Anda di halaman 1dari 115

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA TN.

A
KHUSUSNYA NY.E DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN
RASA AMAN NYAMAN DENGAN GANGGUAN SISTEM
PENGLIHATAN : KATARAK DI RT 14 RW 02 NO 456
KELURAHAN UTAN PANJANG KECAMATAN
KEMAYORAN JAKARTA PUSAT

TANGGAL 06 APRIL – 12 APRIL 2017

Disusun Oleh :
AYU NILA SARI
2014750007

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumWr.Wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan pada keluarga Tn. A khususnya Ny. E dengan pemenuhan
kebutuhan rasa aman nyaman dengan gangguan sistem penglihatan :
Katarak” di rt 14 rw 02 Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta
Pusat. Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, baik dari segi penulisan maupun
materi. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun guna penyempurnaan dimasa yang akan datang. Dalam
penyeleasaian Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan, saran dan data-data baik secara penulisan maupun secara lisan, maka
pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kepada Allah SWT.
2. Ibu dan Ayah tercinta yang telah memberikan segala do’a dan dukungan baik
moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
ini.
3. Bapak Dr. Muhammad Hadi, SKM.,M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan UMJ.
4. Ibu Ns. Titin Sutini, M.Kep.,Sp.Kep.An. selaku Ka. Prodi D III Keperawatan
FIK UMJ.
5. Ibu Ns. Nurhayati, Sp.Kep.Kom. selaku pembimbing keperawatan keluarga
yang telah banyak memberibantuan, bimbingan, pengaharahan yang sangat
berguna dalam menyusun karya tulis ilmiah ini sekaligus sebagai penguji I
dalam proses karya tulis ini.
6. Bapak Drs. Dedi Muhdiana, M. Kes sebagai penguji II dalam proses sidang
karya tulis ini.
7. Bapak RW beserta jajarannya, Bapak RT beserta jajarannya, Para Kader
Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat.

iii
8. Keluarga Tn.A yang telah banyak sekali memberi bantuan untuk terwujudnya
karya tulis ilmiah ini.
9. Sahabat special yang saya sayangi yaitu Arina Ratu yang selalu memberikan
dukungan, menyemangati, dan selalu ada dalam penyelesaian karya tulis ilmiah
ini.
10. Sahabat yang selalu menemani saya yaitu Aditya Iman dan Aliyah yang telah
memberi motivasi dan hiburan kepada penulis dalam pembuatan karya tulis
ilmiah ini.
11. Sahabat-sahabat saya menemani saya selama 3 tahun ini di Universitas
Muhammadiyah Jakarta yaitu Maiyanti Wahidatunnisa, Eka Widya, Wardah
Afipah, Euis Octaviani, Tri Amalia, dan Mitha Nur Artha.
12. Teman-teman yang mengambil KTI Keluarga yaitu Ranny Dwi, Nadiyah Intan,
Selly Melinda dan Aisyah.
13. Mahasiswa/mahasiswi Program DIII Keperawatan UMJ Angkatan 32 yang
telah banyak memberikan masukan kepada penulis.

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menyadari karya tulis ini masih
belum sempurna. Oleh karena itu, segala tegur sapa dan kritik yang diberikan,
penulis akan sambut dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan
datang. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi
penulis sendiri.

Jakarta, 06 Juni 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ……………………..……………………….. I


LEMBAR PENGESAHAAN ………………………………..…………… Ii
KATA PENGANTAR ……………………………..……………………... Iii
DAFTAR ISI ……………………………………..………………………. V
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...……………………………..……………....... 1
B. Tujuan Penulisan ……………………………………...……….. 5
1. Tujuan Umum …………………………………………...…. 5
2. Tujuan Khusus ……………………………………………… 6
C. Lingkup Masalah……………………………………………….. 6
D. Metode Penulisan ……………………………………………… 7
E. Sistematis Penulisan …………………………………………… 8

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A. Konsep Dasar Katar
1. Pengertian ………………………………….………..…….... 10
2. Klasifikasi …………………………………………...…….... 11
3. Etiologi ..……………………………………………………. 13
4. Patofisiologi …………………………………...…………… 14
5. Manifestasi klik ……………………………………...……... 15
6. Komplikasi ……………………………………………......... 15
7. Penatalaksanaan ……………………………………………. 15
8. Pemeriksaan penunjang …………………………………….. 18
B. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
1. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Nyaman ……………………... 18
2. Asuhan Keparawatan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
pada pasien Katarak …………………………………….….. 19
C. Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Konsep Keluarga …………………………………………… 20
a. Pengertian ………………………………………………. 20

v
b. Jenis/Tipe Keluarga …………………………………….. 20
c. Struktur Keluarga ……………………………………….. 23
d. Ciri-ciri Struktur Keluarga ……………………………… 24
e. Peran Keluarga ………………………………………….. 25
f. Fungsi Keluarga ………………………………………… 25
g. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga …………….. 26
h. Tugas Keluarga dalam bidang kesehatan ………………. 31
2. Konsep Proses Keperawatan Keluarga
a. Pengkajian Keperawatan ……………………………….. 32
b. Diagnosa Keperawatan …………………………………. 38
c. Perencanaan Keperawatan ……………………………… 46
d. Pelaksanaan Keperawatan ……………………………… 50
e. Evaluasi Keperawatan ………………………………….. 52

BAB III TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian Keperawatan …………………………….…………... 55
B. Diagnosa Keperawatan ………………………………………… 78
C. Perencanaan Keperawatan ……………………………………... 79
D. Pelaksanaan Keperawatan ……………………………………… 83
E. Evaluasi Keperawatan ………………………………………….. 83

BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan ……………………………………….. 90
B. Diagnosa Keperawatan ………………………………………… 94
C. Perencanaan Keperawatan ……………………………………... 95
D. Pelaksanaan Keperawatan ……………………………………… 96
E. Evaluasi Keperawatan ………………………………………….. 97

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN ………………………………………………… 98
B. SARAN ………………………………………………………… 99

vi
vii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem indera merupakan salah satu sistem yang sangat berperan


dalam mengoptimalkan proses perkembangan setiap individu. Sejak bayi
sistem indra merupakan alat utama manusia untuk mengumpulkan berbagai
informasi visual (audio), olfaktoris (rasa), dan fisik. Informasi visual di
tanggkap oleh mata (indera penglihatan). Sekitar 90% informasi fisik
diterima melalui indera penglihatan. Pengukuran fungsi indera yang lazim
dilakukan secara objektif adalah pengukuran fungsi penglihatan (tajam
penglihatan/visus) Riskesdas (2013). Masalah yang terjadi pada fungsi
penglihatan salah satunya adalah katarak.
Katarak disebut bular yaitu penglihatan seperti tertutup air terjun
akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada
lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,
denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya (Tamsuri, S,
2011). Kekeruhan ini dapat mengganggu jalannya cahaya yang melewati
lensa sehingga pandangan dapat menjadi kabur hingga hilang sama sekali.
Katarak merupakan penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa
menjadi keruh atau bewarna putih abu-abu dan ketajaman pengelihatan
menurun (Corwin, 2009). Derajad disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak
dipengaruhi oleh lokasi dan densitas keburaman. Intervensi diindikasi jika
visus menurun sampai batas klien tidak dapat menerima perubahan dan
merugikan atau memengaruhi gaya hidup klien (yaitu visus 5/15). Katarak
biasanya memengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang
secara independen. Perkecualian, katarak traumatik biasanya unilateral dan
katarak kongenital biasanya stasioner.
Berdasarkan data Riskesdas (2007) bahwa Prevalensi kekeruhan
kornea (Katarak) secara keseluruhan adalah 4,0% dan 0,6% lebih rendah

1
dari angka nasional 4,8% dan 0,9%. Prevalensi penduduk usia 30 tahun ke
atas yang pernah di diagnosis katarak adalah 1,6% dan lebih rendah dari
angka nasional 1,8%. Sedangkan data Riskesdas (2013) hasil Prevalensi
kekeruhan kornea (Katarak) Nasional adalah 5,5% dengan Prevalensi
tertinggi ditemukan di Bali (11,0%), diikuti oleh D.I.Yogyakarta (10,2%)
dan Sulawesi Selatan (9,4%). Prevalensi kekeruhan kornea (Katarak)
terendah dilaporkan di Papua Barat (2,0%) di ikuti DKI Jakarta (3,1%).
Sedangkan Prevalensi katarak yang meningkat seiring bertambahnya usia
(19,5%) mungkin disebabkan karena kurangnya keahlian enumerator dalam
melakukan penilaian untuk kekeruhan kornea. Katarak yang terjadi pada
Laki-laki cenderung sedikit lebih tinggi (5,5%) dibandingkan Prevalensi
pada Perempuan (5,4%). Sebagian besar penduduk dengan katarak di
Indonesia belum menjalani operasi katarak karena faktor ketidaktahuan
penderita mengenai penyakit katarak yang di deritanya dan mereka tidak
tahu bahwa katarak bisa dioperasi/direhabilitasi. Alasan kedua terbanyak
penderita katarak belum dioperasi adalah karena tidak dapat membiayai
operasinya. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa terjadinya
peningkatan Prevalensi.
Penyebab utama katarak adalah lansia, tetapi banyak hal lain yang
dapat terlibat seperti trauma, toksin, penyakit sistemik (seperti diabetes),
merokok, dan herediter (Vaughan & Asbury, 2007). Menurut WHO pada
tahun 2007 faktor resiko katarak yang berkaitan dengan usia termasuk
diabetes, terlalu lama terkena sinar matahari, mengonsumsi tembakau dan
minuman alkohol. Merokok dipercaya menyebabkan atau memperburuk
beberapa kondisi mata. Perokok memiliki tingkat 40% lebih tinggi dari
katarak, kekeruhan dari lensa mata yang menghalangi cahaya dab dapat
menyebabkan kebutaan. Penyebab asap rokok yang menyebabkan katarak
ada dua yaitu : dengan cara mengiritasi mata dan dengan melepaskan bahan
kimia ke dalam paru-paru yang kemudian perjalanan hingga aliran darah ke
mata.
Sedangkan menurut Riskesdas (2013) penyebab akibat katarak yang
cukup tinggi, kurangnya pengetahuan masyarakat, serta tingginya biaya

2
operasi, ketersediaan tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan mata yang
semakin terbatas. Faktor-faktor lain adalah paparan sinar ultraviolet yang
berlebihan terutama pada Negara tropis, paparan dengan radikal bebas,
merokok, defesiensi vitamin (A, C, E, niasin, tiamin, riboflavin, dan beta
karoten), dehidrasi, trauma, infeksi, dan penyakit sistemik seperti diabetes
mellitus, genetik, myopia (IIyas, 2009 ).
Tanda dan gejala katarak yaitu : pandangan mata kabur seperti
berkabut, merasa silau, pandangan penglihatan ganda, penglihatan tidak
tajam, dan penurunan penglihatan di malam hari. Akibat dari katarak
berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan
berpotensi membutakan jika katarak terlalu tebal. Kondisi ini biasanya
memengaruhi kedua mata, tetapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih
awal dari yang lain.
Kebutuhan rasa aman dan nyaman pada katarak (Potter & Perry,
2006) mengungkapkan kenyamanan rasa nyaman adalah suatu keadaan
telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan kententraman
(suatu kepuasan yang meningkatkan penamapilan sehari-hari), kelegaan
(kebutuhan yang terpenuhi) dan transeeden (keadaan tentang sesuatu yang
melebihi masalah dan nyeri). Kenyaman dipandang secara holistik yang
mencakup aspek : Fisik berhubungan dengan sensasi tubuh, Sosial
berhubungan dengan hubungan internasional, Psikospiritual berhubungan
denagan keawaspadaan internal dalam diri sendiri meliputi (harga diri
sendiri, seksualaiatas, dan makna kehidupan), lingkungan berhubungan
dengan latar belakang pengalaman eksternal manusia seperti (cahaya,
tempratur, bunyi, dan unsur alamiah). Meningkatkan kebutuhan rasa
nyaman diartikan perawat telah memberikan kekuatan, harapan, dukungan,
dan bantuan. secara umum dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan rasa
nyaman adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari rasa nyeri,
hipo/hipertemia. Hal ini disebabkan karena mempengaruhi kondisi tidak
nyaman pasien dengan timbulnya gejala dan tanda pada pasien katarak.
Peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman
dalam bidang kesehatan, seperti : mengenal masalah kesehatan katarak

3
setiap anggotanya, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan
katarak yang tepat bagi keluarga, memberikan fasilitas pelayanan kesehatan
katarak. Diharapkan keluarga dapat melaksanakan tugas tersebut, sehingga
dapat mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga yang
produktifitas tinggi sesuai dengan fungsi keluarga yaitu fungsi
perawatan/pemeliharaan kesehatan (Friedman, 1998). Upaya untuk
mengatasi masalah katarak yaitu konsumsi makanan sehat dan lindungi
mata dari sinar ultraviolet (sinar matahari) dan hindari asap rokok.
Peran perawat keluarga juga diperlukan dalam menurunkan angka
kejadian dan dampak pada keluarga dan masyarakat. Adapun peran perawat
adalah sebagai berikut (Tatut susanto, 2012) : Pendidik yaitu perawat
memberikan pengetahuan dalam meningkatkan kesehatan katarak dan
memberikan konseling/bimbingan kepada klien, keluarga dan masyarakat
tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Koordinator yaitu perawat
mengkoordinir seluruh pelayanan keperawatan mengenai katarak, mengatur
tenaga kerja keperawatan, dan memberikan informasi tentang hal-hal yang
terkait dengan pelayanan keperwatan di sarana kesehatan. Pelaksana yaitu
perawat memberikan asuhan keperawatan secara professional yang meliputi
treatment keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan menjalankan
treatment medical. Melakukan pengkajian keperawatan, menegakkan
diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi keperawatan,
melaksanakan tindakan keperawatan, dan melakukan evaluasi keperawatan
yang telah dilakukan. Pembaruan/perubah yaitu perwat mengadakan inovasi
agar klien/keluarga mempunyai cara berfikir yang benar dalam mengatasi
masalah, sehingga sikap dan tingkah laku menjadi efektif, serta
meningkatkan ketrampilan yang diperlukan untuk hidup lebih sehat.
Advokat yaiu perawat sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain, membela kepentingan klien dan membantu klien agar
memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan. Konsultan yaitu perawat sebagai medikator antara klien dengan
profesi kesehatan lainnya. Perawat sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Kolaborasi

4
yaitu perawat bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain dan keluarga
dalam menentukan rencana atau pelaksanaan asuhan keperawatan.
Pengelola yaitu perawat mengatur kegiatan dalam upaya mencapai tujuan
yang diharapkan, sehingga klien dan perawat mendapatkan kepuasan karena
asuhan keperawatan yang diberikan. Peneliti yaitu perawat diharapkan
mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan
metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk
meningkatakan mutu asuhan, pelayanan, dan pendidian keperawatan.
Fungsi perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah
kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan
fungsi dan tugas perawat kesehatan keluarga.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin mengetahui lebih jauh
tentang pemenuhan kebutuhan dasar Keluarga Tn. A khususnya Ny.E
dengan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Rasa Aman dan Nyaman dalam
Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak di Rt 14 RW 02 NO 456 kelurahan
utan panjang kecamatan kemayoran jakarta pusat.

B. Tujuan Penulis

1. Tujuan Umum :

Mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan yang diterapkan pada


keluarga Tn. A khususnya Ny. E dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa
Aman Nyaman dengan Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak di RT
14 RW 02 Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta
Pusat.

5
2. Tujuan Khusus :

Melalui pendekatan proses keperawatan pada keluarga di harapkan


penulis mampu:

a. Pengkajian pada keluarga Tn. A khususnya Ny. E dalam


Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Nyaman dengan Gangguan
Sistem Penglihatan : Katarak.

b. Merumuskan Diagnosa keperawatan pada keluarga Tn. A


khususnya Ny. E dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman
Nyaman dengan Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak.
c. Menyusun Rencana asuhan keperawatan pada keluarga Tn. A
khususnya Ny. E dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman
Nyaman dengan Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak.
d. Melaksanakan Tindakan keperawatan pada keluarga Tn. A
khususnya Ny. E dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman
Nyaman dengan Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak.
e. Melakukan Evaluasi pada keluarga Tn. A khususnya Ny. E dalam
Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Nyaman dengan Gangguan
Sistem Penglihatan : Katarak.
f. Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat pada teori dan kasus.
g. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat serta dapat
mencari solusinya.
h. Mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk
i. narasi.
j. Memberikan masukan berupa saran sehingga dapat meningkatkan
mutu perawatan keluarga dengan masalah katarak.

C. Lingkup Masalah :

Mengingat luasnya permasalahan gangguan penglihatan , khususnya


pada Tn. A khususnya Ny. E dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman
Nyaman dengan Gangguan Sistem Penglihatan : Katarak di daerah RT 14
RW 02 NO 456 kelurahan utan panjang kecamatan kemayoran jakarta pusat.

6
D. Metode Penulisan
Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulisan membatasi satu
kasus saja yaitu pada pasien katarak. Sedangkan cara mengumpulkan data
yang menulis data melalui :

a) Studi Literatur

Dengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan penyakit


untuk membandingkan teori kasus yang ada.

b) Observasi

Yang melakukan pengamatan langsung kepada klien dengan Gangguan


Sistem Penglihatan : Katarak.

c) Wawancara

Tanya jawab dengan pasien, keluarga pasien, dan tim kesehatan lainnya.

d) Pemeriksaan Fisik
Yaitu dilakukan pada seluruh anggota keluarga, akan tetapi difokuskan
pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan.

e) Dokumentasi

Dengan cara melihat dan mempelajari catatan medis dan Asuhan


Keperawatan pasien sendiri.

7
E. Sistem penulisan
Penulis karya tulis ilmiah ini disusun sistematika yang terdiri dari lima BAB
:
BAB I : PENDAHULUAN
Meliputi : Latar belakang, tujuan penulisan, ruang
lingkup, metode penulisan, dan sistem penulisan.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep dasar katarak terdiri dari : pengertian,


klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik,
komplikasi, dan penatalaksanaan.

B. Konsep pemenuhan dasar gangguan kebutuhan.

C. Asuhan keperawatan keluarga terdiri dari :


1. Konsep keluarga terdiri dari : pengertian, jenis/tipe
keluarga, struktur keluarga, peran keluarga, fungsi
keluarga, tahap perkembangan keluarga dan tugas
perkembangan keluarga.
2. Konsep proses keperawatan keluarga terdiri dari :
pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan,
rencana keperawatan, pelaksanaan keperawatan,
dan evaluasi keperawatan.

BAB III : TINJAUAN KASUS


Merupakan laporan hasil Asuhan Keperawatan
Keluarga Tn.A khususnya Ny.E dengan katarak yang
meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan
keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi
keperawatan.

8
BAB IV : PEMBAHASAN
Membahas kesenjangan yang terjadi antara BAB II dan
III meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan,
dan evaluasi keperawatan.

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan
Berisi uraian singkat mengenai asuhan keperawatan
keluarga Tn.A khususnya Ny.E dalam pemenuhan
kebutuhan rasa aman nyaman dengan gangguan
sistem penglihatan khususnya : katarak.
B. Saran
Berisi tentang usulan-usulan mengenai hal-hal yang
harus diperbaiki dalam melaksanakan asuhan
keperawatan keluarga pada Tn. A khususnya Ny. E
dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman
dengan gangguan sistem penglihatan khususnya :
katarak guna meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan.

9
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Katarak


1. Pengertian

Katarak merupakan penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa


menjadi keruh/berwarna putih abu-abu dan ketajaman penglihatan
menurun. Katarak merupakan terjadinya protein pada lensa yang secara
normal transparan terurai dan mengalami koagulasi pada lensa (Corwin,
2009).

Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah
gambaran yang di proyeksikan pada retina. Katarak merupakan
penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap (Springhouse
Co). derajad distabilitas yang di timbulkan oleh katarak di pengaruhi
oleh lokasi dan densitas keburaman (Indriana N,2012).

Katarak berasal dari Yunani Katarrahakies, Inggeris Cataract, dan Latin


Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular
dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa
terjadi akibat kedua-duanya (Sidarta IIyas,2015).

Menurut catatan Orgnisasi Kesehatan Dunia (WHO) Katarak adalah


kekeruhan dari lensa mata yang mencegah visi yang jelas. Meskipun
sebagian besar kasus katarak terkait dengan proses penuaan, kadang-
kadang anak-anak dapat lahir dengan kondisi, atau katarak dapat
berkembang setelah cedera mata, peradangan, dan beberapa penyakit
mata lainnya.

10
2. Klasifikasi
a. Berdasarkan pada usia, katarak dapat di klasifikasikan menjadi:
1) Katarak Kongenital
katarak yang sudah terlihat pada usia kurang dari 1 tahun
(terjadi pada bayi baru lahir) akibat kesalahan metabolisme
sebelum di lahirkan atau akibat infeksi rubela maternal selama
trimester pertama kehamilan. Katarak tipe ini juga dapat terjadi
akibat anomalia kongenital atau akibat genetik.Penurunannya
biasanya dominan autosom namun, katarak resesif mungkin
terkait dengan kromosom seks.

2) Katarak Traumatik
katarak yang terjadi setelah benda asing mencederai lensa dengan
tenaga yang cukup untuk memungkinkan humor aqueous atau
vitreous memasuki kapsul lensa.

3) Katarak Senil
Katarak yang terjadi setelah usia 50 tahun pada lansia,
kemungkinan karena perubahan kimiawi pada protein lensa.

4) Katarak Toksik
Katarak yang terjadi akibat obat-obatan atau toksisitas bahan
kimiawi ergot atau fenotiazin.

5) Katarak rubela
Terdapat dua bentuk kekeruhan yaitu kekeruhan sentral
dengan perifer jernih seperti mutiara atau kekeruhan diluar
nuklear yaitu korteks anterior dan posterior total.

11
b. Berdasarkan penyebabnya, katarak dapat di bedakan menjadi :
1) Katarak Traumatika
Katarak terjadi akibat ruda paksa trauma baik karena trauma tumpul
maupun tajam. Rudra paksa ini dapat mengakibatkan katarak pada
satu mata ( Katarak Monokular).Penyebab katarak ini antara lain
karena raddiasi sinar-X, radioaktif dan beda asing.
2) Katarak Toksika
Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya pajanan dengan
bahan kimia tertentu.Selain itu, katarak ini dapat juga terjadi karena
penggunaan obat seperti kortikosteroid dan chlorpromazine.
3) Katarak Komplikata
Katarak terjadi akibat gangguan sistemik seperti diabetesmilitus,
hipoparatiroidisme, atau akibat kelainan lokal seperti uveitis,
glaukoma, dan miopia (proses degenerasi) pada satu mata lainnya.

c. Berdasarkan stadium, katarak senil dapat dibedakan menjadi :


1) Katarak Insipien
Merupakan stadium awal katarak yaitu kekeruhan lensa masih
berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur.Klien
mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda pada
penglihatan satu mata. Pada stadium ini, proses degenerasi belum
menyerap cairan sehingga bilik mata depan memiliki kedalaman
normal. Iris dalam posisi biasa di sertai kekeruhan ringan pada
lensa.Belum terjadi gangguan tajam penglihatan.
2) Katarak Imatur
Lensa mulai menyerap cairan sehingga lensa agak cembung,
menyebabkan terjadinya miopia, dan iris terdorong kedepan serta
bilik mata depan menjadi dangkal. Sudut bilik mata depan dapat
tertutup sehingga mungkin timbul glaukoma sekunder.
3) Katarak Mature
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. Pada stadium ini, terjadi
kekeruhan lensa. Terkena cairan dalam lensa sudah dalam keadaan

12
seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan
normal kembali. Tajam penglihatan sudah menurun dan hanya
tinggal proyeksi sinar positif.
4) Katarak Hipermature
Pada stadium ini, terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks
lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam
korteks lensa. Pada stadium ini, dapat juga terjadi degenerasi kapsul
lensa sehingga bahan lensa maupun korteks lensa yang cair dapat
masuk kedalam bilik mata depan. Bahan lensa dapat menutup jalan
keluar cairan bilik mata depan sehigga timbul glaukoma fakolitik.

3. Etiologi
Katarak biasanya terjadi pada usia lanjut dan bisa diturunkan.
Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti
merokok, atau bahan beracun lainnya. Katarak bisa disebabkan oleh
cedera mata penyakit metabolik (misalnya diabetes) obat-obatan
tertentu (misalnya kortikosteroid).

a. Katarak kongenital bisa disebabkan oleh :


1) Infeksi congenital,seperti campak jerman.
2) Berhubungan dengan penyakit metabolik, seperti galaktosemia.

b. Katarak disebabkan oleh berbagai facktor seperti :


1) Fisik
2) Kimia
3) Penyakit Predisposisi
4) Genetik dan gangguan perkembangan
5) Infeksi virus di masa pertumbuhan
6) Usia

13
Katarak

4. Pathofisiologi
Usia : Penuaan Penyakit sistemik : DM

Daya Lensa secara Konteks Kadar glukosa Ketidak seimbangan


bertahap memproduksi darah meningkat metabolisme
akomodasi
kehilangan air serat lensa protein lensa
lensa
terganggu Serbitol
Serat lensa menetap Protein dalam
Metabolism ditekan menuju didalam serabut2 lensa
Pupil dibawah kapsul
larut air sentral lensa
kontriksi mengalami
dengan DM
Distensi lensa Mata buram deturasi
rendah
masuk ke sel seperti kaca
Sinar tidak Protein lensa
pada nucleus susu
tertampung Hilangnya berkoagulasi
banyak lensa transparansi
pada siang lensa Blocking sinar
hari yang masuk
Kortek lensa
kornea
> terhidrasi
dari pada Kekeruhan
Blurres
nucleus lensa lensa
vision Bayangan semua
yang sampai
Pandangan kerentina Protein lensa
Lensa Sinar terpantul
< jelas terputus
menjadi kembali
malam hari disertai
cembung irir Otak dengan influx
terdorong Bayangan tidak mempresentasikan air kelensa
kedepan sampai keretina sebagai bayangan
berkabut
Sudut bilik Pandangan < Serabut lensa
mata depan jelas malam hari Pandangan kabur yang tegang
sempit menjadi patah
ketakuta
Aliran COA Membantu
Transmisi sinar
tidak lancar daerah keruh
terganggu
Gangguan menggantikan
persepsi sensori serabut2
Tio Menghambat
: penglihatan protein
meningkat jalan cahaya
kerentina
Mata berair
Komlikasi
glaukoma Pandangan
berkabut
Resiko cidera 14
resiko infeksi Resiko jatuh
5. Manifestasi klinik
a. Penglihatan akan suatu objek benda atau cahaya menjadi kabur, dn
buram. Bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau
seperti asap.
b. Kesulitan melihat ketika malam hari.
c. Mata terasa sensitif bila terkena cahaya.
d. Bayangan cahaya yang di tangkap seperti sebuah lingkaran.
e. Membutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca
atau beraktifitas lainnya.
f. Sering mengganti kaca mata atau lensa kontak karena merasa sudah
tidak nyaman.
g. Warna cahaya memudar dan cenderung berubah warna saat melihat
misalnya Cahaya putih yang ditangkap menjadi cahaya kuning.
h. Jika melihat dengan satu mata, bayangan benda atau cahaya terlihat
ganda.

6. Komplikasi
Komplikasi menurut (Kimberly A.J.Bilotta.,2014)
Kehilangan penglihatan total
Komplikasi pembedahan yang mungkin terjadi :
a. Penurunan cairan vitreus
b. Dehisens luka
c. Hifema
d. Glukoma yang menyumbat pupil
e. Ablasio retina
f. Infeksi

7. Penatalaksanaan
Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperlambat
progresivitas atau mencegah terjadinya katarak, tatalaksana masih tetap
dengan pembedahan (Vaughan DG & Arif, Mansjoer).

15
a. Penatalaksanaan Non-Bedah :
1) Terapi penyebab katarak
Pengontrolan diabetes melitus, menghentikan konsumsi obat-
obatan yang bersifat katarak togenik sepeti kortikosteroid,
fenotiasin, dan miotik kuat, menghindari iradiasi (inframerah
atau sinar-X) dapat memperlambat atau mencegah terjadinya
proses kataraktogenesis.
2) Memperlambat progresivitas.
Beberapa preparat yang mengandung kalsium dan kalium
digunakan pada katarak stadium dini untuk memperlambat
progresivitasnya, namun sampai sekarang mekanisme kerjanya
belum jelas. Selain itu juga disebutkan peran vitamin E dan
aspirin dalam memperlambat proses kataraktogenesis.
3) Penilaian terhadap perkembangan Visus pada katarak insipien
dan Imatur :
a) Refraksi yaitu dapat berubah sangat cepat,sehingga harus
sering dikoreki.
b) Pengaturan pencahayaan yaitu pasien dengan kekeruhan di
bagian perifer lensa (area pupil masih jernih) dapat
diinstruksikan menggunakan pencahayaan yang terang.
Berbeda dengan kekeruhan pada bagian sentral lensa, cahaya
remang yang ditempatkan disamping dan sedikit di belakang
kepala pasien akan memberikan hasil terbaik.
c) Penggunaan kacamata gelap yaitu pada pasien dengan
kekeruhan lensa di bagian sentral, hal ini akan memberikan
hasil yang baik dan nyaman apabila beraktivitas di luar
ruangan.
d) Midriatil yaitu pupil akan memberikan efek positif pada
lataral aksial dengan kekeruhan yang sedikit. Midriatil
seperti fenilefrin 5% atau tropikamid 1% dapat memberikan
penglihatan yang jelas.

16
b. Penatalaksanaan pembedahan katarak
Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup:
1) Indikasi visus merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini
berbeda pada tiap individu, tergantung dari gangguan yang
ditimbulkan oleh katarak terhadap aktivitas sehari-hari.
2) Indikasi medis merupakan pasien bisa saja tidak terganggu
dengan kekeruhan pada lensa matanya, namun beberapa indikasi
medis dilakukan operasi katarak seperti glaucoma imbas lensa
(lens-induced glaucoma), endoftalmitis fakoanafilaktik, dan
kelainan pada retina misalnya retiopati diabetik atau ablasio
retina. Penanggulangan katarak dengan jalan operasi atau
pembedahan, dimana lensa diangkat dari mata (ektraksi lensa)
dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular.

a) Ekstraksi ekstrakapsular, pada teknik ini bagian depan kapsul


dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata sehingga
menyisakan kapsul bagian belakang. lensa intrakuler buatan
dapat dimasukan kedalam kapsul tersebut. kejadian
komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian
belakang utuh.
b) Fakofragmentasi, merupakan teknik ekstrakapsular yang
menggunakan getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa
melalui irisan yang kecil (2,5mm) sehingga mempermudah
penyumbuhan luka pasca operasi.

3) Indikasi kosmetik merupakan indikasi dimana kadang-kadang


pasien dengan katarak matur meminta ekstraksi katarak
(meskipun kecil harapan untuk mengambil visus) untuk
memperoleh pupil yang hitam.

17
c. Penatalaksanaan keperawataan
1) Penderita katarak dianjurkan untuk memakai kaca mata hitam
ketika berada diluar ruangan pada siang hari, mengurangi jumlah
sinar ultraviolet yang masuk kedalam mata.
2) Mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan
menghindari faktor-faktor yang mempercepat terbentuknya
katarak.

d. Pemeriksaan penunjang :
1) Kartu mata snellen/mesin telebinokuler : mungkin terganggu
dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan
refraksi, penyakit sistem saraf, dan penglihatan ke retina.
2) Lapang penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor,
karotis, glukoma.
3) Pengukuran tonografi : TIO (12-25 mmHg).
4) Pengukuran gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma.
5) Tes provokatif : menentukan adanya/tipe glaucoma.
6) Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng
optik, papiledema, dan perdarahan.
7) Darah lengkap, LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
8) EKG, kolesterol serum, lipid, tes toleransi glukoma : kontrol DM.

B. Konsep pemenuhan dasar gangguan kebutuhan


1. Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman

(Menurut Potter&Perry,2006) mengungkapkan kenyamanan /rasa nyaman


adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan/kententraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penamapilan
sehari-hari), kelegaaan (kebutuhan yang terpenuhi) dan transeeden (keadaan
tentang sesuatau yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyaman mesti
dipandang secara holistik yg mencakup empat aspek:

18
a. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh
b. Sosial, berhubungan dengan hubungan internasional
c. Psikospiritual, berhubungan denagan keawaspadaan internal dalam diri
sendiri meliputi harga diri sendiri,seksualaiatas, makna kehidupan.
d. Lingkungan, berhubungan dengan latara belakang pengalaman eksternal
manusia seperti cahaya,tempratur,bunyi, unsur alamiah.

meningkatkan kebutuhan rasa nyaman diartikan perawat telah memberikan


kekuatan, harapan, dukungan, dan bantuan.secara umum dalam aplikasinya
pemenuhan kebutuhan rasa nyam adalah kebutuhan rasa nyaman bebas dari
rasa nyeri, hipo/hipertemia.hal ini disebabakan karena mempengaruhi kondisi
tidak nyaman pasien dengan timbulnya gejala dan tanda pada pasien.

2. Asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman


pasien katarak.

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh


manusia dalam mempertahankan fisiologi maupun psikologis. Ada beberapa
faktor yg mempengaruhi kebutuhan dasar manusia antara lain (menurut A.
Maslow dan Virginia Henderson) :

a. Penyakit yaitu keadaan sakitmaka beberapaa fungsi organ tubuh


memerlukan pemenuhan kebutuha lebih besar dari biasanya.
b. Keluarga yaitu hubungan keluarga yang baik dapat meningkatkan
pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya.
c. Konsep diri yaitu terutama konsep diri yang positif memberikan keutuhan
bagi seseorang. Konsep diri yang sehat memberikan keutuhan bagi
seseorang.
d. Tahap perkembanga yaitu setiapa tahap perkembangan, manusia
mempunyai kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis,
sosial, maupun spritual.

19
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

1. Konsep Keluarga

a. Pengertian

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan
darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling
berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan
mempertahankan suatu budaya (Stanhope dan Lancester.,1996 di dalam
Buku Ajar Keperawatan Keluarga.,2012).

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga,
saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya, menciptakan dan
mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya.,1997 di dalam Buku
Ajar Keperawatan Keluarga.,2012).

Keluarga adalah salah satu atau lebih individu yang tinggal bersama,
sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam
interelasi social,peran dan tugas (Allender dan Spradley.,2001 di dalam
Buku Ajar Keperawatan Keluarga.,2012). Keluarga merupakan sekumpulan
orang yang dihubungkan oleh perkawinan, adopsi dan kelahiaran yang
bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social dari
individu yang ada di dalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling
ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama (Friedman, 1998, Di kutip
oleh Asuhan Keperawatan Keluarga: 2010).

b. Jenis/Tipe Keluarga

Jenis/Tipe Keluarga menurut (Friedman, Bowden, & Jones.,2003 di dalam


Buku Ajar Keperawatan Keluarga.,2012) :

1) Tradisional :
a) The Nucle Family (Keluarga Inti)

20
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b) The Extended Family (Keluarga Besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam
satu rumah seperti “Nuclear Family” disertai paman, tante, orang tua
(kakek-nenek) dan keponakan.

c) The Dyad Family


Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah.
d) The Childless Family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena
mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita.
e) The Single-Parent Family
Keluarga yang terdiri dari satu orangtua (ayah atau ibu) dengan
anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian
atau karena ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
f) Commuter Family
Kedua orangtua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota
tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang berkerja di luar
kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat “Weekends”
atau pada waktu-waktu tertentu.
g) Multigenerational Family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang
tinggal bersama dalam satu rumah.
h) Kin-network Family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling
berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan
yang sama, contoh: dapur, kamar mandi, televisi, telepon, dan lain-
lain.
i) Blended Family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali dan
membesarkan anak dari hasil perkawinan sebelumnya.

21
j) The Single Adult Living Alone/Single-Adult Family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena
pilihannya atau perpisahan (separasi) seperti: perceraian atau
ditinggal mati.

2) Non Tradisional
a) The Unmarried Teenage Mother

Keluarga yang terdiri dri orangtua (terrutama ibu) dengan anak dari
hubungan tanpa nikah.

b) The Stepparent Family

Keluarga dengan orangtua tiri.


c) Commune Family
Beberapa pasangan kelurga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber
dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak
dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
d) The Nonmarital Heterosexual Cohabiting Family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui
pernikahan.
e) Gay and Lesbian Families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama “Marital
Partners”.
f) Cohabitating Family
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena
beberapa alasan tertentu.
g) Group Marriage Family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga
bersama, yang saling merasa menikah satu dengan yang lainnya,
berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
h) Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi oleh suatu aturan/nilai-nilai, hidup
berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang

22
rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab
membearkan anaknya.
i) Foster Family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara
di dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu
mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang
aslinya.
j) Homeless Family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubunngkan dengan
keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k) Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian
tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam
kehidupannya.

c. Struktur Keluarga

Struktur keluarga menurut ( Friedman, 1998 dalam Setiadi 2008) :

a. Patrilinel

Keluarga yang berhubungan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-
suku di Indonesia rata-rata menggunkan struktur keluarga.

b. Matrilineal

Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku
padang salah satu suku yang menggunakan struktur keluarga.

c. Patrilokal

Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga


sedarah dari pihak suami.

23
d. Matrilokal

Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga


sedarah dari pihak istri.

e. Patriakal

Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.

f. Matriakal

Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.

d. Ciri-ciri Struktur Keluarga


a. Terorganisasi

Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota


keluarga memiliki peran dan fungsi masing-masing sehingga tujuan
keluarga dapat tercapai. Organisasi yang baik ditandai dengan adanya
hubungan yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling ketergantungan
dalam mencapai tujuan.

b. Keterbatasan

Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan


tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap
anggota tidak bias semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang
dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing anggota keluarga.

c. Perbedaan dan kekhususan

Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukkan masing-masing


anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dank has
seperti halnya peran ayah sebagai pencarian nafkah utama, peran ibu yang
merawat anak-anak.

24
e. Peran keluarga

Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normatif dari seseorang dalam
situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan. Peranan keluarga
menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan sitasi tertentu.
Dalam UU kesehatan no.23 th 1992 pasal 5 menyebutkan “Setiap orang
berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan seseorang”. Setiap anggota keluarga mempunyai peranan masing-
masing, antara lain :

a. Ayah

Ayah yaitu seorang pemimpin keluarga yang mempunyai peran sebagai


pencari nafkah, pendidik, pelindung, pemberi rasa aman bagi setiap anggota
keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial.

b. Ibu

Ibu yaitu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak,
pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan
juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial.

c. Anak

Anak berperan sebagai perilaku psikososial sesuai dengan perkembangan


fisik, mental, sosial dan spiritual.

f. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Friedman dalam Setiadi (2008) adalah :

a. Fungsi Afektif

Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan


keluarga. Didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan
saling menghargai antar anggota keluarga.

25
b. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam


keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat
individu untuk belajar bersosialisasi.

c. Fungsi Reproduksi

Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan


keturunan dan menambah sumber daya manusia.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh


anggota keluarganya yaitu: sandang, pangan dan papan.

e. Fungsi Perawatan Kesehatan

Fungsi Perawatan Kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah


terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami
masalah kesehatan.

g. Tahapan dan Tugas Perkembangan Keluarga

Tahap dan tugas perkembangan keluarga di bagi sesuai dengan kurun waktu
tertentu yang dianggap stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda
dengan keluarga dengan remaja. Menurut Rodgers (Friedman, 1998), meskipun
setiap keluarga melalui tahap perkembangannya secara unik, namun secara umum
seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tiap tahap perkembangan
membutuhkan tugas atau fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut dengan
sukses. Tahap-tahap perkembangan keluarga yang paling banyak digunakan untuk
keluarga inti dengan dua orang tua adalah delapan tahap siklus kehidupan keluarga
dari Duvall (1977) :

26
a. Tahap I Pasangan Baru Menikah (Keluarga Baru)

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan


wanita (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan keluarga masing-masing dan berakhir ketika lahirnya anak
pertama. Dua orang yang membentuk keluarga perlu mempersiapkan
kehidupan keluarga yang baru karena keduanya membutuhkan penyesuaian
peran dan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Tugas perkembangan pada
tahap pasangan baru adalah :

a) Membina hubungan intim yang memuaskan, yaitu pemenuhan kebutuhan


psikologis suami dan istri. Suami maupun istri perlu saling memerhatikan,
menciptakan komunikasi terbuka dan menyenangkan, serta saling
menghargai dan menghormati keberdaannya (fungsi afektif keluarga).
b) Membina hubungan persaudaraan secara harmonis, suami maupun istri
harus saling menjalin hubungan dengan keluarga pasangannya sehingga
terbentuk interaksi sosial yang harmonis (fungsi sosialisasi keluarga).
c) Mendiskusikan rencana memiliki anak, pasangan suami istri harus mulai
merencanakan, kapan dimulainya kehamilan sampai berapa anak yang
diinginkan dengan mempertimbangankan kemampuan yang dimiliki
(fungsi perawatan anak secara fisik, psikologis maupun sosial dan fungsi
ekonomi) (Tantut, 2012).

b. Tahap II Keluarga Dengan “Child Bearing” (Kelahiran Anak Pertama)

Tahapan ini dimulai dari lahirnya anak pertama sampai dengan anak berusia
30 bulan atau 2,5 tahun. Kehadiran bayi pertama ini akan menimbulkan suatu
perubahan yang besar dalam kehidupan rumah tangga. Kelahiran anak pertama
merupakan pengalaman keluarga yang sangat penting dan sering merupakan
krisis keluarga. Masalah-masalah yang lazim ditemukan pada tahap ini adalah:

27
a) Suami merasa diabaikan
b) Terdapat peningkatan perselisihan dan argument antara suami dan istri
c) Interupsi dalam jadwal yang kontinu
d) Kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun

Oleh karena itu, keluarga dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap peran
baru yang dimilikinya dan harus mampu melaksanakan tugas dari peran baru
tersebut. Tugas perkembangan pada tahap child bearing adalah :

a) Persiapan menjadi orang tua, yaitu keluarga mulai mengintegrasikan bayi


ke dalam kehidupan keluarga sehingga keluarga mulai memainkan peran
sebagai orang tua. Bayi membutuhkan perhatian besar untuk pertumbuhan
dan perkembangannya.
b) Adaptasi dengan perubahan anggota kelurga (peran, interaksi, hubungan
seksual dan kegiatan), keluarga perlu mengidentifikasi tugas perkembangan
pribadi dan perannya sebagai orang tua. Hal ini dibutuhkan agar tidak terjadi
penyimpangan dalam menjalankan tugasnya, serta membantu
menyelesaikan tugas yang dibebankan.
c) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan, hubungan
yang kokoh dan bergairah sangat penting bagi stabilitas dan moral keluarga
(Tantut,2012).

c. Tahap III keluarga dengan Prasekolah


Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak
berusia 5 tahun. Pada tahap ini kesibukan akan bertambah sehingga menuntut
perhatian yang lebih banyak dari orang tua. Orang tua adalah arsitek keluarga
sehingga orang tua harus merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga
agar dapat semakin memperkokoh kemitraan dan perkawinan mereka (dalam
Tantut (2012)). Tugas perkembangan pada tahap prasekolah :
a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti tempat tinggal, privasi dan
rasa aman membantu anak untuk bersosialisasi.
b) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara anak yang lain juga
harus terpenuhi.

28
c) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun diluar
keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
d) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
e) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
f) Kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh dan kembang anak (Tantut, 2012)

d. Tahap IV Keluarga Dengan Anak Usia Sekolah

Dimulai saat anak pertama berusia 6 tahun dan berakhir saat anak berusia 12
tahun. Keluarga perlu membantu meletakkan dasar penyesuaian diri anak dengan
teman sebaya. Tugas perkembangan pada tahap anak usia sekolah adalah :

a) Mambantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan, kegiatan


mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual,
menyediakan aktivitas untuk anak dan membantu sosialisasi anak keluar
rumah merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh orang tua.
b) Mempertahankan keintiman pasangan, saat ini hubungan perkawinan sering
mengalami penurunan. Orang tua lebih focus pada karir dan pendidikan anak.
c) Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga, keluarga perlu menyediakan
kebutuhan gizi bagi anggota kelurganya. Keluarga perlu pula menyediakan
anak akan kesehatan terutama kesehatan kulit dan gigi (Tuntut, 2012).

e. Tahap V keluarga dengan Remaja


Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir pada 6-7 tahun
kemudian. Tahap ini merupakan tahap yang paling sulit, karena orang tua melepas
otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Sering kali muncul
konflik antara orang tua dan remaja karena anak menginginkan kebebasan untuk
melakukan aktivitasnya sementara orang tua mempunyai hak untuk mengontrol.
Tugas perkembangan pada tahap remaja adalah :
a) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, orang tua
harus mempercayai anak agar mandiri secara premature, dengan mengabaikan
kebutuhan ketergantungannya.

29
b) Mempertahakan hubungan yang intim dalam keluarga, pada masa ini anak
telah lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri sehingga pasangan suami
istri akan lebih banyak waktu untuk dapat meniti karir atau menciptakan
kesenangan perkawinan.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga,
meskipun peraturan dalam keluarga perlu diubah, etika dan standar moral
keluarga perlu dipertahankan oleh orng tua, sementara remaja mencari nilai
dan keyakinan mereka sendiri (Tantut, 2012).

f. Tahap VI keluarga dengan Dewasa awal


Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir saat
anak terakhir meninggalkan rumah. Keluarga menyiapkan/ membantu anak
tertua dalam melepaskan diri untuk membentuk keluarga sendiri dan tetap
membantu anak terakhir/ yang lebih kecil untuk mandiri. Tugas perkembangan
pada tahap dewasa awal adalah :
a) Mencari dan menemukan calon pasangan hidup
b) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
c) Membina hubungan rumah tangga
d) Mempertahankan keintiman pasangan
e) Membantu orang tua suami/ istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
f) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
(Tantut, 2012)

g. Tahap VII keluarga usia pertengahan


Tahap ini anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pension atau
kematian salah satu pasangan. Atau pada saat orang tua berusia 45-55 tahun dan
berakhir 16-18 tahun kemudian. Tugas perkembangan pada tahap usia
pertengahan adalah :
a) Mempertahankan kesehatan
b) Mempertahankan hubungan sebaya dan anak-anak
c) Memperkokoh hubungan perkawinan (Tantut, 2012)

30
h. Tahap VIII keluarga Lansia
Tahap ini merupakan tahap terakhir dimana, dimulai ketika salah satu atau kedua
pasangan pension, sampai salah satu pasangan meninggal dan berakhir ketika
kedua pasangan meninggal. Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas
yang tidak dapat dihindari karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus
dialami keluarga. Dengan memenuhi tugas perkembangan pada fase ini
diharapkan orang tua mampu beradaptasi menghadapi stressor tersebut. Tugas
perkembanga pada tahap lansia adalah :
a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
b) Menyesuaikan diri dengan perubahan
c) Mempertahankan hubungan perkawinan
d) Mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi
e) Melakukan life review
(Tantut, 2012)

h. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan


Friedman (1981) membagi 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus
dilakukan, yaitu :
1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga
3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit
4) Memodifikasi lingkungan
5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan

31
2. Konsep Proses Keperawatan Keluarga
Proses keperawatan keluarga disesuaikan dengan focus perawatan. jika ia melihat
keluarga sebagai latar belakang atau konteks dari keluarga maka keluarga merupakan
fokus utama tetapi jika ia melihat didalam keluarga ada individu yang rawat, maka
anggota keluarga secara individu merupakan fokus utama (Setiadi, 2008).
a. Pengkajian keperawatan
1) Definisi Pengkajian
Pengkajian merupakan tahapan terpenting dalam proses perawatan,
mengingat pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi
data-data yang ada pada keluarga. Oleh karena itu perawat keluarga
diharapkan memahami betul lingkup, metode, alat bantu dan format
pengkajian yang digunakan (Santun Setawati, 2008).

Pengkajian yang digunakan menurut Yura dan Walsh (1998) adalah:


Tindakan pemantauan secara langsung pada manusia untuk memperoleh data
tentang klien dengan maksud menegaskan kondisi penyakit dan masalah
kesehatan. Pengkajian merupakan suatu proses berkelanjutan, dimana
pengkajian menggambarkan kondisi/situasi klien sebelumnya dan saat ini
sehingga informasi tersebut biasa digunakan untuk memprediksi di masa yang
akan datang.

2) Model Pengkajian
Pengkajian keluarga model (Friedman,1998 dalam Setiadi (2008))
Asumsi yang mendasari adalah keluarga sebagai system social, merupakan
kelompok kecil dari masyarakat. Friedman memberikan batasan 6 katagori
dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan saat melakukan pengkajian:
a) Data pengenalan keluarga.
b) Riwayat dan tahapan perkembangan keluarga.
c) Data lingkungan.
d) Struktur keluarga.
e) Fungsi keluarga.
f) Koping keluarga.

32
Pengkajian asuhan keperawatan keluarga menurut teori/model Family Centre
Nursing Friedman, meliputi komponen pengkajian yaitu:
A. Penjajakan I
1. Identitas kepala keluarga
a. Nama kepala Keluarga (KK) :
b. Umur (KK) :
c. Pekerjaan kepala Keluarga (KK) :
d. Pendidikan kepala Keluarga (KK) :
e. Alamat dan nomor telfon :

2. Komposisi anggota keluarga :


Nama Umur Sex Hub dengan KK Pendidikan Pekerjaan Keterangan

3. Genogram :
Genogram harus menyangkut minimal 3 generasi, harus tertera nama,
umur, kondisi kesehatan tiap keterangan gambar, Terdapat
keterangan gambar dengan simbul berbeda (Friedman, 1998) seperti:

Laki-laki :

Perempuan :

Meinggal dunia :

Tinggal serumah : -------------

Pasien yang diidentifikasi :

33
Kawin :

Cerai :

Anak adopsi :

Anak kembar :

Aborsi/keguguran :

4. Tipe keluarga
5. Suku bangsa :
a. Asal suku bangsa keluarga
b. Bahasa yang dipakai keluarga
c. Kebiasaan keluarga yang dipengaruhi suku yang dapat
mempengaruhi kesehatan.
6. Agama :
a. Agama yang dianut keluarga
b. Kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
7. Status social ekonomi keluarga :
a. Rata-rata penghasilan seluruh anggota keluarga
b. Jenis pengeluaran keluarga tiap bulan

34
c. Tabungan khusus kesehatan
d. Barang (harta benda) yang dimiliki keluarga (perabot,
transportasi)
8. Aktifitas reaksi keluarga

B. Riwayat dan Tahapan Perkembangan Keluarga


1. Tahapan perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan
anak tertua)
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
3. Riwayat keluarga inti:
a. Riwayat terbentuknya keluarga inti
b. Penyakit yang diderita keluarga orang tua (adanya penyakit
menular atau penyakit menular di keluarga)
4. Riwayat keluarga sebelumnya (suami istri):
a. Riwayat penyakit keturunan dan penyakit menular di keluarga
b. Riwayat kebiasaan/gaya hidup yang mempengaruhi kesehatan

C. Lingkungan
1. Karakteristik rumah:
a. Ukuran rumah (luas rumah)
b. Kondisi dalam dan luar rumah
c. Kebersihan rumah
d. Ventilasi rumah
e. Saluran pembuangan air limbah (SPAL)
f. Air bersih
g. Pengelolaan sampah
h. Kepemilikan rumah
i. Kamar mandi/wc
j. Denah rumah

35
2. Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal:
a. Apakah ingin tinggal dengan satu suku saja
b. Aturan dan kesempatan penduduk setempat
c. Budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan

3. Mobilitas geografis keluarga:


a. Apakah keluarga sering pindah rumah
b. Dampak pindah rumah terhadap kondisi keluarga
( apakah menyebabkan stress)

4. Perkumpulan keluarga dan iteraksi dengan masyarakat


a. Perkumpulan/organisasi social yang diikuti oleh anggota
keluarga
b. Digambarkan dalam ecomap

5. System pendukung keluarga


Termasuk siapa saja yang terlibat bila keluarga mengalami masalah

D. Struktur keluarga
1. Pola komunikasi keluarga:
a. Cara dan jenis komunikasi yang dilakukan keluarga
b. Cara keluarga memecahkan masalah

2. Struktur kekuatan keluarga:


a. Respon keluarga bila ada anggota keluarga yang mengalami
masalah
b. Power yang digunakan keluarga

3. Struktur peran (formal dan informal):


Peran seluruh anggota keluarga
4. Nilai dan norma keluarga

36
E. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif:
a. Bagaimana cara keluarga mengeksresikan perasaan kasih sayang
b. Perasaan saling memiliki
c. Dukungan terhadap anggota kelurga
d. Saling menghargai, kehangatan

2. Fungsi sosialisasi:
a. Bagaimana memperkenalkan anggota keluarga dengan dunia
luar
b. Interaksi dan hubungan dalam keluarga

3. Fungsi perawatan kesehatan:


a. Kondisi perawatan kesehatan seluruh anggota keluarga (bukan
hanya kalau sakit diapakan tetapi bagaimana prevensi/promosi).
b. Bila ditemui data maladaptive, langsung lakukan penjajagan
tahap II (berdasarkan 5 tugas keluarga seperti bagaimana kelurga
mengenal masalah, mengambil keputusan, merawat anggota
keluarga, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan).

F. Stress dan koping keluarga


1. Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta
kekuatan keluarga
2. Respon keluarga terhadap stress
3. Strategi koping yang digunakan
4. Strategi adaptasi yang disfungsional:
Adakah cara keluarga mengatasi maslah secara maladaptive.

37
G. Pemeriksaan fisik (head to toe)
1. Tanggal pemeriksaan fisik ddilakukan
2. Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota
keluarga
3. Aspek pemeriksaan fisik mulai vital sign, rambut, kepala, mata
mulut THT, leher, thorax, abdomen, ektermitas atas dan bawah,
system genitalia.
4. Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik

H. Harapan keluarga
1. Terhadap masalh kesehatan keluarga
2. Terhadap petugas kesehatan yang ada

Analisa data
Setelah dilakukan pengkajian, selanjutnya data dianalisis untuk dapat
dilakukan perumusan diagnosis keperawatan.

I. Penjajakan II
Pengkajian yang tergolong dalam penjajakan 2 diantaranya
pengumpulan data-data yang berkaitan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan sehingga dapat
ditegakkan diagnosa keperawatan keluarga. Adapun ketidakmampuan
keluarga dalam menghadapi masalah diantaranya:
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan
5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan.

b. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan tentang respon keluarga tentang
masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi

38
keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga sesuai
dengan kewenangan perawat. Tahap dalam diagnosa keperawatan keluarga
antara lain:

1) Analisa data
Setelah data terkumpul maka selanjutnya dilakukan analisa data, yaitu
mengkaitkan data dan menghubunkan dengan konsep teori dan prinsip
yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah
kesehatan dan keperawatan keluarga. Cara menganalisa data adalah:
a) Validasi data, yaitu meneliti kembali datayang terkumpul dalam
format pengkajian
b) Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan bio-psiko-sosial dan
spiritual
c) Mengembangkan standart
d) Membuat kesimpulan tentang kesenjangan yang diketemukan

Ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan


kesehatan keluarga untuk melakukan analisa data, yaitu:
a) Keadaan kesehatan yang normal bagi setiap anggota keluarga, yang
meliputi:
 Keadaan kesehatan fisik, mental, dan sosial anggota keluarga
 Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga
 Keadaan gizi anggota keluarga
 Status imunisasi anggota keluarga
 Kehamilan dan KB

b) Keadan rumah dan sanitasi lingkungan, yang meliputi:


 Rumah yang meliputi ventilasi, penerangan, kebersihan,
kontruksi, luas rumah dan sebagainya
 Sumber air minum
 Jamban keluarga
 Tempat pembuangan air limbah
 Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya

39
c) Karakteristik keluarga, yang meliputi:
 Sifat-sifat keluarga
 Dinamika dalam keluarga
 Komunikasi dalam keluarga
 Interaksi antar anggota keluarga
 Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota
keluarga
 Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga

Dalam proses analisa, data dikelompokan menjadi 2 yaitu data


subyektif dan objektif.
No. DATA ETIOLOGI MASALAH
Data subyektif :

Data Objektif :

2) Perumusan masalah

Perumusan masalah keperawatan keluarga dapat diarahkan kepada


sasaran individu dan atau keluarga.Komponen diagnosis keperawatan
keluarga meliputi problem, etiologi dan sign/simpton.
a) Masalah (Problem)
Tujuan penulisan pernyatan masalah adalah menjelaskan status
kesehatan atau masalah kesehatan secara jelas dan sesingkat
mungkin. Daftar diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan
NANDA (1995) adalah sebagi berikut :
 Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
Masalah ini memberikan gambaran berupa tanda dan gejala yang
jelas mendukung bahwa benar-benar terjadi.
 Kehilangan penglihatan secara bertahap

40
 Pupil berwarna seperti putih susu
 Penglihatan ganda saat melihat suatu benda dengan satu
mata
 Penglihatan berkabut

 Resiko (ancaman kesehatan)


Masalah ini sudah ditunjang dengan data yang akan mengarah
pada timbulnya masalah kesehatan bila tidak segera ditangani.
 Resiko terhadap cidera b/d keterbatasan penglihatan
 Resiko jatuh
 Resiko terjadi infeksi pada mata

 Potensial/sejahtera
Status kesehatan berada pada kondisi sehat dan ingin
meningkatkan lebih optimal
 Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
 Potensial peningkatan proses keluarga
 Potensial peningkatan koping keluarga
 Potensial peningkatan menjadi orang tua
 Potensial penampilan peran
 Potensial dalam penatalakasanaan pemeliharaan rumah

 Sindrom
Diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa actual dan resiko
tinggi yang diperkirakan akan muncul karena suatu
kejadian/situasi tertentu.
Menurut NANDA ada 2 diagnosa keperawatan sindrom, yaitu:
 Syndrom trauma pemerkosaan (rape trauma syndrome)
Pada kelompok ini menunjukan adanya tanda dan gejala,
seperti cemas, takut, sedih, gangguan istirahat tidur dan
lain-lain.
 Resiko syndrom penyalahgunaan (risk for disuse syndrom)

41
Misalnya resiko gangguan proses piker, resiko gangguan
gambaran diri dan lain-lain.

b) Penyebab (Etiologi)
Dikeperawatan keluarga etiologi ini mengacu kepada 5 tugas
keluarga, yaitu:
 Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
 Mengambil keputasan untuk melakukan tindakan yang tepat
 Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usiannya yang
terlalu muda
 Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
 Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (pemanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada).

c) Tanda (Sign)
Tanda dan gejala adalah sekumpulan data subyektif dan objektif
yang diperoleh perawat dari keluarga yang mendukung masalah
dan penyebab. Tanda dan gejala dihubungkan dengan kata-kata “
yang dimanifestasikan dengan.”

3) Prioritas masalah
Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan
keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan skala
prioritas (skala Baylon dan Maglaya) sebagi berikut :
a) Tentukan skor untuk tiap kriteria
b) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kaliakan dengan bobot
Skor x Bobot
Angka tertinggi

42
c) Jumlahkan skor untuk semua criteria
d) Skor tinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh bobot :
NO. KRITERIA NILAI BOBOT
Sifat masalah
a. Tidak/ kurang sehat 3
1. 1
b. Ancaman kesehatan 2
c. Keadaan sejahtera 1
Kemungkinan masalah dapat
diubah
2. a. Mudah 2 2
b. Sebagian 1
c. Tidak dapat 0
Potensial masalah untuk
dicegah
3. a. Tinggi 3 1
b. Cukup 2
c. Rendah 1
Menonjolnya masalah
a. Masalah berat harus 2
segera ditangani
4. 1
b. Ada masalah tetapi tidak 1
perlu segera ditangani
c. Masalah tidak dirasakan 0

43
Penentuan prioritas sesuai dengan kriteria skala:

1. Kriteria I, yaitu sifat masalah untuk mengetahui sifat masalah ini


mengacu pada etiologi masalah kesehatan yang terdiri dari 3
kelompok besar, yaitu:

a. Ancaman kesehatan
Keadaan yang disebut dalam ancaman kesehatan anatara
lain:
1) Penyakit keturunan (asma, DM, dan sebagainya)
2) Anggota keluarga ada yang menderita penyakit menular
(TBC, gonore hepatitis, dan sebagainya)
3) Jumlah anggota keluarga terlalu bessar dan tidak sesuai
dengan kemampuan sumber daya keluarga
4) Resiko terjadi kecelakaan (lingkungan rumah tidak
aman)
5) Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing
anggota keluarga
6) Keadaan yang menimbulkan stress, antara lain:
a) Hubungan keluarga tidak harmonis
b) Hubungan orang tua dan anak yang tegang
c) Orang tua yang tidak dewasa
7) Sanitasi lingkungan yang buruk,diantaranya:
a) Ventilasi kurang baik
b) Sumber air minum tidak memenuhi syarat
c) Polusi udara
d) Tempat pembuangan sampah yang tidak sesuai
syarat
e) Tempat pembuangan tinja yang mencemari sumber
air minum
f) kebisingan
8) Kebiasaan yang merugikan kesehatan, seperti:
a) Merokok

44
b) Minum minuman keras
c) Makan obat tanpa resep
d) Makan daging mentah
e) Hygiene perseorangan jelek
9) Sifat kepribadian
10) Riwayat persalinan sulit
11) Peran yang tidak sesuai
a) Imunisasi anak yang tidak lengkap
b) Kurang/tidak sehat yaitu kegagalan dalam
memantapkan kesehatan, seperti keadaan sakit
(sesudah atau sebelum didiagnosa) dan gagal dalam
pertumbuhan dan perkembangan yang tidak sesuai
dengan pertumbuhan normal
12) Situasi krisis (keadaan sejahtera)
a) Perkawinan
b) Kehamilan
c) Persalinan
d) Masa nifas
e) Menjadi orang tua
f) Penambahan anggota keluarga (bayi)
g) Abortus
h) Anak masa sekolah
i) Anak remaja
j) Kehilangan pekerjaan
k) Kematian anggota keluarga
l) Pindah rumah

2. Kriteria II, yaitu kemungkinan masalah dapat diubah


a. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan
untung menangani masalah
b. Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan, dan
tenaga

45
c. Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan,
keterampilan,dan waktu
d. Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi
dalam masyarakat dan songkongan masyarakat

3. Kriteria III, yaitu potensial masalah dapat dicegah, factor-faktor


yang perlu diperhatikan adalah:
a. Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan
penyakit/masalah
b. Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu
masalah
c. Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan
yang tepat dalam memperbaiki masalah
d. Adanya kelompok “High Risk” atau kelompok yang sangat
peka menambah potensi untuk mencegah masalah

4. Kriteria IV, yaitu menonjolnya masalah


Prioritas didasarkan pada diagnosa keperawatan yang
mempunyai skor tertinggi dan disusun sampai skor terendah

c. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses


keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan erawtan (jangka
panjang/ pendek), penepatan standart dan kriteria serta menentukan
perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga.
1) Penetapan Tujuan
Adalah hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah diagnosa
keperawatan keluarga.Bila dilihat dari sudut jangka waktu. Maka
tujuan perawatan keluarga dapat dibagi menjadi:
a) Tujuan Jangka panjang

46
Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada
kemampuan mandiri. Dan dengan waktu yang ditentukan,
contoh: setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 hari
seluruh keluarga Tn. A dapat merawat anggota keluarga yang
sakit dan dapat mencegah penularan penyakit.
b) Tujuan Jangka Pendek
Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang
dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan.
Contoh: keluarga Tn.A dapat mengenal dampak permasalahan
penyakit Ny.E dengan menjelaskan akibat yang terjadi bila Ny.E
tidak segera diobati.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan keperawatan


adalah:
a) Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan
b) Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai
c) Harus objektif atau merupakan tujuan operasional langsung dari
kedua belah pihak (keluarga dan perawat)
d) Mencangkup kriteria keberhasilan sebagai dasar evaluasi

2) Penetapan Kriteria dan Standart

Merupakan gambaran tentang faktor-faktor yang dapat member


petunjuk bahwa tujuan telah tercapai dengan digunakan dalam membuat
pertimbangan.Bentuk dari standart dan kriteria ini adalah pernyataan
verbal (pengetahuan), sikap dan psikomotor.

47
NO. KRITERIA STANDART
• Keluarga mampu menyatakan
pengertian ….
• Keluarga mampu menyebutkan
1. Pengetahuan
penyebab …
• Keluarga dapat menyebutkan
akibat …
• Keluarga mampu memutuskan
untuk membuat rencana control
2. Sikap
selama ….
• Keluarga mampu …
• Keluarga mengolah makanan …
• Keluarga menyajikan makanan
3. Psikomotor

• Keluarga mampu melakukan ….

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat standart adalah:


a) Berfokus pada keluarga, outcomes harus ditujukan kepada keadaan
keluarga.
b) Singkat dan jelas, perawat harus menghindari kata-kata yang terlalu
panjang dan bermakna ganda
c) Dapat diobservasi dan diukur, perawat harus menghindari
penggunaan istilah memahami dan mengerti, karena istilah tersebut
sulit untuk diukur.
d) Realistik, harus disusun disesuaikan dengan sarana dan prasarana
yang tersedia dirumah.
e) Ditentukan oleh perawat dan keluarga

48
3) Pembuatan rencana keperawatan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan rencana tindakan
keperawatan adalah:
a) Sebelum menulis cek sumber informasi data
b) Buat rencana keperawatan yang mudah dimengerti
c) Tulisan harus jelas, spesifik, dapat diukur dan kriteria hasil sesuai
dengan identifikasi masalah
d) Memulai intruksi keperawatan harus menggunakan kata kerja
e) Gunakan pena tinta dalam menulis untuk mencegah penghapusan
tulisan atau tidak jelasnya tulisan
f) Menggunakan kata kerja
g) Menetapkan teknik dan prosedur keperawatan yang akan digunakan
h) Melibatkan keluarga dalam menyusun rencana tindakan
i) Mempertimbangkan latar belakang budaya dan agama, lingkungan,
sumber daya dan fasilitas yang tersedia
j) Memperhatikan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku
k) Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang
dimiliki oleh keluarga dan mengarah kemandirian sehingga tingkat
ketergantungan dapat diminimalisasikan.

Fokus dari intervensi keperawatan keluarga anatara lain meliputi kegaiatan


yang bertujuan :
a) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenal masalah dan
kebutuhan kesehatan dengan cara:
 Memberinformasi yang tepat
 Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang kesehatan
 Mendorong sikap emosi yang sehat yang mendukung upaya kesehatan
masalah

b) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan keluarga yag


tepat, dengan cara:
 Mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan

49
 Mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga
 Mendiskusikan tentang konsekwensi tiap tindakan

c) Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit,


dengan cara:
 Mendemonstrasikan cara perawatan
 Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah
 Mengawasi keluarga melakukan perawatan

d) Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat


lingkungan menjadi sehat, dengan cara:
 Menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
 Melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin

e) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada,


dengan cara:
 Mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga
 Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

Rencana tindakan keperawatan keluarga diarahkan untuk mengubah


pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga, sehingga pada akhirnya keluarga
mampu memenuhi kebutuhan kesehatan angota keluarganya dengan
bantuan minimal dari perawat.

d. Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana


keprawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Ada 3 tahap dalam
tindakan keperawatan keluarga, yaitu:
1) Tahap I : Persiapan
Persiapan ini meliputi kegiatan-kegiatan :
a) Kontrak dengan keluarga

50
b) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan
c) Mempersiapkan lingkungan yang kondusif
d) Mengidentifikasi aspek-aspek hokum dan etik
Kegiatan ini bertujuan agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan
fisik dan psikis pada saat implementasi
2) Tahap II : Intervensi
Tindakan keperawatan keluarga berdasarkan kewenangan dan tanggung
jawab perawat secara professional adalah :
a) Independent
Adalah suatu kegiatan yang dilaksankan oleh perawat sesuai dengan
kompetensi keperawatan tanpa petunjuk dan perintah dari tenaga
kesehatan lainnya. Lingkup tindakan independent ini adalah:
 Mengkaji terhadap klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan
dan pemeriksaan fisik
 Merumuskan diagnosa keperawatan
 Mengidentifikasi tindakan keperawatan
 Melaksanakan rencana pengukuran
 Merujuk kepada tenaga kesehatan lain
 Mengevaluasi respon klien
 Partisipasi dengan consumer atau tenaga kesehatan lainnya

Tipe tindakan Independent Keperawatan dapat dikategorikan menjadi 4


yaitu:
 Tindakan diagnostik
 Wawancara
 Observasi dan pemeriksaan fisik
 Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana (Hb) dan
membaca hasil dari pemeriksaan laboratorium
 Tindakan terapeutik
Tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah klien
 Tindakan edukatif

51
Tindakan untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan
dan pendidikan kesehatan kepada klien.
 Tindakan merujuk
Tindakan kerjasama dengan tim kesehatan lainya

b) Interdependent
Yaitu suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga
kesehatan lainya.

c) Dependent
Yaitu pelaksanaan rencana tindakan medis, misalnya dokter menuliskan
“perawatan kolostomy”,kemudian perawat melakukan tindakan tersebut
sesuai dengan kebutuhan klien.

3) Tahap III : Dokumentasi


Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap
dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

e. Evaluasi Keperawatan
Adalah perbandingan sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga denga
tujuan ynag telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan
denganmelibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi disusun
mengunakan SOAP secara operasional dengan tahapan sumatif dan formatif.
1) Evaluasi berjalan (sumatif)
Eavaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan
perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh
keluarga. Format yang dipakai adalah format SOAP.
2) Evaluasi akhir (formatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang
akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua
tahap dalam proses keperawatanperlu ditinjau kembali, agar didapat data-data,
masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.

52
Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain adalah:
1) Observasi langsung
2) Wawancara
3) Memeriksa laporan
4) Latihan stimulasi

Faktor yang dievaluasi ada beberapa komponen, meliputi:


1) Kognitif (pengetahuan)
Lingkup evaluasi pada kognitif adalah:
a) Pengetahuan keluarga mengenai penyakit
b) Mengontrol gejala-gejalanya
c) Pengobatan
d) Diet, aktifitas, dan persediaan alat-alat
e) Risiko komplikasi
f) Gejala yang harus dilaporkan
g) Pencegahan

2) Afektif (status emosional)


Dengan cara observasi secara langsung yaitu dengan cara observasi
ekspresi wajah, postur tubuh, nada suara, isi pesan secara verbal pada
waktu melakukan wawancara

3) Psikomotor
Yaitu dengan cara melihat apa yang dilakukan keluarga sesuai dengan yang
diharapkan.

Penentuan keputusan pada tahap evaluasi ada 3 kemungkinan, yaitu:

1) Keluarga telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan, sehingga


rencana mengkin dihentikan

53
2) Keluarga masih dalam proses mencapai hasil yang telah ditentukan,
sehingga perlu penambahan waktu,resources, dan intervensi sebelum
tujuan berhasil
3) Keluarga tidak dapat mencapai hasil yang telah ditentukan, sehingga perlu:
a) Mengkaji ulang masalah atau respon yang lebih akurat
b) Membuat outcome yang baru
c) Intervensi keperawatan harus dievaluasi dalam hal ketepatan untuk
mencapai tujuan sebelumnya.

54
BAB III

TINJAUAN KASUS

Pada Bab ini disampaikan Asuhan Keperawatan pada keluarga Tn. A khususnya
Ny. E dengan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman dengan gangguan sistem
penglihatan : katarak di rt 14 rw 02 Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran
Jakarta Pusat. Untuk melengkapi data penulis mengadakan pengumpulan data
dengan wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Asuhan keperawatan
keluarga penulis lakukan dalam kasus ini berlangsung 6 hari terhitung dari 06 April
– 13 April 2017 dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan keluarga
yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut : pengumpulan data, analisa data,
perumusan masalah, prioritas masalah, perencanaan, pelaksanaa dan evaluasi.

A. PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


1. Kepala keluarga
Nama KK : TN. A
Usia : 56 Tahun (sudah meninggal karena stroke)
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Jln. Haji Ung RT 14 RW 02 NO 456 Kelurahan Utan Panjang
Kecamatan kemayoran Jakarta Pusat

2. Susunan anggota keluarga :

No Nama Jenis Hub TTL/Umur Pendidikan Pekerjaan Status


(inisial) Kelamin dg Imunisasi
KK
1. Ny. E P Isteri 7 Maret SMA Ibu rumah Lengkap
1962/ tangga
(55 th)
2. Nn. P P Anak 4 Agustus S1 Karyawan Lengkap
I 1984/ Psikologis Swasta
(33 th)

55
3. Tn. F L Anak 24 Oktober SMA Guru less Lengkap
II 1986/
(31 th)
4. Tn. R L Anak 4 Mei SMA Belum Lengkap
III 1991/ Bekerja
(26 th)
5. Nn. U P Anak 23 SMK Karyawan Lengkap
IV September Swasta
1993/
(24 th)
6. An. B P Anak 12 Febuari SMK Belum Lengkap
V 2001/ bekerja
(16 th)

3. Genogram keluarga

Ny.A
Tn.M
62 th
TN . N Ny.S 65 th
Meninggal
85 th 71.th Meninggal
Karena
lifer karena TBC

Ny.E Tn.H Tn.I Tn.P Tn.A


Ny.A Ny.N
55 th 51 th 44 th 59 th 52 th
48 th 50 th
(katarak) Meninggal
Karena Stroke Tn.B Tn.J
53 th 47 th

Nn.P Tn.F Tn.R Nn.u An.B


33 th 31 th 26 th 24 th 16 th

56
Keterangan :

= Laki-laki = Bercerai = Meninggal

= Perempuan
= Perempuan =
= Tinggal
Tinggal

Serumah = Entry

= Klien
= Klien

4. Tipe keluarga :
Tipe keluarga Tn.A adalah keluarga The Single-Parent Family
dikarenakan Tn.A sudah meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu. Dan
di dalam rumah terdiri dari Ny.E dan 3 orang anak yaitu Ny.P, Ny.U, dan
An.B sedangkan Tn.F dan Tn.R tinggal memisah (Kost) dikarenakan
terlalu jauh dari tempat berkerja.

5. Suku :
Suku yang dimiliki Tn.A adalah jawa tengah (magelang) sedangkan suku
yang dimiliki Ny.E adalah Sumatra barat (padang), pola makan yang
berhubungan dengan suku bangsa antara lain keluarga Tn.A khususnya
Ny.E suka mengkonsumsi makanan yang asin-asin dan pedas. keluarga
Ny.E tidak menganut kebudayaan-kebudayaan yang betentangan dengan
nilai norma serta tidak menganut nilai-nilai kepercayaan yang dilarang
oleh agama yang menurut kelurga bertentangan dengan kesehatan. Tn.A
tinggal disekitaran masyarakat yang bersuku jawa dan betawi. Saat
dilakukan pengkajian tidak ada faktor budaya yang mempengaruhi
kesehatan individu.

57
6. Agama :
Agama yang dianut oleh keluarga Ny.E adalah Islam dan semua anggota
keluarga Ny.E tidak pernah meninggalkan sholat wajib, mengaji
membaca Al-Qur’an, dan berpusa rutin pada bulan Ramadhan
pemahaman keluarga Ny.E tentang Agama cukup baik.

7. Status Sosial Ekonomi Keluarga :

Ny.E berpenghasilan ± Rp 1.000.000,-/bulan dari anak pertamanya yaitu


Ny.P yang bekerja sebagai karyawan swasta. Ny.E juga mendapatkan
uang daari Tn.F ± Rp 500.000,-/bulan dari anak ke dua yang bekerja
sebagai guru les, anak ke tiga Tn.R sedang mencari pekerjaan sekarang
tinggal kost bersama kakanya yaitu Tn.F, anak ke empat yaitu Ny.U
bekerja sebagai karyawan swasta sekaligus sedang menempuh bangku
kuliah juga membantu memberikan uang kepada Ny.E ± Rp 500.000,-
/perbulan anak ke lima bernama An.B belum berpenghasilan dikarenakan
masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dari
penghasilan tersebut digunakan untuk membayar listrik ± Rp 150.000,
biaya makan+air minum sehari-hari dan membeli lauk pauk di luar
sebesar ± Rp 60.000/perhari. Sedangkan dalam biaya pendidikan SMK
mendapatkan bantuan KJP dari Pemerintah. Dalam keuangan keluarga
Ny.E yang biasa mengatur keuangan adalah Ny.E.

8. Aktifitas Rekreasi Keluarga :


Keluarga Ny.E biasa berlibur secara rutin setiap hari Raya Idul Fitri dan
Ny.E berserta keluarganya biasa menghabiskan waktu luang bersama
dengan menonton TV.

B. Riwayat & tahap perkembangan keluarga


9. Tahap perkembangan keluarga saat ini :
Tahap perkembangan keluarga Ny.E adalah anak usia dewasa awal
karena anak pertama Tn.A dan Ny.E berumur 33 tahun yaitu Nn.P tugas
perkembangan pada tahap dewasa awal :

58
g) Mencari dan menemukan calon pasangan hidup
Anak pertama Tn.A dan Ny.E yaitu Nn.P belum menikah
dikarenakan terlalu sibuk bekerja.
h) Membina hubungan rumah tangga
Anak pertama Tn.A dan Ny.E yaitu Nn.P belum menikah
i) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
Tugas perkembangan ini belum terpenuhi di karenakan anak pertama
Ny.E belm menikah dan masih tinggal bersama Ny.E.
j) Mempertahankan keintiman pasangan
Tugas perkembanga pada tahap keintiman pasangan belum bisa
terpenuhi dikarenakan anak Tn.A dan Ny.E yaitu Nn.P tidak
memiliki hubungan sepecial dengan laki-laki mana pun.
k) Membantu orang tua suami/ istri yang sedang sakit dan
memasuki masa tua
Tugas perkembangan pada tahap ini belum terpenuhi di karenakan
Nn.P belum menikah dan juga belum mempunyai mertua.
l) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
Tugas perkembangan ini belum bisa terpenuhi dikarenakan anak
pertama Ny.E belum menikah dan masih tinggal bersama Ny.E.

10. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :


a. Mencari dan menemukan calon pasangan hidup
Nn.P anak pertama dari T.A dan Ny.E belum menikah dikarenakan
terlalu sibuk bekerja.
b. Membina hubungan rumah tangga
Nn.P anak pertama dari Tn.A dan Ny.E belum menikah
c. Memperluas keluarga inti memjadi keluarga besar
Tugas perkembangan ini belum terpenuhi di karenakan anak
pertama Ny.E belum menikah dan masih tinggal bersama Ny.E.
d. Mempertahankan keintiman pasangan

59
Tugas perkembangan pada tahap keintiman pasangan belum bisa
terpenuhi dikarenakan anak Tn.A dan Ny.E yaitu Nn.P tidak
memiliki hubungan special dengan laki-laki mana pun.
e. Membantu orang tua suami/ istri yang sedang sakit dan
memasuki masa tua
Tugas perkembangan pada tahap ini belum terpenuhi di karenakan
Nn. P belum menikah dan juga belum mempunyai mertua.
f. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
Tugas perkembangan ini belum bisa terpenuhi dikarenakan anak
pertama Ny.E belum menikah dan masih tinggal bersama Ny.E.

11. Riwayat keluarga inti


Tn.A dan Ny.E menikah sudah 50 tahun yang lalu. Perkawinannya
direstui oleh orang tua masing-masing. Tn.A berasal dari daerah jawa
tengah dan Ny.E berasal dari daerah sumatra barat.setelah Tn.A dan
Ny.A menikah mereka memutuskan untuk tinggal di Jakarta . Ny.E di
karuniai anak 5, Ny.E mempunyai riwayat HT (Hipertensi) dan Asma
dari orang tuannya. Tn.A mempunyai riwayat DM (Diabetes Melitus)
dari orang tuanya. Di keluarga Tn.A dan Ny.E tidak memiliki riwayat
penyakit katarak.

12. Riwayat keluarga sebelumnya


Ny.E berasal dari daerah padang di bawa ke Jakarta oleh orang tua
semenjak umur 2 tahun hingga sekarang, sedangkan Tn.A berasal dari
jawa. Mereka bertemu ketika Ny.E masih di bangku 3 SMA sedang
mengerjakan tugas dirumah temannya dan bertemu dengan Tn. A
pemain musik yang sedang menyanyi lalu mereka berpacaran ± 2 tahun
dan memutuskan untuk menikah Pada tanggal 13 Maret 1983. Dari
pernikahan mereka dikaruniai 5 orang anak yang terdiri dari 3 orang anak
perempuan dan 2 orang anak laki-laki.

60
C. Lingkungan
13. Karakteristik rumah (termasuk denah rumah)
a. Perumahan
Jenis bangunan rumah permanen dan status milik pribadi (warisan
dari keluarga). Luas bangunan 6 × 3 m rumah Ny.E tidak memiliki
perkarangan. Atap terbuat dari genteng, dengan memiliki ventilasi
≤10% luas lantai. Cahaya dapat masuk pada siang hari dengan
penerangan litrik disertai lantai rumah terbuat dari ubin. Kondisi
kebersihan keseluruhan rumah tidak rapi karena banyak barang-
barang yang berserakan dimana-mana tidak sesuai dengan
tempatnya.

b. Keadaan bagian rumah


Rumah keluarga Ny.E tidak memiliki halaman, memiliki ruang tamu
tetapi tampak kotor, memiliki ruang tidur bersama, tidak memiliki
ruang makan, mempunyai dapur tetapi tampak sangat kotor, kamar
mandi (wc) tampak cukup bersih namun licin. Faktor-faktor resiko
bahaya fisik yang mungkin terjadi tidak adanya penyangga untuk
Ny.E berjalan karena bisa terjatuh.

61
c. Denah rumah

S
Dapur Kamar Mandi
T B

U
Kamar
R2 Bersama

6m

R1 Ruang
Tamu

Pintu
Utama

Pembuanga 3m
n Sampah

Keterangan :

R1 : Ruang tamu, dan tempat beristirahat keluarga

R2 : Kamar Bersama (kamar tidur)Ny.E, Nn.P, Nn.U dan An.B

: Jendela

: Pintu

: Ventilasi

: Tembok Pembatas

62
d. Pengelolaan sampah
Keluarga Ny.E mempunyai tempat pembungan sampah terbuka,
dengan kondisi pembuangan yang kurang memenuhi syarat.
Keluarga Ny.E biasa membuang sampah sendiri di pasar.

e. Sumber air
Keluarga mempunyai sumber air dengan jenis sanyo (Air tanah)
tetapi air tidak dipakai untuk kebutuhan minum karena keluarga
Ny.E memenuhi keperluan air minum dengan membeli air mineral
atau isi ulang untuk minum sehari-hari. Keadaan air tampak kurang
bersih ada pengendapan, sedikit berbau dan sedikit berwarna.

f. Jamban keluarga
Keluarga mempunyai kamar mandi (wc) sendiri. Jenis wc yang
digunakan adalah leher angsa. Jarak tempat penampungan dari
sumber air ≤ 10 m.

g. Pembuangan air limbah


Keluarga Ny.E mempunyai saluran pembuangan air limbah yang
cukup bersih, dan pembuangannya di sepiteng.

14. Karakteristik tetangga dan komunitas


Keluarga Ny.E selama tinggal di Utan Panjang tidak pernah memiliki
masalah dengan tetangga sekitar. Hubungan keluarga Ny.E dengan
tetangga juga sangat baik. Keluarga Ny.E selalu bersikap ramah kepada
semua tetangga. Begitupun sebaliknya tetangga keluarga Ny.E juga
bersikap baik dan sopan.

15. Mobilitas geografis keluarga


Ny.E sebelum menikah dengan Tn.A tinggal di kampung rawa
sedangkan Tn.A tinggal di Utan panjang. Ketika Ny.E memutuskan

63
untuk menikah dengan Tn.A. Pada tahun 2002 Ny.E pindah untuk
tinggal bersama dengan Tn.A di Utan Panjang hingga sekarang.

16. Perkumpulan keluarga & interaksi dengan masyarakat


Keluarga Ny.E biasa berkumpul bersama diruang tamu pada malam
hari. Keluarga Ny.E dalam berinteraksi dengan masyarakat juga baik,
Ny.E tidak mengikuti kegiatan masyarakat dikarenakan sibuk
menggurus rumah.

17. Sistem pendukung keluarga


Keluarga Ny.E dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mendapatkan
penghasilan dari anak pertama, kedua, dan keempat yang berkerja
sebagai karyawan swasta dan guru les. Selain itu anak bungsu Ny.E
yaitu An.B mendapatkan bantuan KJP dan dukungan dari keluarga bila
ada yang sakit memberikan dukungan doa, support dan semangat.

A. Struktur keluarga
Cara pengambilan keputusan dalam keluarga Ny.E dengan cara
musyawarah dan melibatkan semua anggota keluarga untuk menemukan
jalan keluar. Yang mengambil keputusan dalam keluarga Ny.E adalah Ny.E
karena Ny.E merupakan Ibu dari Nn.P, Tn.F, Tn.R, Nn.U, dan An.B.
Hubungan keluarga antara anggota keluarga Ny.E sangat harmonis.

21. Pola komunikasi keluarga


Pola komunikasi dalam keluarga Ny.E adalah pola komunikasi terbuka
yaitu setiap anggota keluarga bila ada masalah selalu dibicarakan secara
musyawarah bersama dan dalam pengambilan keputusan biasanya
selalu dibicarakan terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain,
tetapi setelah musyawarah yang mengambil keputusan adalah Ny.E
setelah Tn.A meninggal dunia. Secara keseluruhan hunbungan keluarga
Ny.E terjalin harmonis karena saling menghormati dan menghargai satu
sama lain.

64
22. Struktur kekuatan keluarga
Dalam keluarga Ny.E dalam menghadapi masalah selalu dibicarakan
secara msyawarah dan dalam pengambilan keputusan keluarga Ny.E
diserahkan kepada Ny.E selaku istri dari Tn.A setelah Tn.A meninggal
dunia.

23. Struktur peran


Ny.E berperan sebagai Ibu rumah tangga, mendidik anak, mengurus
anak, dan menggambil keputusan. Nn.P sebagai anak ke-I berperan
mencari uang/nafkah untuk membantu keuangan keluarga. Nn.U
sebagai anak ke-IV berperan sebagai Mahasiswa yang sedang
menempuh bangku kuliah sambil bekerja. An.B sebagai anak ke-V
berperan sebagai seorang pelajar yang sedang menempuh bangku SMK
dan juga membantu Ny.E dirumah.

24. Nilai dan norma budaya


Nilai yang digunakan oleh keluarga adalah budaya jawa, nilai budaya
jawa sangat mempengaruhi keluarga misalnya anak-anak harus
menghormati Bapak/Ibu, sopan santun dalam berbicara, dan berperilaku
jujur. Oleh karena itu bila melanggar aturan orang tua akan marah.
Selain itu Ny.E menerapkan aturan-aturan sesuai ajaran agama islam
dan mengharapkan anak-anaknya selalu taat dan tidak meninggalkan
ibadah sholat.

B. Fungsi keluarga
25. Fungsi afektif
Saat ini keluarga Ny.E merasa sedih dan khawatir tentang kesehatan
Ny.E terutama pada mata kirinya yang mengalami sakit katarak.

65
26. Fungsi sosialisasi
Anggota keluarga Ny.E tidak ada yang mengikuti organisasi
masyarakat. Meskipun begitu keluarga Ny.E tetap menjalani interaksi
dan hubungan yang baik dengan tetangga.

27. Fungsi reproduksi


Saat ini Ny.N telah dikaruniai lima orang anak, dua anak laki-laki
bernama Tn.F berusia 31 tahun, Tn.R berusia 26 tahun, dan tiga anak
perempuan bernama Nn.P berusia 33 tahun, Nn.U berusia 24 tahun,
An.B berusia 16 tahun. Dari semua anak Ny.E belum ada yang menikah.
Ny.E tidak menggunakan KB dengan alasan karena suami sudah
meninggal sehingga tidak memerlukan KB.

28. Fungsi ekonomi


Untuk memenuhi kebutuhan keluarga Ny.E sehari-hari, Ny.E
mendapatkan penghasilan dari anak-anaknya yang bekerja lalu
diberikan kepada Ny.E untuk mengatur keuangan dalam keluarga.
Penghasilan yang didapat oleh Ny.E sebesar ±Rp 2.000.000,-/bulan.
Dari gaji tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, makan,
minum, pakaian, dan dana kesehatan. Dari penghasilan tersebut
digunakan untuk membayar listrik ± Rp 150.000, biaya makan+air
minum sehari-hari dan membeli lauk pauk di luar sebesar ± Rp
60.000/perhari. Sedangkan dalam biaya pendidikan SMK mendapatkan
bantuan KJP dari Pemerintah.

29. Fungsi keperawatan kesehatan katarak


a. Keluarga mampu mengenal masalah katarak.
Keluarga Tn.A khususnya Ny.E mengatakan “susah melihat,
pandangan menjadi kabur dan buram pada mata kirinya.” Sehingga
Ny.E sulit dalam beraktivitas. Menurut Ny.E tanda dan gejala yang
disebutkan adalah bagian dari penyakit katarak.

66
b. Kemampuan keluarga mengambil keputusan
Menurut keluarga jika ada anggota keluarga yang sakit terutama
penyakit katarak keluarga akan membawanya ke puskesmas atau
rumah sakit terdekat.

c. Kemampuan keluarga merawat


Menurut keluarga cara merawat anggota keluarga yang sakit katarak
adalah keluarga membantu memberikan obat dan selalu
mengingatkan untuk selalu meneteskan obat mata kepada Ny.E.

d. Kemampun keluarga memodifikasi lingkungan


Keluarga kurang mengerti tentang perilaku hidup bersih dan sehat
dimana rumah terlihat tampak kotor dan kurang terawat
kebersihannya. Ny.E mengatakan jarang membersihkan barang-
barang berserakan tidak pada tempatnya. Penerangan pada rumah
Ny. E yaitu cahaya matahari dapat masuk pada siang hari dan juga
dengan penerangan litrik.

e. Memanfaatkan fasilitas kesehatan


Menurut keluarga jika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya
keluarga akan membawa ke fasilitas kesehatan terdekat yaitu di
Puskesmas Utan Panjang.

C. Stress dan koping kelurga


30. Stressor jangka pendek
Pada saat ini yang menjadi beban fikiran Ny.E adalah tentang kesehatan
terutama pada mata kirinya yang mengalami sakit katarak dan
memikirkan anak pertamanya yang belum menikah.

31. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah


Ny.E mengatakan bila ada masalah di dalam keluarga maka anggota
keluarga yang lain saling membantu untuk menyelesaikan masalah.

67
32. Strategi koping yang digunakan
Ny.E mengatakan bila mengalami suatu masalah maka Ny.E selalu
menceritakannya kepada orang terdekat terutama pada anak bungsunya.

33. Strategi adaptasi disfungsional


Semua anggota keluarga Ny.E bila memiliki masalah tidak ada yang
menyelesaikan dengan cara yang negatif.

34. Pemerikasaan fisik : head to toe secara inspeksi, palpasi, auskultrasi,


perkusi, tanda vital, termasuk tinggi badan dan berat badan.

NO. Pemeriksaan Ny. E Ny. P Ny. U An. B


Fisik
1. Kepala -Benjolan(-) -Benjolan(-) -Benjolan(-) -Benjolan(-)
-Rambut -Warna rambut -Warna rambut -Warna rambut
berwarna hitam hitam hitam
sedikit putih -Kulit kepala -Kulit kepala -Kulit kepala
-Tidak rontok bersih bersih bersih
-Kulit kepala -Tidak rontok -Tidak rontok -Tidak rontok
bersih -Ketombe(-) -Ketombe(-) -Ketombe(-)
-Ketombe(-)
2. Mata - Konjungtiva : - Konjungtiva : - Konjungtiva : - Konjungtiva :
An anemis An anemis An anemis An anemis
- Sklera : -Sklera : -Sklera : -Sklera :
An ikterik An ikterik An ikterik An ikterik
-Bersih -Bersih -Bersih -Bersih
-Benjolan(-) -Benjolan(-) -Benjolan(-) -Benjolan(-)
-Tampak
terdapat selaput
putih pada lensa
mata kiri.
-Sedikit berair.

68
3. Hidung -Bersih tidak -Bersih tidak -Bersih tidak -Bersih tidak
ada ada cairan ada cairan ada cairan
Cairan -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
-Tidak ada benjolan benjolan benjolan
benjolan -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
-Tidak ada pembesaran pembesaran pembesaran
pembesaran sinus sinus sinus
sinus

4. Mulut -Bersih -Bersih -Bersih -Bersih


-Mukosa -Mukosa -Mukosa -Mukosa
lembab lembab lembab lembab
-Terdapat caries -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
gigi caries gigi caries gigi caries gigi
-Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
kesulitan kesulitan kesulitan kesulitan
menelan menelan menelan menelan
5. Leher -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
tiroid tiroid tiroid tiroid
-Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
pembesaran pembesaran pembesaran pembesaran
vena jugularis vena jugularis vena jugularis vena jugularis
6. Dada -Simetris -Simetris -Simetris -Simetris
-Bunyi jantung -Bunyi jantung -Bunyi jantung -Bunyi jantung
dan II normal I dan II normal I dan II normal I dan II normal
-Paru-paru -Paru-paru -Paru-paru -Paru-paru
normal normal normal normal
7. Abdomen -Nyeri tekan (-) -Nyeri tekan (-) -Nyeri tekan (-) -Nyeri tekan (-)
-Distensi -Distensi -Distensi -Distensi
abdomen (-) abdomen (-) abdomen (-) abdomen (-)

69
-Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
keluhan keluhan keluhan keluhan
8. Tangan -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
pembengkakan pembengkakan pembengkakan pembengkakan
-Turgor kulit -Turgor kulit -Turgor kulit -Turgor kulit
elastis elastis elastis elastis
-Tidak ada luka -Tidak ada luka -Tidak ada luka -Tidak ada luka
-Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
keluhan keluhan keluhan keluhan
9. TTV -N =80ˣ/mnt -N =80ˣ/mnt -N =84ˣ/mnt -N =80ˣ/mnt
-RR =20ˣ/mnt -RR =18ˣ/mnt -RR =20ˣ/mnt -RR =18ˣ/mnt
-sh = 36˚C -sh = 36˚C - sh = 36˚C -sh = 36˚C
-TD=150/90 -TD=120/80 -TD=120/80 -TD=110/80
mmHg mmHg mmHg mmHg

10. TB dan BB -TB = 150cm -TB = 150cm -TB =157cm -TB = 163cm
-BB = 60 kg -BB =54 kg -BB = 55kg -BB = 54kg
11. Kaki -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
pembengkakan pembengkakan pembengkakan pembengkakan
-Turgor kulit -Turgor kulit -Turgor kulit -Turgor kulit
elastis elastis elastis elastis
-Tidak ada -Tidak ada luka -Tidak ada luka -Tidak ada luka
keluhan -Tidak ada -Tidak ada -Tidak ada
keluhan keluhan keluhan
12. Kekuatan 5555 5555 55555 5555 5555 5555 5555 5555
Otot.
5555 5555 5555 5555 5555 5555 5555 5555
13. Kesadaran. Compos Mentis Compos Mentis Compos Mentis Compos Mentis
(cm) (cm) (cm) (cm)

70
Kesimpulan dari data diatas keluarga Tn.A yaitu kesadaran keseluruhan keluarga
adalah compos mentis, pemeriksaan fisik baik dan tidak ada keluhan mulai dari
kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, kaki dan tangan.
Hanya pada saat pemeriksaan TTV tekanan darah Nn.P, Nn.U dan An.B normal.
Sedangkan Ny.E di lakukan pemeriksaan pada mata kiri tampak terdapat selaput
putih pada lensa mata dan tekanan darahnya tinggi yaitu TD : 150/90 mmHg.
Untuk nadi, pernafasan, dan suhu semuanya dalam batas normal.

D. Harapan keluarga terhadap Asuhan Keperawatan Keluarga


Ny.E mengatakan berharap dengan adanya Asuhan Keperawatan Keluarga
mengharapkan lebih dapat mengetahui tentang penyakit katarak yang di derita Ny.E
dan lebih mengerti bagaimana cara untuk merawat mata katarak sebelum dan
sesudah di operasi.

71
FORMAT ANALISA DATA KESEHATAN KELUARGA

Nama Keluarga : Ny.E

No. Data Fokus Masalah Diagnosa


Kesehatan Keperawatan
1. *Data subjektif (DS) : Katarak Gangguan persepsi
-Ny.E mengatakan “Tidak sensorik : pada
mengerti kenapa sampai keluarga Tn.A
mengalami katarak.” khususnya Ny.E
-Klien mengatakan “Cemas berhubungan
akan kondisinya terutama pada dengan
mata kirinya yang mengalami ketidakmampuan
katarak.” keluarga merawat
-Klien mengatakan “Tidak tahu anggota keluarga
sama sekali penyakitnya.” yang sakit katarak.
-Ny.E mengatakan
“Pengelihatan kabur seperti
berkabut.”
-Ny.E mengatakan “Suka
tersandung ketika sedang
berjalan.”
-Ny.E mengatakan “Kurang
lebih sudah 6 bulan susah
untuk melihat, bayangan terasa
buram.”
-Ny.E mengatakan “Jika
mengalami gatal, mulai rabun
dan mata mulai berair pada
mata kirinya Ny.E hanya
beristirahat lebih banyak.”

72
*Data Objektif (DO) :
-Ny.E tampak susah melihat
pada mata kirinya.
-Lapang pandang hanya bisa
melihat ± 2 meter pada mata
kiri.
-Ny.E tampak perlu bantuan
saat ingin ke kamar mandi
-Lingkungan rumah tampak
cukup belum dapat
dimodifikasi oleh keluarga.

73
FORMAT ANALISA DATA KESEHATAN KELUARGA

Nama Keluarga : Ny.E

No. Data Fokus Masalah Diagnosa


Kesehatan Keperawatan
2. *Data subjektif (DS) : Cemas Cemas pada
-Ny.E mengatakan “cemas akan keluarga Tn.A
menghadapi tindakan operasi khususnya Ny.E
yang akan dilakukan pada berhubungan
tanggal 13 April 2017.” dengan kurangnya
-Ny.E mengatakan “kesulitan pengetahuan
untuk beraktifitas.” keluarga tentang
-Ny.E mengatakan tindakan operasi.
“penglihatannya tidak jelas.”
-Ny.E mengatakan “cemas akan
kondisinya.”
-Ny.E mengatakan “cemas tidak
berhasil menjalankan
operasinya.”
-Ny.E mengatakan “gelisah
memikirkan operasinya.”
*Data objektif (DO) :
- N =80ˣ/mnt
-RR =20ˣ/mnt
-sh = 36˚C
-TD=150/90mmHg
- Klien tampak cemas.
-Ny.E tampak bingung.
-Ny.E tampak gelisah.
-Ny.E tampak sulit untuk
melihat.

74
Skoring Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan keluarga :


Gangguan persepsi sensorik : pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit katarak.

No. Kriteria Bobot Perhitungan Pembenaran


1. Sifat Masalah 1 3/3 x 1 = 1 Ny.E mengatakan
Skala : pandangan menjadi buram
Potensial =1 dan sulit melihat pada mata
Resiko =2 kirinya. Mata kiri klien
Aktual =3 tampak terdapat selaput
putih pada lensa mata.
2. Kemungkinan masalah untuk 2 ½x2=1 Kurangnya pengetahuan
di ubah: keluarga mengenal masalah
Skala : penyakit katarak dan
Mudah =2 kurangnya motivasi
Sebagian =1 keluarga di karenakan
Tidak dapat =0 kesibukan bekerja pada
anak Ny.E sehingga Ny.E
kadang menggunakan
fasilitas kesehatan yang ada
dekat sekitar rumah seperti
Puskesmas/rumah sakit
(RS) terdekat di Utan
Panjang.
3. Potensial masalah untuk di 1 3/3 x 1 = 1 Potensial masalah unntuk di
cegah : cegah pada gangguan
Skala : persepsi sensorik tinggi
Tinggi =3 karena dengan dilakukan
Cukup =2 operasi katarak masalah
Rendah =1 dapat diatasi.

75
4. Menonjolnya masalah : 1 2/2 x 1 = 1 Menonjolnya masalah yaitu
Cegah segera ditangani karena
Skala : akan dilakukan operasi
Segera ditangani =2 katarak pada tanggal 13
Masalah ada tapi tidak perlu = 1 Apil 2017 pada Ny.E
Masalah tidak dirasakan =0 sehingga masalah dapat
diatasi.
Total Skor = 4

76
Skoring Masalah Keperawatan

Masalah keperawatan keluarga :


Cemas pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan keluarga tentang tindakan operasi.

No. Kriteria Bobot Perhitungan Pembenaran


1. Sifat Masalah 1 2/3 x 1 = 2/3 Ny.E mengatakan cemas
Skala : akan menghadapi tindakan
Potensial =1 operasi yang akan
Resiko =2 dilakukan pada tanggal 13
Aktual =3 April 2017. Setelah
dilakukan Ttv pada Ny.E
didapatkan hasil:
Mata kiri klien tampak
terdapat selaput putih
pada lensa mata.
-N =80ˣ/mnt
-RR =20ˣ/mnt
-sh = 36˚C
-TD=150/90 mmHg
2. Kemungkinan masalah untuk di 2 2/2 x 2 = 2 Keluarga Ny.E selalu
ubah : memotivasi mengingatkan
Skala : Ny.E untuk tidak
Mudah =2 memikirkan tindakan
Sebagian =1 operasi agar Ny.E tidak
Tidak dapat =0 tampak cemas dan gelisah.

3. Potensial masalah untuk di cegah : 1 2/3 x 1 = 2/3 Potensial masalah untuk


Skala : di cegah yaitu Ny.E
Tinggi =3 mengatakan sudah tidak
Cukup =2 terlalu memikirkan
Rendah =1

77
tindakan operasi. Ny.E
tampak sedikit rilex.

4. Menonjolnya masalah : 1 2/2 x 1 = 1 Menonjolnya masalah


Cegah yaitu segera ditangani
Skala : ketika keluarga
Segera ditangani =2 mengetahui tentang
Masalah ada tapi tidak perlu =1 penyakit Ny.E, keluarga
Masalah tidak dirasakan =0 langsung menganjurkan
kepada Ny.E untuk
berobat ke Puskesmas
atau Rumah Sakit (RS)
terdekat di Utan Panjang
dan meminum obat secara
teratur.
SKORE = 3 4/3

Daftar Prioritas Diagnosa Keperawatan

Dari hasil skoring diagnosa keperawatan keluarga, maka prioritas diagnosa


keperawatan keluarga sebagai berikut :

No Diagnosa keperawatan Skore


1. Gangguan persepsi sensori penglihatan (Katarak) pada keluarga Tn.A 4
khususnya Ny.E berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
yang sakit katarak.

2. Cemas pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E berhubungan dengan 3 4/3


kurangnya pengetahuan keluarga tentang tindakan operasi.

78
RENCANA TINDAKAN ASUHAN KEPERAWATAN

TUJUAN EVALUASI TINDAKAN


No DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN
KEPERAWATAN UMUM KHUSUS KRITERIA STANDAR
1. *Data subjektif Gangguan Setelah 3x60 Setelah 1x60 Respon verbal 1. Katarak merupakan a) Diskusikan bersama keluarga
(DS): persepsi sensorik : menit kunjungan menit kunjungan, kekeruhan yang terjadi pengertian katarak dengan
-Ny.E pada keluarga Tn.A rumah, Gangguan keluarga mampu pada lensa mata sehingga menggunakan lembar balik.
mengatakan khususnya Ny.E persepsi sensori : mengenal penglihatan menjadi b) Diskusikan bersama keluarga
“tidak mengerti (55 tahun) pengelihatan pada masalah katarak, buram. tentang penyebab, tanda dan
kenapa sampai berhubungan keluarga Tn.E pada keluarga, 2. Penyebab katarak yaitu gejala katarak.
mengalami dengan (55 tahun) Dengan cara: terjadi pada bayi yang c) Tanyakan kembali kepada
katarak.” ketidakmampuan Khususnya 1. Menyebutkan baru lahir (kelainan keluarga tentang
-Klien keluarga merawat Ny.E pengertian bawaan), proses penuaan pengertian,penyebab,tanda dan
mengatakan anggota keluarga katarak (≤ 40 thn), terjadi setelah gejala katarak.
“cemas akan yang sakit katarak 2. Menyebutkan benda asing menciderai d) Memberi kesempatan
kondisinya khususnya Ny.E penyebab, tanda lensa, akibat dari obat- keluarga dan klien untuk
terutama pada dan gejala obatan,riwayat DM, bertanya.
mata kirinya katarak.

79
yang mengalami glukoma, dan e) Berikan pujian atas jawaban
katrak.” menkonsumsi rokok yang tepat
-Klien
mengatakan
“tidak tahu sama 3. Menyebutkan Respon verbal 3. Tanda dan gejala yaitu a) Diskusikan bersama keluarga
sekali tanda gejala seperti pandangan tentang tanda gejala dari katarak
penyakitnya.” akibat dari menjadi samar-samar dan dan cara mencegah katarak.
-Ny.E katarak dan cara kabur. b) Motivasi keluarga untuk
mengatakan mencegah Akibat dari katarak adalah menyebutkan kembali akibat
“Pengelihatan katarak. pandangan menjadi yang terjadi bila katarak tidak
kabur seperti samar- samar, kabur dan segera diatasi dan cara
berkabut.” sulit untuk melihat. Cara pencegahan katarak.
-Ny.E mecegah katarak adalah c) Beri re inforcemend positif
mengatakan hindari asap rokok, atas usaha yang dilakukan
“suka tersandung konsumsi makanan sehat keluarga.
ketika sedang yang bervitamin E dan
berjalan.” lindungi mata dari sinar
-Ny.E ultraviolet (sinar
mengatakan matahari).
“kurang lebih

80
sudah 6 bulan 4.Mendemonstra- Respon 4)Keluarga dapat a)Mendemonstrasikan cara
susah untuk sikan cara Psikomotor mendemostrasikan melakukan perawatan mata.
melihat, melakukan Cara perawatan mata : b) Memotivasi Ny.E untuk
bayangan terasa perawatan mata. sediakan air hangat redemonstrasi perawatan mata.
buram.” Dan memotivasi didalam kom, c) Pastikan keluarga akan
-Ny.E Ny.E untuk celupkan/basahi kapas melakukan tindakan yang telah
mengatakan “Jika redemonstrasi lembut kedalam air hangat diajarkan jika mata Ny.E
mengalami gatal, perawatan mata. dan peras, pejamkan mata tampak kotor.
mulai rabun dan yang akan di bersihkan, d) Beri re inforcemend positif
mata mulai berair usapkn kapas kemata dari atas usaha yang dilakukan
pada mata dalam ke luar sebanyak keluarga.
kirinya Ny.E 3×, bersihkan kelopak
hanya beristirahat mata dan sekitarnya, lalu
lebih banyak.” teteskan obat mata sesuai
anjuran dokter.
*Data
Objektif
(DO) :
-Ny.E tampak
susah melihat

81
pada mata 5.Mengklarifikasi Respon verbal 5)Keluarga mengatakan a) Mengklarifikasi pengetahuan
kirinya. pengetahun jika ada keluhan/sakit keluarga tentang manfaat
-Lapang pandang keluarga tentang pada mata kirinya, Ny.E fasilitas kesehatan dan
hanya bisa manfaat fasilitas akan segera datang ke mendiskusikan
melihat ± 2 meter kesehatan, Puskesmas/Rumah sakit dengan keluarga cara
pada mata kiri. mendiskusikan terdekat. menciptakan lingkungan rumah
-Ny.E tampak cara mencipta- yang bersih.
perlu bantuan kan lingkungan b) Motivasi keluarga untuk
saat ingin ke yang bersih memodifikasikan lingkungan
kamar mandi dan memotivsi rumah dalam perawatan mata
-Lingkungan keluarga untuk katarak.
rumah tampak memanfaat-kan
cukup belum fasilitas
dapat kesehatan pada
dimodifikasi oleh katarak.
keluarga.

82
Pelaksanaan Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan

Hari/Tanggal/Jam No.Dx Implementasi Evaluasi (SOAP) Paraf


Jumat/ 07 April 1.1 a) Diskusikan bersama keluarga pengertian S : Ny.E mengatakan “pengertian katarak Ayu
2017/ 10.00 WIB katarak dengan menggunakan lembar balik adalah kekeruhan pada lensa yang Nila
Ds : Ny.E mengatakan “katarak adalah kekeruhan mengakibatkan penglihatan menjadi buram,
pada lensa mata yang mengakibatkan penglihatan penyebab katarak adalah karena usia lanjut dan
menjadi buram.” asap rokok. Tanda dan gejalanya seperti
Do : Ny.E tampak dapat tidak sulit menyebutkan pandangan menjadi samar-samar dan kabur.”
pengertian katarak. O : Ny.E tampak kooperatif saat dijelaskan dan
mampu mengulangi apa yang sudah
b) Diskusikan bersama keluarga tentang didiskusikan meski masih ada yang lupa.
penyebab, tanda dan gejala katarak A : Masalah teratasi
Ds : Ny.E mengatakan “penyebab katarak adalah P : Hentikan intervensi
faktor usia lanjut.”
Do : Ny.E tampak terlihat memperperhatikan dan
memahami apa yang didiskusikan.

83
c) Tanyakan kembali kepada keluarga tentang
pengertian,penyebab,tanda dan gejala katarak.
Ds : Keluarga Ny.E mengatakan “pengertian
katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang
mengakibatkan penglihatan menjadi buram.
penyebab katarak adalah faktor usia lanjut.
Tanda dan gejala yaitu pandangan kabur dan sulit
melihat.”
Do : keluarga Ny.E tampak sudah paham.

d) Memberi kesempatan keluarga dan klien


untuk bertanya.
Ds : Ny.E mengatakan “lalu apa lagi penyebab
katarak?”
Do : Keluarga dan Klien tampak serius

e) Berikan pujian atas jawaban yang tepat


Ds : Ny.E mengatakan “senang karena telah
mengetahui pengertian.penyebab, tanda dan gejala
katarak”

84
Do : Ny.E tampak senang.

1.2 a) Diskusikan bersama keluarga tentang tanda S : Ny.E mengatakan “akibat dari katarak Ayu
Sabtu/ 08 April 2017/
gejala, akibat dari katarak dan cara mencegah adalah pandangan menjadi kabur dan sulit Nila
10.00 WIB
katarak. untuk melihat. Akibatnya adalah pandangan
Ds : Ny.E mengatakan “tanda gejala yaitu seperti kabur dan sulit untuk melihat. Cara mecegah
pandangan menjadi kabur, dan akibatnya adalah katarak adalah hindari asap rokok, konsumsi
pandangan kabur dan sulit untuk melihat.” makanan sehat dan lindungi mata dari sinar
Ny.E mengatakan “cara mencegah katarak adalah ultraviolet (sinar matahari).”
sering merawat mata dan mengkonsumsi makanan O : Ny.E tampak mendengarkan dengan serius.
yang bervitamin E.” A : Masalah teratasi
Do : Ny.E tampak sedikit memahami akibat dari P : Hentikan intervensi
tidak dilakukan operasi mata.

b) Motivasi keluarga untuk menyebutkan


kembali akibat yang terjadi bila katarak tidak
segera diatasi dan cara pencegahan katarak.
Ds : -Ny.E mengatakan “tidak dapat melihat
karena pandangan kabur.”

85
-Ny.E mengatakan “cara pencegahan katarak
adalah dengan merawat mata dengan baik dan
mengkonsumsi makanan yang sehat.”
Do : Ny.E tampak sedikit kesulitan menjawab.

c) Beri re inforcemend positif atas usaha yang


dilakukan keluarga.
Ds : Ny.E mengatakan “senang bisa menjawab
akibat dari katarak”
Do : Ny.E tampak terlihat senang.
1.3 a) Mendemonstrasikan cara melakukan S : Ny.E mengatakan “merasa lebih baik setelah Ayu
Senin/ 10 April 2017/ perawatan mata. dilakukan cara perawatan mata dan cara Nila
10.00 WIB Ds : - mencegah katarak dengan menkonsumsi
Do : Ny.E tampak melakukan latihan perawatan makanan sehat, berolah raga, dan beristirahat
mata. yang cukup.”
O : Ny.E tampak dapat melakukan demonstrasi
b) Memotivasi Ny.E untuk redemonstrasi perawatan mata dengan semangat.
perawatan mata. A : Masalah teratasi
Ds : Ny.E mengatakan “senang bisa melakukan P : Hentikan intervensi
perawatan mata.”

86
Do : Ny.E tampak terlihat senang.

c) Pastikan keluarga akan melakukan tindakan


yang telah diajarkan jika mata Ny.E tampak
kotor.
Ds : Ny.E mengatakan “akan melakukan apa yang
telah diajarkan.”
Do : Ny.E tampak mengerti.

d) Beri re inforcemend positif atas usaha yang


dilakukan keluarga.
Ds : Keluarga Ny.E mengatakan senang bisa
melakukan perawatan mata.
Do : keluarga tampak senang.

Selasa/ 11 April 1.4 a) Diskusikan dengan keluarga cara S : Ny.E mengatakan “lingkungan yang sehat Ayu
2017/ 10.00 WIB menciptakan lingkungan rumah yang bersih. yaitu lingkungan yang bersih dan tidak kotor.” Nila
Ds : Kelurga Ny.E mengatakan “cara menciptakan O : Ny.E tamapak mendengarkan penjelasan
lingkungan rmah yang bersih adalah menaruh yang telah diberikan.
A : Masalah teratasi

87
barang sesuai dengan tempatnya dan membung P : Hentikan intervensi
sampah pada tempatnya.”
Do : Keluarga Ny.E tampak mengerti.

b) Motivasi keluarga untuk memodifikasikan


lingkungan rumah dalam perawatan mata
katarak.
Ds : Keluarga Ny.E mengatakan “akan merapikan
rumah dan menaruh barang sesuai dengan
tempatnya.”
Do : Keluarga Ny.E tampak mengerti.

1.5 a) Mengklarifikasi pengetahun keluarga S : Ny.E mengatakan “jika ada keluhan/sakit Ayu
Rabu/ 12 April 2017/ tentang manfaat fasilitas kesehatan. pada mata kirinya, Ny.E akan segera datang ke Nila
10.00 WIB Ds :-keluarga Ny.E mengatakan “dengan adanya Puskesmas/Rumah sakit (RS) terdekat.”
fasilitas kesehatan dapat mengetahui kondisi O : Ny.E tampak mendengarkan penjelasan
keadaan kesehatan mata kiri pada dirinya.” yang diberikan tentang manfaat pelayanan
Do : Keluarga Ny.E tampak mengerti. kesehatan.
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi

88
b) Memotivsi keluarga untuk memanfaatkan
fasilitas kesehatan pada katarak.
Ds : Ny.E mengatakan “dengan adanya fasilitas
kesehatan dapat mengetahui kondisi keadaan
kesehatan matanya.”
Do : Ny.E tampak mengerti.

c) Pastikan keluarga akan memanfaatkan


fasilitas kesehatan.
Ds : Keluarga mengatakan “bila kondisi mata
bertambah parah akan segera datang ke Puskesmas
atau Rumah Sakit (RS) terdekat di Utan Panjang.”
Do : Keluarga Ny.E tampak mengerti.

89
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membandingkan antara tinjauan teori dan kasus
tentang asuhan keperawatan pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E dalam
pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman dengan gangguan sistem penglihatan :
katarak di rt 14 rw 02 Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta
Pusat. Pembahasan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan melalui proses
keperawatan yang meliputi proses pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan oleh penulis, dalam
pengkajian penulis melakukan pengumpulan data. Data diperoleh dengan
menggunakan format pengkaijan dan teknik pengumpulan data dengan cara
wawancara dengan keluarga, observasi dan pemeriksaan fisik. Setelah penulis
melakukan pendekatan untuk menjalin hubungna saling percaya, keluarga Ny.E
dapat menerima kedatangan penulis. Dalam pengkajian tidak ditemukan
kesulitan dikarenakan keluarga Ny.E bersikap kooperatif dalam menjawab
semua pertanyaan yang diajukan oleh penulis sehingga mempermudah
mendapatkan informasi. Selain karena faktor keluarga yang kooperatif, penulis
terbantu dengan adanya format pengkajian sehingga dapat mengumpulkan data
secara lengkap sesuai yang dibutuhkan.

Pada tipe keluarga tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus dikarenakan
tipe keluarga Ny.E adalah keluarga The Single-Parent Family dikarenakan Tn.A
sudah meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu. Dimana didalam teori menurut
Friedman, Bowden, & Jones tahun 2003 (dalam Buku Ajar Keperawatan
Keluarga, 2012) dijelaskan bahwa keluarga yang terdiri dari satu orangtua
(ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian,
kematian atau karena ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).

90
Tahap perkembangan keluarga saat ini berada pada tahap keluarga dengan
tahapan dewasa awal. Karena anak pertama Ny.E yaitu Nn.P berusia 33 tahun
belum menikah dikarenakan sibuk bekerja. Dalam tugas perkembangan
didapatkan kesenjangan dengan kasus. Dimana berdasarkan teori tugas
perkembangan keluarga pada tahap anak dewasa awal adalah mencari dan
menemukan calon pasangan hidup, memperluas keluarga inti menjadi keluarga
besar, membina hubungan rumah tangga, mempertahankan keintiman
pasangan, membantu orang tua suami/ istri yang sedang sakit dan memasuki
masa tua, penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

Peran keluarga pada keluarga Ny.E didapatkan kesenjangan dengan kasus.


Dimana berdasarkan teori peran keluarga yaitu Ayah yaitu seorang pemimpin
keluarga yang mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung,
pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota
masyarakat kelompok sosial. Ibu yaitu sebagai pengurus rumah tangga,
pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari
nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok
sosial. Anak berperan sebagai perilaku psikososial sesuai dengan
perkembangan fisik, mental, sosial dan spiritual. Dikarenakan Tn.A sudah
meninggal 5 tahun yang lalu Ny.E yang berperan sebagai kepala keluarga,
mendidik anak, mengurus anak, dan menggambil keputusan. Ny.E sudah tidak
bekerja lagi dikarenakan sakit pada mata kirinya yang mengakibatkan Ny.E
sulit untuk melihat. Nn.P sebagai anak pertama berperan mencari uang/nafkah
untuk membantu keuangan keluarga menggantikan Ibunya yang sakit.

Fungsi keluarga Ny.E memiliki kesenjangan dengan teori, dimana


menurut Friedman, Bowden, & Jones (2003) (dalam Tantut, 2012) fungsi
keluarga terbagi menjadi 5 yaitu: fungsi afektif, sosialisasi, reproduksi,
ekonomi dan perawatan kesehatan. Kesenjangan yang terjadi antara kasus dan
teori karena keluarga tidak mampu menjalankan fungsi sosialisi dan perawatan
kesehatan. Keluarga Ny.E tidak mampu menjalankan fungsi sosialisasi karena
tidak mengikuti organisasi masyarakat dan hanya menjalankan interaksi serta

91
hubungan yang baik dengan tetangga. Fungsi perawatan juga tidak dapat
dijalankan, karenakan kesibukan bekerja pada anak Ny.E sehingga Ny.E
kadang menggunakan fasilitas kesehatan yang ada dekat sekitar rumah seperti
Puskesmas/rumah sakit (RS) terdekat di Utan Panjang. Jika ada anggota
keluarga yang sakit Ny.E membelikan obat yang dibeli di apotik atau berobat
ke Puskesmas tan Panjang.

Dalam penyajian terhadap makanan, terdapat kesenjangan antara teori dan


kasus karena ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
mengalami masalah kesehatan karena keluarga Ny.E karena khususnya Ny.E
dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari dengan cara membeli lauk pauk
diluar rumah.

Status lingkungan mulai dari karakteristik, Jenis bangunan rumah


permanen dan status milik pribadi (warisan dari keluarga). Luas bangunan 6 ×
3 m rumah Ny.E tidak memiliki perkarangan. Atap terbuat dari genteng, dengan
memiliki ventilasi ≤10% luas lantai. Cahaya dapat masuk pada siang hari
dengan penerangan litrik disertai lantai rumah terbuat dari ubin. Kondisi
kebersihan keseluruhan rumah tidak rapi karena banyak barang-barang yang
berserakan dimana-mana tidak sesuai dengan tempatnya. Pencahayaan dirumah
menggunakan listrik namun masih kurang pencahayaan. Kondisi rumah
berdebu dan banyak barang bertumpuk. Jendela tidak pernah dibuka dan
terdapat sarang laba-laba di langit – langit rumah. Keluarga Ny.E memiliki wc
sendiri di dalam rumah. Sedangkan menurut teori ventilasi rumah seharusnya >
10% luas lantai, kondisi rumah bersih tidak berdebu dan tidak banyak barang
bertumpuk. Sehingga terdapat kendala dalam pemenuhan kebutuhan
kenyamanan pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E karena Ny.E membutuhkan
perawatan yang mendukung bagi kesembuhan pada mata kirinya.

Keluarga Ny.E memiliki kesenjangan pada tugas keluarga dalam bidang


kesehatan antara kasus dan teori, dimana dalam teori menurut Friedman tugas
keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan dibagi 5, yaitu:

92
mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya, mengambil keputusan untuk
melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga, memberikan keperawatan
anggotanya yang sakit, memodifikasi lingkungan, memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan. Keluarga Ny.E tidak mampu mengambil keputusan, Ny.E
tidak mengetahui akibat lanjut dari KATARAK jika tidak ditangani akan
mengalami kebutaan. Keluarga Ny.E tidak mampu memodifikasi lingkungan
dapat terlihat dari keadaan rumah yang gelap, ventilasi kurang, dan berdebu.
Keluarga Ny.E tidak mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan karena anak
Ny.E sibuk bekerja sehingga jarang membawa Ny.E berobat ke puskesmas.

Untuk penyebab dan tanda dari KATARAK tidak terdapat kesenjangan


antara teori dengan kasus. Dimana pada kasus Ny.E mengatakan “penyebab
katarak adalah karena usia lanjut dan asap rokok. Tanda dan gejalanya seperti
pandangan menjadi samar-samar dan kabur.” Sedangkan pada teori penyebab
katarak biasanya terjadi pada usia lanjut dan bisa diturunkan. Pembentukan
katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok, atau bahan beracun
lainnya. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata penyakit metabolik
(misalnya diabetes) obat-obatan tertentu (misalnya kortikosteroid). Tanda dan
gejala yaitu seperti pandangan menjadi samar-samar dan kabur.

Kemudian pada pemeriksaan penujang tidak terdapat kesenjangan antara


teori dengan kasus. Dimana pada teori ada delapan cara pemeriksaan yaitu:
Kartu mata snellen/mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan
kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf,
dan penglihatan ke retina. Lapang penglihatan : penurunan mungkin karena
massa tumor, karotis, glukoma. Pengukuran tonografi : TIO (12-25 mmHg).
Pengukuran gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma. Tes provokatif : menentukan adanya/tipe glaucoma. Oftalmoskopi :
mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, dan
perdarahan. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi. EKG,
kolesterol serum, lipid, tes toleransi glukoma : kontrol DM.

93
Pada kasus telah dilakukan pemeriksaan penunjang mesin telebinokuler :
mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor,
kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf, dan penglihatan ke retina. Lapang
penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis, glukoma.
Pengukuran tonografi : TIO (12-25 mmHg). Sehingga dokter menganjurkan
untuk melakukan tindakan operasi katarak yang akan dilakukan pada tanggal
13 April 2017 kepada Ny.E.

Menurut Abraham Maslow terdapat 5 kategori kebutuhan dasar seperti


kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan rasa
cinta dan dicintai, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Tetapi
dari keluarga Tn.A khususnya Ny.E tidak mendapatkan kebutuhan fisiologis
karena mengalami kesulitan dalam melihat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dalam penyusunan diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan antara
kasus dan teori. Menurut teori diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan
NANDA (1995) dalam Setiadi (2008) adalah: kelompok diagnosa pertama
adalah aktual yang terdiri dari gangguan persepsi sensorik penglihatan. Masalah
ini memberikan gambaran berupa tanda dan gejala yang jelas mendukung
bahwa benar-benar terjadi yaitu kehilangan penglihatan secara bertahap, pupil
berwarna seperti putih susu, penglihatan ganda saat melihat suatu benda dengan
satu mata dan penglihatan menjadi berkabut. Kemudian kelompok diagnosa
kedua adalah resiko (ancaman kesehatan) yang terdiri dari resiko terhadap
cidera b/d keterbatasan penglihatan, resiko jatuh, resiko terjadi infeksi pada
mata. Kelompok diagnosa yang terakhir adalah potensial peningkatan
pemeliharaan kesehatan, potensial peningkatan proses keluarga, potensial
peningkatan koping keluarga, potensial peningkatan menjadi orang tua,
potensial penampilan peran, dan potensial dalam penatalakasanaan
pemeliharaan rumah.

Sedangkan pada kasus penulis hanya memunculkan diagnosa aktual


yaitu Gangguan persepsi sensorik : pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E

94
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit katarak. Penulis mengangkat diagnosa aktual karena Ny.E
mengalami masalah yang nyata sehingga tidak perlu mengangkat diagnosa
keperawatan resiko. Sementara diagnosa potensial tidak ditegakan karena saat
ini keluarga belum dapat memenuhi kebutuhhan kesehatan dan belum
mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan untuk
ditingkatkan.

Dalam menentukan prioritas masalah keperawatan, penulis tidak


mengalami kesulitan karena keluarga kooperatif dan mengerti skoring setelah
diarahkan oleh penulis. Pada tinjauan kasus peulis mendapatkan 2 masalah
keperawatan keluarga dan telah ditentukan prioritas masalah keperawatan
sebagai berikut:

No Diagnosa keperawatan Skore


1. Gangguan persepsi sensori penglihatan (Katarak) pada 4
keluarga Tn.A khususnya Ny.E berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga yang sakit.
2. Cemas pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E berhubungan 3 4/3
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang tindakan
operasi.

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Rencana tindakan keperawatan keluarga diarahkan untuk mengubah
pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga, sehingga pada akhirnya keluarga
mampu memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarganya dengan bantuan
minimal dari perawat. Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian
dalam proses keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan
(jangka panjang/ pendek), penempatan standart dan kriteria serta menentukan
perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga (Setiadi, 2008). Pada tinjauan
kasus rencana keperawatan diprioritaskan pada masalah ketidakefektifan

95
bersihan jalan napas karena masalah ini merupakan masalah yang sedang terjadi
(nyata) dibandingkan dengan diagnosa kedua.

Pada diagnosa keperawatan yang pertama yaitu Gangguan persepsi


sensorik pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E b.d Ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang sakit katarak. Penulis bersama keluarga
merencankana untuk melakukan TUK 1 – 5 dalam bentuk kegiatan penyuluhan
kesehatan tentang KATARAK mulai dari pengertian, penyebab, tanda gejala,
akibat dan cara perawatan mata KATARAK. Kemudian melakukan kegiatan
psikomotorik berupa cara perawatan mata, modifikasi lingkungan dan
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

Tidak terdapat kesenjangan antara rencana tindakan keperawatan keluarga


pada kasus maupun teori, dimana penulis melibatkan keluarga dalam
penyusunan rencana keperawatan keluarga dan dapat diterima oleh keluarga.
Selain itu penulis mrencanakan untuk melakukan penyuluhan disetiap masalah
pada keluarga untuk mencegah resiko terjadinya masalah dengan tindakan
promotif seperti penyuluhan kesehatan.

D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari


rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi,
2008). Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan penulis melakukan sesuai
rencana yang telah disusun bersama keluarga Ny.E. Dalam pelaksanaan
keperawatan tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus, namun saat
pelaksanaan tindakan keperawatan mengalami sedikit hambatan dikarenakan
setiap melakukan tindakan tidak semua anggota keluarga Ny.E hadir. Namun
penulis memberikan saran kepada anggota keluarga Ny.E yang hadir agar dapat
memberitahu kepada anggota keluarga yang tidak hadir. Selain itu penulis juga
memberikan leaflet untuk bisa dibaca dan dipelajari oleh seluruh anggota
keluarga Ny.E.

96
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi adalah perbandingan sistematis dan terencana tentang kesehatan
keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.
Evaluasi disusun mengunakan SOAP secara operasional dengan tahapan
sumatif (hasil) dan formatif (proses) (Setiadi, 2008).

Dalam membuat evaluasi tidakterdapat kesenjangan antara teori dengan


kasus. Karena pada tinjauan kasus, penulis telah membuat evaluasi proses setiap
hari (evaluasi formatif) setelah melakukan tindakan. Kemudian setelah waktu 3
x 24 jam yang telah ditentukan saat membuat perencanaan melakukan asuhan
keperawatan, penulis membuat evaluasi akhir berupa SOAP (evaluasi sumatif).
Dari evaluasi hasil tersebut, analisa masalah untuk diagnosa Gangguan persepsi
sensori penglihatan (Katarak) pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga yang sakit adalah masalah
teratasi karena dikarenakan Ny.E telah memeriksakan mata kirinya ke layanan
kesehatan rumah sakit dan akan dilakukan tindakan operasi katarak pada
tanggal 13 April 2017. Kemudian keluarga sudah mampu menyebutkan kembali
pengertian sampai cara perawatan mata KATARAK. Ny.E dan keluarga dapat
melakukan dengan benar perawatan mata. Namun keluarga belum mampu
menerapkan modifikasi lingkungan yang bersih dan memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang ada.

Tindak lanjut dari penulis menyarankan kepada keluarga Ny.E selalu


menjaga kesehatan pada seluruh anggota keluarga serta melakukan perawatan
mata, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan.

97
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah penulis membahas asuhan keperawatan dengan perbandingan antara teori
dan kasus dilapangan, kemudian penulis dapat mengambil kesimpulan dan saran
sebagai berikut: Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata
sehingga penglihatan menjadi buram. Tanda dan gejala yaitu seperti pandangan
menjadi samar-samar dan kabur.

1. Pengkajian pada keluarga Ny.E dengan masalah KATARAK dengan


menggunakan teknik wawancara, sehingga didapatkan keluhan yang sedang
dirasakan. Ny.E mengatakan “penglihatan menjadi buram dan sulit untuk
melihat.”
2. Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan adalah Gangguan persepsi
sensori penglihatan (Katarak) pada keluarga Tn.A khususnya Ny.E
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit katarak.
3. Rencana keperawatan disusun bersama keluarga adalah memberikan
penyuluhan kesehatan KATARAK mulai dari pengertian sampai cara
perawatan KATARAK, modifikasi lingkungan, dan motivasi keluarga
menggunakan fasilitas layanan kesehatan.
4. Tindakan keperawatan yang dilakukan merupakan implementasi dari rencana
yang telah disusun bersama keluarga. Meliputi: melakukan penyuluhan
kesehatan KATARAK menjelaskan mulai dari pengertian, penyebab, tanda
gejala, akibat katarak dengan menggunakan lembar balik. Kemudian
melakukan kegiatan psikomotorik berupa mendemonstrasikan cara perawatan
mata katarak, modifikasi lingkungan rumah dan memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang ada.
5. sampai cara perawatan KATARAK, membantu modifikasi lingkungan, dan
memotivasi keluarga memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan.
6. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan SOAP yang dilakukan setiap hari sampai
tanggal 13 April 2017. Evaluasi yang diperoleh adalah Ny.E dan keluarga dapat

98
menyebutkan kembali pengertian sampai cara perawatan KATARAK. Ny.E
dan keluarga dapat melakukan dengan benar cara perawatan mata. Tindak lanjut
dari penulis menyarankan kepada keluarga Ny.E selalu menjaga kesehatan pada
seluruh anggota keluarga serta melakukan cara perawatan mata, memodifikasi
lingkungan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan.

B. SARAN
Penulis memberikan saran kepada beberapa pihak terkait, diharapkan dapat
membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga Tn.A
khususnya Ny.E dengan penyakit KATARAK dan saran tersebut yaitu:
1. Puskesmas
Diharapkan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan hendaknya
dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan kartu kesehatan sehingga
masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hal ini dapat didukung
dengan adanya kegiatan pendataan setiap KK yang sudah maupun belum
memiliki kartu kesehatan, dan melakukan kegiatan Dor to Dor untuk
memantau kondisi lingkungan rumah.
2. Profesi perawat
Diharapkan dalam melakukan asuhan keperawatan hendaknya perawat
setelah melakukan penyuluhan memberikan leaflet atau bacaan tertulis
sehingga bisa dibaca kembali oleh keluarga serta dapat bermanfaat untuk
keluarga yang tidak hadir saat dilakukan tindakan penyuluhan.
3. Institusi pendidikan
Diharapkan dapat melengkapi buku-buku sebagai referensi dengan terbitan
tahun terbaru yang berkaitan dengan maslah-masalah asuhan keperawatan
keluarga, sehingga dapat mempermudah mahasiswa dalam menyusun karya
tulis ilmiah yang berikutnya
4. Klien dan keluarga
Diharapkan dapat menjaga pola hidup sehat dan menjaga lingkungan tetap
bersih guna mencegah terjadinya KATARAK. Serta mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang terjangkau dan ekonomis seperti puskesmas atau
klinik.

99
DAFTAR PUSTAKA

Billotta, Kimberly A.J. (2011). Kapita Selekta Penyakit. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Friedman, (1998). Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.

Huda, dkk. (2015). Aplikasi AsuhanKeperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA NIC NOC. Jakarta : Mediaction.

IIyas, Sidarta. (2015). Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Jakarta : FKUI.

Istiqomah, Indriana N. (2012). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata.


Jakarta : EGC.

Kozier, B dkk. (2010). Buku ajar fundamental keperawatan : konsep, proses, dan
praktik keperawatan. Edisi 7. Jakarta : EGC.

Laporan Nasional Riskesdas. (2007). Prevalensi Katarak. http://www.k4health.org


Diakses tanggal 07 Februari 2017 jam 11.00 WIB.

Laporan Nasional Riskesdas. (2013). Prevalensi Katarak. http://www.depkes.go.id


Diakses tanggal 08 Februari 2017 jam 10.00 WIB.

Malau, R. G. (2015). Karakteristik Pasien Katarak Senilis di RSUP Adam Malik.


http://repository.usu.ac.id Diakses tanggal 06 Februari 2017 jam 10.00
WIB.

Potter, Patricia A. & Perry, Ane G. (2010). Fundamental Of Metal Edisi Tiga
Jilid Tujuh. Jakarta:EGC.

Setiadi. (2008). Konsep dan keperawatan keluarga Edisi 1. Yogyakarta : Graham


Ilmu.

Susanto, Tantut. (2012). Buku ajar keperawatan keluarga : Aplikasi pada praktik
asuhan keperawatan keluarga .Edisi 1. Jakarta : Trans Info media.

Tamsuri, Anas. (2011). Klien gangguan mata & penglihatan. Jakarta : EGC.

100
SATUAN ACARA PENYULUHAN

KATARAK

Pokok bahasan : KATARAK

Sub pokok bahasan : pengertian resiko tinggi terkena katarak tanda dan gejala cara
penanganan cara penularan cara pencegahan.

Sasaran : Keluarga Tn.A khususnya Ny.E

Tempat : Rumah Tn.A

Penyuluh : Ayu Nila Sari

1. Tujuan Umum

setelah dilakukan pendidikan kesehatan keluarga Tn.A khususnya Ny.E dan


keluarga mengerti, memahami, dan mengetahui katarak secara baik dan benar.

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1×60 menit diharapan keluarga
Tn.A dapat mengikuti tentang :
a. Pengertian katarak
b. Penyebab katarak
c. Tanda-tanda katarak
d. Resiko tinggi terkena katarak
e. Cara penanganan
f. Cara pencegahan

3. Strategi pelaksanaan
Metode : Ceramah dan diskusi
Media : Leaflet dan lembar balik

101
4. Proses Pelaksanaan.

NO ACARA WAKTU KEGIATAN PESERTA


PENYULUHAN
1. Pembukaan 10 menit a. Mengucapkan salam Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri menyetujui
c. Menyampaikan tentang kontrak menyimak
tujuan pokok materi dari
d. Menyampaikan pokok mendengarkan isi
pembahasan materi
e. Kontrak waktu

2. Pelaksanaan 30 menit Penyampaian materi -Mendengarkan


tentang : dan menyimak
a. Pengertian katarak. -Bertanya
b. Penyebab katarak mengenai hal-hal
c. Tanda-tanda dan gejala yang belum jelas
katarak dan dimengerti
d. Resiko tinggi katarak
e. Cara penanganan
katarak
f. Cara pencegahan
katarak
3. Penutup 20 menit a. Melakukan evaluasi, -Sasaran dapat
Keluarga Tn.A menjawab tentang
khususnya Ny.E pertanyaan yang
mampu : Pengertian diajukan
katarak. -Mendengarkan
1. Menjelaskan tentang -Memperhatikan
pengertian katarak. Menjawab salam

102
2. Menjelaskan tentang
penyebab katarak
3. Menjelaskan tentang
tanda-tanda dan gejala
katarak
4. Menjelaskan tentang
resiko tinggi katarak
5. Menjelaskan tentang
cara penanganan
katarak
6. Menjelaskan tentang
cara pencegahan
katarak
b. Menyampaikan
kesimpulan materi
c. Mengakhiri pertemuan
dan menjawab salam

Media penyuluh

penyaji

Perserta
penyuluhan

F. KRITERIA EVALUASI

1. keluarga mampu memahami pengertian katarak.

2. keluarga mampu memahami tanda dan gejala katarak

103
3. keluarga mampu memahami penyebab katarak

4. keluarga mampu mengetahui resiko fungsi katarak.

5. keluarga mampu mengetahui cara penanganan

6. keluarga mampu mengetahui cara pencegahan.

G. MATERI

1. Pengertian katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa


yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina. Katarak
merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap
yang ditimbulkan oleh katarak.

2. Penyebab katarak
a. Katarak senil
Perubahan kimia di protein lensa pada pasien lansia
b. Katarak kongenital kesalahan metabolisme bawaan infeksi
rubella ibu trismester I
c. Katarak traumatik
Benda asing menyebabkan tumor akseus atau viterus masuk ke
kapsul lensa.
d. Katarak komplikasi :
1) Uvetis
2) Glaukoma
3) Pigmentosa retinitis
4) Ablasio retino
5) Diabetes
6) Hipoparatiroidisme
7) Dermatitis optic

e. Tanda dan gejala :

104
1) Penglihatan tidak jelas seperti terdapan kabut yang
menghalangi mata.
2) Peka terhadap sinar atau cahaya
3) Dapat melihat dobel pada satu mata.
4) Memerlukan pencahayaan yang baik.

f. Resiko tinggi katara

Katarak dapat menyebabkan kehilangan penglihatan jika tidak


di tangani segera.

3. Untuk perawatan katarak dirumah


a. Menyiapkan alat (kapas kom dan air hangat).
b. Mencuci tangan.
c. Membasahkan kapas lalu mengusapkan kapas dari dalam dan
keluar.
4. Cara pencegahan katarak :
a. Hindari paparan asap rokok
b. Konsumsi makan sehat
c. Lindungi mata dari sinar UV
d. Pemeriksaan mata secara teratur
e. Jangan minum alkohol
f. Konsumsi makanan yang tinggi vit.c dan vit.e
g. Turunkan berat badan jika obesitas
h. Konsumsi makanan sehat
i. Batasi konsumsi garam.
j. Biasakan cukup tidur.

105
Gejala umum gangguan katarak

meliputi :

1. Penglihatan tidak jelas, seperti


Dik-

lasifikasikan menurut penyebab terdapat kabut menghalangi

 Katarak senil objek


Tau gak sih apa itu KATARAK ?
Perubahan kimia di protein lensa pada 2. Peka terhadap sinar atau
Katarak adalah kekeruhan lensa
pasien lansia
mata atau kapsul lensa yang cahaya
 Katarak kongenital
mengubah gambaran yang di 3. Dapat melihat dobel pada satu
Kesalahan metabolism bawaan Infeksi
proyeksikan pada retina. Kata-
mata
rak merupakan penyebab umum rubella ibu pada trimester pertama

kehilangan pandangan secara Anomali kongenital Penyebab genetic. 4. Memerlukan pencahayaan yang

bertahap derajad disabilitas  Katarak traumatik

yang di timbulkan oleh katarak Benda asing menyebabkan humor akueus


dipengaruhi oleh lokasi dan den- atau vitreus masuk ke kapsul lensa.
sitas keburaman. Intervensi di
 Katarak komplikasi
identifikasikan jika visus menu-
 Uveitis
run sampai batas klien tidak
 Glukoma
dapat menerima perubahan dan
merugikan atau mempengaruhi  Pigmentosa retinitis

gaya hidup klien(visus 5/15).  Ablasio retino

Katarak biasanya mempengaruhi  Diabetes


kedua mata tetapi masing-  Hipoparatiroidisme
masing berkembang secacara  Dermatitis atopic
independen. Perkecualian kata-
 Katarak kongenital  Katarak komplikasi

Katarak kongenital adalah jenis katarak yang Katarak mata komplikasi merupakan jenis kat
sudah ada sejak dalam kandungan atau juga rak yang diakibatkan dari infeksi mata atau
timbul setelah dilahirkan. Umumnya penyakit juga dari akibat penyakit mata lainnya.
mata katarak ini disebabkan oleh infeksi serta keseluruhan.
 Katarak sekunder
kelainan pada metabolisme ketika pembe Cara mencegah katarak yang bisa di lakukan :
Jenis mata katarak sekunder ini dapat diseba
tukan 1. Hindari paparan asap rokok
kan oleh jenis obat-obatan tertentu seperti
prednisone dan kortikosteroid serta obat yang 2. Konsumsi makanan sehat

diminum oleh penderita penyakit diabetes. 3. Lindungi mata dari sinar UV

Umumnya orang yang menederita penyakit 4. Pemeriksaan mata secara teratur

diabetes akan terserang mata katarak sepuluh 5. Jangan minum alcohol

kali lebih besar dari pada oleh populasi secara 6. Konsumsi makanan tinggi vitamin C
7. Konsumsi makanan sumber beta karotin
8. Konsumsi makanan tinggi vitamin E
janin. Jenis katarak ini bisa ada karena 9.Turunkan berat badan jika obesitas
adanya infeksi pada saat ibu mengandung, 10. Batasi konsumsi garam
terutama pada proses kehamilan bulan ke tiga, 11. Biasakan cukup tidur
namun jenis katarak kongenital ini sangat j
rang terjadi.
 Katarak traumatik

Biasanya katarak jenis ini terjadi karena pe


derita mengalami kecelakaan pada mata sepe
ti karena mata terbentur sesuatu yang
mengakibatkan mata robek atau juga penderita
mengalami kecelakaan karena mata tertusuk
hingga menembus lensa mata.

Anda mungkin juga menyukai