Anda di halaman 1dari 109

MODUL PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH

DIGUNAKAN PADA SEMESTER IV PROGRAM STUDI

TEKNIK PERTAMBANGAN BATUBARA (TPB)

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

JALAN JAKABARING, PALEMBANG

2021

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya
Buku Petunjuk Praktikum Tambang Bawah Tanah yang merupakan salah satu praktikum
pada Program Studi Teknik Pertambangan Batubara, Politeknik Akamigas Palembang.

Buku Petunjuk Praktikum ini pada dasarnya bertujuan untuk mengarahkan dan
melatih praktikan seoptimal mungkin dalam mengenal Tambang Bawah Tanah. Hal ini
guna mendasari bekal keilmuan mahasiswa dalam mempelajari cabang-cabang disiplin
ilmu lainnya terutama yang berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan di Tambang Bawah
Tanah.

Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada
semua pihak yang telah memberikan sumbangsihnya sehingga Buku Petunjuk Praktikum
ini dapat diselesaikan. Segala kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya Buku Petunjuk Praktikum dimasa
yang akan datang.

Akhirnya kami berharap semoga Buku Petunjuk Praktikum ini dapat membantu dan
bermanfaat bagi praktikan pada khususnya dan mahasiswa Jurusan Teknik
Pertambangan Batubara Politeknik Akamigas Palembang.

Palembang, 20 Maret 2021

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Isi Halaman

1. Kata Pengantar 2
2. Tata Tertib di Laboratorium TBT 4
3. Kriteria Penilaian 5
4. Format Pembuatan Laporan Praktikum 6
5. Nomor Percobaan 1, Mengukur Kecepatan Udara 7
6. Nomor Percobaan 2, Mengukur Tekanan & Debit Udara 20
7. Nomor Percobaan 3. Mengukur Kelembaban Udara 27
8. Nomor Percobaan 4. Mengukur Kandungan Gas-Gas 33
9. Nomor Percobaan 5. Melakukan Pengguguran Batuan (Barring Down) 41
10. Nomor Percobaan 6. Melakukan Pemasangan Split Set (Friction Bolt) 50
11. Nomor Percobaan 7. Melakukan Pemasangan Stiff Split Set 56
12. Nomor Percobaan 8. Melakukan Grouting T-Bar Dengan Alat GP-2000 64
13. Nomor Percobaan 9. Melakukan Pemasangan Penyangga Kayu (Timber)
Penyangga Besi (Steel Set) 78
14. Nomor Percobaan 10. Melakukan Pemboran Dengan Mesin Bor Jumbo 91
15. Nomor Percobaan 11. Melakukan Pemboran Dengan Mesin Bor Jack leg 97

3
TATA TERTIB DI LABORATORIUM TAMBANG BAWAH TANAH

Mahasiswa yang mengikuti Praktikum Petrologi diwajibkan untuk mematuhi tata tertib
yang berlaku di laboratorium Tambang Bawah Tanah sebagai berikut :

1. Praktikan wajib hadir 10 menit sebelum praktikum dimulaiqq


2. Terlambat 10 menit (sesuai jam laboratorium) atau hadir dengan tidak membawa
laporan / tugas yang seharusnya dikumpulkan pada saat itu, boleh mengikuti
praktikum dengan catatan dianggap tidak hadir (absen)
3. Setiap praktikan wajib membawa laporan sementara dan laporan hasil praktikum
serta tugas yang telah diberikan pada praktikum sebelumnya
4. Praktikan harus berpakaian rapi dan sopan (berkerah dan bersepatu), selama
praktikum berlangsung dilarang memakai jaket.
5. Praktikan harus memahami dasar teori yang akan dipraktekkan
6. Sebelum praktikum dilaksanakan akan diadakan responsi awal terhadap materi
yang akan dipraktekkan, bagi mahasiswa yang mendapatkan nilai dibawah standar
akan diberikan sanksi yang ditentukan oleh kordinator laboratorium maupun
asisten laboratorium
7. Setiap praktikum, praktikan wajib menyerahkan daftar hadir. Apabila 3 (tiga) kali
tidak mengikuti acara praktikum (absen) tanda surat pemberitahuan, maka tidak
diperkenankan mengikuti ujian akhir dan mendapatkan nilai E.
8. Praktikan wajib membawa alat-alat tulis sendiri
9. Praktikan diwajibkan menjaga ketertiban dan kelancaran jalannya praktikum
10. Sebelum praktikan meninggalkan ruang laboratorium, praktikan wajib merapikan
dan membersihkan ruangan
11. Peraturan yang tidak tertulis yang telah disepakati harus ditaati dan dijalankan.

4
KRITERIA PENILAIAN

Penilaian akhir praktikum didasarkan atas kehadiran, hasil test berkala, tugas laporan,
dan responsi akhir, dengan bobot penilaian sebagai berikut :

1. Kehadiran =5%
2. Responsi =5%
3. Laporan Praktikum = 20 %
4. Ujian Praktek Mid Semester = 30 %
5. Responsi akhir = 40 %

5
FORMAT PEMBUATAN LAPORAN

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH

1. Nomor Percobaan
2. Nama Percobaan
3. Tujuan Praktikum
4. Alat dan Bahan
5. Prosedur Praktikum
6. Dasar Teori (minimal 8 lembar)
7. Lembar Determinasi
8. Pembahasan hasil praktikum
9. Kesimpulan
10. Daftar Pustaka

6
NOMOR PERCOBAAN 1

MENGUKUR KECEPATAN UDARA

1. Nomor Percobaan : 01
2. Nama Percobaan : Menghitung kecepatan udara & kuantitas udara di TBT
3. Tujuan Praktikum :
a. Praktikan dapat menghitung kecepatan aliran udara di Tambang Bawah Tanah

b. Praktikan dapat melakukan pengukuran terkait dengan ventilasi


tambang dan dapat melakukan simulasi jaringan ventilasi tambang
untuk membantu pemahaman teori-teori yang diberikan dalam
perkuliahan.
4. Alat dan Bahan : a. Vane (Whirling) Anemometer
b. Anemometer Digital
c. Meteran (Measuring Tape)
d. Tongkat
e. Perlengkapan K3

Gambar 1. Meteran Gambar 2. Tongkat

7
Gambar 3. Perlengkapan K3

Gambar 4. Vane (Whirling) Anemometer

Gambar 5. Anemometer Digital (kiri) & Humidity Meter (kanan)


8
5. Cara Pengukuran Luas Penampang Berbagai Bentuk Terowongan

Tabel 1. Luas Penampang Berbagai Bentuk Terowongan

6. Prosedur Pengukuran Luas Penampang Terowongan

a. Amankan tempat pengukuran dari batuan yang masih menggantung atau


batuan yang retak (crack), lakukan pengguguran batuan (barring down)

Gambar 6. Pekerja Tambang (Miner) Sedang Melakukan Pengguguran Batuan

9
b. Lantai lokasi yang akan dijadikan titik pengukuran diukur dengan menggunakan
meteran (measuring tape)

Gambar 7. Ilustrasi Miner Menyiapkan Meteran Untuk Mengukur Terowongan

c. Lokasi atau atap terowongan (roof / back) yang tidak terjangkau, dibantu
dengan menggunakan tongkat (stick) yang diketahui panjangnya.

Gambar 8. Miner Sedang Melakukan Pengukuran Tinggi Atap Terowongan Dengan


Menggunakan Bantuan Tongkat Kayu (Wooden Stick)

10
7. Pengukuran Kecepatan Aliran Udara

a. Kategori (Batasan) Kecepatan Aliran Udara didalam Tambang Bawah Tanah

Tabel 2. Kategori Kecepatan Aliran Udara

b. Peralatan Pengukuran Kecepatan Aliran Udara di TBT

Tabel 3. Berbagai Jenis Alat Ukur Kecepatan Aliran Udara

11
Gambar 9. Berbagai Jenis Alat Ukur Kecepatan Aliran Udara di TBT

8. Cara Pengukuran Udara Kecepatan Sedang Dengan Vane Anemometer

Kecepatan aliran udara adalah parameter ventilasi yang paling


sering diukur di dalam udara tambang. Peralatan ukur kecepatan aliran
udara bermacam-macam tergantung pada besar kecilnya kecepatan aliran
udaranya.
Pengukuran kecepatan aliran udara secara langsung menggunakan
alat anemometer jenis whirling. Selama pengukuran diperlukan stopwatch
agar kecepatan aliran udara yang melalui anemometer dapat dicatat.
Waktu adalah lamanya pembacaan dari perputaran yang dilakukan dari
permukaan sampai akhir periode yang telah ditentukan, Pembacaan
selama satu periode memungkinkan terjadinya kesalahan.
Pengukuran kecepatan aliran udara dilakukan pada tempat udara
masuk (intake end) yaitu pada bagian saluran udara yang posisinya

12
berada pada ( titik A1 dan A2 pada Gambar 3-1 ), dan dilakukaan pada
tempat udara keluar (discharge end) dengan alat ditempatkan pada pusat
saluran udara dan tegak lurus dari sumbu saluran (titik A3 pada Gambar
10)

Gambar 10. Jaringan Sistem Aliran Udara Dengan Titik-Titik Pengukuran


Pada Model Saluran Ventilasi Laboratorium

9. Prosedur Pengukuran Kecepatan Aliran Udara Pada Saluran Ventilasi

a. Pada saluran udara yang akan ditentukan kecepatan udaranya


(titik A1, A2, dan A3) dipasang alat penegak, supaya
pemasangan anemometer tegak lurus.
b. Pasang vane anemometer pada batang yang telah disediakan.
c. Pastikan bahwa jarum vane anemometer menunjuk angka nol
sebelum pengukuran dimulai.
d. Tempatkan vane anemometer pada posisi atas dari saluran
udara, tegak lurus pada sumbu saluran.
e. Biarkan vane anemometer bergerak kurang lebih 15 detik, untuk
mendapatkan kecepatan yang penuh, kemudian vane
anemometer dipastikan bergerak bersamaan dengan stopwatch.
f. Setelah 1 menit, hentikan vane anemometer dan stopwatch bersamaan.
g. Catat pembacaan vane anemometer, kecepatan aliran udara
(m/menit) pada saluran tersebut adalah hasil pembacaan vane
anemometer dibagi waktu pengukuran.
h. Kerjakan seperti butir 4 diatas sebanyak 3x pengukuran.
i. Dicari harga rata-rata pembacaan vane anemometer tiao titik

13
10. Dasar Teori

Vane Anemometer adalah suatu alat untuk mengukur kecepatan angin, salah satu
instrumen yang digunakan pada kantor stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari
bahasa Yunani, yaitu dari kata anemos, maksudnya memutar. Anemometer
pertama kali ditemukan oleh Leon Battista Alberti. Anemometer digunakan untuk
mengukur kecepatan angin. Dalam praktikum ini, digunakan vane anemometer
untuk mengukur kecepatan udara yang mengalir dalam jaringan ventilasi.

11. Pengukuran Kecepatan Udara Sedang Dengan Digital Anemometer

a. Diskripsi Alat

Gambar 11. Diskripsi Anemometer Digital / Humidity Meter

b. Prosedur Pengukuran :
1. Pasang “Vane Probe Plug” pada “Input Socket”
2. Geser “Function Switch” ke posisi “Fan”

14
3. Hidupkan dengan menekan tombol “Power OFF/ON
4. Pilih satuan suhu yang diinginkan dengan menggunakan tombol
konversi “oC/oF”

15
5. Pilih satuan pengukuran kecepatan udara (“m/s”, “km/h”, “f/min”
atau “knots”) menggunakan tombol “Anemometer unit”
6. Pegang “Vane Probe Handle” dengan tangan dan tempatkan
“Vane Probe Head” berlawanan terhadap sumber aliran udara,
maka tampilan akan menunjukkan kecepatan dan suhu secara
langsung

Fungsi lain :

1. Data Hold
Apabila pada waktu pengukuran tombol “Data Hold” ditekan,
maka nilai pengukuran akan ditahan dan LCD menampilkan
symbol “D.H”
2. Data Record (Maks, Min)
Data Record berfungsi untuk merekam atau menunjukkan mulainya
pengukuran dan menampilkan pembacaan maksimum dan
minimum.
Untuk memulai fungsi Data Record, tekan sekali tombol “Memory
Record”. Simbol “REC” akan muncul di layar LCD
Pada kondisi symbol “REC” tampil :
a. Tekan sekali tombol “Memory Recall”, symbol “Max” dan nilai
maksimum muncul pada tampilan layar

12. Penggunaan Anemometer Digital Yang Digunakan di Diklat TBT


Ombilin :
a. Tekan tombol 2 untuk menyalakan
b. Tekan tombol 2 selama 3 detik untuk mematikan
c. Tekan tombol 3 untuk memulai pengukuran
d. Untuk mereset, tekan kembali tombol 3

Catatan : Nilai yang didapatkan setelah pengukuran selama 1 menit merupakan


nilai kecepatan terukur selama 1 menit

16
Gambar 12. Anemometer Digital Yang Digunakan di Diklat TBT Ombilin

13. Metode-Metode Pengukuran Kecepatan Aliran Udara Didalam


Terowongan

(a). Continous Traversing (b). Fixed Point Traversing (c). Fixed


Point Traversing

Gambar 13 (a, b, c). Metode-Metode Pengukuran Kecepatan Aliran Udara

17
Gambar 14. Metode Pengukuran Kecepatan Ailran Udara “Continous Traversing”

Metode Pengukuran Continous Traversing :


a. Membuat lintasan garis khayal melintasi penampang terowongan
b. Melewatkan anemometer sepanjang lintasan garis khayal dalam waktu 1 menit
c. Usahakan kecepatan alat melintasi penampang terowongan teratur dan stabil.

Gambar 15. Metode Pengukuran Kecepatan Aliran Udara “Fixed Point in Rectangular”

Metode Pengukuran Fixed Point in Rectangular :

a. Penampang terowongan dibagi menjadi sembilan area.


18
b. Masing-masing titik tengah area diukur kecepatan alirannya.
c. Dapt dilakukan menggunakan anemometer atau smoke tube

14. Pengukuran Kecepatan Aliran Rendah Dengan Menggunakan Smoke Tube

Gambar 16. Ilustrasi cara mengukur kecepatan aliran udara rendah dengan
menggunakan “Smoke Tube”

a. Mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan asap melakukan perjalanan melalui
jarak yang sudah ditentukan.
b. Sangat baik melihat asap dibawah cahaya (diberi penerangan dengan lampu
tambang)
c. Untuk mengetahui berapa kecepatan aliran udara yaitu dengan membagi berapa
jarak yang ditempuh asap dengan waktu yang dibutuhkan sebagai berikut :

Jarak yang akan ditempuh asap sepanjang 3 meter


Waktu yang dibutuhkan asap bergerak sepanjang 3 meter adalah 6 detik
Kecepatan aliran udara = 3 meter / 6 detik = 0,5 meter / detik.

19
NOMOR PERCOBAAN 02
MENGUKUR TEKANAN & DEBIT UDARA

1. Nomor Percobaan : 02
2. Nama Percobaan : Mengukur tekanan udara dengan Menggunakan Pitot
Tube dan Manometer U
3. Tujuan Praktikum :
c. Praktikan dapat mengetahui tekanan udara pada kecepatan udara yang tinggi

4. Alat dan Bahan : a. Pitot Tube


b. Manometer U

4. Dasar Teori

a. Pitot Tube

Pitot tube digunakan untuk mengukur tekanan udara pada aliran


udara berkecepatan tinggi dan sering digunakan untuk mengukur tekanan
udara di kipas ventilasi tambang (main fan, booster fan). Pitot tube terdiri
dari dua pipa konsentris yang berbentuk L. Pipa bagian dalam mempunyai
ujung muka yang terbuka tempat aliran udara masuk, Sedangkan pipa
bagian luar tertutup ujungnya yang disekeliling ujungnya terdapat lubang-
lubang kecil tempat aliran udara masuk. Head aliran udara yang melalui
pitot tube diukur oleh manometer yang dihubungkan dengan selang-
selang empera. Head yang diukur adalah total head, static head, dan
velocity head.

Tekanan Total (Pt) = Tekanan Velocity (Pv) + Tekanan Statis (Ps)

20
Gambar 1. Pitot Tube

Gambar 2. Pitot Tube

b. Manometer U

Bentuk manometer U sederhana adalah tabung vertikal U yang diisi dengan air,
kedua kaki dari tabung U dihubungkan dengan titik yang akan diukur perbedaan
tekanannya oleh sebuah tabung plastik, setelah dihubungkan maka cairan akan
mengalir ke tempat yang lebih rendah. Fungsi manometer ialah untuk mengatur
tekanan yang tidak terlalu besar. Selain itu manometer juga dapat mengukur
perbedaan tekanan, tergantung pada berat jenis fluida yang digunakan

21
Gambar 3. Manometer Pipa U

5. Cara / Prinsip Kerja Manometer U :

Prinsip kerja Manometer adalah sebagai berikut:

Gambar a. Merupakan gambaran sederhana manometer tabung U yang


diisi cairan setengahnya, dengan kedua ujung tabung terbuka
berisi cairan sama tinggi.
Gambar b Bila tekanan positif diterapkan pada salah satu sisi kaki
tabung, cairan ditekan kebawah pada kaki tabung tersebut
dan naik pada sisi tabung yang lainnya. Perbedaan pada
ketinggian, “h”, merupakan penjumlahan hasil pembacaan
diatas dan dibawah angka nol yang menunjukkan adanya
tekanan.
Gambar c Bila keadaan vakum diterapkan pada satu sisi kaki tabung,
cairan akan meningkat pada sisi tersebut dan cairan akan
turun pada sisi lainnya. Perbedaan ketinggian “h” merupakan
hasil penjumlahan pembacaan diatas dan dibawah nol yang
menunjukkan jumlah tekanan vakum.

6. Prinsip Pengukuran Udara Kecepatan Tinggi Dengan Menggunakan Pitot


Tube Dan Manometer U

Pengukuran tekanan udara pada aliran udara berkecepatan tinggi sering dilakukan
dengan alat pitot tube dan dilakukan pada kipas utama tambang (main mine fan)
terbang. Sebenarnya yang diperoleh dari pengukuran ini adalah total head, static
head dan velocity head.

22
Gambar 4. Cara-cara pengukuran perbedaan head dengan menghubungkan pitot
tube dan manometer U

Apabila cairan di dalam manometer U tersebut bukan air tetapi


cairan lainnya, maka pembacaan harus dikoreksi dengan berat jenis
cairan tersebut. Koreksi untuk berat jenis dan kemiringan dari manometer
U adalah sebagai berikut:

H = ( h x SG ) x Sin α
Dimana :
H = Head sebenarnya dalam mm air
h = Pembacaan head karena kemiringan ukuran

SG = Spesific gravity dari cairan yang dipakai

α = Kemiringan manometer U yang dipakai, dinyatakan dengan sudut


kemiringan.

Apabila ternyata tekanan yang diamati berubah-ubah, dalam


manometer tersebut, maka dicatat harga maksimum yang dicapainya.
Dalam pengukuran ini faktor seperti temperatur, kelembaban, dan tekanan
barometer harus dicatat. Untuk mengukur banyaknya udara lewat (debit
udara) pada suatu pengukur per menit maka dihitung dengan rumus :

Q=VxA
Dimana :
Q = jumlah atau debit udara dalam (m3/menit)

V = Kecepatan aliran udara (m/menit)


A = Luas penampang (m2)
23
Pemilihan titik pengukuran berdasarkan kelainan-kelainan seperti
belokan, penyempitan, perluasan dan sebagainya yang mempengaruhi
jalannya udara tersebut. Pengukuran dari tiap belokan dilakukan pada
posisi kurang lebih 3x diameter sebelum dan sesudah terjadinya kelainan
tersebut.
Efisiensi dapat diukur dengan membandingkan antara fan power dan air
power.

24
25
Gambar 5. Diagram Moody

7. Cara Pengukuran Tekanan Udara dengan Pitot Tube dan Manometer U

a. Siapkan pitot tube dan manometer U yang akan


digunakan untuk pengukuran tekanan udara pada saluran
ventilasi.
b. Mengukur ( Head total, Head static, dan Head velocity) dengan
cara memasukkan pitot tube kedalam lubang saluran ventilasi
tambang dan pasangkan pipa manometer U pada ujung pitot tube
dengan posisi ( Lihat gambar 4)
c. Lakukan pengukuran seperti cara no. 2 dengan variasi kecepatan Fan
yang berbeda-beda.

8. Data Pengukuran
A. Data Literatur
1. Kekasaran absolut beberapa permukaan pipa ( Tabel 1)
2. Viskositas dan rapat massa udara kering pada tekanan atmosfer standar.

26
3. Bagan Moody untuk menentukan gesekan
4. Sifat sifat zat cair

B. Asumsi Data Laboratorium


1. Kebocoran (leakage) pada jaringan diabaikan
2. Udara bersifat compressible fluid
3. Aliran udara bersifat tunak ( steady state )
4. NVP ( Natural Ventilation Pressure ) diabaikan
5. Head dan Fan konstan

Tabel 1
(Kekasaran Absolute dari beberapa permukaan)

Bahan Kekasaran (ε)


meter
Baja yang 0.0009-0.009
dikelilingi
Beton 0.0003-0.003
Besi tulang 0.00026
Logam lembaran 0.00015
Baja komersial 0.000046

Tabel 2
Absolute and Kinematic Viscosity of Air at Standard Atmospheric Pressure
– SI Units:

Temperature – t – Dynamic Viscosity – Kinematic Viscosity –


(K) μ – (kg/m s) x ν – (m2/s) x 10-
10-5 6
300 1.983 15.68

350 2.075 20.76

 1 N s/m2 = 1 Pa s = 10 poise = 1,000 mm Pa s


 1 m2/s = 1 x 104 cm2/s =1 x 104 stokes = 1 x 106 centistokes
 Kinematic viscosity converter

27
 Absolute or Dynamic Viscosity Conv

28
NOMOR PERCOBAAN 3
MENGUKUR KELEMBABAN UDARA

1. Nomor Percobaan : 03
2. Nama Percobaan : Mengukur kelembaban udara di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat mengetahui cara mengukur kelembaban udara dengan
menggunakan alat sling psychrometer di TBT
4. Alat dan bahan : Sling Psychrometer

Gambar 1. Sling Psychrometer

Alat ini digunakan untuk mengukur kelembaban udara dalam


ruang terbuka (lihat Gambar 1). Sling psychrometer terdiri dari dua
buah termometer air raksa, yaitu termometer untuk mengukur
temperatur cembung kering (dry bulb) dan cembung basah (wet
bulb).

Pada prinsipnya termometer cembung kering mencatat


temperatur udara pada udara bebas atau di atmosfer. Sedangkan
termometer cembung basah mencatat temperatur penguapan,
dimana besarnya lebih kecil daripada temperatur pada udara bebas.

Selisih antara temperatur cembung kering dan temperatur


cembung basah akan menunjukkan kondisi kejenuhan udara. Untuk
kondisi jenuh, penguapan tidak terjadi dan temperatur cembung
29
basah dan kering akan sama. Bila kondisi tidak jenuh, air akan
menguap dari permukaan termometer cembung basah dengan laju
tertentu yang sebenarnya berbanding terbalik dengan tekanan uap
dari uap air yang berada di udara. Penguapan akan mendinginkan
ujung termometer dan temperatur akan turun.

5. Prosedur Praktikum : Cara Pengukuran Kelembaban Udara


Dalam Ruang Dengan Menggunakan Sling Psychrometer
a. Perhatikan bahwa reservoir dari termometer cembung basah
telah dibasahi air dan reservoir termometer cembung kering
tidak basah.
b. Sling psychrometer diputar paling sedikit 200x per menit.
c. Baca secepatnya temperatur pada kedua termometer tersebut.
d. Jaga jangan sampai dry bulb terpanasi oleh tangan, sinar-
sinar lainnya, pernapasan atau pun panas badan.
e. Ulangi percobaan tersebut sampai didapat suatu harga yang konstan.

6. Cara Pengukuran Kelembaban Udara Dalam Ruang


Dengan Menggunakan Digital Humidity

Gambar 2. Digital Humidity / Anemometer

30
a. Pasang “RH Probe Plug” pada “Input Socket”
b. Geser “Function Switch” ke posisi “% RH”
c. Hidupkan dengan menekan tombol “Power OFF/ON”
d. Pilih satuan suhu yang diinginkan dengan
menggunakan tombol konversi “oC/oF”
e. Tampilan akan menunjukkan nilai kelembaban (% RH)
dan suhu (oC atau oF) secara langsung
f. Jika nilai kelembaban lingkungan pengukuran berubah,
maka memerlukan beberapa menit untuk pembacaan
“RH” yang stabil

Fungsi lain :

a. Data Hold

Apabila pada waktu pengukuran tombol “Data Hold”


ditekan, maka nilai pengukuran akan ditahan dan LCD
menampilkan symbol “D.H”
b. Data Record (Maks, Min)

Data Record berfungsi untuk merekam atau menunjukkan


mulainya pengukuran dan menampilkan pembacaan
maksimum dan minimum.
Untuk memulai fungsi Data Record, tekan sekali tombol
“Memory Record”. Simbol “REC” akan muncul di layar LCD
Pada kondisi symbol “REC” tampil :

1. Tekan sekali tombol “Memory Recall”, symbol “Max”


dan nilai maksimum muncul pada tampilan layar

2. Tekan tombol “Memory Recall” sekali lagi, maka


symbol “Min” dan nilai minimum muncul pada
tampilan layar
3. Untuk keluar dari fungsi memory record, tekan
tombol “Memory Record” sekali lagi, maka tampilan
kembali pada pembacaan saat itu.

31
7. Dasar Teori
Temperatur dan Kelembaban Udara Tambang
Pengaturan temperatur dan kelembaban udara tambang bertujuan
untuk menghasilkan udara segar dan nyaman. Temperatur udara
tambang harus dipertahankan pada batas tertentu, sehingga manusia
dapat bekerja dengan efisiensi kerja yang tinggi

Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi para


pekerja didalam tambang, karena udara tidak hanya untuk pernafasan
tetapi juga untuk pendinginan panas tubuh. Temperatur udara yang
baik untuk kenyamanan bekerja (temperatur efektif) adalah tidak
kurang dari 18 oC dan tidak melebihi 24 oC

Kelembababan udara tambang merupakan banyaknya kandungan uap


air yang ada diudara tambang yang biasanya dinyatakan dengan
“relative humidity (RH)”. Batas kelembaban relatif yang diperkenankan
untuk tambang bawah tanah adalah 65%-95% dan nilai ini dapat
ditentukan secara grafis dengan menggunakan grafik psychrometrik.

Untuk mengetahui kenyamanan lingkungan kerja didalam tambang,


diperlukan standar tertentu yaitu penggunaan temperatur efektif (Te).
Temperatur efektif ini dapat diperoleh dengan menggunakan grafik
dengan variabel sebagai berikut :

a. Temperatur cembung basah (wet-bulb temperature, Tw)


adalah temperatur dimana terjadi proses penguapan air
di udara tambang.
b. Temperatur cembung kering (dry-bulb temperature, Td)
adalah temperatur yang menunjukkan keadaan panas
dari udara tambang.
c. Kecepatan aliran udara (V) adalah kecepatan aliran
udara didalam tambang.

Perbedaan antara temperatur cembung kering dan cembung


basah menyatakan faktor kenyamanan didalam udara lembab.
Agar seseorang dapat bekerja dengan nyaman di lingkungan
udara dengan kelembaban relatif 80% diperlukan perbedaan
td-tw sebesar 5 oF (2,8 oC)

Kecepatan aliran udara merupakan faktor utama dalam


mengatur kenyamanan lingkungan kerja. Kecepatan aliran
udara sebesar 150-500 fpm (0,8 – 2,5 m/detik) dapat
memperbaiki tingkat kenyamanan ruang kerja yang panas dan

32
lembab. Dalam menduga atau memperkirakan temperatur
efektif dari suatu kondisi td-tw serta kecepatan aliran udara
tertentu dapat menggunakan grafik yang ditunjukkan pada
gambar dibawah ini :

Gambar 3. Menentukan Temperatur Efektif

Penentuan Nilai Temperatur Efektif :


a. Plot nilai dry dan wet temperature pada masing-masing garis skala
b. Tarik garis penghubung keduanya
c. Plot nilai kecepatan pada garis skala kecepatan
d. Tarik garis hingga bertemu dengan garis penghubung temperatur

33
Gambar 4. Penentuan Nilai Kelembaban

Penentuan Nilai Kelembaban :

a. Sumbu horizontal tabel, menunjukkan selisi dry temperature dikurang dengan


wet temperature
b. Sumbu vertikal tabel, menunjukkan nilai wet temperature
c. Perpotongan kedua jenis nilai pada sumbu horizontal dan vertikal merupakan
nilai kelembaban dalam persentase ( % )

34
NOMOR PERCOBAAN 4
MENGUKUR KANDUNGAN GAS-GAS DALAM TBT

1. Nomor Percobaan : 04
2. Nama Percobaan : Mengukur kandungan gas-gas di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat mengetahui cara mengukur kandungan gas-gas di
tambang bawah tanah dengan alat Gas Detector
4. Alat dan bahan : Gas Detector

Gambar 1. Standar Ventilasi Tambang di Indonesia

Tabel 1. Komposisi Udara Segar

35
Tabel 2. Sifat-Sifat Gas-Gas Tambang

Tabel 3. Prinsip-Prinsip Pengukuran Gas-Gas Tambang

36
A. GAS DETECTOR JENIS DRAGER X-am 5000

Gambar 2. Gas Detector Jenis Drager X-am 5000

5. Pengoperasian Gas Detector :


a. Dapat mengukur 5 (lima) jenis gas-gas yang berbeda secara bersamaan
(tergantung jenis sensor yang digunakan)
b. Memiliki internal pump dengan (dapat disambung dengan hose/selang dan
probe untuk menjangkau tempat pengukuran gas yang diinginkan maksimum
45 meter)
c. Lama penggunaan detektor gas ini bisa digunakan 12 jam dengan
menggunakan baterai alkaline dan baterai NiMH.
d. Instrumentasi yang ada di detektor gas ini sebagai berikut :

37
Gambar 3. Instrumentasi Dari Gas Detector Jenis Drager X-am 5000

1. Inlet gas 6. Tombol tambah 11. Kontak pengisian baterai


2. Alarm LED 7. Layar display 12. Tampilan gas yang diukur
3. Speaker 8. Penghubung infra red 13. Tampilan nilai pengukuran
4. Tombol OK 9. Kunci penguat 14, Simbol khusus
5. Power pack 10, Plat tipe

Cara untuk menyalakan alat :

a. Tekan dan tahan tombol OK selama 3 detik, hitungan mundur 3 2 1 dan


berakhir di display
b. Tekan tombol OK untuk membatalkan tampilan dari langkah aktivasi.

Gambar 4. Tampilan Gas Detector Saat Akan Dinyalakan

38
Cara untuk mematikan alat :

a. Tekan dan tahan tombol OK dan + berbarengan sampai hitungan mundur 3,


2, 1 yang tampil dilayar hilang selama 3 detik, hitungan mundur 3 2 1 berakhir
di display
b. Sebelum alat dimatikan, tampilan visual, suara dan alarm akan aktif dalam
periode yang singkat

Gambar 5. Tampilan Gas Detector Saat Akan Dimatikan

Cara Menggunakan Gas Detektor di Lokasi Tambang :

a. Nyalakan alat detektor gas diluar tambang, pada daerah dengan udara
atmosfir normal.
b. Pastikanalat alat dapat beroperasi dengan baik, melalui pengamatan
informasi pada layar.
c. Pastikan lobang masuk gas agar tidak tertutup
d. Gantungkan alat pada harness atau sabuk pada saat perjalanan
e. Posisikan alat sedekat mungkin pada daerah yang akan diukur (sambungkan
dengan pompa tambahan dan probe jika lokasi yang akan diukur tidak
terjangkau)

39
B. KITIGAWA GAS DETECTOR TUBE SYSTEM

(MANUAL GAS DETECTOR – DRAGER PUMP)

Gambar 1. Kitagawa Gas Detector Model AP-1

Pengoperasian Gas Detector Kitagawa :

a. Detektor Gas Tipe Kitagawa mudah dalam penggunaannya dan


cepat dalam melihat hasil pembacaan gasnya
b. Detektor ini bekerja berdasarkan prinsip reaksi kimia gas dengan
reagen didalam tabung kaca (glass tube)
c. Terdiri dari dua perangkat (vaccum pump dan gas tube)

40
Gambar 2. Bagian-bagian dari Detektor Gas Kitagawa

41
Cara Kerja Detektor Gas Kitagawa (Sebelum Dioperasikan) :

a. Masukkan gas tube yang masih tersegel kedalam rubber tube connector
b. Sejajarkan red dot, kemudian tarik handle perlahan hingga akhir (posisi 100)
c. Setelah satu menit, putar handle seperempat putaran, dan perhatikan apakah
handle kembali ke posisi semula.
d. Jika detector pump baik, maka handle akan kembali ke posisi semula dengan
mudah, untuk mencegah kerusakan bagian dalam, tetap pegang handle pada
saat setelah seperempat putaran.
e. Jika handle tidak kembali dengan mudah ke posisi semula, maka detector
pump perlu diperbaiki.

Cara kerja Detektor Gas Kitagawa (Saat Dioperasikan) :

a. Potong kedua ujuung gas tube pada tip cutter


b. Pasangkan gas tube pada rubber tube connector
c. Sejajarkan red dot dan tarik handle hingga posisi 100 atau sesuai petunjuk
pada gas tube
d. Biarkan hingga sekitar satu menit atau sesuai petunjuk pada gas tube
e. Putar handle hingga seperempat putaran, tahan dan lepas perlahan hingga
tekanan dalam cylinder terbuang
f. Baca konsentrasi gas pada gas tube berdasarkan perbedaan warna.

Petunjuk Pembacaan Gas Tube :

42
NOMOR PERCOBAAN 5

PENYANGGAAN TAMBANG BAWAH TANAH

PENGGUGURAN BATUAN (SCALING / BARRING DOWN)

1. Nomor Percobaan : 05
2. Nama Percobaan : Melakukan pengguguran batuan di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat mengetahui cara melakukan pengguguran batuan
yang retak di bagian atap (roof/back) dan dibagian dinding (wall) di TBT
4. Alat dan bahan : Mechanical Scale dengan mesin Jumbo
Dan Scaling Bar dengan Manual.
5. Prosedur Praktikum
Prosedur pengguguran batuan ini untuk memastikan teknik-teknik
dalam melakukan inspeksi, pengetesan dan pelepasan ground yang
longgar / retak, dilakukan untuk menghilangkan bahaya runtuhnya
batuan (ground) yang dapat menimpa karyawan tambang bawah
tanah dan meningkatkan keselamatan area kerja.

6. Pengguguran Batuan Manual Dengan Batang Penyisik (Scaling


Bar)
a. Pilih scaling bar (batang penyisik) yang berukuran sesuai dengan
ukuran 2,40 meter (pendek) dan 3,6 meter (panjang). Panjang
batang penysiik harus memungkinkan penggunanya mencapat
atap terowongan (roof / back) pada titik tidak kurang dari 30 cm
didepan pengguna dan posisi tangan horizontal dengan pinggang.
Bar harus lurus dengan titik pahat yang tajam disatu ujung dan
bagian yang tumpul diujung lainnya. Suatu pengungkit setidak-
tidaknya dengan tekukan 8 cm pada 30 derajat harus terdapat
disetiap bar.

43
b. Gunakan sarung tangan karet untuk memegang bar dengan benar
dan memberikan perlindungan pada tangan jika batuan kecil
berjatuhan disepanjang bar.
c. Selalu pertahankan pijakan yang baik dan pastikan jalur mundur
yang bersih yang tidak terhalang untuk digunakan dalam keadaaan
darurat.
d. Pekerjaan pengguguran batuan (barring down) harus selalu
dilakukan dari tempat yang aman yang diarahkan ke batuan yang
rapuh/retak dan tetap harus berada dibawah batuan yang telah
dipasang penyangga setiap saat.
e. Bunyikan / ketukkan batang penyisik dengan memukul-mukul
batuan. Suara dari batuan yang seperti gendang mengindikasikan
adanya batuan yang longgar dan suara nyaring umumnya
mengindikasikan batuan yang baik. Jangan pernah menganggap
batuan aman sebelum dideteksi bunyinya.
f. Selalu posisikan bar disatu sisi tubuh anda. Jangan ragu-ragu
untuk menjatuhkan bar jika ada batuan yang jatuh disepanjang sisi
bar.
g. Jangan pernah melakukan barring down disuatu bootleg karena
kemungkinan masih terdapat sisa bahan peledak yang belum
meledak yang berada didalam lobang ledak tersebut.
h. Waspadalah terhadap batuan yang retak dan longgar yang
sewaktu-waktu akan jatuh dan sesuaikan pijakan kaki untuk dapat
menyingkir ketika batuan jatuh.
i. Batuan yang longgar yang sudah diketahui, tetapi tidak bisa
dilakukan pengguguran, maka batuan tersebut harus dihilangkan
dengan peledakan atau dilakukan penyangga ulang lagi.

7. Pengguguran Batuan Mekanis Dengan Menggunakan Mesin


Jumbo
7.1. Memasang Scaling Bit
Pasang scaling bit. Gunakan drill bit yang normal berukuran 45 mm
yang ditajamkan ulang ketika melakukan scaling menggunakan

44
Jumbo. Penggunaan bit yang lebih besar tidak akan menghasilkan
penetrasi yang dalam dan bahkan tidak ada penetrasi sama sekali
dan lebih sulit untuk melakukan scaling. Penetrasi yang lebih baik
akan menggunakan bit 45 mm yang lebih. Bit harus selalu
dipasang dibawah ground yang telah dipasangi penyangga. Tidak
seorangpun boleh berada dibawah ground yang belum dipasangi
penyangga.

7.2. Persiapan untuk melakukan mechanical scaling


(pengguguran batuan menggunakan mesin bor Jumbo)
Gunakan satu boom saja untuk melakukan pengguguran batuan
setiap saat. Jika melakukan pengguguran disisi kiri atap batuan,
gunakan boom (lengan) jumbo yang kiri. Jika melakukan scaling
disisi kanan atap batuan (roof / back), gunakan boom (lengan
jumbo) yang disebelah kanan.

Gambar 1. Gunakan Satu Boom (Lengan Jumbo) Pada Saat Scaling

Ketika melakukan scaling dikedua sisi, boom yang satunya harus


setinggi dan sejauh mungkin dari boom yang sedang beroperasi.
Selalu jaga scaling boom pada sekitar 45 derajat ke batuan yang
akan dijatuhkan untuk melindungi boom. Boom extension harus

45
diperpanjangkan secukupnya agar batuan longgar (retak) yang
dijatuhkan jauh dari Jumbo dan operator. Semakin dekat rail
dengan jumbo, semakin besar kemungkinan cedera terhadap
operator Jumbo dan helper (pembantu operator)
8. Keselamatan Kerja Saat Melakukan Pengguguran Batuan (Scaling
atau Barring Down)

Gambar 2. Sebelum Melakukan Scaling Boom Jumbo Dipanjangkan


Dahulu

a. Lakukan pengguguran batuan dengan menggunakan “boom” atau


lengan jumbo yang sudah dipanjangkan. Hal ini memungkinkan
kompartemen operator juumbo berjarak sejauh mungkin dari area
batuan jatuh namun tidak terlalu jauh agar tidak menempatkan
terlalu banyak beban pada boom.
b. Slide harus berada pada sudut 45o (derajat) agar batuan longgar
jatuh tanpa mengenai boom atau hose.
c. Melakukan pengguguran batuan (scaling) dengan menggunakan
boom yang dipanjangkan akan menjauhkan kabin operator dari
daerah jatuhan batu. Tapi jangan terlalu dipanjangkan karena akan
memberatkan boom.
d. Slide boom harus diposisikan 45 derajat untuk mencegah batuan
jatuh kearah boom atau hose.

46
9. Mechanical Scaling
a. Angkat boom keatas dengan menggunakan lever control pada
panel jumbo.
b. Dorong boom extension keluar menggunakan lever control
c. Slide tidak boleh berada langsung dibawah batuan / ground yang
longgar
d. Slide harus jauh dari mesin. Anda harus selalu bekerja dari batuan
(ground) yang baik ke batuan yang jelek/buruk
e. Aktifkan rotasi dan pukulan drifter dengan menggunakan lever
control pada jumbo.
f. Dengan feed lever, secara perlahan gerakan alat disepanjang atap
batuan, lakukan pengeboran tusukan-tusukan kecil disekeliling tepi
batuan yang longgar/retak hingga batuannya jatuh.

10. Batuan Yang Bagus (Good Ground)


Jika saat menusukkan bit jumbo ke batuan (ground) terdengar suara
kosong atau bergema, ini menunjukkan batuan tersebut longgar.
Jika saat menusukkan bit ke batuan terdengar suara yang berisi padat
dan tidak bergema, ini menunjukkan batuannya padat dan tidak
longgar atau tidak retak.

11. Memanjangkan Drill Steel (Batang Bor)

47
Gambar 3. Selain Boom (Lengan) Jumbo di Panjangkan, Juga Drill
Steel (Batang Bor) Juga Dipanjangkan Sebelum Melakukan Scaling

a. Lakukan scaling atau barring down atau pengguguran batuan


menggunakan drill steel (batang bor) yang dipanjangkan terlebih
dahulu antara 50 cm hingga 1 meter dari ujung centralizer
b. Ini akan membantu operator untuk dapat melihat area yang sedang
dilakukan scaling dan jarak maju untuk slide dan boom dari batuan
jatuh yang disebabkan oleh kegiatan scaling.
c. Siram / semprotkan air, lakukan putaran batang bor (rotasi) dan
pukulan (perkusi) ketika menggetarkan (rattling) dan scaling.
d. Sesuaikan tekanan feed agar drill steel (batang bor) tidak bengkok
e. Pastikan bilasan air pada drill bit (mata bor) memadai untuk
mengurangi debu yang timbul diakibatkan oleh kegiatan
pengguguran batuan (scaling) atau pengeboran.

Gambar 4. Jika Scaling atau Pengguguran Batuan Sudah Selesai


Dilakukan Dan Sudah Dilakukan Penyanggaan Ulang, Maka Mesin
Jumbo Bisa Dimajukan Kedepan Kearah Face (Muka Kerja)

48
Gambar 5. Sketsa Ilustrasi Yang Memperagakan Penempatan Boom (Lengan
Jumbo) Selama Melakukan Scaling (Pengguguran Batuan)

12. Tips Keselamatan Saat Melakukan Pengguguran Batuan Manual


(Scaling / Barring Down) Dengan Menggunakan Scaling Bar
(Batang Penyisik) :

a. Jangan pernah melakukan scaling dengan alat apapun kecuali scaling bar
atau batang penyisik yang benar
b. Jangan pernah melakukan scaling dengan batang penyisik berada didepan
tubuh pekerja. Jika bar ini terdorong kearah pekerja oleh batuan yang
longgar, bar ini bisa menusuk ke pekerja.

49
c. Bersiaplah untuk melepaskan bar jika ada batuan yang jatuh meluncur
kebawah melewati bar tersebut.
d. Jangan memberikan tekanan pada bar kearah yang menyebabkan pekerja
berada dibawab batuan yang longgar jika bar tergelincir / terlepas. Congkel
keatas jangan kebawah.
e. Waspadalah dengan semua batuan longgar / retak yang menempel pada
batuan yang pekerja sedang rontokkan. Ketika bongkahan batuan pertama
jatuh, bongkahan yang menempel mungkin juga akan ikut jatuh.
f. Jangan pernah menganggap suatu face (muka kerja) aman hanya karena
atau (back / roof) dan dinding (wall / rib) telah dipasang weld mesh (jaring
kawat pengaman) dan telah dipasang baut batuan (rock bolt / split set).
g. Jika bekerja dengan seorang teman, ketahuilah tempatnya berada sebelum
kita menjatuhkan batuan.
h. Jangan terburu-buru ketika melakukan scaling atau pengguguran batuan.
Gunakan waktu dan lakukan dengan benar.
i. Jika batuan yang diruntuhkan mulai bergerak, maka mundurlah ke suatu jarak
yang aman dan perhatikan area apakah ada batuan-batuan kecil yang jatuh
yang mengindikasikan adanya batuan yang longgar. Jangan kembali
melakukan scaling sebelum gerakan batuan yang jatuh sudah berhenti.

13. Evaluasi Kinerja Pengguguran Batuan (Scaling)


a. Memperagakan sikap keselamatan yang baik, untuk dirinya sendiri
dan orang lain.
b. Menggunakan alat pelindung diri (APD) sebelum melakukan
scaling
c. Menggunakan Scaling Bar (batang Penyisik) yang benar, jika
scaling dilakukan secara manual atau menggunakan batang bor
(drill steel) jika dilakukan scaling secara mekanis dengan mesin
Jumbo
d. Memeriksa kondisi scaling bar (batang penyisik)
e. Bekerja dari mulai batuan yang baik ke batuan yang buruk
f. Mengetes kekuatan batuan dengan cara menusukkan bar
kebatuan yang longgar dan kemudian mendengar bunyi yang

50
timbul dari ketukan tersebut dan dapat memahami perbedaan
bunyi yang timbul dari batuan yang baik dan batuan yang longgar
g. Memastikan batuan yang digugurkan tidak akan jatuh menimpa
dan mencederai pekerja.
h. Memegang scaling bar (batang penyisik) pada posisi yang benar
(disamping badan)
i. Memastikan lantai / landasan yang benar untuk tempat jatuhnya
rontokan batuan
j. Memperhatikan jatuhnya batuan yang mendadak secara tiba-tiba
k. Memastikan bagian belakang area kerja bebas hambatan untuk
pekerja akan mundur kebelakang menghindari kejatuhan batuan
l. Melakukan scaling atau pengguguran batuan dengan sempurna
dan aman

51
NOMOR PERCOBAAN 6

PENYANGGAAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEMASANGAN SPLIT SET (FRICTION BOLT)

1. Nomor Percobaan : 06
2. Nama Percobaan : Melakukan pemasangan split set (friction bolt) di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pemasangan split set dengan
menggunakan mesin bor manual jack leg (hand held drill machine) dan
mesin bor jumbo di TBT
4. Alat dan bahan : Split set, plate, mesin bor Jumbo, mesin bor Jack Leg

5. Prosedur Praktikum

a. Selalu gugurkan batuan menggantung dengan batang penyisik (scaling bar)


sebelum memulai pemboran. Papan/bidang pelindung dan penyangga bagian
depan harus dipasang apabila batuan terlalu gembur (lunak) untuk dapat
digugurkan dengan aman. Pengguguran batuan tambahan mungkin
diperlukan setelah lobang diberi collar selama pemboran.
b. Selalu bekerja dibawah batuan yang sudah disangga. Pasang split set dan
weld mesh diatas kepala sebelum bergerak maju
c. Selalu melakukan penyanggaan dari atap (back / roof) kemudian ke dinding
atau rib / wall dari pada lobang bukaan (drift), kecuali ada persetujuan tertulis
dari Departemen Geoteknik
d. Ketika mengebor untuk memasang split set, jangan sekali-kali menggunakan
drill bit (mata bor) yang berukuran lebih besar dari 1,5 inci (38,1 mm) dan
lebih kecil dari 36,8 mm.
e. Lobang pemboran harus paling tidak 1 feet (304,8 mm) lebih panjang
daripada split set yang akan dipasang. Panjang lobang tambahan ini akan
memungkinkan split set didorong kembali apabila batuan disekeliling collar
berjatuhan dan plate menjadi kendur.
f. Selalu dorong split set segera setelah lobang dibor. Hal ini akan memastikan
perlindungan maksimum karena batuan sudah disangga.
52
g. Jangan pernah memasang split set dengan jarak pisah lebih dari 1 (satu)
meter. Split set dipasang menyilang diatap (back / roof) dan menuruni dinding
(rib) sampai tidak lebih dari 1,5 meter dari lantai / floor. Bagian pengawas /
supervisor akan menentukan apakah kondisi batuan menjamin keamanan
dan menentukan jarak split set atau pemasangan strap.
h. Jangan membiarkan lebih dari satu meter batuan yang tidak disangga berada
diantara baris terakhir split set dengan permukaan (face). Apabila kondisi
batuan face rapuh, dan batuan dapat terlepas, split set juga sebaiknya
dipasang diface.
i. Selalu pasang split set pada sudut yang benar terhadap batuan yang
disangga. Hal ini akan membuat kekuatan split set maksimum menyangga
batuan.
j. Selalu dorong split set sampai plate nya menempel kencang pada batuan.
k. Hanya split set 7 (tujuh) ft atau 2,13 meter yang digunakan untuk menyangga
atap dan dinding lobang bukaan. Split set yang lebih pendek tidak boleh
dipakai sebagai penyangga batuan kecuali bila telah mendapat persetujuan
tertulis dari Departemen Geoteknik TBT.
l. Apabila menggunakan screen atau weld mesh, weld mesh tersebut harus
dipasang kencang menempel pada dinding batuan. Jangan sekali-kali
memulai memasang weld mesh dengan menggunakan split set pendek yang
didorong kedalam split set yang telah ada. Selalu lakukan pemboran lobang-
lobang baru dan sangga weld mesh dengan split set berukuran panjang 7 ft
sesuai standar nya. Weld mesh yang digunakan tidak boleh diletakkan di
dinding atau rib lobang bukaan. Weld mesh harus diletakkan horizontal atau
mendatar pada lantai untuk mencegah kemungkinan roboh.
m. Split set pendek (ukura panjang 2 ft atau 0,6 meter) tidak boleh digunakan
untuk penyanggaan batuan. Split set seperti ini hanya boleh digunakan
sebagai penyangga tetap untuk mat rebar atau sebelum pekerjaan shotcrete
dilakukan, atau untuk penyangga barang lainnya, dan hanya setelah batuan
tersebut disangga dengan split set ukuran panjang 7 ft penuh dipasang
dipasang sesuai dengan ketentuan tersebut. Hal ini harus mengikuti
rekomendasi Departemen Geoteknik dan Engineering (Perencanaan) seperti
dalam disain mereka.

53
n. Spesifikasi penyangga batuan khusus tambahan akan diberikan oleh
Departemen Geoteknik
o. Penyangga tambahan harus dipasang bila dianggap perlu oleh bagian
pengawas lapangan.
p. Penempatan dan penyimpanan material harus mengikuti standar prosedur
yang berlaku :
 Penempatan dan penyimpanan material hanya boleh dilakukan
didaerah yang sudah ditentukan secara jelas untuk penggunaan itu.
Daerah tersebut harus diluar daerah sibuk/ramai lalu lintas, untuk
mencegah kerusakan material karena alat bergerak, serta tanda
(safety sign) harus dipasang untuk menunjukkan daerah tersebut
adalah tempat penyimpanan.
 Tumpukan dan simpanan material (split set, weld mesh, drill steel, dll)
hanya akan diletakkan sesuai ketinggiannya, sehingga material
tersebut stabil dan tidak gampang jatuh / menimpa ketika dipindahkan /
diambil sebagian dari jumlah material tersebut. Tumpukan tidak boleh
lebih tinggi dari 3 (tiga) kali lebarnya material tersebut.

Gambar 1. Split Set Yang Sudah Dipasang Di Terowongan

Gambar 2. Split Set Dilengkapi Dengan Pelat Penahan Ke Dinding / Atap

54
Gambar 3. Split Set Dipasang Bersamaan Dengan Jaring Kawat (Weld Mesh)

Gambar 4. Split Set Dilengkapi Dengan Ukurannya

6. Dasar Teori
Latar Belakang. Split Set dikembangkan oleh Scott dari perusahaan
Ingersoll-Rand di USA dan sangat populer digunakan di industri tambang.
Karena split set ini didorong masuk kedalam lobang, maka menghasilkan
gaya gesekan dan tahanan dari tabung split set terhadap dinding batuan,
sehingga dapat menahan & mengikat dinding batuan terhadap tabung split
set tersebut.
Keuntungan. Split set sederhana dan cepat dipasang juga lebih murah
dibandingkan dengan penyanggaan menggunakan grouting dan dowel. Split
set banyak digunakan pada batuan yang buruk dan mudah retak/longgar.

55
Kerugian. Split set tidak dapat ditegangkan (tensioned) dan pemasangannya
harus benar-benar melekat ke face (dinding / atap batuan). Diameter lobang
bor sangat menentukan keberhasilan dalam pemasangan split set, karena
diameter lobang bor harus lebih kecil dari diameter tabung split set. Split set
umumnya cepat berkarat (korosi) dan saat ini diatasi dengan diberikan
pengecatan anti karat (galvanized paint).
Penggunaan. Split set digunakan pada penyanggaan ringan di industri
tambang, khususnya untuk mengatasi penyanggaan yang cepat (in-cycle
support atau short term support), dan dipakai juga pada pekerjaan sipil.
Data teknis :
Yield Load 90 kN
Diameter tabung 33 mm (1,32”), 39 mm (1,55”), 46 mm (1,81”)
Diameter lobang bor 32 mm (1 1/8”), 38 mm (1 3/8”), 45 mm (1 5/8”)
Panjang 7 ft, 8 ft, 10 ft (variabel)

Gambar 5. Bagian Split Set

56
Gambar 6. Pemasangan Split Set Menggunakan Mesin Bor Jumbo

Gambar 7. Boom Mesin Bor Jumbo (Boom Bagian Bawah) Sedang Mendorong Split Set
Masuk Kedalam Lobang Bor di Dinding Lobang Bukaan

57
NOMOR PERCOBAAN 7

PENYANGGAAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEMASANGAN STIFF SPLIT SET

1. Nomor Percobaan : 07
2. Nama Percobaan : Melakukan pemasangan Stiff Split Set di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pemasangan Stiff Split Set dengan
menggunakan mesin bor Jumbo dan mesin bor manual Jack leg
4. Alat dan bahan : Stiff Split Set, Semen Cartridge, plate, mesin bor
Jumbo, mesin bor Jack Leg

5. Prosedur Praktikum :

Tinjauan (Gambaran) Tentang Pemasangan Secara Mekanis


Penyanggaan Dengan Menggunakan Stiff Split Set :

 Penggunaan PPE/APD yang sesuai untuk pemasangan seperti sarung


tangan, kacamata, sepatu dan topi keselamatan
 Lakukan pemboran lobang dahulu yang diameternya sedikit lebih kecil
dari diameter Stiff Split Set yang akan dimasukkan kedalam lobang.
Diameter mata bor (bit) yang direkomendasikan adalah 43 s/d 45 mm
(pastikan kondisi batuan terlebih dahulu sebelum memutuskan
menggunakan diameter mata bor)
 Pastikan kedalaman lobang bor harus lebih sedikit dalam (sekitar 20
cm) daripada panjang stiff split set, hal ini diperlukan untuk menjaga
jika ada “spall away” atau lobang bor ketutup oleh batuan yang lepas
dari dinding lobang bor.
 Gunakan “driver tool” alat pendorong yang tepat (gambar 2)
 Arahkan alat pendorong searah dengan lobang dan kemudian dorong
stiff split set kedalam lobang.

58
 Periksa waktu saat mendorong stiff split set kedalam lobang, yang
mana waktu ini sebagai petunjuk muatan / beban tetap yang dapat
disangga oleh stiff split set ini.
 Waktu dorong stiff split set kedalam lobang antara 14 detik s/d 18 detik
akan menghasilkan daya / beban yang dapat disangga sebesar 10 ton
untuk satu unit stiff split set yang dipasang
 Untuk batuan yang lunak (soft ground) perlu dikurangi diameter mata
bor agar supaya menambah waktu dorong (driving time) stiff split set
kedalam lobang dan berakibat menaikkan atau menambah beban yang
dapat disangga.
 Waktu dorong kurang dari 14 detik akan menghasilkan daya dukung
beban yang dapat disangga oleh stiff split set yang lebih kecil dari yang
direkomendasikan.

Gambar 1. Bagaimana Penyangga Stiff Split Set Bekerja Didalam Batuan

59
Gambar 2. Driver Tool (Alat Pendorong) Stiff Split Set Kedalam Lobang Bor

Gambar 3. Stiff Split Set Bolt

60
3,5 kg 4,4 kg

Gambar 4a. Cement Cartridge Disebut Juga Penstabil (Stabilizer) Stiff Split Set.
Saat semen kering beratnya 3,5 kg/cartridge dan 4,4 kg setelah mengalami hidrasi

Gambar 4b. Semen Cartridge Saat Direndam Dalam Air Selama 2 Menit
61
Langkah-Langkah Pemakaian Kantong Plastik Semen (Cement Cartridge)
Kedalam Lobang Stiff Split Set :

a. Didalam satu karton, berisikan 25 kantong semen (cement cartridge), 5


rubber seal (penutup karet). Untuk satu lobang bor yang menggunakan Stiff
Split Set (SSS) panjang 2,4 meter atau 8 ft, diameter 46 mm, diperlukan 5
(lima) semen cartridge yang dimasukkan kedalam lobang SSS. Kantong
semen perlu direndam dalam air sebelum dimasukkan kedalam lobang Stiff
Split Set (lihat gambar 5)
b. Dengan menggunakan ember (keranjang plastik) dilokasi kerja, maka kantong
plastik semen (cement cartridge) ini direndamkan didalam air selama 1,5 – 2
menit, yang bertujuan agar sedikit lembut (pliable) untuk memudahkan
memasukkan semen cartridge ini kedalam lobang Stiff Split Set (SSS).Untuk
memastikan semen sudah lembut setelah 1,5 – 2 menit direndam, maka akan
timbul gelembung-gelembung udara dari semen cartridge tersebut yang
menandakan sudah siap untuk dimasukkan kedalam lobang SSS.

Gambar 5. Kantong Semen (Cement Cartridge) Sedang Dimasukkan Didalam


lobang Stiff Split Set (SSS)

62
c. Saat kantong semen sudah terhidrasi sempurna, maka masukkan sebanyak 5
(lima) kantong semen ini kedalam lobang Stiff Split Set (SSS) yang memiliki
panjang 2,4 meter atau 8 feet (lihat gambar 5)

Gambar 6. Stiff Split Set Dibagian Ujungnya Ditutup Dengan Karet (Rubber Seal)

d. Setelah selesai memasukkan 5 (lima) kantong plastik semen (Cement


Cartridge) kedalam lobang Stii Split Set (SSS), maka bagian ujungnya ditutup
dengan penutup karet (rubber seal) (lihat gambar 6)

Gambar 7. Penutup Karet (Rubber Seal)

Tahap Akhir Pemasangan Stiff Split Set (SSS) Kedalam Lobang :

a. Lakukan pemboran dengan kedalaman yang diinginkan, yang sesuai dengan


Stiff Split Set yang akan digunakan, dan dengan mempertimbangkan kondisi
batuan yang akan disangga.

63
b. Siapkan Stiff Split Set (SSS) yang sudah dilengkapi dengan kantong plastik
semen (cement cartridge) dan masuk dan dorong dengan menggunakan
mesin Jumbo kedalam lobang.
c. Pastikan waktu saat mendorong SSS kedalam lobang. Waktu yang
dibutuhkan untuk mendorong digunakan sebagai petunjuk kesesuaian dari
ukuran lobang.
d. Seperti dikatakan diatas, bahwa waktu mendorong sekitar antara 14 – 18
detik akan menghasilkan daya dukung penyangga SSS sebesar 10 ton lebih
e. Didalam kondisi batuan yang lunak (soft ground), ukuran diameter bor perlu
dikurangi untuk menambah waktu dorong Stiff Split Set dan akan menambah
juga daya dukung penyangganya

Gambar 8. Potongan (Sayatan) Penampang Stiff Split Set Yang Sudah Diisi Cement
Cartridge

f. Semen cartridge (kantong plastik semen) akan mengering selama sekitar 72


jam (3 hari), tergantung dari kondisi batuannya. Semen akan mengeras
dengan menghasilkan kuat tekan (compressive strength) yang melebihi dari
kuat tarik (tensile strength) didalam Stiff Split Set (SSS) and akan mencapai
kekuatan penuh dalam waktu 28 hari

64
Gambar 9. Mesin Bor Jumbo Digunakan Untuk Membuat Lobang Yang Kemudian
Dipasang Stiff Split Set

Gambar 10. Stiff Split Set Dipasang Bersamaan Dengan Pemasangan Weld Mesh

65
NOMOR PERCOBAAN 8

PENYANGGAAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEKERJAAN GROUTING THREAD-BAR MENGGUNAKAN POMPA


GROUTING GP-2000

1. Nomor Percobaan : 08
2. Nama Percobaan : Melaksanakan pekerjaan grouting thread-bar.
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pekerjaan grouting thread-bar dengan
menggunakan Grouting Pump GP-2000 Hydraulic Power dengan alat bantu
angkat Getman A-64 Flatdeck di Tambang Bawah Tanah.
4. Alat dan bahan : Thread-bar Bolt, Semen Portland, plate (pelat), nut
(baut), flow cable (sejenis gipsum), pompa grouting GP-2000, mesin bor
Jumbo

5. Prosedur Praktikum :

a. Potensi Bahaya :
 Dalam pekerjaan persiapan seperti menempatkan dan
membuka kantong sermen, ada potensi mata terpercik debu
semen, paru-paru menghirup debu semen, harus menggunakan
kacamata safety (google, safety glass) dan respirator
 Pada waktu mengaduk semen ada potensi terlilit pada “auger”
pada pompa grouting GP-2000. Pastikan penutup hoper pada
tempatnya dan tidak mengenakan pakaian longgar.
 Tidak dibenarkan menjalankan pompa grouting GP-2000 dalam
kondisi hopper kosong. Harus diisi menggunakan air atau
campuran semen.
 Pada saat memasukkan “thread-bar” dan semen kedalam
lobang bor, potensi bahaya yang sering timbul adalah pekerja
mengalami cedera mata akibat semen grouting yang tumpah /
jatuh dari lobang bor yang ada dibagian atap batuan.

66
Gambar 1. Ilustrasi Bentuk Lobang Bukaan Ideal

Gambar 2. Ilustrasi Bentuk Lobang Bukaan Yang Tidak Disangga Dan Membuat
Batu Jatuh

6. Dasar Teori :
Definisi Pekerjaan Grouting :
Pekerjaan grouting adalah pekerjaan untuk memperkuat pillar batuan atau
lobang bukaan dengan cara melakukan pemboran lobang pada pillar
tersebut, yang selanjutnya diisi dengan semen grouting dan batang besi ulir
(thread-bar) yang dikencangkan dengan plat baja (plate) dan baut (nut) ,
sehingga pilar, dinding, atap batuan menjadi kuat untuk menahan massa
batuan yang ada disekitarnya.
67
Berbagai macam dari grouting adalah :
 Grouting menggunakan resin atau sejenis campuran bahan kimia
 Grouting menggunakan semen

Penyanggaan adalah aktifitas menambahkan material (dalam hal ini thread-bar bolt
dan cable bolt) kedalam massa batuan diterowongan sehingga dapat dilakukan
aktifitas penambangan dengan selamat.

Gambar 3. Penyanggaan Dengan Menggunakan Split Set (warna hijau)

Gambar 4. Penyanggaan Menggunakan Cable Bolt (warna merah)

Panduan Umum :

 Pekerjaan grouting perlu didiskusikan untuk menghindari situasi bahaya pada


saat melakukan persiapan pekerjaan sampai dengan selesai pekerjaan ini.
 Potensi bahaya yang bisa timbul dalam pekerjaan grouting meliputi
persiapan, membawa kantong semen, flow cable, thread-bar dan grouting
pump GP-2000 Hydraulic Power dengan Getman A-64 Flatdeck sendiri.
68
Dalam pekerjaan persiapan seperti membuka kantong semen, dll, ada potensi
pekerja mendapatkan cedera mata, paru-paru akibat terkena atau terhirup
debu semen, dan dalam pekerjaan persiapan alat atau material, ada potensi
bahaya seperti tertimpa pompa grouting, dll.
 Lantai lokasi kerja harus dibersihkan dari batuan dan material yang tidak
diperlukan. Pada saat memasukkan thread bar dan semen kedalam lobang
bor, potensi bahaya yang sering timbul adalah terkena luncuran thread-bar
serta cedera mata akibat semen grouting yang tumpah/jauh dari lobang bor.
 Kualitas standar pencampuran semen grouting yang sudah ditetapkan oleh
UG QA/QC Engineering Services harus diketahui dan diikuti oleh pekerja,
agar campuran semen grouting ini memenuhi standar dan tidak jatuh/tumpah
dari lobang yang sedang diisi semen grouting tersebut.
 Semua Alat Pelindung Diri (APD) seperti : sarung tangan karet (rubber glove),
kacamata safety (safety glass), pelindung mata/muka (safety goggles),
penutup telinga (ear plug dan ear muff), sepatu boot (safety boot), alat bantu
penyaring pernafasan (half face respirator), harus selalu digunakan sebelum
melakukan pekerjaan “grouting” sampai selesai pekerjaan ini.
 Hanya pekerja tambang bawah tanah yang memiliki izin (licence) yang dapat
mengoperasikan Grouting Pump GP-2000 Hydraulic Power dengan Getman
A-64 Flatdeck. Pekerja yang tidak memiliki izin, dilarang bekerja baik sebagai
operator maupun sebagai pembantu.

Penyangga Rebar / Thread Bar Bolt (Batang Ulir)

 Penyangga Batang Besi Ulir ( Rebar / Thread-Bar) biasanya digunakan


bersama-sama dengan Penyangga Kabel (Cable Bolt)
 Batang Ulir yang digunakan berdiameter 19 mm (1,9 cm) dan panjang
bervariasi dari 4 m, 6 m, 8 m

69
Gambar 5. Thread-Bar (Penyangga Batang Ulir) Yang Sudah Dilengkapi Dengan
Pelat Besi (Steel Plate) dan Baut (Nut)

 Dikarenakan kandungan baja lebih banyak pada batang ulir (thread-bar),


maka kekuatan penyangga thread-bar bolt lebih kuat dari penyangga kabel
(cable bolt).
 Pada lobang bukaan berukurang tinggi 5 meter, penyangga tipe thread-bar
bolt yang dipasang berukuran panjang 6 meter. Sedangkan penyangga kabel
(cable bolt) yang dapat dipasang dapat mencapai panjang 20 meter sampai
dengan 30 meter, karena kabelnya disiapkan dalam bentuk gulungan (roll).

Gambar 6. Penyangga Thread Bar Bolt Yang Sudah DiGrouting Dan Sudah
Dipasang di Pillar Batuan
70
Gambar 7. Sketsa Cara Melakukan Grouting

Pencampuran Semen Dan Air

 Rasio atau perbandingan yang baik dalam hopper semen 168 kilogram (4
kantong semen portland ukuran 40 kg/kantong), air 40 liter, flow cable 7,5
kilogram (1 kantong), untuk mendapatkan caqmpuran yang sudah ditetapkan
oleh Departemen UG Engineering

Gambar 8. Pencampuran Semen Dan Air W:C = 0,35 dan W:C = 0,40

71
 Praktek ini sangat sulit untuk diterapkan di lapangan karena tidak mudah
mengukur berat semen yang digunakan serta jumlah air yang dimasukkan
kedalam hopper pompa grouting.

Gambar 9. Pencampuran Semen Dan Air W:C = 0,45 & W:C = 0,50

 Metode visualisasi dapat digunakan untuk menentukan apakah kekentalan


semen grouting sudah tepat atau belum (lihat gambar 9 dan 10)
 Pencampuran semen dan air W (air) dibanding semen (C) yang
direkomendasikan adalah 0,4

7. Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Grouting


Pekerjaan mengoperasikan mesin / pompa grouting adalah mencampurkan
air, semen, flow cable dan selanjutnya di-injeksikan kedalam lobang pada
dinding & atap batuan. Setelah lobang diisi dengan semen grouting selesai,
maka Thread-Bar (batang ulir) dimasukkan kedalam lobang tersebut dan
terakhir dipasang pelat besi dan baut (steel plate & nut), sehingga dinding /
atap batuan menjadi kuat untuk menahan massa batuan yang ada
disekitarnya.

72
Gambar 10. Contoh Pompa Grouting

Gambar 11. Diagram Umum Pompa Grouting GP2000

73
Gambar 12. Diagram Panel Pengoperasian Grouting Pump GP2000

a. Prosedur Pekerjaan Persiapan Sebelum Memulai Pekerjaan Grouting :


 Membersihkan area kerja (clean-up) dari material yang bisa
mengganjal dan dari bahan berminyak (oli & grease).
 Melakukan pre-operasional checklist dengan teliti sebelum melakukan
pekerjaan grouting dan memastikan tidak ada bagian dari alat yang
rusak atau tidak standar.
 Memastikan semua sambungan selang hydraulic harus terpasang
dengan aman dan tidak ada oli yang bocor.
 Memastikan bagian back dan rib yang akan dipasang thread bar dan
dilakukan grouting telah diperiksa terlebih dahulu dan jika didapatkan
adanya batuan longgar dan masih menggantung (lose rock) atau retak
(crack), maka batuan tersebut harus digugurkan (barring down) terlebih
dahulu.
 Melakukan pencampuran semen, flow cable didalam hopper Grouting
Pump GP2000 Hydraulic Power dengan Getman A-64 Flatdeck, harus
menerapkan prosedur rasio atau perbandingan campuran dalam satu
74
hopper, yaitu 240 kilogram semen, 80 liter, 15 kilogram (1 kantong)
flow cable untuk mendapatkan campuran yang sudah ditetapkan oleh
UG QA/QC Engineering Service. Apabila campuran tidak memenuhi
standar yang telah ditetapkan, maka campuran semen grouting tidak
boleh digunakan.
Catatan :
Lakukan prosedur pengangkatan atau lifting yang benar sewaktu
menaikkan semen kedalam flatdeck.
Pada saat membuka kantong semen dan kantong Grouting Pump
GP2000 Hydraulic Power dengan Getman A-64 Flatdeck maka pekerja
harus berhati-hati.
Pekerja harus menggunakan Alat Pelindung Diri, serta melihat
lembaran MSDS mengenai bahaya penggunaan semen.

b. Prosedur Selama Melakukan Pekerjaan Grouting :


1. Memasukkan semen dan flowcable kedalam hopper, pekerja tidak
boleh membuka penutup hopper dan tidak boleh memasukkan tangan
kedalam hopper.
2. Memasukkan semen grouting kedalam auger, penutup auger harus
selalu dalam posisi tertutup, tidak boleh memasukkan tangan kedalam
auger.
3. Mematikan sumber energi saat mendorong semen yang menumpuk
dibelakang auger dan tidak boleh memasukkan tangan kedalam auger.
Catatan :

Gunakan alat bantu untuk mendorong sisa semen yang menumpuk


dibelakang auger jangan memasukkan tangan kedalam auger karena
terdapat bahaya perputaran auger.

4. Memasukkan semen grouting kedalam lobang bor menggunakan


selang (hose) yang ukurannya sesuai dengan lobang bor tersebut.
Gunakan sesedikit mungkin alat penghubung selang (joint). Selang
harus ditarik kembali secara perlahan-lahan dalam proses tersebut,

75
guna memastikan lobang bor tersebut telah berisi sejumlah semen
grouting yang cukup untuk menahan dan mengikat thread-bar.
 Catatan :
Posisi pekerja yang akan mengisi semen grouting kedalam
lobang bor vertikal, dilarang berada tepat dibawah lobang yang
akan dilakukan pekerjaan grouting ini. Pekerja harus berdiri
disamping lobang tersebut, berkisar antara 40 – 50 cm jarak
mendatar, yang bertujuan untuk menghindari kejatuhan semen
grouting dan mencederai mata atau lainnya.

5. Memasukkan thread-bar kedalam lobang bor dengan hati-hati karena


semen grouting yang tertekan akan keluar dari lobang bor dan dapat
mengakibatkan luka atau cedera pada mata. Jika thread-bar yang
sudah terpasang menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari lobang,
thread-bar tersebut harus ditahan ditempat dengan menggunakan baji /
pengganjal (wedge) dipinggir / collar lobang tersebut. Memastikan stick
out (bagian thread-bar yang menonjol keluar) dengan panjang 15 cm.
Catatan :
Alat bantu untuk mendorong thread-bar menggunakan pipa pendorong
(pusher). Tidak diperbolehkan menggunakan split set sebagai alat
bantu.
Posisi pekerja yang akan memasukkan thread-bar kedalam lobang bor
vertikal, pekerja dilarang berada tepat dibawah lobang yang akan
dilakukan pekeerjaan grouting ini. Pekerja harus berdiri disamping
lobang tersebut, berkisar antara 40-50 cm jarak mendatar serta
melakukan pembengkokkan (bending) thread-bar atau memasang
minimal 2 spider secara menyilang pada thread-bar yang bertujuan
untuk menghindari kejatuhan thread-bar.

c. Prosedur Penggunaan Lifting Equipment Untuk Pekerjaan Grouting


Apabila menggunakan lifting equipment jenis Getman Scissor Truck,
Telehandler maupun IT 930H untuk membantu pekerjaan grouting, Operator

76
lifting equipment harus mengikuti SOP tentang pengoperasian pengangkatan
orang dan mas basket.

d. Prosedur Penyelesaian Pekerjaan Grouting :


1. Membersihkan tumpahan semen grouting yang masih ada diatas Getman
Flatdeck dan/atau dilantai kerja lainnya.
2. Membersihkan selang (hose) semen grouting dan tempat kerja, paling
sedikit dilakukan oleh dua (2) orang. Satu pekerja memegang selang
sedangkan yang lainnya membuka valve (katup) dan meneymprotkan
dengan air. Kondisi bersih tercapai apabila air yang masuk dalam hopper
sama jernihnya dengan air yang keluar dari pembuangan.
3. Setiap membuka penutup hopper harus memegang handle kemudian
mengkaitkan lock chain agar tidak menjepit bagian tubuh. Jangan
menggunakan tali untuk menahan penutup hopper.
4. Membersihkan Grouting Pump Hydraulic Power dengan Getman A-64
Flatdeck dengan langkah sebagai berikut :
 Posisikan diverter valve di Getman dan selector valve di Grout
Pump dalam posisi off.
 Mematikan mesin Getman dan master switch baterai dalam
posisi off
 Membersihkan unit grouting pump menggunakan air.
 Tidak menggunakan tangan saat membersihkan auger.
Memastikan alat bantu tidak masuk dalam auger.
Catatan :
Gunakan alat bantu untuk mendorong sisa semen yang
menumpuk dibelakang auger jangan memasukkan tangan
kedalam auger karena terdapat bahaya perputaran auger
5. Membersihkan lokasi pekerjaan dari kantong bekas semen, flowcable dan
jika masih ada sisa material, maka harus dikembalikan lagi ke material
storage yang ditentukan.

e. Prosedur Pengencangan Dome Plate dan Nut

77
1. Pengencangan Plate dan Nut bisa dilakukan 2 x 24 jam setelah
pemasangan thread-bar.
2. Pengencangan Plate dan Nut menggunakan Wrench Impact :
 Menyambung hose angin ke wrench impact dengan safety chain /
whip check dan safety pin.
 Menyambung Dolly Extension ke Wrench Impact dengan
memasang safety pin agar tidak lepas saat dipakai untuk
mengencangkan nut dan plate.
 Mengencangkan plate dan nut menggunakan Wrench Impact.
3. Pengencangan Plate dan Nut menggunakan Jumbo Thread Bar Nut
Adapter.
 Memasang adapter ke drifter hanya menggunakan rotasi
 Mengencangkan plate dan nut hanya menggunakan rotasi

Gambar 13. Pompa Grouting Bahan Kimia

78
Gambar 14. Pompa Grouting Tekanan Tinggi (High Pressure)

Gambar 15. Ukuran standar Pusher

79
NOMOR PERCOBAAN 9

PENYANGGAAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEMASANGAN PENYANGGA KAYU & PENYANGGA BESI

1. Nomor Percobaan : 09
2. Nama Percobaan : Penyanggaan Dengan Menggunakan Besi (Steel Set)
dan Kayu (Timber Set) di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pekerjaan pemasangan penyangga besi atau
kayu di TBT dengan aman dan selamat.
4. Alat dan bahan : Besi H-beam, I-beam, balok kayu ukuran 25 cm x 25
cm, wedge (baji / pasak), kayu ukuran 10 cm x 10 cm
5. Prosedur Praktikum :
I. Definisi :
a. Cap – Bisa berupa kayu atau besi. Cap berfungsi untuk menyerap
tekanan yang datangnya dari atas (atap batuan) melalui stringer, bridge
cap dan cribbing. Jika cap menggunakan besi, maka harus memiliki 4
(empat) lobang sekrup pada setiap ujungnya, jika digunakan dengan post
dari besi.
b. Stringer – Harus dipasang mendatar diatas Cap melintang diantara
pasangan satu set dengan lainnya, diletakkan tepat diatas Post bukan
diantara Post. Dengan memasang Stringer seperti ini, jika ada tekanan
dari atasnya akan diteruskan langsung menuju Cap dan kedua Post. Hal
ini dapat mencegah rusak/patahnya Cap. Penempatan Stringer diantara
Cap dan diantara kedua Post dapat menyebabkan patahnya Cap apabila
terjadi tekanan dari atas
c. Bridge Cap – Harus dipasang melintang mendatar dan sejajar dengan
Cap jadi pada posisi sudut kekanan (90 derajat) terhadap Stringer.
Pecahnya jembatan Cap (Bridge Cap) menunjukkan adanya tekanan dari
atas.
d. Posts – Merupakan sistim penyangga utama dan menopang seluruh
tekanan yang ada. Post bisa berupa kayu atau besi. Jika post berupa besi,

80
maka ia harus memiliki empat lobang baut pada bagian ujungnya yang
akan berhubungan dengan lobang baut yang ada pada Cap besi. Post
harus dipasang pada sudut tertentu, menyandar pada sisi kanan/kiri dari
drift (terowongan). Sudut ini disebut “batter”. Untuk “batter” yang benar,
sebuah “plumbob” sepanjang 2 feet atau disebut “level” diberdirikan tegak
lurus pada suatu lokasi Post, paling tidak sejauh jarak 4 inchi dari Post
pada bagian dasar dari “plumbob atau level”. Hal ini dapat menambah
besarnya kekuatan daya dukung daripada memasang Poswt dengan
posisi tegak lurus.
e. Kicker, Bottom, Spreader, Knee, Brace, Collar Brace – Dipasang
diantara Post ke Post lainnya yaitu pada bagian bawah, tengah dan
diantara Cap yang ada diatas Post, hal ini dimaksudkan untuk
menstabilkan Post dan konstruksi itu secara keseluruhan.
f. Jacket Set & Squeeze Block – Merupakan suatu bagian konstruksi yang
berfungsi untuk menyerap tekanan dari samping, sehingga tidak
menyebabkan rusak/patahnya Post.
g. Booms – Merupakan tiang besi yang dapat dipanjangkan / disorongkan
dipasang dibawah konstruksi yang sudah ada. Tiang besi itu bisa ditarik /
didorong kembali untuk memasang Cap pada posisinya, dan tetap
dipasang untuk menahan Cap sampai pemasangan Post selesai
dilakukan. Boom mungkin akan masih tetap dipasang sementara untuk
menahan batuan apabila hal itu diperlukan.
h. Boom Hanger – Merupakan alat gantung / siku-siku untuk Boom yang
dipasang pada Cap untuk menahan Boom tersebut. Mereka dipakai dalam
bentuk pasangan, dan dapat membuat Boom itu dapat didorong atau
ditarik selama pemasangan Cap tersebut. Jika dilakukan penyanggaan
yang lama seharusnya dipasang pada bagian belakang dari Cap.
i. Hanger Bracket – Terdiri dari dua “rock bolt” (baut batuan) dan sebuah
“steel plate” ) lempeng besi) yang digunakan untuk menahan dua Cap
pertama yang berurutan pada tempat itu sampai pemasangan “lagging
dan post” selesai dilaksanakan.

81
j. Lagging – Merupakan material yang digunakan diatas Cap, dan diantara
serta disamping Post, untuk meneruskan tekanan yang berasal dari
belakang atau samping yang menekan Cap dan Post.
k. Site Preparation – adalah persiapan awal pekerjaan disuatu daerah yang
baru akan dibangun concrete. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan
pemasangan penerangan, power listrik termasuk pekerjaan sub-base
clean up sesuai standar quality yang sudah ditetapkan.
l. Lean Concrete (Lantai Kerja Beton) adalah pekerjaan pembetonan awal
pada lantai yang merupakan lantai kerja sekaligus sebagai bagian dari
struktur beton lantai.
m. Concrete Slab (Beton Lantai) – adalah pekerjaan terakhir dari struktur
lantai beton, dimana beton ini akan berfungsi sebagai permukaan jalan.
n. Concrete Wall adalah pekerjaan pengecoran pada dinding-dinding
disepanjang drift, dinding beton ini berfungsi untuk menahan beban dari
batuan disepanjang dinding terowongan, juga sebagai bagian dari struktur
penahan beton diatasnya.
o. Lintel Set – adalah pekerjaan pemasangan struktur baja pada daerah
drawpoint yang tujuannya adalah untuk menahan beban dan keausan
pada ujung penampang drawpoint pada saat proses produksi berlangsung
p. Concrete Roof – adalah pekerjaan pengecoran pada bagian atap (back /
roof) dari terowongan disepanjang atap terowongan, beton ini berfungsi
untuk menahan beban dari batuan bagian atas terowongan.
q. Wall & Roof Formwork – adalah pekerjaan pemasangan bekisting /
cetakan untuk menahan beton saat dituang / pouring. Formwork ini dibuat
sedemikian sehingga bentuk akhir dari penampang terowongan / drift
sesuai dengan disain, formwork ini terdiri dari beberapa bagian yaitu form
drift dan shorring. Drift adalah bagian terluar dari sistim formwork yang
kontak langsung dengan beton sedangkan Shorring adalah struktur yang
menahan drift berikut beton saat pengecoran.
r. Stripping Formwork – adalah pekerjaan melepaskan formwork pada
dinding dan atap drift setelah selesai pengecoran.
s. Stripping Formwork – adalah pekerjaan melepaskan formwork pada
dinding dan atap drift setelah selesai pengecoran,

82
t. Contact Grouting – adalah pekerjaan terakhir pada pembangunan
concrete roof / atap, dimana contact grouting berfungsi untuk mengisi
void / gap atau celah kosong diantara beton dan batuan yang mungkin
terjadi karena permukaan atap tidak rata.

II. Persiapan Tempat Kerja

a. Periksa kondisi jalan masuknya, batuan dan konstruksi yang ada pada lokasi
yang akan dilakukan pekerjaan ini.
b. Pada suatu lokasi yang baru selesai diledakkan harus dilakukan pengguguran
batuan dengan menggunakan “scaling bar” yang sesuai, dan ikuti prosedur
“barring down” dengan benar. Tidak seorangpun diiznkan bekerja dibawah
kondisi batuan yang tidak berpenyangga.
c. Pada daerah dimana konstruksi penyangga ini akan didirikan harus diperiksa
ada tidaknya bagian-bagian drift yang menonjol, jika ada harus diledakkan
pada tempat itu. Gunakan alat bor dengan “drill steel” panjang apabila titik
yang akan diledakkan itu berada dibawah konstruksi yang sudah ada. Boom
dapat dipanjangkan dan dibiarkan terpasang untuk perlindungan sementara
terhadap batuan yang belum berpenyangga. Gunakan sebuah pipa plastik,
dengan panjang yang sesuai untuk menjaga agar pekerja selalu berada
dibawah batuan yang berpenyangga, saat ia mengisi lobang bor dan
meledakkan lobang bor itu.
d. Setelah semua bagian yang menonjol tadi diledakkan, lakukan pengguguran
terhadap batuan yang mudah runtuh.

83
Gambar 1. Penyangga Kayu 3 (Tiga) Set

III. Pemasangan Set Pertama Pada Suatu Rangkaian Seri Penyangga

Untuk pemasangan satu set rangkaian, dua set harus dipasang terlebih dahulu
untuk menyediakan suatu dasar/mula dari pemasangan “boom hangers”, “boom”
dan “lagging”.

Kedua set itu harus dipasang dengan jarak yang sama dengan kemajuan
pemasangan set selanjutnya, tetapi tidak boleh kurang dari jarak satu meter,

a. Suatu seri pemasangan konstruksi besi atau balok kayu harus dimulai
dibawah lokasi batuan yang bagus/kuat. Lokasi itu harus sudah dipasang rock
bolt sesuai dengan rencana, dan semua material yang mudah runtuh telah
digugurkan.
b. Pastikan bahwa lokasi tersebut sudah sesuai ukurannya untuk dipasang
konstruksi penyangga dengan ukuran yang telah direncanakan.
c. Tentukan dan beri tanda pada bagian atas drift dimana setiap Cap itu akan
dipasang.
d. Buat lobang bor untuk dipasang rock bolt, untuk “hanger brackets”, pada
setiap kedua sisi dari lokasi yang telah ditandai itu. Semua ini sudah harus
dipasang terlebih dahulu, sehingga tidak mengganggu pada saat
pemasangan Post atau Boom Hanger, kurang lebih berjarak 2 feet dari setiap
ujung dari Cap.
e. Gunakan satu unit Loader (LHD), angkat Cap kedua (bagian depannya)
kelokasi yang dimaksud. Posisi Cap harus betul-betul aman diposisi bucket
loader untuk mencegah terjadinya pergeseran atau terjatuh. Saat Cap itu
sudahn pada tempatnya dengan tinggi dan sudut posisi yang diinginkan,
maka pasang baut “hanger bracket” pada tempatnya. Sebelum pemasangan
hanger bracket, semua orang harus berada dilokasi yang aman sampai Cap
itu terpasang pada posisinya dan juga dipasang rem pada loader yang
dipakai,
f. Ulangi prosedur ini pada pemasangan Cap pertama (bagian belakang) pada
tempatnya.

84
g. Dengan kedua Cap sudah pada tempatnya dengan disangga hanger bracket,
maka pasang “lagging” terhadap bagian atas drift. Selanjutnya sisakan / buat
ruangan untuk boom hangers. Post dapat dipasang ditempatnya dengan
menggunakan prosedur pemasangan Post (bagian E).
h. Apabila Post telah dipasang, maka segera ikat Post kedinding dirft dengan
bantuan rock bolt. Pqasang “kickers, bottom spreaders, knee braces, dan
collar braces” dan boom”. Tahan “boom hanger” ditempatnya dengan
menggunakan sedikitnya dua pasak/ganjal sehingga mereka dengan mudah
dikeluarkan saat berikutnya. Pasangkan/baringkan “booms” pada tempatnya
di “boom hanger” (alat penggantung boom).
i. Ketika menggunakan konstruksi besi/steel-set yang bisa diikat bersama
dengan baut sebelum dilakukan pemasangan, dan saat ruangannya
mengizinkan, maka seluruh set pasngan itu dapat diangkut ketempat yang
telah ditetapkan dan ditahan dengan “hanger bracket” sampai selesai
pemasangan “lagging” dan pengikatan. Steel-set kedua harus diletakkan
pertama kali.

Gambar 2. Penyangga Besi Jenis “Arch Set”

IV. Pemasangan Cap

85
Ada 2 (dua) cara yang telah disetujui didalam cara penempatan Cap pada
posisinya. Cara yang digunakan itu ditentukan oleh kondisi dan jarak ruangan
yang tersedia di lokasi tersebut. Metode-metode ini adalah menggunakan
satu Loader (LHD) atau dua Cap Pulley untuk mengangkat Cap tersebut.
Catatan :Stringer harus dimajukan dan di “lagging” dipasang hingga mencapai
atap (roof/back) sebelum cap dinaikkan pada posisinya pada semua kondisi
batuan

Pemasangan dengan LHD

Untuk operasi ini, tumpukan muck dari hasil peledakan harus dikeluarkan, dan harus
ada sedikitnya jarak ruang 5 feet didepan set/konstruksi yang terakhir.

a. Seorang pengawas/foreman harus secara langsung memberikan pengarahan


pada proses pemasangan ini.
b. “Boom hanger” dan “boom” harus diposisikan / diletakkan pada dua cap
terakhir yang sudah ada, dan berikan ruang untuk memudahkan bucket
loader melewati diantaranya.
c. Cap, dengan panjang yang diinginkan, harus diletakkan ditengah posisi
bucket loader / LHD, dengan suatu sudut tertentu sehingga bisa melalui ruang
konstruksi yang telah ada.
d. Cap harus diamankan terhadap bahaya jatuh dari bucket dengan
menggunakan “sling” yang diikat ditengah Cap dan bagian atas tengah dari
bucket. Sling itu berukuran panjang maksimum 4 (empat) feet.
e. Operator Loader mengarahkan/membawa Cap melalui konstruksi yang ada,
melewati Cap yang terdepan. Gunakan sisi drift dan post yang sudah berdiri
untuk menurunkan Cap, selanjutnya diposisikan tegak lurus dan ditengah
diatas bucket. Selanjutnya Cap diangkat sampai diatas posisi Cap
didepannya.
f. Hanya operator Loader/LHD dan Foreman yang bertugas yang diizinkan
berada dilokasi kerja saat operasi pemasangan ini berlangsung. Foreman
harus selalu berada ditempat yang aman dari jangkauan pergerakan bucket
loader.

86
g. Setelah rem loader dipasang, para pekerja lainnya boleh memasuki lokasi
untuk mendorong “boom” kira-kira sepanjang 1,5 meter kedepan dari Cap
yang paling depan. Setelah “boom” didorong, dan semua pekerja berada
dilokasi aman, maka Cap diturunkan keatas “boom”. Selanjutnya “safety sling”
(tali pengaman) boleh dilepaskan dari Cap.
h. Dengan posisi Cap diatas Boom, maka LHD digunakan untuk mengangkat
Boom dlam memposisikan dan meluruskan. Sebuah balok kayu diletakkan
melintang bucket, diantara buket dan boom. Selanjutnya Boom ditahan /
diganjal ditempat “boom hanger”. Sedikitnya dua pasak/ganjal harus
digunakan ketika menahan Boom itu.
i. Cap boleh diposisikan dengan menggunakan bar kedepan ke posisi yang
tepat.
j. Pasang “lagging” dari set/konstruksi yang sudah ada sampai perpanjangan
“boom cap”/ “Lagging” sementara dapat dipasang pada “boom” untuk
pengamanan batuan.

87
Gambar 3.

Nama-nama bagian dari Penyangga Kayu / Besi

Gambar 4. Penyangga Kayu Tiga Set

88
Gambar 5. Penyangga Kayu Lima Set

Gambar 6. Penyangga Besi di Panel & Drawpoint

Gambar 7. Penyangga Besi Tiga Set

89
Gambar 8. Penyangga Kayu Lima Set

Gambar 9. Penyangga Besi Jenis Busur (Arch Set)

90
Gambar 10. Penyangga Besi Lima Set

Gambar 11. Penyangga Besi Sedang Dipasang

91
Gambar 12. Penyangga Besi Yang Belum Dicor Dengan Semen Concrete

Gambar 13. Penyangga Besi Yang Sudah di Cor dengan Semen Concrete

92
NOMOR PERCOBAAN 10

PEMBORAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEKERJAAN PEMBORAN MENGGUNAKAN MESIN BOR JACK LEG

1. Nomor Percobaan : 10
2. Nama Percobaan : Pemboran Dengan Menggunakan Mesin Bor Manual
Jack leg (Hand held drill machine) di TBT
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pekerjaan pemboran dengan menggunakan
mesin bor manual Jack Leg..
4. Alat dan bahan : Mesin bor jack leg, batang bor (drill rod), selang (hose),
tempat oli (oiler), kompresor.
5. Prosedur Praktikum :
A. Persiapan
a. Periksalah sirkuit peledakan untuk memastikan rangkaian itu belum dialiri
listrik dan telah di-shunted (dihubungkan / dililitkan kedua ujung kebale
sirkuit tersebut), sesuai kebutuhan.
b. Pastikan area kerja ber-ventilasi dengan baik.
c. Periksalah adanya batuan longgar dibagian rib dan back dari jalan masuk
face dan lakukan tindakan perbaikan seperlunya
d. Bebaskan jalan orang dari bahaya yang menyebabkan tersandung dan
terpeleset
e. Untuk Development Heading (pemboran pembuatan terowongan),
siramlah dengan air di face (muka kerja), back (atap, roof), rib (dinding)
dan muckpile (tumpukan muck). Segera melaporkan kondisi misfire yang
jika ditemukan kepada supervisor.
f. Jika pekerjaan pemboran dilaksanakan dikawasan dimana bahaya jatuh
juga merupakan bahaya, tutuplah opening (lobang bukaan) apabila
mungkin, dan selalu menggunakan Alat Pelindung Jatuh (Full Body
Harness).

B. Bahaya Umum

93
a. Jangan melakukan pemboran pada face yang belum disiram /
dicuci dan diperiksa.
b. Jangan melakukan pemboran pada bootleg atau dalam jarak 15 cm
disekeliling bootleg.
c. Jangan melakukan pemboran pada face yang mengandung misfire.
Bersihkan atau ledakan misfire sesuai petunjuk supervisor.
d. Jangan melakukan pemboran pada atau disekitar burn cut.
Pindahkan lokasi burn cut dengan jarak kesemua sisi paling sedikit
30 cm.
e. Jangan berdiri didepan mesin yang sedang digunakan dalam
pemboran. Batang bor yang patah dapat mengakibatkan cedera
serius pada orang yang berada didepan mesin.
f. Jangan meninggalkan air leg tidak dijaga orang pada saat
pemboran sedang dilakukan.
g. Jangan berdiri, duduk, atau menunggangi air leg mesin bor atau
berdiri di belakang air leg. Rencanakan tindakan yang harus
dilakukan apabila air leg terpeleset atau bila batang bor (drill steel /
drill rod) patah. Tetaplah menempatkan diri pada posisi yang aman.
h. Waspadalah tempat-tempat yang dapat menyebabkan terjepit;
seperti diantara pipa air dan udara yang bengkok (gose-neck),
disekitar steel retainer dan diantara bagian bawah mesin dengan
gose-neck utama.

C. Pemboran
a. Pemasangan (Set-up)
 Sebelum dihubungkan dengan mesin, tiuplah selang air dan
selang udara untuk memastikannya bersih dari kotoran.
 Jika selang air dan udara bocor, perbaiki terlebih dahulu
seblum mulai melakukan pemboran. Jangan mencoba
memperbaiki kobocoran selang dengan mengikatnya dengan
pita, kabel atau sarung tangan.

94
 Pastikan terdapat katup penutup/pemutus aliran udara
darurat diantara selang udara utama dengan mesin bor,
dengan jarak maksimum 5 meter (16 feet).
 Hubungkan semua rantai pengaman pada mesin dan semua
sambungan selang udara.
 Jangan mengebor tanpa air karena tindakan tersebut dapat
merusak mesin dan dapat menimbulkan debu.
 Periksa tabung air, sisi rod dan handel spring
 Sebelum collaring, operasikan mesin tanpa drill steel (batang
bor) dibagian chuck untuk memastikan mesin sudah
berminyak dan ada air. Hal ini juga akan membersihkan
kotoran didalam chuck.

Gambar 1. Mesin Bor Jackleg dan Perlengkapannya

b. Pemboran awal / Collaring

95
 Waspadalah, getaran bor dan air dapat melonggarkan posisi
batuan, maka sering-seringlah memeriksa adanya batuan
longgar ketika melakukan pemboran.
 Lokasi pemboran harus selalu bebas dari bahaya
tersandung.
 Jangan ragu-ragu untuk menghentikan mesin dan
melakukan perbaikan apabila dirasakan perlu.
 Setelah collar terbentuk, atur posisi mesin dan buka udara
semaksimal mungkin namum tidak menimbulkan lonjakan
pada mesin dan getaran pada batang bor (drill rod). Aturlah
tekanan feed agar sesuai dengan kebutuhan.
 Lakukan pemeriksaan pada selang udara dan hubungan
rantai pengaman secara berkala.
 Jangan memaksa batang bor (drill rod), terutama pada
batuan lunak, untuk mencegah macet/lengket atau
penyumbatan.
 Jagalah sudut arah pemboran dengan cara mengatur air leg
sehingga keseimbangan gerak keatas dan kedepan mesin
terjaga/sesuai.
 Pastikan kaki mesin jeck leg (air leg) memperoleh pijakan
yang baik, terutama ketika melakukan pemboran pad lobang
– lobang bagian bawah.
 Bila batang bor (drill steel / rod) patah ketika sedang
melakukan pemboran, maka segera lepaskan mesin bor dan
menyingkirlah.
 Ketika sedang mengebor, juru bor kemungkinan mengalami
masalah (kejatuhan batu, mesh/support tidak stabil) yang
akan membuat batang bor macet, menyebabkan pergerakan
tidak semestinya dan kehilangan kontrol pada mesin jackleg.
Maka lepaskan mesin jackleg, menjauh dan matikan udara.
 Setelah sebuah lobang selesai dibor, maka pindahkan mesin
keposisi lobang berikutnya. Ketika memindahkan mesin bor

96
jackleg, ikutilah prosedur pengangkatan yang benar. Hati-
hati terhadap bahaya terjepit.
 Ketika mengebor, peganglah mesin pada handelnya agar
tangan tidak lecet atau luka.
 Berilah tanda (loading pole) pada setiap lobang yang sudah
selesai dibuat

Gambar 2. Mesin Bor Jackleg

D. Penyelesaian pekerjaan
a. Matikan udara dan air yang menuju mesin.
b. Matikan keran (valve) selang utama udara (air hose) dan keran
selang utama air (water hose).
c. Kosongkan tekanan saluran udara yang menuju mesin.
d. Lepaskan selang dari mesin dan tutuplah atau sumbatlah inlet
(jalan masuk) udara dan air dengan kain lap atau bahan lain yang
bersih untuk mencegah masuknya kotoran ke mesin. Simpanlah
mesin jackleg, selang, dan perlengkapan lain secara rapi disuatu

97
tempat yang aman dari lokasi peledakan dan travelways / jalan
orang.

98
NOMOR PERCOBAAN 11

PEMBORAN TAMBANG BAWAH TANAH

PEKERJAAN PEMBORAN MENGGUNAKAN MESIN BOR JUMBO

1. Nomor Percobaan : 11
2. Nama Percobaan : Pemboran Dengan Menggunakan Mesin Bor Jumbo
3. Tujuan Praktikum :
Praktikan dapat melakukan pekerjaan pemboran dengan menggunakan
mesin bor Jumbo.
4. Alat dan bahan : Mesin bor Jumbo.
5. Prosedur Praktikum
Tindakan Pencegahan Umum :
 Operator dan instruktur harus memiliki lisensi (izin mengoperasikan)
yang sah dan telah mengikuti pelatihan (training).
 Peserta pelatihan harus didampingi oleh operator yang berwenang dan
tersertifikasi serta selalu berada diarea pelatihan hingga selesai.
 Kacamata pengaman dan pelindung pendengaran harus selalu
digunakan saat mengoperasikan unit jumbo.
 Dilarang menangani kabel power jumbo yang sedang bermuatan arus
listrik.
 Dilarang menempatkan anggota tubuh dibagian depan jack ketika
pemboran sedang berlangsung karena beresikoterjerat oleh bagian
yang bergerak atau berputar.
 Dilarang memasuki area yang belum disangga.
 Melakukan pemeriksaan konsentrasi gas diarea kerja dengan
menggunakan portable gas detektor sebelum melakukan pemboran
 Setiap melakukan putaran boom jumbo harus disiram, dilakukan
scaling, dan disangga sesuai dengan disain rencana penyangga
batuan area tertentu.
 Menggunakan tiga titik kontak pada saat menaiki atau menuruni kabin
jumbo

99
 Offsider / helper harus memastikan adanya komunikasi yang jelas
kepada operator jumbo untuk menghindari potensi cedera serius dan
kematian yang disebabkan adanya resiko tertarik batang bor (drill
steel) yang berputar dan pada saat memasuki daerah bahaya.

Gambar Mesin Bor Jumbo

Prosedur :

A. Pemeriksaan sebelum pengoperasian mesin bor Jumbo.


Melakukan pemeriksaan sebelum pengoperasian mesin bor Jumbo (gunakan
Jumbo Pre-Operating Check List)
B. Pemeriksaan sebelum menjalankan kendaraan / mengaktifkan power
mesin
1. Melakukan pemeriksaan diarea sekelilingnya, pastikan tidak ada orang
yang berada diarea leintasan mesin bor.
2. Pastikan kabel power telah digulung kedalam reel gulungannya.
3. Bunyikan klakson panjang (1) satu kali sebelum menghidupkan mesin bor

100
4. Setelah mesin bor aktif, periksa semua panel indikator penunjuk tekanan
dalam kondisi normal untuk dioperasikan
5. Periksa ketinggian oli transmisi pada dipstick.
6. Pastikan posisi boom siap untuk memulai menjalankan mesin bor dan
semua selang (hose) bertekanan dalam posisi menggantung (tidak
menyentuh lantai).
7. Angkat “jack stabilizier / outrigger” ke posisi atas dimulai dari sisi belakang
terlebih dahulu kemudian dilanjutkan di sisi depan.
8. Mengubah tuas reel penggulung kabel dari otomatis ke posisi netral.

Gambar Mesin Bor Jumbo

C. Pengujian sistim pengeremen


1. Beberapa tahapan pengujian sistim pengereman
a. Rem Parkir :
 Pastikan rem parkir terpasang
 Aktifkan / hidupkan power mesin bor dan biarkan mesin
beroperasi hingga temperatur oli transmisi mencapai kondisi
normal.

101
 Pastikan gigi persneling pada posisi #1 dan putaran maksimum
mesin yang diperbolehkan adalah 1500 rpm.
 Mesin bor harus dalam kondisi tidak bergerak.
b. Rem Kaki :
 Injak pedal rem
 Pindahkan gigi persneling pada posisi #2 dan putaran mesin pada
kondisi maksimum yang sesuai.
 Mesin bor harus dalam kondisi tidak bergerak.

D. Menjalankan kendaraan (Tramming)


1. Lampu berkendara harus menyala setiap saat termasuk lampu tambang
yang digunakan operator.
2. Boom harus pada posisi tramming setiap saat dan periksa kondisi boom
secara berkala saat unit jumbo sedang bergerak dan dilarang menyeret
selang (hose) penggerak tenaga jumbo (selang hidrolik, selang air atau
selang angin).
3. Selama tramming, posisi feed harus berada diatas boom. Fedd harus
berada pada posisi belakang dan pada bagian ujung belakangnya

102
diturunkan menuju boom. Dengan demikian, posisi feed terlindung dari
gerakan yang tidak diperlukan.
4. Operator harus menggunakan sabuk pengaman dan sebelum rem
pengaman di non-aktifkan. Operator selalu berada kursi pengemudi
selama menjalankan alat.
5. Selalu bunyikan klakson peringatan 2 kali sebelum bergerak maju dan
klakson peringatan 3 kali sebelum mundur. Bunyikan klakson ketika
mendekati persimpangan atau area pejalan kaki (pedestrian).
6. Penumpang tidak diperbolehkan berada dikabin operator ketika mesin bor
bergerak (tramming) kecuali tersedia tempat duduk kedua dan
penumpang telah mengerti adanya potensi bahaya terjepit.
7. Selalu melihat kearah depan dan memastikan jalanan bebas dari
penghalang.
8. Sebelum merubah arah perjalanan, operator harus menunggu hingga unit
jumbo telah berhenti dengan sempurna.
9. Mengemudikan kendaraan dimulai dari gigi persneling rendah dan
memindahkannya ke posisi yang lebih tinggi sesuai dengan kondisi jalan.
Selalu menggunakan gigi persneling yang sesuai.
10. Menghentikan laju kendaraan dengan menurunkan kecepatan mesin dan
menggunakan rem kaki. Jangan menginjak pedal rem terus menerus saat
menjalankan kendaraan.
11. Selalu mengemudikan unit jumbo dengan benar, jangan biarkan diluar
kendali operator.
12. Jangan mengoperasikan melampaui sudut kemiringan yang telah
direkomendasikan oleh produsen kendaraan.
13. Jangan menggunakan rem pengaman untuk menghentikan kendaraan
pada situasi apapun kecuali dalam kondisi darurat.
14. Apabila power mesin mati pada saat pengoperasian, segera aktifkan rem
pengaman dan arahkan posisi jumbo ke rib secepatnya.

E. Penyambungan Listrik :
1. Parkir posisi jumbo kearah sumber listrik (Jumbo box)

103
2. Pasang sign yang sesuai dan barikade dilokasi yang diperlukan (jalan
masuk)
3. Tarik keluar kabel listrik dan kaitkan kabel anchor ke titik anchor
4. Tuas penggulung kabel otomatis harus dipindahkan ke posisi sesuai. Saat
jumbo bergerak menuju face, tuas tersebut pada posisi netral.
5. Arahkan posisi unit jumbo ke face. Semoga pihak kecuali operator
dilarang berada atau berdiri di belakang unit jumbo.
6. Ketika unit jumbo tiba diarea di face, turunkan jack stabilizer (outrigger)
dan matikan power mesin.
7. Menggantung kabel listrik dibelakang jumbo menuju sumber listrik (jumbo
box) menggunakan gantungan berpelindung berbentuk huruf C atau tipe
lainnya yang direkomendasikan oleh pihak listrik.
8. Memastikan saklar isolator utama pada jumbo box dalam posisi “OFF” dan
kemudian masukkan plug.
9. Mengubah saklar isolator utama pada jumbo box ke posisi “ON”

Gambar Electric Starter Tegangan 1000 Volt untuk Mesin Jumbo

104
F. Menyiapkan Pompa Flyght
1. Mengikuti praktek penerapan terbaik dalam memindahkan setiap pompa.
2. Pastikan pompa diarahkan kedalam socket pompadi unit jumbo.
3. Ketika pompa telah ditempatkan dilokasi terdekat yang akan dipasang,
pasang unit bullhose ke pompa serta pindahkan ke area yang aman untuk
dioperasikan.
4. Ketika memindahkan pompa dimana unit bullhose terpasang, maka dapat
berpotensi resiko tercantol pada material muck. Apabila demikian,
operator harus memundurkan unit jumbo dan menempatkan selang pada
posisi aman untuk menghindari potensi resiko cedera atau kerusakan
pompa.
5. Meletakkan pompa pada posisi bebas dari kerusakan yang mungkin
terjadi selama aktifitas scaling dilakukan.

G. Pengeboran
1. Posisikan jumbo agar gerakan boom dapat mencapai semua permukaan
face.
2. Pasang rem pengaman, turunkan semua jack stabilizer dan matikan
power mesin.
3. Periksa semua tuas kontrol hidrolik dalam posisi netral.
4. Memeriksa dan menyambung selang angin dan air. Gunakan rantai
pengaman untuk semua sambungan selang angin.
5. Collaring lobang harus dilakukan dengan mengurangi tekanan feed dan
tekanan perkusi untuk menghentikan kesalahan.
6. Melakukan pengeboran kearah lifter terlebih dahulu. Selalu pasang unit
polytube pada lobang lifter.
7. Suplai air harus selalu digunakan selama tahapan proses pengeboran.
8. Selalu gunakan silinder tambahan feed untuk mendorong posisi feed
kearah batuan,
9. Jangan tinggalkan drill steel string dalam kondisi tidak berpenyangga pada
lobang atas pengeboran.

105
10. Selama proses pengeboran lobang perimeter, hindari unit drifter, middle
centralizer dan hose reel menyentuh batuan untuk menghindari kerusakan
feed dan property lainnya.
11. Jangan mengebor dengan satu boom diatas boom lainnya karena terdapat
potensi bahaya batuan jatuh.
12. Tidak dibenarkan orang bekerja didepan jack saat boom drill sedang
dioperasikan kecuali diizinkan oleh operator terkait untuk melakukan
pengujian dan penyesuaian.
13. Jangan melakukan pengeboran dalam jarak 15 cm (0,5 ft) dari bootleg /
butt, 30 cm (1 ft) dari lobang yang sebelumnya serta pada jarak 1 meter
dari misfire, ikuti prosedur penanganan misfire dan persiapan face
sebelum melakukan pengeboran.
14. Pengeboran dan pengisian bahan peledak tidak boleh dilakukan secara
bersamaan pada face yang sama dalam jarak horizontal 8 meter.
15. Operator jumbo harus memastikan posisi offsider / helper pada kondisi
aman setiap saat.

106
H. Pemasangan material penyangga batuan (mesh dan bolt)
1. Ketika melakukan aktivitas scaling batuan dilakukan dengan acuan pada
prosedurnya.
2. Selalu menjaga jarak aman bagi offsider untuk memasang split set pada
area feed.
3. Melakukan pengeboran tegak lurus pada face dan dengan panjang yang
tepat sesuai persyaratan sistem penyanggaan batuan.
4. Melakukan pengeboran dengan ukuran 100 mm lebih dalam dari bolt yang
akan dipasang.
5. Jangan melakukan pengeboran dengan kedalaman 150 mm dari
bootleg/butt, 300 mm dari lobang sebelumnya dan pada jarak 1 m dari
misfire. Ikuti prosedur penanganan misfire sebelum melakukan
pengeboran.
6. Pastikan tidak ada orang yang bekerja dibawah area yang belum
disangga. Tarik boom kearah belakang dibawah ground yang telah
diamankan.
7. Jangan mengoperasikan boom pada saat memasukkan split set kedalam
boom.
8. Penyangga batuan harus dipasang pada sisi area dimana offsider pertama
kalinya memulai aktivitas penyanggaan,
9. Pada beberapa kondisi dimana offisider diminta memberikan arahan
kepada operator dalam mengarahkan posisi lobang, setelah posisi lobang
teridentifikasi maka offsider akan kembali ke posisi dibelakang jack
stabilizer depan dari unit jumbo yang dioperasikan.
10. Jangan terlalu menekan dome plate karena akan mengurangi daya
sangga material bolt.
11. Gerakkan posisi boom keatas dan ambil material mesh pada posisi tengah
material serta gunakan boom kedua dalam membantu mengarahkan
posisi mesh jika diperlukan.
12. Jangan menyusun lebih dari dua ( 2 ) lembaran mesh disisi dinding tanpa
diikat.

107
I. Bekerja dengan unit jumbo diarea face
1. Semua pekerjaan dengan unit jumbo yang ada didepan jack harus
dilakukan dengan mematikan fungsi drill, boom dan feed tambahan harus
ditarik penuh kearah belakang, atau pada kondisi dimana boom
dimungkinkan untuk dimiringkan kearah unit jumbo.
2. Operator bertanggung jawab memastikan pekerjaan dilakukan dibawah
ground yang telah disangga.
3. Boom jumbo harus diposisikan dengan aman untuk memastikan tidak ada
orang yang sedang bekerja atau melakukan servis boom sehubungan
adanya potensi resiko tertabrak gerakan boom diluar kendali.

J. Penyelesaian tahap akhir pekerjaan dan mematikan suplai arus listrik


1. Apabila hal ini berupa pekerjaan drilling round :
a. Periksa semua lobang pengeboran telah sesuai sebelum menarik unit
keluar dari area face. Periksa semua lobang telah dibor sesuai rencana
/ desain.
b. Periksa dan pastikan bahwa kondisi face masih aman agar crew yang
lain dapat melakukan pengisian bahan peledak.
c. Apabila pompa masih diperlukan, pastikan posisinya masih berada
ditempat semula dan terdapat suplai arus listrik cadangan.
2. Apabila jumbo sedang melakukan pemasangan ground support :
a. Pindahkan material penyangga yang berlebihan seperti mesh, rock
bolt, plate dan sebagainya ke tempat penyimpanan.
b. Lepas pompa flight dari unit jumbo. Tempatkan pompa diposisi yang
aman dimana tidak terdapat potensi resiko kerusakan. Apabila pompa
masih dibutuhkan maka pastikan mendapatkan suplai arus listrik
cadangan.
c. Apabila pompa masih diperlukan, pastikan posisinya masih berada
ditempat semula dan terdapat suplai arus listrik cadangan.
3. Lepaskan dan gulung selang air dan angin.
4. Pastikan boom siap pada posisi tramming dan semua selang pada kondisi
tergantung (tidak menyentuh lantai).
5. Turunkan kabel suplai arus listrik dari hanger yang terpasang.

108
6. Aktifkan power mesin dan angkat jack stabilizer. Pastikan tidak ada orang
yang berada diarea pengoperasian unit jumbo.
7. Tarik kembali unit jumbo dan gulung kabel pada tempatnya secara
bersamaan ketika jumbo bergerak mundur.
8. Tugaskan seorang suporter pada saat menggulung kabel. Operator jumbo
harus memastikan posisi supporter aman setiap saat.
9. Melepas kabel jumbo.

K. Prosedur mematikan power mesin dan memarkir kendaraan


1. Menghentikan kendaraan dengan menurunkan putaran mesin dan
menggunakan rem kaki.
2. Selalu memarkir kendaraan dengan kondisi jack stabilizer diturunkan, gigi
transmisi posisi netral dan rem pengat man terpasang.
3. Ketika parkir dalam kondisi area remuck, posisi jumbo harus masuk
kearah depan agar boom tidak tertabrak apabila jika sebuah alat
mengarah ke lokasi yang sama.
4. Parkir jumbo di permukaan lantai yang rata. Pasang pengganjal roda jika
diperlukan.
5. Turunkan posisi boom setinggi 1 meter dari lantai.
6. Biarkan power mesin tetap hidup pada putaran mesin 1500 RPM selama
tiga menit sebelum di non-aktifkan.
7. Matikan power mesin, cabut kunci kontak dan lakukan isolasi baterai.
8. Bersihkan kabin operator, selesaikan laporan akhir shift dan laporkan
apabila terjadi kerusakan alat kepada pihak maintenance dan pengawas.

109