Anda di halaman 1dari 9

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F5. Upaya Pencegahan dan Pemberatasan Penyakit Menular

dan Tidak Menular

Penapisan Gangguan Pendengaran Pada Anak Usia Sekolah

Disusun Oleh:

dr.Misni Irianti Muhammad

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS SALOBULO
KECAMATAN SAJOANGING
WAJO - SENGKANG
2015
BAB I

LATAR BELAKANG

Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk


mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Saat terjadi gangguan pendengaran,
suara-suara keseharian mulai memudar. Pada kebanyakan orang prosesnya berjalan sedikit
demi sedikit. Biasanya nada tinggi yang terlebih dulu memudar. Suara kicauan burung
dipohon terdengar lama kelamaan menjadi kecil. Suara musik makin tidak jelas. Karena nada
rendah biasanya terdengar lebih baik dari nada lainnya, bukan hal yang aneh jika seseorang
sudah mulai mengalami gangguan dan masih mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan
pendengarannya. Bila kondisi pendengaran memburuk, suara yang diperlukan untuk
memahami percakapan makin tidak jelas. Konsonan dengan frekwensi tinggi tidak lagi
terdengar dan membuat makin sulit membedakan satu suara dengan suara yang lain. Telinga
adalah sistem yang sangat kompleks. Masalah yang terjadi pada salah satu bagian pada
system dapat menyebabkan hilangnya pendengaran. Secara medis gangguan pendengaran
dibagi ke dalam 2 (dua) kategori pokok:
1. Conductive hearing Loss, disebabkan oleh masalah yang terjadi pada telinga luar
atau tengah dan berkaitan dengan masalah penghantaran suara. Kemungkinan
penyebab bisa dari tertumpuknya earwax atau kotoran telinga, infeksi.
2. Sensorineural hearing loss, ini adalah istilah untuk menggambarkan adanya masalah pada
telinga bagian dalam, baik di cochlea, syaraf pendengaran atau sistim pendengaran pusat
(sering disebut tuli syaraf). Gangguan dengan tipe ini bisa disebabkan oleh berbagai hal
namun kebanyakan disebabkan oleh kerusakan pada sel rambut didalam cochlea akibat
penuaan, atau rusak akibat suara yang terlalu keras.
3. Tipe ke tiga dari gangguan pendengaran disebut Mixed Hearing Loss (gangguan
pendengaran campuran), dimana kondisi gangguan pendengarannya ada unsur konduktif &
sensorineural. Banyak orang dengan gangguan pendengaran jenis ini dapat terbantu bila
memakai alat bantu dengar
Gangguan pendengaran yang paling umum adalah Keratosis obturans yang
merupakan pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan epitel liang telinga luar, berwarna
putih seperti mutiara, sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta
kurang dengar. Keratosis obturans pada umumnya terjadi pada pasien usia muda antara umur
5-20 tahun dan dapat menyerang satu atau kedua telinga. Etiologi keratosis obturans hingga
saat ini belum diketahui. Namun, mungkin disebabkan akibat dari eksema, seboroik dan
furonkulosis. Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat tuli konduktif akut, nyeri yang
hebat, liang telinga yang lebih lebar (karena adanya erosi tulang yang menyeluruh sehingga
liang telinga tampak lebih luas), membran timpani utuh tapi lebih tebal dan jarang ditemukan
adanya sekresi telinga. Gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh
desakan gumpalan epitel berkeratin di liang telinga.
Infeksi telinga tengah atau otitis media, merupakan infeksi telinga pada telinga tengah
yang umumnya di sebabkan oleh bakteri. Dapat di bedakan atas otitis media akut dan kronis.
Kejadian otitis media akut lebih sering terjadi pada anak-anak. Hilangnya pendengaran pada
otitis media bisa karena kerusakan membrana timpani berupa perforasi, ruptura, sikatriks
yang terjadi pada otitis media akut supuratif, ataupun akibat glue ear yaitu menumpuknya
cairan kental seperti lem yang di sebabkan oleh hasil sisa dari Otitis media supuratif kronis
maupun karena otitis media efusi kronis.

Gangguan pendengaran seperti yang dibahas diatas merupakan gangguan


pendengaran utama yang sering terjadi pada anak-anak. Bila dibiarkan maka akan
menurunkan retensi belajar sehingga akan sangat berdampak pada kemampuan anak
dikemudian hari sehingga perlu dilakukan sebuah penapisan gangguan telinga secara rutin.
BAB II

PERMASALAHAN

Manajemen pengelolalan gangguan penginderaan di Puskesmas Anggeraja selama ini


berjalan belum maksimal dengan pendataan terhadap kasus kasus gangguan penginderaan
belum terdokumentasi dengan baik. Mengingat tingginya insidensi gangguan pendengaran
akibat serumen pada usia muda maka perlu dilakukan suatu penapisan awal sehingga semua
kasus dapat segera ditangani. Tantangan yang juga muncul adalah belum mahirnya tenaga
paramedic mengidentifkasi gangguan pendengaran baik dengan menggunakan metode visual
biasa maupun dengan menggunakan alat bantu misalnya otoskop dan garputala. Kasus
serumen obturans pun masih belum dapat ditangani secara mandiri terutama dalam
melakukan ekstraksi serumen yang aman
BAB III

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Untuk mendapatkan banyak kasus gangguan pendengaran yang sederhana maka

direncanakan untuk melakukan penapisan sederhana yang digabungkan dalam program bulan

imunisasi anak sekolah. Akan dilakukan penapisan menggunakan modalitas sederhana berupa

lampu kepala dan tes bisik sederhana. Selanjutnya setiap kasus serumen obturans akan

ditangani oleh paramedis dengan panduan dan pelatihan dari dokter internsip. Kasus yang

membutuhkan perhatian khusus misalnya otitis media supuratif kronis yang membutuhkan

pemasangan tampon khusus burowi akan dilakukan oleh dokter internsip.


BAB IV

PELAKSANAAN

Kegiatan Penapisan gangguan pendengaran dengan pendampingan yang dilakukan

oleh dokter internsip dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2015 di SDN 309 Barangmamase.

Kasus yang didapatkan semuanya adalah kasus serumen obturans dan dilakukan penjadwalan

untuk ekstraksi serumen. Kegiatan penapisan selanjutnya dilakukan secara mandiri oleh

paramedis dan kasus yang dianggap perlu ditangani di puskesmas dilakukan penjadwalan

untuk mendapatkan tindakan dan prosedur khusus. Terdapat 24 kasus serumen obturans, 12

kasus otitis eksterna dan 4 kasus OMSK benigna yang dideteksi pada kegiatan penapisan

yang berlangsung sepanjang 3 bulan terakhir


BAB V

MONITORING DAN EVALUASI

1. Monitoring

a. Memperhatikan respon peserta saat penyuluhan dilaksanakan

b. Mengarahkan peserta untuk memberikan pertanyaan.

c. Menjawab pertanyaan yang diajukan.

2. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur

Semua peserta mendengarkan dengan seksama materi yang disajikan

b. Evaluasi Proses

Pelaksanaan penyuluhan berjalan sebagaimana yang diharapkan dan peserta

antusias mengajukan pertanyaan kepada pemateri

c. Evaluasi Hasil

Peserta yang hadir mengerti dan memahami isi dari materi yang disampaikan.

Hal ini terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta dan terbentuknya

suatu diskusi yang berlangsung secara dua arah.


KESIMPULAN

Anak usia dini sangat rentan dengan berbagai masalah yang biasanya berkaitan
dengan gangguan pada proses perkembangannya. Permasalahan -permasalahan anak dapat
dicegah jika orang tua memberikan tiga kebutuhan dasar anak sejak dini. Permasalahan anak
usia dini harus segera ditangani.
Peran serta orangtua terhadap gangguan telinga pada anak sangat dibutuhkan, banyak
kasus penulis dapatkan pasien datang dalam keadaan gendang telinga sudah bocor.
Penatalaksanaan sedini mungkin dan dengan pencegahan yang tepat dapat mengurangi resiko
terjadinya tuli usia dini.