Anda di halaman 1dari 16

KESETIMBANGAN HARDY-WEINBERG DAN SELEKSI ALAM

(Laporan Praktikum Genetika)

Oleh

Jensa Yuswantoro
1917021036

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Percobaan : Kesetimbangan Hardy-Weinberg Dan Seleksi Alam

Tanggal Percobaan : 20 April 2021

Tempat Percobaan : Laboratorium Botani I

Nama : Jensa Yuswantoro

NPM : 1917021036

Program Studi : Biologi

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kelompok : I (Satu)

Bandar Lampung, 22 April 2021


Mengetahui
Asisten

Dewi Sartika, S.Si


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur
perubahan genetik.yang mengganggu kesetimbangan dikenal dengan sebutan
kesetimbangan genetik. Pengaruh-pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak
acak, mutasi, seleksi, ukuran populasi terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen.
Kesetimbangan genetik adalah suatu keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai
garis dasar untuk mengukur perubahan genetik.

G.H. Hardy, ahli matematika dari Inggris, dan W.Weinberg, dokter dari Jerman,
merumuskan suatu prinsip yang selanjutnya dikenal sebagai hukum
keseimbangan Hardy-Weinberg, yang menyatakan bahwa : Populasi mendelian
yang berukuran besar sangat memungkinkan terjadinya kawin acak (panmiksia) di
antara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap individu memiliki peluang
yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik dengan genotipe yang sama
maupun berbeda dengannya. Dengan adanya sistem kawin acak ini, frekuensi alel
akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi.

Seleksi alam hanya terjadi pada fenotif. Gen-gen yang tidak disukai harus
terekspresikan agar bisa terjadi seleksi. Jadi, jika A dominan terhadap a dan aa
menghasilkan fenotip yang tidak disukai, maka akan terjadi seleksi yang
menghapuskan sebagian besar individu aa dibandingkan dengan individu AA atau
Aa. Mensimulasikan seandainya seleksi yang terjadi menghapuskan setengah
kancing merah dari persentase individu aa berdasarkan data kelas. Contohnya: jika
diperoleh
17% dari populasi adalah individu aa, maka anda harus mengambil 17 kancing
merah dari kantong untuk dipisahkan, sehingga tingal tersisa 83 kancing dari
jumlah keseluruhannya. Individu-individu dapat memberikan kontribusi genetik
yang berbeda karena mereka mempunyai daya hidup dan tingkat kesuburan yang
berbeda.
Pada praktikum kali ini, kami akan membahas tentang hukum kesetimbangan
Hardy-Weinberg, prinsip-prinsip kerja kestimbangan Hardy-Weinberg serta
membahas tentang konsep-konsep dan pengertian tentang seleksi alam.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Mempelajari dan mengetahui hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg.
2. Menguji prinsip-pinsip kesetimbangan (Equilibrium) genetik dan seleksi
alam sebagai suatu proses yang berhubungan dengan evolusi populasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Mempelajari ilmu genetika banyak melibatkan hukum-hukum yang dikemukakan


oleh para ilmuwan salah satunya hukum keseimbangan yang dikemukakan oleh
Hardy-Weinberg. Hukum ini terjadi apabila perkawinan itu terjadi secara rambang
dan bila beberapa asumsi terpenuhi maka frekuensi alel dalam populasi akan tetap
dalam keseimbangan yang stabil, yaitu tidak berubah dari suatu generasi ke
generasi berikutnya. Apabila dalam perkawinan terjadi pindah silang secara
rambang dan bila beberapa asumsi terpenuhi maka alel akan tetap dalam
kesetimbangan yang stabil, yaitu tidak berubah dari satu generasi kegnerasi
berikutnya. Tipe gamet yang berbeda (gamet dengan alel berbeda) akan tetap
terbentuk sebanding dengan frkuensi masing-masing alelnya dan frekuensi tiap
zigot akan sama dengan hasil kali dari frekuensi gamet-gametnya (Robert, 2009).

Godfrey Harold Hardy dan Wilhelm Weinberg tahun 1908 secara terpisah
menemukan dasar-dasar frekuensi alel dan genetik dalam suatu populasi. Prinsip
yang berupa teoritis tersebut dikenal sebagai hukum (prinsip kesetimbangan)
Hardy-Weinberg. Pernyataan itu menegaskan bahwa frekuensi alel dan genotip
suatu populasi (gene pool) selalu konstan dari generasi ke generasi dengan kondisi
tertentu. Hukum ini digunakan sebagai parameter untuk mengetahui apakah dalam
suatu populasi sedang berlangsung evolusi atau tidak (Brookes, 2014).

Hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg mengatakan, frekuensi alel pada suatu


generasi akan tetap sama pada generasi setelahnya pada keadaan populasi yang
seimbang (Passarge, 2007). Keadaan populasi yang seimbang pada prinsip
keseimbangan genetik populasi Hardy-Weinberg adalah populasi harus berukuran
besar, perkawinan terjadi secara acak, tidak terjadi mutasi, migrasi, dan genetic
drift, dan tidak terjadi seleksi alam (Duscheck, 2003).

Prinsip keseimbangan genetik populasi dirumuskan :

(p + q)2 = p2 + 2pq + q2.

Rumus perhitungan Hardy-Weinberg dapat dimisalkan terdapat dua alel A dan a


dengan frekuensi p dan q, dengan demikian frekuensi tiga genotip, dua homozigot
dan satu heterozigot dapat dihitung. Kromosom dengan lokus yang memiliki tiga
alel menggunakan rumus

(p + q + r)2 = p2 + q2 + r2 + 2pq + 2pr + 2qr (Ahluwalia,2009).

Hukum Hardy-Weinberg ini berfungsi sebagai parameter evolusi dalam suatu


populasi. Bila frekuensi gen dalam suatu populasi selalu konstan dari generasi ke
generasi, maka populasi tersebut tidak mengalami evolusi. Bila salahsatu saja
syarat tidak dipenuhi maka frekuensi gen berubah, artinya populasi tersebut telah
dan sedang mengalami evolusi (Panggabean, 2016).

Frekuensi gen pada suatu populasi dapat berubah apabila terdapat evolutionary
forces, yaitu faktor-faktor yang berperan dalam mengubah frekuensi alel dan
genotip, antara lain mutasi, migrasi, perkawinan tidak acak, genetic drift dan
seleksi alam. Migrasi dan genetic drift diduga menjadi faktor yang mengubah
frekuensi alel dan genotip pada populasi (Khoiriyah, 2014).

Hukum Hardy Weinberg menyebutkan apabila tidak ada faktor faktor yang dapat
mengubah frekuensi gen pada suatu populasi, dan populasi tersebut mengadakan
perkawinan secara acak dari generasi ke generasi berikutnya maka frekuensi gen
tersebut tidak akan mengalami perubahan. Faktor faktor yang dapat mengubah
frekuensi gen dalam suatu populasi adalah adanya seleksi, mutasi, migrasi, dan
random driff. Apabila X2 hitung > 1 maka terdapat penyimpangan atau tidak
menunjukkan keseimbangan berdasarkan Hukum hardy Weinberg. Apabila X2
hitung < 1 maka tidak menunjukkan penyimpangan atau menunjukkan
keseimbangan berdasarkan Hukum Hardy weinberg. Nilai heterozigositas berkisar
antara 0 sampai dengan 1. Apabila heterozigositas mendekati 0 maka nilai
heterozigositas rendah, dan apabilanilai heterozigositas mendekati 1 maka nilai
heterozigositas tinggi (Mulliadi & Arifin, 2010).

Perubahan pada frekuensi alel dalam sebuah populasi organisme yang saling
berkembangbiak menyebabkan terjadinya evolusi. Untuk memahami mekanisme
yang menyebabkan sebuah populasi berevolusi, adalah sangat berguna untuk
memperhatikan kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan oleh suatu populasi
untuk tidak berevolusi. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel
(variasi pada sebuah gen) pada sebuah populasi yang cukup besar akan tetap
konstan jika gaya dorong yang terdapat pada populasi tersebut hanyalah penataan
ulang alel secara acak selama pembentukan sperma atau sel telur dan kombinasi
acak alel sel kelamin ini selama pembuahan. Populasi seperti ini dikatakan
sebagai dalam kesetimbangan Hardy-Weinberg dan tidak berevolusi. Suatu
populasi dikatakan memenuhi Hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, apabila
terjadinya kawin acak diantara individu-individu anggotanya. Artinya, tiap
individu memiliki peluang yang sama untuk bertemu dengan individu lain, baik
dengan genotip yang sama maupun berbeda dengannya. Melalui sistem kawin
acak ini, frekuensi alel akan senantiasa konstan dari generasi ke generasi di
samping kawin acak, ada persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi berlakunya
hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, yaitu tidak terjadi migrasi, mutasi, dan
seleksi. Penting untuk dimengerti bahwa di luar laboratorium, satu atau lebih
pengaruh ini akan selalu ada. Oleh karena itu, kesetimbangan Hardy-Weinberg
sangatlah tidak mungkin terjadi di alam. Kesetimbangan genetik adalah suatu
keadaan ideal yang dapat dijadikan sebagai garis dasar untuk mengukur
perubahan genetik (Cintamulya, 2013).

Gene flow (aliran gen) adalah pertukaran genetic akibat migrasi individu yang
subur atau perpindahan gamet antar populasi. Sebagai contoh suatu populasi yang
dekat dengan populasi bunga liar rekaan kita sepenuhnya terdiri dari individu
tumbungan berbunga putih (aa). Angin badai mungkin meniup serbuk sari dari
populasi aa ke populasi bunga liar kita. Dan frekuensi alel dapat berubah pada
generasi berikutnya (Sulistyowati, 2016).
III. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan pada praktikum ini yaitu kancing plastic dua warna dan
mangkuk/ cangkir plastik.

3.2 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
A. Kesetimbangan Hardy – Weinberg
1) Tutuplah mangkuk dengan tangan dan kocok untuk mencampur
kancing-kancing dengan acak.
2) Ambil satu pasang (2 kancing) tanpa melihatnya. Pasangan kancing ini
merupakan gambaran kombinasi diploid suatu alel dari individu
generasi berikutnya.
3) Catat pasangan gen tersebut (genotip) pada table 1. Kembalikan
kancing-kancing tersebut ke dalam mangkuk untuk dikocok lagi.
Langkah ini diulangi untuk mendapatkan jumlah 100 genotip.
4) Dari hasil pencatatan genotip pada table 1, masukkan hasilnya pada
table 2.
5) Hitunglah frekwensi gen dan frekwensi genotip dengan mengikuti
persamaan persamaaan yang telah ditentukan.

B. Seleksi Alam
1) Letakkan semua kancing didalam mangkok seperti halnya pada latihan
I. Ambil kancing secara acak berpasangan dan catatlah hasilnya untuk
sejumlah 100 genotip pada table 2.
2) Laporkan hasilnya pada asisten untuk dicata pada data kelas. Jika
semua hasil kelas telah diperoleh, berarti itu adalah data untuk satu
generasi. Hitunglah informasi yang dibutuhkan pada table 2 dengan
menggunakan persamaan pada latihan I.
3) Seleksi alam hanya terjadi pada fenotip. Gen-gen yang tidak disukai
harus
terekspresikan agar bias terjadi seleksi. Jadi, jika A dominant terhadap
a dan aa menghasilkan fenotip yang tidak disukai, maka akan terjadi
seleksi yang menghapuskaan sebagian besar individu aa disbanding
dengan individu AA atau Aa. Simulasikan seandainya selekai yang
terjadi menghapuskan ½ kancing merah dari prosentase individu aa
bedasarkan data kelas. Contoh, jika diperoleh 17 % dari populasi
adalah individu aa, maka anda harus mengambil 17 kancing merah dari
mangkok untuk dipisahkan, jadi tinggal tersisa 83 kancing
keseluruhannya.
4) Ambil lagi pasangan-pasangan kancing seperti semula dan catat
hasilnya untuk tiap genotipnya sebagai generasi ke-2 pada tabel 2.
5) Laporkan hasilnya pada asisten dan hitunglah hasil pengukuran seluruh
kelas dengan melengkapi table 2 untuk generasi ke-2.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

NO Genotype Jumlah
1. AA 36
2. Aa 38
3. Aa 26
Total 100

Total AA
Frekwensi AA = Total AA + Total Aa + Total aa

= 36
36 + 38 + 26

= 0,36

Total Aa
Frekwensi Aa = Total AA + Total Aa + Total aa

= 38
36 + 38 + 26

= 0,38
Total aa
Frekwensi aa =
Total AA + Total Aa + Total aa

= 26

36 + 28 + 26

= 0,26

Perhitungan:
Diketahui: AA = 36
Aa = 38
aa = 26
p2 + 2pq + q2 = 1
Ditanya: Hasil dari p2 + 2pq + q 2 ?
Jawab: (p+q)2 = p2 + 2pq + q2
(p+q)2 = 0,36 + 0,38 + 0,26
(p+q)2 = 1

4.2 Pembahasan
Hukum Hardy-Weinberg memberikan informasi terkait dengan sebaran alel dalam
suatu populasi. Godfrey Harold Handy adalah seorang matematikawan asal
Inggris dan Wilhelm Weinberg adalah seorang dokter berkebangsaan Jerman.
Keduanya secara terpisah menemukan suatu hubungan matematik yang menjadi
dasar dalam hukum Hardy-Weinberg.

Hukum Hardy Weinberg merupakan sebuah formula yang mampu menjelaskan


mengenai mekanisme proses evolusi yang terjadi dalam sebuah populasi. Hukum
ini dapat menggambarkan mengenai perimbangan gen gen maupun genotipe yang
berbeda.Yang mana dalam sepanjang waktu gen atau genotipe itu akan tetap sama
apabila memenuhi beberapa syarat. Apabila dijelaskan secara spesifik, hukum
Hardy Weinberg menjelaskan mengenai bagaimana proses alel dan genotipe
tertentu akan muncul dalam setiap populasi. Melalui pemahaman mengenai
perubahan frekuensi alel dan genotipe, para ilmuwan dapat melakukan identifikasi
terhadap berbagai populasi yang secara genetika telah mengalami perubahan atau
evolusi. Sehingga, Para ilmuwan mampu untuk memperkirakan kemungkinan
kemungkinan munculnya kelainan genetika pada suatu populasi. Dalam hukum
Hardy Weinberg juga menyatakan bahwa perbandingan frekuensi gen atau
genotipe dalam sebuah populasi tidak akan berubah.

Prinsip keseimbangan Hardy-Weinberg menyatakan bahwa dalam suatu


perkawinan (persilangan acak) maka frekuensi alel akan tetap sama dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Keseimbangan akan terjadi jika beberapa syarat
terpenuhi, yaitu:
1. Populasi perkawinan besar, beregregrasi normal
2. Perkawinan terjadi secara acak
3. Terisolasi dari populasi lainnya (tidak terjadi percampuran dengan
populasi lainnya)
4. Tidak ada pengaruh mutasi, migrasi dan seleksi.
5. Tidak ada penghanyutan genetik (genetic drift).
6. Meiosis normal.

Seleksi alam adalah pemilihan yang dilakukan oleh alam untuk memilih makhluk
hidup yang dapat terus bertahan hidup dan makhluk hidup yang tidak dapat terus
bertahan hidup. Makhluk hidup yang terus dapat bertahan hidup akan tetap hidup
sedangkan makhluk hidup yang tidak dapat bertahan hidup akan mati. Selama
kehidupan di bumi ini terus berlangsung, peristiwa alam juga akan terus
berlangsung menyertai aktivitas kehidupan makhluk hidup. Peristiwa alam
tersebut dapat berlangsung setiap saat dan setiap waktu tanpa adanya kesiapan
dari makhluk hidup yang ada di alam ini. Peristiwa alam tersebut erat
hubungannya dengan kelangsungan hidup makhluk hidup seperti banjir, tanah
longsor, gunung meletus, gempa bumi, dan bencana alam lain.

Seleksi yang artinya pemilihan. Jadi seleksi alam merupakan pemilihan oleh
makhluk hidup oleh alam untuk memilih makhluk hidup yang dapat terus hidup
serta makhluk hidup yang tidak dapat terus hidup. Makhluk hidup didalam selalu
menghadapi faktor alam yang akan menyeleksinya. Beberapa makhluk hidup yang
mamu menyesuaikan diri dngan kondisi atau keadaan lingkungan yang ada, maka
akan dapat bertahan hidup. Dengan kata lain, makhluk-makhluk hidup yang dapat
bertahan hidup dengan lingkungannya akan dapat bertahan dengan alam dan lolos
dari seleksi alam dan dapat terus melestarikan jenisnya.

Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi seleksi alam:

1. Suhu Lingkungan
Suhu yang sesuai sangat penting bagi kehidupan suatu organisme untuk
bertahan hidup. Hewan yang berbulu tebal akan nyaman dengan suhu
dingin, sedangkan hewan yang berbulu tipis nyaman pada suhu panas dan
biasanya memiliki habitat di daerah tropis.

2. Keterbatasan Makanan
Makanan adalah kebutuhan pokok yang paling utama untuk makhluk
hidup. Jika tidak adanya asupan maka organisme akan mati kelaparan.
Berlomba-lomba adalah suatu cara bagi organisme untuk memperoleh
makanan. Organisme yang lemah akan tertinggal dan punah seiring
dengan berjalannya waktu.

3. Keterbatan Tempat Tinggal


Tempat tinggal atau habitat merupakan hal penting yang menyokong
kehidupan makhluk hidup. Lahan makhluk hidup saat ini menjadi sangat
terbatas akibat keserakahan manusia. Keterbatasan tempat tinggal atau
habitat ini akan menyebabkan beberapa spesies berkurang atau bahkan
bisa sampai punah.

4. Cahaya Matahari
Setiap makhluk hidup memerlukan adanya fotosintesis. Fotosintesis terjadi
pada tumbuhan yang berklorofil atau mempunyai zat hijau. Zat hijau ini
membantu tumbuhan untuk membuat makanannya sendiri dengan adanya
energi dari cahaya matahari. Fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan
dapat mengubah substrat karbondioksida (C02) dan air (H2O)
menjadi karbohidrat dan gas oksigen. Kurangnya cahaya matahari akan
menyebabkan tidak terjadinya fotosintesis yang akan menyebabkan
berkurangnya pasokan makanan dan oksigen bagi makhluk hidup lainnya.
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh pada praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:

1. Seleksi alam dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, cahaya matahari,


keterbatasan makanan, dan keterbatasan tempat tinggal.
2. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa perbandingan frekuensi gen
atau genotipe dalam sebuah populasi tidak akan berubah.
3. Keseimbangan pada hukum Hardy-WeinBerg akan terjadi apabila syarat-
syaratnya telah terpenuhi.
4. Manusia merupakan salah satu penyabab terjadinya seleksi alam.
5. Hukum keseimbangan Hardy-Weinberg berlaku apabila, yaitu tidak terjadi
migrasi, mutasi, dan seleksi.
6. Berdasarkan rumus Hardy-Weinberg Hasil dari p2 + 2pq + q 2
pada
pengamatan ini adalah 1.
DAFTAR PUSTAKA

Ahluwalia, K. B. 2009. Genetics. 2nd ed. New Age International Publisher: New
Dehli.

Brookes, M. 2014. Genetika. Bengkel Ilmu: Jakarta.

Cintamulya, I. 2013. Analisis Variasi Genetik Varian Jati Arboretum


dengan Penanda Mikrosatelit. Jurnal Pendidikan Sains. 1(2): 109-114.

Corebima, D. 2007. Genetika Pewarisan Mendel. Departemen Pendidikan


Nasional,: Jakarta.

Dusheck, J. 2003. Population Genetics. Dalam: Robinson, R (ed.). Genetics.The


Gale Group, Inc: Canada.

Panggabean, T.N. 2016. “Analisis Tingkat Optimasi Algoritma Genetika Dalam


Hukum Ketetapan Hardy-Weinberg Pada Bin Packing Problem”. Journal
Of Computer Engineering, System And Science. Vol 1(2): 14.

Robert, H. 2009. Principle of Genetics. Megraw-hill Higher Education: USA.

Sulistyowati, Y., Trikoesoemaningtyas., D. Sopandie., S. W. Ardie & S. Nugroho.


2016. Parameter Genetik dan Seleksi Sorgum [Sorghum bicolor (L.)
Moench] Populasi F4 Hasil Single Seed Descent (SSD). Jurnal Biologi,
12(2): 175-14.

Suryo. 2011. Genetika Strata 1. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.