatan.
Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urine diperlukan untuk
membuang molekul – molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk
menjaga homeostatis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang
menggunakan urine sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urine disaring didalam ginjal,
dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat –
obatan dari dalam tubuh ( anggapan urine sebagai zat yang kotor ).

Kalium dikromat adalah suatu senyawa yang mempunyai kegunaan luas bagi
kehidupan manusia. Contoh dari penggunaaan kalium dikromat yang umum dijumpai

44
yaitu pada industri penyamakan kulit, bahan celup untuk lukisan,hiasan pada porselin,
percetakan, photolithography,warna print, bahan untuk petasan, bahan pembuatan
korek api, penjernihan minyak kelapa,jalan, spon, dan untuk baterai serta depolarisator
pada sel kering. Kalium dikromat ini merupakan garam kalium tidak stabil dalam
bentuk bebas dan juga merupakan oksidator kuat, khususnya dalam larutan asam.

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Tabung Reaksi K2Cr2O7 1 N


Rak tabung reaksi
Urine

Gelas ukur 5 ml H2SO4 pekat

Penjepit kayu Kertas saring

Pipet tetes Kapas

Termometer

Hot plate

Gelas ukur 250 ml

D. Cara Kerja
1. Metode Kalium Bikromat
• Masukkan 5 ml spesimen urin dalam tabung reaksi, lalu tutup
• Pada kertas saring teteskan K2Cr2O7 tambahkan H2SO4
• Masukkan kertas saring tersebut dibagian atas leher tabung
• Sumbat mulut tabung dengan gabus dan panaskan pada penangas air suhu 100oC
selama 2 menit
• Diamati , dicatat dan difoto hasilnya

E. Hasil Pengamatan

45
Gambar Keterangan
Larutang berwarna kuning / (-) Alkohol

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan uji metode kalium dikromat menggunakan sampel
urine. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya kadar alkohol
pada sampel urine dengan metode kalium bikromat. Prinsip dari percobaan ini
adalah kadar alkohol dapat ditentukan dengan mereaksikan urine dengan kalium
bikromat.
Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai
atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol adalah alkohol mempunyai titik didih
yang tinggi dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini
disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum
alkohol R – OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam
alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya. Sedangkan dalam
air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut.
Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur air dalam segala
perbandingan (Rohmatullah, Yusuf., dkk. 2011). Penentuan alkohol pada urune ini
dilakukan dengan dengan memasukkan 5 ml spesimen urin dalam tabung reaksi, lalu
tutup. Pada kertas saring teteskan K2Cr2O7 Tujuan penambahan K2Cr2O7 adalah
sebagai pengoksidasi dalam suasana asam. dan tambahkan H2SO4 lalu Masukkan
kertas saring tersebut dibagian atas leher tabung dan sumbat mulut tabung dengan gabus
dan panaskan pada penangas air suhu 100°C selama 2 menit. Apabila urine
mengandung alkohol maka larutan akan berwarna hijau.
Pada praktikum ini di hasilkan larutan berwarna kuning yang menunjukkan bahwa pada
sampel urine tersebut tidak mengandung alkohol.

G. Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :
46
• Pada uji metode kalium dikromat pada sampel urine di hasilkan larutan berwarna
kuning yang menunjukkan bahwa pada sampel urine tersebut tidak mengandung
alkohol.
• Prinsip dari percobaan ini adalah kadar alkohol dapat ditentukan dengan
mereaksikan urine dengan kalium bikromat.

H. Daftar Pustaka
• Miskah, Siti.,dkk. 2015. Penambahan K2cr2o7terhadap Waktu Awal Penyalaan Pada
Biobriket Dari campuran Batubara Dan Tongkol Jagung. Jurnal Teknik Kimia. Vol
21, no 3.
• Rahmatini. 2010. Evaluasi Khasiat Dan Keamanan Obat (Uji Klinik). Majalah
Kedokteran Andalas. Vol 34, no 1.
• Rohmatullah, Yusuf.,dkk. 2011. Analisis Kadar Alkohol. Bandung : Univeristas Islam
Negeri Sunan Gunung Djati.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

47
PERCOBAAN 6

Uji Terapi Antidotum Obat Paracetamol

Hari/tanggal : Selasa, 16 Februari 2021

Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi

Materi praktikum : Uji Terapi Antidotum Obat Paracetamol

A. Tujuan
• Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, dan strategi terapi antidot,
berdasarkan contoh kemampuan N-acetylsistein menawaracunkan parasetamol.
• Mahasiswa mampu memahami perubahan tingkah laku saat keracunan paracetamol.
• Mahasiswa mampu memahami cara menghitung konversi dosis.

B. Dasar Teori
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat terhadap tubuh dan
sebenarnya termasuk pula dalam kelompok farmakodinamika, karena efek terapeutis
obat berhubungan erat dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis
yang cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme (“Sola dosis
facit venenum”: hanya dosis membuat racun, Paracelsus). Pada umumnya, hebatnya
reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek
toksis dapat dikurangi pula.
Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan toksikologi. Antara lain dapat
dibedakan atas:
• Efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan zat toksik
• Efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit diterima tubuh
dalam jangka waktu yang lama sehingga akan terakumulasi mencapai
konsentrasi toksik dan dengan demikian menyebabkan terjadinya gejala
keracunan.

48
Terapi antidot ialah suatu tata cara yang secara khusus ditujukan untuk membatasi
intensitas efek toksik zat kimia atau untuk menyembuhkan efek toksik yang
ditimbulkannya sehingga bermanfaat untuk mencegah bahaya selanjutnya. Dari
takrif tersebut terkandung makna bahwa tujuan terapi antidot ialah membatasi
penyebaran racun di dalam tubuh, sedang sasaran terapinya berupa penurunan
atau penghilangan intensitas efek toksik. Intensitas efek toksik suatu senyawa
bergantung pada keberadaan (besar kadar dan lama tinggal) senyawa terkait di
tempat aksinya. Di mana keberadaan tersebut ditentukan oleh keefektifan absorpsi,
distribusi, dan eliminasi senyawa terkait. Bila demikian upaya membatasi
penyebaran racun tentunya harus dikaitkan dengan ketiga proses tersebut. Karena
itu, strategi terapi antidot di antaranya melibatkan penghambatan absorpsi dan
distribusi, serta peningkatan eliminasi racun terkait. Parasetamol atau asetaminofen
merupakan obat analgetik-antipiretik yang cukup aman dalam dosis terapinya. Tapi
jika dipakai dalam dosis besar bisa berbahaya karena bagaimanapun juga, obat
adalah racun. Karena relatif mudah diperoleh, parasetamol merupakan salah satu
obat yang sering disalahgunakan untuk bunuh diri. Sebagian dari kasus kematian
karena parasetamol disebabkan karena usaha bunuh diri atau penyalahgunaan,
selebihnya disebabkan karena ketidaksengajaan dan biasanya karena digunakan
bersama obat lain. Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut
maupun penggunaan berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika
seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau
kurang. Hepatotoksisitas akan terjadi pada penggunaan 7,5-10 gram dalam waktu
8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol
digunakan sampai 15 gram.
Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim
sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya (aktivasi metabolik), yang
disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). NAPQI berperan sebagai radikal
bebas yang memiliki lama hidup yang sangat singkat. Dalam keadaan normal,
NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Pada
paparan parasetamol overdosis, jumlah dan kecepatan pembentukan NAPQI
melebih kapasitas hati dan ginjal untuk mengisi ulang cadangan glutation yang
diperlukan.

49
NAPQI kemudian menyebabkan kerusakan intraseluler diikuti nekrosis (kematian
sel) hati. Saat ini, pengatasan overdosis parasetamol adalah dengan penggunaan
Nacetylcystein, baik oral atau secara intravena. Antidot (antiracun) ini mencegah
kerusakan hepar akibat keracunan parasetamol dengan cara menggantikan glutation
dan dengan ketersediaannya sebagai prekursor. Rekomendasi regimen dosis untuk
Nasetilcysteine secara per-oral adalah dengan loading dose sebesar 140 mg/kg,
diikuti dengan 70 mg/kg BB setiap 4 jam untuk 17 kali dosis, dengan total
durasi terapi adalah 72 jam.

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Beaker glass 50 ml Paracetamol 500 mg

Gelas ukur 10 ml Acetylcysteine 200 mg

Spatel logam Mencit

Batang pengaduk Alkohol 70%

Lumpang dan alu Aquadest

Spuit 5 ml

D. Perhitungan
• Mencit kontrol
Paracetamol = 5000 mg/kg x 0,025 kg = 125 mg
• Mencit 2
Paracetamol = 7000 mg/kg x 0,028 kg = 196 mg
• Mencit 3
Paracetamol = 10000 mg/kg x 0,022 kg = 220 mg

50
E. Cara Kerja
• Gerus masing – masing obat sampai halus
• Timbang paracetamol sesuai dengan dosis konversi
• Masukkan paracetamol ke dalam beaker glass dan larutkan dengan 2 ml aquadest
• Masukkan 140 mg acetylcysteine ke dalam beaker glass dan larutkan dengan 2 ml
aquadest
• Masukkan larutan paracetamol kedalam spuit 5 ml
• Suntikkan secara intraperitoneal ke mencit
• Tunggu hingga ada perubahan perilaku pada mencit
• Masukkan larutan acetylcysteine ke dalam spuit 5 ml
• Suntikkan secara intraperitoneal ke mencit
• Amati perubahan tingkah laku mencit

F. Hasil dan Pengamatan


• Mencit kontrol (5000 mg/kg)
Paracetamol diberikan jam 14.00

Waktu ( menit ) Perubahan tingkah

5 masih aktif

15 Diam dan lemas

30 tertidur

40 Kembali aktif bergerak

60 Diam dan lemas kembali

75 Kejang - kejang

51
• Mencit 2 (7000 mg/kg)
Paracetamol diberikan jam 14.10

Waktu (menit) Perubahan tingkah

5 Masih aktif

15 Lemas, tangan dan kaki lumpuh

Diberikan acetylcysteine

30 Kejang – kejang

60 Kejang – kejang

80 mati

• Mencit 3
Paracetamol diberikan jam 14.15

Waktu (menit) Perubahan tingkah

5 Masih aktif

15 lemas tak berdaya

Diberikan acetylcystein

30 Kejang – kejang

60 Kejang – kejang

80 Kejang – kejang

52
G. Pembahasan
Pada praktikum toksikologi kali ini dilakukan percobaan uji terapi antidotum obat
paracetamol, menggunakan antidotum N-Acetylsistein dengan paracetamol sebagai zat
racun penyebab ketoksikan.
Peningkatan dosis parasetamol berarti meningkatkan keberadaan zat beracun
parasetamol di sel sasaran. Pada dosis terapi, salah satu metabolit Parasetamol bersifat
hepatotoksik, didetoksifikasi oleh glutation membentuk asam merkapturi yang bersifat
non toksik dan diekskresikan melalui urin, tetapi pada dosis berlebih produksi metabolit
hepatotoksik meningkat melebihi kemampuan glutation untuk mendetoksifikasi,
sehingga metabolit tersebut bereaksi dengan sel-sel hepar dan timbulah nekrosis sentro-
lobuler. Oleh karena itu pada penanggulangan keracunan Parasetamol terapi ditujukan
untuk menstimulasi sintesa glutation. Dengan proses yang sama Parasetamol juga
bersifat nefrotoksik.

MEKANISME TOKSISITAS
Sulfat dan glukuronida pada liver tersaturasi
Paracetamol lebih banyak ke CYP -> NAPQI bertambah -> suplai glutation tidak
mencukupi
NAPQI bereaksi dengan membran sel
Hepatosit rusak -> nekrosis
Acetylcysteine , juga disebut N-acetylcysteine atau NAC, bekerja untuk mengurangi
toksisitas parasetamol dengan mengisi tubuh antioksidan glutathione . Glutathione
bereaksi dengan NAPQI metabolit beracun sehingga tidak merusak sel dan dapat
dengan aman diekskresikan. Selain itu, asetilsistein telah terbukti menjadi penawar
yang lebih efektif, terutama pada pasien yang lebih besar dari 8 jam pasca-konsumsi.

Berdasarkan hasil pengamatan pada percobaan diperoleh bahwa pada pada pemberian
antidotum N-Acetylsistein di peroleh hasil bahwa pada mencit 1 dan 3 masih hidup dan
mencit 2 mati. Hal ini menunjukan bahwa N-Acetylsistein dapat menawarkan racun
dalam fase distribusi dan absorbsi karena untuk menentukan perbedaan antara sianosis
dan kejang sangat tipis sekali, sehingga parasetamol yang diperkirakan masih dalam
tahap absobsi ternyata sudah memasuki tahap distribusi.

53
H. Kesimpulan
Dari hasil praktikum uji terapi antidotum obat paracetamol menggunakan antidotum
acetylcystein didapatkan bahwa :
• Mekanisme Toksik Paracetamol : Sulfat dan glukuronida pada liver tersaturasi,
Paracetamol lebih banyak ke CYP -> NAPQI bertambah -> suplai glutation tidak
mencukupi, NAPQI bereaksi dengan membran sel, Hepatosit rusak -> nekrosis.
• Antidotum obat paracetamol yaitu N-acetylcysteine ( NAC ).

I. Daftar Pustaka
• Rahmatini. 2010. Evaluasi Khasiat Dan Keamanan Obat (Uji Klinik). Majalah
Kedokteran Andalas. Vol 34, no 1.
• Timur,Wili W.,dkk. 2017. Farmakologi Toksikologi (FR 2315) Buku Mahasiswa dan
Praktikum. Universitas Islam Sultan Agung : Semarang.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

54
PERCOBAAN 7

Uji Terapi Antidot Sodium Nitrit Dan Sodium Thiosulfat

Hari/tanggal : Selasa, 23 Februari 2021

Lokasi praktikum : Laboratorium Farmakologi

Materi praktikum : Uji Terapi Antidot Sodium Nitrit Dan Sodium Thiosulfat

A. Tujuan
• Mahasiswa mampu memahami tujuan, sasaran, dan strategi terpi antidot berdasarkan
contoh kemampuan sodiu nitrit dan natrium tiosulfat menawar racun sianida.
• Mahasiswa mampu memahami gejala keracunan dari sianida

B. Dasar Teori
Tujuan terapi antidot ialah untuk membatasi intensitas efek toksik racun, sehingga
bermanfaat untuk mencegah timbulnya efek berbahaya selanjutnya. Dengan demikian,
jelas bahwa sasaran terapi antidot ialah intensitas efek toksik racun. Pada dasarnya
dalam praktek toksikologi klinik, terapi antidot dapat dikerjakan dengan metode yang
tak khas atau yang khas. Dimaksud dengan metode tak khas ialah metode umum yang
dapat diterapkan terhadap sebagian besar racun. Metode khas, ialah metode yang hanya
digunakan bila senyawa yang kemungkinan bertindak sebagai penyebab keracunan
telah tersidik, serta zat antidotnya ada. Asas umum yang mendasari terapi antidot
tersebut meliputi sasaran, strategi dasar, cara, dan pilihan terapi antidot. Sasaran terapi
antidot ialah penurunan atau penghilangan intensitas efek toksik racun. Intensitas efek
ini ditunjukkan oleh tingginya jarak antara nilai ambang toksik (KTM) dan kadar
puncak racun dalam plasma atau tempat aksi tertentu. Strategi dasar terapi antidote
meliputi penghambatan absorpsi dan distribusi (translokasi), peningkatan eliminasi,
dan atau penaikkan ambang toksik racun dalam tubuh. Sianida merupakan racun yang
bekerja cepat, berbentuk gas tak berbau dan tak berwarna, yaitu hidrogen sianida
(HCN) atau sianogen khlorida (CNCl) atau berbentuk kristal seperti natrium sianida
(NaCN) atau potasium sianida (KCN).
Akibat racun sianida tergantung pada jumlah paparan dan cara masuk tubuh, lewat
pernapasan atau pencernaan. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen

55
sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Paparan dalam jumlah kecil
mengakibatkan napas cepat, gelisah, pusing, lemah, sakit kepala, mual dan muntah serta
detak jantung meningkat. Paparan dalam jumlah besar menyebabkan kejang, tekanan
darah rendah, detak jantung melambat, kehilangan kesadaran, gangguan paru serta
gagal napas hingga korban meninggal. Antidotum Sianida diklasifikasikan menjadi 3
kelompok utama sesuai dengan meaknisme aksi utamanya, yaitu : detoksifikasi dengan
sulfur untuk membentuk ion tiosianat yang lebih tidak toksik, pembentukan
methemoglobin dan kombinasi langsung. Pengobatan pasti dari intoksikasi sianida
berbeda pada beberapa negara, tetapihanya satu metode yang disetujui untuk digunakan
di Amerika Serikat. Keamanandan kemanjuran dari tiap-tiap antidotum masih menjadi
perdebatan yangsignifikan. Dan tidak terdapat konsensus antar seluruh negara untuk
pengobatanintoksikasi sianida. Natrium nitrit merupakan obat yang paling sering
digunakan untuk keracunan sianida. Dosis awal standart adalah 3% larutan natrium
nitrit 10 ml, memerlukan waktu kira-kira 12 menit untuk membentuk kira-kira 40%
methemoglobin. Penggunaan natrium nitrat tidak tanpa risiko karena bila berlebihan
dapat mengakibatkan methemoglobinemia yang dapat menyebabkan hipoksia atau
hipotensi, untuk itu maka jumlah methemoglobin harus dikotrol. Penggunaan natrium
nitrit tidak direkomendasikan untuk pasien yang memiliki kekurangan glukosa-6-fosfat
dehidrogenase (G6DP) dalam sel darah merahnya karena dapat menyebabkan reaksi
hemolisis yang serius. Sedangkan natrium nitrit bekerja dengan mekanisme
penghambatan distribusi. Natrium nitrit akan menyebabkan pembentukan
methemoglobin. Natrium nitrit akan mengoksidasi sebagian hemoglobin, sehingga di
aliran darah akan terdapat ion ferri, yang oleh ion sianida akan diikat menjadi
sianmethemoglobin. Hal ini akan menyebabkan enzim pernafasan yang terblok (tidak
dapat digunakan) akan beregenerasi lagi.

Natrium tiosulfat merupakan donor sulfur yang mengkonversi sianida menjadi bentuk
yang lebih nontoksik, tiosianat, dengan enzyme sulfurtransferase, yaitu rhodanase.

56
Tidak seperti nitrit, tiosianat merupakan senyawa nontoksik, dan dapat diberikan secara
empiris pada keracunan sianida. Penelitian dengan hewan uji menunjukkan
kemampuan sebagai antidot yang lebih baik bila dikombinasikan dengan
hidroksokobalamin. Natrium tiosulfat merupakan komponen kedua dari antidot sianida.
Antidot ini diberikan sebanyak 50 ml dalam 25 % larutan. Tidak ada efek samping yang
ditimbulkan oleh tiosulfat, namun tiosianat memberikan efek samping seperti gagal
ginjal, nyeri perut, mual, kemerahan dan disfungsi pada SSP. Natrium tiosulfat
merupakan senyawa kimia yang bekerja dengan mekanisme percepatan eliminasi.
Dalam tubuh sulfur persulfida akan berikatan dengan sianida diubah menjadi senyawa
yang tidak toksik yaitu tiosianat. Kemudian tiosianat akan diekskresikan melalui urin.

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan

Spuit Mencit

Beaker Glass 100 mL NaCl 0.9 %

Stopwatch Larutan KCN 1.5 %

Larutan Natrium Nitrit 2 %

Larutan Natrium Tiosulfat 25 %

D. Cara Kerja
• Kelompok I :
injeksi sc. Sianida 1,5% dosis 15 mg/kg BB, catat gejala yang timbul.
• Kelompok II :
Injeksi sc. Na nitrit 2% dosis 40 mg/kg BB, Catat gejala yang timbul.
• Kelompok III :
Injeksi sc. Sianida 1,5% dosis 15 mg/kg BB, ketika gejala sianosis timbul suntikkan Na
Nitrit 2% dosis 40 mg/kg BB lalu catat gejala-gejala yang timbul.

• Kelompok IV :

57
Injeksi sc. Sianida 1,5% dosis 15 mg/kg BB, ketika gejala sianosis timbul suntikkan
Tiosulfat 25% dosis 1125mg/kg BB, lalu catat gejala-gejala yang timbul.
• Kelompok V :
Injeksi sc. Sianida 1,5% dosis 15 mg/kg BB, ketika gejala sianosis timbul suntikkan Na
Nitrit 2% dosis 40 mg/kg BB dilanjutkan dengan suntikan thiosulfat 25% dosis 1125
mg/kg BB, lalu catat gejala-gejala yang timbul.

E. Perhitungan
1. Larutan Stok
• Sianida 1% = 1 g / 100 mL
= 1000 mg / 100 mL
= 100 mg / 10 mL

• NaNO2 2% = 2 g / 100 mL
= 2000 mg / 100 mL
= 200 mg / 10 mL

• Na2S2O3 25% = 25 g / 100 mL


= 2500 mg / 10 Ml

2. Dosis masing – masing mencit


Perlakuan I :
18 𝑔
Sianida 1% BB 18 g = 1000 𝑔 x 15 mg = 0,27 mg
0,27 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,03 mL
100 𝑚𝑔

Perlakuan II :
18 𝑔
NaNO2 2% BB 18 g = x 40 mg = 0,72 mg
1000 𝑔
0,72 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,04 mL
200 𝑚𝑔

Perlakuan III :
17 𝑔
Sianida 1% BB 17 g = 1000 𝑔 x 15 mg = 0,25 mg
0,25 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,03 mL
100 𝑚𝑔
17 𝑔
NaNO2 2% BB 17 g = 1000 𝑔 x 40 mg = 0,68 mg

58
0,68 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,03 mL
200 𝑚𝑔

Perlakuan IV :
18 𝑔
Sianida 1% BB 18 g = 1000 𝑔 x 15 mg = 0,27 mg
0,27 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,03 mL
100 𝑚𝑔
18 𝑔
Na2S2O3 25%BB 18 g = 1000 𝑔 x 1125 mg = 20,25 mg
20,25 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,08 mL
2500 𝑚𝑔

Perlakuan V :
18 𝑔
Sianida 1% BB 18 g = 1000 𝑔 x 15 mg = 0,27 mg
0,27 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,03 mL
100 𝑚𝑔
18 𝑔
NaNO2 2% BB 18 g = x 40 mg = 0,72 mg
1000 𝑔
0,72 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,04 mL
200 𝑚𝑔
18 𝑔
Na2S2O3 25%BB 18 g = 1000 𝑔 x 1125 mg = 20,25 mg
20,25 𝑚𝑔
Yang diambil = x 10 mL = 0,08 mL
2500 𝑚𝑔

F. Hasil Pengamatan
Data waktu (dalam detik) masing – masing mencit mengalami gejala :
• Sianida

Replikasi Konvulsi Dispnea Sianosis Mati

1 55 80 102 227

2 17 20 25 30

3 6 6 12 32

4 5 7 8 10

5 20 36 43 51

Rata-rata 20.6 29.8 38 70

SD 20.3298 30.5810 38.2949 88.9579

• Sianida + Natrium Nitrit

59
Replikasi Konvulsi Dispnea Sianosis Mati

1 65 150 186 48

2 19 30 40 48

3 6 8 7 0

4 64 84 134 168

5 56 80 103 133

Rata-rata 42 70.4 94 79.4

SD 27.5409 55.0890 71.8157 68.9188

• Sianida + Natrium Tiosulfat


Replikasi Konvulsi Dispnea Sianosis Mati

1 15 36 50 60

2 12 57 140 220

3 0 6 0 0

4 60 75 127 132

5 40 51 66 93

Rata-rata 25.4 45 76.6 101

SD 24.2033 25.8940 57.5482 82.2618

• Sianida + Natrium Nitrit + Natrium Tiosulfat


Replikasi Konvulsi Dispnea Sianosis Mati

1 42 69 80 99

2 45 97 210 257

3 24 24 27 0

4 62 87 161 180

5 79 96 112 161

Rata-rata 50.4 74.6 118 139.4

SD 20.9117 30.4352 70.8414 96.1889

• Analisis SPSS

60
One Way Anova

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

Konvulsi (Second .814 3 16 .505

Dispnea (Second) 1.154 3 16 .358

Sianosis (Second) .898 3 16 .463

Kematian (Second) .096 3 16 .961

• Anova

G. Pembahasan

61
Pada praktikum ini kami menguji aktivitas kerja antidotum secara in vivo pada mencit
yang diberi racun KCN. Bahan obat yang digunakan sebagai antidotum pada pengujian
ini adalah Natrium Nitrit dan Natrium Tiosulfat yang diberikan secara terpisah maupun
kombinasi. Hewan uji yang digunakan adalah mencit galur tertentu yang seragam,
sehat, jantan atau betina dewasa ( lebih kurang 40 hari ), berat badan antara 20 - 30
gram. Berdasarkan kondisi yang hampir seragam tersebut maka diharapkan hasil
percobaan dapat sesuai dengan teori yang ada, karena semua variabel telah
dikendalikan sejak awal. Sebelum digunakan untuk pengujian, hewan uji harus
dipuasakan terlebih dahuli minimal 18 jam dengan tetap di beri minum secukupnya.
Hal ini tersebut dilakukan dengan harapan agar efek yang di timbulkan oleh racun
sianida dan antidotumnya menjadi lebih optimal dan tidak dipengaruhi oleh faktor
makanan.
Racun sianida yang masuk ke dalam tubuh dapat bereaksi dengan komponen besi dalam
enzim sitokrom oksidase mitokondria, sehingga enzim tersebut menjadi tidak aktif
(dengan pembantukan kompleks antara ion sianida dengan besi bervalensi tiga, akan
memblok kerja enzim sitokrom mitokondria, sehingga oksigen darah tidak dapat lagi
di ambil oleh sel), padahal sistem enzim tersebut sangat di perlukan dalam
berlangsunganya metabolisme aerob. Karena itu gejala keracunan yang timbul oleh
keracunan sianida berturut - turut adalah: sianosis, kejang, gagal nafas, koma, dan
berakhir pada kematian. Gejala sianosis dapat terlihat dari membirunya pembuluh darah
di ekor mencit. Gejala kejang dapat diamati dari gerakan mencit yang menggosokkan
perutnya kebawah dengan kaki belakang ditarik kebelakang atau jika mencit merasa
sangat kekurangan O2, maka gejala yang terlihat adalah mencit melompat-lompat.
Berdasarkan literatur diketahui bahwa kombinasi natrium tiosulfat dan natrium nitrit
memberikan efek yang sinergis bila digunakan sebagai antidotum keracunan sianida
akut. Natrium tiosulfat akan bekerja dengan mekanisme mempercepat eliminasi,
sedangkan natrium nitrit akan bekerja dengan mekanisme hambatan bersaing sehingga
gabungan kedua bahan ini sangat efektif untuk digunakan sebagai antidotum keracunan
sianida.
Pada mencit yang hanya diberi KCN secara subcutan, semua mencit mati dalam waktu
yang singkat sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa KCN memiliki toksisitas yang
tinggi. Sedangkan pada perlakuan kedua setelah diberi KCN mencit juga diberi injeksi
Natrium Nitrit. Pada perlakuan ini kematian mencit dapat seditik tertunda. Begitu pula
pada perlakuan ketiga. Setelah diberi KCN mencit juga diberi Natrium Tiosulfat, pada
62
perlakuan ini kematian mencit juga tertunda. Sedangkan pada perlakuan terakhir,
setelah mencit diberi injeksi KCN, mencit diberi kombinasi dua antidotum yaitu
Natrium Nitrit dan Natrium Tiosulfat. Kematian mencit tertunda lebih lama.
Menurut analisa one way anova tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dari
keempat perlakuan tersebut, sehingga untuk menarik kesimpulan perlakuan mana yang
efektif sulit dilakukan. Hal ini mungkin saja dikarenakan kesalahan praktikan dalam
mengerjakan praktikum, atau instrument/alat yang digunakan dalam praktikum tidak
steril. Sehingga data hasil praktikum tidak sesuai dengan harapan. Seharusnya terjadi
perbedaan yang signifikan antara perlakuan pertama dengan perlakuan lainnya
mengingat perlakuan pertama mencit hanya diberi injeksi KCN sebagai racunnya.

H. Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat diketahui bahwa :
• Racun sianida yang masuk ke dalam tubuh dapat bereaksi dengan komponen besi dalam
enzim sitokrom oksidase mitokondria, sehingga enzim tersebut menjadi tidak aktif
(dengan pembantukan kompleks antara ion sianida dengan besi bervalensi tiga, akan
memblok kerja enzim sitokrom mitokondria, sehingga oksigen darah tidak dapat lagi
di ambil oleh sel).
• Gejala keracunan yang timbul oleh keracunan sianida berturut - turut adalah: sianosis,
kejang, gagal nafas, koma, dan berakhir pada kematian.
• Natrium tiosulfat akan bekerja dengan mekanisme mempercepat eliminasi, sedangkan
natrium nitrit akan bekerja dengan mekanisme hambatan bersaing sehingga gabungan
kedua bahan ini sangat efektif untuk digunakan sebagai antidotum keracunan sianida.
• Racun sianida yang diberikan ke mencit menyebabkan seluruh mencit mati secara
cepat.

63
I. Daftar Pustaka
• Hardiyanto, 2008, Dosis Efektif Kombinasi Natrium Nitrit Dan Natrium Tiosulfat
Sebagai Antidot Keracunan Sianida Akut Pada Mencit Jantan Galur Swiss, Universitas
Sanata Dharma : Yogyakarta.

Bekasi, bekasi,

TTD Praktikan Pembimbing

64

Anda mungkin juga menyukai