Anda di halaman 1dari 8

Pengaruh Alih Baring dan Back Massage Terhadap Resiko Kejadian Dekubitus

pada Pasien dengan Stroke di Ruang HCU RSUD Mangusada

A. Latar Belakang

Pasien dengan kondisi penyakit dalam kategori kedaruratan medis atau

kritis, seperti pasien dengan kegagalan fungsi pada satu atau lebih sistem

organnya memerlukan pelayanan kesehatan yang intensif (Direktur Jenderal Bina

Upaya Kesehatan, 2011). Pelayanan intensif bertujuan untuk memberikan

perawatan komprehensif dengan pemantauan atau monitoring yang ketat serta

menjaga kestabilan kondisi pasien secara periodik (Darmayanti & Oktamianti,

2014).

Stroke telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia dan semakin

penting, dengan dua pertiga stroke sekarang terjadi di negara yang sedang

berkembang. Secara global, pada saat tertentu sekitar 80 juta orang menderita

akibat stroke (Sikawin et al., 2013). Menurut World Health Organisation atau

WHO (2015), setiap tahun diperkirakan 15 juta orang tersebar di seluruh dunia

menderita stroke, dimana kurang lebih 5 juta orang meninggal dan 5 juta orang

mengalami cacat permanen.

Menurut WHO (2015) definisi stroke adalah suatu kondisi penyakit yang

disebabkan oleh terhentinya aliran darah yang mensuplai otak secara tiba-tiba,

baik karena adanya sumbatan maupun rupturnya pembuluh darah. Kondisi ini
menyebabkan jaringan otak yang tidak terkena aliran darah kekurangan oksigen

dan nutrisi sehingga sel otak mengalami kerusakan (Wijaya & Putri, 2013)

Pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa memiliki kerentanan

terhadap ketidakberdayaan, kelemahan dan ketergantungan terhadap alat bantu

(Sunatrio, 2010). Kerentanan dan kelemahan yang dialami pasien cenderung

membuat pasien mengalami keterbatasan dalam pergerakannya atau disebut

imobilisasi. Imobilisasi merupakan salah satu hal yang mempengaruhi risiko

terjadinya ulkus dekubitus (Hasanah, 2018).

Dekubitus merupakan lesi yang disebabkan oleh adanya tekanan

(kekuatan yang menekan permukaan tubuh) yang terjadi secara terus menerus

sehingga merusak jaringan yang berada di bawahnya (Kozier et al., 2010).

Dekubitus menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia (Bereded et al.,

2018). Dekubitus merupakan masalah yang sangat serius terutama bagi pasien

yang harus dirawat lama di ruang ICU dengan keterbatasan aktivitas. Saat ini

dekubitus telah menjadi fokus perhatian di dunia kesehatan karena dekubitus

dapat meningkatkan biaya dan lama perawatan di rumah sakit serta

memperlambat program rehabilitasi bagi pasien (Cooper, 2013).

Prevalensi kejadian dekubitus dilaporkan terjadi sekitar 10,4% di Turki

(Inan & Öztunç, 2012), prevalensi lebih tinggi dari 47,6% di Thailand (Suttipong

& Sindhu, 2012) dan 16% di Ethiopia (Gedamu et al., 2014). Hasil penelitian

terbaru mengenai insiden dekubitus di Eropa didapatkan terjadi dengan


prevalensi 10,8%. Prevalensi dekubitus tertinggi yang dilaporkan adalah dari

Belanda (27,2%) dan terendah dilaporkan dari Finlandia (4,6%) (Moore et al.,

2019). Kejadian dekubitus di Indonesia dilaporkan berdasarkan hasil penelitian

yang menunjukkan bahwa prevalensi dekubitus berdasarkan penilaian risiko

adalah 43,3% pasien memiliki risiko sangat tinggi mengalami luka akibat

tekanan. Dari hasil penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 100% pasien tidak

mendapatkan kasur khusus, pijat, krim pelembab dan minyak (Riandini et al.,

2018). Data mengenai kejadian dekubitus di Bali sendiri tidak ditemukan

persentase jelas dari lembaga resmi, namun beberapa penelitian menyatakan

bahwa risiko dekubitus masih berisiko terjadi di hampir seluruh rumah sakit

termasuk Bali (Sunarti, 2019).

Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam membantu

pencegahan kejadian dekubitus dengan menilai faktor risiko yang dapat

mempengaruhinya. Adapun beberapa faktor yang berperan dalam luka dekubitus

adalah imobilisasi, gaya gesek, kelembaban kulit (Kozier et al., 2010). Beberapa

penanganan yang sudah dilakukan perawat untuk mencegah terjadinya dekubitus

antara lain memberikan kasur anti dekubitus, bantal kecil sebagai penyangga, dan

manajemen alih baring. Alih baring yang dilakukan oleh perawat dengan rentang

waktu kurang lebih setiap 2 jam.

Alih baring adalah tindakan yang dilakukan untuk mengubah posisi

pasien yang mengalami tirah baring total untuk mencegah kejadian luka tekan
pada kulit pasien. Tujuan alih baring adalah untuk mendistribusikan tekanan baik

dalam posisi duduk atau berbaring serta memberikan kenyamanan pada pasien.

Pada dasarnya alih baring dilakukan sebagai bagian dari prosedur baku dalam

intervensi keperawatan untuk mengurangi resiko dekubitus pada pasien dengan

imobilisasi (Potter & Perry, 2010). Alih baring memiliki manfaat mengganti titik

tumpu berat badan yang tertekan pada area tubuh yang lain, mempertahankan

sirkulasi darah pada daerah yang tertekan, dan dapat menurunkan tekanan pada

tonjolan tulang (Kozier, 2011).

Alih baring dapat mencegah dekubitus pada daerah tulang yang menonjol.

Hal ini dikarenakan alih baring mengurangi penekanan akibat tertahannya pasien

pada satu posisi yang diberikan untuk mengurangi tekanan dan gaya gesek kulit.

Menjaga bagian kepala tempat tidur setinggi 30 derajat atau kurang akan

menurunkan peluang terjadinya dekubitus akibat gaya gesek (Potter & Perry,

2010). Posisi tubuh alih baring 2 jam yang tepat akan menentukan keberhasilan

intervensi keperawatan terhadap pasien, menurut Perry & Potter (2010) posisi

alih baring meliputi supine/terlentang,lateral/miring,prone/telungkup, dan fowler

tinggi.

Pasien dengan imobilisasi dapat juga ditangani dengan terapi masase

punggung. Masase adalah suatu pemijatan atau ditepuk tepuk pada bagian tubuh

tertentu dengan tangan atau alat-alat khusus untuk memperbaiki sirkulasi,

metabolisme, melepaskan pelekatan dan melancarkan peredaran darah sebagai


cara pengobatan (Asmadi, 2008. hlm.142). Menurut Kusyati (2006) masase

adalah pemijatan yang menstimulasi sirkulasi darah serta metabolisme dalam

jaringan. Masase memiliki banyak manfaat bagi semua sistem organ tubuh,

antara lain: meningkatkan fungsi kulit, meningkatkan fungsi jaringan otot,

meningkatkan pertumbuhan tulang dan gerak persendian, dan meningkatkan

fungsi jaringan syaraf (Asmadi, 2008, hlm.142).

Penelitian tentang masase punggung menggunakan minyak kelapa (VCO)

oleh Setyawati (2012) dengan judul pengaruh mobilisasi dan penggunaan VCO

(Virgin Coconut Oil) terhadap ulkus dekubitus pada gangguan motorik pasca

stroke di RS Islam Sultan Agung Semarang. Kelompok intervensi dilakukan

mobilisasi 2-3 jam sekali dengan memberikan VCO sedangkan kelompok kontrol

dilakukan mobilisasi lebih dari 2-3 jam sekali dan tidak diberikan VCO. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan grade dekubitus pada

kelompok intervensi dan kontrol yang dilakukan mobilisasi dan diberikan VCO

dengan nilai p = 0,495.

Berdasarkan uraian di atas peneliti sangat tertarik untuk membuat karya

tulis ilmiah yang berjudul pengaruh alih baring dan back massage terhadap resiko

kejadian dekubitus pada pasien dengan stroke di Ruang HCU RSUD Mangusada.
Pengaruh Terapi Meniup Baling-Baling Terhadap Saturasi Oksigen dan

Respiration Rate Pasien dengan PPOK

A. Latar Belakang

Pneumonia merupakan infeksi yang menyerang parenkim paru dan

jaringan interstisial di alveolus yang disebabkan oleh bakteri, dengan tanda dan

gejalanya seperti demam tinggi, batuk berdahak, frekuensi napas cepat > 50

x/menit, sesak napas, sakit kepala, gelisah, nafsu makan berkurang (Ihsaniah,

2019). Insiden pneumonia pada anak kurang dari lima tahun di Negara

berkembang lebih tinggi bila dibandingkan dengan Negara maju, yaitu sebesar

10-20 kasus/100 anak dalam setahun sehingga menyebabkan lebih dari 5 juta

kematian pertahun pada Balita.

Menurut Riskesdas (2018) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan

prevalensi pneumonia dari 1,6% pada tahun 2013 menjadi 2% pada tahun 2018

dari populasi balita yang ada diIndonesia pada tahun 2018. Selama beberapa

tahun terakhir cakupan pneumonia tidak pernah mencapai target nasional.

Capaian pada tahun 2015 hanya sebesar 14,64 % dari yang ditargetkan sebesar

20 % pada seluruh kabupaten dan kota yang ada (Apriliza & Zulaikha, 2018).
Pneumonia ditandai dengan distress pernapasan. Distress pernapasan

merupakan kompensasi tubuh saat terjadinya gangguan oksigen, konsentrasi

oksigen yang rendah menstimulus syaraf pusat untuk meningkatkan frekuensi

nafas cepat. Bila upaya ini tidak terkompensasi, berdampak pada status gangguan

oksigenasi dari ringan hingga berat serta menimbulkan kegawatan (Muliasari &

Indrawati, 2018).

Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah terhadap penyakit ISPA

yaitu : Penemuan kasus pneumonia dilakukan secara aktif dan pasif, peningkatan

mutu pelayanan melalui ketersediaan tenaga terlatih dan logistik, peningkatan

peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini pneumonia balita dan

pencarian pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan pelaksanaan autopsi

verbal balita di masyarakat (Kemenkes RI, 2017; Padila et al., 2019).

Selain itu, usaha yang dapat dilakukan untuk memperbaiki frekuensi

pernafasan pada anak dengan pneumonia adalah dengan cara farmakologi dan

non farmakologi. Pengobatan farmakologis pada pneumonia biasanya dengan

oksigenisasi dan melibatkan pengobatan beta 2 adrenergik, sedangkan

pengobatan non farmakologis biasanya dengan menghindari faktor penyebab dan

menciptakan lingkungan yang sehat. Beberapa hasil penelitian memperjelas

bahwa latihan non farmakologis seperti pursed lips breathing, relaksasi

pernafasan dalam, bermain meniup balon, dan meniup baling-baling bamboo

mampu mempengaruhi pola pernapasan pasien dan meningkatkan status


oksigenasi pada pasien pneumonia dan tuberculosis (Ihsaniah, 2019; Irfan et al.,

2019).