Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH PEMUPUKAN DAN KESUBURAN PERAIRAN

“Jenis-Jenis Pupuk Organik Dan Anorganik Serta Pengaplikasiannya Di Bidang


Perikanan / Perairan”

Dosen Pengampu:
Ir. Kusriani, MP

Disusun oleh:
M02
Kelompok 4

Hana Surya Amanah P.A 185080100111045


Vadia Cahyani 185080100111046
Alivia Salsabila Kusuma T.S. 185080100111048
Annisa Rahma Putri D.C. 185080100111051
Raisa Safara 185080101111004
Riska Ayu Lestari 185080101111005
Yusmeita Eka Lusia W. 185080101111006
Tasya Billa Miftahul J. 185080100111023
Magdalena Florensia O. 185080101111023
Kamilia Dyah Sekarningrum S. 185080100111009

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Jenis-Jenis
Pupuk Organik Dan Anorganik Serta Pengaplikasiannya Di Bidang Perikanan/Perairan” dalam
mata kuliah Pemupukan dan Kesuburan Perairan.
Kami bermaksud menyusun makalah ini untuk menambah wawasan para pembaca
akan mata kuliah pemupukan dan kesuburan perairan. Penyusun mengucapkan terima kasih
kepada Dosen pengampu mata kuliah pemupukan dan kesuburan perairan, yang telah
membantu menyiapkan dan memberi masukan dalam penyusunan makalah ini sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dalam waktu yang telah disepakati.
Kami pun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, maka kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga apa yang kami lakukan dapat menjadi hal yang membawa dampak baik bagi pembaca
dan semoga makalah ini dapat digunakan sebagaimana fungsinya.

Malang, 20 Maret 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ................................................................................................. 1
1.3 TUJUAN ...................................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN .............................................................................................................. 3
2.1 Definisi Pupuk .............................................................................................................. 3
2.1.1 Pupuk Organik ...................................................................................................... 3
2.1.2 Pupuk Anorganik .................................................................................................. 3
2.2 Jenis – Jenis Pupuk ..................................................................................................... 4
2.2.1 Pupuk Organik ...................................................................................................... 4
2.2.2 Pupuk Anorganik .................................................................................................. 6
2.3 Pembuatan Pupuk ......................................................................................................11
2.3.1 Pembuatan Pupuk Organik ..................................................................................11
2.3.2 Pembuatan Pupuk Anorganik ..............................................................................12
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Pupuk ..............................................................................16
2.4.1 Kelebihan Pupuk Organik ....................................................................................16
2.4.2 Kekurangan Pupuk Organik .................................................................................16
2.4.3 Kelebihan Pupuk Anorganik .................................................................................16
2.4.4 Kekurangan Pupuk Anorganik .............................................................................16
2.5 Penerapan Pemupukan dalam Bidang Perairan .........................................................17
2.5.1 Jenis Pupuk dalam Perikanan ..............................................................................17
2.5.2 Syarat Pemupukan dalam Perikanan ...................................................................19
2.5.3 Prosedur Pemupukan dalam Perikanan ...............................................................20
BAB 3 PENUTUP .....................................................................................................................22
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................22
3.2 Saran ..........................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................24

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pupuk merupakan bahan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan. Pemakaian pupuk merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan.
Pupuk juga mengandung banyak unsur hara atau nutrisi. (Suhastyo, 2019). Pemupukan adalah
suatu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi ketersediaan unsur hara pada tanah yang
dibutuhkan oleh tanaman. Adanya pemupukan, tanaman dapat tumbuh dengan optimal (Purwa,
2007).
Pupuk organik adalah suatu produk biologis yang sebagian besar unsur-unsur hara
yang dikandung ada dalam bentuk senyawa-senyawa organik (seperti misalnya asam amino,
protein, dan karbohidrat). Contoh pupuk organik adalah pupuk hijau, pupuk kandang, kompos,
fishmeal, guano, dan sebagainya. Pupuk anorganik ialah pupuk yang berasal dari senyawa
anorganik. Contoh pupuk anorganik adalah urea, SP36, TSP, KCl, K2SO4, MgSO4, Ca3(PO4)2
dan sebagainya (Riwandi, et,al., 2017).
Pupuk merupakan bahan yang digunakan untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Pemupukan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
memenuhi ketersediaan unnsur hara pada tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat
tumbuh secara optimal. Pupuk dibedakan menjadi 2 yaitu pupuk organik dan anorganik. Pupuk
organik merupakan pupuk yang sebagian besar unsur hara nya terkandung dalam bentuk
senyawa-senyawa organik. Pupuk anorganik merupakan pupuk yang berasal dari senyawa
anorganik.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan pupuk organik?
2. Apa yang dimaksud dengan pupuk anorganik?
3. Apa saja jenis pupuk organik ?
4. Apa saja jenis pupuk anorganik ?
5. Bagaimana pembuatan pupuk organik ?
6. Bagaimana pembuatan pupuk anorganik ?
7. Apa saja kekurangan maupun kelebihan pupuk organik dan pupuk anorganik?
8. Bagaimana cara penerapan pupuk organik dan pupuk anorganik di bidang perikanan
atau perairan ?

1
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui penjelasan dari pupuk organik
2. Untuk mengetahui penjelasan dari pupuk anorganik
3. Untuk mengetahui jenis-jenis dari pupuk organik
4. Untuk mengetahui jenis-jenis dari pupuk anorganik
5. Untuk mengetahui cara pembuatan pupuk organik
6. Untuk mengetahui cara pembuatan pupuk anorganik
7. Untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan pupuk organik dan pupuk anorganik
8. Untuk mengetahui cara menerapkan pupuk organik dan pupuk anorganik di bidang
perikanan atau perairan

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pupuk


2.1.1 Pupuk Organik
Menurut Winarni, et al. (2013), pupuk organik ialah pupuk yang berasal dari bahan alam
seperti sisa-sisa organisme hidup baik itu sisa tanaman atau sisa hewan. Pupuk organik
mengandung unsur-unsur hara baik unsur hara mikro maupun unsur hara makro yang sangat
dibutuhkan oleh tumbuhan. Pupuk organik merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau
proses perombakan senyawa kompleks menjadi senyawa yang sederhanadengan bantuan
mikroba. Bahan dasar pembuatan pupuk organik yaitu limbah kotoran ternak, serbuk gergaji
atau sekam dan jerami padi. Beberapa jenis pupuk yang termasuk kedalam pupuk organik
adalah pupuk kandang, kompos dan pupuk guano.
Menurut Supartha, et al. (2012), pupuk organik merupakan hasil dari dekomposisi
bahan-bahan organik yang diurai (dirombak) oleh organisme yaitu mikroba. Hasil dari
perombakan bahan organik oleh mikroba tadi akhirnya menjadi penyedia unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara yang terdapat dalam pupuk organik yaitu terdiri dari
unsur hara mikro dan unsur hara makro yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Pupuk organik sangat penting karena berguna sebagai penyangga sifar fisika, kimia
dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan efisiensi pupuk dan produktivitas lahan.
Penggunaan pupuk organik padat maupun cair pada sistem pertanian sangat dianjurkan karena
efektif dapat menyuburkan tanaman.

2.1.2 Pupuk Anorganik


Menurut Kartika, et al. (2013), pupuk anorganik (kimia) merupakan pupuk yang bukan
berasal dari makhluk hidup. Pupuk anorganik sendiri adalah pupuk buatan manusia yang
mengandung bahan-bahan kimia. Pupuk anorganik relatif lebih mahal dari pupuk organik.
Penggunaan pupuk anorganik berlebihan sangat tidak dianjurkan karena dapat berdampak
negatif terhadap lingkungan. Pupuk anorganik dibedakan menjadi 2 yaitu pupuk tunggal
(mengandung 1 unsur hara saja) dan pupuk majemuk (mengandung lebih dari 1 unsur hara).
Menurut Amini dan Stamdidi (2006), pupuk anorganik adalag unsur-unsur esensial bagi
tumbuhan tanaman baik tingkat tinggi maupun tingkat rendah. Pupuk anorganik (pupuk buatan)
yaitu semua jenis pupuk yang berasal dari bahan kimia yang dibuat oleh pabrik. Pupuk
anorganik dibagi menjadi 2 yaitu pupuk anorganik tunggal dan pupuk anorganik majemuk.

3
Pupuk anorganik tunggal yaitu pupuk yang mengandung 1 unsur saja contohnya urea yang
hanya mengandung unsur nitrogen. Pupuk anorganik majemuk adalah pupuk yang
mengandung lebih dari 1 unsur hara contohnya pupuk NPK (nitrogen, phosfor dan kalium).

2.2 Jenis – Jenis Pupuk


2.2.1 Pupuk Organik
Menurut Winarni, et al. (2013), pupuk organik mengandung unsur-unsur hara baik makro
maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan, supaya dapat tumbuh dengan subur. Beberapa
jenis pupuk yang termasuk pupuk organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan
pupuk guano. Bahan organik yang digunakan untuk pupuk organik terbagi menjadi dua yaitu :
1) Bahan organik yang memiliki kandungan N (Nitrogen) tinggi dan C (Karbon) tinggi,
contohnya pupuk kandang, daun legume (gamal, lamtoro, kacang-kacangan) atau
limbah rumah tangga.
2) Bahan organik yang memiliki kandungan N (Nitrogen) rendah dan C (Karbon) tinggi,
contohnya dedaunan yang gugur, jerami, serbuk gergaji.
a. Pupuk Kandang
Menurut Setiawan (2010), pupuk kandang merupakan produk yang berasal dari limbah
usaha peternakan. Jenis ternak yang bisa menghasilkan pupuk kandang sangat beragam,
diantaranta sapi, kamping, domba, kuda, kerbau, ayam, dan babi. Limbah tersebut tidak saja
berupa feses, melainkan juga sisa pakann, urine, dan sekam sebagai litter pada pemeliharaan
ayam. Fungsi pupuk kandang yaitu sebagai operator (memperbaiki struktur tanah), sebagai
penyedia sumber hara, makro dan mikro, menambah kemampuan tanah untuh menahan air
dan unsur-unsur hara (melepas hara sesuai kebutuhan tanah) dan sumber energi bagi
mikrooganisme.
Menurut Amir, et al. (2017), pupuk kandang mempunyai unsur hara yang sedikit, tetapi
kelebihanya selain dapat menambah unsur hara, juga dapat mempertinggi humus, memperbaiki
struktur tanah dan mendorong kehidupan jasad renik. Dibandingkan dengan Pupuk buatan
pupuk kandang lebih lambat bereaksi, karena didalam tanah, pupuk kandang merupakan
persediaan unsur hara berangsur-angsur menjadi bebas dan tersedia bagi tanaman, akibatnya
tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang dalam jangka waktu lama. masih dapat
memberikan hasil yang baik. Walaupun dalam kenyataanya pengaruh cadangan makanan
tersebut tidak begitu nyata, akan tetapi dapatlah dipastikan bahwa dengan pemakaian pupuk
kandang secara teratur, maka lambat laun akan membentuk suatu cadangan unsur hara pada
tanah.

4
b. Pupuk Hijau
Menurut Dahlianah, I. (2014), pupuk hijau adalah salah satu pupuk organik yang berasal
dari bahan organik seperti hijauan berupa sisa panen maupun yang berasal dari penguraian
sisa tanaman. Perbedaan yang dimiliki pupuk hijau organik dengan pupuk organik lainnya
adalah tanaman sebagai sumber bahan organik langsung dibenamkan, dijadikan mulsa,
sedangkan persamaan dengan pupuk organik lain bisa juga dikomposkan. Tanaman yang
dibenamkan akan mengalami penguraiaan oleh mikroorganisme tanah, senyawa kompleks
yang terdapat pada tanaman akan dipecah menjadi senyawa sederhana. Senyawa yang lebih
sederhana ini dapat dimanfaatkan oleh tanaman budidaya.
Menurut Nisaa, et al. (2016), pupuk hijau merupakan salah satu sumber bahan organik
yang sangat potensial. Pupuk hijau organik yang berasal dari tanaman memiliki kemampuan
untuk memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Kelemahan pupuk hijau organik adalah
tanaman pupuk hijau yang sengaja ditanam dapat berpotensi sebagai inang hama dan
penyakit, gulma, selain itu diperlukan tenaga lebih untuk menumbuhkan tanaman sumber pupuk
hijau.
c. Pupuk Kompos
Menurut Roidah (2013), kompos merupakan salah satu pupuk organik yang
digunakan untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penggunaan kompos dapat
memperbaiki sifat fisik tanah dan mikrobiologi tanah. Kompos memiliki kandungan unsur
hara seperti nitrogen dan fosfat dalam bentuk senyawa kompleks argon, protein, dan humat
yang sulit diserap tanaman. Kompos adalah bahan organik yang dibusukkan pada suatu
tempat yang terlindung dari matahari dan hujan, diatur kelembabannya dengan menyiram air
bila terlalu kering. Untuk mempercepat perombakan dapat ditambah kapur, sehingga terbentuk
kompos dengan C/N rasio rendah yang siap untuk digunakan. Bahan untuk kompos dapat
berupa sampah atau sisa – sisa tanaman tertentu (jerami dan lain - lain).
Menurut Indriani, H. Y. (2001), kompos memiliki fungsi yaitu memperbaiki struktur tanah
berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah
tidak berderai, menambah daya ikat air pada tanah, memperbaiki drinase dan tata udara dalam
tanah, dan meningkatkan daya ikat tanah terhadap zat hara. Kompos merupakan semua bahan
organic yang telah mengalami degradasi/penguraian/pengomposan sehingga berubah bentuk
dan sudah tidak dikenali bentuk aslinya, berwarna kehitaman dan tidak berwarna. Proses
pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sebagai
contoh, pembuatan kompos memerlukan waktu 2-3 bulan bahkan ada yang 6-12 bulan,
tergantung dari bahannya.

5
d. Pupuk Guano
Menurut Syofiani, R dan Oktabriana, G (2017), pupuk Guano merupakan kotoran burung
laut ataupun kelelawar yang banyak ditemui di dalam gua. Pupuk guano mengandung unsur
hara yang penting bagi tanaman yaitu : 13% N; 12% P, 2% K, 11% Ca, 1% Mg, dan 5% S.
Pupuk guano berfungsi untuk memperbaiki tekstur tanah. Penggunaan pupuk guano dapat
memperbaiki tata air, udara, dan keseimbangan hara didalam tanah. Guano merupakan sumber
pupuk organik yang baik untuk diberikan terhadap tanaman budidaya.
Menurut Nugrahini, T. (2013), pupuk guano memiliki kandungan mineral mikro dan
makro yang lengkap, dan pupuk guano juga memiliki unsur hara N, P, K yang tinggi. Hal inilah
yang menjadi alasan dalam memanfaatkan pupuk guano sebagai pupuk organik untuk
mencukupi unsur hara didalam tanah. Pemberian pupuk guano dapat memperbaiki
ketersediaan unsur hara, meningkatkan aktifitas mikroorganisme tanah dan dapat memperbaiki
sifat fisik tanah.

2.2.2 Pupuk Anorganik


Menurut Amini dan Syamdidi (2006), Pupuk anorganik merupakan unsur-unsur esensial
bagi pertumbuhan tanaman baik tingkat tinggi atau rendah. Pupuk anorganik atau disebut juga
sebagai pupuk mineral, pupuk yang mengandung satu atau lebih senyawa anorganik. Fungsi
pupuk anorganik adalah sebagai penambah unsur hara atau nutrisi tanaman. Kandungan hara
yang terdapat pada pupuk kimia tersedia dalam bentuk senyawa kimia/anorganik yang mudah
terlarut, sehingga mudah dan cepat diserap oleh akar tanaman. Pupuk kimia/anorganik
memberikan nutrisi yang langsung terlarut ke tanah dan siap diserap tumbuhan tanpa
memerlukan proses pelapukan. Tiga senyawa utama dalam pupuk anorganik yaitu nitrogen (N),
fosfor (P), dan kalium (K). Kandungan NPK dihitung dengan pemeringkatan NPK yang
memberikan label keterangan jumlah nutrisi pada suatu produk pupuk anorganik.
a. Pupuk NPK Mutiara 16-16-16
Pupuk NPK Mutiara ini memiliki dua unsur yang sangat bermanfaat bagi tanaman, yaitu
unsur Mikro dan makro dan pupuk ini juga termasuk dalam kategori pupuk majemuk.Pupuk ini
berbentuk granul (butiran) berwarna biru langit dan mudah larut dalam air. Pupuk NPK Mutiara
dapat digunakan pada semua jenis tanaman, seperti tanaman sayuran, tanaman pangan
maupun tanaman perkebunan dan industri. Pupuk NPK Mutiara bisa diaplikasikan sebagai
pupuk dasar maupun pupuk susulan. Kandungan Pupuk NPK Mutiara 16-16-16, sebagai
berikut:

6
1. Memiliki kandungan sebanyak 16% N (Nitrogen)
2. Memiliki kandungan sebanyak 16% P2O5 (Phospate)
3. Memiliki kandungan sebanyak 16% K2O (Kalium)
4. Memiliki kandungan sebanyak 0.5% MgO (Magnesium)
5. Memiliki kandungan sebanyak 6% CaO (Kalsium)

b. Pupuk NPK Basf 15-15-15


Pupuk NPK BASF adalah salah satu jenis pupuk majemuk yang mengandung sedikitnya
5 unsur hara makro dan mikro yang sangat dibutuhkan tanaman. Pupuk ini berbentuk butiran
granul berwarna biru pudar yang biasanya dikemas dalam kemasan plastik. Pupuk NPK BASF
dibuat menggunakan proses Odda melalui pelarutan batuan fosfat menggunakan asam nitrat.
Pupuk ini memiliki khasiatnya yang cukup baik bagi pertumbuhan tanaman dengan reaksi yang
cukup cepat. Kandungan dari Pupuk NPK Basf 15-15-15, sebagai berikut:
1. Memiliki kandungan sebanyak 15% N (Nitrogen)
2. Memiliki kandungan sebanyak 0.5% MgO (Magnesium)
3. Memiliki kandungan sebanyak 6% CaO (Kalsium)
4. Memiliki kandungan sebanyak 15% P2O5 (Phospate)
5. Memiliki kandungan sebanyak 15% K2O (Kalium).

7
c. Pupuk NPK Phonska
Pupuk ini sangat mudah larut dalam air (higroskopis ) sehingga tanaman begitu sangat
mudah untuk menyerap nutrisi yang diberikan oleh pupuk tersebut. Pupuk ini memiliki bentuk
bulat kecil atau butiran (granul) dan berwarna merah muda juga kadang berwarna orange.
Pupuk NPK Phonska memiliki unsur kandungan zat hara yang paling banyak dan sangat
dibutuhkan tanaman yaitu nitrogen, fosfat, kalium, sulfur dan kalsium. Hal inilah yang membuat
pupuk NPK digunakan sebagai penyeimbang unsur hara makro dan mikro pada tanah.
Kandungan Pupuk Phonska, sebagai berikut:
1. Memiliki kandungan Sulfur (S) 10%
2. Memiliki kandungan Phosphat (P2O5) 15%
3. Memiliki kandungan Nitrogen (N) 15%
4. Memiliki kandungan Kalium (K2O) 15%

d. Pupuk SP-36
Pupuk SP36 bersifat tidak higroskopis (tidak mudah menghisap air) sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang cukup lama, tetapi mudah larut dalam air. Pupuk SP36 terbuat dari
fosfat alam dan sulfat. Berbentuk butiran (granular) dan berwarna abu-abu. Sifatnya agak sulit
larut dalam air dan bereaksi lambat sehingga sering digunakan sebagai pupuk dasar, dapat
juga digunakan untuk pemupukan susulan. Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis
dan bersifat membakar. Pupuk ini memiliki kandungan Phosphor yang lebih rendah, dan dapat
juga diaplikasikan sebagai pupuk susulan dengan cara ditaburkan disekeliling tanaman.
Kandungan Pupuk SP-36, sebagai berikut:
1. Kadar P2O5 total minimal 36%
2. Kadar P2O5 larut Asam Sitrat minimal 34%
3. Kadar P2O5 larut dalam air minimal 30%
4. Kadar air maksimal 5%
5. Kadar Asam Bebas sebagai H3PO4 maksimal 6%

8
e. Pupuk Urea
Pupuk Urea adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Unsur
Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk urea berbentuk butir-
butir Kristal atau butiran tidak berdebu berwarna putih dan merah muda. Pupuk urea dengan
rumus kimia NH2 CONH2 merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat
mudah menghisap air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan
tertutup rapat. Kandungan Pupuk Urea, sebagai berikut:
1. Kadar air maksimal 0,50%
2. Kadar Biuret maksimal 1%
3. Kadar Nitrogen minimal 46%

f. Pupuk ZA
Pupuk ZA adalah pupuk nitrogen berkadar rendah, kandungan nitrogen pada pupuk ZA
lebih rendah daripada pupuk urea. Pupuk ZA mengandung 2 unsur hara, yaitu nitrogen dalam
bentuk amonium sebesar 20% dan belerang sebesar 23%. Pupuk ini berbentuk kristal dan
berwarna putih atau orange. Pupuk ZA mudah larut dalam air, tidak higroskopis (menghisap
air), senyawa kimianya stabil sehingga tahan disimpan dalam waktu yang lama. Pupuk ZA
dapat aplikasikan pada semua jenis tanaman, baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk
susulan. Kandungan Pupuk ZA, sebagai berikut:
1. Nitrogen minimal 20,8%

9
2. Belerang minimal 23,8%
3. Kadar air maksimal 1%
4. Kadar Asam Bebas sebagai H2SO4 maksimal 0,1%

g. Pupuk Dolomit
Pupuk dolomit mengandung unsur kalsium dan magnesium. Kapur dolomit banyak
dipakai untuk mengapur tanah asam. Bahkan, kapur ini paling baik dibandingkan dengan kapur
lainnya. Diantara jenis-jenis kapur pertanian, dolomit merupakan kapur yang paling populer dan
paling banyak digunakan di Indonesia. Kandungan Pupuk Dolomit, sebagai berikut:
1. Memiliki kandungan MgCO3 45,6% dan 54,3% CaCO3 atau 0,36% MgO dan
54,10% CaO.
2. Memiliki kandungan MES 100%.

h. Pupuk Kapur Tohor


Kapur tohor, atau dikenal pula dengan nama kimia kalsium oksida (CaO), adalah hasil
pembakaran kapur mentah (kalsium karbonat atau CaCO3) pada suhu kurang lebih 90 derajat
Celcius. Kapur tohor merupakan senyawa kimia yang berbentuk padatan putih-putih atau
keabuabuan yang menyerupai batu gamping. Kapur berfungsi untuk menaikkan pH tanah,
meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah, menetralisir senyawa-senyawa beracun
baik organik maupun non anorganik, merangsang populasi & aktivitas mikroorganisme tanah.
Kandungan Kapur Tohor, sebagai berikut: 1. Memiliki kandungan CaCO3 sebesar 85%

10
2.3 Pembuatan Pupuk
2.3.1 Pembuatan Pupuk Organik
Menurut Siboro, et al. (2013), pembuatan pupuk organik dapat dilakukan dengan cara
pengomposan yaitu proses biologis yang dibantu aksi mikroorganisme untuk mengubah
sampah padat organik biodegradable menjadi bahan yang stabil menyerupai humus. Terdapat
2 metode pengomposan yaitu secara anaerob dan aerob. Proses pengomposan anaerobik
dilakukan tanpa adanya oksigen dengan cara menutup menggunakan wadah hingga tidak ada
udara yang masuk (hampa udara). Proses pengomposan anaerobik juga dibantu oleh bakteri
anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik. Bahan organik dengan kadar air tinggi
merupakan bahan baku yang akan dikomposkan secara anaerob. Proses pengomposan secara
anaerobic menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2) dan asam organik dengan
bobot molekul rendah, misalnya asam asetat, asam butirat, asam propionate, asam laktat, dan
asam suksinat.
Menurut Dewi (2007), pengomposan secara aerobik dilakukan pada kondisi terbuka
karena membutuhkan oksigen. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan (ciri khas)
dalam proses pengomposan secara aerobic, seperti mengontrol secara intensif pada kadar air,
suhu, pH, kelembaban, ukuran bahan, volume tumpukan bahan dan pemilihan bahan. Hal
tersebut perlu diterapkan untuk mempertahankan proses pengomposan tetap stabil sehingga
proses pengomposan dapat berjalan optimal disertai dengan kualitas dan kecepatan yang baik.
Proses pengomposan secara aerobic menghasilkan bahan yang menyerupai tanah berwarna
hitam kecoklatan disertai dengan konsistensi tanah yang remah dan gembur. Proses
pengomposan secara aerobic dapat dikategorikan menjadi 2 sistem yaitu, sistem terbuka dan
sistem tertutup. Proses pengomposan aerobic dengan sistem terbuka memiliki 2 proses, yaitu :
1. Proses windrow
Menurut Kurnia, et al. (2017), proses pengomposan dengan sistem windrow merupakan
salah satu cara pembuatan kompos ditempat terbuka yang beratap (bukan di dalam reactor
yang tertutup) dengan aerasi alamiah. Selama proses pengomposan berlangsung,
dilakukan pengukuran suhu, pH dan kadar air setiap harinya. Menurut Suryawan dan

11
Lokantara (2017), Sistem wind row merupakan proses pembuatan kompos yang paling
sederhana dan paling murah. Sistem wind row paling beda dari sistem pembuatan pupuk
organik lainnya, karena diperlukan proses pembalikan secara periodik untuk menjaga
kestabilan proses pengomposan. Kekurangan dari sistem wind row yaitu perlunya lahan
yang cukup luas.
2. Proses aerated static pile
Menurut Suryawan dan Lokantara (2017), berdasarkan prinsipnya, proses aerated static
pile hampir sama dengan wind row. Proses aerated static pile dilakukan dengan memasang
pipa yang dilubangi untuk mengalirkan udara. Proses ini diperlukan pengaturan aliran
oksigen, sehingga jika suhu terlalu tinggi maka aliran oksigen dihentikan dan sebaliknya.
Hal tersebut dilakukan karena tidak adanya proses pembalikan, sehingga sejak awal
pemrosesan bahan baku kompos harus dibuat homogen.
Menurut Dewi, et al. (2007), proses pengomposan aerobic dengan sistem tertutup dapat
berlangsung menggunakan kontainer ataupun reaktor tertutup (in vessel non flow reactor).
Kelebihan dalam proses ini yaitu dapat mengurangi bau tidak sedap disekitarnya dan
mempercepat waktu proses dengan pengaturan kondisi lingkungan (aliran udara, suhu dan
konsentrasi oksigen). Selain itu, salah satu keuntungannya yaitu lebih mudah dalam
pengendalian parameter proses pengomposan sehingga kinerja proses pengomposan pun
dapat berjalan maksimal.
Selain proses pengomposan, pembuatan pupuk organik juga dapat dilakukan dengan
cara fermentasi, terutama pada pupuk organik cair. Menurut Kurniawan, et al. (2017), pupuk
organik cair merupakan pupuk yang berbahan dasar hewan atau tumbuhan yang sudah
mengalami fermentasi dan produknya berbentuk cairan. Fermentasi adalah proses pemecahan
senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana yang melibatkan organisme.
Fermentasi juga dapat diartikan sebagai pemecahan karbohidrat dan asam amino secara
anaerob (tanpa adanya oksigen). Prinsip fermentasi adalah bahan limbah organik yang
dihancurkan oleh mikroorganisme dalam kisaran suhu dan kondisi tertentu. Bahan yang
digunakan dalam proses fermentasi yaitu EM4 (Effective Microorganisme). EM4 adalah
campuran mikroorganisme menguntungkan berkisar 80 jenis yang dapat bekerja secara efektif
dalam memfermentasikan bahan organik.

2.3.2 Pembuatan Pupuk Anorganik


Menurut Silalahi (2020), pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat melalui proses
pengolahan oleh manusia dari bahan- bahan mineral. Pupuk anorganik biasanya lebih murni

12
daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Dalam hal cara
penggunaan atau aplikasi, pupuk anorganik lebih praktis dan mudah jika dibandingkan dengan
pupuk organik. Pupuk anorganik terbagi menjadi dua yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara saja seperti pupuk
tunggal nitrogen (Urea, ZA, Amonium nitrat, Amonium Sulfat, Amonium Klorida), pupuk tunggal
fosfat (DSP, TSP, FMG), dan pupuk tunggal kalium (Kalium Fosfat, Kalium Korida). Pupuk
majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya pupuk NP, NK,
dan NPK. Berikut adalah kadar nitrogen yang terdapat pada masing-masing pupuk anorganik:

a. Pembuatan Pupuk Tunggal UREA


Proses pembuatan pupuk urea dibuat dengan bahan baku gas CO2 dan liquid NH3.
Proses pembuatan urea dibagi menjadi 6 unit, yaitu sintesa unit, purifikasi unit,
kristaliser unit, prilling unit, recovery unit dan kondensat treatment unit. Sintesa urea
dapat berlangsung dengan bantuan tekanan tinggi. Sintesa ini dilaksanakan untuk pertama
kalinya oleh BASF pada tahun 1941 dengan bahan baku karbon dioksida (CO2) dan amoniak
(NH3). Sintesa urea berlangsung dalam dua bagian. Selama bagian reaksi pertama
berlangsung, dari amoniak dan karbon dioksida akan terbentuk amonium karbamat. Reaksi ini
bersifat eksoterm.
2NH3 (g) + CO2 (g) NH2COONH4 (s) ΔH = -159,7 kJ
Pada bagian kedua, dari amonium karbamat terbentuk urea dan air. Reaksi ini bersifat
endoterm.
NH2COONH4 (s) NH2CONH2 (aq) + H2O (l) ΔH = 41,43 kJ
Sintesa dapat ditulis menurut persamaan reaksi sebagai berikut:

2NH3 (g) + CO2 (g) NH2CONH2 (aq) + H2O (l) ΔH = -118,27 kJ

13
Kedua bagian reaksi berlangsung dalam fase cair pada interval temperatur mulai 170-190°C
dan pada tekanan 130 sampai 200 bar. Reaksi keseluruhan pada proses pembuatan pupuk
anorganik adalah eksoterm. Panas reaksi diambil dalam sistem dengan jalan pembuatan uap
air. Bagian reaksi kedua merupakan langkah yang menentukan kecepatan reaksi dikarenakan
reaksi ini berlangsung lebih lambat dari pada reaksi bagian pertama.

 Sintesa Unit
Unit ini merupakan bagian terpenting dari pabrik Urea, untuk mensintesa Urea dengan
mereaksikan Liquid NH3 dan gas CO2 di dalam Urea Reaktor dan ke dalam reaktor ini
dimasukkan juga larutan recycle karbamat yang berasal dari bagian Recovery. Tekanan operasi
di Sintesa adalah 175 Kg/cm2 G. Hasil Sintesa Urea dikirim ke bagian Purifikasi untuk
dipisahkan ammonium karbamat dan kelebihan ammonianya setelah dilakukan stripping oleh
CO2.
 Purifikasi Unit
Ammonium karbamat yang tidak terkonversi dan kelebihan amonia di unit Sintesa
diuraikan dan dipisahkan dengan cara tekanan dan pemanasan dengan dua step penurunan
tekanan, yaitu pada 17kg/cm2 G dan 22,2 kg/cm2 G. Hasil peruraian berupa gas CO2 dan NH3
dikirim ke bagian Recovery, sedangkan larutan ureanya dikirim ke bagian kristaliser.

14
 Kristaliser Unit
Larutan urea dari unit Purifikasi dikristalkan dibagian ini secara vacuum. Kemudian
kristal ureanya dipisahkan di Centrifuge. Panas yang diperlukan untuk menguapkan air diambil
dari panas sensibel larutan urea, maupun panas kristalisasi urea dan panas yang diambil dari
sirkulasi Urea Slurry ke HP Absorber dari Recovery.
 Prilling Unit
Kristal urea keluaran Centrifuge dikeringkan sampai menjadi 99,8% berat dengan udara
panas, kemudian dikirimkan ke bagian atas Prilling Tower untuk dilelehkan dan didistribusikan
merata ke seluruh distributor, dan dari distributor dijatuhkan ke bawah sambil didinginkan oleh
udara dari bawah dan menghasilkan produk urea butiran (prill). Produk urea dikirim ke bulk
storage dengan belt conveyor.
 Recovery Unit
Gas ammonia dan gas CO2 yang dipisahkan dibagian purifikasi diambil kembali dengan
2 step absorbsi dengan menggunakan mother liquor sebagian absorbent kemudian di-recycle
kembali ke bagian sintesa.
 Proses Kondensat Treatment Unit
Uap air yang menguap dan terpisahkan dibagian kristaliser didinginkan dan
dikondensasikan. Sejumlah kecil urea, NH3, dan CO2 ikut kondensat kemudian diolah dan
dipisahkan di stripper dan hydrolizer. Gas CO2 dan gas NH3-nya dikirim kembali ke bagian
purifikasi untuk di-recover. Sedang air kondensatnya dikirim ke utilitas.

b. Pembuatan Pupuk Majemuk NPK


Proses pembuatan pupuk NPK dapat dibuat dengan 2 cara yaitu pembuatan sendiri
(Mechanical Blending) dan produksi pabrik. Pembuatan pupuk NPK secara industri atau
produksi pabrik prosesnya kurang lebih sama seperti proses pembuatan pupuk urea. Berikut
adalah cara kerja pembuatan pupuk NPK secara Mechanical Blending atau pembuatan sendiri
 Tentukan lebih dahulu kandungan pupuk NPK yang akan dibuat. Misal membuat pupuk
NPK dengan kandungan 20:15:10.
Hitung kebutuhan pupuk NPK yang akan dibuat, misal akan membuat 200 kg pupuk NPK
dengan kandungan 20:15:10. Lalu hitung jumlah masing-masing unsur hara yang dibutuhkan.

15
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Pupuk
2.4.1 Kelebihan Pupuk Organik
a. Memperbaiki struktur tanah. Bahan organik butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih
besar dan remah sehingga tanah menjadi lebih gembur
b. Menaikkan daya serap tanah terhadap air. Bahan organik dapat mengikat air lebih
banyak dan lebih lama.
c. Menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah. Di tanah terdapat jasad renik yang
berperan dalam perubahan bahan organik. Dengan adanya pupuk organik, jasad renik
tersebut aktif menguraikan sehingga pupuk organik mudah diserap tanah.
d. Sumber makanan bagi tanaman. Walaupun dalam jumlah sedikit, pupuk organik
mengandung unsur yang lengkap.
e. Memiliki kandungan unsur hara lengkap yaitu unsur hara makro dan mikro.

2.4.2 Kekurangan Pupuk Organik


a. Efeknya lambat dan jumlah pemberiannya harus besar.
b. Bahan organik yang digunakan harus terurai dengan sempurna
c. Tidak mudah diperoleh dan mahal
d. Kandungan unsur haranya tidak begitu banyak dan sulit untuk menentukan takaran
unsur haranya

2.4.3 Kelebihan Pupuk Anorganik


a. Kandungan zat hara dalam pupuk anorganik dibuat secara tepat.
b. Pemberiannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
c. Pupuk anorganik mudah dijumpai atau diperoleh karena tersedia dalam jumlah banyak
serta harganya murah.
d. Praktis dalam transportasi dan menghemat ongkos angkut.
e. Beberapa jenis pupuk anorganik langsung dapat diaplikasikan sehingga menghemat
waktu.
f. Jumlah pemberiannya yang sedikit dan efeknya cepat

2.4.4 Kekurangan Pupuk Anorganik


a. Tidak semua pupuk organik mengandung unsur-unsur yang lengkap (unsur makro dan
unsur mikro). Tetapi ada yang hanya mengandung satu unsur saja. Sehingga dalam
pemberiannya harus dibarengi dengan pupuk mikro dan pupuk kandang atau kompos.

16
b. Pemakaian pupuk anorganik harus sesuai dengan yang dianjurkan karena bila
berlebihan dapat menyebabkan tanaman mati.
c. Pemberian pupuk anorganik secara terus-menerus dapat berakibat buruk pada kondisi
tanah. Tanah menjadi cepat keras, kurang mampu menyerap air dan menjadi asam.
d. Pada media peraira, pemberian pupuk anorganik yang tidak hati-hati akan membuang
pupuk lewat aliran air.
e. Mudah menguap pada kondisi suhu tinggi

2.5 Penerapan Pemupukan dalam Bidang Perairan


2.5.1 Jenis Pupuk dalam Perikanan
Salah satu cara untuk penyediaan pakan ikan di kolam selain pemberian pakan buatan,
yaitu dengan cara memberi pupuk dengan tujuan meningkatkan jumlah pakan alami ikan dan
akhirnya dapat meningkatkan produksi ikan yang dipelihara. Fungsi utama pemupukan adalah
menumbuhkan tanaman atau fitoplankton. Sama seperti tanaman, pupuk yang digunakan untuk
memupuk kolam budidaya perikanan bisa menggunakan pupuk organik dan anorganik.
a. Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk kandang dan limbah atau sisa tanaman yang mengandung
4-50% karbon pada berat keringnya. Keistimewaan pupuk organik:
 Dapat memperbaiki struktur tanah dan kesuburan tanah (kolam baru).
 Merangsang pertumbuhan zooplankton (pakan alami).
 Manaikkan daya serap tanah terhadap air.
 Menaikkan kondisi kehidupan dalam tanah.
 Dapat merupakan bahan makanan langsung bagi organisme.
 Menambah bahan-bahan atau zat-zat hara bagi tanaman.
Masalah utama dalam penggunaan pupuk organik adalah besarnya variasi komposisi
kandungan pupuk. Proses bahan organik memasuki jaring makanan di kolam dengan cara:
 Bahan organik masuk sebagai bahan nutrisi (seperti karbon, phosphorus) bagi proses
fotosintesis tanaman air berklorofil.
 Sebagai bahan organik untuk mikroorganisme yang nantinya akan mendukung
pertumbuhan dan populasi zooplankton
 Dikonsumsi langsung oleh ikan, krustasea atau serangga.

17
Berikut ini beberapa jenis pupuk organiik yang biasa dimanfaatkan untuk memupuk
kolam budidaya perikanan.
1. Pupuk kompos
Pupuk kompos merupakan pelapukan dari dedaunan, jerami, alang-alang, rumput,
kotoran hewan, dan sampah dapur seperti sisa sayuran dan buah. Proses pemupukan
dipercepat dengan bakteri penghancur dan pengurai sehingga limbah cepat terfermentasikan.
2. Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk dari kotoran hewan yang bercampur dengan dedaunan
atau rerumputan yang diproses oleh mikroorganisme pengurai sehingga membentuk suatu
pupuk. Pupuk kandang biasanya mempunyai nilai N-P-K yang rendah dan oleh karenanya
harus digunakan dalam jumlah besar. Kualitas pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh
makanan dari hewan, jenis atau macam dari hewan, banyak atau macam alas kandang, dan
bentuk kandang.
3. Pupuk hijau
Pupuk hijau dibuat dari dedaunan, tangkai, dan batang tertentu yang masih muda.
Tanaman yang bisa digunakan berupa tanaman yang masih muda dan memiliki
bakteri rhizobium yang menempel pada bagian akar. Pupuk hijau sering dibuat dari daun
trembesi, orok-orok, lumut, dan ganggang.
4. Humus
Humus adalah sisa tumbuhan yang berupa daun, akar, cabang, dan batang yang sudah
membusuk secara alami dengan bantuan mikroorganisme yang berada di dalam tanah dan
dibantu dengan cuaca. Humus bisa ditemukan pada lapisan permukaan atas tanah yang
gembur dan berwarna kehitaman.
5. Pupuk Night Soil
Pupuk night soil adalah pupuk yang mengalami pembusukan atau penguraian dalam
WC-WC.
a. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik adalah nutrisi anorganik dalam komposisi sederhana, yang umumnya
mempunyai komponen utama minimum satu jenis dari beberapa bahan berikut ini, yaitu
nitrogen, fosfat, dan atau potassium/kalium (N-P-K). Pupuk anorganik jika dimasukkan dalam
perairan, unsur hara dilepaskan dalam bentuk ion-ion seperti NO3 -, NH4 +, H2PO4 -, HPO4 2-, K
+
. Pupuk anorganik memiliki kelebihan berupa kandungan unsur hara yang kompleks,
penggunaan yang cenderung tidak sebanyak pupuk organik, dan mudah ditemukan.

18
Fosfat adalah nutrient pelengkap yang terpenting dan biasanya tersedia dalam jumlah
sedikit. Dalam air (di alam) fosfor ditemukan dalam konsentrasi rendah antara 1 ppm atau 1
mg/L. Masalah utama penggunaan pupuk fosfat adalah campuran fosfat tidak mudah larut
dalam air, pelarutan terjadi jika mikroorganisme dalam air merubahnya menjadi bentuk yang
dapat diasimilasi. Walaupun fosforus (P2O5) ada di kolam, tidak selalu dapat dimanfaatkan
untuk pertumbuhan alga.
Nitrogen dibutuhkan oleh semua organisme hidup. Pupuk nitrogen mudah larut dalam
air dan dapat cepat tersedia untuk produksi organik di kolam. Pupuk nitrogen yang umum
digunakan adalah ammonium sulfat.
Urea adalah salah satu jenis pupuk anorganik yang harus mengalami dekomposisi
terlebih dahulu sebelum dapat diserap oleh alga. Urea umum digunakan di kolam-kolam budi
daya ikan.
Pupuk ammonia cair (larutan NH3 di air) mengandung 20% N, dimana urea adalah
sumber N yang murah, tetapi harus diingat jenis ini mengeluarkan bau yang sangat kuat dan
berbahaya bagi manusia baik melalui proses pernafasan maupun kontak badan.
Potasium (kalium) merupakan unsur hara yang menstimulasi tanaman air. Potasium
bukan merupakan faktor pembatas pada hampir seluruh kolam produksi. Anjuran penggunaan
potasium adalah digunakan dengan perbandingan 4 : 4 : 1 ppm adalah perbandingan terbaik
untuk N-P-K guna memproduksi plankton yang optimal.

2.5.2 Syarat Pemupukan dalam Perikanan


Kondisi yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil optimal dalam pemupukan
adalah sebagai berikut:
1. Air dan tanah keadaannya harus netral atau tidak terlalu basa atau asam. Apabila tanah
terlalu masam, maka perlu dilakukan pengapuran tanah.
2. Dasar kolam berlumpur yang mempunyai kualitas baik yaitu lumpurnya kaya akan
koloid, tidak terlalu tebal dan tersusun dari detritus dan tanaman melayang.
3. Tumbuhan tingkat tinggi seperti Hydrilla, Eichornia dan Salvinia molesta harus dibuang
dengan jalan dipotong atau dibasmi dengan herbisida, karena tumbuhan tersebut secara
tidak langsung akan bersaing dengan plankton dalam menggunakan nutrien pupuk dan
menghalangi masuknya cahaya serta penyebaran panas dalam kolam, sehingga
plankton akan sulit tumbuh. Tanaman dapat dibiarkan tumbuh di kolam sekitar 10% dari
luas kolam untuk melindungi ikan dari cahaya atau panas matahari yang terlalu kuat.

19
2.5.3 Prosedur Pemupukan dalam Perikanan
Metode aplikasi pemupukan hal yang penting. Penebaran pupuk sebaiknya harus
merata untuk setiap lokasi kolam. Metode yang disarankan adalah dengan melarutkan pupuk
anorganik dalam air kemudian disebarkan ke seluruh permukaan air. Jenis dan jumlah pupuk
yang akan digunakan bervariasi tergantung jenis tanah dan jenis pakan alami yang akan
ditumbuhkan.
Pupuk phosphor tersedia dalam bentuk TSP (Triple Super Phosphat) mempunyai rumus
kimia Ca(H2PO4)2, mengandung P2O5 36-46%, berbentuk butiran berwarna abu-abu. Dalam
bentuk orthophospat yang terlarut dalam air, phosphor dapat diserap organisme nabati seperti
plankton. Reaksi pupuk phosphat ini dapat dilihat terjadinya perubahan air menjadi hijau
sebagai hasil pelipatgandaan alga. Musim yang baik untuk pemupukan dengan phosphat yaitu
pada musim kemarau sebab pada musim hujan terjadi pengenceran pupuk oleh air hujan.
Salah satu usaha untuk menanggulangi hal tersebut adalah pada saat pemupukan, pintu air
masuk dan keluar harus ditutup. Untuk kolam perbesaran pupuk ditebar 2-3 minggu sebelum
penebaran ikan. Sebaiknya air masuk dan keluar ditutup selama 5 hari setelah pupuk
ditebarkan. Jumlah pupuk TSP di kolam dianjurkan sebesar 100-200 kg/ha (rerata 150 kg/ha)
dan dilakukan setiap tahun.
Pupuk nitrogen tersedia di pasaran sebagai urea berbentuk butiran atau tablet berwarna
putih, mempunyai rumus kimia CO(NH2)2, mengandung 42-46% nitrogen. Sifat urea yang unik
adalah unsur N-nya yang ionik (tidak terurai menjadi ion dalam larutan tetapi larut dan
bersenyawa dengan air), dapat diserap oleh plankton dalam bentuk nitrat (NO3). Kadar pupuk
urea untuk kolam dianjurkan sebesar ± 100 kg/ha.
Pupuk kalium tersedia dalam bentuk KCl diserap oleh plankton dalam bentuk ion K+.
Pemupukan kalium disarankan bagi kolam yang miskin kalium, kesadahan rendah atau kolam
di daerah padang dan rawa yang banyak terjadi pembusukan tumbuhan serta kolam yang
dasarnya keras dan miskin tanaman. Kadar pupuk KCl untuk kolam ± 200 kg/ha.
Pupuk dengan mutu tertentu dapat dibuat dengan mencampurkan pupuk nitrogen dari
urea, phosphor dari TSP dan kalium dari KCl. Bila semua unsur hara pokok diinginkan maka
campuran tersebut dapat dibuat menjadi suatu pupuk yang komplit. Di pasaran tersedia sebagai
pupuk NPK dengan perbandingan 5 : 20 : 5 berbentuk butiran berwarna coklat.
Macam-macam cara pemupukan:
1. Spreading
Spreading adalah menebar pupuk secara merata diseluruh dasar perairan.

20
2. Pulling
Pulling adalah pemupukan pada beberapa lokasi perairan dengan maksud mineralisasi
terjadi secara bertahap.
3. Broad Casting
Broad casting adalah penebaran di atas permukaan air (kering atau basah).
4. Plat form
Metode plat form adalah ditebar di atas plat form (pupuk anorganik). Pupuk disimpan di
atas wadah yang terendam sekitar 10 cm di bawah permukaan air. Setelah seminggu
ketinggian air dinaikkan hingga 40 cm. Sejak minggu kedua diberlakukan pemupukan mingguan
dengan dosis 9-10 g/m3 air yang disarankan untuk selama masa pemeliharaan. Metode Plat
form efektif dan efisien, karena:
a. Mengurangi pemakaian pupuk 20-40%, sebab pupuk masuk secara bertahap dan pupuk
terpisah dari tanah sehingga nutrient pupuk sangat kecil untuk hilang.
b. Mengurangi tenaga kerja dan waktu
Cara yang paling tradisional untuk pupuk kandang dengan menebarkan pupuk di dasar
kolam atau dengan cara menimbunnya di tempat-tempat tertentu pada dasar kolam. Setiap
prosedur pemupukan akan memberikan target produksi tertentu, yaitu:
a. Memupuk di dasar kolam target produksinya adalah menumbuhkan bentos.
b. Memupuk di lapisan atas air kolam target produksinya adalah menumbuhkan plankton.
Dampak positif penggunaan pupuk anorganik adalah menghambat pertumbuhan bakteri.
Pupuk anorganik lebih disukai digunakan pada saat kolam telah berisi air.

21
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari seluruh pembahasan mengenai pupuk organik dan
anorganik yaitu:
a. Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan alam (sisa-sisa organisme
hidup: hewan dan tumbuhan) melalui proses dekomposisi oleh mikroba. Pupuk organik
memiliki unsur hara mikro dan makro yang berfungsi untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan.
b. Pupuk anorganik (buatan) atau pupuk kimia adalah pupuk yang bukan berasal dari
makhluk hidup, namun terbuat dari bahan kimia yang sudah ditentukan komposisinya.
Biasanya pupuk buatan ini diproduksi oleh pabrik dan pemakaian berlebihan tidak
dianjurkan karena dapat merugikan lingkungan. Pupuk anorganik terbagi menjadi 2,
yaitu pupuk anorganik tunggal dan pupuk anorganik majemuk.
c. Jenis-jenis pupuk organik dibedakan berdasarkan bahan kandungan yang digunakan,
yaitu dengan perbandingan kandungan N (Nitrogen) dan C (Karbon) yang berat sebelah,
bergantung pada kebutuhan. Contoh dari pupuk organik yaitu pupuk kandang, pupuk
hijau, kompos, dan pupuk guano.
d. Jenis-jenis pupuk anorganik yang disebut sebagai pupuk mineral, pupuk yang
mengandung satu atau lebih senyawa anorganik yaitu pupuk NPK Mutiara, NPK BASF,
NPK Phonska, SP36, pupuk ZA, pupuk urea, pupuk dolomit, dan pupuk kapur tohor.
e. Pembuatan pupuk organik dapat melalui proses pengomposan seperti proses windrow,
proses aerated static pile, dan/atau fermentasi untuk pembuatan pupuk cair.
f. Pembuatan pupuk anorganik tunggal melalui 6 proses yaitu sintesa unit, purifikasi unit,
kristaliser unit, prilling unit, recovery unit dan kondensat treatment unit. Sedangkan
pembuatan pupuk anorganik majemuk dapat dibuat dengan dua cara yaitu: (1)
pembuatan sendiri (Mechanical Blending) atau dengan (2) produksi pabrik.
g. Kelebihan dari pupuk organik yaitu memperbaiki struktur tanah, menaikkan daya serap
tanah terhadap air, menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah, dan menjadi sumber
makanan bagi tanaman. Sedangkan kekurangannya yaitu efeknya yang lambat dan
jumlah pemberiannya harus besar, bahan organiknya harus terurai dengan sempurna.

22
tidak mudah diperoleh dan mahal, serta kandungan serat yang tidak begitu apanya dan
sulit untuk menentukan takaran unsur haranya.
h. Kelebihan dari pupuk anorganik yaitu kandungan zat hara dibuat secara tepat,
pemberiannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, mudah diperoleh,
harganya murah. praktis dalam transportasi, menghemat ongkos angkut, langsung dapat
diaplikasikan, jumlah pemberiannya yang sedikit dan efeknya cepat. Sedangkan
kekurangannya mudah menguap, pemakaian berlebih dapat merugikan, tidak memiliki
seluruh unsur hara (makro & mikro), dan harus dilakukan secara terus- menerus.
i. Penerapan pupuk organik di bidang perikanan/perairan dapat digunakan sebagai nutrisi
organisme, membantu penguraian limbah, ataupun dapatbahan seperti lumut dapat
dibuat menjadi pupuk organik. Sementara itu, pupuk anorganik digunakan untuk
menambahkan unsur yang diperlukan pada kondisi tertentu seperti nitrogen, fosfat,
kalium, ataupun unsur lain yang tidak dapat diprduksi oleh perairan secara alami.

3.2 Saran
Saran untuk makalah ini yaitu kedepannya untuk melakukan riset lebih lanjut tentang
pupuk organik dan pupuk anorganik dalam penerapannya di bidang perairan maupun perikanan
agar ke depannya dapat dijadikan sebagai referensi bagi banyak pihak.

23
DAFTAR PUSTAKA

Amini, S dan Syamdidi. 2006. Konsentarsi unsur hara pada media pertumbuhan Chlorel
vulgaris dengan pupuk anorganik teknis dan analis. Jurnal Perikanan, 8(2), 201-206.
Amini, S., dan Symdidi. (2006). Konsentrasi unsur hara pada media dan pertumbuhan Chlorella
vulgaris dengan pupuk anorganik teknis dan analis. Jurnal Perikanan, 8(2), 201-206.
Amir, N., Hawalid, H., & Nurhuda, I. (2017). Pengaruh Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan
Beberapa Varietas Bibit Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) di Polybag. Jurnal
Penelitian Ilmu-Ilmu Pertanian, 12(2), 68-72.

Azzamy. 2017. 15 Macam Pupuk Kimia Terpopuler Yang Sering Digunakan Oleh Petani
(Lengkap Dengan Fungsinya). https://mitalom.com/15-macampupuk-kimia-terpopuler-
yang -sering digunakan petani lengkap dengan fungsinya/ Diakses pada tanggal 9
Oktober 2020.
Dahlianah, I. (2014). Pupuk Hijau Salah Satu Pupuk Organik Berbasisi Ekologi dan
Berkelanjutan. Jurnal Ilmu-Ilmu Agroteknologi, 9(2), 54-56.

Dewi, C. M., D. M. Mirasari, Antaresti & Wenny Irawati. (2007). Pembuatan Kompos Secara
Aerob dengan Bulking Agent Sekam Padi. Widya Teknik, 6(1), 21-31.
Indriani, Y. H. 2001. Membuat Kompos Secara kilat. Penebar Swadaya : Jakarta.

Kartika, E., Z. Gani dan D. Kurniawan. (2103). Tanggapan tanaman tomat (Lycopersicum
esculentum. Mill). Bioplantae, 2(3), 122-131.
Kurnia, V. C., S. Sumiyati & G. Samudro. (2017). Pengaruh Kadar Air Terhadap Hasil
Pengomposan Sampah Organik dengan Metode Open Windrow. Jurnal Teknik Mesin,
6(1), 58-62.
Kurniawan, E., Z. Ginting & P. Nurjannah. (2017). Pemanfaatan Urine Kambing pada
Pembuatan Pupuk Organik Cair Terhadap Kualitas Unsur Hara Makro (NPK). Seminar
Nasional Sains dan Teknologi, 1-10.
Luthfyrakhman, H., dan Susila, A. D. (2013). Optimasi dosis pupuk anorganik dan pupuk
kandang ayam pada budidaya tomat hibrida (Lycopersicon esculentum Mill. L.). Buletin
Agrohorti. 1(1), 119-126.
Nissa, A. K., Guritno, B., & Sumarni, T. (2016). Pengaruh Pupuk Hijau Crotalaria Mucronata dan
C. Juncea Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine Max L. Merril).
Jurnal Produksi Tanaman, 4(8), 602-610.

Nugrahini, T. (2013). Pengaruh Pemberian Pupuk Guano Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Selada (Lactuca Sativa L.) Pada Dua Metode Vertikultur. Jurnal Dinamika
Pertanian, 28(3), 211-216.

Prihmantoro, H. 2007. Memupuk Tanaman Sayur. Depok. Penebar Swadaya.


Purwa, D. R. 2007. Petunjuk Pemupukan. Agromedia Pustaka. Jakarta. 100 Halaman.

24
Riwandi., Prasetyo., Hasanudin., Cahyadinata, I. 2017. Teknologi Tepat Guna Pupuk Organik
Lokal dari Limbah Karet: Teori dan Aplikasi. Yayasan Sahabat Alam Rafflesia.
Bengkulu. 75 Halaman.
Roidah, I. S. (2013). Manfaat Penggunaan Pupuk Organik untuk Kesuburan tanah. Jurnal
Univesitas Tulungagung BONOROWO, 1(1), 30-42.

Setiawan, B. S. 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat. Penebar Swadaya : Jakarta.

Siboro, E. S., E. Surya & N. Herlina. (2013). Pembuatan Pupuk Cair dan Biogas dari Campuran
Limbah Sayuran. Jurnal Teknik Kimia USU, 2(3), 40-43.
Silalahi, S. D. (2020). Respon Pemberian Pupuk NPK Mutiara dan POC Apu-Apu (Pistia
Stratiotes L.) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis
Sativus L.) (Doctoral dissertation, Universitas Medan Area).
Suhastyo, A. A. 2019. Pemberdayaan kelompok wanita tani melalui pelatihan pembuatan pupuk
organik cair. Jurnal PPKM. 6(2): 60-64.
Suparinto, C. 2008. Panduan Lengkap Gurami. Depok. Penebar Swadaya.
Supartha, I. N. Y., G. Wijaya dan G. M. Adnyana. (2012). Aplikasi jenis pupuk organik pada
tanaman padi sistem pertanian organik. Jurnal Agroekoteknologi Tropika, 1(2), 98-106.
Suryawan, I. G. P. A. & I. P. Lokantara. (2017). Pengembangan Potensi Masyarakat dengan
Penerapan Teknologi Mesin Pencacah Sampah Organik dalam Pembuatan Kompos.
BULETIN UDAYANA MENGABDI, 16(3), 356-362.
Sutarno dan A. Andoko. 2005. Budidaya Lada Si Raja Rempah-Rempah. Depok. Agromedia
Pustaka
Syofiani, R & Oktabriana, G. (2017). Aplikasi Pupuk Guano Dalam Meningkatkan Unsur Hara N,
P, K dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai Pada Media Tanam Tailing Tambang Emas,
Prosiding Seminar Nasional 2017 Fakultas Pertanian UMJ “Pertanian dan Tanaman
Herbal Berkelanjutan di Indonesia”, 98-103.

Winarni, E., Ratnani, R. D., & Riwayati, I. (2013). Pengaruh Jenis Pupuk Organik Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Kopi. Jurnal Momentum UNWAHAS, 9(1), 35-39.

25