Anda di halaman 1dari 10

Original Article 1

Penetapan Kadar Fenolik dan Flavonoid Total Ekstrak


Metanol Buah dan Daun Patikala (Etlingera elatior (Jack)
R.M.SM)

Aktsar Roskiana Ahmad1, Juwita1, Siti Afrianty Daniya Ratulangi1,


Abdul Malik1
1
Laboratorium Farmakognosi, Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia

Email : aktsar.roskiana@umi.ac.id, juwitajuceng@yahoo.com, abd.malik@umi.ac.id

Abstrak
Buah dan daun patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm), adalah tanaman obat tradisional
yang digunakan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit. Tujuan dari penelitian
LQL XQWXN PHQJHWDKXL WRWDO VHQ\DZD IHQROLN GDQ ÀDYRQRLG HNVWUDN EXDK GDQ GDXQ E.
elatior. Ekstraksi buah dan daun sampel dilakukan dengan metode maserasi menggunakan
metanol. Analisis kualitatif senyawa kimia dengan eluen tertentu menggunakan metode
.URPDWRJUD¿ /DSLV 7LSLV ./7 XQWXN PHQHQWXNDQ NHORPSRN VHQ\DZD DNWLI GDODP
ekstrak. Jumlah senyawa fenolik dalam sampel ditentukan dengan metode kolorimetri
SDGD SDQMDQJ JHORPEDQJ PDNVLPXP QP GDQ ÀDYRQRLG SDGD SDQMDQJ JHORPEDQJ
maksimum 431 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak metanol untuk
buah sebesar 1,93% dan daun sebesar 5,17% dengan kadar fenolik total untuk buah sebesar
PJ*$( J HNVWUDN GDQ GDXQ VHEHVDU PJ*$( J HNVWUDN 'DQ NDGDU ÀDYRQRLG WRWDO
untuk buah sebesar 1,7761 mgQE/g ekstrak dan daun sebesar 5,4523 mgQE/g ekstrak.

Abstract
Fruit and leaves of patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm), is a traditional medicinal
plants used by people to treat various diseases. The purpose of this study was to determine
WKH WRWDO SKHQROLF DQG ÀDYRQRLG FRPSRXQGV RI E. elatior fruits and leaves extracts.
We extracted dried fruits and leaves samples by maceration method using methanol.
Qualitative analysis of chemical compounds with certain eluent was done using Thin Layer
Chromatography (TLC) to determine the group of active compounds in the extract. The
amount of phenolic compounds in the sample was determined by the colorimetric method
DW D PD[LPXP ZDYHOHQJWK RI QP DQG ÀDYRQRLG DW QP 7KH UHVXOWV VKRZHG WKDW
the methanol extract rendemen was 1.93% for fruit and 5.17% for leaf with a total phenolic
content of the fruit was 2.29 mgGAE/g b/b extract and leaf was 6.29 mgGAE/g b/b extract.
$QG WRWDO ÀDYRQRLG FRQWHQW RI WKH IUXLW ZDV PJ 4XHUFHWLQ J E E H[WUDFW DQG OHDI
was 5.45 mgQE/g b/b extract.

Keywords :colorimetric method, patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm), phenol,


ÀDYRQRLG

April 2015 (Vol. 2 No. 1)


2 Pharm Sci Res ISSN 2407-2354

PENDAHULUAN manusia. Salah satunya sebagai antioksidan


untuk pencegahan dan pengobatan penyakit
Tumbuhan patikala merupakan tumbuhan degeneratif, kanker, penuaan dini dan
yang tersebar cukup luas di Indonesia. gangguan sistem imun tubuh (Apsari &
Penggunaan patikala sebagai bahan obat Susanti, 2011).
sangat banyak ragamnya. Tumbuhan ini
digunakan sebagai bahan pangan dan juga Flavonoid hampir terdapat pada semua
dapat digunakan untuk pengobatan (Antoro, bagian tumbuhan termasuk buah, akar, daun
1995). Patikala merupakan tumbuhan yang dan kulit luar batang (Worotikan, 2011).
multiguna. Patikala dapat digunakan mulai Sejumlah tanaman obat yang mengandung
dari rimpang hingga bunga. Secara tradisional ÀDYRQRLG WHODK GLODSRUNDQ PHPLOLNL DNWLYLWDV
bunga dan buah patikala dimanfaatkan sebagai antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang,
penambah citarasa masakan seperti urab dan antialergi, dan antikanker (Miller, 1996).
pecel. Daunnya dapat dimasak sebagai sayur
asam. Sedangkan batangnya digunakan pada Mengingat pentingnya fungsi senyawa
beberapa jenis masakan yang mengandung IHQROLN GDQ ÀDYRQRLG PDND SHQHOLWLDQ NDGDU
daging (Naufalin, 2005). IHQROLN GDQ ÀDYRQRLG WRWDO \DQJ WHUNDQGXQJ
dalam tumbuhan patikala perlu dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian Naufalin (2005), Dengan demikian pemanfaatan tumbuhan
NDQGXQJDQ ¿WRNLPLD EXQJD EDWDQJ ULPSDQJ patikala dapat lebih maksimal untuk
buah dan daun patikala antara lain senyawa dijadikan sebagai alternatif pengobatan
DONDORLG VDSRQLQ WDQLQ IHQROLN ÀDYRQRLG herbal dalam penyembuhan berbagai
triterpenoid, steroid, dan glikosida yang macam penyakit serta penggunaannya dapat
berperan aktif sebagai antioksidan maupun dipertanggungjawabkan oleh masyarakat.
antilarvasida. Buah dan daun merupakan
salah satu komponen yang terdapat pada METODE
tanaman patikala (Etlingera elatior (Jack)
R.M.Sm) yang memiliki kandungan fenolik Pengambilan dan pengolahan sampel
didalamnya. Hal inilah yang mendasari Sampel buah dan daun patikala (Etlingera
dilakukannya penelitian pada buah dan daun elatior (Jack) R.M.Sm) yang berasal dari
patikala (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) kota Palopo (Sulawesi selatan) dikumpulkan
yang merupakan bagian tanaman ini yang kemudian dipisahkan buah daunnya. Setelah
paling sering dimanfaatkan. Senyawa fenolik itu dilakukan sortasi basah dan pencucian
merupakan senyawa bahan alam yang cukup untuk menghilangkan tanah dan pengotor
luas penggunaannya saat ini. Kemampuannya lainnya yang masih menempel pada sampel.
sebagai senyawa biologik aktif memberikan Buah dan daun patikala (Etlingera elatior
suatu peran yang besar terhadap kepentingan (Jack) R.M.Sm) yang telah diambil dilakukan

Pharm Sci Res


Aktsar Roskiana Ahmad, Juwita, Siti Afrianty D R, Abdul Malik 3

pengubahan bentuk dengan cara dipotong- dimasukkan dalam chamber yang telah berisi
potong kecil, selanjutnya dikeringkan dengan eluen fase atas n-heksan : etil asetat (1 : 4)
cara diangin-anginkan selama beberapa hari biarkan hingga terelusi sempurna. Setelah
pada udara terbuka dengan tidak terkena sinar itu bercak diamati di bawah sinar UV pada
matahari langsung. Kemudian diserbukkan panjang gelombang 366 nm dan dengan
dengan menggunakan blender. penyemprotan AlCl3 dan pereaksi sitroborat
yang menunjukkan warna kuning-kehijauan.
Ekstraksi
Sampel serbuk buah dan daun patikala Uji kuantitatif
(Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm) Uji senyawa fenolik
dimasukkan ke dalam wadah maserasi, 1. Pembuatan pereaksi Na2CO3 7%
ditambahkan pelarut metanol hingga serbuk Ditimbang sebanyak 3,5 g Na2CO3
simplisia terendam, dibiarkan selama 3-4 kemudian dilarutkan dengan
hari. Setelah proses ekstraksi pertama aquabidestillata hingga 50 ml.
selesai, ampasnya dimaserasi kembali 2. Penetapan kadar fenolik total
dengan cairan penyari yang baru. Ekstrak Penetapan kadar fenol total dengan metode
kental yang telah dikumpulkan lalu diuapkan kolorimetri yang mengacu pada prosedur
dengan menggunakan alat Rotary Vacuum Chun et al., (2003) Malik et al., (2015)
(YDSRUDWRU hingga diperoleh ekstrak etanolik GHQJDQ EHEHUDSD PRGL¿NDVL GHQJDQ DVDP
kering. gallat (GAE) sebagai standar.
a. Pembuatan larutan standar asam galat.
Uji kualitatif Larutan standar asam gallat 1000 ppm
Uji senyawa fenolik. Larutan ekstrak dibuat dengan menimbang 10 mg asam
metanol buah dan daun patikala ditotolkan gallat dilarutkan dengan metanol p.a
pada plat KLT dan dielusi dengan hingga volume 10 mL. Dari larutan stock
menggunakan pelarut n-butanol : asam asetat dipipet sebanyak 2,5 mL diencerkan
: air (4:1:5), kemudian diamati bercak pada dengan metanol p.a hingga volume 25
lampu UV dan disemprot dengan reagen besi mL dihasilkan konsentrasi 100 ppm. Dari
(III) klorida (FeCl3). Positif mengandung larutan tersebut dipipet 1, 2, 3, 4, 5 mL dan
fenol jika noda berwarna hijau, merah, ungu, dicukupkan dengan metanol p.a hingga
biru, atau hitam yang kuat (Harborne, 1987). 10 mL, sehingga dihasilkan konsentrasi
10, 20, 30, 40 dan 50 ppm.
8ML VHQ\DZD ÀDYRQRLG Larutan ekstrak b. Pengukuran larutan standar asam galat.
metanol buah dan daun patikala masing- Untuk masing-masing konsentrasi 10,
masing dilarutkan dengan metanol, kemudian 20, 30, 40 dan 50 ppm ditambahkan 0,4
ditotolkan pada lempeng KLT dengan fase mL reagen Folin-Ciocalteau dikocok
diam silica gel F254, lalu lempeng KLT dan dibiarkan 4-8 menit, ditambahkan

April 2015 (Vol. 2 No. 1)


4 Pharm Sci Res ISSN 2407-2354

4,0 mL larutan Na2CO3 7% kocok hingga dan dilarutkan dalam 10 ml metanol p.a
homogen. Ditambahkan aquabidestillata untuk 1000 ppm. Dari larutan standar
hingga 10 mL dan didiamkan selama 2 jam kuarsetin 1000 ppm, kemudian dipipet 1
pada suhu ruangan. Diukur absorbansi pada mL dan dilarutkan dalam 10 mL metanol
panjang gelombang maksimum 744,8 nm, p.a untuk 100 ppm, kemudian dibuat
dibuat kurva kalibrasi hubungan antara beberapa konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30
konsentrasi asam galat (µg/mL) dengan ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Dari masing-
absorbansi. masing konsentrasi larutan standar
c. Pembuatan larutan ekstrak buah dan daun kuersetin ditambahkan 3 mL metanol, 0,2
patikala masing-masing larutan ekstrak mL AlCl3 10%, 0,2 mL kalium asetat 1
buah dan daun patikala dibuat dengan cara M, dan dicukupkan dengan aquadestilata
menimbang 10 mg kemudian dilarutkan sampai 10 mL. Setelah itu diinkubasi
dengan 10 mL metanol p.a. selama 30 menit pada suhu kamar dan
d. Penetapan fenol total ekstrak buah dan ukur absorbansinya pada spektrofotometri
daun patikala. Masing-masing dipipet UV-Vis dengan panjang gelombang 431
sebanyak 1 mL larutan ekstrak buah nm.
dan daun patikala, kemudian sampel E 3HQHWDSDQ NDGDU ÀDYRQRLG WRWDO EXDK GDQ
ditambahkan dengan 0,4 mL reagen Folin- daun patikala
Ciocalteau dikocok dan dibiarkan 4-8 Ditimbang 100 mg ekstrak metanol buah
menit, tambahkan 4,0 mL larutan Na2CO3 dan daun patikala dilarutkan dalam 10 mL
7% kocok hingga homogen. Tambahkan metanol. Diambil 1 mL l tambahan 3 mL
aquabidestillata hingga 10 mL dan metanol, ditambahkan 0,2 mL AlCl3 10%,
diamkan selama 2 jam pada suhu ruangan. tambahkan 0,2 mL kalium asetat, dan
Ukur serapan pada panjang gelombang dicukupkan dengan aquadestilata sampai
serapan maksimum 744,8 nm. Lakukan 10 mL, simpan 30 menit pada tempat gelap
3 kali pengulangan sehingga kadar fenol dengan suasana suhu kamar, absorbansinya
yang diperoleh hasilnya didapat sebagai di ukur pada spektrofotometri UV-Vis
mg ekuivalen asam galat/g ekstrak. dengan panjang gelombang 431 nm.
Larutan sampel dibuat dalam tiga kali
8ML VHQ\DZD ÀDYRQRLG UHSOLNDVL VHKLQJJD NDGDU ÀDYRQRLG \DQJ
3HQHWDSDQ NDGDU ÀDYRQRLG WRWDO GHQJDQ diperoleh sebagai ekuivalen kuersetin.
metode kolorimetri yang mengacu pada
prosedur Chang et al., (2002) dan Ahmad AR Analisis data
et al GHQJDQ EHEHUDSD PRGL¿NDVL Analisis data dengan persamaan regresi
dengan kuersetin (QE) sebagai standar. linear menggunakan program Microsoft
a. Pembuatan larutan standar kuersetin Excel kemudian dihitung kadar fenolik dan
Ditimbang 10 mg baku standar kuersetin ÀDYRQRLG WRWDOQ\D

Pharm Sci Res


Aktsar Roskiana Ahmad, Juwita, Siti Afrianty D R, Abdul Malik 5

HASIL DAN PEMBAHASAN antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang,


antialergi, dan antikanker (Miller, 1996).
Patikala adalah tumbuhan yang tersebar
cukup luas di Indonesia dan digunakan Sampel buah dan daun patikala diperoleh dari
sebagai bahan obat. Tumbuhan ini di gunakan kota Palopo (Sulawesi Selatan). Penanganan
sebagai bahan pangan dan juga dapat sampel dilakukan dengan cara pengumpulan
digunakan untuk pengobatan (Antoro, 1995). dan pemisahan buah. Kemudian dilakukan
Seperti antioksidan (Krismawati, 2007), sortasi basah dan pencucian. Setelah bersih,
larvasida (Raden et al., 2012), antibakteri buah dan daun patikala tersebut dipotong-
(Valianty, 2002), dan antifungi (Hakim, potong kecil dan dikeringkan dengan cara
2009). Patikala merupakan tumbuhan diangin-anginkan pada udara terbuka dan
yang multiguna. Dari rimpang sampai terhindar dari sinar matahari langsung.
bunga, tumbuhan ini dapat digunakan. Kemudian diserbukkan dengan tujuan untuk
Secara tradisional bunga dan buah patikala memperluas permukaan simplisia yang
dimanfaatkan sebagai penambah citarasa kontak dengan cairan penyari sehingga
masakan seperti urab, dan pecel. Daunnya mempermudah pada proses pengekstraksian.
dapat dimasak sebagai sayur asam. Sedangkan Sampel yang telah diserbukkan kemudian
batangnya digunakan pada beberapa ditimbang kembali berat serbuk, berat
jenis masakan yang mengandung daging sampel serbuk yang diperoleh untuk
(Naufalin, 2005). Tanaman tersebut memiliki buah yaitu 1000 g dan daun yaitu 500 g.
banyak kandungan kimia, salah satunya
adalah senyawa fenolik (Naufalin, 2005). Metode ekstraksi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah maserasi yang
Senyawa fenolik merupakan senyawa bahan merupakan metode ekstraksi yang paling
alam yang cukup luas penggunaannya saat sederhana. Pelarut yang digunakan untuk
ini. Kemampuannya sebagai senyawa biologi maserasi yaitu metanol, digunakan pelarut
aktif memberikan suatu peran yang besar metanol karena pelarut ini dapat melarutkan
terhadap kepentingan manusia. Salah satunya hampir semua senyawa organik yang ada
sebagai antioksidan untuk pencegahan pada sampel, mudah menguap sehingga
dan pengobatan penyakit degeneratif, mudah dibebaskan dari ekstrak (Andayani et
kanker, penuaan dini, dan gangguan sistem al., 2008). Setelah proses ekstraksi ekstrak
imun tubuh (Apsari dan Susanti, 2011). cair kemudian dikumpulkan lalu diuapkan
Flavonoid hampir terdapat pada semua dengan menggunakan alat rotavapor (rotary
bagian tumbuhan termasuk buah, akar, daun, YDFXP HYDSRUDWRU dengan tujuan untuk
dan kulit luar batang (Worotikan, 2011). mendapatkan ekstrak metanol kental. Ekstrak
Sejumlah tanaman obat yang mengandung metanol yang diperoleh untuk buah sebanyak
ÀDYRQRLG WHODK GLODSRUNDQ PHPLOLNL DNWLYLWDV 19,35 g dan untuk daun sebanyak 25,85 g.

April 2015 (Vol. 2 No. 1)


6 Pharm Sci Res ISSN 2407-2354

Hasil rendemen dari ekstrak metanol buah PHQJJXQDNDQ PHWRGH .URPDWRJUD¿ /DSLV
Patikala sebesar 1,935% dan untuk daun Tipis (KLT). larutan ekstrak metanol buah
patikala sebesar 5,17%. Penentuan rendemen dan daun patikala serta asam galat ditotolkan
berfungsi untuk mengetahui kadar metabolit pada plat KLT F254 dengan ukuran 1x7
sekunder yang terbawa oleh pelarut tersebut cm. Untuk senyawa fenolik, dilakukan elusi
namun tidak dapat menentukan jenis senyawa dengan menggunakan pelarut n-butanol:asam
yang terbawa tersebut (Ukieyanna, 2012). asetat:air (4:1:5). Setelah dielusi, bercak
Uji kualitatif dilakukan untuk mengetahui diamati pada lampu UV dan dilakukan
komponen kimia pada tumbuhan, dengan penyemprotan dengan reagen besi (III)

Tabel 1. Hasil perhitungan persen rendemen ekstrak metanol buah dan daun patikala

Hasil Ekstrak Jumlah Pelarut Rendamen Ekstrak


Sampel Berat awal (g)
(g) metanol (L) (%)

EMBP 1000 19,35 7 1,935 %

EMDP 500 25,85 5 5,17 %


EMBP: Ekstrak Metanol Buah Patikala; EMDP: Ekstrak Metanol Daun Patikala

klorida (FeCl3). Diamati perubahan warna Digunakan asam galat sebagai larutan standar
yang terbentuk yaitu hitam yang kuat untuk karena merupakan salah satu fenol alami
asam galat, warna merah pada buah dan dan stabil, serta relatif murah dibanding
warna hijau pada daun yang menunjukkan lainnya. Asam galat termasuk dalam senyawa
adanya kandungan fenolik yang terdapat fenolik turunan asam hidroksibenzoat yang
dalam ekstrak metanol buah dan daun tergolong asam fenol sederhana. Asam galat
patikala. Positif mengandung fenol jika noda menjadi pilihan sebagai standar ketersediaan
berwarna hijau, merah, ungu, biru, atau hitam substansi yang stabil dan murni (Viranda,
\DQJ NXDW +DUERQH 8QWXN ÀDYRQRLG 2009). Asam galat direaksikan dengan reagen
lempeng KLT yang telah ditotolkan ekstrak Folin-Ciocalteu menghasilkan warna kuning
sampel dielusi dengan eluen N-heksan : yang menandakan bahwa mengandung fenol,
etil asetat (1 : 4), kemudian disemprotkan setelah itu ditambahkan dengan larutan
dengan reagen AlCl3 dan sitroborat. Na2CO3 menghasilkan warna biru (Viranda,
Selanjutnya bercak diamati dibawah 2009). Senyawa fenolik bereaksi dengan
lampu UV 366 nm. Bercak menunjukkan reagen Folin-Ciocalteu hanya dalam suasana
DGDQ\D VHQ\DZD ÀDYRQRLG DSDELOD EHUFDN basa agar terjadi disosiasi proton pada
berwarna kuning, dengan nilai Rf = 0,9. senyawa fenolik menjadi ion fenolat, sehingga
Pada penelitian ini untuk menentukan kadar ditambahkan larutan Na2CO3 (Apsari &
senyawa fenol total pada sampel digunakan Susanti, 2011). Sedangkan untuk menentukan
asam galat (GAE) sebagai larutan standar. NDGDU VHQ\DZD ÀDYRQRLG WRWDO SDGD VDPSHO

Pharm Sci Res


Aktsar Roskiana Ahmad, Juwita, Siti Afrianty D R, Abdul Malik 7

7DEHO +DVLO SHQJXMLDQ IHQROLN GDQ ÀDYRQLG HNVWUDN PHWDQRO EXDK GDQ GDXQ SDWLNDOD
(Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm)

,GHQWL¿NDVL
Sampel Fenol Flavonoid
FeCl3 AlCl3 Sitroborat
Buah (+) (+) (+)
Daun (+) (+) (+)

digunakan kuersetin (QE) sebagai larutan Dan larutan standar kuersetin diukur dengan
VWDQGDU 3DGD SHQJXNXUDQ NDGDU ÀDYRQRLG variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm diukur
total dilakukan penambahan AlCl3 yang pada panjang gelombang maksimal 431 nm.
dapat membentuk kompleks, sehingga terjadi Kemudian diperoleh nilai absorbansi larutan
pergeseran panjang gelombang ke arah standar asam galat pada masing-masing
YLVLEOH (nampak) ditandai dengan larutan konsentrasi, kemudian diperoleh persamaan
menghasilkan warna yang lebih kuning. garis linear yang nantinya digunakan untuk
Adapun penambahan kalium asetat untuk penetapan kadar fenolik total pada sampel
mempertahankan panjang gelombang pada ekstrak metanol buah dan daun patikala.
daerah YLVLEOH (tampak) (Chang et al., 2002). Hasil pengukuran serapan larutan standar
Larutan standar asam galat diukur dengan asam galat yang diperoleh dimasukkan ke
variasi konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm diukur dalam Microsoft Excel untuk mendapatkan
pada panjang gelombang maksimal 744,8 nm. kurva kalibrasi larutan standar asam galat

Gambar 1. Kurva kalibrasi asam galat pada panjang gelombang 744,8 nm dan
kuersetin galat pada panjang gelombang 431 nm

April 2015 (Vol. 2 No. 1)


8 Pharm Sci Res ISSN 2407-2354

EHUXSD JUD¿N NXUYD NRQVHQWUDVL YHUVXV senyawa fenol asam galat (GAE).Dan pada
DEVRUEDVL %HUGDVDUNDQ JUD¿N GDSDW GLOLKDW SHQJXNXUDQ NDGDU ÀDYRQRLG WRWDO HNVWUDN
bahwa kurva kalibrasi dengan persamaan metanol buah patikala adalah sebesar 1,77%
regresi untuk absorbasi asam galat pada b/b dan daun patikala adalah sebesar 5,45%
konsentrasi 1, 2, 3, dan 4 ppm sebesar y = E E GLKLWXQJ WHUKDGDS ÀDYRQRLG NXHUVHWLQ
0,010x + 0,977 dan kuarsetin sebesar y = (QE).
0,0073x + 0,0097 larutan standar senyawa
IHQRO GDQ ÀDYRQRLG GLSHUROHK KXEXQJDQ Dalam penelitian sebelumnya, senyawa
yang linier antara absorbansi dengan fenolik diketahui memiliki berbagai efek
konsentrasi. Pada pengukuran absorbansi biologis sebagai antioksidan, melindungi
\DQJ GLWXQMXNNDQ GHQJDQ QLODL NRH¿VLHQ VWUXNWXU VHO DQWLLQÀDPDVL GDQ VHEDJDL
korelasi (r) sebesar 0,999, nilai (r) ini antiseptik (Primadini, 2010). Sedangkan
mendekati angka 1 yang menunjukkan bahwa PDQIDDW ÀDYRQRLG DQWDUD ODLQ XQWXN
persamaan regresi tersebut adalah linier. melindungi struktur sel, meningkatkan
HIHNWL¿WDV YLWDPLQ & DQWLLQÀDPDVL PHQFHJDK
Pada pengukuran senyawa fenolik dan keropos tulang dan sebagai antibiotik
ÀDYRQRLG WRWDO GLEXDW VHEDQ\DN WLJD UHSOLNDVL (Haris, 2011). Menurut penelitian Kurniasari
untuk keperluan akurasi data. Sehingga dari (2006) menyatakan bahwa sejumlah tanaman
hasil penelitian ini diperoleh kadar fenolik REDW \DQJ PHQJDQGXQJ ÀDYRQRLG WHODK GL
total pada ekstrak metanol buah patikala laporkan telah memiliki aktivitas antioksidan,
adalah sebesar 2,29% b/b dan daun patikala antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi
adalah sebesar 6,29% b/b dihitung terhadap dan antikanker.

Tabel 3. Hasil pengukuran absorbansi kadar fenolik total pada ekstrak


metanol buah dan daun patikala

Kandungan
Fenolik total Rata-rata fenolik
Sampel Replikasi Absorbansi Fenolik awal
(mgGAE/g eks) total (%)
(mg/mL)
EMBP 1 0,280 0,0222 mg/mL 0,0222mgGAE/g
2 0,289 0,0231 mg/mL 0,0231 mgGAE/g 2,29%
3 0,294 0,0236 mg/mL 0,0236 mgGAE/g
EMDP 1 0,686 0,0628 mg/mL 0,0628 mgGAE/g
2 0,698 0,064 mg/mL 0,064 mgGAE/g 6,29 %
3 0,679 0,0621mg/mL 0,0621 mgGAE/g

EMBP: Ekstrak Metanol Buah Patikala; EMDP: Ekstrak Metanol Daun Patikala

Pharm Sci Res


Aktsar Roskiana Ahmad, Juwita, Siti Afrianty D R, Abdul Malik 9

7DEHO +DVLO SHQJXNXUDQ DEVRUEDQVL NDGDU ÀDYRQRLG WRWDO SDGD


ekstrak metanol buah dan daun patikala

Kandungan Rata-rata
Flavonoid total
Sampel Replikasi Absorbansi Flavonoid awal ÀDYRQRLG WRWDO
(mgQE/g eks)
(mg/mL) (%)
EMBP 1 0,114 0,017571 mg/mL 0,017571 mgQE/g eks
2 0,116 0,017857 mg/mL 0,017857 mgQE/g eks 1,77%
3 0,116 0,017857 mg/mL 0,017857 mgQE/g eks
EMDP 1 0,368 0,053857 mg/mL 0,053857 mgQE/g eks
2 0,384 0,056142 mg/mL 0,056142 mgQE/g eks 5,45%
3 0,366 0,053571 mg/mL 0,053571 mgQE/g eks

EMBP: Ekstrak Metanol Buah Patikala; EMDP: Ekstrak Metanol Daun Patikala

KESIMPULAN International Journal of PharmTech


Research, 6 (2) : 600-606
Berdasarkan hasil penelitian yang telah Andayani, R. (2008). 3HQHQWXDQ DNWLYLWDV
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa : antioksidan kadar fenolat total dan
1. Ekstrak buah dan daun patikala (Etlingera likopen pada buah tomat (Solanamum
elatior (Jack) R.M.Sm) mengandung lycopersicum L.). Padang: Fakultas
senyawa golongan fenolik, dimana buah Farmasi Universitas Andalas
sebesar 2,29% b/b dan daun sebesar 6,29 Antoro, E.D. (1995). 6NULQLQJ ¿WRNLPLD
% b/b dihitung terhadap Asam Galat. rimpang Nicolaia speciosa Horan secara
2. Ekstrak buah dan daun patikala (Etlingera PLNURNLPLDZL NURPDWRJUD¿ ODSLV WLSLV
elatior (Jack) R.M.Sm) mengandung dan spektrofotometri UV. Bandung
VHQ\DZD JRORQJDQ ÀDYRQRLG GLPDQD Apsari, Pramudita Dwi., & Susanti, H.
buah sebesar 1,77% b/b dan daun sebesar (2011). Penetapan kadar fenolik total
5,45% b/b dihitung terhadap kuersetin. ekstrak metanol kelopak bunga rosella
merah (Hibiscus sabdariffa Linn)
DAFTAR ACUAN dengan variasi tempat tumbuh secara
spektrofotometri. Jurnal Ilmiah
Ahmad, A.R. Sakinah, Wisdawati, Waode Kefarmasian, 2(1), 73-80
Asrifa. (2014). Study of Antioxidant Chun, O.K., Kim D.O., and Lee C.Y. (2003).
activity and determination of Phenol Superoxide radical scavenging activity
and Flavonoid content of Pepino’s Leaf of the mayor polyphenols in fresh
extract (Solanum muricatum Aiton). plums. Journal of Agricultural and Food

April 2015 (Vol. 2 No. 1)


10 Pharm Sci Res ISSN 2407-2354

Chemistry, i51:8067-8072 Naufalin, Rifda. (2005). Kajian sifat


Hakim, A.R. (2009). Uji potensi antifungi antimikroba ekstrak bunga kecombrang
ekstrak etanol rimpang kecombrang (Nicolaia speciosa Horan) terhadap
(Nicolaia speciosa Horan) terhadap berbagai mikroba patogen dan perusak
Trichophyton mentagrophytes dan pangan. Bogor : Institut Pertanian
Trichophyton rubrum. Jakarta : UIN Bogor
Syarif Hidayatullah Primadini, R.,D. (2010). Uji aktivitas
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia pengkhelatan besi pada ekstrak metanol
: Penuntun cara modern menganalisa tanaman obat pegagan (Centella
tumbuhan. Terbitan Kedua. Terjemahan asiatica), Bunga Merak (Caesalpinia
Kosasih Padmawinata dan Iwang pulcherimma) dan Sendilaw Udang
Soediro. Bandung : ITB (Commersonia batramia). Skripsi.
Krismawati, A. (2007). Uji toksisitas beberapa Bengkulu : Universitas Bengkulu
jenis tanaman Indonesia yang dipercaya Raden, H.P.P., Betta, K., Syazili, M. (2012).
dapat menurunkan berat badan (ceremai, Uji efek fraksi metanol ekstrak batang
jati belanda, kunci pepet, delima putih, kecombrang (Etlingera elatior) sebagai
bangle, kemuning) terhadap proliferasi larvasida terhadap larva instar III Aedes
sel limfosit manusia secara LQ YLWUR aegypti. Medical Journal of Lampung
Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor 8QLYHUVLW\
Kurniasari, I. (2006). Metode cepat penentuan Ukieyanna, E. (2012). Aktivitas antioksidan,
ÀDYDQRLG WRWDO PHQLUDQ 3K\OODQWXV NDGDU IHQROLN GDQ ÀDYDQRLG WRWDO
niruri L) berbasis teknik spektrofotometri tumbuhan suruhan (Peperomia pellucid
inframerah dan kemometrik. Bogor : L. Kunth). Bogor: Fakultas Teknologi
IPB Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Miller, A.L. (1996). $QWLR[LGDQW ÀDYRQRLGV Valianty K. (2002). Potensi antibakteri
structure, function, and clinical usage. minyak bunga kecombrang. Purwokerto:
Alt Med Rev1:103 – 111 Universitas Jendral Soedirman
Malik, A. Ahmad, AR. (2015). Determination
RI SKHQROLF DQG ÀDYRQRLG FRQWHQWV RI
ethanolic extract of kanunang leaves
(Cordia myxa L.). International Journal
of PharmTech Research, 7(2), 243-246

Pharm Sci Res