Anda di halaman 1dari 16

PENGANTAR ILMU POLITIK KELOMPOK C

“KELOMPOK KEPENTINGAN”

Disusun oleh:

MUHAMMAD FARHAN 2016210028

AUDIE SALSABILA HARIYADI 2019110062

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

INSTITUT ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JAKARTA

2020
KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulisan ini dapat
terlaksana sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Pengantar Ilmu Politik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi


terutama Bapak Musthofa Makhdor, M.Sos.Sc sebagai dosen dan pembimbing
penulis dalam penyusunan penulisan makalah.mata kuliah Pengantar Ilmu Politik ini.

Penulis menyadari bahwa masih ada kesalahan dalam penyususan tugas akhir
ini. Karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan tugas akhir ini, sehingga tidak terjadi kesalahan pada lain waktu.
Semoga penulisan makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Jakarta, 04 Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …......................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 1


1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3. Tujuan ......................................................................................................... 2
1.4. Manfaat ....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1. Pengertian Kelompok Kepentingan ........................................................... 3


2.2. Jenis-Jenis Kelompok Kepentingan ........................................................... 5
2.2.1. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia ....................... 8

BAB III PENUTUP ............................................................................................... 12

3.1. Kesimpulan ................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 13

ii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Partisipasi politik merupakan salah satu masalah yang penting dalam
politik modern, pada awalnya studi mengenai partisipasi politik
mengfokuskan diri pada partai politik sebagai pelaku utama, tetapi dengan
berkembangannya demokrasi banyak muncul kelompok masyarakat yang juga
ingin memengaruhi proses pengambilan keputusan mengenai kebijakan
umum. Kelompok-kelompok ini lahir pada masa pasca-industrial dan
dinamakan gerakan sosial baru, kelompok ini lahir karena bentuk kekecewaan
dengan kinerja partai politik dan cenderung memusatkan perhatian pada satu
masalah tertentu saja dengan harapan akan lebih efektif. (Budiarjo, 2008,
h.367)

Kelompok kepentingan sebagai salah satu bagian dari partisipasi


politik terdapat banyak sekali jenisnya. Untuk memudahkan pembahasan
mengenai kelompok kepentingan tersebut, maka ada pengkatagorisasian
kelompok-kelompok kepentingan tersebut atas dasar apakah alasan
dibentuknya kelompok-kelompok kepentingan tersebut bersifat ekonomis atau
tidak. Dalam partisipasi politik terdapat para pemegang atau pencari jabatan di
dalam sistem politik, terdapat mereka yang menjadi anggota dari berbagai tipe
organisasi politik atau semu politik. Hal ini mencakup semua tipe partai
politik dan kepentingan.

Dari sudut pandang sistem politik, partai politik dan kelompok


kepentingan dapat dinyatakan sebagai agen-agen mobilisasi politik,yaitu suatu
organisasi, melalui mana anggota masyarakat dapat berpartisipasi dalam
kegiatan politik yang meliputi usaha mempertahankan gagasan posisi, situasi,

1
2

orang atau kelompok-kelompok tertentu, melalui sitem politik yang


bersangkutan. (Rush&Althoff, 2011, h.124)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dari itu masalah pokok yang
akan dibahas dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Kelompok Kepentingan?
2. Apa saja jenis-jenis Kelompok Kepentingan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah pokok tersebut, maka tujuan dalam penulisan
makalah ini adalah untuk:
1. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan pengertian Kelompok
Kepentingan.
2. Mengetahui apa saja jenis-jenis Kelompok Kepentingan.

1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas, makalah ini memiliki manfaat, maka
diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman kepada
pembaca mengenai Kelompok-Kelompok Kepentingan.

2
3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kelompok Kepentingan


Menurut Gabriel Almond, kelompok kepentingan adalah suatu organisai yang
bertujuan dan berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah, tanpa menghendaki
untuk memperoleh jabatan politik. Kelompok kepentingan selalu ada beriringan
dengan keberadaan negara atau pemerintahan yang ada. Kelompok kepentingan
menurut Rush & Althoff dalam bukunya Sosiologi Politik (2011) merupakan
organisasi yang berusaha memajukan, mempertahankan atau mewakili sikap-sikap
yang terbatas atau yang khas. Melalui dukungan yang diperoleh kelompok
kepentingan yang mungkin bersifat khusus atau tersebut (diffuse), mendukung atau
melawan, yaitu dari hanya beberapa individu atau kelompok dalam masyarakat,
sampai pada bermacam-macam dan sejumlah besar individu atau kelompok. Jadi,
suatu golongan kelompok kepentingan mempunyai tujuan terbatas, seperti introduksi,
pencabutan atau modifikasi/perubahan terhadap undang-undang atau peraturan-
peraturan tertentu, perlindungan terhadap interest suatu kelompok khusus dalam
masyarakat, atau promosi ideology, kepercayaan, prinsip atau ide-ide tertentu. Tujuan
kelompok ini ialah memengaruhi kebijakan pemerintah agar lebih menguntungkan
mereka.
Kelompok kepentingan pada hakikatnya dapat dibagi menjadi dua, yakni:
Pertama, kelompok kepentingan privat; dan kedua, kelompok kepentingan publik.
Kelompok kepentingan privat adalah kelompok kepentingan yang berusaha
memperjuangkan kepentingan anggota-anggota yang diwakilinya (golongan tertentu)
dalam konteks kehidupan umum seperti: Pengacara, dokter, akuntan, dosen, guru,
hakim, pengacara, serta golongan professional lain, termasuk juga para pekerja atau
buruh. Juga dalam konteks ini adalah kepentingan produsen atas bidang-bidang usaha
tertentu. Sementara kelompok kepentingan yang bersifat publik adalah kelompok
kepentingan yang lebih berorientasi mempengaruhi pemerintah agar melakukan

3
4

tindakan tertentu yang menguntungkan kepentingan umum secara menyeluruh,


ketimbang anggotanya. Contoh dari jenis kelompok kepentingan ini adalah geraka-
gerakan sosial yang mengadvokasi isu-isu lingkungan, pendidikan, pertambangan,
perempuan, ketenagakerjaan, korupsi, kekerasan, perdagangan manusia, konsumen
dan sebagainya. Kelompok-kelompok ini kemudian berkembang menjadi gerakan
sosial (social movements).
Apakah gerakan sosial (social movements) itu? T. Tarrow dalam bukunya
Power in Movement (1994) berpendapat bahwa: Social movements adalah tantangan
kolektif oleh orang-orang yang mempunyai tujuan bersama berbasis solidaritas, (yang
dilaksanakan) melalui interaksi secara terus-menerus dengan para elite, lawan-
lawannya, dan pejabat-pejabat (Social movements are collective challenges by people
with common purposes and solidarity in sustained interaction with elites, opponents
and authorities). Gerakan ini merupakan bentuk perilaku kolektif yang berakar dalam
kepercayaan dan nilai-nilai bersama. Definisi lain mengenai kelompok kepentingan
menurut Marcus Ethridge dan Howard Handelman adalah suatu organisasi yang
berusaha untuk memengaruhi kebjakan publik dalam suatu bidang yang penting
untuk anggota-anggotanya.
Kelompok-kelompok kepentingan muncul pertama kali pada awal abad ke-19.
Merupakan organisasi internal yang lebih longgar dibandingkan dengan partai politik.
Mereka juga tidak memperjuangkan kursi dalam parlemen karena menganggap badan
itu telah berkembang menjadi terlalu umum sehingga tidak sempat mengatur
masalah-masalah yang spesifik. Mereka cenderung memfokuskan diri pada satu
masalah tertentu saja. Keanggotaannya terutama terdiri atas golongan-golongan yang
menganggap dirinya tertindas serta terpinggirkan, seperti kaum buruh (di Eropa
Barat) dan golongan Afrika-Amerika (di Amerika Serikat). Tujuan utama adalah
memperbaiki nasib dari masing-masing golongan, terutama keadaan ekonominya.
(Budiarjo, 2008, h.383).

4
5

Kelompok kepentingan harus mempu mencapai atau berhubungan langsung


dengan para pembuat keputusan politik. Kelompok kepentingan bisa saja menyatakan
kepentingannya secara informal maupun formal, namun tanpa mempengaruhi struktur
pembuat kebijakan, kelompok kepentingan tidak akan berhasil. Kelompok
kepentingan harus berusaha mencari saluran untuk menyampaikan tuntutannya dan
mengembangkan teknik-teknik penyampaian agar tuntutannya ditanggapi. Saluran itu
dapat berupa demonstrasi dan tindakan kekerasan; hubungan pribadi; perwakilan
langsung; dan saluran formal dan institusi lain seperti media massa dan partai politik.
(Mas’oed, 1978, hal.69).

2.2 Jenis-Jenis Kelompok

Almond membagi kelompok kepentingan menjadi empat jenis, Kelompok


Anomik, Kelompok Non-Assosiasional, Kelompok Institusional dan Kelompok
Assosiasional.

1. Kelompok Anomik, kelompok ini tidak mempunyai organisasi, tetapi


individu-individu yang terlibat merasa mempunyai perasaan frustrasi dan
ketidakpuasan yang sama. Sekalipun tidak terorganisir dengan rapi, dapat saja
kelompok-kelompok ini secara spontan mengadakan aksi massal jika tiba-tiba
timbul frustrasi dan kekecewaan mengenai sesuatu masalah. Kelompok ini
terbentuk dari unsur-unsur masyarakat secara spontan dan hanya seketika.
Karena tidak memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur, kelompok
ini sering tumpang tindih (over lap) dengan bentuk partisipasi non-
konvensional seperti demonstrasi, kerusuhan, tindak kekerasan politik, dan
sebagainya. Sehingga apa yang dianggap sebagai perilaku anomik mungkin
saja tidak lebih dari tindakan yang terorganisir. Ledakan emosi ini sering

5
6

tanpa rencana yang matang, dapat saja tiba-tiba muncul, tetapi juga dapat
cepat mereda. Akan tetapi, jika keresahan tidak segera diatasi, maka
masyarakat dapat memasuki keadaan anomi yang akan mengalami situasi
kekacauan dan melakukan pelanggaran hukum yang diakibatkan runtuhnya
perangkat nilai dan norma yang sudah menjadi tradisi, tanpa diganti nilai-nilai
baru yang dapat diterima secara umum. Hal ini tercermin dalam kejadian
seperti pemberontakan di Berlin Timur dan Hungaria (tahun 1950-an) dan
Polandia (tahun 1980-an), demonstrasi di Tiananmen Square (1989), dan
demonstrasi-demonstrasi mengutuk kartun Nabi Muhammad SAW di
Denmark (2006) dan di beberapa negara di dunia.

2. Kelompok Non-Assosiasional, kelompok kepentingan ini tumbuh berdasarkan


rasa solidaritas pada sanak saudara, kerabat, agama, wilayah, kelompok etnis,
dan pekerjaan. Kelompok-kelompok ini biasanya tidak aktif secara politik dan
tidak mempunyai organisasi ketat, walaupun lebih mempunyai ikatan daripada
kelompok anomi. Anggota-anggotanya merasa mempunyai hubungan batin
karena mempunyai hubungan ekonomi, massa konsumen, kelompok etnis,
dan kedaerahan..Kelompok Non-Assosiasional ini mirip seperti kelompok
anomik yang jarang terorganisir rapi dan kegiatannya bersifat sementara.
Kelompok NonAssosiasional bisa berwujud kelompok-kelompok keluarga,
etnik, regional, status dan kelas yang kadang kala menyatakan kepentingannya
lewat klik-klik, kepala keluarga, pemimpin agama dan semacamnya. Secara
teoritis kegiatan Kelompok Non-Asosiasional merupakan ciri masyarakat
yang belum maju, dimana kesetiaan kesukuan atau keluarga-keluarga
bangsawan mendominasi kehidupan politik. Tapi dalam masyarakat industri
maju, Kelompok Non-Asosiasional juga terkadang masih memiliki pengaruh.
Pertemuan-pertemuan sosial, pesta tidak resmi dan semacamnya sering
menciptakan situasi yang memungkinkan adanya pembicaraan tawar-
menawar (bergainning) antara pembuat keputusan dan kelompok kepentingan.

6
7

Contoh di Indonesia: Paguyuban Pasundan, kelompok penggemar kopi, dan


lain-lain.

3. Kelompok Institusional merupakan Kelompok-kelompok formal yang berada


dalam atau bekerja sama secara erat dengan pemerintahan seperti birokrasi
dan kelompok militer. Kelompok Institusional ini bersifat formal dan
memiliki fungsi-fungsi politik atau sosial lain disamping artikulasi
kepentingan. Organisasi-organisasi seperti partai politik, korporasi bisnis,
badan legislatif, militer, birokrasi dan ormas-ormas keagamaan sering kali
mendukung kelompok ini atau memiliki anggota-anggota yang khusus
bertanggung jawab untuk melakukan lobi. Kelompok ini bisa menyatakan
kepentingan sendiri maupun mewakili kepentingan dari kelompok-kelompok
lain dalam masyarakat. Contoh di Amerika: military industrial complex di
mana Pentagon bekerja sama dengan industri pertahanan. Contoh di
Indonesia: Darma Wanita, KORPRI, Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PKBI)

4. Kelompok Assosiasional, kelompok ini terdiri atas serikat buruh, kamar


dagang, asosiasi etnis dan agama. Organisasi-organisasi ini dibentuk dengan
suatu tujuan yang eksplisit, mempunyai organisasi yang baik dengan staf yang
bekerja penuh waktu. Hal ini telah menjadikan mereka lebih efektif daripada
kelompok-kelompok lain dalam memperjuangkan tujuannya. Kelompok
Assosiasional menyatakan kepentingan dari suatu kelompok khusus, memakai
tenaga staf profesional yang bekerja penuh, dan memiliki prosedur teratur
untuk merumuskan kepentingan dan tuntutan. Studi-studi membuktikan
bahwa kelompok kepentingan assosiasional (bila diizinkan berkembang)
cenderung untuk menentukan perkembangan dari jenis-jenis kelompok
kepentingan lainnya. Basis organisasionalnya menempatkannya diatas
kelompok non-assosiasional. Taktik dan tujuannya sering diakui sah dalam
masyarakat luas. Kelompok Assosiasional juga dengan efektif bisa membatasi

7
8

pengaruh kelompok anomik, non-assosiasional dan institusional. Contoh di


Indonesia: Federasi Persatuan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Himpunan
Kerukunan Petani Indonesia (HKTI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan
Kamar Dagang Indonesia (KADIN).

2.2.1 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia

. Secara umum, menurut Setyono (2003), LSM merupakan lembaga/ organisasi


non partisan yang berbasis pada gerakan moral (moral force) yang memiliki peran
penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan politik. Berbeda dengan
organisasi politik yang berorientasi kekuasaan dan swasta yang berorientasi
komersial, secara konsepsional, LSM yang berkarakteristik: nonpartisan; tidak
mencari keuntungan ekonomi; bersifat sukarela; dan bersendi pada gerakan moral;
dan dapat bergerak secara luwes tanpa dibatasi oleh ikatan-ikatan motif politik dan
ekonomi. Karakteristik inilah yang membuat LSM dapat menyuarakan aspirasi dan
melayani kepentingan masyarakat yang luput dari perhatian sektor politik dan swasta.

Kemunculan LSM merupakan reaksi atas melemahnya peran kontrol lembaga-


lembaga negara, termasuk partai politik, dalam menjalankan fungsi pengawasan
ditengah dominasi pemerintah terhadap masyarakat, sehingga pada awal sejarah
perkembangan lahirnya LSM, terutama yang bergerak dibidang sosial politik, tujuan
utama pembentukan LSM adalah bagaimana mengontrol kekuasaan negara.

Pada awal mulanya LSM di Indonesia lahir pada awal abad ke-20 karena
cerminan dari kebangkitan kesadaran golongan masyarakat menengah terhadap
kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Sejak Indonesia merdeka, kehadiran LSM
pertama kali terjadi pada tahun 1957 dengan berdirinya PKBI (Persatuan Keluarga
Berencana Indonesia).

8
9

Menjelang 1960-an, lahir juga LSM-LSM baru. Pada masa ini muncul
kesadaran bahwa kemiskinan dan masalah yang berkaitan dengan itu tak dapat hanya
diatasi dengan menyediakan obat-obatan, bahan pangan, dan sejenisnya. Sebaliknya,
perbaikan taraf hidup masyarakat miskin harus dilakukan dengan meningkatkan
kemampuan mereka dalam mengatasi masalah. Maka mulailah bermunculan LSM
baru tetapi sekaligus juga perwujudan dari kritik terhadap strategi pembangunan yang
dianut pemerintah yang dikenal sebagai trickle down efect.

Pada saat itu, para aktivis LSM juga mulai berpandangan bahwa di dalam
sistem politik, sosial, dan ekonomi yang sudah mapan saat itu upaya membangun
masyarakat dengan skala kecil-kecil sebagaimana yang dilakukan LSM periode
sebelumnya tidaklah banyak berarti. Dari perkembangan kesadaran tersebut
selanjutnya muncul LSM jenis baru lagi yang lebih berorientasi pada dan bertujuan
untuk membuat perubahan struktural.

Diterbitkannya UU No. 8 Tahun 1985 pada pertengahan 1980-an


memperlihatkan kehendak dari rezim Orde Baru untuk memperkuat kontrolnya
terhadap organisasi kemasyarakatan, termasuk LSM,. Sebagai akibatnya banyak
ormas atau asosiasi bekerja di bawah kontrol negara. Dharma Wanita (organisasi para
istri pegawai negeri) atau Yayasan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga)
merupakan contoh ormas yang berkerja di bawah kontrol pemerintah. Akibat
pengaturan itu LSM dan organisasi-organisasi civil society yang lain tidak mendapat
tempat yang leluasa.

Dengan mendasarkan pada analisa Hope dan Timel (1999) yang kemudian
dilengkapi dengan pemikiran Eldridge dan Kothari serta analisis ideologi-ideologi
utama dunia oleh Baradat, Roem Topatimasang seorang Aktivis LSM senior di
Indonesia mengemukakan bahwa dilihat dari sudut orientasi, LSM di Indonesia dapat
dibagi dalam 5 kelompok paradigma, yaitu paradigma kesejahteraan, paradigma

9
10

modernisasi, paradigma reformasi, paradigma pembebasan, dan paradigma


transformasi.

LSM penganut paradigma pertama yaitu kesejahteraan melihat bahwa sebab-


sebab kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat adalah kekuatan yang berada di
luar kendali manusia, seperti nasib/takdir dan bencana alam. Dengan dasar pemikiran
ini, tujuan LSM penganut paradigma kesejahteraan adalah menolong mengurangi
penderitaan mereka melalui kegiatan berbentuk derma, sedekah, atau santunan. LSM
kelompok ini cenderung toleran, bahkan mempertahankan status quo dan selalu
berusaha membantu pemerintah, menghindari konlik dan pandangan politik
konservatif

Kelompok kedua, yaitu LSM penganut paradigma modernisasi. LSM ini


memandang bahwa keterbelakangan, termasuk kemiskinan, disebabkan oleh
rendahnya pendidikan, penghasilan, keterampilan, dan juga kesehatan, khususnya
gizi. Karena itu segala kegiatannya ditujukan untuk memperbanyak prasarana
(dengan membangun sekolah atau klinik-klinik kesehatan), atau meningkatkan
pendapatan (dengan menyediakan modal).

Kelompok ketiga adalah yang berparadigma reformasi. LSM kelompok ini


berkeyakinan bahwa sumber dari masalah-masalah sosial adalah lemahnya
pendidikan, korupsi, mismanajemen, dan inefisiensi. Karena itu mereka memilih
aktivitas-aktivitas berupa memperbanyak tenaga profesional, perbaikan peraturan dan
perundang-undangan, pemberlakuan sanksi yang berat terhadap pelanggar hukum.
Semua itu dimaksudkan untuk memperkuat pengawasan, memperbaiki manajemen
pelayanan umum, dan meningkatkan disiplin hukum.

Jenis LSM keempat adalah kelompok LSM berparadigma liberasi atau


pembebasan. LSM kategori ini berpandangan bahwa penyebab segala
keterbelakangan, termasuk kemiskinan, adalah penindasan, pengisapan atau

10
11

eksploitasi, dan pembodohan rakyat. Karena itu mereka menentang semua bentuk
”penindasan”.

Kelima adalah LSM pemeluk paradigma transformasi. LSM kelompok ini


menganggap bahwa sumber keterbelakangan dan kemiskinan adalah ketidakadilan
tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu mereka sangat berkeinginan
menciptakan tatanan baru yang lebih adil. Kegiatan-kegiatannya biasanya dilakukan
melalui penyadaran politik, pengorganisasian rakyat, mobilisasi aksi, dan
membangun jaringan advokasi. Struktur organisasi dan gaya kerjanya biasanya mirip
dengan LSM penganut paradigma liberasi, yaitu populis, militan, kerja tim, dan
berdisiplin tinggi.

11
12

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kelompok kepentingan adalah suatu organisai yang bertujuan dan berusaha


mempengaruhi kebijakan pemerintah, tanpa menghendaki untuk memperoleh jabatan
politik. Tujuan kelompok ini ialah memengaruhi kebijakan pemerintah agar lebih
menguntungkan mereka.
Almond membagi kelompok kepentingan menjadi empat jenis, Kelompok
Anomik, Kelompok Non-Assosiasional, Kelompok Institusional dan Kelompok
Assosiasional.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan lembaga/ organisasi non
partisan yang berbasis pada gerakan moral (moral force) yang memiliki peran penting
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan politik.
LSM di Indonesia dapat dibagi dalam 5 kelompok paradigma, yaitu paradigma
kesejahteraan, paradigma modernisasi, paradigma reformasi, paradigma pembebasan,
dan paradigma transformasi.

12
13

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Budiardjo,Miriam. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka


Utama.
Mas’oed, Mochtar. (1978) Perbandingan Sistem Politik
Rush & Althoff. (2011). Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rajawali.

Jurnal:
Maiwan, Mohammad. (2016). Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi. Kelompok
Kepentingan (Interest Group), Kekuasaan dan Kedudukannya Dalam Sistem
Politik. Universitas Negeri Jakarta.
Daeli, Sorni Paskah. (2012). Jurnal Bina Praja. Eksistensi Lembaga Swadaya
Masyarakat di Kalimantan Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Dalam Negeri.

13