Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BARU LAHIR (BBL)

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Dosen Pengampu : Ns. Ayut Merdikawati, S.Kep.M.Kep

FARIZKA ARI AISYAH

200070300011019

PRODI S1 KEPERAWATAN/ NERS

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2021
1. Definisi
Bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat dengan usia
genap 37 minggu hingga 42 minggu, berat badan 2500-4000 gram, nilai APGAR > 7 dan tanpa
cacat bawaan (Padila, 2016)
2. Fisiologis
Pada neonatus mengalami proses kelahiran akan menyusaikan diri dari kehidupan intrauterine
menuju ke ekstrauterin. Bayi beralih dari mutlak tergantung dengan ibu menuju kemandirian
fisiologis. Ada 3 faktor yang mempengaruhi fungsi dan vital bayi yaitu maturase, adaptasi dan
toleransi. Pengaruh kehamilan serta persalinan mempengaruhi mortilitas dan morbiditas bayi.
Aspek transisi yang berlangsung begitu cepat meliputi 4 hal yaitu : sistem pernapasan, sirkulasi,
kemampuan menghasilkan sumber glukosa.
Berikut penjelasan terkait adaptasi fisiologi yang dialami oleh bayi baru lahir :
a. Sistem pernapasan
Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran melalui plasenta. Setelah
bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paru-paru (setelah tali pusat dipotong). Rangsangan
untuk gerakan pernapasan pertama ialah akibat adanya tekanan mekanis pada toraks
sewaktu melalui jalan lahir, penurunan tekanan oksigen dan peningkatan karbondioksida
merangsang kemoreseptor pada sinus karotis. Usaha bayi pertama kali untuk
mempertahankan tekanan alveoli adanya surfaktan adalah menarik nafas, mengeluarkan
dengan menjerit sehingga oksigent ertahan di dalam. Fungsi surfaktan untuk
mempertahankan ketegangan alveoli. Masa alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku. Pernapasan
pada neonatus biasanya pernapasan diafragma dan abdominal. Sedangkan respirasi beberapa
saat setelah kelahiran yaitu 30-60x/menit
b. Sistem kardiovaskular
Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal dari plasenta masuk ke
dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis, sebagian besar masuk ke vena kava inferior
melalui duktus dan vena sasaranti, darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh
dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke plasenta melalui arteri umbilikalis,
demikian seterusnya. Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat,
dengan demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru mengecil dan darah
mengalir ke paru-paru, dengan demikian foramen ovale,duktus arterious dan duktus venosus
menutup. Arteri umbilikalis, vena umbilikalis dan arteri hepatika menjadi ligamen. Berikut
rangkuman perubahan pada sistem kardiovaskular (sirkulasi) bayi baru lahir :

Struktur Sebelum Lahir Setelah Lahir


Vena umbilikus Membawa darah dari arteri Menutup, menjadi ligamentum
ke hati dan jantung teres hepatis
Arteri umbilikalis Membawa darah arteri Menutup, menjadi ligamentum
venosa ke placenta vesikale pada dinding
abdominal anterior
Duktus venosus Pirau darah a. ke v. kava Menutup, menjadi ligamentum
inferior venosum
Duktus arteriosus Pirau darah a.dan sebagian Menutup, menjadi lig.
darah v. dari a. pulmonalis ke Arteriosum
aorta
Foramen ovale Menghubungkan atrium Biasanya menutup
kanan dan kiri
Paru Tidak ada udara, sedikit Berisi udara dengan suplai
darah, berisi cairan darah yang baik
Arteri pulmonalis Membawa sedikit darah ke Membawa banyak darah ke
paru paru
Aorta Menerima darah dari kedua Menerima darah hanya dari
ventrikel ventrikel kiri
Vena cava inferior Membawa darah dari tubuh Membawa darah hanya ke
dan darah arteri ke plasenta atrium kanan

c. Sistem hematopoesis
Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80-110 ml/kg selama hari pertama dan
meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Nilai rata-rata hemoglobin dan sel darah
merah lebih tinggi dari nilai normal orang dewasa.Hb bayi baru lahir 14,5 –22,5 gr/dl, Ht 44–72%,
SDM 5 –7,5 juta/mm3dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru lahir mengandung
sekitar 80% Hb janin. Presentasi Hb janin menurun sampai 55% pada minggu kelima dan
5% pada minggu ke 20.
d. Sistem pencernaan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan janin telah dapat
menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak. Absorpsi air ketuban terjadi
melalui mukosa seluruh saluran pencernaan, janin minum air ketuban dapat dibuktikan
dengan adanya mekonium (zat yang berwarna hitam kehijauan). Mekonium merupakan tinja
pertama yang biasanya dikeluarkan dalam 24 jam pertama.
e. Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam metabolisme hidrat arang, dan
glikogen mulai disimpan di dalam hepar, setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat
terpakai, vitamin A dan D juga sudah disimpan dalam hepar. Fungsi hepar janin dalam
kandungan segera setelah lahir dalam keadaan imatur (belum matang). Hal ini dibuktikan
dengan ketidakseimbangan hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari
peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar pada neonatus, misalnya enzim UDPGT
(Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD (Glukosa 6 Fosfat
Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin sering kurang sehingga
neonatus memperlihatkan gejala ikterus fisiologis.
f. Metabolisme
Pada jam-jam pertama energi didapat dari pembakaran karbohidrat dan pada hari kedua
energi berasal dari pembakaran lemak. Energi tambahan yang diperlukan neonatus
pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme lemak sehingga kadar
gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml.
g. Sistem termogenik
Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan penyesuaian suhu
terutama dengan NST (Non Sheviring Thermogenesis) yaitu dengan pembakaran
“Brown Fat” (lemak coklat) yang memberikan lebih banyak energi daripada lemak biasa. Cara
penghilangan tubuh dapat melalui konveksi aliran panas mengalir dari permukaan tubuh
ke udara sekeliling yang lebih dingin. Radiasi yaitu kehilangan panas dari permukaan
tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin tanpa kontak secara langsung. Evaporasi
yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti yang terjadi jika air keluar dari paru-paru dan
kulit sebagai uap dan konduksi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke
permukaan benda yang lebih dingin dengan kontak secara langsung.

Mekanisme kehilangan panas pada bayi meliputi :


1) Konveksi
Bayi mengalami kehilangan panas karena panas mengalir dari permukaan tubuh ke suhu
udara yang lebih dingin di sekitarnya
2) Radiasi
Bayi mengalami kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan benda padat
yang dekat dengan bayi tetapi tidak dengan kontak langsung.
3) Evaporasi
Bayi mengalami kehilangan panas saat kulitnya basah. Kehilangan panas terjadi oleh
karena penguapan kulit tersebut.
4) Konduksi
Bayi kehilangan panas dari permukaan tubuhnya ke permukaan benda padat yang
menempel ditubuhnya.
h. Kelenjar endokrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu bayi baru lahir
kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi misalkan pengeluaran darah dari vagina
yang menyerupai haid perempuan. Kelenjar tiroid sudah terbentuk sempurna sewaktu lahir
dan mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
i. Keseimbangan air dan ginjal
Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relatif lebih
besar daripada kalium. Hal ini menandakan bahwa ruangan ekstraseluler luas. Fungsi
ginjal belum sempurna karena jumlah nefron matur belum sebanyak orang dewasa dan ada
ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal, renal
blood flow (aliran darah ginjal) pada neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan orang
dewasa.
j. Susunan saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka dapat dilihat bahwa
janin tersebut dapat mengadakan gerakan spontan. Gerakan menelan pada janin baru
terjadi pada kehamilan empat bulan. Sedangkan gerakan menghisap baru terjadi pada
kehamilan enam bulan.Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi
lebih sempurna. Sehingga janin yang dilahirkan diatas 32 minggu dapat hidup diluar
kandungan. Pada kehamilan 7 bulan maka janin amat sensitif terhadap cahaya.
k. Sistem imunitas
Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada kehamilan 2 bulan dan baru
banyak ditemukan segera sesudah bayi dilahirkan. Khususnya pada traktus respiratoris
kelenjar liur sesuai dengan bakteri dapat alat pencernaan, imunoglobolin G dibentuk
banyak dalam bulan kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E diproduksi secara
lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak-kanak
dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI.
l. Sistem integumen
Stuktur kulit bayi sudah terbentuk dari sejak lahir, tetapi masih belum matang. Epidermis
dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis.Vernik kaseosa juga berfungsi sebagai
lapisan pelindung kulit. Kulit bayi sangat sensitif dan dapat rusak dengan mudah. Bayi baru lahir
yang cukup bulan memiliki kulit kemerahan yang akan memucat menjadi normal beberapa jam
setelah kelahiran. Kulit sering terlihat bercak terutama sekitar ektremitas. Tangan dan kaki
sedikit sianotik (Akrosianotik). Ini disebabkan oleh ketidakstabilan vosomotor. Stasis kapiler
dan kadar hemoglobin yang tinggi. Keadaan ini normal, bersifat sementara dan bertahan
selama 7-10 hari. Terutama jika terpajan pada udara dingin.
m. Sistem skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara keseluruhan.
Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih
panjang daripada tungkai. Wajahrelatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang jika
dibandingkan lebih besar dan berat. Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi
akibat molase.Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit
disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat baru lahir tidak terlihat
lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas harys simetris, terdapat kuku jari tangan dan kaki,
garis-garis telapak tangan dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan.
n. Sistem neuromuskuler
Reflek bayi baru lahir diantaranya :
- Reflek pada Mata
o Berkedip atau Refleks korneal
o Reflek Pupil
o Mata boneka
- Reflek pada Hidung
o Bersin
o Glabela : ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara dua alis mata)
menyebabkan mata menutup dengan rapat
- Reflek pada mulut dan Tenggorokka
o Menghisap
o Muntah
o Rooting
o Menyentuh atau menekan dagu sepanjang sisi mulut akanmenyebabkan bayi
membalikan kepala ke arah sisi tersebut dan mulai menghadap: harus hilang kira-kira pada
usia 3-4 bulan, tetapi dapat menetap selama 12 bulan.
o Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan, bayi berespon dengan mendorongnya keluar: harus
menghilang pada usia 4 bulan
o Batuk
o Menguap
- Reflek pada Ekstremitas
o Menggenggam
o Babinski
o Klonus
Pergelangan kaki: Dorsofleksi telapak kaki yang cepat ketika menopang lutut pada
posisi fleksi parsial mengakibatkan munculnya satu sampai dua gerakan oskilasi
(denyut). Akhirnya tidak boleh ada denyut yang teraba.
o Refleks pada Massa/Moro
o Startle : Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku:
tangan tetap tergenggam: harus hilang pada usia 4 bulan.
o Tabel reflek pada bayi :

Refleks Respons normal Respons abnormal


Rooting dan Bayi menoleh ke arah Respons yang lemah atau tidak
menghisap benda yang menyentuh ada terjadi pada prematuritas,
(0-6 bulan) pipi. Dapat dinilai dengan penurunan atau cidera neurologis,
mengusap pipi bayi atau depresi sistem saraf pusat
dengan lembut, bayi akan (SSP)
menolehkan kepalanya
kearah jari kira dan
membuka mulutnya
(rooting).
Sedangkan refleks
menghisap dimulai
dengan memberi tekanan
pada mulut bayi di langit
bagian dalam gusi atas
yang akan menimbulkan
isapan yang kuat dan
cepat. Refleks ini juga
dapat diliat pada waktu
bayi menyusui.
Menelan Bayi baru lahir menelan Muntah, batuk, atau regurgitasi
berkoordinasi dengan cairan dapat terjadi, kemungkinan
menghisap bila cairan berhubungan dengan sianosis
ditaruh dibelakang lidah sekunder karena prematuritas,
deficit neurologis
Ekstrusi Bayi menjulurkan lidah Ekstrusi lidah secara kontinu atau
keluar bila ujung lidah menjulurkan lidah yang berulang-
disentuh dengan jari atau ulang terjadi pada kelainan SSP
puting dan kejang
Moro (0-2 bulan) Ekstensi simetris bilateral Respons asimetris terlihat pada
Refleks Respons normal Respons abnormal
dan abduksi seluruh cedera saraf perifer (pleksus
ekstremitas, dengan ibu brakialis) atau fraktur klavikula
jari dan jari telunjuk atau fraktur tulang panjang lengan
membentuk huruf “c”, atau kaki
diikuti dengan adduksi
ekstremitas dan kembali
ke fleksi relaks jika posisi
bayi berubah tiba-tiba
atau jika bayi diletakkan
telentang pada
permukaan yang datar
Melangkah Bayi akan melangkah Respons asimetris terlihat pada
dengan satu kaki dan cedera saraf SSP atau perifer atau
kemudian kaki lainnya fraktur tulang panjang kaki
dengan gerakan berjalan
bila satu kaki disentuh
pada permukaan rata
Merangkak Bayi akan berusaha untuk Respons asimetris terlihat pada
merangkak kedepan cedera saraf SSP dan gangguan
dengan kedua tangan dan neurologis
kaki bila diletakkan
telungkup pada
permukaan datar
Tonik leher atau Ekstremitas pada satu sisi Respons presisten setelah bulan
fencing dimana saat kepala keempat dapat menandakan
ditolehkan akan ekstensi, cedera neurologis. Respons
dan ekstremitas yang menetap tampak pada cedera
berlawanan akan fleksi SSP dan gangguan neurologis
bila kepala bayi ditolehkan
ke satu sisi selagi
beristirahat
Terkejut Bayi melakukan abduksi Tidak adanya respons dapat
dan fleksi seluruh menandakan defisit neurologis
ekstremitas dan dapat atau cedera. Tidak adanya
mulai menangis bila respons secara lengkap dan
mendapat gerakan konsisten terhadap bunyi keras
mendadak atau suara dapat menandakan ketulian.
keras Respons dapat menjadi tidak ada
atau berkurang selama tidur
malam
Glabellar “blink” Bayi akan berkedip bila Terus berkedip dan gagal untuk
dilakukan 4 atau 5 ketuk berkedip menandakan
pertama pada batang kemungkinan gangguan
hidung saat mata terbuka neurologis
Palmar grap Jari bayi akan melekuk di Respon ini berkurang pada
sekeliling benda dan prematuritas. Asimetris terjadi
menggenggamnya pada kerusakan saraf perifer
seketika bila jari (pleksus brakialis) atau fraktur
diletakkan ditangan bayi humerus
Tanda babinsky Jari-jari kaki bayi akan Tidak ada respon yang terjadi
(0-8 bulan) hiperekstensi dan terpisah pada defisit SSP
seperti kipas dari
dorsofleksi ibu jari kaki
bila satu sisi kaki digosok
dari tumit keatas melintasi
bantalan kaki
3. Aspek – aspek penting asuhan bayi baru lahir
a. Jagalah bayi agar tetap hangat dan kering
b. Usahakan adanya kontak kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin
c. Pencegahan kehilangan panas
d. Memandikan bayi (Padila, 2016b)
4. Pemantauan bayi baru lahir
Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan
diidentifikasi, masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan
penolong persalinan serta tindak lanjut petugas keperawatan
a. 2 jam pertama sesudah kelahiranHal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam
pertama sesudah lahir meliputi
- Kemampuan menghisap lemah atau kuat
- Bayi tampak aktif atau lunglai
- BAyi kemeraqhan atau biru
b. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinyaPenolong
persalinanmelakukan pemeriksaan dan penilaian terhadapada tidaknya kesehatan yang
memerlukan tindak lanjut, seperti :
- Gangguan pernafasan
- Hipotermia
- Infeksi
- Cacat bawaan dan trauma lahir
5. Ciri-ciri bayi baru lahir
Bayi baru lahir normal memiliki panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm, lingkar
lengan 11-12 cm, frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit, pernapasan 40-60 x/menit,
lanugo tidak terlihat dan rambut kepala tumbuh sempurna, kuku agak Panjang dan lemas,
nilai APGAR >7, refleks-refleks sudah terbentuk dengan baik (rooting, sucking, morro,
grasping), organ genitalia pada bayi laki-laki testis sudah berada pada skrotum dan penis
berlubang, pada bayi perempuan vagina dan uretra berlubang serta adanya labia minora dan
mayora, mekonium sudah keluar dalam 24 jam pertama berwarna hitam kecoklatan (Dewi,

2010)
6. Klasifikasi Neonatus
Bayi baru lahir atau neonatus di bagi dalam beberapa kasifikasi menurut (Marmi K, R,

2016), yaitu :
a. Neonatus menurut masa gestasinya :
1) Kurang bulan (preterm infant) : < 259 hari (37 minggu)
2) Cukup bulan (term infant) : 259-294 hari (37-42 minggu)
3) Lebih bulan (postterm infant) : > 294 hari (42 minggu atau lebih)
b. Neonatus menurut berat badan lahir :
1) Berat lahir rendah : < 2500 gram
2) Berat lahir cukup : 2500-4000 gram
3) Berat lahir lebih : > 4000 gram
c. Neonatus menurut berat lahir terhadap masa gestasi (masa gestasi dan ukuran berat
lahir yang sesuai untuk masa kehamilan) :
1) Nenonatus cukup/kurang/lebih bulan (NCB/NKB/NLB)
2) Sesuai/kecil/besar untuk masa kehamilan (SMK/KMK/BMK)
7. Pathway

- Proses persalinan
- Usia genap 37-42 minggu
- Berat badan 2500-4000 gram Bayi baru lahir (BBL)
- Nilai APGAR
- Presentasi saat di intrauterine

ADAPTASI FISIOLOGIS

Sistem Sistem Sistem pencernaan Fungsi Hepar Paparan


kardiovaskular Metabolisme KH dan asam Sistem lingkungan
pernapasan
lemak termogenik ekstrauterin
Spingter kardia dan
Alveolus terisi O2 kontrol sakit perut belum
Hepar dalam keadaan
Tekanan thoraks matur belum aktif Hipoglikemia MK : Risiko
sewaktu melalui jalan matur ketidakstabilan Perbedaan
lahir kadar glukosa suhu
Resistensi
darah intrauterin
Vaskuler enzim UDPGT (Uridin Disfosfat Glukoronide
pulmonalis pada aliran Kekenyangan e dan
Transferase) dan enzim GGFD (Glukosa 6
Penurunan tekanan O2 darah paru menurun Fosfat Dehidrogerase) belum berfungsi dalam ekstrauteri
dan peningkatan CO2 sintesis bilirubin ne
Regugirtasi MK : Ikterik
Neonatus
Tekanan arteri
Muntah MK : Risiko Defisit
pulmonaris menurun Nutrisi
Merangsang Ikterus fisiologis MK : Risiko termogulasi
kemoreseptor pada
Aliran darah pulmonalis tidak efektif
sinus karotis Tekanan dalam atrium Tekanan pada atrium kiri Sekat atrium foramen ovale
kanan berkurang menigkat, kembali ke meningkat tidak tertutup
bagian kiri jantung Fluktuasi
temperature
Pernapasan pertama tubuh
bayi (mempertahankan Surfaktan belum Alveolus kolaps MK : Gangguan Percampuran
tekanan alveoli dengan berfungsi dengan baik dan paru-paru pertukaran gas darah MK : Hipotermia
adanya surfaktan) kaku
Hipoksia Peningkatan laju
Peningkatan sirkulasi jaringan metabolik
paru bersamaan dengan
pernapasan pertama
Pengeluaran cairan paru Meningkatnya risiko MK : Ketidakefektifan
MK : Perfusi Kebutuhan
tidak adekuat asfiksia bersihan jalan nafas
jaringan tidak kalori tinggi
efektif

Reflek bayi Sistem


menghisap integumen
belum adekuat

Struktur kulit
Laktasi tidak immatur
efektif

(Tim pokja SDKI DPP PPNI, 2016) Risiko iritasi


MK : Defisit kimia dari
nutrisi bahan popok

MK : Risiko
Ruang Keseimbangan Fungsi ginjal gangguan
esktraselular air dan natrium integritas
luas lebih besar dari kulit
kalium
Ketidakadekuatan
imun yang didapat Pada neonatus Sistem imunitas
Jumlah nefron matur belum hanya terdapat
sebanyak orang dewasa, Imunoglobulin G
ketidakseimbangan luas permukaan (Ig G)
glomelurus, tubulus proksimal MK : Risiko infeksi
Pemotongan tali
Personal hygiene pusat
Ekskresi Renal blod flow (aliran Port de entry bakteri, tidak adekuat
elektrolit darah ginjal) masih
kuman, virus
kurang
lambat

Akumulasi ion hidrogen dan Dehidrasi MK : Ketidakseimbangan cairan


kalsium
8. Penatalaksanaan medis bayi baru lahir
a. Tes diagnostika
- Jumlah sel darah putih (SDP) :18000/mm3, neutrofil meningkat sampai 23.000-
24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis)
- Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau
hemolisis berlebihan)
- Hematokrit (Ht) 43-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan polisitemia,
penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragi prenatal/perinatal).
- Bilirubin total : 6mg/dl pada hari pertama kehidupan, lebih besar 8mg/dl 1-2 hari dan 12mg/dl
pada 3-5 hari
- Golongan darah dan RH
(Doenges, 2001)
b. Terapi Non Farmakologi
- Pengukuran nilai APGAR Score (pada menit pertama dan menit kelima setelah
dilahirkan)
- Kontrol suhu, suhu rektal sekali kemudian suhu aksila
- Penimbangan BB setiap hari
- Jadwal menyusui
- Higiene dan perawatan tali pusat
c. Farmakologi
- Suction dan oksigen
- Vitamin K
- Obat tetes mata
- Hepatitis B
9. Asuhan keperawatan bayi baru lahir
a. Pengkajian
1. Data Subjektif
- Identitas bayi : didasarkan pada informasi ibu/pengasuhnya
- Riwayat kehamilan, persalinan dan umur kehamilan
- Faktor sosial : alamat rumah, pekerjaan orang tua, orang yang tinggal serumah, sudara
kandung, sumber faktor pendukung lain
2. Data Obyektif
a. Nilai APGAR : lima unsur yang dinilai (frekuensi denyut jantung, usaha nafas, tonus otot,
reflek dan warna)

Penilaian Tujuan
1 menit setelah lahir Menilai derajat aspiksia
5 menit setelah lahir menentukan prognosa
10 menit setelah lahir Bonding and attachment, Rooming in
Pemeriksaan APGAR :

AGAR Pemeriksaan 0 1 2
Appearance Inspeksi Biru/pucat Badan merah, Semua merah
(warna kulit) seluruh tubuh ekstremitas biru
Pulse (denyut Auskultasi Tidak terdengar < 100 x/menit > 100 x/menit
jantung) jantung
Grimace (reflek Menghisap atau Tidak ada Menyeringai Menangis keras
iritabily) rangsang lain respon
Activity (tonus Inspeksi Lemah Fleksi Gerak aktif
otot) ekstremitas
Respiration Inspeksi Tidak ada Menangis lemah Gerakan
(pernafasan) gerakan atau merintih pernafasan
pernafasan kuat/ menangis
kuat
Total score :
0-3 : asfiksia berat
4-6 : asfiksia sedang
7-10 : asfiksia ringan (Karyuni, 2008).
b. Penampilan umum
BB 2500-4000 gram, akan berkurang 3-5 hari, tetapi tidak boleh >10 %, biasanya akan naik
kembali setelah hari ke 8-12. PB 46-56 cm. Suhu 36,5-37,5 oC.
c. Kepala

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Ukur : lingkar kepala
2. Periksa adanya caput atau cepal hematom, molding, fontanel anterior dan posterior
3. Periksa bentuk telinga
4. Simetris tidaknya wajah
5. Periksa mata : bentuk, letak, ukuran, pupil, reflek cahaya, adanya perdarahan. f.
6. Periksa mulut : bibir, palatum, lidah, gigi.
7. Periksa hidung : septum, simetris atau tidak.
8. Periksa leher : Ukuran simetris/tidak, Gerakan baik/kurang baik, Pergerakan otot

d. Kulit

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Vernix caseosa (Kulit biasanya di sanya dilapisi denganzat lemak berwara putih
kekuningan di daerag lipatan)
2. Lanugo terutama diwajah, bahu (lebih banyak pada premature)
3. Warna kulit (biasanya bayi akan mengalami akrosianosis, lalu badan akan semakin
merah jika bayi menangis), adanya bintik-bintik, deskuamasi, kering.
4. Pembesaran payudara.
5. Bercak meconium pada kulit, tali pusat, kuku jari
6. Cairan amnion, bau.
7. Cari adanya jaundice dengan menekan kulit, maka warna kuning akan lebih jelas.

e. Dada

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Diameter anteroposteriorhampir sama dengan diameter transversa (diameter diukur
sedikit diatas putting), lebih pendek daripada abdomen
2. Pembesaran payudara, witch’s milk
3. Palpasi/auskultasi PMI, frekuensi, kualitas HR (120-160 x/menit) dan murmur
4. Karakteristik respirasi, cracles, ronchi, suara nafas tiap-tiap sisi dada, frekuensi 30-
60 x/menit (dad dan perut bergerak bersama, hitung 1 menit penuh), periode apnea

f. Abdomen

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Bentuk : simetris/tidak
2. Bising usus : ada/ tidak.
3. Kelainan : cekung/cembung
4. Tali Pusat, pembuluh darah, perdarahan, kelainan tali pusat

g. Neurologik

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Tonus otot
2. Reflek : moro reflek, tonik neck reflek, palmar graps reflek, walking reflek, rooting
reflek, sucking reflek
- Reflek normal bayi baru lahir
Beberapa reflek normal yang dimiliki oleh bayi baru lahir meliputi :
Beberapa refleks yang terdapat pada bayi :
 Refleks moro (refleks terkejut). Bila diberi rangsangan yang
mengagetkan akan terjadi refleks lengan dan tangan terbuka.
 Refleks menggenggam (palmer graps). Bila telapak tangan dirangsang akan
memberi reaksi seperti menggenggam. Plantar graps, bila telapak kaki
dirangsang akan memberi reaksi.
 Refleks berjalan (stepping) berlangsung 0-2 bulan. Bila kakinya
ditekankan pada bidang datang atau diangkat akan bergerak seperti
berjalan.
 Refleks mencari (rooting). Bila pipi bayi disentuh akan menoleh kepalanya
ke sisi yang disentuh itu mencari puting susu.
 Refleks menghisap (sucking). Bila memasukan sesuatu ke dalam mulut bayi
akan membuat gerakan menghisap

h. Kelamin

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Memastikan pada bayi perempuan , labia mayora/minora, sekresi vaginal, kelainan,
anus
2. Memastikan pada bayi laki-laki, scrotum, testis, penis, kelainan.
i. Punggung
Adanya benjolan atau defek yang lain ( bayi harus ditengkurapkan )
j. Ekstremitas

No Hal-hal yang perlu dilakukan


1. Kelengkapan jari, adanya sindaktili dan polidaktili
2. Bandingkan panjang kedua kaki
3. Tinggi lutut
4. Gerakannya dengan menekuk kedua paha kekanan kiri abdomen

k. Aktivitas/istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak semi koma saat
tidur, meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan gerakan mata cepat, tidur
sehari rata-rata 20 jam
l. Pernapasan dan peredaran darah
Bayi normal mulai bernapas 30 detik sesudah lahir, untuk menilai status kesehatan bayi
dalam kaitannya dengan pernapasan dan peredaran darah dapat digunakan metode
APGAR Score. Namun secara praktis dapat dilihat dari frekuensi denyut jantungdan
pernapasan serta wajah, ekstremitas dan seluruh tubuh, frekwensi denyut jantung bayi
normal berkisar antara 120-140 kali/menit (12 jam pertama setelah kelahiran), dapat
berfluktuasi dari 70-100 kali/menit (tidur) sampai 180 kali/menit (menangis)
Pernapasan bayi normal berkisar antara 30-60 kali/menit warna ekstremitas, wajah dan
seluruh tubuh bayi adalah kemerahan. Tekanan darah sistolik bayi baru lahir 78 dan
tekanan diastolik rata-rata 42, tekanan darah berbeda dari hari ke hari selama bulan
pertama kelahiran. Tekanan darah sistolik bayi sering menurun (sekitar 15 mmHg)
selama satu jam pertama setelah lahir. Menangis dan bergerak biasanya menyebabkan
peningkatan tekanan darah sistol.
- Tali pusat
Pada tali pusat terdapat dua arteri dan satu vena umbilikalis. Keadaan tali pusat harus
kering, tidak ada perdarahan, tidak ada kemerahan disekitarnya
3. Data Laboratorium
- Gula darah sewaktu
- Bilirubin dan golongan darah : ABO dan rhesus faktor
- Hb, Ht, leukosit dan trombosit
4. Komplikasi
- Berat badan lahir rendah
- Aspirasi air ketubah
- Aspiksia
- Infeksi
- Hipoglikemi
- Hiperbilirubinemi
5. Penatalaksanaan
- Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang cukup hangat untuk cegah
hipotermia
- Menghisap lendir untuk membersihkan jalan nafas sesuai kondisi dan kebutuhan
- Memotong dan mengikat tali pusat, memberi antiseptik sesuai ketentuan setempat
- Bonding attachment (kontak kulit) sedini mungkin ditetetkkan pada ibunya
- Menilai APGAR menit pertama dan kelima
- Penatalaksanaan bayi baru lahir sangat penting selain untuk memberikan promosi
kesehatan, penatalaksanaan tersebut diharapkan dapar mencegah sudden infant death
syndrome (SIDS) (Lissauer, 2013).
6. Diagnosa keperawatan
a. Sistem pernapasan :
- Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
- Gangguan pertukaran gas
b. Sistem kardiovaskular :
- Perfusi jaringan tidak efektif
c. Sistem pencernaan :
- Risiko defisit nutrisi
d. Fungsi hepar :
- Ikterik neonatus :
- Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
e. Sistem termogenik :
- Risiko termogulasi tidak efektif
- Hipotermia :
f. Sistem imunitas :
- Risiko infeksi
g. Fungsi ginjal :
- Ketidakseimbangan cairan
h. Pemotongan tali pusat :
- Risiko infeksi
(Tim pokja SDKI DPP PPNI, 2016)
7. Intervensi keperawatan

No Dx. Keperawatan SIKI SLKI


1. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Napas
keperawatan …x24 jam, diharapkan Observasi
pola nafas membaik. Dengan kriteria a. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
hasil: b. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering)
Pola Nafas. c. Monitor sputum (jumlah, warna)
a. Dispnea menurun Terapueitik
b. Penggunaan otot bantu a. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika
napas menurun curiga trauma cervical)
c. Frekuensi napas membaik b. Posisikan semi-Fowler atau Fowler
d. Kedalaman napas membaik c. Berikan minum hangat
d. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
e. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
f. Lakukan hiperoksigenasi sebelum
g. Penghisapan endotrakeal
h. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsepMcGill
i. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
a. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi.
b. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Defisit Nutrisi Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nutrisi
keperawatan …x24 jam, diharapkan Observasi
satut nutrisi membaik. Dengan a. Identifikasi status nutrisi
kriteria hasil: b. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
Status Nutrisi c. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutien
a. Porsi makanan yang dihabiskan d. Monitor asupan makanan
b. Berat badan membaik e. Monitor berat badan
c. Indeks massa tubuh (IMT) Terapeutik
membaik a. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegh konstipasi
b. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
Edukasi
a. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
a. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan
3. Hipotermi Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipotermi
keperawatan …x24 jam, diharapkan Observasi
termoregulasi membaik. Dengan a. Monitor suhu tubuh
kriteria hasil: b. Identifikasi penyebab hipotermi (mis. Terpapar suhu lingkungan rendah, pakaian
Termoregulasi tipis, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolism)
a. Menggigil menurun c. Monitor tanda dan gejala akibat hipotermi
b. Bradikardi menurun Terapeutik
c. Suhu tubuh membaik a. Sediakan lingkungan yang hangat (mis. Atur suhu ruangan, incubator)
b. Ganti linen dan pakaian
c. Lakukan penghangatan pasif (mis. Selimut, tutup kepala, pakaian tebal)
d. Lakukan penghangatan aktif eksternal (mis. Kompres hangat, perawatan metode
kanguru)
e. Lakukan penghangatan aktif internal (mis. Lavase peritoneal dengan cairan
hangat)
Eduaksi
a. Anjurkan makan/minum hangat
4. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi
keperawatan selama ...... X 24 jam. a. Observasi
Diharapkan derajat infeksi menurun. 1. Monitor tanda dan gejala lokal dan sistemik
Kriteria Hasil: b. Terapeuitik
a. Demam menurun 1. Batasi jumlah pengunjung
b. Kemerahan menurun 2. Berikan perawatan kulit pada area edema
c. Nyeri menurun 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
d. Bengkak menurun 4. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
e. Leukosit membaik c. Edukasi
f. kerusakan jaringan/ lapisan 1. Ajarkan tanda dan gejala infeksi
kulit menurun 2. Ajarkan cara cuci tangan dengan benar
3. Ajarkan etika batuk
4. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
5. Anjurkan meningkatkan asupan cairan
d. Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

5. Ikterik Neonatus Setelah dilakukan tindakan Fototerapi Neonatus (1.03091)


keperawatan selama ...... X 24 jam. a. Observasi
Diharapkan integritas kulit dan 1. Monitor tanda ikterik pada sklera dan kulit bayi
jaringan meningkat. 2. Identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan usia gestasi dan berat badan
Kriteria Hasil: 3. Monitor suhu dan TTV selama 4 jam sekali
a. Hidrasi meningkat 4. Monitor efek samping fototerapi (hipertermi, diare, rush pada kulit, penurunan
b. Pigmentasi abnormal berat badan 8-10%)
menurun b. Terapeuitik
(Tim pokja SLKI DPP PPNI, 2019) 1. Siapkan lampu fototerapi dan inkubator/kotak bayi
2. Berikan penutup mata (eye protector)
3. Ukur jarak lampu dan permukaan kulit bayi (30 cm)
4. Biarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara berkelanjutan
5. Ganti segera alas dan popok bayi jika BAB/BAK
6. Gunakan linen berwarna putih agar memantulkan cahaya sebanyak mungkin
c. Edukasi
1. Ajarkan ibu menyusui 20-30 menit
(Tim pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
8. Pemeriksaan laboratorium
Pada umumnya, pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan pada bayi lahir nornal. Namun,
dikarenakan kondisi riwayat kehamilan tertentu, memerlukan pemeriksaan laboratorium
sesuai indikasi :
- Gula darah sewaktu untuk mendeteksi secara dini hipoglikemia
- Bilirubin direcrt dan indirect, golongan darah ABO rhesus, hb, ht, lekosit dab trombosit untuk
yang ada indikasi
9. Kolaborasi obat-obatan
- Vitamin K : penting guna mempertahankan mekanisme pembekuan darah yang normal
(Fakta penting yaitu pada bayi baru lahir mayoritas mengalami perdarahan terutama di otak
dan saluran cerna). Oleh karena itu, bayi perlu diberikan vitamin K sebagai upaya dalam
pencegahan perdarahan. Jenis Vitamin K yang diberikan (phytonadine) meningkatkan
prothombin, dosis yang diberikan 0.5-1 mg dengan dosis pemberian 1x setelah lahir
(sebelum 24 jam) (Padila, 2016)
- Tetes mata eritromycin tetes mata atau dapat diberikan jenis antibiotika lain (garamicin,
teramicin) untuk mencegah terjadinya oftalmia neonatorum. Dosis pemberian masing-masing
mata 1 tetes (Padila, 2016)
10. Penyuluhan
Materi yang dapat diberikan dalam penyuluhan meliputi :
- Pemberian ASI eksklusif, perawatan payudara
- Pemijatan pada bayi
- Perawatan bayi (memandikan bayi, perawatan tali pusat, cara dan indikasi menjembur bayi)
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, V. N. L. (2010) Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika.

Doenges, M. (2001) Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Marmi K, R, . (2016) Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Padila (2016a) Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.

Padila (2016b) Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.

Tim pokja SDKI DPP PPNI (2016) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta selatan: PPNI.

Tim pokja SIKI DPP PPNI (2018) ‘Standart Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Jakarta selatan: PPNI’.

Tim pokja SLKI DPP PPNI (2019) Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan. Jakarta selatan: PPNI.

Anda mungkin juga menyukai