Anda di halaman 1dari 12

CARA MENENTUKAN STATUS GIZI DENGAN MASING MASING UKURAN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH: NARISYA PUTRI

UNIVERSITAS UBUDIYAH INDONESIA


PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN
TAHUN 2021

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................
1.1 Rumusan Masalah .........................................................................................................
1.2 Tujuan ...........................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................
2.1 Bagaimana cara pengukuran..........................................................................................
2.2 Tujuan pengukuran .......................................................................................................
2.3 Bagaimana cara menentukan status gizi dengan masing masing ukuran .....................
BAB III PENUTUP ..........................................................................................................
A.Kesimpulan .....................................................................................................................

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berat Badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, di
mana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan anatara konsumsi dan kebutuhan zat gizi
terjamin, berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan
yang abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat
berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berat badan harus selalu dimonitor
agar memberikan informasi yang memungkinkan intervensi gizi yang preventif sedini
mungkin guna mengatasi kecenderungan penurunan atau penambahan berat badan yang tidak
dikehendaki. Berat badan harus selalu dievaluasi dalam konteks riwayat berat badan yang
meliputi gaya hidup maupun status berat badan yang terakhir. Penentuan berat badan
dilakukan dengan cara menimbang.
Tinggi badan merupakan salah satu parameter yang dapat melihat keadaan status gizi
sekarang dan keadaan yang telah lalu. Pertumbuhan tinggi/panjang badan tidak seperti berat
badan, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi pada waktu singkat
bahwa Lingkar Lengan Atas (LILA) adalah jenis pemeriksaan antropometri yang
digunakan untuk mengukur risiko KEK pada wanita usia subur yang meliputi remaja, ibu
hamil, ibu menyusui dan Pasangan Usia Subur (PUS). Sedangkan ambang batas LILA pada
WUS dengan resiko KEK adalah 23,5 cm dan apabila kurang dari 23,5 cm wanita tersebut
mengalami KEK.
Rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) merupakan indikator untuk menentukan
obesitas abdominal yang diperoleh dengan cara menghitung perbandingan antara lingkar
pinggang (cm) dan lingkar panggul (cm). Hal ini akan berdampak pada fusngsi sistem
hormonal pada tubuh yang bisa berdampak pada gangguan siklus haid.

Pengukuran komponen lemak dalam evaluasi tubuh penting dilakukan karena adanya
hubungan antara lemak tubuh dengan beberapa faktor risiko kesehatan. Beberapa ukuran
antropometrik seperti lingkar pinggang dan lingkar pelvis, tebal lipatan kulit, diameter sagital

3
abdominal dan Waist –To-Hip Ratio (WHR) yang diketahui dapat menunjang pengukuran
komposisi tubuh serta bermanfaat dalam mengetahui faktor risiko kesehatan sejak dini.

1.2 Rumusan Masalah


 Bagaimana cara pengukuran?
 Tujuan pengukuran ?
 Bagaimana cara menentukan status gizi dengan masing masing ukuran ?
 Klarifikasi status gizi berdasarkan masing masing ukuran ?

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Cara Pengukuran

 Berat Badan

Berat badan merupakan jumlah cairan, lemak, otot, dan mineral tulang di dalam tubuh
manusia. Berat badan seseorang dapat diketahui dengan beberapa cara, namun yang paling
sederhana adalah melakukan penimbangan menggunakan timbangan berat badan yang
dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg). Timbangan berat badan yang digunakan dapat
berupa timbangan digital maupun timbangan jarum. Prosedur penimbangan berat badan
untuk orang dewasa dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Pengukuran berat badan hendaknya dilakukan setelah sisa-sisa makanan di perut


kosong dan sebelum makan (waktu yang dianjurkan adalah di pagi hari).
2. Letakkan alat timbangan berat badan di tempat yang datar.
3. Sebelum melakukan penimbangan, hendaknya timbangan digital/jarum dikalibrasi
terlebih dahulu menggunakan berat standar. Jika hasilnya sesuai maka alat timbang
dapat digunakan. Berat standar dapat menggunakan air mineral dalam botol 1,5 L
sebanyak 4 buah (Berat jenis air adalah 1 gram /ml) sehingga hasil pengukuran yang
dihasilkan akan menunjukkan nilai 6 kg ataupun menggunakan benda lain yang
memiliki berat standar seperti dumbbell 5 kg.
4. Setelah alat siap. Mintalah subjek untuk melepaskan alas kaki (sepatu dan kaos kaki),
asesoris yang digunakan (jam, cincin, gelang kalung, kacamata, dan lain-lain yang
memiliki berat maupun barang yang terbuat dari logam lainnya) dan pakaian luar
seperti jaket. Saat menimbang sebaikya subjek menggunakan pakaian seringan
mungkin untuk mengurangi bias / error saat pengukuran.
5. Setelah itu mintalah subjek untuk naik ke atas timbangan, kemudian berdiri tegak
pada bagian tengah timbangan dengan pandangan lurus ke depan.
6. Pastikan pula subjek dalam keadaan rileks / tidak bergerak-gerak.
7. Catat hasil pengukuran dalam satuan kilogram (Kg).

5
 Tinggi Badan
Cara berdiri yang benar dan alat ukur yang pas dengan rangka tubuh adalah beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam mengukur tinggi badan. Anak-anak yang sudah
dapat berdiri tegap dan orang dewasa pada umumnya diukur menggunakan Microtoise
(stature meter) atau Shortboard. Berikut adalah cara melakukan pengukuran tinggi
badan yang benar:

1. Pilih bidang vertikal yang datar (misalnya tembok/ bidang pengukuran lainnya)
sebagai tempat untuk meletakkan
2. Pasang Microtoise pada bidang tersebut dengan kuat dengan cara meletakkannya di
dasar bidang / lantai), kemudian tarik ujung meteran hingga 2 meter ke atas secara
vertikal / lurus hingga Microtoise menunjukkan angka nol.
3. Pasang penguat seperti paku dan lakban pada ujung Microtoise agar posisi alat tidak
bergeser (hanya berlaku pada Microtoise portable).
4. Mintalah subjek yang akan diukur untuk melepaskan alas kaki (sepatu dan kaos kaki)
dan melonggarkan ikatan rambut (bila ada)
5. Persilahkan subjek untuk berdiri tepat di bawah Microtoise.
6. Pastikan subjek berdiri tegap, pandangan lurus ke depan, kedua lengan berada di
samping, posisi lutut tegak / tidak menekuk, dan telapak tangan menghadap ke paha
(posisi siap).
7. Setelah itu pastikan pula kepala, punggung, bokong, betis dan tumit menempel pada
bidang vertikal / tembok / dinding dan subjek dalam keadaan rileks.
8. Turunkan Microtoise hingga mengenai / menyentuh rambut subjek namun tidak
terlalu menekan (pas dengan kepala) dan posisi Microtoise tegak lurus.
9. Catat hasil pengukuran.

 Lingkar lengan atas


Pastikan pita LiLA tidak kusut, tidak terlipat-lipat atau tidak sobek 2. Jika lengan
pasien > 33cm, gunakan meteran kain 3.Sebelum pengukuran, dengan sopan minta
izin kepada pasien bahwa petugas akan menyingsingkan baju lengan kiri pasien
sampai pangkal bahu. Bila pasien keberatan, minta izin pengukuran dilakukan di
dalam ruangan yang tertutup. 4.Pasien diminta berdiri dengan tegak tetapi rileks, tidak

6
memegang apapun serta otot lengan tidak tegang 5.Baju pada lengan kiri (lengan yang
kurang dominan) disingsingkan ke atas sampai pangkal bahu terlihat atau lengan
bagian atas tidak tertutup.

1.Tentukan posisi pangkal bahu.


2. Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak tangan ke arah
perut.
3. Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan menggunakan
pita LiLA atau meteran (Lihat Gambar), dan beri tanda dengan pulpen/spidol
(sebelumnya dengan sopan minta izin kepada pasien). Bila menggunakan pita LiLA
perhatikan titik nolnya.
4. Lingkarkan pita LiLA sesuai tanda pulpen di sekeliling lengan pasien sesuai tanda
(di pertengahan antara pangkal bahu dan siku).
5. Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LiLA.
6. Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar.
7. Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada pita LiLA (kearah angka yang
lebih besar).

 Tebal Lemak di bawah kulit

Salah satu pengukuran komposisi lemak tubuh yaitu dengan menggunakan


skinfold caliper. Bagian-bagian tubuh yang pada diukur yaitu tricep, bicep,
subscapula, dan suprailiac. Teknik pengukuran tebal lemak tubuh adalah sebagai
berikut :
1) Lipatan kulit triseps Lipatan kulit triseps diukur diatas otot triseps di bagian tengah
jarak antara ujung elekranon dan tonjolan akromion. Kedua titik ini dapat ditentukan
dengan lengan refleksi 90°. Setelah titik pertengahan ini diberi tanda, lengan
kemudian dibiarkan tergantung bebas dan terjuntai di samping badan, kemudian
dilakukan pengukuran.
2) Lipatan kulit biseps Lipatan kulit biseps diukur di bagian perut otot biseps, pada
titik yang sama tinggi dengan lipatan kulit triseps. Lengan juga menggantung di sisi
badan, sementara telapak tangan menghadap ke depan.

7
3) Lipatan kulit sub-skapula Lipatan kulit sub-skapula diukur tepat di atas sudut
bawah (inferior) skapula kanan; penjepitan dapat dilakukan vertikal atau 45° terhadap
garis-garis kulit.
4) Lipatan kulit suprailiaka Lipatan kulit suprailiaka diukur pada bagian atas krista
iliaka kanan pada titik (1 cm di atas dan 2 cm di bagian medial SIAS) yang sejajar
dengan linea aksilaris media (lengan sedikit abduksi). Penjepitan boleh mengikuti
garis-garis kulit atau 45° inferomedial terhadap garis horizontal atau medial.
Komposisi lemak tubuh diperoleh dengan menjumlahkan pengukuran tebal lipatan
lemak bawah kulit, daerah tricep, bicep, subscapula dan suprailiaka dibandingkan
dengan tabel presentase tebal lipatan bawah kulit menurut umur, kemudian dikalikan
dengan berat badan aktual. Hasil dari perhitungan komposisi lemak tubuh
dipersentasekan terhadap berat badan aktual.

2.2 Tujuan pengukuran


Antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh
dan komposisi tubuh untuk berbagai tingkat umur. Pada saat ini antropometri sering
digunakan untuk melakukan skrining kasus kurang gizi karena penggunaannya relatif
mudah, murah dan praktis. Sekalipun terkesan mudah, ada banyak hal yang harus
diperhatikan agar mendapatkan hasil pengukuran antropometri yang akurat.
Kegunaan dan ruang lingkup antropometri sesungguhnya memiliki cakupan
yang luas. Di bidang gizi, antropometri berguna untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini akan tercermin pada pola
pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan persentase air
dalam tubuh. Selain itu, antropometri dapat dipergunakan dalam bidang antropologi
ragawi sebagai sarana untuk mengidentifikasi perbedaan antar ras dan tipe tubuh.
Antropometri sekarang sangat diperlukan dalam bidang ergonomi untuk mendapatkan
perlatan yang nyaman digunakan sesuai postur tubuh. Di bidang ortopedi digunakan
untuk menentukan ukuran alat bantu yang sesuai dan di bidang kedokteran olah raga
terkait dengan fitness serta bidang forensik antropometri dapat dipergunakan dalam
menentukan identitas seseorang.

8
2.3 Bagaimana cara menentukan status gizi dengan masing masing ukuran

penilaian status gizi secara langsung menunit Supariasa (2001) dapat dilakukan dengan:
 Antropometri Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri
gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum
digunakan untuk melihat keseimbangan asupan protein dan energi.
 Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status gizi berdasarkan atas
perubahan- perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi,
seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau organ yang dekat dengan permukaan
tubuh seperti kelenjar tiroid.
 Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang
diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan. Jaringan tubuh
yang digunakan antara lain darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti
hati dan otot.
 Biofisik Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melibat kemamapuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan

Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan / tinggi badan berdasarkan kategori
Z- Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
1) Gizi Buruk ( Sangat Kurus) : <-3 SD
2) Gizi Kurang (Kurus) :-3SDs/d<-2SD
3) Gizi Baik (Normal) :-2SDs/d+2SD
4) Gizi Lebih (Gemuk) :>+2SD
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah
penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat
mempengaruhi produktifitas kerjanya. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut
perlu dilakukan oleh setiap orang secara berkesinambungan. Berikut akan dijelaskan
mengenai tanda dan gejala kecukupan nutrisi.
Antropometri Secara umum bermakna ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Dalam pemakaian untuk penilaian

9
status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan
variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a) Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan
penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan
berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai
dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun.
Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya
adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah
dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes,
2004)
b) Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa
jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang
mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun.
Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur)
atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat
pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan
kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu
pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat
menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu

C) Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan
kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi
masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan
kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U
( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi
Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya
hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan
gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun ( Depkes RI, 2004). Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu

10
parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang
berhubungan dengan status gizi.

BAB III
PENUTUP

A.kesimpulan
Berat badan merupakan jumlah cairan, lemak, otot, dan mineral tulang di dalam tubuh
manusia. Berat badan seseorang dapat diketahui dengan beberapa cara, namun yang paling
sederhana adalah melakukan penimbangan menggunakan timbangan berat badan yang
dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg).
Antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh untuk berbagai tingkat umur. Pada saat ini antropometri sering digunakan
untuk melakukan skrining kasus kurang gizi karena penggunaannya relatif mudah, murah dan
praktis. Sekalipun terkesan mudah, ada banyak hal yang harus diperhatikan agar
mendapatkan hasil pengukuran antropometri yang akurat.

11
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.
Almatsier, S. (2010). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.
Almatsier, S. (2011). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia

12

Anda mungkin juga menyukai