Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

PEMBUATAN IODOFROM
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah kimia organik
Dosen Pembimbing: Joko Suryadi,S.Si.M.T

oleh:

Kelompok 7

Sasa Fasadila 201431024


Sekar Indah C. 201431025
Septhya Nurul N. 201431026
Shafira Yulianthina 201431027

PROGRAM STUDI D3-ANALIS KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2021
I. TUJUAN
1. Melakukan reaksi sintesis pembuatan iodoform
2. Mengetahui mekanisme reaksi pembuatan iodoform
3. Menghitung persen rendemen iodoform yang diperoleh
4. Mengetahui sifat-sifat fisik dan kegunaan iodoform
5. Melakukan analisa sifat-sifat fisik iodoform

II. DASAR TEORI


Dalam perkembangan pembuatan obat, dikenal adanya obat-obatan sintetis. Awal abad ke
20 perkembangan obat-obat sintetis semakin berkembang. Salah satu contoh obat sintetis adalah
iodoform.
Iodoform merupakan senyawa kimia yang dapat disintesa berdasarkan reaksi halogenasi
dengan bahan dasar iodium yang direaksikan dengan aseton dan menggunakan natrium
hidroksida. Dalam percobaan ini, pertama-tama iodium direaksikan dengan aseton untuk
menetralisir iodium yang bersifat higroskopik yang selanjutnya direaksikan dengan NaOH untuk
membentuk iodoform yang di harapkan (Tan, 2010).
Iodine merupakan unsur halogen yang reaktif, dan berbentuk padat berwarna biru hitam
pada suhu kamar, serta dalam bentuk murninya iodine merupakan senyawa yang bersifat racun.
Seperti sifat halogen lainnya, iodine mudah beraksi dengan unsur-unsur lain, dan dapat larut
dalam air. Selain itu, iodine juga larut dengan cepat dalam larutan natrium iodide (Sunardi,
2006).
Di alam, iodine terdapat dalam bentuk senyawa-senyawa yang banyak tersebar di dalam
air laut, tanah dan batuan. Selain itu, iodine juga terdapat dalam jaringan tubuh organisme laut
(misalnya dalam ganggang laut) dan dalam garam Chilli yang mengandung 0,25 natrium iodat
(NaIO3) (Sunardi, 2006).
Jika iodine ditambahkan pada larutan bersifat alkali contohnya natrium hidroksida, maka
akan terbentuk natrium hipoklorit, NaIO, atau senyawa lain yang serupa, dimana iodine tidak
bereaksi dengan arsenit. Oleh karena itu, kelebihan natrium hidroksida harus dinetralkan
(Susanti, 2003).
Iodoform pertama kali disintesis oleh George Serullas pada tahun 1882 dan rumus molekul
di identifikasi pertama kali oleh Jean Baptieste Dumas pada tahun 1834. Hal ini disintetis oleh
reaksi haloform, reaksi iodium dengan natrium hidroksida dengan salah satu dari empat jenis
senyawa organik yaitu metal keton, asetaldehida, etanol dan alkohol sekunder tertentu. Reaksi
iodium dengan basa metil keton akan menghasilkan endapan berwarna kuning pucat
(iodoform test). Selain dari warnanya, iodoform dapat dikenali dengan baunya yang khas yaitu
berbau obat.
Iodoform adalah senyawa yang dibentuk dari reaksi antara iodine dengan etanol/aseton
dan asetaldehida dalam suasana basa. Iodoform adalah zat padat kuning dengan bau yang khas.
Iodoform banyak digunakan dalam bidang kedokteran yaitu sebagai antiseptik terhadap luka-
luka lecet karena membebaskan I2 yang dapat membunuh bakteri. Selain itu juga, masih dalam
bidang kedokteran iodoform berfungsi sebagai pencegah keluarnya nanah dan pencegah
pertumbuhan bakteri (Carey, 2006).
Iodoform sangat sukar larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Senyawa ini di
dekomposisi oleh cahaya, alkalis, tannin, dan merkuri klorida lemah. Senyawa ini juga
incompatible dengan merkuri oksida. Jika suatu senyawa iodida direaksikan dengan larutan
perak nitrat, akan terjadi endapan kuning pucat, yang tidak larut dalam asam nitrat encer dan
larutan amonia. Untuk membedakanya dari perak klorida dan perak bromida adalah bahwa perak
iodida tidak membentuk kompleks perak diamin yang larut dengan amonia. Jika suatu senyawa
iodida direaksikan dengan asam encer dan kalium bikromet, akan terjadi iod yang mudah larut
dalam kloroform dengan warna violet kemerahan. Dalam larutan asam, iodida dioksidasi
menjadi iod yang larut dalam senyawa hidrogen karbon dan hidrogen karbon yang terhalogenasi
dengan warna violet kemerahan (Carey,2006).
Iod adalah pembunuh kuman, fungi dan virus yang terkuat dengan daya kerja cepat. Begitu
pula spora-spora jamur dinaikkan, walaupun diperlukan waktu yang lebih lama: 2% dalam 2-3
jam. Sebagai efek sampingnya timbul warna coklat dan adakalanya radang kulit (dermatitis).
Tingtur iod 2% dalam alkohol 50% tidak digunakan lagi karena bersifat merangsang (Tan,
2010).
Iodoform merupakan senyawa halo alkana yang penting. Iodoform berupa zat padat
berwarna kuning mempunyai efek melumpuhkan syaraf pernapasan. Iodoform digunakan untuk
identifikasi etanol dalam suatu bahan dan sebagai bahan antiseptik (Sunardi, 2006).
Iod dan kompleks iod. Iod masih merupakan salah satu desinfektan yang terpenting, karena
kerjanya cepat dan dapat dipercaya. Pada penanganannya senyawa iod juga lebih nyaman
ndaripada senyawa halogen lain dan tidak begitu merangsang kulit (Mustchler, 2006).
Pada bidang farmasi, iodoform adalah salah satu zat berkhasiat terkenal, merupakan
antiseptik yang sangat efektif untuk kulit. Maka sebagian tinktur iod digunakan sebelum injeksi.
Efek samping warna coklat dan kadang terjadi dermatitis, hamper semua kuman pathogen
termasuk fungi di usus dimatikan oleh iodium (Tan,2010).
Iodoform adalah turunan trihalogen sederhana metana lainnya. Iodoform diperoleh dengan
mensubtitusikan 3 atom hydrogen dari metana oleh 3 atom iodium. Iodoform adalah Kristal
kuning padat dengan karakteristik bau yang tidak menyenangkan. Iodoform meleleh pada suhu
392 K ( 119oC) (Arora, 2006).
Reaksi alkana dengan halogen disebut halogenasi. Halogenasi pada dasarnya adalah reaksi
substitusi (pergantian) karena atom halogen menggantikan posisi hidrogen dalam struktur. Hasil
eksperimen menunjukkan bahwa dalam proses halogenasi, reaksi berlangsung dalam beberapa
langkah yang disebut reaksi rantai radikal bebas, yaitu (Ebel, 1992) :
1. Tahap inisiasi, adalah proses pemecahan ikatan molekul halogen menjadi dua atom radikal
bebas yang reaktif
2. Tahap propagasi, radikal halogen berinteraksi dengan molekul metana, kemudian
membentuk hidrogen dan radikal metil
3. Tahap terminasi, merupakan tahap penghentian reaksi.
Pada halogenasi aldehid dan keton, reaksi dapat dipercepat dengan penambahan asam atau
basa. Telah ditemukan bahwa kecepatan halogenasi suatu keton berbanding langsung dengan
konsentrasi asam yang ditambahkan, tetapi tidak bergantung pada konsentrasi atau jenis halogen
yang digunakan (klor, brom, atau iod). (Fessenden, 1992).
Halogenasi terhadap keton asimetris seperti metil propil keton memperlihatkan bahwa
orientasi halogenasi terjadi lebih dominan terhadap karbon yang lebih tersubstitusi. Di dalam
halogenasi terkatalis basa terhadap keton, ditemukan juga bahwa kecepatan reaksi sama sekali
tidak tergantung pada konsentrasi dan identitas halogen (Fessenden, 1992).
Prinsip percobaan pembuatan senyawa iodoform yang didasarkan pada reaksi halogenasi
antara iodium dengan aseton dengan penambahan NaOH sedikit demi sedikit hingga terbentuk
kristal kuning. Kemudian dilakukan pencucian kristal kuning hingga tidak terjadi alkalis dan
direkristalisasikan dengan penambahan alkohol dan dikeringkan lalu dihitung % rendamen.
Kecepatan halogenasi suatu keton berbanding langsung dengan konsentrasi keton tetapi
tidak tergantung pada konsentrasi atau jenis dari halogen yang digunakan. Reaksi halogenasi
dapat dipercepat dengan penambahan asam atau basa sebagai katalis. Di dalam halogenasi
terkatalisis basa terhadap keton ditemukan juga bahwa kecepatan reaksi sama sekali tidak
tergantung pada konsentrasi dan identitas halogen tersebut.
Persamaan reaksi :
CH3–CO–CH3 + 3 I2 CH3–CO–Cl3 + 3 HI
(aseton) (iodium)
CH3–CO–Cl3 + NaOH  CHI3 + CH3-COONa
(iodoform)
Iodroform merupakan senyawa organik yang dalam bidang kedokteran gigi masih kadang-
kadang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Desinfektan adalah zat-zat yang bekerja
bakterisid yang digunakan untuk membebaskan ruang dan pakaian dari mikroba, tetapi juga
dipakai pada produk eksresi orang sakit. Zat ini juga bekerja mematikan pada hampir semua
sel hidup lainnya, sedangkan antiseptik umumnya bekerja bakteriostatik. Biasanya dipakai
pada infeksi bakteri pada kulit, mukosa dan melawan infeksi pada luka (Ebel, 1992).
Beberapa kegunaan spesifik iodine (Sunardi,2006) :
a. Natrium iodide (NaI) yang digunakan dalam garam dapur berfungsi untuk mencegah
b. Penyakit gondok
c. Iodoform (CHI3) digunakan sebagai desinfektan (untuk mengobati penyakit borok)
d. Digunakan dalam industri tapioca
e. Larutan iodine dalam alcohol digunakan sebagai obat luka
f. Radioisotope iodine digunakan dalam bidang kedokteran dan penelitian
g. Beberapa jenis senyawa iodine digunakan sebaga ioksidator
Umumnya dapat diterima tubuh dengan baik walupun dapat pula menimbulkan rangsangan
lokal atau (jarang) reaksi alergi. Terutama pada penggunaan untuk mukosa atau daerah luka
yang cukup luas, karena terabsorpsi, dapat menimbulkan bahaya efek samping sistemik
(misalnya krusakan ginjal pada pasien dengan luka bakar yang hebat). (Mustchler, 2006).

III. ALAT DAN BAHAN


3.1. Alat yang digunakan :
Nama Gambar

Labu alas datar 500 mL

Magnetik stirer
Corong pisah

Erlemeyer 250 ml

Gelas kimia 100 ml

Gelas ukur 50 ml,

Spatula
2.2 Bahan yang digunakan :
Bahan Rumus molekul

Aseton

CH3COCH3

Iodofrom

CHI3

NaOH

NaOH

Alkohol

C2H5OH
IV. CARA KERJA

Timbang 10 gram Segera tambahkan 300


Tambahkan 10 mL
iodium, masukkan mL air hingga larutan
aseton, aduk berubah warna (jingga ke
ke dalam labu alas
sampai homogen kuning)
datar 500 mL

Setelah tercampur
Setelah itu, untuk sempurna, tambahkan
Biarkan
memurnikan tetes demi tetes larutan
terkristalisasi
rekristalisasi, NaOH 8N melalui corong
sempurna
tambahkan etanol pisah hingga terbentuk
kristal kuning

Lalu tentukan titik Timbang dan Saring larutan


leleh iodoform hitung % dengan kertas
yang didapat rendemennya saring

Cara penggunakaan melting point apparatus

Ketika suhu pada termometer


Menyalakan melting point
mencapai 60% dari titik
apparatus dengan
lebur/titik leleh, maka pemutar
memutar pemutar suhu
suhunya harus diturunkan
hingga 20ºC/menit
hingga mencapai 10ºC/menit

Jika pada termomoter suhunya


sudah mencapai suhu titik
lebur/titik leleh maka pemutar
suhu harus diputar ke kiri hingga
1ºC.
V. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Massa Iodine Massa kertas Massa kertas saring + Massa Iodoform yang
(gram) saring (gram) hasil (gram) diperoleh (gram)

10,0121 1,3821 9,8793 8,4972

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐼2
Mol I2 = 𝑀𝑟 𝐼2

10,0121 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol I2 = 253,8 𝑔𝑟/𝑚𝑙

Mol I2 = 0,0394 mol

Berat CHI3 secara teoritis = 1/3 mol CHI3 x Mr CHI3

= 1/3 x 0,0394 x 393,717

= 5,1708 gram

Massa Filtrat = (massa kertas saring + hasil) – (massa kertas saring)

= 9,8793 gram – 1,3821 gram

= 8,4972 gram

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑖𝑜𝑑𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚


% Rendemen = x 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑖𝑜𝑑𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

8,4972 𝑔𝑟𝑎𝑚
= x 100%
5,1708 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 164,21 %

Mekanisme Reaksi :

CH3 – CO – CH3 + 3I2 CH3 – CO – CI3 + 3HI

CH3 – CO – CI3 + NaOH CHI3 + CH3 – COONa

3NaOH + 3HI 3NaI + 3H 2O

CH3–CO–CH3 + 3I2 + 4NaOH CHI3 + CH3COONa + 3NaI + 3H2O


VI. PEMBAHASAN
4.1 Fungsi Alat dan Bahan
Iodoform adalah suatu senyawa yang cukup berperan dalam kehidupan sehari-hari.
Senyawa ini dapat diperoleh dengan mensintesis sendiri dengan menggunakan beberapa bahan
kimia lainnya. Iodoform diperoleh dengan mensintesis senyawa iodine dengan aseton dengan
bantuan katalisator NaOH (basa kuat) yang mana reaksinya disebut juga dengan reaksi
hologenasi.
Telah diketahui bahwa iodium adalah suatu senyawa yang dapat dimanfaatkan khususnya
dalam farmasi. Namun senyawa ini juga merupakan bahan yang cukup berbahaya, karena
dapat mempengaruhi system pernapasan jika terhirup. Sehingga dalam mereaksikannya
dibutuhkan kehati-hatian.
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat menghasilkan senyawa halogen yaitu
senyawa iodoform dari reaksi pembentukan antara iodium dengan aseton.
Pada proses pembuatan iodoform, diawali dengan melarutkan iodium dengan aseton yang
mana aseton berperan sebagai pereaksi yang menghasilkan warna merah kecoklatan pada
larutan yang menandakan reaksi halogenasi. Dalam pelarutan ini dilakukan didalam labu alas
datar untuk lebih mempermudah dalam homogenisasinya dan juga agar bisa berdiri sendiri dan
dipegang karena akan dikerjakan seperti titrasi hanya lebih kasar. Pemakaian labu alas bulat
disini tidak dibenarkan karena dalam prosedur tidak dilakukan pemanasan. Kemudian, didalam
corong pisah NaOH yang akan ditambahkan sedikit-demi sedikit setelah padatan iodium
dilarutkan dengan aseton. Dalam hal ini NaOH berfungsi sebagai katalisator untuk
mempercepat reaksi kristalisasi, yang memberikan warna merah dan terbentuk Kristal kuning.
Setelah terbentuk kristal, selanjutnya ditambahkan dengan segera aquadest yang berfungsi
untuk mengencerkan NaOH yang mungkin berlebih sehingga dapat mengurangi kecepatan
hidrolisis iodoform. Kemudian larutan di saring pada corong Buchner dan menggunakan filtasi
vacum agar penyaringan berlangsung cepat. Kemudian kristal dicuci sampai filtrat tidak
bereaksi alkalis, atau bebas NaOH karena sisa NaOH dikristal dapat menyebabkan penguraian
iodoform pada waktu rekristalisasi dengan etanol.
Setelah dilakukan penyaringan dengan corong buchner dan filtrasi vacum kemudian
dilakukan rekristalisasi (pemurnian). Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dimana dalam
keadaan panas larut dalam suatu pelarut tertentu, tetapi dalam keadaan dingin atau pada suhu
kamar, zat atau kristalnya akan terjadi. Dalam percobaan ini digunakan pelarut etanol.
Iodoform dimasukan kedalam Erlenmeyer, kemudian iodoform dilarutkan dengan beberapa
mL etanol. Karena etanol sifatnya mudah terbakar maka menggunakan Erlenmeyer yang
ditutup dengan corong dan ditutup dengan kapas basah untuk menghindari terjadinya
penguapan etanol. Tujuan dari pemberian etanol adalah untuk melarutkan sempurna kristal
iodoform. Karena pada dasarnya etanol adalah pelarut dari iodoform.

Setelah dilarutkan dengan etanol kemudian dihangatkan diatas kompor listrik sambal
dikocok, pemanasan bertujuan untuk membantu proses pelarutan antara etanol dan iodoform.
Setelah terlihat iodoform melarut sempurna didalam etanol kemudian disaring. Hasil dari
penyaringan yang berada diatas kertas saring merupakan iodoform berwarna kuning yang
masih kotor (belum murni). Sedangkan larutan yang ditampung dibiarkan sampai dingin
dimana akan terbentuk kristal iodoform yang berwarna kuning. Setelah dingin, ditambahkan
air beberapa mL. Larutan Kembali diaduk untuk megendapkan iodoform dengan sempurna.
Endapan kemudian disaring dengan corong buchner dan iodoform dicuci dengan beberapa tetes
etanol dingin. Selanjutnya residu di keringkan untuk memperoleh senyawa iodoform dalam
bentuk serbuk.
Melting Point Apparatus adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur titik leleh dari
suatu senyawa. Sebelum menggunakannya, sampel disiapkan terlebih dahulu. Selanjutnya,
sampel dimasukkan kedalam pipa kapiler, lalu sampel dimasukan kedalam melting point dan
dilakukan pengamatan terhadap titik lelehnya. Lalu dicatat suhu awal dan suhu akhirnya. Suhu
awal dicatat saat suhu zat mulai menciut atau membentuk tetesan pada dinding pipa kapiler
dan suhu akhir dicatat saat hilangnya fase padat.
4.2 Fungsi Perlakuan

Pada penambahan NaOH, penetesan dilakukan sedikit demi sedikit karena dengan metode
ini NaOH bisa tercampur dengan sempurna.

Ketika kristal kuning sudah terbentuk, dilakukan penambahan etanol untuk memurnikan
rekristalisasi, etanol dipilih karena etanol dapat mempermudah rekristalisasi pada
pembentukan iodoform.

Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dimana jika dalam keadaan panas zat tersebut
akan larut dalam pelarut tertentu tetapi pada suhu kamar atau dingin maka akan terbentuk
kristal dalam reaks iodoform ini pelarut tersebut adalah etanol (1 bagian iodoform larut dalam
16 bagian etanol panas). Etanol disini dipanaskan dengan hot plate bukan dengan api bebas
dengan diberi corong yang tertutup kapas agar penguapan etanol dapat berkurang. Setelah itu,
etanol ditambahkan sedikit demi sedikit ke erlenmeyer yang sudah terisi kristal iodoform
sambil dipanaskan dan diaduk dengan bantuan magnetic stirrer., kemudian dinginkan dan
tambah air agar kristal dapat segera terbentuk. Penambahan etanol harus sampai tepat larut.
Apabila berlebih maka kristal iodoform akan sulit mengkristal kembali.

Jadi, dapat di simpulkan bahwa keefektifan dari larutan tersebut adalah dengan di
panaaskan terlebih dahulu, apabila tidak di panaskan kemungkinan efektifitas dari
pengkristalan akan lebih lama.

4.3 Perhitungan dan Rendemen


Praktikum sintesa iodoform ini dimulai dengan menimbang 10 gram iodine lalu
ditambahkan dengan 10 mL aseton. Penambahan aseton ini berfungsi sebagai penghasil warna
merah kecoklatan pada larutan yang menandakan reaksi halogenasi dan diaduk sampai
homogen. Setelah iodium larut sempurna, ditambahkan tetes demi tetes NaOH 8N yang
berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi kristalisasi melalui corong pisah
hingga terbentuk kristal kuning. Selanjutnya, ditambahkan air 300 mL yang berfungsi untuk
mengencerkan NaOH sehingga kecepatan hidrolisisis iodoform dapat berkurang dan larutan
yang semula berwarna jingga berubah menjadi warna kuning. Larutan dibiarkan mengalami
kristalilasi sempurna. Setelah itu, larutan yang telah mengandung kristal idoform dan residu
dikeringkan agar senyawa iodoform dalam bentuk serbuk dapat diperoleh.
Dari praktikum ini, didapat berat filtrat sebesar 8,4972 gram dengan persen rendemenya
164,21 %. Persen rendemen yang didapat melebihi 100%, hal ini tidak lazim karena biasanya
presentase rendamen yang diperoleh dibawah 100% .Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa
sumber kesalahan, seperti data yang dibutuhkan saat praktikum tidak sesuai dengan literatur
yang akan diuji dimana menurut perhitungan teoritis massa iodoform yang diperlukan adalah
5,1708 gram sedangkan iodoform yang ditimbang saat praktikum sebesar 10,0121 gram.
Artinya, massa yang ditimbang 2 kali lipat dari massa seharusnya (teoritiris). Tentunya hal ini
pasti akan berpengaruh pada perolehan persentasi rendemennya.Idealnya, ketika pada massa
teoritis yang dibutuhkan sekitar 5,1708 gram maka massa iodoform yang ditimbang saat
praktikum sekitar 5-6 gram (dilebihi sedikit) sehingga perolehan persentase rendemennnya
dapat sempurna.
4.4 Mekanisme reaksi
Pada praktikum ini,terjadi reaksi halogenasi. Dimana rekasi suatu keton pada reaksi
halogenasi ini berbanding langsung dengan konsentrasi keton tetapi tidak tergantung pada
konsentrasi atau jenis dari halogen yang digunakan. Reaksi halogenasi dapat dipercepat dengan
penambahan asam atau basa sebagai katalis. Dalam reaksi halogenasi terkatalisis basa terhadap
keton, ditemukan juga bahwa kecepatan reaksi sama sekali tidak tergantung pada konsentrasi
dan identitas halogen tersebut. Pada percobaan ini, yang bertindak sebagai katalis adalah
NaOH. Persamaan reaksinya :
CH3 – CO – CH3 + 3I2 CH3 – CO – CI3 + 3HI

CH3 – CO – CI3 + NaOH CHI3 + CH3 – COONa

3NaOH + 3HI 3NaI + 3H2O

CH3–CO–CH3 + 3I2 + 4NaOH CHI3 + CH3COONa + 3NaI + 3H2O

Dari persamaan reaksi di atas dapat dilihat bahwa hasil akhir (produk) dari reaksi
halogenasi ini adalah iodoform.

VII. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum dapat disimpulkan bahwa
1. Persentase rendemen iodoform yang diperoleh sebesar 164,21 %. dengan berat filtrat
sebesar 8,4972 gram.
2. Secara spesifik iodoform digunakan sebagai
a. Natrium iodide (NaI) yang digunakan dalam garam dapur berfungsi untuk
mencegah
b. Penyakit gondok
c. Iodoform (CHI3) digunakan sebagai desinfektan (untuk mengobati penyakit
borok)
d. Digunakan dalam industri tapioca
e. Larutan iodine dalam alcohol digunakan sebagai obat luka
f. Radioisotope iodine digunakan dalam bidang kedokteran dan penelitian
g. Beberapa jenis senyawa iodine digunakan sebaga ioksidator
3. Adapun sifat fisika iodoform dapat dirinci sebagai berikut :
a. Bentuk berupa kristal kuning berkilauan
b. Bentuk bangun merupakan heksagonal dengan I sebagai pusatnya
c. Titik lebur 119-1230C
d. Berat jenis 4,00 gr/mil
e. Berat molekul 393,73
f. Komposisi C = 3,05 g ; H = 6,266 g ; I = 96,496 g
g. Mudah menguap (meyublim) pada suhu kamar
h. Terurai oleh pengaruh panas cahaya dan udara membentuk CO2, CO, I2, H2O
i. Memiliki bau yang khas
j. Sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam akohol
k. Perlahan-lahan larut dalam pentaoida atom
4. Berdasarkan praktikum, sifat-sifat fisik iodoform yang diperoleh yakni
a. Wujudnya berupa kristal kuning berkilauan
b. Memiliki bau yang khas
c. Titik leburnya berada di sekitar 119-1230C
d. Mudah menguap (meyublim) pada suhu kamar
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Sintetik. Makassar : UMI.
Anonim. Prinsip Kerja Melting Point. [dalam jaringan] dapat diakses pada laman :
https://dokumen.tips/documents/prinsip-kerja-melting-point-apparatus.html
Arora, A. 2006. Hydrocarbons, Alkanes, Alkens, and Alkynes. New Delhi : Discovery
Publishing House.
Carey, Francis A. 2006. Organic Chemistry Sixth Edition. New York, Mcgraw-hill.
Ebel, S. 1992. Obat Sintetik. Buku Ajar Dan Buku Pegangan. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta.
Fessenden & Fessenden. 1992. Kimia Organik. Edisi ketiga. Jakarta : Erlangga.
Anoni. Melting Point Apparatus. [dalam jaringan] dapat diakses pada laman :
https://pelitadwiasa.com/peralatan-laboratorium/melting-point-apparatus-dmp/
Mutschler, E. 2006. Dinamika Obat, Farmakologi dan Toksikologi. ITB, Bandung.
Sunardi. 2006. 116 UNSUR KIMIA, Deskripsi dan Pemanfaatannya. Bandung : Yrama
Widya.
Susanti, S., dkk. 2003. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif. Fakultas Farmasi UMI: Makassar.
Tan HT, Rahrdja, K. 2010. Obat-obat sederhana untuk gangguan sehari-hari. Jakarta : EMK.
Underwood A.L , JR. R.A. Day. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta :
Erlangga
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman Media Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai