Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

LANDASAN ONTOLOGI FILSAFAT ILMU

Disusun sebagai pemenuhan tugas ujian tengah semester (UTS) matakuliah filsafat

Dosen Pengampu:

Dr. Moh. Muchtarom, S.Ag, M.S.I.

Oleh:

Dini Wahyu Mulyasari (S812102002)

PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmatNya sehingga makalah
yang berjudul “LANDASAN ONTOLOGI FILSAFAT ILMU” ini dapat tersusun sampai
dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang
telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan serta
wawasan bagi pembaca. Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 28 April 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah ........................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ 2

A. Pengertian Ontologi .................................................................................................... 2


B. Metode dan Aliran-Aliran dalam Ontologi ................................................................. 2
1. Metode Memandang Hakikat dalam Ontologi ...................................................... 2
2. Aliran-Aliran Dalam Ontologi .............................................................................. 3

BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 6

A. Kesimpulan ................................................................................................................. 6

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 7

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Filsafat ilmu adalah telaah mendalam tentang hakikat ilmu,objek kajian filsafat
ilmu hendak menjawah pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat suatu ilmu diantaranya:
objek apa yang ditelaah oleh suatu ilmu, bagaimana cara memperoleh suatu ilmu dan untuk
apa ilmu tersebut digunakan (Adib, 2011). Makalah ini akan memaparkan tentang salah
satu dari 3 caabang kajian filsafat ilmu yang telah disebutkan sebelumnya yakni ontologi.
Cabang ontologi dalam filsafat ilmu mengkaji tentang objek apa yang ditelaah oleh ilmu,
serta mempertanyakan wujud hakiki dari objek tersebut, serta daya tangkap manusia
terhadap objek yang dikaji sehingga menghasilkan suatu pengetahuan baru. Dari
pertanyaan-pertanyaan serta jawaban yang timbul dalam cabang ontologi tersebut yang
menjadi dasar atau awal mula lahirnya suatu disiplin ilmu baru.

Cabang ontologi merupakan kajian kefilsafatan yang paling kuno yang membahas
tentang keberadaan sesuatu yang bersifat konkret dan berasal dari Yunani. Beberapa tokoh
yang terkenal dengan pandangan ontologisnya ialah Thales, Plato dan Aristoteles. Cabang
kajian ontologi pada awalnya adalah upaya Thales dalam melawan mindset dan
kepercayaan orang-orang yunani kuno yang belum dapat membedakan penampakan
dengan kenyataan, Thales mempercayai bahwa segala sesuatu memiliki muara, dan selama
pecarian itulah Thales menemukan bahwa hakikat dari segala seuatu itu adalah air. Kajian
yang lebih detail tentang ontologi akan dibahas dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ontologi?
2. Bagaiman metode dan aliran-aliran dalam ontologi?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian ontologi
2. Untuk mengatahui metode serta aliran-aliran yang terdapat dalam ontologi.

1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ontologi
Pengertian ontologi secara epistimologi kata yang berasal dari bahasa Yunani,
terdiri dari dua kata yakni: ontos dan logos, ontos memiliki makna “ada” atau sesuatu
yang berwujud dan logos yang memili makna ilmu. Maka, ontologi dapat dimaknai
sebagai ilmu yang mempelajari tentang wujud hakikat dari yang ada. Ontologi
memandang pancaindra memiliki peran penting dalam proses pencarian hakikat suatu
ilmu, alasan dari pendapat ini karena ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik, yang
dapat dijangkau oleh pancaindra (Suriasumantri, 2007). Maka objek suatu ilmu
merupakan pengalam indrawi, maka dengan demikian, ontologi memiliki makna ilmu
yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud yang didasarkan dari logika
semata.
Menurut (Suriasumantri, 2007), ontologi membahas tentang apa yang ingin kita
ketahui, seberapa jauh kita ingintahu, dengan kata lain ontologi ialah suatu pengkajian
mengenai teori “ada”. Sehingga ontologi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut: a) apakah objek ilmu yang akan ditelaah, b) bagaimana wujud yang hakiki dari
objek tersebut dan, c) bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut dan bagaimana
hubungan antara objek tersebut dengan daya tangkap manusia, tentang cara berpikir,
mengindra serta merasa sehingga menumbuhkan pengetahuan.
Dari beberapa pengertian di atas maka ontologi dapat diartikan dengan suatu
teori yang mengkaji makna dari suatu objek, yang di dalamnya melibatkan pengalaman
indrawi manusia, sehingga menemukan jawaban dari hakikat objek yang dikaji dan
melahirkan cabang ilmu baru.
B. Metode dan Aliran-Aliran dalam Ontologi
1. Metode Memandang Hakikat dalam Ontologi
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat
yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Ontologi memberikan pengertian
untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan
pada sebuah knowledge base. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa
didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang (Adib, 2011):
a. Ontologi Bersahaja, cara memandang sesuatu atau hakikat sesuatu dengan
cara sederhana atau simpel (hanya melihat hal-hal yang nampak) warna,
ukuran, rasa dll.

2
b. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal
atau jamak dan seberapa besar jika dibandingkan.
c. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas)
tersebut memiliki kualitas tertentu, mengkaji hakikat dari sesuatu dan inti
dari suatu peristiwa, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan,
bunga mawar yang berbau harum.
2. Aliran-Aliran Dalam Ontologi
a. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat dari sesuatu ini hanyalah satu
dan tidak mungkin dua. Sesuatu harus berasal dari satu sumber baik berupa
materi maupun rohani. Monoisme memandang bahwa hakikat sesuatu tidak
mungkin terpisah-pisah dan berdiri sendiri.
1) Materialisme
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap
bahwa di dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) sehingga
kadang disebut juga dengan aliran naturalisme dan dunia fisik adalah
satu (Wilardjo, 2009). Paham materialisme ini praktis tidak memerlukan
dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang
pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.
Menurut aliran materialisme bahwa zat mati merupakan
kenyataan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi dan jiwa atau
ruh dalam pandangan mereka merupakan akibat saja dari proses gerakan
kebenaran dengan salah satu cara tertentu. Alasan hakikat ini
berkembang ialah:
a) Pikiran manusia sederhana, maka hal-hal yang terlihat biasa
dijadikan kebeneran terakhir.
b) Pikiran manusia yang sederhana, karena manusia tidak
mampu menjangkau sesuatu diluar dari ruang (abstrak).
c) Penemuan-penemuan yang menunjukkan bahwa manusia
sangat bergantung pada stuktur tubuh.
2) Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat
dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah
idealisme diambil dari kata idea, yakni seseuatu yang hadir dalam jiwa.

3
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri (Wilardjo,
2009). Materi dan zat dalam pandangan idelisme hanyalah sari dari jenis
pada penjelmaan ruhani. Beriku hal-hal yang mendasari pemikiran dari
idealisme:
a) Nilai ruh lebih tinggi dari badan, lebih tinggi nilainya
daripada materi bagi kehidupan manusa. Ruh dalam aliran
idelaisme dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya dan
badan hanyalan banyangan atau penjelmaan dari ruh.
b) Manusia lebih mampu memahami dirinya daripada sesuatu
yang berasal dari luar dirinya.
c) Materi adalah kumpulan energi yang menempati ruang,
benda merupakan sesuatu yang tidak ada, dan yang
sesungguhnya ada hanyalah energi.
d) Dalam ajaran murni Plato, setiap sesuatu yang ada di alam
pasti memiliki ide atau konsep universal dari sesuatu.
3) Dualisme
Dualisme adalah paham yang memandang alam ini terdiri atas
dua macam hakikat yaitu hakikat materi (materialisme) dan hakikat
ruhani (idealisme). Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas
berdiri sendiri, sama asasi dan abadi sehingga perhubungan antara
keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam (Wilardjo, 2009).
4) Pluralisme
Paham pluralisme memiliki pandangan bahwa segenap bentuk
merupakan suatu kenyataan (Wilardjo, 2009). Sehingga pluralisme
merupakan paham yang menyatakan bahwa hakikat dari sesuatu
tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh
Yunani kuno yakni Anaxagoras dan Empedocles menyatakan bahwa
substansi dari yang ada terdiri dari empat unsur yakni tanah, air api dan
udara.
b. Nihilisme
Nihilisme adalah suatu paham yang apabila dilihat dari kata kerjanya
ialah “annahilate” yang artinya meniadakan, membasmi, memusanhkan,
menghapuskan, melenyapkan segenap eksisteni. Salah satu tokoh terkenal
dari paham ini ialah Friedich Nierzche yang memiliki pandangan dunia

4
terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia (Wibowo, 2004). Mata
manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia
di mana ia hidup. Selain itu doktrin tentang nihilisme dalam pandangan
Gorgias yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada
sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui.
Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita
beritahukan kepada orang lain.
c. Agnostisisme
Paham agnostisime mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.
Kata agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos, yang berarti
unknown. A artinya not, gno artinya know. Timbulnya aliran ini
dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan
secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita
kenal.
Soren Kierkegaar yang terkenal dengan julukan sebagai bapak
Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah
hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama
sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Berbeda
dengan pendapat Martin Heidegger (1889-1976 M), yang mengatakan
bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah
yang dapat memahami dirinya sendiri.

5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Ontologi merupakan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Pada dasarnya,
ontologi membicarakan tentang hakikat dari suatu benda/sesuatu. Hakikat disini
berarti kenyataan yang sebenarnya (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan
berubah).
2. Dalam ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu
monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme.
3. Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa hakikat asalnya sesuatu itu
hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi (air, udara) maupun ruhani (spirit,
ruh).
4. Dualisme adalah aliran yang berpendapat bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat
(hakikat materi dan ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit).
5. Pluralisme adalah paham yang mengatakan bahwa segala hal merupakan kenyataan.
Nihilisme adalah paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
6. Agnostisisme adalah paham yang mengingkari terhadap kemampuan manusia
dalam mengetahui hakikat benda. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ontologi meliputi
hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang
tidak terlepas dari perspektif filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu.
Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan
berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada akhirnya menentukan
pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana yang
“ada” itu.

6
DAFTAR PUSTAKA

Adib, H. M. (2011). Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemol ogi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan. Pustaka Pelajar.
Suriasumantri, J. S. (2007). Filsafat ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wibowo, A. S. (2004). Gaya Filsafat Nietzsche. Galangpress Group.
Wilardjo, S. B. (2009). Aliran-aliran dalam filsafat ilmu berkait dengan ekonomi. Value Added|
Majalah Ekonomi Dan Bisnis, 6(1).