Anda di halaman 1dari 10

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F2. Kesehatan Lingkungan


Penyuluhan Pencegahan Demam Berdarah Melalui Metode

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Disusun Oleh:

dr.Misni Irianti Muhammad

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS SALOBULO
KECAMATAN SAJOANGING
WAJO - SENGKANG
2015
BAB I

LATAR BELAKANG

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai


penyakit yang endemis terutama bagi anak-anak. Di Indonesia DBD timbul sebagai wabah
untuk pertama kalinya di Surabaya pada tahun 1968. Sampai saat ini DBD dilaporkan dari 26
propinsi dan telah menyebar dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan dan selama tahun
1974 sampai 1982 dilaporkan sebanyak 3500-7800 kasus dengan Case Fatality Rate 3.9%.
Penyebab penyakit ini ialah virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegepty sebagai faktor utama, disamping nyamuk Aedes albopictus.

Wabah penyakit demam berdarah yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia
di beberapa tahun yang lalu perlu mendapat perhatian. Begitu pula vektor Aedes aegepty yang
terdapat baik di daerah pedesaan maupun perkotaan memberi risiko timbulnya wabah
penyakit di masa akan datang. Untuk mengatasi masalah penyakit demam berdarah di
Indonesia telah puluhan tahun dilakukan berbagai upaya pemberantasan vektor, tetapi
hasilnya belum optimal. Kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi secara teoritis ada
empat cara untuk memutuskan rantai penularan DBD ialah melenyapkan virus, isolasi
penderita, mencegah gigitan nyamuk (vektor) dan penggalian vektor. Untuk pengendalian
vektor dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan, salah
satunya dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
BAB II

PERMASALAHAN

Perubahan iklim atau climate changes ternyata menjadi salah satu faktor

meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kondisi itu disampaikan Direktur

Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Direktorat Pengendalian Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Andi Muhadir pada konferensi pers di kantor

Kemenkes.

“Untuk  Indonesia DBD sudah endemis. Namun, karena perubahan iklim membuat  musim

tidak bisa lagi diprediksi sehingga menyebabkan penyakit ini ada sepanjang tahun dan

cenderung meningkat,”ujar Andi. Menurut Andi  DBD adalah penyakit yang disebabkan

infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes baik Aedes Aegypti atau

Aedes Albopictus. DBD termasuk salah satu emerging diseases yang hingga saat ini masih

menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum ditemukan obat maupun vaksinnya.

DBD juga berpotensi menimbulkan KLB terutama pada musim penghujan.

“DBD sejak dulu menjadi penyakit di masyarakat dan berkaitan dengan lingkungan kita.

DBD menjadi KLB jika vector tidak diberantas,”katanya.

Andi mengungkapkan  sejak ditemukan pertama kali tahun 1968, jumlah kasus dan

penyebaran area DBD cenderung meningkat, meskipun angka kematian (CFR) dapat ditekan.

Jika pada tahun 2010 angka kematian mencapai 0,87 persen, pada tahun 2011 meningkat

menjadi 0,91 persen dan sempat menurun pada tahun 2012 menjadi 0,90 persen dengan total

kasus tahun 2012 sebanyak 90245 penderita dan jumlah kematian 816 penderita.

Sedangkan tahun 2013 ini, Andi mengungkapkan, selama Januari-Juni DBD

dilaporkan terjadi di 31 provinsi dnegan jumlah kasus sebanyak 48.905 penderita, dan 376
diantaranya meninggal dunia. Provinsi yang dilaporkan KLB DBD tahun 2013 yaitu

Lampung,Sulsel, Kalteng, dan Papua.

Andi menyatakan terdapat beberapa factor risiko penularan penyakit DBD. Salah

satunya, disebabkan perilaku masyarakat yang tidak melakukan Pemberantasan Sarang

Nyamuk (PSN). “Belum ada obat anti virus DBD karena itu yang bisa dilakukan saat ini

adalah tindakan pencegahan atau preventif seperti PSN. Tapi, ini seringkali dilupakan

masyarakat,” kata Andi.

Andi mengatakan, dapat dilakukan dengan 3 M Plus. 3 M yaitu menguras dan

menyikat tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan mendaur

ulang barang bekas atau membuang barang bekas pada tempat sampah tertutup.

Sedangkan plus yaitu memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa,

mengatur ventilasi dan pencahayaan dalam ruangan, mengganti air vas bunga, tempat minum

burunng minimal 1 minggu sekali, menghindari menggantung pakaian dalam kamar,

menggunakan obat anti nyamuk, dan menaburkan bubuk larvasida (Abate) di tempat

penampungan air.
BAB III

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Penyuluhan mengenai Penyuluhan Pencegahan Demam Berdarah Melalui Metode

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) berupa presentasi, diskusi dan pertanyaan-


pertanyaan untuk menggali pengetahuan dasar warga. Informasi ini mencakup pengertian apa
itu Demam Berdarah, cara penularan dan pencegahanya.

Penyuluhan disampaikan dengan metode langsung (direct communication/face to


face communication) dan penyampaiannya memperlihatkan materi penyuluhan kepada

peserta dengan menggunakan poster.


BAB IV

PELAKSANAAN

1. Waktu dan tempat pelaksanaan

Hari/Tanggal : Rabu, 2 September 2015

Waktu : Pukul 10.00 WITA

Tempat : Puskesmas Salobulo

Topik : Penyuluhan Pencegahan Demam Berdarah Melalui Metode

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Peserta : Pasien maupun keluarga pasien yang datang ke PKM

Pemateri : dr. Misni Irianti Muhammad

2. Alur Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

a. Tahap Perkenalan dan Penggalian Pengetahuan Peserta

Setelah memberi salam dan perkenalan, pemateri terlebih dahulu menyampaikan

maksud dan tujuan diberikan penyuluhan sebelum materi disampaikan. Kemudian

pemateri memberi pertanyaan pembuka untuk mengetahui tingkat pengetahuan

peserta tentang materi yang akan diberikan.

Pertanyaan yang diberikan, sebagai berikut:

Ada yang tahu tidak apa itu DBD?

Bagaimana cara penularanya DBD?

b. Tahap Penyajian Materi

Penyajian materi penyuluhan melalui diskusi dengan bantuan poster. Adapun materi

penyuluhan meliputi :

 Pengertian Penyakit DBD


 Bagaimana cara penularan DBD

 Gejala yang timbul jika sudah terinfeksi penyakit DBD

 Cara mencegah DBD?

c. Tahap Penutupan

Di akhir presentasi materi, pemateri memberikan kesempatan pada peserta untuk

bertanya langsung apabila ada materi yang tidak dimengerti. Setelah sesi tanya jawab

dan diskusi, penyuluhan ditutup dengan salam.


BAB V

MONITORING DAN EVALUASI

1. Monitoring

a. Memperhatikan respon peserta saat penyuluhan dilaksanakan

b. Mengarahkan peserta untuk memberikan pertanyaan.

c. Menjawab pertanyaan yang diajukan.

2. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur

Semua peserta mendengarkan dengan seksama materi yang disajikan

b. Evaluasi Proses

Pelaksanaan penyuluhan berjalan sebagaimana yang diharapkan dan peserta

antusias mengajukan pertanyaan kepada pemateri

c. Evaluasi Hasil

Peserta yang hadir mengerti dan memahami isi dari materi yang disampaikan.

Hal ini terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta dan terbentuknya

suatu diskusi yang berlangsung secara dua arah.


KESIMPULAN

Nyamuk dapat menyebabkan Demam Berdarah Dengue oleh Nyamuk betina Aedes
albopictus dan Nyamuk betina Aedes aegypti. Untuk itu jika masyarakat telah mendapat
gejala – gejala yang seperti disebutkan diatas maka dapat langsung merujuk ke rumah sakit,
puskesmas untuk segera mendapat pertolongan. Penyebab penyakit yang diakibatkan oleh
nyamuk dapat dicegah dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
 Nyamuk ternyata tidak sembarangan untuk hinggap ke mangsanya. Tidak setiap darah
dihisapnya, kecuali si mangsa punya bau khusus yang disukai nyamuk. Bau itu berasal dari
tubuh manusia sendiri yang dihasilkan oleh bakteri yang menempel pada badan. Jangan heran
bila ada nyamuk suka menghisap darah orang orang tertentu dan membiarkan yang lainnya.
Hasil ini merujuk pada penelitian Composition of Human Skin Microbiota Affects
Attractiveness to Malaria Mosquitos. Studi melibatkan 50 pria yang diminta membiarkan bau
alami tubuh mereka keluar dengan sendirinya. Mereka dilarang mengonsumsi makanan yang
bisa mengubah ciri khas bau tubuh yang asli. Seperti bawang putih, bawang merah, dan
sebagainya.
Setelah itu, dilakukan pengujian sejauh mana nyamuk jenis anopheles gambiae akan
menghisap darah mereka. Usai proses tersebut, peneliti mengambil sampel kulit dari relawan
dan memeriksa mikroba yang menempel padanya. Ternyata didapat kesimpulan, nyamuk
suka dengan badan yang baunya dikeluarkan oleh bakteri yang jumlahnya banyak tapi dengan
jenis bakteri yang tidak beragam. Namun, nyamuk kurang suka jika tubuh seseorang muncul
bau yang dihasilkan beragam jenis bakteri.
DAFTAR ISI

http://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk
http://organisasi.org/ilmu_pengetahuan/kesehatan_masyarakat
http://sidomi.com/54786/nyamuk-pilah-pilih-mangsa-dari-bau-tubuh/
http://sobatsehat.com/2009/12/07/kenali-10-gejala-gejala-penyakit-demam-berdarah/
http://www.kesimpulan.com/2011/08/uji-lapangan-nyamuk-aedes-aegypti.html
Dinkom.2007.Jadikan PSN Sebagai Budaya.http://www.infokom.jatim.go.id
Indra Cahaya.2003.Pemberantasan vector demam berdarah di Indonesia.
http://www.library.usu.co.id
Tim Editor.2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:Departemen IPD FKUI.
Sisila,Pujiastuti.2005 DBD dalam Data. www.Pdat.co.id
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008
Depkes RI.2005.Pencegahan Dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengu Di
Indonesia.Jakarta:Dirjen PP&PL,2004.Dengue dengan Permasalahannya.
http://www.mediando.co.id
Dr.Faziah A. Siregar.2004.Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah      
Dengue di Indonesia.http://www.library.usu.co.id
Staff  Pengajar Fkui 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Bagian IKA FKUI
Hidayat. Aziz.2007. Riset Keperawatan dan Tekhnik Penulisan Ilmiah. Surabaya: Salemba
Medika
Nursalam.2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Medika Salemba.
Noto Adminodjo, S.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta