Anda di halaman 1dari 48

Nilai

Tanggal Revisi

Tanggal Terima

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

PANAS JENIS & KALORIMETER

Disusun Oleh:

Nama Praktikan : Gega Azzrafitrullah Esfafate


NIM : 3331200056
Jurusan : Teknik Mesin
Grup :C2
Rekan : Aris Firdaus, Muhammad Rifqi, Narendra Putra V
Tgl. Percobaan : 5 November 2020
Asisten : Akbar Vandito

LABORATORIUM FISIKA TERAPAN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON – BANTEN
2020

Jl. Jenderal Sudirman Km. 03 Cilegon 42435 Telp. (0254) 385502, 376712
Fax. (0254) 395540 Website: http://fisdas.untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id
ABSTRAK
Bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara
bebas dan periode yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang
mempunyai ayunan. Gerak bandul merupakan gerak harmonik sederhana yang
terdiri dari tali dengan panjang (L) dan beban bermassa m. Gaya yang bekerja pada
beban adalah beratnya mg dan tegangangan (T) pada tali. Bandul terbagi menjadi
2, yaitu bandul Matematis dan bandul Fisis. Sistem kerja pada bandul Fisis lebih
kompleks dari pada bandul Matematis. Pengaplikasian pada percobaan ini dapat
kita lihat pada jam dinding kuno yang mempunyai ayunan. Percobaan ini bertujuan
untuk memahami konsep Bandul Reversibel dan Mencari tahu Percepatan pada
planet bumi. Prosedur percobaan ini diawali dengan cara memberi jarak antara dua
mata pisau, pastikan beban A memiliki jarak tertentu dari mata pisau pertama, dan
beban B juga harus memiliki jarak antara pisau pertama, simpangkan Bandul lalu
lepaskan, lalu ubah mata pisau yang menjadi titik tumpu, ulangi percobaan tersebut
secara terus menerus. Dari percobaan tersebut maka akan didapat nilai periodenya
dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan osilasi dengan jumlah yang
ditentukan, lalu nilai periode bandul dapat digunakan untuk mencari percepatan
Gravitasi bumi. Pada periode 1,4 s dimana memiliki Percepatan Gravitasi
percobaan sebesar 10,07 m/s2 dan memiliki persentase kesalahan sebesar 0,02%.
Pada periode 1,395 s dimana memiliki Percepatan Gravitasi percobaan sebesar
10,14 m/s2 dan memiliki persentase kesalahan sebesar 0,03%.

Kata Kunci : Bandul, Bandul Matematis, Bandul Fisis, Bandul Reversibel,


Gravitasi
i
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK....................................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

DAFTAR TABEL ......................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................v

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................1


1.2 Tujuan Percobaan .................................................................1
1.3 Batasan Masalah ...................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suhu .................................................................................. 2


2.2 Kalor ................................................................................. 3
2.3 Perpindahan Kalor ............................................................ 4
2.4 Panas Jenis ........................................................................ 6
2.5 Konsep tempratur ............................................................. 7
2.6 Hukum Termodinamika .................................................... 9
2.7 Asas Black ........................................................................ 9
2.8 Kalorimeter ....................................................................... 10
BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir Percobaan .....................................................13


3.2 Prosedur Percobaan ............................................................16
3.3 Alat yang Digunakan ..........................................................17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan ..................................................................18


4.2 Pembahasan ........................................................................22
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan .........................................................................26


5.2 Saran ...................................................................................26

ii
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

LAMPIRAN A. PERHITUNGAN...............................................................28
LAMPIRAN B. JAWABAN PERTANYAAN DANTUGAS KHUSUS ...31
LAMPIRAN C. GAMBAR ALAT YANG DIGUNAKAN ................. 35
LAMPIRAN D. BLANKO PERCOBAAN .................................................38

iii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 3.1 Alat Yang digunakan ..................................................................... 17


Tabel 4.1 Percobaan pada Tembaga................................................................ 18
Tabel 4.2 Percobaan pada Aluminium ............................................................ 18
Tabel 4.3 Ralat Langsung Kalorimeter Kosong .............................................. 18
Tabel 4.4 Ralat Langsung Pengaduk ............................................................... 18
Tabel 4.5 Ralat Langsung Kalorimeter dengan Air ........................................ 19
Tabel 4.6 Ralat Langsung Kubus Tembaga .................................................... 19
Tabel 4.7 Ralat Langsung Kubus Aluminium................................................. 19

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Grafik Perubahan Es.......................................................................... 7


Gambar 2.2 Perubahan fase zar Benda ................................................................. 8
Gambar 3.1 Diagram alir Percobaan ................................................................... 16

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran A. Perhitungan .................................................................................. 28


Lampiran B. Jawaban Pertanyaan dan Tugas Khusus ...................................... 31
B.1 Jawaban Pertanyaan ............................................................... 32
Lampiran C. Gambar Alat Yang Digunakan..................................................... 34
Lampiran D. Blangko Percobaan ...................................................................... 38

vi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kalor didefinisikan sebagai energi yang berpindah dari zat yang bersuhu
tinggi ke zat yang bersuhu rendah. Kalor dapat diartikan juga perpindahan energi
antara benda yang saling bersentuhan. Pengertian dari kalor berbeda dari suhu.
Karena suhu merupakan tingkatan panas atau dingin suatu benda. Sedangkan kalor
adalah banyaknya energi panas yang terdapat pada benda. Setiap senyawa
mempunyai perbedaan jumlah panas yang digunakan untuk menaikkan temperatur
dalam jumlah massa tertentu. Rasio jumlah energi panas ∆Q yang diberikan pada
suatu badan untuk menaikkan temperatur ∆T. hal tersebut disebut Panas Jenis
Oleh karena itu, kita ingin mencari nilai panas jenis dari suatu kubus materi
(material) menggunakan percobaan kalorimeter sederhana. Kalorimeter merupakan
alat yang sering digunakan untuk mengukur perubahan kalor selama reaksi kimia
berlangsung. Pengaplikasian sederhana dari panas jenis yang sering terjadi adalah
Ketika kita memasak air. Zat cair dan gas yang terkena panas maka molekul-
molekulnya bertambah besar dan beratnya tetap, sehingga akan bergerak ke atas.
Gerakan ke atas ini akan diikuti oleh gerakan zat lain secara terus menerus sehingga
terjadi aliran zat karena panas. Dari peristiwa aliran inilah, maka panas dapat
merambat secara konveksi.
1.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum Panas Jenis dan Kalorimeter adalah mencari Panas
Jenis suatu kubus materi menggunakan Kalorimeter.
1.2 Batasan Masalah
Dalam praktikum panas jenis dan kalorimeter ini terdapat batasan masalah
yaitu variable terikat dan variable bebas. Variable terikatnya adalah Volume air
yang terdapat pada kalorimeter dan variable bebasnya adalah jenis benda yang akan
digunakan pada saat praktikum.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suhu
Suhu merupakan suatu besaran yang menentukan tingkatan panas atau dingin
pada suatu benda. Tiap benda memiliki suhu yang berbeda, akan tetapi bila kita
ingin menghitung suhu tersebut, kita harus mengkorvesikannya kedalam besaran
Kelvin (K). Untuk mengukur suhu, kita harus menggunakan alat thermometer.
Kebanyakan dari kita bila ingin mengukur suhu, hanya sebatas memegangnya atau
meraba radiasi. Macam-macam skala suhu terbagi menjadi 4, yaitu :
1. Celcius
Skala celcius biasanya dipakai pada suhu ruangan atau suhu kesehari-harian
suatu negara atau daerah di Indonesia. Skala ini ditemukan oleh seorang yang
ahli dalam bidang astronomi yaitu Aders Celcius pada abat ke-17. Skala
celcius memiliki titik beku air berada pada 0 °C serta titik didih air 100 °C
pada tekanan atmosfer standar.
2. Fahrenheit
Skala Fahrenheit Skala celcius biasanya dipakai pada suhu ruangan atau suhu
kesehari-harian suatu negara atau daerah di Kerajaan Inggris. Karena pada
abad ke-18 dan abad ke-19 kerajaan Inggris menaklukan berbagai negara
yang dijajahnya, akhirnya pengukuran dengan sistem imperial ini semakin
tersebar luas pada negara yang dijajah tersebut, akhirnya skala Fahrenheit di
jadikan sistem standar suhu pada kerajaan inggris dan wilayah-wilayah
kekuasaan inggris. Skala Fahrenheit ditemukan oleh ilmuwan jerman
bernama Gabriel Fahrenheit. Pada skala Fahrenheit titik beku air memiliki
nilai 32 °F sedangkan titik didih air berada di 212 °F. Negatif 40 °F sama
dengan skala cecius dimana -40 °F = -40 °C.
3. Reamur
Skala Reamur merupakan skala yang dibuat untuk menghitung suhu kesehari-
harian di Prancis dan Jerman. Pada dasarnya, skala ini memiliki kesamaan

2
3

dengan skala Celcius dimana didesain dengan berdasarkan titik beku dan titik
didih air pada tekanan atmosfer standar. Namun, skala Reamur memiliki nilai
yang berbeda dimana titik beku air berada pada 0 °R dan titik didih air berada
pada 80 °R. Skala ini ditemukan oleh ilmuwan yang bernama ené Antoine
Ferchault de Réaumur di prancis pada abad ke-17.
4. Kelvin
Skala ini digunakan dalam satuan baku Internasional atau dijadikan besaran
Pokok sebagai parameter suhu. Skala ini ditemukan oleh fisikawan bernama
Baron Kelvin pada perawalan abad ke-19. Suhu ini sangat absolut nilainya.

2.1 Kalor
Kalor didefinisikan sebagai energi yang berpindah dari zat yang bersuhu
tinggi ke zat yang bersuhu rendah. Satu kalori menyatakan banyaknya kalor yang
diperlukan untuk memanaskan 1 kg air sehingga suhunya naik sebesar Kalor jenis.
didefinisikan sebagai jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan atau
menurunkan suhu 1 kg massa zat sebesar 1 atau 1K.[1] Kalor dapat diartikan juga
perpindahan energi antara benda yang saling bersentuhan. Pengertian dari kalor
berbeda dari suhu. Karena suhu merupakan tingkatan panas atau dingin suatu
benda. Sedangkan kalor adalah banyaknya energi panas yang terdapat pada benda.

Kalor dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝑄 = 𝑚. 𝑐. Δ𝑇 ...................................................2.1

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
m = Massa (kg)
c = Kalor Jenis (J/kgoC)
T = Suhu (oC)

Kapasitas kalor merupakan banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikan suhu
benda.
4

2.2 Perpindahan Kalor


Perpindahan kalor terbagi menjadi 3 yaitu :
1. Hantaran (Konduksi)
Konduksi adalah proses perpindahan kalor melalui zat prantara tanpa disertai
perpindahan molekul zat.[1] Konduksi adalah perpindahan panas melalui
benda padat. Benda yang dapat menghantarkan panas dengan baik disebut
konduktor.[2] secara umum, konduktor biasanya terbuat dari logam. Benda
yang sulit atau sukar menghantarkan panas disebut benda isolator. pada
peristiwa konduksi.
Δ𝑄
𝐻= ..................................................... 2.2
Δ𝑡

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
H = Laju hantar kalor (J/s)
t = selang waktu (s)

Dapat diturunkan kembali menjadi :

Δ𝑄
𝐻 = 𝑘𝐴 ................................................2.3
l

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
H = Laju hantar kalor (J/s)
l = jarak antara kedua ujung benda (l)
k = Konduktivitas Termal (J/smoC)
A = Luas penampang (m2)

2. Aliran (Konveksi)
Konveksi adalah proses perpindahan panas (kalor) melalui suatu zat
yang disertai dengan perpindahan molekul-molekul zat.[1] Konveksi
5

merupakan perpindahan panas yang terjadi karena adanya perpindahan zat.


Peristiwa ini terjadi pada perubahan suhu suatu zat.
Contohnya adalah air yang sedang direbus. Zat cair dan gas yang
terkena panas maka molekul-molekulnya bertambah besar dan beratnya tetap,
sehingga akan bergerak ke atas. Gerakan ke atas ini akan diikuti oleh gerakan
zat lain secara terus menerus sehingga terjadi aliran zat karena panas. Dari
peristiwa aliran inilah, maka panas dapat merambat secara konveksi.

Δ𝑄
= ℎ𝐴Δ𝑇 .................................................2.4
Δ𝑡

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
A = Luas penampang (m2)
t = selang waktu (s)
h = Koefisien konveksi (J/smoC)
T = Suhu (oC)

3. Pancaran (Radiasi)
Radiasi adalah perpindahan kalor dalam bentuk gelombang
elektromagntik.[1] Contoh paling mudah dari perpindahan panas secara
radiasi adalah pancaran sinar matahari. Matahari memancarkan panasnya
sehingga sampai ke permukaan bumi melalui ruang hampa. Di ruang hampa
tidak ada zat yang dapat dilalui dan juga tidak ada zat yang dapat mengalir.[2]
Panas matahari yang terjadi dapat sampai ke bumi secara langsung atau pun
secara pancaran tanpa melalui zat perantara.
Rumus yang terjadi pada radiasi berupa :
Δ𝑄
𝐻= = 𝑒. 𝜎. 𝐴𝑇 4 .......................................2.5
Δ𝑇

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule) e = emisivitas benda


H = Laju hantar kalor (J/s) 𝜎 = Konstanta Stefan-Boltzman
6

A = Luas penampang (m2)


T = Suhu (oC)

2.3 Panas jenis


Setiap senyawa mempunyai perbedaan jumlah panas yang digunakan untuk
menaikkan temperatur dalam jumlah massa tertentu. Rasio jumlah energi panas ∆Q
yang diberikan pada suatu badan untuk menaikkan temperatur ∆T disebut kapasitas
panas (C).[3] Satuan panas Q adalah perubahan panas yang dihasilkan suatu badan
selama proses tertentu.[3]
Satuan kilokalori (kkal) adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan
temperatur air dari 14,5 ºC menjadi 15,5 ºC, sedangkan satu kalori (kal) sama
dengan 10-3.[4] Dalam teknik sering dijumpai satuan yang berupa (Btu) atau
British thermal unit, satuan tersebut merupakan panas untuk menaikkan temperatur
air dari 63 ºF menjadi 64 °F, dimana 1 kkal = 1000 kal = 3,968 Btu. Dalam proses
kimia atau fisika dijumpai satuan Joule (J) atau kalori (kal) dimana 1 J = 0,2389
kal.
panas jenis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Δ𝑄
𝐶= ............................................................ 2.6
Δ𝑇

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
C = kapasitas Kalor
T = suhu (oC)

Kapasitas panas tersebut tidak bermakna sama sekali kecuali jumlah panas
yang diserap oleh suatu badan sama dengan jumlah panas yang diperlukan untuk
menaikkan temperatur sebesar satu derajat. Untuk lebih berarti, kapasitas panas
tersebut dikorelasikan dengan massa yaitu kapasitas panas per satuan massa, yang
disebut panas jenis (specific heat capacity), yaitu jumlah panas untuk menaikkan
temperatur satu derajat dari suatu bahan sebanyak satu satuan massa (g).[4] jadi
jumlah panas yang diserap mempengaruhi kapasitas panas pada suatu benda dengan
jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur.
7

Rumus yang didapatkan untuk tekanan tetap adalah :

𝐶
𝐶𝑝 = 𝑔 .............................................................2.7

Dimana :

Q = Kalor (kal/Joule)
C = kapasitas Kalor (Joule/oC)
g = satuan massa yang mengalami penaikan temperatur (kg)

2.4 Konsep Temperatur


Temperatur merupakan derajat panas atau dingin suatu benda.[5] setiap benda
memiliki suhu. Dua benda dikatakan memiliki keseimbangan termal bila kedua
benda tersebut memiliki suhu yang sama. Konsep temperatur merupakan konsep
yang berada pada suatu thermometer atau alat lain yang dimana untuk mengukur
suhu. Perubahan temperatur berpengaruh dengan bentuk benda. Tetapi hal tersebut
tergantung dengan titik didih masing-masing benda. Contoh, sebongkahan Es bisa
berubah dari benda padat menjadi benda cair. Dan benda cair tersebut berubah
Kembali menjadi uap. Hal tersebut dipengaruhi tingkatan suhu dan temperatur.
Berikut gambar grafik tentang pemanasan pada es :

Gambar 2.1 Grafik perubahan fase es [5]


Penjelasan Grafik :
1. A ke B, Pada proses ini tempratur es naik menjadi 0 oC, dapat diartikan, ada
kalor (jumlah panas) yang digunakan untuk menaikkan rasa panas (rasa
kepanasan atau temperatur) es di bawah tekanan udara
8

2. B ke C, pada proses ini, semua es berubah menjadi cair dengan suhu 0 oC.
dapat diartikan es mengalami perubahan wujud dari benda padat menjadi
benda cair. Perubahan temperaturnya tetap, yaitu 0 oC.
3. C ke D, pada proses ini, air dengan temperature 0 oC dipanaskan menjadi
100 oC. dalam proses ini ada kalor yang digunakan untuk memanaskan zat
cair tersebut.
4. D ke E, pada proses ini, zat cair yang dipanaskan dengan suhu 100 oC
berubah menjadi uap panas ber temperature 100 oC, dalam proses ini terjadi
perubahan wujud daric air menjadi uap. Pada proses ini penguapan air
berlangsung secara pelan-pelan.
Perubahan fase yang terjadi pada es dapat dijelaskan dengan rinci pada gambar
berikut :

Gambar 2.2 Perubahan fase zat benda.[5]


Dari gambar diatas dapat diartikan bahwa :
1. Titik embun = titik uap,
2. Titik lebur = titik beku, dan
3. Titik lenyap = titik sublimasi.

Dari uraian diatas, dikenal dengan istilah kalor laten, yaitu kalor yang diperlukan
atau dilepaskan pada saat perubahan fase zat.[5] kalor laten tersebut adalah :

1. Kalor pengembunan = kalor penguapan.


2. Kalor lebur = kalor beku.
3. Kalor sublimasi = kalor pelenyapan.
9

2.5 Hukum Termodinamika


Termodinamika adalah salah salah satu cabang fisika yang mempelajari panas
dan suhu serta hubungannya dengan energi dan gerak[5]. Hukum termodinamika
terbagi menjadi 4. Yaitu hukum termodinamika 0, 1, 2, dan 3. Berikut hukum-
hukumnya :

1. Hukum termodinamika 0, “zat dan materi benda apapun akan memiliki


kesimbangan termal yang sama jika disatukan. Ketika dua sistem berada
dalam kesetimbangan termal dengan sistem ketiga, mereka berada dalam
kesetimbangan termal satu sama lain”.
2. Hukum termodinamika 1, “energi kalor mengalir ke dalam sistem yang akan
diterima sistem untuk mengubah energi di dalam nya dan tetap melakukan
usaha terhadap lingkungan”.
3. Hukum termodinamika 2, “kalor-kalor akan mengalir secara spontan dari
benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak mengalir secara
spontan dalam arah kebalikannya”.
4. Hukum termodinammika 3, “pada saat suatu sistem mencapai termpratur
nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati
nilai minum”.

2.6 Asas Black


Jika kedua benda terisolasi dengan baik, maka jumlah kalor yang dilepas
sama dengan jumlah kalor yang diterima. Pernyataan inilah yang disebut sebagai
Asas Black.[1]

Berikut rumus dari asas black :

𝑄𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠 = 𝑄𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 ...............................................2.8

𝑚1 . 𝑐1 . Δ𝑇1 = 𝑚2 . 𝑐2 . Δ𝑇2 .........................................2.9

𝑚1 . 𝑐1 . (T1 − 𝑇𝐶 ) = 𝑚2 . 𝑐2 . (TC − 𝑇2 ) ...............................2.10


10

Dimana :

𝑚1 = massa benda 1 yang suhunya tinggi (kg)


𝑚2 = massa benda 2 yang suhunya rendah (kg)
𝑐1= kalor jenis benda 1 (J/kg )
𝑐2 = kalor jenis benda 2 (J/kg )
T1 = suhu mula-mula benda 1 (oC )
𝑇2 = suhu mula-mula benda 2 (oC)
TC = suhu ahir atau campuran (oC)

2.7 Kalorimeter
Kalorimeter merupakan alat yang sering digunakan untuk mengukur
perubahan kalor selama reaksi kimia berlangsung. Alat kalorimeter yang biasa
digunakan di laboratorium adalah kalorimeter termos atau calorimeter cup. Wadah
gelas tersebut terbuat dari Styrofoam untuk tempat pereaksi. Prinsip alat ini adalah
mengukur perubahan suhu reaksi dan perkiraan kapasitas kalor yang dapat
digunakan untuk memperkirakan kalor reaksi dengan cukup baik, umumnya
kapasitas kalor wadah reaksi dapat diabaikan karena relatif sangat kecil.[6]

kalorimeter beserta isinya mampu menerima kalor. Dapat dirumuskan sebagai


berikut :

𝑄𝑘 = (𝑚𝑘 . 𝑐𝑘 + 𝑚𝑝 . 𝑐𝑝 + 𝑚𝑎 . 𝑐𝑎 )(𝑇𝑎 − 𝑇0 ) ..............2.11

Dimana :

𝑄𝑘 = kalor yang diterima calorimeter (Joule)


𝑚𝑘 = massa calorimeter (kg)
𝑚𝑝 = massa pengaduk (kg)
𝑚𝑎 = massa air (kg)
𝑐𝑘 = kalor jenis calorimeter (Joule/oC)
𝑐𝑝 = kalor jenis pengaduk (Joule/oC)
𝑐𝑎 = kalor jenis air (Joule/oC)
11

𝑇𝑎 = suhu air (oC)


𝑇0 = suhu awal kalorimeter dan isinya (oC)

Benda yang kalor jenisnya akan ditentukan, mampu memberikan kalor. Dapat
dirumuskan sebagai berikut :

𝑄𝑏 = 𝑚𝑏 + 𝑐𝑏 (𝑇 − 𝑇0 ) ..........................................2.12

Dimana :

𝑄𝑏 = kalor yang dikeluarkan oleh benda (joule)


𝑚𝑏 = massa benda (kg)
𝑐𝑏 = kalor jenis benda (Joule/oC)
𝑇 = suhu awal (oC)
𝑇0 = suhu awal kalorimeter dan isinya (oC)

Menurut asas black yang dimana dikatakan bahwa Q masuk = Q keluar, berlaku
pada percobaan calorimeter. Dimana Q calorimeter = Q benda yang dirumuskan
sebagai berikut :

(𝑚𝑘 . 𝑐𝑘 + 𝑚𝑝 . 𝑐𝑝 + 𝑚𝑎 . 𝑐𝑎 )(𝑇𝑎 − 𝑇0 ) = 𝑚𝑏 + 𝑐𝑏 (𝑇 − 𝑇0 ) ............2.13

Dimana :

𝑄𝑘 = kalor yang diterima calorimeter (Joule)


𝑚𝑘 = massa calorimeter (kg)
𝑚𝑝 = massa pengaduk (kg)
𝑚𝑎 = massa air (kg)
𝑐𝑘 = kalor jenis calorimeter (Joule/oC)
𝑐𝑝 = kalor jenis pengaduk (Joule/oC)
𝑐𝑎 = kalor jenis air (Joule/oC)
𝑇𝑎 = suhu air (oC)
𝑇0 = suhu awal kalorimeter dan isinya (oC)
𝑄𝑏 = kalor yang dikeluarkan oleh benda (joule)
12

𝑚𝑏 = massa benda (kg)


𝑐𝑏 = kalor jenis benda (Joule/oC)
𝑇 = suhu awal (oC)
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir Percobaan


Berikut adalah diagram alir percobaan dari panas jenis dan calorimeter yang
dimana untuk mempermudah pembaca mengenai prosedur percobaan untuk
praktikum ini.

MULAI

Mempersiapkan alat dan bahan

Menyusun alat seperti di modul

Mengenali bahan kalorimeter dan


bahan pengaduk (Aluminium)

Mengikat salah satu kubus materi


menggunakan tali nilon

Menuangkan air 200 mL ke dalam


gelas kimia

Menimbang kalorimeter kosong dan


pengaduk sebanyak 3 kali

13
14

Mengisi kalorimeter dengan air sebanyak 125


mL dan menimbang sebanyak 3 kali lalu catat
massanya yang tercantum di nerca digital.

Memasang kalorimeter dan perlengkapannya.


Lalu menggunakan termometer untuk mengukur
suhu kalorimeter

Mencatat hasilnya sebagai suhu awal To

Menimbang kubus materi sebanyak 3 kali

Meletakkan gelas kimia berisi 200 mL air


di atas pemanas elektrik

Memasukkan kubus materi ke dalam gelas


kimia beserta termometer dengan
menggantungkannya pada statif

Memanaskan gelas kimia tersebut hingga


suhu 90℃ (atau yang sudah ditentukan aslab)
15

Mencatat suhu air di dalam gelas kimia


sebagai suhu awal benda yang dipanaskan

Membuka penutup kalorimeter sedekat mungkin


dengan gelas kimia, lalu mengangkat kubus materi dari
dalam gelas kimi dan segera memasukkan ke dalam
kalorimeter kemudian tutup kembali dengan rapat

Mengaduk kalorimeter sambil mengamati perubahan


suhu yang ditunjukka termometer. Mencatat suhu
setiap 15 detik sekali hingga diperoleh suhu yang
konstan atau maksimum. Mencatat suhu akhir
kalorimeter sebagai Ta

Melakukan langkah yang serupa dengan


yang di atas untuk menentukan kalor jenis
kubus materi lainnya.

Data Pengamatan
Literatur

Pembahasan

Kesimpulan

SELESAI
16

Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan

3.2 Prosedur Percobaan


Prosedur percobaan merupakan tata cara apa saja yang akan dilakukan di
suatu percobaan. Berikut adalah prosedurnya:
A. Persiapan Alat
1. Alat – alat yang diperlukan disiapkan sesuai dengan daftar alat
2. Bahan kalorimeter dan bahan pengaduk dikenali. Jika bahannya sama,
maka kalor jenisnya sama
3. Salah satu kubus materi diikat, misal balok besi dengan tali nilon
4. 200 mL air dituangkan ke dalam gelas kimia
B. Menentukan Kalor Jenis Kubus Materi
1. Kalorimeter kosong dan pengaduk ditimbang sebanyak 3 kali
2. Kalorimeter diisi dengan air sebanyak 125 mL dan ditimbang
sebanyak 3 kali dan dicatat hasilnya
3. Kalorimeter dan perlengkapannya di pasang. Termometer digunakan
untuk mengukur suhu kalorimeter
4. Suhu awal (To) dicatat
5. Kubus materi ditimbang sebanyak 3 kali
6. Gelas kimia berisi 200 mL air diletakkan di atas pemanas elektrik
7. Kubus materi dimasukkan ke dalam gelas kimia beserta termometer
dan digantung di statif
8. Gelas kimia dipanaskan hingga suhu 90℃
9. Suhu air di dalam gelas kimia dicatat sebagai suhu awal benda
10. Penutup kalorimeter dibuka, lalu kalorimeter didekatkan sedekat
mungkin dengan gelas kimia. Lalu kubus materi diangkat dari dalam
gelas kimia dan segera dimasukkan ke dalam kalorimeter kemudian di
tutup kembali dengan rapat
11. Kalorimeter diaduk dan diamati perubahan suhu yang ditunjukkan
termometer. Suhu tiap 15 detik sekali dicatat hingga diperoleh suhu
yang konstan atau maksimum. Suhu akhir kalorimeter dicatat
17

12. Langkah sebulumnya dilakukan serupa dengan diatas untuk


menentukan kalor jenis kubus lainnya
3.3 Alat-alat yang Digunakan
Dalam suatu percobaan, diperlukan alat dan bahan. Dimana tujuannya untuk
menunjang keberlangsungan dalam percobaan. Berikut adalah alat-alatnya:

Tabel 3.1 Alat yang digunakan


No. Alat Jumlah
1. Termometer 2 buah
2. Kalorimeter 1 set
3. Kubus materi 4 buah
4. Gelas kimia 250 mL 2 buah
5. Neraca 1 buah
6. Pemanas elektrik 1 buah
7. Dasar statif 1 buah
8. Kaki statif 1 buah
9. Batang statif 250 mm 1 buah
10. Boss-head 1 buah
11. Tali nilon Secukupnya
12. Stopwatch 1 buah
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil percobaan


Hasil yang didapatkan berupa berikut :
1. Percobaan 1 (TEMBAGA)

Tabel 4.1 Percobaan pada Tembaga


o
Bahan T0 ( C) T Waktu (s) Ta (oC) C Persentase
(oC) (J/kg.oC) error

TEMBAGA 29 97 300 32,5 448,030 0,13

1. Percobaan 2 (ALUMINIUM)

Tabel 4.2 Percobaan pada Aluminium


Bahan T0( C) T (oC) Waktu Ta (oC)
o
C Persentase
o
(s) (J/kg. C) error

ALUMUNIUM 29,5 95 5-300 31,5 880,462 0,03

4.1.1 Ralat Langsung


Tabel 4.3 Ralat Langsung Kalorimeter Kosong
n Pn Pn |ðP| |ðP|2  Sp Sn Pa ± Sp
1 45,3 0 0
2 45,3 45,3 0 0 0 0 0 45,3±0
3 45,3 0 0
∑ 135,9 45,3 0 0

Tabel 4.4 Ralat Langsung Pengaduk


n Pn Pn |ðP| |ðP|2  Sp Sn Pa ± Sp

18
19

1 15,3 0 0
2 15,3 15,3 0 0 0 0 0 15,3±0
3 15,3 0 0
∑ 45,9 15,3 0 0 0

Tabel 4.5 Ralat Langsung Kalorimeter dan Air


n Pn Pn |ðP| |ðP|2  Sp Sn Pa ± Sp
1 172,20 0,13 0,0169
2 172,13 172,07 0,06 0,0036 0,008 0,03 0,002% 172,07±0,03
3 171,90 0,17 0,0289
∑ 516,23 172,07 0,36 0,0494 0,008

Tabel 4.6 Ralat Langsung Kubus Tembaga


n Pn Pn |ðP| |ðP|2  Sp Sn Pa ± Sp
1 71,10 0,03 0,0009
2 71,20 71,13 0,07 0,0049 0,002 0,06 0,003% 71,13±0,06
3 71,10 0,03 0,0009
∑ 213,4 71,13 0,13 0,0067 0,002

Tabel 4.7 Ralat Langsung Kubus Aluminium


n Pn Pn |ðP| |ðP|2  Sp Sn Pa ± Sp
1 21 0,01 0,0001
2 21 20,99 0,01 0,0001 0,000004 0,008 0,00004% 20,99±0,0008
3 20,96 0,03 0,0009
∑ 62,96 20,99 0,05 0,0011 0,000004
20

4.1.2 Ralat Tidak Langsung


(𝑚𝑘. 𝑐𝑘 + 𝑚𝑝. 𝑐𝑝 + 𝑚𝑎. 𝑐𝑎)(𝑇𝑎 − 𝑇0 )
𝐶=
𝑚𝑏(𝑇 − 𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (𝑐𝑘)(𝑇𝑎−𝑇0 )
=
𝜕𝑚𝑘 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (𝑐𝑎)(𝑇𝑎−𝑇0 )
=
𝜕𝑚𝑎 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (𝑐𝑝)(𝑇𝑎−𝑇0 )
=
𝜕𝑚𝑝 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

Sehingga:

A. Kubus Materi Tembaga A. Kubus Materi Alumunium


𝜕𝐶 (𝑐𝑘)(𝑇𝑎−𝑇0 )
1.
𝜕𝐶
=
(𝑐𝑘)(𝑇𝑎−𝑇0 ) 1. =
𝜕𝑚𝑘 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)
𝜕𝑚𝑘 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (9,1.102 )(31,5−29)
𝜕𝐶 (9,1.102 )(32,5−29) =
= 𝜕𝑚𝑘 45,3(90−31,5)
𝜕𝑚𝑘 45,3(90−32,5)

𝜕𝐶
𝜕𝐶
= 1,090 = 0,8584
𝜕𝑚𝑘
𝜕𝑚𝑘

𝜕𝐶 (𝑐𝑝)(𝑇𝑎−𝑇0 ) 𝜕𝐶 (𝑐𝑎)(𝑇𝑎−𝑇0 )
2. = 2. =
𝜕𝑚𝑝 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎) 𝜕𝑚𝑝 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (9,1.102 )(32,5−29) 𝜕𝐶 (9,1.102 )(31,5−29)


= =
𝜕𝑚𝑝 15,3(90−32,5) 𝜕𝑚𝑝 15,3(90−31,5)

𝜕𝐶 𝜕𝐶
= 3,2274 = 2,5417
𝜕𝑚𝑝 𝜕𝑚𝑝

𝜕𝐶 (𝑐𝑎)(𝑇𝑎−𝑇0 ) 𝜕𝐶 (𝑐𝑝)(𝑇𝑎−𝑇0 )
3. = 3. =
𝜕𝑚𝑎 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎) 𝜕𝑚𝑎 𝑚𝑏(𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 (4,2𝑥103 )(32,5−29) 𝜕𝐶 (4,2𝑥103 )(31,5−29)


= =
𝜕𝑚𝑎 172,2(90−32,5) 𝜕𝑚𝑎 172.2(90−31,5)

𝜕𝐶 𝜕𝐶
= 1,3235 = 1,0423
𝜕𝑚𝑎 𝜕𝑚𝑎

𝜕𝐶 (𝑚𝑘.𝑐𝑘+𝑚𝑝.𝑐𝑝+𝑚𝑎.𝑐𝑎)(𝑇𝑎−𝑇0 ) 𝜕𝐶 (𝑚𝑘.𝑐𝑘+𝑚𝑝.𝑐𝑝+𝑚𝑎.𝑐𝑎)(𝑇𝑎−𝑇0 )
4. =− 4. 𝜕𝑚𝑝
=− 𝑚𝑏2 (𝑇−𝑇𝑎)
𝜕𝑚𝑏 𝑚𝑏 2 (𝑇−𝑇𝑎)

𝜕𝐶 𝜕𝐶
= −9,3683 𝜕𝑚𝑝
= −75,563
𝜕𝑚𝑏
21

5. Mencari SC Kubus Materi Tembaga :

𝜕𝑐 𝜕𝑐 𝜕𝑐 𝜕𝑐
𝑆𝐶 = √( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2
𝜕𝑚𝑘 𝜕𝑚𝑝 𝜕𝑚𝑎 𝜕𝑚𝑏

𝑆𝐶 = 0

6. Mencari SC Kubus Materi Alumunium :

𝜕𝑐 𝜕𝑐 𝜕𝑐 𝜕𝑐
𝑆𝐶 = √( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2 ( 𝑥 𝑆𝑚𝑘)2
𝜕𝑚𝑘 𝜕𝑚𝑝 𝜕𝑚𝑎 𝜕𝑚𝑏

𝑆𝐶 = 0
22

4.2 Pembahasan
Praktikum Panas Jenis dan Kalorimeter merupakan salah satu modul dari
praktikum fisika dasar. Praktikum ini membahas cara kerja kalorimeter. Kalor
merupakan energi yang berpindah dari zat yang bersuhu tinggi ke zat yang bersuhu
rendah. Satu kalori menyatakan banyaknya kalor yang diperlukan untuk
memanaskan 1 kg air sehingga suhunya naik sebesar Kalor jenis. didefinisikan
sebagai jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan atau menurunkan suhu 1
kg massa zat sebesar 1 atau 1K. Kalor dapat diartikan juga perpindahan energi
antara benda yang saling bersentuhan. Pengertian dari kalor berbeda dari suhu.
Karena suhu merupakan tingkatan panas atau dingin suatu benda. Sedangkan kalor
adalah banyaknya energi panas yang terdapat pada benda.
Panas jenis merupakan rasio kalor yang dibutuhkan untuk menaikan suhu atau
temperature suatu benda. Dan Kalorimeter merupakan alat yang sering digunakan
untuk mengukur perubahan kalor selama reaksi kimia berlangsung. Alat
kalorimeter yang biasa digunakan di laboratorium adalah kalorimeter termos atau
calorimeter cup. Kalorimeter yang digunakan pada percobaan ini adalah
kalorimeter sederhana yang dimana kalorimeter mampu menerima/menyerap panas
yang di pancarkan.
Pada percobaan ini Langkah pertama yang dilakukan adalah menghitung
massa tiap benda yang akan digunakan. Seperti kalorimeter, kalorimeter dengan air,
pengaduk, kubus materi (Tembaga) dan Kubus Materi (Aluminium). Pertama, kita
hitung terlebih dahulu massa kalorimeter kosong sebanyak 3 kali. Penimbangan
pertama mendapatkan massa sebesar 45,3 gram, penimbangan kedua sebesar 45,3
gram, dan penimbangan ketiga 45,3 gram. Massa benda ini memiliki rata-rata
sebesar 45,3 gram dan bila dikonversikan ke kg menjadi 0,0455 kg. tiap
penimbangan memiliki massa yang sama.
Ke-dua , kita hitung terlebih dahulu massa kalorimeter dengan air sebanyak
3 kali. Penimbangan pertama mendapatkan massa sebesar 172,20 gram,
penimbangan kedua sebesar 172,13 gram, dan penimbangan ketiga 171,90 gram.
Massa benda ini memiliki rata-rata sebesar 172,02 gram dan bila dikonversikan ke
kg menjadi 0,1721 kg. tiap penimbangan memiliki massa yang berbeda-beda.
23

Ke-tiga, kita hitung terlebih dahulu massa pengaduk kalorimeter sebanyak 3


kali. Penimbangan pertama mendapatkan massa sebesar 15,3 gram, penimbangan
kedua sebesar 15,3 gram, dan penimbangan ketiga 15,3 gram. Massa benda ini
memiliki rata-rata sebesar 15,3 gram dan bila dikonversikan ke kg menjadi 0,0153
kg. tiap penimbangan memiliki massa yang sama.
Ke-empat, kita hitung terlebih dahulu massa kubus materi (Tembaga)
sebanyak 3 kali. Penimbangan pertama mendapatkan massa sebesar 71,10 gram,
penimbangan kedua sebesar 71,15 gram, dan penimbangan ketiga 71,10 gram.
Massa benda ini memiliki rata-rata sebesar 71,13gram dan bila dikonversikan ke kg
menjadi 0,0711 kg. tiap penimbangan memiliki massa yang berbeda-beda.
Ke-empat, kita hitung terlebih dahulu massa kubus materi (Aluminium)
sebanyak 3 kali. Penimbangan pertama mendapatkan massa sebesar 21 gram,
penimbangan kedua sebesar 21 gram, dan penimbangan ketiga 20,96 gram. Massa
benda ini memiliki rata-rata sebesar 20,98 gram dan bila dikonversikan ke kg
menjadi 0,0210 kg. tiap penimbangan memiliki massa yang berbeda-beda.
Masukan thermometer kedalam kalorimeter lalu hitung suhu yang naik pada
kalorimeter sebagai T0. Pada percobaan 1 T0= 29 °C, pada percobaan 2 T0= 29,5 °C.
Suhu tersebut akan dimasukan kedalam rumus yang akan digunakan dalam
percobaan ini. Dimana nanti rumus ini akan mengurangi suhu akhir kubus materi.
Supaya kita dapat selisih suhu yang terjadi.
Nyalakan kompor listrik untuk memanaskan air dalam gelas kimia, ikat
materi kubus 1 dan 2 dengan benang nilon, lalu ikatkan pada statif. Celupkan kubus
materi 1 kedalam air yang berada di gelas kimia, usahakan kubus materi 1 dan 2
tidak mennyentuh dasar gelas kimia. Setelah itu celupkan juga termometer kedalam
gelas kimia, lalu ukur suhunya sampai menyentuh 97 oC dan 95 oC, dan jadikan
sebagai T, yaitu suhu mula-mula kubus materi 1.
Setelah itu celupkan kubus materi 1 dan 2 kedalam kalorimeter, Usahakan
dilakukan dengan cepat. Aduk-aduk kalorimeter dengan pengaduk, supaya panas
yang dipancarkan kubus materi 1 dan 2merata. Hitung penambahan suhu setiap 15
detik selama 300 detik lalu catat di blangko. Lakukan dengan teliti mengenai
24

pencatatan suhu. Air ditiap percobaan harus berbeda, atau harus dibuang terlebih
dahulu lalu isi kembali dengan air baru.
Data yang didapat pada percobaan 1 terdapat pada tabel 4.1. tempratur akhir
yang didapatkan dengan dari 15 detik sampai 165 detik adalah 33 oC, dan dari 180
detik sampai 300 detik adalah 32,5 oC, suhu yang didapatkan merupakan suhu air
yang naik karena kubus materi 1 memiliki suhu 97 oC, sedangkan suhu mula mula
air dalam kalorimeter adalah 29 oC. Jadi dapat disimpulkan bahwa suhu air naik
karena suhu kubus materi 1 memiliki suhu yang tinggi sehingga suhu air naik secara
signifikan.
Data yang didapat pada percobaan 2 terdapat pada tabel 4.2. tempratur akhir
yang didapatkan dengan dari 15 detik sampai 165 detik adalah 31,5 oC, dan dari
180 detik sampai 300 detik adalah 31,5 oC, suhu yang didapatkan merupakan suhu
air yang naik karena kubus materi 2 memiliki suhu 95 oC, sedangkan suhu mula
mula air dalam kalorimeter adalah 29,5 oC. Jadi dapat disimpulkan bahwa suhu air
naik karena suhu kubus materi 2 memiliki suhu yang tinggi sehingga suhu air naik
tidak begitu signifikan.
Alat kalorimeter ini bertujuan untuk mengetahui nilai panas jenis materi
kubus 1 dan 2. Cara mencari kalor jenis pada kubus ini adalah dengan memasukan
rumus yang sudah dicantumkan pada BAB II. Jadi pada percobaan 1 Massa
kalorimeter dan kalor jenis literatur kalorimeter dengan nilai total = 41,405 J/kg.K,
ditambahkan dengan massa pengaduk dan kalor jenis literatur pengaduk dengan
nilai total = 13,923 J/kg. K, ditambahkan kembali dengan massa air dan kalor jenis
literatur air dengan nilai total = 531,72 J/kg.K. lalu hasil tersebut (587,048 J/kg.K)
dikalikan dengan selisih antara suhu akhir kubus materi dengan suhu mula mula
calorimeter (3,5 oC) lalu dibagi dengan nilai dari Massa Kubus Materi 1 (0,0711
kg) yang dikalikan dengan selisih antara suhu mula-mula Kubus materi dengan
suhu mula-mula calorimeter (64,5 oC) Nilai kalor jenis kubus materi 1 adalah
482,058 J/kg oC. Yang dimana kalor jenis literaturnya adalah 3,9 J/kg.K. sehingga
diperoleh persentasi kesalahan yaitu 0,23 %.
percobaan 2 Massa kalorimeter dan kalor jenis literatur kalorimeter dengan
nilai total = 41,405 J/kg.K, ditambahkan dengan massa pengaduk dan kalor jenis
25

literatur pengaduk dengan nilai total = 13,923 J/kg. K, ditambahkan kembali


dengan massa air dan kalor jenis literatur air dengan nilai total = 531,72 J/kg.K.
lalu hasil tersebut (587,048 J/kg.K) dikalikan dengan selisih antara suhu akhir
kubus materi dengan suhu mula mula calorimeter (2 oC) lalu dibagi dengan nilai
dari Massa Kubus Materi 1 (0,0210 kg) yang dikalikan dengan selisih antara suhu
mula-mula Kubus materi dengan suhu mula-mula calorimeter (63,5 oC) Nilai kalor
jenis kubus materi 1 adalah 880,462 J/kg oC. Yang dimana kalor jenis literaturnya
adalah 910 J/kg.K. sehingga diperoleh persentasi kesalahan yaitu 0,03 %.
Kalor jenis percobaan 1 = 482,058 J/kg oC, sedangkan kalor jenis percobaan
2 = 880,462 J/kg oC. Dan mendapatkan error kesalahan percobaan 1 adalah = 0,23
%, sedangkan error kesalahan percobaan 2 adalah = 0,03%. Persentase kesalahan
merupakan persentasi yang dimana hitungan dari kami para praktikan meleset dari
hitungan seharusnya. Pada percobaan 1 dan 2 kemungkinan persentase kesalahan
terdapat pada human error. Faktor lainnya yaitu faktor pada peralatan yang ada.
Bila disimpulkan persentase percobaan 1 dan 2 tidak menyentuh 1%, jadi hasilnya
masih bisa dibulatkan kedalam perhitungan literatur.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum Panas Jenis dan Kalorimeter yaitu
nilai Panas Jenis yang didapatkan pada Percobaan 1 (Kubus Materi 1
(TEMBAGA)) adalah 482,058 J/kg oC, dengan persentase kesalahan 0,23 %. dan
pada Percobaan 2 (Kubus Materi 2 (ALUMINIUM)) adalah 880,462 J/kg oC,
dengan persentase kesalahan 0,03 %.

5.2 Saran
Saran yang dapat saya berikan pada praktikum Panas Jenis dan Kalorimeter
adalah :
1. Menonton video proper terlebih dahulu sebelum praktikum
2. Membaca materi tentang praktikum Panas Jenis dan Kalorimeter terlebih
dahulu.
3. Usahakan bersikap kondusif supaya praktikum online ini berjalan dengan
lancar.
4. Mengamati dan memperhatikan penjelasan Asisten Laboratorium saat
praktikum berlangsung.

26
DAFTAR PUSTAKA

[1] Nurhayati. Fisika Dasar SMA. 2009 : Erlangga.


[2] Muhsin. Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick untuk Meningkatkan
Sikap Positif dan Prestasi Belajar IPA Pokok Bahasan Kalor pada Siswa.
Jurnal Pendidikan Fisika. 2018; vol.7: Ha1 1.
[3] HALLIDAY, D, and RESNICK, R. Physics. John Willey and Sons. Canada:
1978.
[4] Sugondo, Aslina Br. Ginting, dan Dian Anggraini. Karakterisasi Termal
Zircaloy-2 Terkorosi Iodium dengan DTA. Prosiding Presentasi Ilmiah Daur
Bahan Bakar Nuklir IV. PEBN-BATAN.1998: hal.167.
[5] [FMIPA UNY]Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Yogya. Kalor dan Termodinamika. Yogyakarta: FMIPA
UNY; 2007.
[6] Rufiati, E. 2011. Penentuan Kalor Reaksi. Surabaya: Unair.

27
28

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN
29

Lampiran A. Perhitungan

Lampiran A. Perhitungan :

• Rata-Rata massa benda yang dihitung sebanyak 3 kali


JENIS BENDA MASSA (gr)
Kalorimeter Kosong 45,3 45,3 45,3
Pengaduk 15,3 15,3 15,3
Kalorimeter + ½ bagian air 172,20 172,13 171,90
Kubus materi 1 (TEMBAGA) 71,10 71,15 71,10
Kubus materi 2 (ALUMINIUM) 21 21 20,96

Massa Rata Rata (Kg)


Kalorimeter Kosong 0,0455
Pengaduk 0,0153
Kalorimeter + ½ bagian air 0,1721
Kubus materi 1 (TEMBAGA) 0,0711
Kubus materi 2 (ALUMINIUM) 0,0210

• Percobaan 1 (TEMBAGA) (𝑐𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 = 𝐶𝑢 = 390 𝐽/𝑘𝑔.k)


Kapasitas kalor (TEMBAGA) (T0 = 29 oC) (T = 97 oC)
Pada percobaan ini rumus yang digunakan untuk mencari kapasitas kalor atau
kalor jenis atau panas jenis adalah =
(𝑚𝑘 𝑐𝑘 + 𝑚𝑝 𝑐𝑝 + 𝑚𝑎 𝑐𝑎 )(𝑇𝑎 − 𝑇0 )
𝑐𝑏 =
𝑚𝑏 (𝑇 − 𝑇𝑎 )

Pada t = 300 s yang dimana suhu tersebut merupakan suhu akhir dari percobaan
1. Lalu pada suhu 15 s sampai 285 s itu merupakan suhu perubahan. Nilai suhu
akhirnya yaitu Ta = 32,5 oC

(0,0455.910 + 0,0153.910 + 0,1266.4200)(32,5 − 29)


𝑐𝑏 =
0,0711(97 − 32,5)
(41,405 + 13,923 + 531,72)(3,5)
𝑐𝑏 =
4,586
587,048. (3,5)
𝑐𝑏 =
4,586

𝑐𝑏 = 448,030 𝐽/𝑘𝑔.k

Persentase error
𝑐𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 − 𝑐𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = | | × 100%
𝑐𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟
30

Persentase panas jenis TEMBAGA

390 − 448,030
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = | | × 100%
390

390 − 448,030
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = | | × 100%
390

% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = 0,14 %

• Percobaan 2 (ALUMINIUM) (𝑐𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 = 𝐴𝑙 = 910 𝐽/𝑘𝑔.k)


Kapasitas kalor (ALUMINIUM) (T0 = 29,5 oC) (T = 95 oC)
Pada percobaan ini rumus yang digunakan untuk mencari kapasitas kalor atau
kalor jenis atau panas jenis adalah =
(𝑚𝑘 𝑐𝑘 + 𝑚𝑝 𝑐𝑝 + 𝑚𝑎 𝑐𝑎 )(𝑇𝑎 − 𝑇0 )
𝑐𝑏 =
𝑚𝑏 (𝑇 − 𝑇𝑎 )

Pada t = 5s – 300s dengan suhu yang tidak bertambah Ta = 31,5 oC

(0,0455.910 + 0,0153.910 + 0,1266.4200)(31,5 − 29,5)


𝑐𝑏 =
0,0210(95 − 31,5)
(41,405 + 13,923 + 531,72)(2)
𝑐𝑏 =
1,3335
587,048. (2)
𝑐𝑏 =
1,3335

𝑐𝑏 = 880,462 𝐽/𝑘𝑔.k

𝐶𝑏 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 𝟖𝟖𝟎, 𝟒𝟔𝟐 𝑱/𝒌𝒈.k

Persentase error
𝑐𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 − 𝑐𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = | | × 100%
𝑐_𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟
Persentase panas jenis ALUMINIUM

910 − 880,462
% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = | | × 100%
910

% 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = 0,03 %
31

LAMPIRAN B
JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS
32

Lampiran B. Jawaban dan Tugas Khusus

B.1 Jawaban

1. Sebutkan jenis jenis kalorimeter dan jelaskan prinsip kerja Kalorimeter pada
percobaan ini!
Jawab :
Jenis jenis kalorimeter
a.Kalorimeter sederhana
b.Kalorimeter Bom
Prinsip kerja pada kalorimeter adalah mengikuti konsep asas black Qlepas =
Qterima. Pada kalorimeter,benda panas merupakan wadah yang akan
memberikan kalor dan benda dingin adalah bahan yang akan menerima panas
2. Dalam ruang yang dingin, bagian atas meja logam atau meja marmer terasa
jauh lebih dingin bila disentuh dibandingkan permukaan kayu meskipun suhu
keduanya sama. Jelaskan mengapa hal ini terjadi!
Jawab :
Kayu merupakan isolator, sedangkan logam atau meja marmer merupakan
konduktor. Isolator itu bukan merupakan sebuah penghantar panas atau dingin
sehingga kayu tidak terasa dingin. Sedangkan Konduktor merupakan
penghantar panas atau dingin yang baik sehingga logam atau meja marmer
terasa dingin.
3. Jelaskan bunyi Hukum Termodinamika 0,1, 2, 3!
Jawab :
- Termodinamika 0 = Jika 2 buah benda berada dalam kondisi
kesetimbangan termal dengan benda ke 3, maka ketiga benda tersebut
berada dalam kesetimbangan termal satu dengan yang lainnya
- Termodinamika 1 = Energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan.
- Termodinamika 2 = Kalor mengalir secara alami dari benda yang
panas kebenda yang dingin, kalor tidak akan mengalir secara spontan
dari benda dingin ke benda panas tanpa melakukan usaha
33

- Termodinamika 3 = Entropi dari suatu Kristal sempurna pada absolut


nol adalah sama dengan nol.
4. Sebuah lampu pijar memakai kawat wolfram dengan luas 2 x 10-6 m2 dan
emisivitasnya 0,5. Jika bola lampu berpijar dengan suhu 800 K selama 10
second (𝜎 = 5,67 x 10-8W/m2K4 ), maka hitunglah jumlah energy radiasi yang
dipancarkan oleh lampu pijar tersebut!
Jawab :
a = 2 x 10-8
e = 0,5
T = 300 K
𝜎 = 5,67 x 10-8

Dq = ?

𝑑𝑒𝑙𝑡𝑎𝑞
= e 𝜎 a T4
𝑑𝑒𝑙𝑡𝑎𝑡

Q = ( 0,5 ) ( 5,67 x 10-8 ) ( 2 x 10-8 ) ( 800 )4

Delta Q = 4,536 x 10-9

5. Balok es bermassa 20 gr bersuhu 00C dicelupkan pada 400 gr air bersuhu


300C yang diletakkan dalam wadah khusus. Anggap wadah tidak menyerap
kalor. Jika kalor jenis air 1 kal.g-1 0C-1 dan kalor lebur es 80 kal.g-1, maka suhu
akhir campuran adalah ?
Jawab :
mes = 20 gr
tes = 0
mair = 400 gr
tair = 300C
cair = 1 kal.g-1 0C-1\
ces = 80 kal,g-1
Qlepas = Qterima
34

20 x 80 + 20 x 1 x ( T – 0 ) = 400 x 1 x ( 30 – T )
1600 + 20 T = 12000 – 400T
20T + 400T = 12000 – 1600
420T = 10.400
T = 24,70C
B.2 Tugas Khusus
1. Perbedaan Entalpi dan Entropi ?
Entalpi dan entropi adalah dua istilah terkait dalam termodinamika. Perbedaan
utama antara entalpi dan entropi adalah entalpi adalah perpindahan panas berlangsung
dalam tekanan konstan sedangkan entropi memberikan gambaran tentang keacakan
suatu sistem. Selain itu, enthalpy berhubungan dengan hukum termodinamika pertama
sedangkan entropi berhubungan dengan hukum termodinamika kedua. Perbedaan
penting lainnya antara entalpi dan entropi adalah bahwa kita dapat menggunakan
entalpi untuk mengukur perubahan energi sistem setelah reaksi sedangkan kita dapat
menggunakan entropi untuk mengukur tingkat gangguan sistem setelah reaksi.
35

LAMPIRAN C
GAMBAR ALAT DAN BAHAN
36

Lampiran C. Gambar dan Alat

Gambar C.1 Kubus Materi Gambar C.2 Neraca Digital

Gambar C.3 Benang Nilon Gambar C.4 Gelas Kimia

Gambar C.5 Kalorimeter Gambar C.6 Stopwatch


37

Gambar C.7 Kompor Listrik Gambar C.8 Statif

Gambar C.9 2x Termometer


38

LAMPIRAN D
BLANGKO PERCOBAAN
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA39
LABORATORIUM FISIKA TERAPAN
Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435 Telp. (0254) 395502
Website: http://fisdas.ft-untirta.ac.id Email: lab.fisikaterapan@untirta.ac.id

BLANGKO PERCOBAAN
PANAS JENIS & KALORIMETER
DATA PRAKTIKAN
NAMA Gega Azzrafitrullah Esfafate
NIM / GRUP 3331200056
JURUSAN Teknik Mesin
REKAN Aris Firdaus, Narendra Putra Vendana, Muhammad Rifqi
TGL. PERCOBAAN 5 November 2020

JENIS BENDA MASSA (gr)


Kalorimeter Kosong 45,3 45,3 45,3
Pengaduk 15,3 15,3 15,3
Kalorimeter + ½ bagian air 172,20 172,13 171,90
Kubus materi 1 (TEMBAGA) 71,10 71,15 71,10
Kubus materi 2 (ALUMINIUM) 21 21 20,96

Temperatur akhir Temperatur akhir %


PERCOBAAN c (J/kg°C)
(𝑇𝑎 ) (𝑇𝑎 ) kesalahan
PERCOBAAN 1 15 detik 33°C 165 detik 33°C
30 detik 33°C 180 detik 32,5°C
Suhu air dalam 45 detik 33°C 195 detik 32,5°C
Kalorimeter 60 detik 33°C 210 detik 32,5°C
Mula-mula (𝑇0 )29°C 75 detik 33°C 225 detik 32,5°C
448,030 0,13
90 detik 33°C 240 detik 32,5°C
Suhu kubus materi 1 105 detik 33°C 255 detik 32,5°C
(TEMBAGA) (𝑇)97°C 120 detik 33°C 270 detik 32,5°C
135 detik 33°C 285 detik 32,5°C
150 detik 33°C 300 detik 32,5°C
PERCOBAAN 2 15 detik 31,5°C 165 detik 31,5°C
30 detik 31,5°C 180 detik 31,5°C
Suhu air dalam 45 detik 31,5°C 195 detik 31,5°C
Kalorimeter 60 detik 31,5°C 210 detik 31,5°C
Mula-mula (𝑇0 )29,5°C 75 detik 31,5°C 225 detik 31,5°C
880,462 0,03
90 detik 31,5°C 240 detik 31,5°C
Suhu kubus materi 2 105 detik 31,5°C 255 detik 31,5°C
(ALUMINIUM) (𝑇)95°C 120 detik 31,5°C 270 detik 31,5°C
135 detik 31,5°C 285 detik 31,5°C
150 detik 31,5°C 300 detik 31,5°C

Suhu ruang awal = 23,5 0 C


0
Suhu ruang akhir = 24 C
Sikap Barometer awal = 760 mmHg
Sikap Barometer akhir = 760 mmHg
40

Anda mungkin juga menyukai