Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

“PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANTIPIRETIKA”

Golongan W

Kelompok 2

Margaretha Vita Ribeiro 2443017146


Faniesha Alia Arsady 2443018099
Dinda Listya Kusumawati 2443018138
Honoratia Stelladezy Boko P. 2443018143
Grace Jeane Carolin L. 2443018148
Sintya Prasadika Tanod 2443018165

ASISTEN : Ida Ayu Andri P

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2020
BAB I
TUJUAN PRAKTIKUM

1.1 Mengenal metode pengujian antipiretik dan menerapkannya.


1.2 Mengenal obat antipiretik dan cara kerjanya.
1.3 Mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Teori Obat Uji


2.1.1 Struktur Obat
Paracetamol

Nama Kimia:4’Hidroksiasetanilida
Rumus Molekul : C8H9NO2
Berat Molekul : 151.16 g/mol
Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N; mudah larut
dalam etanol. Kadar Bahan Aktif : Tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dan 101,0
% C8H9NO2.
Titik lebur : 168° - 172°
Golongan Obat : Obat Antipiretik (Farmakope Indonesia Edisi V )

2.1.2. Farmakokinetik

Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi


tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3
jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat
protein plasma. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian
asetaminofen (80%) dikonjugasi dengan asam glukuronat dan sebagian kecil lainnya
dengan asam sulfat. Selain itu obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit
hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit,
obat ini diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian
besar dalam bentuk terkonjugasi. (Farmakologi RMIK 2017)

2.1.3. Farmakodinamik
Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan hanya pada
keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in
vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik, karena bersifat toksik bila digunakan
secara rutin atau terlalu lama. Ini berkaitan dengan hipotesis bahwa COX yang ada di
sentral otak terutama COX-3 dimana hanya parasetamol dan obat AINS lainnya dapat
menghambat. Fenilbutazon dan antireumatik lainnya tidak dibenarkan digunakan
sebagai antipiretik atas alasan tersebut. Pada dosis terapi, salah satu metabolit
Parasetamol bersifat hepatotoksik, didetoksifikasi oleh glutation membentuk asam
merkapturi yang bersifat non toksik dan diekskresikan melalui urin, tetapi pada dosis
berlebih produksi metabolit hepatotoksik meningkat melebihi kemampuan glutation
untuk mendetoksifikasi, sehingga metabolit tersebut bereaksi dengan sel-sel hepar dan
timbulah nekrosis sentro-lobuler. Oleh karena itu pada penanggulangan keracunan
Parasetamol terapi ditujukan untuk menstimulasi sintesa glutation. Dengan proses
yang sama parasetamol juga bersifat nefrotoksik. (Katzung 2011)

2.1.4. Indikasi

Paracetamol merupakan pilihan pertama bagi penanganan demam dan nyeri sebagai
antipiretik dan analgesik. Paracetamol digunakan bagi nyeri yang ringan sampai
sedang. (Katzung 2011)

2.1.5. Kontraindikasi

Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan penderita hipertsensitifitas terhadap
obat ini. Parasetamol juga di indikasikan pada pasien dengan riwayat alergi terhadap
obat ini. Pendarahan saluran cerna efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak
terlihat pada obat ini demikian juga pernapasan dan gangguan keseimbangan asam
basa. (Tjay dan Rahardja. 2002)

2.1.6. Dosis

Parasetamol dosis 140 mg/kg pada anak-anak dan 6 gram pada orang dewasa
berpotensi hepatotoksik. Dosis 4g pada anak-anak dan 15g pada dewasa dapat
menyebabkan hepatotoksitas berat sehingga terjadi nekrosis sentrolobuler hati. Dosis
lebih dari 20g bersifat fatal. Pada alkoholisme, penderita yang mengkonsumsi obat-
obat yang menginduksi enzim hati, kerusakan hati lebih berat, hepatotoksik
meningkat karena produksi metabolit meningkat. (Tjay dan Rahardja. 2002)
2.1.7. Efek Samping

Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa


eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa.
Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian kronik.
Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme autoimmune, defisiensi
enzim G6PD dan adanya metabolit yang abnormal. (Tjay dan Rahardja. 2002)

2.2. Landasan Teori Metode Pengujian Obat

Pada metode kali ini, dilakukan pengujian terhadap obat antipiretik. Pengujian ini
dilakukan dengan menggunakan uji antipiretik yang menggunakan ear thermometer
b-braun.
Metode pengujian efek antipiretik yang dilakukan dalam praktikum ini adalah induksi
pepton 5%. (Ibrahim,N.,Yusriadi.,dan Ihwan., 2014). Pepton merupakan protein yang
digunakan sebagai induser demam pada tikus. Pengujian antipiretik dilakukan pada
hewan yang kondisinya dalam keadaan demam, untuk itu dilakukan demam buatan
menggunakan metoda induksi larutan pepton 5%.
Semua tikus yang mengalami peningkatan suhu tubuh > 0,60 C dapat dikategorikan
demam. Efek antipiretik dikatakan meningkat jika setelah perlakuan terjadi penurunan
suhu rektal tikus. (Juwita, D.A.,Noviza,D, dan Erizal., 2015).
BAB III

METODE PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT

3.1. Alat dan Bahan

3.1.1. Alat

 Alat suntik 1 mL
 Ear thermometer B-Braun
 Jarum suntik
 Timbangan tikus

3.1.2. Bahan

 Pepton 5%
 Paracetamol 10 mg/mL

3.2. Perhitungan Pepton

 Diketahui :
Bobot mencit : 13 g
Dosis pepton 5% : 1 mL/200grBB
Jawab : 1 mL × 0,14 = 0,14 mL
13 gram
× 0,14 mL=0,091 mL
20 gram
 Diketahui :
Bobot mencit : 16 g
Dosis pepton 5% : 1 mL/200grBB
Jawab : 1 mL × 0,14 = 0,14 mL
16 gram
× 0,14 mL=0 ,112 mL
20 gram
 Diketahui :
Bobot mencit : 21 g
Dosis pepton 5% : 1 mL/200grBB
Jawab : 1 mL × 0,14 = 0,14 mL
21 gram
× 0,14 mL=0 , 147 mL
20 gram
 Diketahui :
Bobot mencit : 27 g
Dosis pepton 5% : 1 mL/200grBB
Jawab : 1 mL × 0,14 = 0,14 mL
27 gram
× 0,14 mL=0 , 189 mL
20 gram
3.3. Perhitungan Dosis Obat
 Diketahui :
Berat mencit : 13 g
Dosis paracetamol: 1,3 mg/20grBB
Sediaan yang tersedia: Parasetamol solutio 25mg/mL
Jawab :
13 gram
Dosis untuk mencit 13 gram: × 1,3 mg=0,845 mg
20 gram
0,845 mg
Vp : ×1 mL=0,0338 mL
25 mg
0,05
FP : =1,47 kali 2 kali
0,0338
Vp setelah pengenceran: 0,0338 × 2 = 0,0676 mL

 Diketahui :
Berat mencit : 16 g
Dosis paracetamol: 1,3 mg/20grBB
Sediaan yang tersedia: Parasetamol solutio 25mg/mL
Jawab :
16 gram
Dosis untuk mencit 16 gram: × 1,3 mg=1,04 mg
20 gram
1,04 mg
Vp : ×1 mL=0,0 416 mL
25 mg
0,05
FP : =1,20 kali 2 kali
0,0 416
Vp setelah pengenceran: 0,0416 × 2 = 0,0832 mL

 Diketahui :
Berat mencit : 21 g
Dosis paracetamol: 1,3 mg/20grBB
Sediaan yang tersedia: Parasetamol solutio 25mg/mL
Jawab :
21 gram
Dosis untuk mencit 21 gram: × 1,3 mg=1,365 mg
20 gram
1,365 mg
Vp : × 1 mL=0,0546
25 mg

 Diketahui :
Berat mencit : 27 g
Dosis paracetamol: 1,3 mg/20grBB
Sediaan yang tersedia: Parasetamol solutio 25mg/mL
Jawab :
27 gram
Dosis untuk mencit 27 gram: × 1,3 mg=1,75 5 mg
20 gram
1,755 mg
Vp : × 1mL=0,0 702
25 mg
BAB IV

SKEMA KERJA

Menimbang berat badan mencit

Mengukur suhu tubuh mencit sebelum perlakuan (T=0) dengan memasukan


ear thermometer pada telinga bagian luar mencit.

Menyuntikkan pepton 5% melalui rute subkutan pada bagian tengkuk mencit sebagai
induktor panas.

Setelah 2 jam, suhu tubuh mencit diukur kembali dan apabila terjadi peningkatan suhu
sebesar 20C berikan paracetamol secara per oral sesuai dosis yang telah ditentukan per
kelompok.

Kemudian, mengukur kembali suhu tubuh mencit setelah diberikan paracetamol, yaitu pada
menit ke- 15’, 30’,45’,60’dan 90’.
BAB V

HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil

5.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan pengujian aktivitas dari obat Antipiretik
pada hewan coba mencit jantan galur swiss webster dengan menyuntikkan pepton 5%
sebagai penginduksi panas secara subkutan dan memberikan paracetamol dengan
dosis 1,3 mg/20g BB secara per oral.

Dari data praktikum yang didapatkan oleh masing-masing kelompok, kelompok 1


menunjukkan bahwa suhu tubuh mencit sebelum diinduksi oleh pepton adalah 36.1̊ C.
Setelah pemberian paracetamol pada menit ke-0 hingga menit ke-30 suhu tubuh
mencit terus meningkat akibat induksi dari pepton dan pada menit ke-45 suhu tubuh
mencit mulai menurun perlahan karena efek dari paracetamol mulai bekerja hingga
menit ke-90 setelah pemberian paracetamol.

Pada kelompok 2, suhu tubuh mencit sebelum diinduksi oleh pepton menunjukkan
36.3̊ C. Setelah pemberian paracetamol, suhu tubuh mencit pada menit ke-0 hingga
menit ke-30 masih mengalami peningkatan akibat induksi dari pepton. Namun, pada
menit ke-30 hingga menit ke-90 setelah pemberian paracetamol suhu tubuh mencit
menurun perlahan hingga 37.2̊ C karena efek antipiretik dari paracetamol mulai
bekerja.

Pada kelompok 3, suhu tubuh mencit sebelum induksi dari pepton menunjukkan 35.9̊
C. Setelah pemberian paracetamol, suhu tubuh masih meningkat hingga menit ke-30
akibat induksi dari pepton. Suhu tubuh mencit mulai menurun pada menit ke-45
setelah pemberian paracetamol yang menandakan efek dari paracetamol mulai mulai
bekerja menurunkan demam mencit.

Pada kelompok 4, suhu tubuh mencit normal saat belum diinduksi pepton adalah 35.8̊
C. Setelah pemberian paracetamol suhu tubuh mencit masih terus meningkat hingga
menit ke-30 akibat induksi dari pepton. Namun, pada menit ke-45 setelah pemberian
paracetamol suhu tubuh dari mencit menurun secara perlahan yang menandakan efek
antipiretik dari paracetamol mulai bekerja.

Dari data yang sudah didapatkan, menunjukkan bahwa mencit yang suntik dengan
pepton akan mengalami kenaikan suhu tubuh (demam). Hal ini disebabkan karena
pepton merupakan senyawa yang bersifat pirogen (dapat memicu kenaikan suhu atau
demam), sehingga setelah pemberian pepton suhu tubuh mencit meningkat.
Pada hasil keempat kelompok menunjukkan bahwa ada penurunan suhu tubuh mencit
pada menit ke-45 setelah pemberian paracetamol, hal ini karena onset of action dari
paracetamol sendiri sekitar 30 menit hingga 1 jam. Sehingga pada menit tersebut
mencit mengalami penurunan suhu tubuh.

Paracetamol dapat menurunkan suhu tubuh dengan cara menghambat enzim


siklooksigenase yang berperan dalam sintesis prostaglandin E2, sehingga dapat
mengurangi penekanan neuron yang sensitif terhadap panas dan dapat mengatur ulang
menjadi suhu tubuh yang lebih rendah.
BAB VI

USULAN PENELITIAN

Pada usulan penelitian untuk uji antipiretik kali ini, kami mempunyai rekomendasi
pengujian dengan menggunakan hewan percobaan tikus galur wistar jantan.
Penginduksi panas yang digunakan adalah vaksin DTP HB. Mekanisme vaksin DPT
dalam menyebabkan demam, adalah dikarenakan adanya toksin mikroba
Bordetella pertusis yang terdapat dalam vaksin, sebagai respon dalam pertahanan
tubuh (pirogen eksogen) yang dimana akan menginduksi pirogen endogen akan
terstimulasi dengan melepaskan asam arakhidonat di hipotalamus yang selanjutnya
diubah menjadi prostaglandin. Di hipotalamus anterior juga kaya akan serotonin dan
norepinefrin yang dapat menyebabkan terjadinya demam .Penginduksian vaksin DTP
HB dilakukan secara intramuscular, dan pengukuran suhunya dilakukan pada rektal.
Sebelum diinduksi dengan Vaksin DTP, tikus harus dipuasakan selama 8 jam.
BAB VII

KESIMPULAN

 Pepton merupakan senyawa yang bersifat pirogen (memicu kenaikan suhu tubuh atau
demam).
 Pada menit ke-30 setelah pemberian paracetamol suhu tubuh mencit mulai menurun
karena efek antipiretik dari paracetamol yang bekerja mulai 30 menit hingga 1 jam
setelah pemberian.
 Paracetamol memiliki efek sebagai antipiretik karena pada saat mencit diinduksikan
dengan pepton, suhu tubuh mencit mulai meningkat tetapi setelah diberikan
paracetamol, suhu tubuh mencit mulai menurun.
DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM Departemen Kesehatan RI., (1995), Farmakoterapi Indonesia, Edisi V.,Jakarta.


Kalay, S., Bodhi, W., and Yamlean, P.V.Y. 2014,Uji Efek Antipiretik Ekstrak Etanol dan
Prasman (Eupatorium triplinerve Vahl.) pada Tikus Jantan Galur Wistar (Rattus Norveg0icus
L.) yang Diinduksi Vaksin DTP HB , Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(3): 182-187
Katzung, B.G.,2011. Basic And Clinical Pharmacology
Tjay dan Rahardja, 2002, Obat-obat Penting, Khasiat, Pengunaaan dan Efek Sampingnya,
Edisi V, PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai