Anda di halaman 1dari 11

Draft PKP Bab 1-3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada jenjang pendidikan dasar pemberian mata pelajaran IPS dimaksudkan
untuk membekali siswa dengan pengetahuan, kemampuan praktis, agar mereka
dapat menelaah, mempelajari dan mengkaji fenomena-fenomena serta masalah
sosial yang ada disekitar mereka. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan
untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertangggung jawab,
serta warga dunia yang cita damai, melalui pemahaman terhadap pengetahuan dan
kemampuannya di dalam berinteraksi secara positif dan aktif dengan
lingkungannya. Tujuan tersebut membuat guru memiliki tanggung jawab besar
untuk menggunakan pemikiran dan tenaga untuk dapat mengajarkan IPS dengan
baik dan benar. Menurut Trianto (2010: 171) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi,
sejarah, geografi ekonomi, politik, hukum dan budaya. Berdasarkan pengertian
dan tujuan pembelajaran IPS tersebut, diperlukan tenaga guru yang profesional
artinya mampu melakukan proses pembelajaran yang tepat dan terencana untuk
mencapai hasil belajar siswa.
IPS sebagai salah satu mata pelajaran yang memiliki tujuan membekali
siswa untuk mengembangkan penalaran di samping aspek nilai dan moral.
Implementasinya, materi IPS hanya menekankan aspek pengetahuan yang
berpusat pada guru dan hanya membentuk budaya menghafal, sehingga
pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk hafalan.
Pembelajaran IPS sangat menjenuhkan karena penyajiannya kurang menarik,
bersifat monoton dan konvensional, hanya sekedar ceramah. Peningkatan hasil
belajar siswa dapat dilakukan dengan menciptakan situasi pembelajaran yang
melibatkan siswa. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran menggunakan
berbagai model, metode/cara pembelajaran sesuai yang lebih melibatkan siswa.
Model pembelajaran kooperatif lebih membuat siswa aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan pada permasalahan tersebut untuk meningkatkan hasil belajar
siswa SDN 29 Sungai Limau, maka diperlukan untuk menciptakan kondisi
pembelajaran yang inovatif, guru dituntut agar mampu mengelola kelas dalam
proses pembelajaran yang memberikan rangsangan kepada siswa supaya lebih
efektif dalam pembelajaran. Adapun upaya untuk meningkatkan hasil belajar
siswa tersebut adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
(Numbered Heads Together) dalam pembelajaran IPS. Dengan menggunakan
model tersebut siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran, saat berdiskusi siswa
tidak bergantung pada siswa yang lain dan saat mempresentasikan hasil diskusi
kelompok siswa lebih antusias dan lebih aktif. Peran guru dalam pembelajaran IPS
lebih memungkinkan terciptanya kondisi belajar yang kondusif seperti
memberikan siswa kesempatan berperan aktif.
Tabel 1 Nilai Siswa Materi Pahlawanku Kelas IV SD
Ketuntasan
No Nama Siswa KKM Nilai Belum
Tuntas
tuntas
1 Abdul Rizki Putra 70 69 
2 Anisa Salsabila 70 85 
3 Dara Zaskia 70 72 
4 Jihan Putri Khairani 70 80 
5 Muhammad Akhir Jamil 70 68 
6 Muhammad Farel 70
79 
Alfarisi
7 Muhammad Yusuf 70
69 
Ibrahim
8 Nazwa Nofiani Putri 70 75 
9 Nazwa Fitriani 70 69 
10 Silfani Yuliandra 70 80 
11 Hanny Kalbina 70 69 
12 Rozaq Januardi 70 65 
13 Hendra 70 69 
14 Muhamad Ali Akbar 70 78 
15 Muhamad Ibrahim 70 79 
16 Ibnu Sabil 70 65 
17 Yura Cheisya Fitria 70 70 
18 Meli Nurmala 70 67 
19 Fiona Adfadila 70 69 
20 Zian Nasada Raja 70 68 
Jumlah 1 445
Rata-rata 72.25
Nilai tertinggi 85
Nilai terendah 65
Tuntas % 45
Tidak tuntas % 55
Pada Tabel 1 menunjukkan ada 11 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas dan
11 siswa nilainya di bawah 70. Jika diperinci hasil evaluasi tes siklus I. Analisis
hasil tes siklus I di atas dalam pembelajaran IPS nilai rata-rata kelas 72,25 Siswa
yang belum tuntas dalam pembelajaran sebanyak 11 siswa (55 %), dan yang tuntas
ada 9 siswa dengan presentase ketuntasan belajar baru mencapai 45 %. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah ada kemajuan atau peningkatan
hasil belajar siswa, akan tetapi masih perlu ditingkatkan agar siswa dapat
menguasai materi pelajaran IPS yang diajarkan oleh guru. Maka peneliti masih
perlu segera mengambil langkah untuk memperbaiki pembelajaran tersebut, agar
siswa dapat memahami materi sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai
dalam pembelajaran. Salah satu penyebab belum optimalnya hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPS di SDN 29 Sungai Limau adalah kegiatan pembelajaran
masih terpusat pada guru dan masih menggunakan metode ceramah. Sehingga
mengakibatkan pembelajaran yang dilaksanakan terkesan hanya sebagai
penyampaian materi saja tanpa terlihat adanya keaktifan siswa. Berdasarkan
kondisi yang dialami guru/penulis dilapangan diangakatlah sebuah upaya
perbaikan dalam pembelajaran dengan judul “Upaya Meningkatkan Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa dengan menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together di Kelas IV SDN 29
Sungai Limau”.
1. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa
permasalahan yaitu:
a. Kurangnya minat siswa dalam pembelajaran IPS di SDN 29 Sungai Limau
b. Siswa kesulitan dalam memahami interaksi manusia dengan lingkungan
sekitar
c. Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS
2. Analisis Masalah
Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS disebabkan oleh
kurangnya media pembelajaran yang di gunakandan Kurang nya sumber buku
yang di gunakan dalam pembelajaran serta model pembelajaran yang digunakan
kurang menarik.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model
pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja
kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan
oleh guru. Pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana
guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-
bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan
masalah yang dimaksud. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang efektif
adalah Numbered Heads Together atau penomoran berfikir bersama merupakan
jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah tersebut, rumusan masalah
dalam penelitian ini, yaitu Bagaimana Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS
Siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered
Heads Together di Kelas IV SD N 29 Sungai Limau
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Upaya Meningkatkan
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa dengan menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together di Kelas IV SDN 29
Sungai Limau.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Guru
a. Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan sendiri.
b. Merupakan bahan diskusi dengan teman sejawat untuk meningkatkan
motivasi belajara siswa dalam pembelajaran yang kondusif.
2. Siswa
a. Merupakan alternatif untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa dalam
pembelajaranMatematikasesuai dalam pembelajaran yang kondusif.
b. Memperbaiki praktek pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki
belajar siswa.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Karakteristik Siswa SD
Peserta didik sekolah dasar (SD) umumnya berkisar antara 6 atau 7 tahun
sampai 12 atau 13 tahun, mereka berada pada fase operasional konkret Heruman,
(2013:1). Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam
proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih
terikat dengan objek yang bersifat konkret. Objek konkret tersebut yang dapat
ditangkap oleh panca indra. Piaget dalam Susanto (2015:77) menyatakan bahwa
setiap tahapan perkembangan kognitif pada anak, mempunyai karakteristik
berbeda. Secara garis besar dikelompokkan menjadi empat tahap, yaitu:
1) Tahap sensori motor (usia 0-2 tahun), pada tahap ini anak belum memasuki
usia sekolah;
2) Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun), pada tahap ini kemampuan
kognitifnya masih terbatas. Anak masih suka meniru perilaku orang lain
(khususnya orang tua dan guru) yang pernah ia lihat dan anak.
B. Hasil Belajar
Slameto (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk mempengaruhi suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengamatannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Trianto (2010:16) belajar adalah perubahan pada individu yang terjadi
melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya
atau karakteristik seseorang sejak lahir. Belajar merupakan kegiatan penting setiap
orang, termasuk didalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar (Aunurrahman,
2009:33). Purwanto (2013:54) mengemukakan hasil belajar adalah perubahan
perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan
tujuan pendidikan. Sedangkan Djamarah (2011:176) faktor-faktor yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu faktor lingkungan, faktor
instrumental, faktor fisiologis, dan faktor psikologis.
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan
hasil nilai yang diperoleh siswa dari hasil evaluasi setelah kegiatan proses
pembelajaran yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam ranah kognitif, afektif
dan psikomotor yang diperoleh sebagai akibat usaha kegiatan belajar dan dinilai
dalam periode tertentu.
C. Pembelajaran IPS
Trianto (2010:171) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari
berbagai cabang ilmu–ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi ekonomi,
politik, hukum dan budaya. IPS dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena
sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-
cabang ilmu-ilmu sosiai (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum,
dan budaya).
Djahari dan Makmun dalam Gunawan (2011:17) “IPS atau studi sosial
konsep-konsepnya merupakan konsep pilihan dari berbagai ilmu lalu dipadukan
dan diolah secara didaktis-pedagogis sesuai dengan tingkat perkembangan siswa”.
Trianto (2010:176) tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang
terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi
sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa
masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran
IPS di sekolah diorganisasikan secara baik.
D. Pembelajaran IPS di SD
1. Tujuan Pembelajaran IPS di SD
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) adalah cabang ilmu sosial yang terdiri dari sosiologi, sejarah, geografi
ekonomi, politik, hukum dan budaya. Sedangakan tujuan IPS sekolah dasar ialah
untuk mencetak generasi yang berwawasan ilmu sosial serta konsep-konsep yang
berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya baik dari aspek
kognisi, afeksi maupun psikomotor.
2. Ruang Lingkup Materi IPS di SD
Penelitian ini memfokuskan peningkatan hasil belajar IPS Kelas IV SDN 29
Sungai Limau pada ruang lingkup pembelajaran IPS tentang Tema 5 Subtema 2
Pahlawan Kebanggaanku.
E. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis
kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih diarahkan oleh guru Suprijono
(2013:54).
Riyanto (2010:267), pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran
yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic Skill),
sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill. Sedangkan
Solihatin (2011:4) berpendapat bahwa pada dasarnya cooperative learning
mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja
atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam
kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat
dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Zamroni
(2000) dalam Trianto (2010:57) manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat
mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level
individual.
F. Model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
1. Pengertian Model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
Trianto (2010:82), Numbered Heads Together atau penomoran berfikir
bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas
tradisional.
Huda (2013:130), NHT merupakan varian dari diskusi kelompok. Numbered
Heads Together adalah metode belajar dengan cara setiap siswa diberi nomor dan
dibuat suatu kelompok, kemudian secara acak, guru memanggil nomor dari siswa
(Hamdani, 2011:89).
Suprijono (2013:92) tujuan pembelajaran tipe Numbered Heads Together
(NHT) ini adalah agar peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan
sebagai pengetahuan yang utuh.
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa pengetian Numbered
Heads Together (NHT) adalah model pembelajaran yang membagi siswa ke dalam
beberapa kelompok kecil, hal ini ditujukan agar siswa dapat saling bekerjasama,
saling membantu dan saling memotivasi dengan siswa lainnya, agar siswa dapat
mencapai hasil yang maksimal dari pembelajaran tersebut.
2. Tahap-Tahap Model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
Menurut Ibrahim dalam Hobri (2009:62) ada empat sintak yang harus
dilaksanakan dalam pembelajaran numbered head together (NHT) yaitu :
1. Penomoran
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan
tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap siswa
dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di
dalam kelompok.
2. Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat
diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam
membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga
bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
3. Berpikir bersama
Setiap kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan
memastikan tiap anggota kelompok mengetahui jawabannya.
4. Menjawab pertanyaan
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomor-nya
sama melaporkan hasil kerjasama kelompoknya untuk seluruh kelas. Pada
sesi ini siswa tidak diperbolehkan lagi berdiskusi dengan anggota
kelompoknya. Hal ini dilakukan agar siswa lebih termotivasi untuk
berpartisipasi ketika diskusi.
3. Kelebihan Model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
Sebagaimana dijelaskan oleh Hill (1993) dalam Tryana (2008) bahwa model
NHT memiliki kelebihan diataranya:
a. Meningkatkan prestasi belajar siswa
b. Mampu memperdalam pamahaman siswa
c. Menyenangkan siswa dalam belajar
d. Mengembangkan sikap positif siswa
e. Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa
f. Mengembangkan rasa ingin tahu siswa
g. Meningkatkan rasa percaya diri siswa
h. Mengembangkan rasa saling memiliki
i. Mengembangkan keterampilan untuk masa depan
4. Kekurangan Model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)
Namun setiap model pembelajaran juga pasti terdapat kekurangan dan
kelebihan, kekurangan model pembelajaran NHT sebagai berikut:
1. Membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dengan guru, Selain
itu membutuhkan kemampuan yang khusus dalam melakukan atau
menerapkannya.
2. Kemungkinan nomor yang telah dipanggil akan dipanggil kembali oleh
guru.
3. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
4. Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar
menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang
memadai.
5. Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang
berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN
A. SUBJEK PENELITIAN
1. Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV semester ganjil di
SD Negeri 29 Sungai Limau Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang
Pariaman Tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah peserta didik adalah 20
orang, mata pelajaran yang akan diteliti yaitu: IPS dengan materi tema 5
Pahlawanku.
2. Tempat
Penelitian telah dilaksanakan di Kelas IV SD Negeri 29 Sungai Limau
Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman tahun pelajaran
2020/2021.
3. Waktu penelitian
Penelitian akan dilakukan pada semester II Tahun Pelajaran 2020/2021,
pada bulan Oktober. Secara rinci jadwal pelaksanaan sebagai berikut:
Tabel2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Muatan
No Kegiatan Hari/Tanggal
Pelajaran
1 Siklus 1 Senin/19 Oktober 2020
IPS
2 Siklus 2 Senin/26 Oktober 2020
4. Pihak yang membantu
a. Ibu Megawati, M.Pd sebagai Supervisor 1 dan Tutor Universitas Terbuka
Kabko Pariaman.
b. Ibu Zetwisma, S.Pd sebagai kepala sekolah SD Negeri 29 Sungai Limau.
c. Ibu Helmida S.Pd.SD yang bersedia membantu mengobservasi proses
pembelajaran yang dilaksanakan.
d. Rekan-rekan guru SD Negeri 29 Sungai Limau yang turut memberikan
masukan perbaikan pembelajaran.
B. DESKRIPSI PER SIKLUS
Prosedur perbaikan penelitian ini sesuai dengan jenis Penelitian Tindakan
Kelas (PTK), yaitu terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus meliputi:
1. Perencanaan
Menjelaskan tentang Rencana kegiatan (menjelaskan tentang rencana
kegiatan yang terdapat dalam Rancangan Siklus 1 dan 2) dan definisi setiap
kegiatannya. Menyajikan Tabel rencana Kegiatan yang terdapat dalam
Rancangan satu Siklus untuk siklus 1 dan siklus 2.
2. Pelaksanaan
Menjelaskan tentang pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran, yaitu
tentang kapan dan bagaimana proses pelaksanaan pembelajarannya.
3. Pengamatan
Menjelaskan cara pengamatan yang akan dilakukan oleh guru terkait
pelaksanaan perbaikan pembelajarannya dan bagaimana guru melakukan
analisis terhadap hasil pengamatan tersebut.
4. Refleksi
Menjelaskan bagaimana cara guru melakukan refleksi terhadap perencanaan
pembelajaran yang dilakukannya, apa alat yang digunakan untuk refleksi dan
bagaimana menggunakannya.

Gambar 1 Desain Siklus PTK Model Kemmis dan M. Taggart


1. Perencanaan
Sebelum melakukan penelitian, dalam tahap perencanaan dilakukan kegiatan
penelitian ini terlihat dari Tabel 3.
Tabel3 Rangkaian kegiatan pada Tahap perencanaan dalam penelitian
No Hari /Tanggal Kegiatan Deskripsi
1 Senin, 5 Oktober Menetapkan Penelitian dilaksanakan sesuai
2020 jadwal kalender pendidikan
penelitian untuk
siklus 1 dan siklus
2
2 Rabu, 7 Oktober Mengkaji Menentukan tema dan subtema
2020 Kurikulum 2013 yang diteliti
pada
pembelajaran
3 Rabu, 7 Oktober Merancang RPP Banyak pertemuan dalam RPP
2020 untuk siklus 1 dan dirancang sesuai tema dan
siklus 2 dengan subtema dimana pada langkah-
model Number langkah
Head Together pembelajaran pada kegiatan ini
(NHT ) mengguanakan sintak NHT
4 Jum’at, 9 Menyiapkan Instrumen berupa:
Oktober 2020 instrument lembar observasi simulasi PKP
penelitian untuk dan alat penilaian simulasi PKP
siklus 1 dan yang telah berisi data peneliti
siklus 2
5 Senin, 12 Menyiapkan Video 1 simulasi pembelajaran
Oktober 2020 kamera, alat dibuat engan pedoman RPP
peraga dan segala hari terakhir/pertemuan terakhir
fasilitas siklus 1
yang akan untuk siklus 1 dan Video 2
digunakan dalam simulasi
pembuatan video pembelajaran dibuat dengan
1 pedoman RPP hari
dan 2 simulasi terakhir/pertemuan terakhir
pembelajaran siklus 2serta mengambil foto
serta untuk dokumentasi
dokumentasi
Berdasarkan Tabel 3 Rencana Kegiatan yang dilaksanakan itu sebagai berikut:
a. Menetapkan jadwal penelitian untuk siklus 1 dan siklus 2 Jadwal penelitian
untuk siklus 1 dilaksanakan sesuai dengan jadwal pembuatan video 1 simulasi
pembelajaran yaitu pada hari Senin tanggal 12 Oktober 2020 dan video 2
simulasi pembelajaran yaitu pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2020.
b. Mengkaji Kurikulum 2013 pada pembelajaran IPS kelas IV serta penunjang
lain. Penelitian dilakukan pada Kompetensi Dasar 3.4 Mengidentifikasi
kerajaan Hindu, Buddha dan Islam serta pengaruhnya pada kehidupan
masyarakat masa kini di lingkungan daerah setempat.
c. Merancang RPP dengan model Number Head Together (NHT)
Pada kegiatan inti dalam RPP menggunakan sintaks NHT sebagai berikut:
a. Penomoran
b. Mengajukan pertanyaan
c. Berpikir bersama
d. Menjawab pertanyaan
d. Menyiapkan instrument penelitian berupa:
a. lembar observasi simulasi PKP yang telah berisi data peneliti digunakan
untuk mengobservasi video 1 simulasi pembelajaran terkait
keterlaksanaan RPP dan penampilan peneliti.
b. Alat Penilaian Simulasi (APS) PKP yang telah berisi data peneliti
masing- masing digunakan untuk 2 siklus. APS PKP ada 2 jenis yaitu:
a) Alat Penilaian Simulasi PKP 1 (APS-PKP 1) untuk menilai RPP
peneliti.
b) Alat Penilaian Simulasi PKP 2 (APS-PKP 2) untuk menilai video 1
simulasi pembelajaran.
c) Menyiapkan kamera, alat peraga dan segala fasilitas yang akan
digunakan dalam pembuatan video 1 simulasi pembelajaran serta
untuk dokumentasi. Dokumentasi berupa foto kegiatan awal, foto
kegiatan inti, foto kegiatan penutup dan foto aktivitas diskusi bersama
pendamping.
2. Pelaksanaan
Setelah penyusunan RPP, maka peneliti melakukan pembelajaran sesuai
dengan RPP yang telah di susun. Pada tahap ini, peneliti melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dirumuskan. Setiap langkah
yang telah direncanakan diamati dan dikumpulkan data-datanya, baik data
aktifitas selama proses pembelajaran maupun data hasil pembelajaran. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui peningkatan aktivitas, dan hasil pembelajaran dari
siklus satu ke siklus berikutnya.
3. Pengamatan
Observasi terhadap tindakan pembelajaran IPS di Kelas IV dengan model
NHT dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Kegiatan ini dilakukan
secara intensif, objektif dan sistematis. observasi dilakukan oleh guru pada waktu
melaksanakan tindakan pembelajarana IPS melalui video 1 simulasi
pembelajaran. Pada kegiatan ini guru berusaha mengenal, dan
mendokumentasikan semua kegiatan dan perubahan yang terjadi selama
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model NHT baik yang
disebabkan oleh tindakan terencana maupun tindakan diluar perencanaan yang
terdapat dalam pembelajaran IPS. Kemudian guru melakukan diskusi dengan guru
senior untuk membahas tentang kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru
serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
Kegiatan pengamatan dilakukan oleh guru untuk mengamati kegiatan siswa
selama proses pembelajaran, kegiatan tersebut dicatat pada lembar observasi.
Observasi dilakukan secara terus menerus mulai dari siklus I sampai selesai.
Observasi pada siklus II berpedoman pada penyusunan tindakan pada siklus I.
Rencana siklus ke II dibuat berdasarkan analisis pada siklus I. Hasil pengamatan
ini kemudian didiskusikan dengan guru senior dan diadakan refleksi untuk
perencanaan siklus II.
4. Refleksi
Pada kegiatan ini peneliti dan guru mengamati lembaran observasi yang telah diisi
dan hasil penilaian APS. Serta melakukan diskusi tentang kelebihan dan
kekurangan yang terdapat pada pembelajaran yang telah dilakukan melalui video
1 simulasi pembelajaran. Apabila terdapat kekurangan maka dilakukan perbaikan
terhadap kegiatan pembelajaran. Selain itu guru dan peneliti mengulas dan
menjelaskan perbedaan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.
Lalu melakukan intervensi, pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh.
Hasil refleksi bersama ini dimanfaatkan sebagai masukan pada tindakan
selanjutnya. Selain itu, hasil kegiatan refleksi setiap tindakan digunakan untuk
menyusun simpulan terhadap hasil tindakan siklus I dan II.