Anda di halaman 1dari 15

LANDASAN PENDIDIKAN INKLUSI

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Inklusi
Dosen Pengampu : Sunanih, M.Pd

Disusun Oleh:
Kelompok 3

Mohammad Arfan Munajat C1986206015


Mima Siti Rohimah C1986206016
Eni Susilawati C1986206018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT. yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Landasan Pendidikan Inklusi”. Tujuan dari penulisan
makalah ini untuk mengetahui berbagai landasan dalam pendidikan inklusi
(landasan Filosofis, Religius, Yuridi, Pedagogis dan Empiris).

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pendidikan Inklusi pada program studi pendidikan guru sekolah dasar fakultas
keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Dalam
penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan banyak pengarahan, bimbingan
dan bantuan dari Dosen Pengampu Sunanih, M.Pd.

Makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dalam hal isi maupun
sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu penyusun sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun. Demikian semoga laporan ini bisa memberikan
manfaat khususnya untuk penulis dan umumnya bagi pembaca. Aamiin

Tasikmalaya,15 Maret 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR JUDUL
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
A. Pengertian Pendidikan Inklusi......................................................................3
B. Landasan Penyelenggara Pendidikan Inklusi................................................4
1. Landasan Filosofis.....................................................................................4
2. Landasan Religius.....................................................................................4
3. Landasan Yuridis.......................................................................................6
4. Landasan Pedagogis..................................................................................8
5. Landasan Empiris......................................................................................8
BAB III PENUTUP..............................................................................................10
A. Kesimpulan.................................................................................................10
B. Saran............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hakikat pendidikan inklusif sesungguhnya berupaya memberikan
peluang sebesar-besarnya kepada setiap anak Indonesia, untuk memperoleh
pelayanan pendidikan yang terbaik dan memadai demi membangun masa
depan bangsa. Hal ini sesuai dengan kebijakan pendidikan inklusif, yang
tertuang dalam Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan
Inklusif yang menyatakan bahwa “sistem penyelenggaraan pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan
dan memiliki potensi kecerdasan atau pembelajaran dalam lingkungan
pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya”.
Pendidikan inklusif menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil ( 1994/1995 )
didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang
mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khususdilayani sekolah-sekolah
terdekat di kelas biasa bersama dengan teman teman-teman seusianya. untuk
itu perlu adanya rekonstruksi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang
mendukung kebutuhan khusus bagi setiap anak.
Keberadaan anak berkebutuhan khusus di masyarakat masih belum dapat
sepenuhnya diterima, sehingga banyak hal yang menyangkut hak anak-anak
berkebutuhan khusus belum dapat diperoleh atau dengan kata lain masih terjadi
deskriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus baik dalam bidang
sosial, hukum ataupun pendidikan. Untuk itu banyak usaha dari pemerintah
ataupun gerakan masyarakat internasional yang peduli dengan anak-anak
berkebutuhan khusus yang melahirkan kesepakatan dan perangkat hukum
perundang-undangan yang mengikat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada makalah
ini sebagai berikut :
1. Apa Pengertian Pendidikan Inklusi?

1
2. Apa saja Landasan Penyelenggara Pendidikan Inklusi?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan ini sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui Pengertian Pendidikan Inklusi?
2. Untuk mengetahui apa saya landasan-landasan penyelenggara pendidikan
inklusi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Inklusi


Pendidikan inklusi adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada
umumnya untuk belajar. Menurut Hildegun Olsen (Tarmansyah, 2007;82),
pendidikan inklusi adalah sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa
memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi
lainnya. Ini harus mencakup anak-anak penyandang cacat, berbakat. Anak-
anak jalanan dan pekerja anak berasal dari populasi terpencil atau berpindah-
pindah. Anak yang berasal dari populasi etnis minoritas, linguistik, atau budaya
dan anakanak dari area atau kelompok yang kurang beruntung atau
termajinalisasi. Pendidikan inklusi adalah sebuah pelayanan pendidikan bagi
peserta didik yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus di sekolah regular
( SD, SMP, SMU, dan SMK) yang tergolong luar biasa baik dalam arti
kelainan, lamban belajar maupun berkesulitan belajar lainnya. (Lay Kekeh
Marthan, 2007:145)
Menurut Staub dan Peck (Tarmansyah, 2007;83), pendidikan inklusi
adalah penempatan anak berkelainan ringan, sedang dan berat secara penuh di
kelas. Hal ini menunjukan kelas regular merupakan tempat belajar yang
relevan bagi anak-anak berkelainan, apapun jenis kelainanya. Dari beberapa
pendapat, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan inklusi adalah
pelayanan pendidikan untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus tanpa
memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi
lainnya untuk bersama-sama mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah
regular ( SD, SMP, SMU, maupun SMK).

3
B. Landasan Penyelenggara Pendidikan Inklusi
Menurut Herry Widyastono penyelenggaraan pendidikan inklusi
mempunyai landasan filosofis, religius, yuridis, pedagogis dan empiris seperti
di bawah ini. Adapun secara umum landasan penyelenggaraan pendidikan
inklusi adalah sebagai berikut :
1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusi di Indonesia
adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang
didirikan atas pondasi yang lebih mendasar lagi, yang disebut Bhineka
Tunggal Ika. Filsafat ini sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia,
baik kebhinekaan vertikal maupun horisontal yang mengemban misi tunggal
sebagai umat Tuhan di muka bumi ini. Bertolak dari filosofi Bhineka
Tunggal Ika, kelainan (kecacatan) dan hanyala satu bentuk kebhinekaan
seperti halnya Bahasa, Budaya atau Agama. Di dalam diri individu
berkelainan pastilah dapat ditemukan keunggulan tertentu, sebaliknya di
dalam individu anak normal pasti terdapat juga kecacatan tertentu. Karena
semua manusia tidak ada yang sempurna.
Hal ini juga sebaiknya diterapkan dalam sistem pendidikan yang
memungkinkan adanya pergaulan atau interaksi antar siswa yang beragam,
sehingga mendorong sikap silih asah, silih asih dan silih asuh.
2. Landasan Religius
Landasan religius juga termasuk salah satu landasan yang digunakan
untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sebagai bangsa yang
beragama, penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak terlepas dari konteks
agama karena pendidikan merupakan tangga utama dalam mengenal Tuhan
(Allah). Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang di landaskan pada
basis agama. Pengembangan pendidikan di Indonesia sejatinya haruslah
berakar dari nilai-nilai (ideolugi) dan budaya yang diyakini mayoritas
masyarakat. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang landasan
religius dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif. Faktor religi yang di

4
gunakan untuk penjelasan ini adalah AlQur’an Surah Al-Hujurat ayat 13
Allah berfirman :
‫ِ َل لِتَ َعا َرفُوْ ا ۚ اِ َّن اَ ْك َر َم ُك ْم ِع ْن َد هّٰللا ِ اَ ْت ٰقى ُك ْم ۗاِ َّن‬d‫ٰيٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا َخلَ ْق ٰن ُك ْم ِّم ْن َذ َك ٍر َّواُ ْن ٰثى َو َج َع ْل ٰن ُك ْم ُشعُوْ بًا َّوقَبَ ۤا ِٕٕى‬
‫ٌ هّٰللا َ َعلِ ْي ٌم َخبِيْر‬

”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-


laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut memberikan perintah kepada kita, agar saling ta’aruf,
yaitu saling mengenal dengan siapapun, tidak memandang latar belakang
sosial, ekonomi, ras, suku, bangsa, dan bahkan agama.
Dalam QS. An-Nur: 61, Allah SWT juga berfirman:

۟ ُ‫ْس َعلَى ٱأْل َ ْعم ٰى َح َر ٌج َواَل َعلَى ٱأْل َ ْع َرج َح َر ٌج َواَل َعلَى ْٱلمريض َح َر ٌج َواَل َعلَ ٰ ٓى أَنفُ ِس ُك ْم أَن تَأْ ُكل‬
‫وا‬ َ ‫لَّي‬
ِ ِ َ ِ َ
ْ‫ت أَ ْع ٰ َم ِم ُك ْم أَو‬
ِ ‫ت أَ َخ ٰ َوتِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬ِ ‫ت إِ ْخ ٰ َونِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬ِ ‫ت أُ َّم ٰهَتِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬
ِ ‫ت َءابَٓائِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬ِ ‫ِم ۢن بُيُوتِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬
‫ْس َعلَ ْي ُك ْم ُجنَا ٌح أَن‬ َ ‫ص ِديقِ ُك ْم ۚ لَي‬ َ ْ‫ت ٰخَ ٰلَتِ ُك ْم أَوْ َما َملَ ْكتُم َّمفَاتِ َح ٓۥهُ أَو‬ ِ ‫ت َع ٰ َّمتِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬
ِ ‫ت أَ ْخ ٰ َولِ ُك ْم أَوْ بُيُو‬ ِ ‫بُيُو‬
َ ِ‫طيِّبَةً ۚ َك ٰ َذل‬
‫ك‬ ۟
ِ ُ‫تَأ ُكلُوا َج ِميعًا أَوْ أَ ْشتَاتًا ۚ فَإ ِ َذا َدخ َْلتُم بُيُوتًا فَ َسلِّ ُموا َعلَ ٰ ٓى أَنف‬
َ ً‫س ُك ْم تَ ِحيَّةً ِّم ْن ِعن ِد ٱهَّلل ِ ُم ٰبَ َر َكة‬ ۟ ْ

‫ت لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْعقِلُون‬
ِ َ‫َ يُبَيِّنُ ٱهَّلل ُ لَ ُك ُم ٱلْ َءا ٰي‬

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang,
tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan
(bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-
bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-
laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu
yang laki-laki di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah
saudara ibumu yang laki-laki di rumah saudara ibumu yang perempuan, di
rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak
ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.
Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini)

5
hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti
memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi
Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-
ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya”.(QS. QS. An-Nur: 61)
Makna yang tersirat dalam ayat tersebut adalah bahwa Allah swt tidak
membeda-bedakan kondisi, keadaan dan kemampuan seseorang dalam
kehidupan sehari-hari. Masyarakat normal adalah masyarakat yang berada
pada nuansa yang holistik dengan menerima adanya perbedaan sebagai
anugerah Maha Pencipta, ada siang ada malam, ada laki-laki dan ada
perempuan, ada yang cacat dan ada yang tidak cacat merupakan kehidupan
yang terintegrasi menjadi suatu kehidupan sosial yang harmonis sehingga
nampak indah.
Inklusif adalah fitrah yang harus menjadi kewajiban manusia dalam
menjalani hidup dan kehidupan dengan penuh kasih sayang. Namun pada
kenyataannya dalam masyarakat, kadangkala masih adanya rasa was-was
dan kekhawatiran dari personal penyelenggara pendidikan untuk menerima
anak-anak yang cacat menjadi bagian dalam lembaga pendidikannya, karena
mereka takut citra lembaganya akan menurun karena kehadiran mereka
yang cacat berada di dalamnya.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis dalam pendidikan inklusif berkaitan langsung
dengan hierarki, undang-undang, peraturan pemerintah, kebijakan direktur
jenderal, hingga peraturan sekolah. Landasan-landasan yuridis internasional
penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca oleh para
menteri pendidikan se-dunia.
Menurut Dadang Garnida landasan Yuridis pendidikan inklusif yaitu:
a. UUD 1945 (Amandemen) Pasal 31 : (1) berbunyi setiap warga negara
berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) Setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
b. UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 48 Pemerintah
wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 tahun untuk semua

6
anak. Pasal 49 Negara, Pemerintah, Keluarga, dan orang tua wajib
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk
memperoleh pendidikan.
c. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 5 ayat
(1) setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan bermutu. Ayat (2) Warga negara yang memiliki kelainan
fisik, emosional, mental, intelektual dan /atau sosial berhak memperoleh
pendidikan khusus. Ayat (3) Warga negara di daerah terpencil atau
terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh
pendidikan layanan khusus. Ayat (4) Warga negara yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan
khusus. Pasal 11 ayat (1) dan (2) Pemerintah dan pemerintah daerah
wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara
tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin
tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga
negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Pasal 12 ayat
(1) setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dngan bakat, minat dan
kemampuannya (1b) Setiap peserta didik berhak pindah ke program
pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara (1e) Pasal
32 ayat (1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik
yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran
karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan /atau memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Ayat (2) Pendidikan layanan
khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah teerpencil
atau terbelakang, masyarakat adat terpencil, dan /atau mengalami
bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
Dalam penjelasan pasal 15 alinea terakhir dijelaskan bahwa pendidikan
khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang
berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang

7
diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus
pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pasal 45 ayat (1) Setiap
satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan
prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual,
sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.
4. Landasan Pedagogis
Landasan pedagogis adalah landasan yang bersumber dari pendidikan.
Pasal 3 Undang-undang No 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan
pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretaif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jadi, melaui
pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang mampu menghargai
perbedaan dan berpartispiasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai
jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-
sekolah khusus. Betapapun kecilnya mereka harus diberi kesempatan
bersama teman sebayanya.
5. Landasan Empiris
Penelitian tentang inklusi telah banyak dilakukan di negara-negara
barat sejak tahun1980-an. Penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the
National Academy of Science (Amerika Serikat). Hasilnya menunjukan
bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas, atau
tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Penelitian ini
merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya
diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat, yang betul-betul
dapat menentukan anak berkelainan yang tergolong berat. Namun, beberapa
pakar mengemukakan sangat sulit untuk melakukan identifikasi anak
berkelainan secara tepat, karena karakteristik mereka yang sangat heterogen.
Beberapa penelitian kemudian melakukan meta analisis yang dilakukan oleh

8
Carlberg dan Kavale (1980) terhadapa 50 buah penelitian; oleh Wang dan
Barker (1994/1995) terhadap 11 buah penelitian; dan oleh Barker (1994)
terhadap 13 buah penelitian, menunjukan bahwa pendidikan inklusif
berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial
anak berkelainan dan teman sebayanya.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan inklusi adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada
umumnya untuk belajar. penyelenggaraan pendidikan inklusi mempunyai 4
Landasan yaitu landasan filosofis, religius, yuridis, pedagogis dan empiris.
Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusi di Indonesia
adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan
atas pondasi yang lebih mendasar lagi, yang disebut Bhineka Tunggal Ika.
Landasan religius juga termasuk salah satu landasan yang digunakan untuk
menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sebagai bangsa yang beragama,
penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak terlepas dari konteks agama karena
pendidikan merupakan tangga utama dalam mengenal Tuhan (Allah).
Landasan yuridis dalam pendidikan inklusif berkaitan langsung dengan
hierarki, undang-undang, peraturan pemerintah, kebijakan direktur jenderal,
hingga peraturan sekolah.
Landasan pedagogis adalah landasan yang bersumber dari pendidikan.
Pasal 3 Undang-undang No 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan
pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kretaif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.
B. Saran
Dari berbagai peraturan perundangan dan kesepakatan yang ada tersebut
telah mencakup hampir semua hak anak-anak berkebutuhan khusus, hanyaa
yang masih menjadi kendala atau permasalahan adalah point pada pelanggaran
hak-hak anak yang belum ada sangsinya sehingga masih belum adanya
pencapaian hak-hak tersebut secara optimal. Sebagai calon pendidikan, harus
tetap mampu mewujudkan hak-hak anak berkebutuhan tersebut sehingga tidak

10
ada deskriminasi karena telah diketahui tujuan pendidikan penting bagi semua
orang. Masyarakat pun harus memiliki kesadaran untuk peduli dengan anak
berkebutuhan khusus bukan tindakan pengucilan yang dilakukan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Garnida, D. (2015). Pengantar Pendidikan Inklusif. Badung: PT Refika Aditama.


Tarmansyah. (2007). Inklusi Pendidikan untuk Semua.Jakarta: Depdiknas

12

Anda mungkin juga menyukai