Anda di halaman 1dari 11

No. ID dan Nama Peserta: / dr.

Sudaeri Abbas
No. ID dan Nama Wahana: / UGD RSUD Lamaddukelleng
Topik: Tonsilitis Akut
Tanggal (Kasus): 25 juni 2015
Nama Pasien: An. N No. RM : 15006651
Tanggal Presentasi: 9 September 2015 Pendamping: dr.
Rasfiani/dr.A.Sukmawati
Tempat Presentasi: RSUD Lamadukelleng
Objektif Presentasi: Anggota Komite Medik & Dokter Internsip RSUD. Lamadukelleng
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Seorang anak perempuan umur 6 tahun datang dengan keluhan demam yang telah
dialami sejak 3 hari. Demam dirasakan terus-menerus, disertai rasa nyeri daerah persendian.
Sakit kepala (+), batuk (-), sesak (-). Nafsu makan menurun, nyeri telan (+), mual (-), muntah
(-).
BAK: lancar, BAB: biasa, terakhir kemarin malam.
Tujuan:
 Memberi terapi simptomatis dan kuratif terhadap pasien tonsilitis
 Memberi informasi tentang penyakit tonsillitis pada pasien
 Memberi edukasi untuk menghindari faktor-faktor yang dapat memperburuk perjalanan
penyakit
 Memberi edukasi tentang cara mencegah penularan atau kekambuhan penyakit
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
Bahasan: Pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
Membahas: Diskusi

No. Registrasi: 15006651


Data Pasien: Nama: An. N

Nama Klinik: UGD RSUD. Lamadukelleng

Data utama untuk bahan diskusi:

1. Diagnosis/gambaran klinis: Seorang anak perempuan umur 6 tahun datang dengan


keluhan demam yang telah dialami sejak 3 hari. Demam dirasakan terus-menerus, disertai
rasa nyeri daerah persendian. Sakit kepala (+), batuk (-), sesak (-). Nafsu makan
menurun, nyeri telan (+), mual (-), muntah (-).
2. Riwayat pengobatan: Berobat di mantri tapi tidak sembuh.

3. Riwayat kesehatan/penyakit sebelumnya: Tidak ada.

4. Riwayat keluarga: (+), ibu pasien menderita penyakit yang sama + 5 hari lalu.

1
5. Lain-lain: Menurut ibunya, pasien sering makan berminyak, serta mengkonsumsi
minuman dingin (es).

Daftar Pustaka:
1. Rusmarjono, Soepardi EA. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid. In: Soepardi
EA, Iskandar N, Bashiruddin J, et al, eds.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorokan, Kepala, & Leher. 6th ed.Jakarta: Balai Penerbit FK-UI; 2008: 217-25.
2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al, eds. Faringitis Akut/Tonsilitis Akut. In: Kapita
Selekta Kedokteran. 3rded.Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 1999: 118.
3. Rukmini S, Herawati S. Pemeriksaan Mulut, Faring, Tonsil, dan Laring. In: Teknik
Pemeriksaan Telinga, Hidung,& Tenggorokan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2000: 49-74.
4. Medicine A. Tonsilitis (Radang Amandel). 2012. Available from:
http://medicastore.com/penyakit/57/Tonsilitis_Radang_Amandel.html
5. Stevens W. Acute Tonsillitis-Tonsillitis. 2001. Available from:
http://www.medicineonline.com/topics/A/2/Acute-Tonsillitis/Tonsillitis.html
6. Linus CC. Acute Tonsilitis: Diploma in Medical Science. 2011. Available from:
http://www.slideshare.net/xmari0nettex/acute-tonsilitis

Hasil pembelajaran:
1. Definisi dan Etiologi Tonsilitis Akut
2. Patomekanisme Tonsilitis Akut
3. Manifestasi Klinis Tonsilitis Akut
4. Terapi Tonsilitis Akut
5. Pencegahan Tonsilitis Akut

2
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subyektif

Seorang anak perempuan umur 6 tahun datang dengan keluhan demam yang telah
dialami sejak 3 hari. Demam dirasakan terus-menerus, disertai rasa nyeri daerah
persendian. Sakit kepala (+), batuk (-), sesak (-). Nafsu makan menurun, nyeri telan
(+), mual (-), muntah (-). BAK lancar. BAB biasa, terakhir kemarin malam.
Riwayat penyakit sebelumnya (-)
Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (+), keluhan yang serupa dialami sang Ibu
± 5 hari yang lalu.
Riwayat berobat di mantri tapi tidak sembuh (-)
Menurut keterangan Ibu pasien, pasien sering makan berminyak, serta
mengkonsumsi minuman dingin (es).

2. Obyektif
2.1 Pemeriksaan Fisik
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, status general : sakit sedang/ gizi baik/
composmentis (E4M6V5); tanda vital : TD = 100/60 mmHg, N = 102 x/menit, P = 22
x/menit, S = 37,8 °C
Kepala : anemis -/-, ikterus -/-, lidah kotor (-)
Leher : terdapat pembesaran tonsil D/ et S/ = T2 : T2, hiperemis (+),
detritus(+), kripte melebar (-), pembesaran kelenjar limfe -/-
Dada : dalam batas normal
Jantung : dalam batas normal
Abdomen : peristaltik (+) kesan normal, Spelnomegali (-) Scuffner (-)
Ekstremitas : dalam batas normal
2.2 Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium

3. Assesment
3.1 Definisi dan Etiologi Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan jaringan limfoid yang terdapat di
dalam rongga mulut yaitu : tonsial faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil

3
faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba eustachius (lateral band dinding
faring/Gerlach’s tonsil).
Keempat jaringan limfoid dalam Cincin Waldeyer, pada permukaannya diselimuti
epitel kolumnar faringeal. Terdapat kripte yang bercabang-cabang tersusun pada tonsil
faringeal dan tonsil palatina, serta kripte tunggal pada tonsil lingual. Tonsil tuba
eustachius terhubung erat dengan kelenjar saliva.

Gambar 1. Anatomi dan histologi tonsil

Penyebab infeksi melalui udara (air bone droplets), tangan, dan ciuman. Dapat
terjadi pada semua umur, terutama pada anak. Penyebab umum tonsilitis dapat meliputi:

4
 Bakteri, seperti bakteri jenis Streptococcus (50%) meliputi Streptococcus β
haemolytic (25%), Streptococcus viridans, dan Streptococcus piogenes. Bakteri
penyebab tonsilitis akut lainnya meliputi, Staphylococcus Sp, Pneumococcus, dan
Hemophilus influenzae.
 Virus seperti Adenovirus atau virus Epstein-Barr, yang juga menyebabkan infeksi
mononukleosis.
 Difteri merupakan penyakit serius yang menghasilkan pseudomembran di
tenggorokan. Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dapat dicegah
dengan vaksin DPT.
Subakut tonsilitis ini paling sering disebabkan oleh Actinomyces, flora normal
pada mulut yang dapat menyebabkan infeksi.
Pada tonsilitis kronis merupakan infeksi berkepanjangan dari tonsillitis akut
yang sering disebabkan oleh bakteri.
Faktor predisposisi munculnya tonsillitis adalah dapat bersifat umum maupun
khusus. Yang bersifat umum dapat dilihat dari lingkungan hidup penderita antara lain:
kepadatan penghuni rumah yang terlalu padat; tingkat higiene tempat tinggal dan
setiap anggota keluarga kurang; serta status gizi malnutrisi dan tingkat kesehatan
setiap anggota keluarga yang menurun. Yang bersifat khusus dilihat dari pribadi
penderita: konsumsi jenis makanan tidak higiene dan terinfeksi; higiene mulut yang
buruk; pengaruh cuaca; kelelahan  fisik; serta pengobatan tonsillitis yang tidak
adekuat.

3.2 Patomekanisme
Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa
tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak jaringan
limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang ujungnya
bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak oleh kita berupa lubang yang
disebut kripta. Saat folikel mengalami peradangan, tonsil akan membengkak atau
membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar dan mengisi
kripta yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak kuning. Kotoran ini disebut
detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit polimorfonuklear, bakteri yang
mati dan epitel tonsil yang terlepas.

5
6
Tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis.
Tonsilitis akut dengan detritus yang menyatu kemudian membentuk kanal-kanal
disebut tonsilitis lakunaris. Detritus dapat melebar dan membentuk membran-
membran semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil. Bila proses radang ini terjadi
berulang, maka akan mengikis epitel mukosa tonsil dan jaringan limfoid. Selama
proses penyembuhan, jaringan limfoid akan terganti oleh jaringan parut yang akan
mengkerut sehingga melebarkan kripti yang terisi oleh detritus. Bila keadaan ini
(proses radang) terus berlangsung maka dapat menembus kapsul tonsil sehingga
melekatkan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada akhirnya akan terjadi
pembesaran kelenjar limfe submandibula pada anak tersebut.

3.3 Manifestasi Klinik

Ada tiga bentuk tonsillitis, yaitu:


 Akut, dengan onset cepat dari gejala yang signifikan.
 Subakut, dengan onset lambat gejala kurang jelas.
 Kronis, dengan gejala intermiten yang bertahan dari waktu ke waktu.
Gejala tonsillitis akut:
 Onset cepat dari sakit tenggorokan yang memburuk seiring waktu.
 Subfebril sampai hiperpirexia.
 Kesulitan menelan.
 Hiperemis, pembesaran tonsil dengan atau tanpa detritus.
 Tanpa pembesaran kelenjar limfe submandibula atau terdapat pembesaran dengan
konsistensi lunak.

(a) (b)
Gambar 2. (a) Tonsilitis akut dengan detritus, tampak uvula membengkak penyebab
umumnya bakteri.
(b) Tonsilitis akut tanpa detritus, tampak hiperemis penyebab umumnya virus.

7
Gejala tonsillitis subakut, berlangsung selama 3 minggu sampai 3 bulan:
 Tonsil membesar, berbau, kripte teerisi detritus.
 Sakit tenggorokan bersifat fluktuatif ringan sampai sedang.
 Napas berbau.
 Terdapat pembesaran kelenjar limfe submandibula dengan konsistensi lunak.
Gejala tonsillitis kronis, berlangsung ≥ 3 bulan:
 Tonsil membesar, kripte melebar beberapa terisi detritus.
 Sakit tenggorokan tidak menetap, terasa kering, disfagi, rasa mengganjal di
tenggorokan.
 Napas berbau, dapat mendengkur bila telah terjadi obstruksi jalan napas.
 Terdapat pembesaran kelenjar limfe submandibula, konsistensi padat.

Gambar 3. Tonsililtis kronik


Besar tonsil ditentukan sebagai berikut: 
  T0        : tonsil di dalm fosa tonsil atau telah diangkat  
  T1        : bila besarnya ¼ jarak arkus anterior dan uvula 
  T2        : bila besarnya ½ jarak arkus anterior dan uvula  
  T3        : bila besarnya ¾  jarak arkus anterior dan uvula 
  T4        : bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

8
3.4 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah perifer
lengkap (DPL), kultur dan sensitivitas, serta kultur apus tenggorokan
(throat swab). Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan
diagnosis (mengidentifikasi organisme yang menyebabkan infeksi virus
atau bakteri).

3.5 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.


Tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat bercak-bercak detritus. Dapat
juga ditemukan nanah dan membrane putih tipis yang menempel di tonsil.
Membran dapat diangkat dengan mudah tanpa menyebabkan perdarahan.
Pemeriksaan penunjang dilakukan antara lain, DPL dapat dilihat
leukositosis bila penyebabnya bakteri dan kultur apus tenggorokan untuk
menentukan jenis bakteri penyebab.

3.6 Terapi
Tujuan terapi pada tonsilitis adalah untuk mencapai keadaan bebas
demam dan gejala, serta mencegah komplikasi.
3.6.1 Terapi Non Farmakologis
Terapi non farmakologis untuk tonsilitis antara lain, bila suhu badan
meninggi penderita harus tirah baring, pemberian makanan yang lunak dan
mudah dicerna bila penderita masih nyeri menelan. Serta dianjurkan untuk
banyak minum dan menjaga higiene mulut.
3.6.2 Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis bertujuan untuk simtomatis dengan pemberian
antipiretik, analgetik, dan kuratif dengan pemberian antibiotik.
Antipiretik dan analgetik yang paling aman, misalnya Paracetamol
(Gol.Acetaminophen) dan Ibuprofen (NSAID Gol.Propionic Acid).
Antibiotik yang diberikan umumnya bersifat board spectrum,
misalnya Penicilin, Ampicilin, dan Amoxicilin (Gol.Penicillin); serta
Cefadroxil, Ceftriaxon, Ceftazidime, dan Cefotaxime (Gol.Cephalosporin).
3.7 Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya tonsillitis dapat dilihat faktor predisposisi,

9
antara lain : yang bersifat umum dapat dilihat dari lingkungan hidup
penderita antara lain: kepadatan penghuni rumah yang tidak terlalu padat,
minimal ≥ 10m2/orang ; tingkat higiene tempat tinggal dan setiap anggota
keluarga harus diperhatikan, seperti penderita menjaga kontak terbuka
antar anggota keluarga; serta status gizi dan tingkat kesehatan setiap
anggota keluarga harus berkecukupan. Untuk yang bersifat khusus dilihat
dari pribadi penderita: konsumsi jenis makanan tingkat higienisnya harus
diperhatikan; higiene mulut harus dijaga; fisik tidak boleh terlalu lelah;
pengobatan tonsillitis yang harus adekuat; serta hindari merokok.
4. Plan

Diagnosis:

- Tonsilitis akut

Pengobatan:

- PCT 3x250 mg
- Amoxicilin 3x250 mg/hari selama 5 hari
- Vit.C 3x1/2 tab
Pendidikan:
 Pasien harus tirah baring di rumah dan izin masuk sekolah.
 Makanan lunak-padat, tidak merangsang.
Konsultasi:
Diperlukan konsultasi Spesialis THT-KL jika timbul penyulit
atau jika pihak keluarga menginginkan.
Rujukan:
Rujuk ke Spesialis THT-KL bila timbul penyulit.
Kontrol:
Bila obat habis atau bila perjalanan penyakit memburuk selama
di rumah.

10
11