Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KEWIRAUSAHAAN

“PENETAPAN HARGA”

Oleh:

Keompok 6

1. Nurtiani Ratu Djaga (1833122115)


2. I Gusti Bagus Satya Bramasiwi (1833122114)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WARMADEWA

DENPASAR

2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tidak bisa dipungkiri bahwa perilaku masyarakat di jaman sekarang adalah perilaku
masyarakat yang konsumtif terhadap barang apa saja. Maka dari itu  dalam kehidupan
ekonomi produsen dan konsumen adalah suatu kesatuan yang sangat sulit untuk
dipisahkan,kehidupan, konsumen berlomba-lomba untuk memperoleh penawaran yang
setinggi-tingginya, sedangkan prodesen berusaha mendapatkan keuntungan yang besar, di
sinilah muncul penentuan harga dan kebijaksanaan serta strateginya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Harga?
2. Apa saja tujuan penetapan harga?
3. Apa saja kekuatan potensial dalam penentuan harga?
4. Apa saja strategi dan taktik penetapan harga?
5. Apa saja metode penetapan harga?
6. Bagaimana dampak kredit terhadap penetapan harga?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami pengertian harga
2. Mengetahui dan memahami tujuan penetapan harga
3. Mengetahui kekuatan potensial dalam penentuan harga
4. Mengetahui dan memahami strategi dan taktik penetapan harga
5. Mengetahui dan memahami metode penetapan harga
6. Mengetahui dampak kredit terhadap penetapan harga
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Harga

Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk
karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran / marketing mix (4P = product,
price, place, promotion / produk, harga, distribusi, promosi). Harga adalah suatu nilai
tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga
merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan
seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya
baik berupa barang maupun jasa.

Definisi Harga menurut:


 Alex S Nitisemito (1991:55) Harga diartikan sebagai nilai suatu barang atau jasa
yang diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang atau
perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimiliki kepada pihak lain.
 Stanton, (1984), Harga adalah nilai yang dinyatakan dalam dolar dan sen atau
medium moneter lainnya sebagai alat tukar.
 Menurut menurut Alex S Nitisemito (1991:55) Harga diartikan sebagai nilai suatu
barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai
tersebut seseorang atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang
dimiliki kepada pihak lain.
 Harga yang ditetapkan atas suatu produk baru harus dapat memberikan pengaruh
yang baik bagi petumbuhan pasar. Selain itu untuk mencegah timbulnya persaingan
yang sengit. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan harga produk
baru, Tjiptono (2001 : 172)

2.2 Tujuan Penetapan Harga


 Berorientasi pada Laba, setiap usaha selalu memilih penetapan harga yang bertujuan
menghasilkan laba paling banyak. Namun karena besarnya persaingan, sehingga
suatu usaha sering kesulitan dalam memastikan harga yang dapat menghasilkan laba
paling banyak. Sebagai solusinya para pelaku usaha  menggunakan pendekatan target
laba, yaitu besar laba yang sesuai dengan sasaran laba.Berorientasi pada Volume,
bahwa penetapan harga sedemikian rupa agar dapat mencapai tingkat volume
penjualan tertentu, nilai penjualan atau pangsa pasar tertentu.
 Tujuan berorientasi pada volume, penetapan yang berorientasi pada volume,
bertujuan menetapkan harga untuk mencapai target volume penjualan atau pangsa
pasar tertentu. Biasanya harganya lebih murah, dibandingkan harga yang berorientasi
pada laba.
 Tujuan berorientasi pada stabilitas harga, orientasi pada stabilitas harga bertujuan
untuk menjaga kestabilan antara harga produk suatu usaha  dengan harga yang
dimiliki para pesaingnya.

2.3 Tiga Kekuatan Potensial: Citra, Persaingan dan nilai

 Penetapan Harga Membentuk Citra


Yaitu penetapan harga yang bertujuan membentuk citra atau image produk dari suatu
usaha. Misalnya dengan memberikan harga paling rendah untuk menanamkan image
murah pada produk yang Anda tawarkan.Berorientasi pada Stabilitas Harga, hal ini
dilakukan untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara suatu perusahaan dan
harga pemimpin industri (industry leader).

 Penetapan Harga Berdasarkan Pesaing


Penetapan harga menurut keadaan, penetapan harga terutama dengan mengikuti
harga pesaing bukan berdasarkan pada biaya perusahaan atau permintaan. Mungkin
perusahaan menetapkan harga sama atau lebih tinggi atau lebih rendah dari pesaing.
Perusahaan lebih kecil mungkin mengikuti harga pemimpin pasar. Penetapan Harga
penawaran tertutup, penetapan harga berdasarkan pada pendapat mereka mengenai
bagaimana pesaing menetapkan harga ketimbang pada biaya atau permintaanya
sendiri.digunakan bila perusahaan mengkuti lelang untuk memperoleh pekerjaan.

Perilaku penentuan harga (pricing behavior) dari pesaing-pesaing merupakan elemen


penting yamg harus diperhatikan. Perusahaan harus mengamati pesaing-pesaing agar
dapat menentukan biaya-biaya, harga dan keuntungan perusahaan itu sendiri. Hal ini
dapat dilakukan dengan beberapa teknik , seperti competitive shoping, market
reseach, dan perbandingan harga terhadap kualitas suatu setiap penawaran yang
ditawarkan oleh pesaing utama.

 Penetapan harga Berdasarkan Nilai


Penetapan harga berdasarkan nilai menggunakan persepsi pembeli pada nilai bukan
biaya penjualan, sebagai kunci untuk penetapan harga. Penetapan harga berdasarkan
nilai berarti bahwa pemasar tidak dapat merancang produk dan program pemasaran,
lalu kemudian menetapkan harga. Harga dipertimbangkan bersama dengan variabel
bauran pemasaran yang lain sebelum program pemasaran dibuat.

2.4 Strategi dan Taktik Penetapan Harga


1. Strategi Penetapan Harga
Strategi penetapan harga adalah tahapan dimana perusahaan mengklasifikasikan dan
menggolongkan produk atau jasa yang dihasilkannya merupakan ‘produk baru’ yang
belum memiliki konsumen loyal/tetap atau ‘produk yang telah beredar’ yang telah
memiliki pangsa pasar tersendiri.
Strategi penetapan harga ini juga berhubungan dengan siklus kehidupan
produk (Product Life Cycle) dimana suatu produk memiliki empat tahapan utama
yakni, Perkenalan, Pertumbuhan, Kematangan dan Penurunan.

Secara khusus strategi penetapan harga ini terdiri dari ;


1) Produk Baru
Dalam menetapkan strategi penetapan harga yang efektif untuk produk baru atau
tahap perkenalan ini terdapat 2 (dua) alternatif strategi penetapan harga, yaitu
a. Harga Mengapung (Skimming Price)
Memberikan harga tinggi untuk menutup biaya dan menghasilkan
labamaksimum (perusahaan dapat meyakinkan konsumen bahwa produknya
berbeda dengan produk sejenis yang lain.)
Pendekatan skimming sangat efektif jika terdapat diferensiasi harga pada
segmen tertentu dan pesaing relatif sedikit. Skimming juga dapat
dimanfaatkan untuk membatasi permintaan sampai perusahaan merasa siap
untuk melakukan produksi masal. Apalagi skimming dapat meningkatkan
nilai produk menjadi sangat prestisius.
b. Harga Penetrasi
Memberikan harga rendah untuk menciptakan pangsa pasar dan permintaan,
strategi ini dapat diterapankan pada situasi pasar tidak terfragmentasi ke
dalam segmen yang berbeda, serta produk tersebut tidak mempunyai nilai
simbolis yang tinggi. Pendekatan ini juga efektif terhadap sasaran pasar yang
sensitif harga.

2) Produk Yang Telah Beredar


Strategi penetapan harga untuk produk yang telah beredar ini tentunya tidak
terlepas dari posisi produk atau jasa tersebut dari siklus kehidupan produk, dalam
hal ini tahapan siklusnya berada pada 3 (tiga) tingkatan berikutnya setelah
perkenalan yakni;
a. Tahap Pertumbuhan
Pada tahap pertumbuhan ini ditandai dengan penjualan meningkat disertai
munculnya pesaing. Pada awalnya terjadi pertumbuhan yang cepat, strategi
yang diterapkan adalahtetap mempertahankan harga produk/pasar. Ketika
pertumbuhan melambat, terapkan strategi harga agresif ataumenurunkan
harga untuk mendorong penjualan sekaligus menghadapi persaingan yang
semakin ketat.
b. Tahap Kematangan
Pada tahap kematangan, fleksibilitas harga merupakan kunci efektivitas
strategi penetapan harga. Pada tahapan ini perusahaan harus benar-benar
responsif terhadap situasi pasar, konsumen maupun pesaing. Strategi
penetapan harga dapat menggunakan ‘psikologis konsumen’ maupun
‘pemotongan harga’ (diskon), sehingga perusahaan dapat menjaga loyalitas
konsumen (pangsa pasar) dan meningkatkan jumlah permintaan dan
keuntungan yang diperoleh.
c. Tahap Penurunan
Tahap penurunan produk atau jasa ditandai dengan menurunnya jumlah
permintaan secara terus-menerus, sebagai tahap terakhir daur hidup produk
terdapat dua alternatif langkah utama yang dapat dipilih. Pertama, strategi
diskonting (pemotongan harga) Kedua, mempertahankan harga tetapi
memotong biaya-biaya yang berhubungan dengan produk, terutama
pengeluaran untuk promosi.
2. Taktik Penetapan Harga
Tanpa memandang strategi penetapan hargamya, perusahaan dapat menerapkan satu
atau lebih taktik penetapan harga, seperti penetapan harga lini atau penetapan harga
psikologis. para manager juga harus memutuskan apakah akan menggunakan
taktik pemotongan harga.
a. Penetapan Harga Lini
Menetapkan harga-harga tertentu untuk kategori-kategori produk tertentu.
b. Penetapan Harga Psikologis
Taktik penetapan harga yang mengambil manfaat dari fakta bahwa konsumen
tidak selalu bersikap rasional dalam menanggapi harga yang tercantum.
c. Penetapan Harga Ganjil-Genap
Taktik penetapan harga yang didasarkan pada pengetahuan bahwa pelanggan
lebih memilih harga-harga yang tidak tercantum dalam jumlah yang genap.
d. Diskon
Pengurangan harga yang ditawarkan sebagai insentif terhadap pembeli.

2.5 Metode Penetapan Harga

Setelah perusahaan menentukan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai, maka
langkah atau tahapan selanjutnya adalah menentukan metode penetapan harga. Secara
umum metode penetapan harga terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni ;
1. Penetapan harga berdasarkan biaya
a. Penetapan Harga Biaya Plus
Didalam metode ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah
seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang
dikehendaki pada unit tersebut ( margin )

Rumus : Biaya Total + Margin = Harga Jual


Contohnya :
Perusahaan jus dengan biaya total Rp 250.000 dan ingin mendapatkan laba 20%
(margin) maka : Rp 250.000 + (20%  x Rp 250.000) =  Rp 300.000 . Maka harga
setiap jus dijual dengan harga Rp 3000.
b. Penetapan Harga Mark-Up
Untuk metode Mark-up ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung
harga pokok pembelian per unit ditambah ( mark-up ) jumlah tertentu.

Rumus : Harga Beli + Mark-Up = Harga Jual


Contohnya :
Jika anda membeli sebuah baju dengan harga Rp 150.000 kemudian anda
menginginkan laba Rp 50.000 , maka harga jualnya Rp 200.000
.
c. Penetapan Harga BEP ( Break Even Point )
Metode pentapan harga berdasarkan keseimbangan antara jumlah total
biaya   keseluruhan dengan jumlah total penerimaan keseluruhan.

Rumus : BEP => Total Biaya = Total Penerimaan


BEP secara matematis dapat dibagi dua yaitu ;
1. BEP atau titik impas dalam unit
Rumusnya : BEP = biaya tetap : (harga jual per unit - biaya variable rata-rata)
2. BEP atau titik impas dalam satuan rupiah
Rumusnya : Biaya tetap total :1- (biaya variable rata-rata : harga jual per unit)
Contohnya :  
Misalkan anda menjual berbagai macam buah . biaya tetap yang dikeluarkan
senilai Rp 200.000. dan biaya variablenya Rp 1000. Kemudian anda
berencana menjual macam-macam buah tersebut dengan harga Rp 2000 per
buah. Maka BEP nya sebagai berikut :
a. BEP  (dalam unit ) = 200.000 : (2000 -1000) = 200
b. BEP (dalam satuan rupiah ) = 200.000 : 1- (1000 : 2000) = 400.000
Jadi, anda harus menjual 200 macam buah atau senilai Rp 400.000 agar anda
mencapai BEP. Maksudnya anda harus menjual 200 buah atau senilai Rp
400.000 untuk kembali modal. Jika anda menjual 210 buah maka 10 buah
tersebut adalah keuntungan anda.

2. Penetapan Harga berdasarkan Harga Pesaing/Kompetitor


Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan harga kompetitor sebagai referensi,
dimana dalam pelaksanaannya lebih cocok untuk produk yang standar dengan
kondisi pasar oligopoli. Untuk menarik dan meraih para konsumen dan para
pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi harga. Penerapan strategi
harga jual juga bisa digunakan untuk mensiasati para pesaingnya, misalkan dengan
cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan maksud untuk meraih pangsa
pasar.
3. Penetapan Harga Berdasarkan Permintaan
Proses penetapan harga yang didasari persepsi konsumen terhadap value/nilai yang
diterima (price value), sensitivitas harga dan perceived quality. Untuk
mengetahui value dari harga terhadap kualitas, maka analisa Price Sensitivity
Meter (PSM) merupakan salah satu bentuk yang dapat digunakan. Pada analisa ini
konsumen diminta untuk memberikan pernyataan dimana konsumen merasa harga
murah, terlalu murah, terasa mahal dan terlalu mahal dan dikaitkan dengan kualitas
yang diterima.

2.6 Dampak Kredit Terhadap Penetapan Harga

Pengertian kredit menurut Terminologi yaitu dimulai dari kata “Kredit” yang  berasal
dari bahasa Yunani “Credere” yang berarti “Kepercayaan” atau dalam bahasa Latin
“Creditum”  yang berarti Kepercayaan Akan Kebenaran”. oleh karena itu dasar dari
kredit adalah kepercayaan. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit
(Kreditur) percaya bahwa penerima kredit (Debitur) di masa mendatang akan sanggup
memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan.

Menurut Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, M.B.A (2007) kredit adalah penyerahan barang,
jasa atau uang dari satu pihak (Kreditor/Pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan
kepada pihak lain (debitur atau pengutang/borrower) dengan janji membayar dari
penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati kedua belah
pihak

1. Kartu Kredit
Kartu kredit adalah Suatu hal yang berharga atau fasilitas keuangan yang dikeluarkan
oleh suatu Instansi/ Bank tersendiri untuk dipergunakan oleh perorangan/ nasabah
yang mana isinya biasa memberikan hak dan kewajiban bagi pemegang kartu
tersebut yaitu pemegang kartu berhak dalam mendapatkan uang sesuai dengan yang
dikeluarkan bank atas kesepakatan bersama dan pemegang kartu juga berkewajiban
membayar atas seluruh/ sebagian uang tersebut tercantum baik secara pelunasan
maupun dengan cara diplat/ dicicil.

2. Kredit Konsumsi
Sering juga disebut kredit konsumen, yaitu kredit yang di sediakan oleh bank kepada
nasabahnya yang berupa orang peorangan atau rumah-rumah tangga keluarga. yang
pemakaiannya dengan sendiri nya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
konsumsi mereka. Pada umumnya konsumen mempunyai sikap yang relatif lebih
emosional dibandingkan dengan kelompok pemakai kredit produsen. Untuk
berhasilnya kebijakan manajemen dalam bidang pemasaran, manajer bank perlu
sekali memperhatikan hal tersebut. Keberhasilan produk perbankan dalam bentuk
kartukredit/’ creditcard’ erat hubungannya dengan karakteristik tersebut.
Keberhasilan fihak toko penjaja barang dagangan konsumsi dalam memperluas pasar
penjualannya dengan cara menerima kartu kredit dapat pula dihubungkan dengan
keberhasilan bank tersebut. Selain itu, derajat kepastian pembayaran kembali,untuk
kredit konsumsi kecenderungannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kredit-
kredit produsen. Selanjutnya dapat pula dikatakan , bahwa dari segi besarnya
transaksi, untuk kredit konsumsi dengan sendirinya pada umumnya, relatif kecil,
sehingga bank-bank yang tergolong jenis ‘retail bank’ -lah. .dengan suku bunganya
yang tinggi. Mampu melayani pemasokan kredit-kredit konsumsi dengan berhasil.

3. Kredit Produksi
Ini biasa juga disebut kredit usaha atau kredit produsen, dan boleh dikatakan
merupakan kebalikan dari kredit konsumen. Untuk kredit produsen fihak pemakai
jasa kreditnya adalah perusahaan. Kredit produksi lebih lanjut bisa dibeda-bedakan
lagi:
a) berdasarkan perbedaan bidang usaha,
b) berdasarkan perbedaan fungsi pembelanjaan dari segi pemakai kredit, dan
c) berdasarkan perbedaan macamjaminan.

4. Kredit cicilan
Kredit cicilan (installment loan) adalah jumlah uang yang dipinjam untuk membeli
barang seperti rumah atau mobil dan dikembalikan secara mencicil. Masa cicilan
biasanya dihitung dalam bulan, seperti pinjaman 36 bulan untuk membeli mobil.
Semakin lama jangka waktu pembayaran, semakin kecil cicilan bulanan tetapi
semakin besar total biaya bunga.

5. Kredit Dagang
Kredit usaha dagang yang banyak dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang kecil yang
banyak dijumpai dalam perekonomian kita banyak yang berbentuk kredit candak-
kulak, dan oleh karenanya banyak yang merupakan kredit jangka pendek. Usaha
dagang ukuran besar di lain fihak, dengan melihat pola kegiatan serta jenis barang
dagangannya, mempunyai peluang yang menguntungkan untuk menggunakan baik
kredit jangka pendek yang menggunakan barang dagangan sebagaijaminan, kredit
modal kerja dan juga kredit investasi yang dalam alam deregulasi suku bunganya
mempunyai kecenderongan lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga jangka
pendek.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan,
diminta, dicari dan dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan
kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan.

Didalam perkembangannya, tujuan penetapan harga bukan hanya berdasarkan tingkat


keuntungan dan perolehannya saja melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
non ekonomis lainnya. Tujuan-tujuan dalam penetapan harga mengindikasikan bahwa
pentingnya perusahaan untuk memilih, menetapkan dan membuat perencanaan mengenai
nilai produk atau jasa dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan atas produk atau jasa
tersebut.

Produk tidak terlepas dari masalah harga, agar dapat sukses dalam memasarkan suatu
barang atau jasa, setiap perusahaan harus menetapkan harga secara tepat, ada beberapa
metode penetapan harga yaitu : pendekatan  permintaan untuk menetapkan harga,
pendekatan biaya untuk menetapkan harga dan diskon selain itu pula terdapat beberapa
metode penetapan harga khusus untuk produk baru yaitu : Penetracing Pricing dan
Skimming Pricing.

Anda mungkin juga menyukai