Anda di halaman 1dari 2

Benarkah Pembeli Adalah Raja?

Pasti kita pernah mendengar jargon "Pembeli adalah Raja" atau "Pelanggan adalah Raja" atau juga
"Konsumen adalah Raja". Banyak pimpinan perusahaan senantiasa menyampaikan hal tersebut kepada
karyawannya, terlebih kepada bagian marketing atau penjualan dengan alasan kelangsungan hidup
perusahaan sangat tergantung kepada pembeli.
Benarkah pembeli adalah Raja? Seperti kita ketahui seorang Raja adalah penguasa yang dapat
memerintahkan apa saja dan itu harus ditaati. Jika perusahaan benar-benar menganggap pembeli
adalah raja dan setiap tanggapan, permintaan harus sebisa mungkin dituruti, jangan salahkan mereka
jika suatu saat perusahaan akan kolaps.
Kenyataan benar bahwa dasar keberhasilan perusahaan berada di tangan pembeli atau konsumen.
Persaingan dunia bisnis yang semakin tinggi menuntut memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada
konsumen dan hal ini tidak bisa dibantah oleh pelaku bisnis. Namun, apakah semua konsumen akan
dianggap "Raja" bagi produsen atau penjual?
Berdasar artikel diatas setujukah dengan pendapat diatas ? dan berikan alasanya ?

Menurut saya, istilah "Pembeli adalah Raja" atau "Pelanggan adalah Raja" atau juga "Konsumen adalah
Raja" saat ini tidak sepenuhnya relevan. Hubungan antara penjual dan pembeli tidak sepenuhnya sesuai
dengan istilah “konsumen adalah raja”, jika pembeli adalah raja, lalu apakah posisi penjual adalah
sebagai pelayan? Tentu saja tidak. Menurut saya, hubungan antara penjual dan pembeli atau
perusahaan dan konsumen adalah sebagai mitra. Artinya ada hubungan timbal balik, saling
membutuhkan, serta ada hak dan kewajiban yang dimiliki oleh masing-masing pihak.
Perusahaan sebagai penjual barang/penyedia jasa memerlukan pelanggan untuk mengkonsumsi
produk/layanannya sehingga kelangsungan hidup perusahaan dapat terjaga. Kewajiban perusahaan
adalah memberikan produk/layanan kepada pelanggan, dan perusahaan berhak mendapatkan imbalan
dari konsumen atas pemberian produk/layanan tersebut. Perusahaan harus memperlakukan pelanggan
dengan sebaik-baiknya sehingga pelanggan merasa puas. Jika pelanggan merasa puas terhadap
produk/layanan yang dikonsumsi, diharapkan pelanggan akan melakukan pembelian kembali dan
merekomendasikan produk/layanan kita kepada orang lain.
Pelanggan juga membutuhkan produk/layanan untuk memenuhi kebutuhannya. Konsumen berhak
mendapatkan produk dan layanan yang baik dari perusahaan, serta berkewajiban membayar sejumlah
uang/imbalan kepada perusahaan.
Kaitannya dengan hal tersebut di atas dan dengan semakin banyaknya pesaing, hal yang penting untuk
diperhatikan oleh perusahaan adalah bagaimana agar perusahaan berhasil memenangkan hati sebanyak
mungkin potensial buyer untuk mau membeli produknya atau menggunakan jasanya. Untuk itu,
perusahaan harus mampu menggali kebutuhan pelanggan dengan tepat dan mampu memberikan solusi
kepada pelanggan atas permasalahan yang dihadapi pelanggan. Kepekaan/empati kepada pelanggan
adalah hal yang sangat penting untuk bisa memahami kebutuhan pelanggan dengan tepat. Strategi yang
dapat dilakukan oleh perusahaan antara lain:
1. Mengidentifikasi pasar yang dituju dengan melakukan segmentasi pasar dan kemudian
memilih pasar yang sesuai dan potensial.
2. Melakukan identifikasi dan memahami kebutuhan pelanggan pada tiap segmen pasar yang
telah dipilih dengan tepat.
3. Sampaikan kepada pelanggan apa yg bisa kita berikan kepada pelanggan dengan jelas
sebagai solusi atas kebutuhan/permasalahan mereka.
4. Sampaikan benefit lain yang bisa dirasakan oleh pelanggan (financial benefit, emotional
benefit, physical benefit, spiritual benefit)
Referensi:
- Harsasi, Meirani. 2014. Pengembangan Produk. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
- SP 102: Cutomer Needs (https://www.youtube.com/watch?v=FxoUGFPxFTE diakses pada 23
April 2021)