Anda di halaman 1dari 12

PERTEMUAN 4

STANDARISASI DAN TRANSFORMASI STRUKTURAL DALAM


PEMBANGUNAN EKONOMI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN:
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa:
1. Dapat menjelaskan arti penting dari suatu standarisasi dalam pembangunan
ekonomi.
2. Dapat mengetahui dan menjelaskan pokok pokok suatu standarisasi dalam
pembangunan.
3. Dapat memahami kaitan antara standarisasi dan transformasi struktural
dengan ancaman disintegrasi.
4. Dapat memahami kaitan antara standarisasi dan transformasi struktural
dalam kontek pembangunan ekonomi.

B. URAIAN MATERI
1. Arti Penting Standarisasi
Semenjak kemerdekaan RI tahun 1945 hingga saat ini, cita-cita luhur
para pendiri bangsa Indonesia khususnya tentang “keadilan sosial bagi
seluruh raksyat Indonesia” sepertinya masih jauh panggang dari api. Artinya,
kesejahteraan yang diimpikan dalam kehidupan ekonomi itu masih belum
terwujud secara baik dan maksimal. Kesejahteraan dalam bidang ekonomi
tersebut sangat tergantung pada kesuksesan daripada “pembangunan
ekonomi” yang dilaksanakan oleh Negara disamping tentunya juga aspek
“pertumbuhan ekonomi”.
Nah, antara pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi
sesungguhnya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan mesti
berjalan beriringan. Artinya, aspek permbangunan ekonomi tidak boleh
menafikan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya pertumbuhan juga tidak
boleh menafikan daripada pembangunan ekonomi itu sendiri. Untuk
mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tersebut maka,
diperlukan standarisasi tertentu dalam pelaksanaanya. Hal tersebut bertujuan
untuk menciptakan pemberdayaan pembangunan nasional khususnya
pemberdayaan terhadaap daerah yang selama ini sangat tertinggal dari
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah pulau jawa.
Standarisasi dalam pembangunan baik itu di tingkat daerah, propinsi
dan nasional adalah hal yang harus saling mendukung dan saling melengkapi
satu sama lain. Hal itu dikarenakan supaya tidak ada kebijakan dalam
pembangunan ekonomi yang terhambat dikarenakan adanya perbedaan
dalam penerapannya. Artinya, stndarisasi itu perlu diatur oleh Negara dengan
perangkat undang-undang ataupun peraturan pemerintah yang kiranya dapat
mengatur kewenangan dari tingkat pusat ke propinsi dan dari propinsi ke
daerah atau kota. Atau dengan kata lain konsep pelaksanaan standarisasi
tersebut dapat diartikan tingkat pemerintahan yang terendah harus merujuk
pada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dengan payung hukum yang
telah ditetapkan oleh Negara.
Menurut Basri (2002: 185) standarisasi kegiatan-kegiatan di daerah
pada dasarnya tidak boleh menjadi pengekang baru dalam pelaksanaan
otonomi daerah, melainkan justru sebagai penguat bagi perwujudan
aktualisasi segala potensi daerah secara optimal. Katakanlah standarisasi
bisa dijadikan semacam prasyarat minimum bagi setiap daerah untuk bisa
menjalankan fungsinya sebagai administrator dan regulator untuk
mensejahterakan rakyatnya. Perlu pula ditekankan bahwa pencapaian pada
standar tertentu tidaklah bersifat statis. Jadi, tingkat pencapaian yang telah
digapai bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk menuju pada standar minimum
yang telah ditetapkan.
Masih menurut Basri (2002:185) kiranya perlu disepakati terlebih
dahulu standard untuk sejumlah kegiatan daerah yang dijadikan sebagai
benchmark. Salah satu prinsip dari pembuatan benchmark ini adalah dengan
menggunakan pendekatan public goods. Dengan pendekatan ini, kita dapat
menghasilkan kegiatan-kegiatan apa saja yang berada dalam lingkup
kabupaten, propinsi ataupun nasional, sehingga pada gilirannya memperjelas
lingkup standarisasi.
Lebih lanjut Basri mengatakan, bagi badan Standarisasi Nasional,
boleh jadi yang menjadi concern adalah standarisasi pada tingkat nasional.
Jika demikian halnya, hendaknya standarisasi yang diterapkan lebih bersifat
memacu kualitas dan melindungi konsumen serta masyarakat ketimbang
sebagai prasyarat yang ketat. Adapun untuk standarisasi yang berada pada
tingkat propinsi dan kabupaten, lebih diarahkan untuk kegiatan-kegiatan
daerah yang ruang lingkup dan dampaknya lebih terbatas (non-traded)

2. Pokok-Pokok Standarisasi
Pelaksanaan standarisasi dalam kegiatan ekonomi daerah terbingkai
dalam kerangka pelaksanaan otonomi daerah. Kebijakan-kebijakan
standarisasi dalam Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 sepenuhnya
menjadi kewenangan pemerintah pusat. Walaupun ada beberapa
kewenangan kecil yang menjadi hak pemerintah tingkat propinsi. Dengan
demikian, pemerintah daerah (kabupaten dan kota) dalam kegiatan
standarisasi ini berkonsentrasi pada kegiatan pelaksanaan standarisasi. Hal
ini berarti, pemerintahan kabupaten/kota harus mempersiapkan sumber daya
manusia dan peralatan atau sarana yang diperlukan untuk dapat
melaksanakan kewenangan standarisasi ini. Berikut ini adalah pokok-pokok
standarisasi yang perlu mendapatkan perhatian sebagai berikut (Basri, 2002:
185)
POKOK-POKOK STANDARDISASI
1. Bidang Pertanian :
a. Penetapan standar pelepasan dan penarikan varietas komoditas
pertanian.
b. Penetapan standar untuk prnrntuan standar teknis minimal rumah
potong hewan,dan satuan pelayanan peternakan terpadu.
c. Penetapan norma dan standar pengadaan,pengelolaan,dan distribusi
bahan pangan.
d. Penetapan standar dan prosedur pengujian mutu bahan pangan nabati
dan hewani.
e. Penetapan norma dan standar teknis pemberantasan hama pertanian.
f. Pengaturan dan penetapan norma dan standard teknis pelayanan
kesehatan.
2. Bidang Kelautan :
Penetapan standar pengelolaan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil.
3. Bidang pertambangan dan Energi :
a. Penetapan standar pemantauan dan penyelidikan bencana alam dan
geologi.
b. Penetapan penyelidikan umum dan standard pengelolaan sumber
daya mineral dan energi serta air bawah tanah.
4. Bidang Kelautan dan Perkebunan :
a. Penetapan kriteria dan standar pengurusan hutan, kawasan suaka
alam, kawasan pelestarian alam, taman buru, dan areal perkebunan.
b. Penetapan kriteria dan standar inventarisasi, pengukuhan, dan
penatagunaan kawasan hutan, kawasan suaka alam, kawasan
pelestarian alam, dan taman buru.
c. Penetapan kriteria dan standar tarif iuran izin usaha pemanfaatan
hutan, provisi sumber daya hutan, dana reboisasi dan dana investasi
untuk biaya pelestarian hutan.
d. Penetapan kriteria dan standar produksi, pengolahan dan
pengendalian mutu, pemasaran dan peredaran hasil hutan, dan
perkebunan termasuk pembenihan, pupuk, dan pestisida tanaman
kehutanan dan perkebunan.
e. Penetapan kriteria dan standar izin usaha pemanfaatan kawasan
hutan, pemanfaatan dan pemungutan hasil, pemanfaatan jasa
lingkungan, pengusahaan pariwisata alam, pengusahaan taman buru,
usaha perburuan, penangkaran flora dan fauna, lembaga konservasi,
dan usaha perkebunan.
f. Penetapan kriteria dan standar konservasi sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya yang meliputi perlindungan, pengawetan, dan
pemanfaatan secara lestari di bidang kehutanan dan perkebunan.
g. Penetapan norma, prosedur, kriteria, dan standard peredaran
tumbuhan serta satwa liar, termasuk pembinaan habitat satwa migrasi
jarak jauh.
h. Penetapan kriteria dan standard serta penyelenggaraan pengamanan
dan penanggulangan bencana pada kawasan hutan dan areal
perkebunan.
5. Bidang perindustrian dan perdagangan :
a. Penetapan standar nasional barang dan jasa di bidang industry dan
perdagangan.
b. Penetapan standar industri dan produk tertentu yang berkaitan dengan
keamanan, keselamatan umum, kesehatan, lingkungan, dan moral.
6. Bidang kepariwisataan :
a. Penetapan standar dan norma sarana kepariwisataan.
7. Bidang ketenagakerjaan :
a. Penetapan standar keselamatan kerja, kesehatan kerja, hygiene
perusahaan, lingkungan, dan ergonomi.
8. Bidang kesehatan :
a. Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi
kesehatan dan gizi.
b. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan.
c. Penetapan pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga
kesehatan.
d. Penetapan pedoman penapisan, pengembangan, dan penerapan
teknologi kesehatan dan standard etika penelitian kesehatan.
9. Bidang pendidikan dan kebudayaan :
a. Penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar, pengaturan
kurikulum, siswa dan warga belajar, pengaturan kurikululm nasional
dan penilaian hasil belajar secara nasional, serta pedoman
pelaksanaannya.
b. Penetapan standar materi pelajaran pokok.
10. Bidang pertahanan :
Penetapan standar administrasi pertanahan.
11. Bidang pekerjaan umum :
a. Penetapan standar prasarana dan sarana kawasan terbangun dan
sistem manajemen konstruksi.
b. Penetapan standar pengembangan konstruksi bangunan sipil dan
arsitektur.
c. Penetapan standar pengembangan prasarana dan sarana wilayah
yang tediri atas : pengairan, bendungan besar, jembatan dan jalan
beserta simpul-simpulnya, serta jalan bebas hambatan.
12. Bidang perhubungan :
a. Penetapan standar rambu jalan serta pedoman penentuan lokasi
pemasangan perlengkapan jalan dan jembatan timbang.
b. Penetapan standar baik jalan, persyaratan pengujian kendaraan
bermotor, serta standard pendaftaran kendaraan bermotor.
c. Penetapan standar teknis dan sertifikasi sarana kereta api serta sarana
dan prasarana angkutan laut, sungai, danau, darat, dan udara.
d. Penetapan standar pengelolaan dermaga untuk kepentingan sendiri di
pelabuhan-pelabuhan antar propinsi/internasional.
e. Penetapan standar penentuan daerah lingkungan kerja perairan atau
daerah lingkungan kerja pelabuhan-pelabuhan bagi pelabuhan
antarpropinsi/internasional.
f. Penetapan standar kawasan keselamatan operasi penerbangan,
penetapan kriteria batas kawasan kebisingan, serta daerah lingkup
kerja bandara.
g. Penetapan standar teknis peralatan serta pelayanan meteorology
penerbangan dan maritim.
13. Bidang politik dalam negeri dan administrasi publik :
Penetapan standar dan prosedur mengenai perencanaan, pengangkatan,
pemindahan, pemberhentian, penetapan pensiun, gaji tunjangan,
kesehteraan, hak dan kewajiban, serta kedudukan hokum pegawai negeri
sipil dan pegawai negeri sipil di daerah.
14. Bidang penerangan :
Penetapan standar pemberian izin oleh daerah.
15. Adapun kewenangan propinsi dalam tugas-tugas standardisasi adalah :
a. Bidang pertanian :
1. Penetapan standar pelayanan minimal dalam bidang pertanian
yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/kota.
2. Penetapan standar pembibitan/pembenihan pertanian.
3. Penetapan standar teknis minimal rumah potong hewan, rumah sakit
hewan, dan satuan pelayanan peternakan terpadu.
b. Bidang kesehatan :
1. Sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi.
c. Bidang pekerjaan umum:
1. Penetapan standar pengelolaan sumber daya alam air permukaan
lintas kabupaten/kota.
d. Bidang perhubungan
Penetapan standar batas maksimum muatan dan berat berkendaraan
pengangkutan barang dan tertib pemanfaatan antar kabupaten/kota.

3. Membendung Ancaman Disintegrasi


Jika menilik tentang sejarah-sejarah Negara-negara di dunia, maka bisa
kita saksikan ada Negara yang besar pada awalnya akan tetapi seiring
berjalannya waktu Negara tersebut hancur terpecah belah menjadi Negara-
negara kecil. Hal tersebut bukanlah karena terjadi begitu saja, akan tetapi pasti
ada sesuatu yang yang menyebabkannya menjadi demikian. Nah, perpecahan
suatu Negara yang tadinya utuh itulah yang disebut dengan disintegrasi.
Mungkin banyak pengamat mengatakan masalah politik sebagai
penyebab utama kehancuran tersebut, akan tetapi sesungguhnya masalah
seperti tersebut banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor-faktor yang paling
krusial sebenarnya adalah masalah ketimpangan, kesenjangan dan ketidakadilan
dalam pembangunan ekonomi di setiap daerah, baik secara fisik maupun secara
non fisik.
Menurut Basri (2002: 168), kemerdekaan tidak hanya diisi dengan
semboyan-semboyan persatuan, melainkan telah pula diwujudkan dengan
kemajuan fisik. Tampak pula bahwa kian muncul kesadaran yang meluas bahwa
daerah harus lebih diberdayakan dengan memberikan peluang dan keleluasan
untuk menata dirinya. Kesadaran tersebut juga terscermin dari sikap pemerintah
untuk mempercepat pembangunan di Kawasan Indonesia Timur (KTI). Dalam
kaitan ini, mantan Presiden Soeharto berulang kali mengatakan bahwa tiada
tempat lagi bagi sentralisasi pembangunan. Ini bukan sekadar tuntutan politis,
tetapi sudah tuntutan zaman yang tidak terelakkan.
Menilik pernyataan Basri tersebut, artiya, semenjak kemerdekaan hingga
masa reformasi 1998 bahkan sampai sekarang ini, kue hidangan kemerdekan itu
hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat di daerah, dan sebagian
besarnya justru dinikmati oleh penduduk daerah di pulau jawa. Dan hal-hal atau
kondisi seperti ini yang pada akhirnya akan memicu perpecahan (disintegrasi)
suatu bangsa.
Di bidang fisik sudah jelas sesuatu yang bersifat nyata dan tampak oleh
mata seperti ; pembangunan jalan raya, jembatan, bandara, terminal, pelabuhan,
kantor-kantor, serta sarana dan prasarana lainnya. Sedangkan pembangunan
non fisik bisa dikatakan sebagai pembangunan terhadap karakter dan mental
manusianya sebagai individu pelaku ekonomi yang dilandasi oleh keyakinan atau
ideologi.
Pembangunan fisik yang merata di seluruh pelosok negeri sudah tentu akan
memberikan dampak nyata bagi kelancaran aktivitas-aktiitas perekonomian dari
pusat sampai ke daerah. Nah, pemerataan pembangunan ekonomi yang
dilakukan oleh pemerintah haruslah memiliki landasan keadilan bagi ekonomi
rakyat kecil, atau dengan istilah lain lebih populer dengan sebutan “ekonomi
kerakyatan”. Ekonomi kerakyatan tersebut harus menitikberatkan pada
pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bersinergi
dengan usaha Besar (UB).
Dalam konteks NKRI, sistem ekonomi kerakyatan tersebut secara prinsip
dasar landasannya adalah Pasal 33 ayat satu sampai dengan lima (setelah
amandemen). Adapun bunyi dari pasal tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.****)
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-
undang.****)
Menilik dari penjelasan di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa
sesungguhnya pembangunan ekonomi yang merata dan memenuhi standarisasi
sebagaimana mestinya, maka hal itu akan dapat menjauhkan Negara dari
ancaman disintegrasi. Nah, pembangunan fisik tersebut pada akhirnya sudah
pasti akan memudahkan terciptanya pertumbuhan ekonomi di setiap bidang
karena segala sarana dan prasarana telah tersedia dengan bagus baik dari segi
kuantitas maupun dari segi kualitanya.
Adapun untuk pembangunan yang bersifat non fisik, mungkin lebih ke arah
karakter dan mental manusianya sebagai individu pelaku ekonomi itu sendiri
yang dilandasi ideologi yang dianut oleh masyarakat dalam suatu Negara.
Indonesia ideologi kehidupan berbangsa dan bernegaranya adalah Pancasila.
Jika, nilai-nilai dari setiap sila pancasila dijaga, dipupuk dan dikembangkan
dengan baik ditengah-tengah masyarakat, maka ancaman disintegrasi tersebut
tidak akan pernah terjadi di bumi Indonesia yang tercinta ini. Siapa yang
bertanggungjawab dalam menjaga, memupuk dan mengembangkan nilai-nilai
pancasila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?. Jawabnya
adalah seluruh elemen bangsa baik itu pemerintah, partai politik, TNI dan
kepolisian, pemuka agama, tokoh masyarakat, masyarakat, ormas, dan
sebagainya. Semuanya harus berjiwa besar dalam memposisikan diri dalam
berbagai aktivitas, tidak saling menyalahkan dan selalu menjaga kedamaian
dalam kehidupan.

4. Transformasi Struktural
Setiap gerak gerik pembangunan ekonomi terutama dalam jangka panjang
sudah pasti akan diikuti oleh peningkatan pendapatan nasional. Situasi ini akan
membawa suatu perubahan yang mendasar di dalam struktur perekonomian
yang bergerak dari perekonomian tradisional dengan ditopang oleh sektor primer
(terutama pertanian) sebagai komponen utamanya, menuju perekonomian yang
maju dan modern dengan ditopang oleh sektor sekunder terutama pada industri
manufaktur. Nah, perubahan struktur perekonomian ini menurut para ahli
ekonomi disebut dengan transformasi struktural.
Sebagaimana yang disebutkan Putra (2018: 56), teori perubahan
struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transformasi ekonomi
yang ditandai oleh Negara-negara kurang berkembang, yang semula lebih
bersifat subsisten (pertanian tradisional) dan menitikberatkan pada sector
pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, yang didominasi
oleh sektor-sektor non primer.
Masih menurut Putra (2018: 56) di dalam kelompok Negara-negara
berkembang, banyak juga Negara yang mengalami transisi ekonomi yang pesat
dalam tiga dekade terakhir ini, walaupun pola dan prosesnya berbeda
antarnegara. Hal ini disebabkan oleh perbedaan antarnegara dalam sejumlah
faktor-faktor internal berikut:
1. Kondisi dan struktur awal dalam negeri (economic base)
2. Besarnya pasar dalam negeri
3. Pola distribusi pendapatan
4. Karakteristik industrialisasi
5. Keberadaan SDA
6. Kebijakan perdagangan.
Transformasi ekonomi merupakan salah satu indikator terjadinya
pembangunan perekonomian wilayah. Jika terjadi proses transformasi ekonomi
maka dapat dinyatakan bahwa telah terjadi pembangunan ekonomi dan perlu
pengembangan lebih lanjut, akan tetapi jika tidak terjadi proses transformasi
maka pemerintah daerah perlu mengadakan perbaikan dalam penyusunan
perencanaan wilayahnya, sehingga kebijakan pembangunan yang disusun
menjadi lebih terarah agar tujuan pembangunan dapat tercapai (Putra, 2018: 60).
Sektor-sektor ekonomi dalam perekonomian Indonesia dibedakan dalam
tiga kelompok utama (Sukirno, 2006) antara lain:
1. Sektor Primer
Terdiri dari sektor pertanian, perternakan, kehutanan, perikanan,
pertambangan dan penggalian.
2. Sektor Sekunder
Terdiri dari sektor industri pengolahan, listrik, gas, bangunan dan air.
3. Sektor Tertier
Terdiri dari sektor perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan dan
komunikasi, keuangan, sewa dan jasa perusahaan, jasa-jasa lain (termasuk
pemerintahan).

Masih dalam penjelasan Putra (2018: 60), adapun beberapa faktor penyebab
terjadinya transformasi ekonomi yaitu:
1. Disebabkan oleh sifat manusia dalam kegiatan konsumsinya.
Sesuai dengan hukum Engels bahwa makin tinggi pendapatan masyarakat
maka makin sedikit proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli
bahan pertanian, sebaliknya proporsi pendapatan yang digunakan untuk
membeli barang-barang produksi industri akan semakin besar dibandingkan
sektor pertanian.
2. Perubahan struktur ekonomi disebabkan pula oleh perubahan teknologi yang
berlangsung secara terus-menerus.
Proses transformasi struktural akan berjalan cepat jika terjadi pergeseran pola
permintaan domestik ke arah output industri manufaktur diperkuat oleh
perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau
ekspor.
Transformasi struktural ini sangat penting sekali dalam pertumbuhan dan
pembangunan perekonomian, karena nantinya hal ini akan mempengaruhi
volume perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), volume permintaan dan
penawaran agregat yang tercipta seiring berjalannya proses pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi secara konsisten dan berkesinambungan.
Dalam suatu proses pembangunan ekonomi, pasti akan membawa
perubahan yang mendasar pada struktur ekonomi, apakah dari permintaan
maupun penawaran secara agregat (aggregate demand & aggregate supplay).
Sebagaimana yang disebutkan Putra (2018: 59), dari sisi permintaan agregat
(AD), perubahan pada struktur ekonomi disebabkan karena adanya peningkatan
pendapatan masyarakat yang membuat perubahan pada selera (taste) yang
akan terefleksi pada perubahan pola konsumsinya. Sedangkan dari sisi
penawaran agregat (AS), faktor-faktor pendorong utamanya adalah terjadinya
perubahan teknologi (technological progress), peningkatan sumber daya
manusia (SDM), serta penemuan materil-materil baru untuk produksi.
Dengan demikian, produksi merupakan sumber penting pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan
terjadinya perubahan struktur perekonomian wilayah. Transformasi struktural
berarti suatu proses perubahan struktur perekonomiaan dari sektor pertanian ke
sektor industri atau jasa, di mana masing-masing sektor akan mengalami proses
transformasi yang berbeda-beda.
Pada umumnya, transformasi yang terjadi di Negara berkembang
adalah transformasi dari sektor pertanian ke sektor industri, atau terjadinya
transformasi dari sektor primer kepada sektor nonprimer (sekunder dan tertier)
(Putra, 2018: 60).
Dengan berlandaskan penjelasan di atas, maka sesungguhnya
kedudukan transformasi struktural dalam pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi sangatlah penting. Trasformasi struktural tersebut akan bisa berjalan
ataupun terlaksana dengan baik apabila dilandasi serta ditopang oleh
standarisasi-standarisasi yang tepat dan bagus dalam pembangunan ekonomi itu
sendiri.

C. SOAL LATIHAN/TUGAS
Kerjakanlah soal berikut dengan baik dan benar.
1. Jelaskanlah oleh Anda apa itu standarisasi? Dan berikanlah contohnya!
2. Apa kaitannya standarisasi dengan konsep keutuhan Negara?
3. Jelaskanlah apa itu transformasi struktural?
4. Sebutkan dan jelaskan faktor penyebab terjadinya transformasi ekonomi?
5. Menurut Anda bagaimana kaitan antara standarisasi dengan transformasi
struktural?

D. DAFTAR PUSTAKA
Basri, Faisal. 2002. “Perekonomian Indonesia : Tantangan dan Harapan bagi
Kebangkitan Indonesia”. Erlangga. Jakarta.

Putra, Windu, 2018. “Perekonomian Indonesia” PT Raja Grafindo Persada.


Depok.

Subandi. 2014. “Sistem Ekonomi Indonesia”. Bandung: AlfaBeta

_______ 2008. “Sistem Ekonomi Indonesia”. Bandung: AlfaBeta

Tambunan, Tulus TH. 2016. “Perekonomian Indonesia” : Era Orde Lama Hingga
Jokowi”. Ghalia Indonesia. Bogor.

_________________. 2009. “Perekonomian Indonesia”. Ghalia Indonesia. Bogor.