Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

AKUNTANSI KEWAJIBAN

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 10 :

1. MARIA LISWANTY (1810020038)

2. IIS FITRIANTY (1810020038)

3. YOLLANDA LAKAPU (18100200115)

4. YULDYANSI I WIKE (1810020011)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur di haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-
Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan Makalah dengan judul “AKUNTANSI KEWAJIBAN”
dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini susun untuk memenuhi salah satu tugas bagi
Mahasiswa/I Program Studi Akuntansi Kelas VI A yang mengambil Mata kuliah Akuntansi
Keuangan Daerah. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih begitu banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sehingga dalam
penulisan makalah berikutnya bisa lebih baik lagi.

Semoga Makalah ini bermanfaat dan bisa menjadi bahan evaluasi serta tolak ukur
khususnya untuk mata kuliah Akuntansi Keuangan Daerah di masa yang akan datang.

Kupang, 18 April 2021

Penulis
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Akuntansi Kewajiban

2.2 Klasifikasi, Pengakuan, Dan Pengukuran

2.3 Kewajiban Jangka Pendek

2.4 Kewajiban Jangka Panjang

2.5 Penyajian dan Pengungkapan

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kewajiban kepada masyarakat luas yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti
rugi, alokasi/relokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa
lain. Kewajiban pemerintah juga dapat timbul dari pengadaan barang dan jasa dari pihak
ketiga yang belum dibayar pemerintah pada akhir tahun anggaran.
Disamping kewajiban-kewajiban di atas, ada juga kewajiban-kewajiban di atas,
ada juga kewajiban-kewajiban yang jumlah dan waktu pembayarannya belum pasti yang
disebut kewajiban kontinjensi. Kewajiban kontinjensi adalah kewajiban potensial yang
timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadannya menjadi pasti dengan terjadinya atau
tidak terjadinya suatu peristiwa lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada
dalam kendali suatu entitas. Misalnya Pemerintah memberikan pinjaman atas tabungan
masyarakat di lembaga perbankan , informasi ini diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa defenisi dari kewajiban?
2. Bagaiamana klasifikasi, pangakuan, dan pengukuran yang berkaitan dengan
akuntansi kewajiban dalam Pemerintahan Daerah?
3. Bagaiamana kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam Pemerintahan
Daerah?
4. Bagaiamana penyajian dan pengungkapan utang Pemerintah?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui defenisi dari kewajiban.
2. Mengetahui kalsifikasi pengakuan, dan pengukuran yang berkaiatan dengan
akuntansi kewajiban dalam Pemerintahan Derah.
3. Mengetahui kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam Pemerintahan
Daerah.
4. Mengetahui penyajian dan pengungkapan utang pemerintah.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFENISI AKUNTANSI KEWAJIBAN

Karakteristik utama kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban sampai


saat ini yang dalam penyelesainnya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa
yang akan datang. Menurut PSAK Nomor 09, kewajiban didefenisikan sebagai utang yang
timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya
ekonomi pemerintah.

Kewajiban umumnya timbul kerena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab
untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain kerena
penggunaan sumber pendanaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas
pemerintahan lain, atau lembaga Internasional. Kewajiban pemerintah dapat juga terjadi kerena
perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah, kewajiban kepada masyarakat luas
yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti rugi, kelebihan setoran pajak dari wajib pajak,
alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lainnya.

2.2 KLASIFIKASI, PENGAKUAN, DAN PENGUKURAN

Kewajiban dikalsifikasikan menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Suatu
kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan dibayar dalam
waktu 2 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Semua kewajiban lainnya diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka panjang.

Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi
akan dilakukan untuk menyelesaiakan kewajiban yang ada sampai saat pelaporan, dan perubahan
atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat diukur dengan andal.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima oleh pemerintah atau dikeluarkan oleh
kreditur sesuai dengan kesepakatan, dan/atau pada saat kewajiban timbul. Kewajiban dicatat
sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata
uang rupiah. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal
neraca.

2.3 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

Beberapa jenis kewajiban jangka pendek antara lain: utang pihak ketiga, utang transfer,
utang bunga, utang perhitungan pihak ketiga (PFK), bagian lancer utang jangka panjang, dan
utang jangka pendek lainnya (misalnya utang belanja dan pendapatan di terima di muka). Utang
pihak ketiga terjadi pada saat pemerintah menerima ha katas barang/jasa, termasuk barang/jasa
dalam perjalanan yang telah menjadi haknya, pemerintah harus mengakui kewajiban atas jumlah
yang belum dibayarkan untuk barang tersebut. Utang pada pihak ketiga berasal dari kontrak atau
perolehan barang/jasa yang sampai dengan tanggal pelaporan belum dibayar.

Utang transfer terjadi ketika kerena kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan
pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-undangan. Utang transfer
diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Utang bunga timbul karena pemerintah mempunyai utang jangka pendek yang antara lain
berupa surat perbendaharaan negara (SPN), utang jangka panjang yang berupa utang luar negeri,
utang obligasi negara, uatang jangka panjang sektor perbankan, dan utang jangka panjang
lainnya. Atas utang-utang tersebut terkandung unsur biaya berupa bunga yang harus dibayarkan
kepada pemegang surat-surat utang dimaksud. Utang bunga atas utang pemerintah harus dicatat
sebesar biaya bunga yang telah terjadi dan belum dibayar. Bunga dimaksud dapat berasal dari
utang pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri. Utang bunga atas utang pemerintah yang
belum dibayar harus diakui pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban
yang berkaitan.

Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) menurut PSAP 09 paragaf 5 adalah utang
pemerintah kepada pihak lain yang disebabkan kedudukan pemerintah sebagai pemotong pajak
atau pungutan lainnya seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Iuran
Akses, Taspen dan Taperum. Utang PFk berasal dari jumlah yang dipotong dari Surat Perintah
Pencairan Dana Mekanisme Langsung Untuk Gaji (SP2D-LS Gaji). Pada kahir periode
pelaporan, saldo pungutan/potongan berupa PFK yang belum disetorkan kepada pihak lain harus
dicatat pada laporan keuangan sebesar jumlah yang masih harus disetorkan.

Bagian lancer utang jangka panjang adalah bagian dari utang jangka panjang yang akan
jatuh tempo dalam satu periode akuntansi. Nilai yang dicantumkan dalam laporan keuangan
untuk bagian lancer utang jangka panjang adalah jumlah yang akan jatuh tempo dalam waktu 2
bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban lancer lainnya merupakan kewajiban lancar yang
tidak termasuk dalam kategori yang ada. Termasuk dalam kewajiban lancar lainnya tersebut
adalah biaya yang masih harus dibayar pada saat laporan keuangan disusun. Pengukuran untuk
masing-masing item disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pada pos tersebut,
misalnya yang masih harus dibayarkan atas jasa yang telah diserahkan oleh pegawai tersebut.
Contoh lainnya adalah penerimaan pembayaran di muka atas penyerahan barang atau jasa oleh
pemerintah kepada pihak lain.

2.4 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

Bulletin Teknik Nomor 08 menyatakan bahwa kewajiban jangka panjang antara lain
terdiri dari utang luar negeri, uatng dalam negeri-sektor perbankan, utang dalam negeri-obliigasi,
utang pembelian cicilan, dan utang jangka panjang lainnya. Berikut adalah deskripsi dari masing-
masing jenis kewajiban jangka panjang tersebut, yaitu:

Utang laur negeri atau biasa dikenal dalam istilah pemerintah sebagai pinjaman luar
negeri merupakan salah satu instrument yang dimabil oleh pemerintah dalam upaya
menanggulangi defisit anggaran. Pinjaman luar negeri dapat dikelompokkan dalam beberapa
jenis sumber dana seperti:

1. Negara asing
2. Lembaga multilateral
3. Lembaga keuangan dan lembaga nonkeuangan asing, dan
4. Lembaga keuangan nonasing yang berdomisili dan melaukan kegiatan usaha di luar
wilayah Negara Republik Indonesia.

Pengaturan utang luar negeri terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang
Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman.
Utang dalam negeri sektor perbankan merupakan utang jangka panjang yang berasal dari
perbankan dan diharapkan akan dibayar lebih dari dua belas bulan setelah tanggal neraca.
Berdarkan pasal 8 PP 54 tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, Pemerintah Daerah dapat
melakukan Pinjaman Jangka panjang yang bersumber dari lembaga keuangan bank yang
berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik
Indonesia. Sepanjang tidak diatur secara khusus dalam perjanjian pinjaman, utang dalam negeri
sektor perbankan diakui pada saat dana diterima di Kas Daerah. Utang Perbankan disajikan
sebagai kewajiban jangka panjang. Rincian utang perbankan diungkapkan di CaLK berdasarkan
pemberi pinjaman.

Utang dalam negeri obligasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu obligasi negara dan
obligasi daerah titik obligasi negara adalah salah satu jenis surat utang negara yang berjangka
waktu lebih dari 12 bulan dengan imbalan bunga tetap ( fixed rate/FR) atau dengan imbalan
bunga secara variabel. Sesuai kebutuhan pemerintah dalam hal pembiayaan atau pendanaan,
obligasi negara dapat diterbitkan dalam mata uang rupiah ataupun dalam valuta asing. Surat
utang negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah
maupun valuta asing yang dijamin pembayaran pokok utang dan bunganya oleh negara Republik
Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Obligasi daerah adalah pinjaman daerah yang
ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Utang obligasi
negara/daerah ah dia kui pada saat kewajiban timbul yaitu pada saat terjadi transaksi penjualan.
Terkait dengan transaksi penjualan utang obligasi bunga atas utang obligasi diakui sejak saat
penerbitan utang obligasi tersebut, atau sejak tanggal pembayaran Bunga terakhir, sampai saat
terjadinya transaksi.

Hutang cicilan adalah kewajiban yang timbul karena perolehan barang/jasa pemerintah
dilakukan dengan membayar secara angsuran. Suatu lembaga pemerintah, sebagai instansi
operasional, secara fungsional seringkali tidak dapat mengelak dari kebutuhan akan sarana dan
prasarana yang mahal tersebut. Barang modal tersebut ada kalanya tidak dapat dilunasi dengan
anggaran 1 tahun. Salah satu bentuk pembiayaan tersebut adalah dengan mengikat hutang
cicilan. Secara hukum, transaksi ini ditandai dengan penandatanganan surat atau utang atau
hipotik oleh pembeli yang menetapkan secara spesifik syarat-syarat pembayaran atau
penyelesaian kewajiban.
Utang jangka panjang lainnya adalah utang jangka panjang yang tidak termasuk pada
kelompok utang dalam negeri sektor perbankan, utang dalam negeri obligasi dan utang luar
negeri, misalnya utang kemitraan. Utang kemitraan merupakan utang yang berkaitan dengan
adanya kemitraan pemerintah dengan pihak ketiga dalam bentuk bangunan,serah, Kelola (BSK).
BSK merupakan pemanfaatan aset pemerintah oleh pihak ketiga/investor dengan cara pihak
ketiga/ investor tersebut mendirikan bangunan dan garis miring atau sarana lain berikut
fasilitasnya kemudian menyerahkan aset yang dibangun tersebut kepada pemerintah untuk
dikelola oleh mitra sesuai dengan tujuan pembangunan aset tersebut. Penyerahan aset oleh pihak
ketiga/investor kepada pemerintah disertai dengan pembayaran kepada investor sekaligus atau
secara bagi hasil. Utang kemitraan dengan pihak ketiga muncul apabila pembayaran kepada
investor dilakukan secara angsuran atau secara bagi hasil pada saat penyerahan aset kemitraan
titik utang kemitraan disajikan pada neraca sebesar dana yang dikeluarkan investor untuk
membangun aset tersebut. Apabila pembayaran dilakukan dengan bagi hasil, utang kemitraan
disajikan sebesar dana yang dikeluarkan investor setelah dikurangi dengan nilai bagi hasil yang
dibayarkan.

2.5 PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN

Dalam hal penyajian dan pengungkapan utang pemerintah Nomor 09 paragraf 87 mengatur
sebagai berikut. Utang pemerintah diungkapkan secara rinci dalam bentuk daftar skedul utang
titik informasi harus disajikan dalam catatan atas laporan keuangan (CaLK):

a. Jumlah saldo kewajiban jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan pemberi
pinjaman

b. Jumlah saldo keajaiban utang pemerintah berdasarkan jenis sekuritas dan jatuh temponya

c. Bunga pinjaman yang terutang pada periode berjalan dan tingkat bunga yang berlaku

d. Konsekuensi penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo

e. Perjanjian restrukturisasi utang meliputi pengurangan pinjaman, modifikasi persyaratan

f. utang, pengurangan tingkat bunga pinjaman, pengunduran jatuh tempo pinjaman,


pengurangan nilai jatuh tempo pinjaman, dan pengurangan jumlah bunga terutang
g. Jumlah tunggakan pinjaman yang disajikan dalam bentuk daftar umur piutang
berdasarkan kreditur, dan

h. Biaya pinjaman meliputi perlakuan, jumlah yang dikapitalisasi, dan tingkat kapitalisasi.

ILUSTRASI PENCATATAN

Berikut adalah ilustrasi pencatatan akun kewajiban pemerintah. Pada 20 Desember 2014,
CV anugrah telah menyelesaikan kegiatan pemeliharaan gedung kantor dinas pendidikan dengan
biaya sebesar 25 juta. Kegiatan telah diselesaikan namun pembayaran baru dapat dilakukan pada
15 Januari 2015. Jurnal yang perlu dibuat oleh fungsi akuntansi dinas pendidikan adalah sebagai
berikut( dalam jutaan rupiah):

TGL Jurnal Finansial Jurnal Realisasi Anggaran


20 Des Beban pemeliharaan (D) 25 Tidak ada Jurnal
2014 Utang Pihak Ketiga (K) 25

15 Januari Utang Pihak Ketiga (D) 25 Belanja Pemeliharaan (D) 25


2015 Kas (K) 25 Perubahan SAL (K) 25
Dinas pendapatan , pengelolaan keuangan , dan asset daerah (DPPKAD) pada 1 april 2014
menerima pinjaman dalam negeri Rp 10 milyar untuk pengembangan infrastruktur . utang
bersifat jangka panjang dengan bunga 4% per tahun dan dibayar setiap tanggal 1 april . jatuh
tempo pinjaman tersebut pada 1 april 2020 . jurnal yang perlu dibuat adalah sebagai berikut(
dalam rupiah)

Tanggal Jurnal Finansial Jurnal Realisasi Anggaran

1 April Kas (D) 10 M Perubahan SAL (D) 10M


2014
Utang Dalam Penerimaan
Negeri (K) Pembiayaan-Utang Jk.
10 M
Panjang
10M

31 Des Beban Bunga (D)


300Jt×
2014 Tidak Membuat Jurnal
Utang Bunga (K)
300Jt
×
9/12 X 4% x Rp
10 M

Utang Bunga (D)

1 April Beban Bunga (D) Belanja Bunga (D)


2015 300Jt 400Jt
Kas (K) Perubahan SAL (K)
100Jt×× 400Jt
××
3/12 x 4% X Rp
10 M 400Jt

Jurnal
Penyesuaian utang
bunga dan
pembayaran bunga
pada tahun-tahun
berikutnya sama
dengan contoh
diatas

Utang Dalam
Negeri (D)

Kas (K)

1 April Pembiayaan-
2020 pembayaran pokok
pinjaman (D)
10 M
Kas (K)
10 M 10 M

10M
Berikut ilustrasi penyajian kewajiban pada neraca pemerintah Kota Surabaya :

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

NERACA

Per 31 Desember 2011 dan 2010

Kenaikan ( penurunan
No Uraian Jumlah
)

39 KEWAJIBAN 2011(1) 2010 (2) Jumlah (3) %

40 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

41 Utang perhitungan pihak ketiga 25.


(PPK)
42
Utang Bunga
43
Bagian lancar untang jangka panjang
44
Utang jangka pendek lainnya
45
Jumlah kewaiban jangka pendek

46

47

48

49
Pengungkapan setiap pos kewajiban pada neraca di atas terdapat dalam catatan atas laporan
keuangan (CALK). Misalnya, untuk akun utang perhitungan pihak ketiga dalam CALK Pemkot
Surabaya tahun 2011 diperinci lagi seperti pengungkapan berikut ini.

Utang perhitungan 31 desember 2011 31 desember 2010


pihak ketiga
Rp 25.312.504.952,00 Rp 43.658.902.738,61

Jumlah utang perhitiungan fihak ketiga (PFK) tersebut di rinci sebagai berikut

31 Desember 2011 31 Desember 2010

 Titipan Pihak Ketiga Rp 25.017.839.440,00 Rp 32.724.659.603,61

 Utang Pajak di
Bendahara Pengeluaran
Rp 294.665.512,00 Rp 1.155.373.552,00
SKPD
Rp 0,00 Rp 9.778.869.583,00
 Utang Pajak BUD

Jumlah Rp 25.312.504.952,00 Rp 43.658.902.738,61

Untuk setiap jenis utang PFK diatas di perinci lagi , misalnya pengungkapan untuk titipan fihak
ketiga dan utang pajak dibendahara pengeluaran SKPD dipeirnci sebagai berikut:

Titipan pihak ketiga di BUD sebesar Rp 25.017.839.440,00 terdiri dari

SALDO PER

NO URAIAN 31 DESEMBER 2011

(Rp)
1 Bongkar reklame 20.622.548.656,00

2 Rusun waru gunung 3.972.784,00

3 Partisipasi pengelolaan kebun bibit 160.000.000,00

4 Pelepasan tanah jalan kenari 4.231.316.000,00

Jumlah 25.017.839.440,00

Utang pajak dibendahara pengeluaran SKPD adalah pajak yang belum disetor oleh bendahara
pengeluaran SKPD sampai dengan 31 desember 2011 yaitu sebesar Rp 294.665.512,00 dan
pajak tersebut telah disetor ditahun 2012, dengan rincian SKPD:

NO NAMA SKPD Jumlah

1 Dinas pendidikan 3.170.250,00

2 Dinas pendapatan dan pengelolaan


201.495262,00
keuangan

JUMLAH 296.665.512,00
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Akuntansi kewajiban pemerintah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) nomor
24 tahun 2005 dalam standar akuntansi pemerintah pernyataan No.09 (PSAP) tentang
Akuntansi Kewajiban. Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesainnya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Dalam
konteks pemerintahan, kewajiban muncul antara lain kerena pengunaan sumber
pembiayaan yang berasal dari pinjaman. Pinjaman tersebut dapat berasal dari masyarakat,
lembaga keuangan, pemerintah lain, atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah
juga terjadi kerena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah, kewajiban
kepada masyarakat luas yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti rugi,
alokasi/relokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lain.
Kewajiban pemerintah dapat juga timbul dari pengadaan barang dan jasa dari pihak
ketiga yang belum dibayar pemerintah pada akhir tahun angggaran.
DAFTAR PUSTAKA

H Salim, A., & kusufi, M. S. (2007). Akuntansi Keuangan Daerah. Jagakarsa: Salemba
Empat.