Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ARBITRASE & PENYELESAIAN SENGKETA


DOSEN: ADHY NUGRAHA, SH., MH

GUGATAN UPAYA ADMINISTRASI DAN TENGGANG WAKTU

Disusun Oleh :

Wagiyo Susastro Hadinoto


NIM. 201217141

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SURAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peradilan Tata Usaha Negara merupakan salah satu peradilan di Indonesia

yang berwenang untuk menangani sengketa Tata Usaha Negara. Berdasarkan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah dirubah oleh UU No.

9/2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PTUN), Peradilan Tata Usaha

Negara diadakan untuk menghadapi kemungkinan timbulnya perbenturan

kepentingan, perselisihan, atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha

Negara dengan warga masyarakat. UU PTUN memberikan 2 macam cara

penyelesaian sengketa TUN yakni upaya administrasi yang penyelesaiannya

masih dalam lingkungan administrasi pemerintahan sendiri serta melalui gugatan

ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Dalam PTUN, seseorang dapat mengajukan gugatan terhadap kebijakan

pemerintah yang dipercaya telah merugikan individu dan atau masyarakat. Subjek

atau pihak-pihak yang berperkara di Pengadilan Tata Usaha Negara ada 2 yakni,

Pihak penggugat, yaitu seseorang atau Badan Hukum Perdata yang merasa

kepentingannya dirugikan dengan dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara

(KTUN) oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, serta Pihak Tergugat, yaitu

Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan


berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya.

Dalam Undang Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Perubahan

UU PTUN), pihak ketiga tidak dapat lagi melakukan intervensi dan masuk ke

dalam suatu sengketa TUN.

Kekuasaan kehakiman dilingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dalam

UU PTUN dilaksanakan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan

Tinggi Tata Usaha Negara yang berpuncak pada Mahkamah Agung. Pengadilan

Tinggi Tata Usaha Negara pada dasamya merupakan pengadilan tingkat banding

terhadap sengketa yang telah diputus oleh Pengadilan Tata Usaha Negara, kecuali

dalam sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Tata Usaha Negara di

daerah hukumnya serta sengketa yang terhadapnya telah digunakan upaya

administratif. Adapun hukum acara yang digunakan pada Peradilan Tata Usaha

Negara mempunyai persamaan dengan hukum acara yang digunakan pada

Peradilan Umum untuk perkara Perdata, dengan perbedaan dimana Peradilan Tata

Usaha Negara Hakim berperan lebih aktif dalam proses persidangan guna

memperoleh kebenaran materiil dan tidak seperti dalam kasus gugatan perdata,

gugatan TUN bukan berarti menunda dilaksanakannya suatu KTUN yang

disengketakan.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas terdapat perumusan

masalah yang akan dibahas, yaitu:

1. Bagaimana gugatan dan unsurnya dalam PTUN?

2. Beruta Tuntutan apa, ganti rugi dan rehabilitasi?

3. Bagaimana prinsip gugatan tidak menunda pelaksanaan beschiking?

4. Bagaimana ragam upaya administrasi?

5. Berapa tenggang waktu gugatan dan apa maksud dan tujuannya?


BAB II

PEMBAHASAN

1. Gugatan dan Unsurnya Dalam PTUN

Di Pengadilan Tata Usaha Negara suatu gugatan yang masuk terlebih

dahulu harus melalui beberapa tahap pemeriksaan sebelum dilaksanakan

Pemeriksaan didalam Persidangan yang terbuka untuk umum. Apabila dilihat dari

Pejabat yang melaksanakan pemeriksaan ada 3 (tiga) Pejabat yaitu Panitera,

Ketua dan Hakim/Majelis Hakim, akan tetapi apabila dilihat dari tahap-tahap

materi gugatan yang diperiksa ada 4 tahap pemeriksaan yang harus dilalui:

Tahap I

Adalah Tahap penelitian administrasi dilaksanakan oleh Panitera atau Staf

panitera yang ditugaskan oleh Panitera untuk melaksanakan Penilaian

administrasi tersebut

a. Tahap II

Dilaksanakan oleh Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara, dan pada tahap ke-II

tersebut Ketua memeriksa gugatan tersebut.

b. Tahap III

Setelah Majelis Hakim menerima berkas perkara sesuai dengan Penetapan

Penunjukan Majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut yang

dikeluarkan oleh Ketua PTUN.


c. Tahap IV

Setelah dilaksanakan Pemeriksaan Penetapan terhadap gugatan kemudian

Majelis menetapkan untuk Pemeriksaan gugatan tersebut didalam persidangan

yang terbuka untuk umum.

Proses pemeriksaan di muka Pengadilan Tata Usaha Negara dimaksudkan

untuk menguji apakah dugaan bahwa KTUN yang digugat itu melawan

hukum beralasan atau tidak. Gugatan sifatnya tidak menunda atau

menghalangi dilaksanakannya KTUN yang digugat tersebut, selama hal itu

belum diputuskan oleh pengadilan maka KTUN itu harus dianggap menurut

hukum. Hal ini dikarenakan Hukum Tata Usaha Negara mengenal asas

praduga rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid) = praesumptio instae

causa terhadap semua tindakan dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara,

termasuk KTUN yang telah dikeluarkan (Suparto Wijoyo, 1997: 54).

Hak Gugat PTUN yaitu : ada hubungan kausal antara penggugat dengan

akibat hukum (keinginan). Hak gugat diberikan kepada orang yang secara

langsung menderita kerugian. Namun menurut Prinsip : Actio Popularis yaitu

gugatan yang bersifat perwakilan sehingga dimungkinkan bagi pihak ke tiga yang

tidak menderita kerugian secara langsung untuk dapat mengajukan gugatan.\

Keputusan TUN menurut UU. No. 5/ 1986 tentang PTUN pasal 1 butir 3 :

Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan

pejabat TUN yang berisikan tindakan-tindakan hukum TUN yang berdasarkan

peraturan per undang-undangan yang berlaku yang bersifat konkrit, individual


dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum

perdata.

Unsur-unsurnya adalah :

a) Penetapan tertulis yang dibuat oleh pejabat TUN

b) Berisi tindakan hukum TUN

c) Berdasarkan UU

d) Bersifat konkrit individual dan final

e) Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum

2. Tuntutan apa, ganti rugi dan rehabilitasi

a. Ganti Kerugian.

Ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau

dikenakan tindakan lain :

1) Tersangka terdakwa atau terpidana berhak menuntut ganti kerugian karena

ditangkap, ditahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa

alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai

orangnya atau hukum yang diterapkan.

2) Tuntutan ganti kerugian oleh tersangka atau ahli warisnya atas

penangkapan atau penahanan serta tindakan serta tindakan lain tanpa

alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai

orang atau hukum yang diterapkan sebagaimana di-maksud dalam ayat (1)
yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan negeri, diputus disidang

praperadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 77.

3) Tuntutan ganti kerugian sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) diajukan

oleh tersangka, terdakwa, terpidana atau ahli warisnya kepada pengadilan

yang berwenang mengadili perkara yang bersangkutan.

4) Untuk memeriksa dan memutus perkara tuntutan ganti kerugian tersebut

pada ayat (1) ketua pengadilan sejauh mungkin menunjuk hakim yang

sama yang telah mengadili perkara pidana yang bersangkutan.

5) Pemeriksaan terhadap ganti kerugian sebagaimana tersebut pada ayat (4)

mengikuti acara praperadililan. (Pasal 95)

Yang dimaksud dengan “kerugian karena dikenakan tindakan lain”

ialah kerugian yang ditimbulkan oleh pemasukan rumah, penggeledahan dan

penyitaan yang tidak sah menurut hukum. Termasuk penahanan tanpa alasan

ialah penahanan yang lebih lama daripada pidana yang dijatuhkan.

Bentuk putusan, pemberian ganti kerugian :

a) Putusan pemberian ganti kerugian berbentuk penetapan.

b) Penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat dengan lengkap

semua hal yang dipertimbangkan sebagai putusan tersebut. Pasal 96,


b. Rehabilitasi.

Pasal 97 berbunyi sebagai berikut;

1) Seorang berhak memperoleh rehabilitasi apabila oleh pengadilan diputus

bebas atau diputus lepas dari segala tuntutan hukum yang putusannya

telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

2) Rehabilitasi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam putusan

pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

3) Permintaan rehabilitasi oleh tersangka atas atas penangkapan atas

penahanan tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atas kekeliruan

mengenai orang atau hukum yang diterapkan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 95 ayat (1) yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan

negeri diputus oleh hakim praperadilan yang dimaksud dalam Pasal 77.

3. Prinsip Gugatan Tidak Menunda Pelaksanaan Beschiking

unsure yang penting adanya peradilan administrasi tersebut, dan Indonesia

sejak dikeluarkannya UU 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara

yang mulai efektif berlaku sejak tahun 1991 sudah memenuhi salah satu unsure

dari teori Negara hukum.

Asas-asas dalam Peradilan Tata Usaha Negara adalah sebagai berikut :

a. Asas Praduga rechtmatig , yang mengandung makna bahwa setiap tindakan

penguasa selalu harus dianggap benar rechtmatig sampai ada pembatalannya.


Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan keputusan Tata Usaha

Negara yang digugat ;

b. Asas Pembuktian Bebas Hakim yang menetapkan beban pembuktian. Hal ini

berbeda dengan ketentuan Pasal 1865 BW. Asas ini dianut Pasal 107 UU

5/1986, kemudian dibatasi dengan ketentuan pada Pasal 100 UU5/1986;

c. Asas Keaktifan Hakim (dominus litis), keaktifan hakim dimaksudkan untuk

mengimbangi kedudukan para pihak yang tidak seimbang. Pihak tergugat

adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang tentu menguasai betul

peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kewenangan dan atau

dasar dikeluarkan keputusan yang digugat, sedangkan pihak Penggugat adalah

orang perorang atau badan hukum perdata yang dalam posisi lemah, karena

belum tentu mereka mengetahui betul peraturan perundang-undangan yang

dijadikan sumber untuk dikeluarkannya keputusan yang digugat;

d. Asas putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan mengikat (erga omnes) ,

Sengkata TUN adalah sengketa diranah hukum public, yang tentu akibat

hukum yang timbul dari putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan

hukum tetap, akan mengikat tidak hanya para pihak yang bersengketa namun

berdasarkan asas putusan tersebut akan mengikat siapa saja.

Menurut Indroharto (1993:43 ) Untuk melakukan control terhadap

tindakan hukum pemerintah dalam bidang hukum public harus memperhatikan

cirri-ciri sebagai berikut :


1) Sifat atau karakteristik dari suatu keputusan TUN yang selalu mengandung

asas praesumptio iustae causa , yaitu suatu Keputusan Tata Usaha Negara

(Beschikking) harus selalu dianggap sah selama belum dibuktikan sebaliknya

sehingga pada prinsipnya harus selalu dapat segera dilaksanakan ;

2) Asas perlindungan terhadap kepentingan umum atau public yang menonjol

disamping perlindungan terhadap individu ;

3) Asas self respect atau self obidence dari aparatur pemerintah terhadap

putusan-putusan peradilan administrasi, karena tidak dikenal adanya upaya

pemaksa yang langsung melalui juru sita seperti halnya dalam prosedur

hukum perdata.

Dengan asas dan cirri khusus ini menjadi sangat penting untuk diketahui

oleh siapapun juga yang berkeinginan mengajukan gugatan ke PTUN agar dalam

mengajukan gugatan tersebut tepat dan menghasilkan putusan yang diharapkan.

4. Ragam Upaya Administrasi

Upaya Administratif adalah suatu prosedur yang dapat ditempuh dalam

menyelesaikan masalah sengketa Tata Usaha Negara oleh seseorang atau Badan

Hukum Perdata apabila ia tidak puas terhadap suatu Keputusan Tata Usaha

Negara, dalam lingkungan administrasi atau pemerintah sendiri.

Dalam hal penyelesaian Keputusan Tata Usaha Negara tersebut dilakukan

oleh instansi atasan atau instansi lain dari yang mengeluarkan Keputusan yang

bersangkutan, maka prosedur tersebut dinamakan "Banding Administrasi".


Contoh : Keputusan Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK)

berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Disiplin

Pegawai Negeri Sipil.

Dalam hal penyelesaian Keputusan Tata Usaha Negara tersebut dilakukan

sendiri oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan

Keputusan itu, maka prosedur yang ditempuh tersebut dinamakan "Keberatan"

Berbeda dengan prosedur di Peradilan Tata Usaha Negara, maka prosedur

Banding Administratif dan Prosedur Keberatan dilakukan penilaian secara

lengkap baik dari segi penerapan hukum (rechtmatigheid) maupun dari segi

kebijaksanaan (doelmatigheid) oleh instansi yang memutus.

Lembaga upaya administratif ini dapat dilaksanakan apabila peraturan

perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya Keputusan tersebut

memberikan kemungkinan melalui prosedur tersebut. Pemahaman maksud Pasal

48 berguna untuk menghindari kekeliruan yang bersifat prosedural ataupun keliru

memasukkan gugatan ke PTUN.

Aspek positif lembaga upaya administratif adalah menilai lengkap suatu

keputusan baik dari aspek legalitas maupun aspek opportunitas, dan para pihak

tidak dihadapkan pada basil keputusan menang atau kalah (win or loose), tetapi

dengan pendekatan musyawarah.

Aspek negatif lembaga upaya administratif bisa terjadi pada tingkat

obyektifitas penilaian karena badan Tata Usaha Negara yang menerbitkan


keputusan kadang-kadang terkait kepentingannya secara langsung sehingga

mengurangi penilaian maksimal yang seharusnya ditempuh.

5. Tenggang Waktu Gugatan, Maksud dan Tujuan

Gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara tidak dapat diajukan pada

setiap waktu, akan tetapi dibatasi waktu tertentu antara lain :

a) Terhadap Gugatan yang didasarkan pada obyek Gugatannya adalah

Keputusan Tata Usaha Negara, maka tenggang waktu mengajukan Gugatan

diatur oleh ketentuan Pasal 55 selama 90 hari.

b) Dalam hal Gugatan diajukan dengan objek Gugatannya adalah yang

dipersamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara yaitu Gugatan yang

didasarkan pada Pasal 3, tenggang waktu mengajukan Gugatan diatur sebagai

berikut :

1) Pasal 3 ayat (2)

Tenggang waktuk 90 hari dihitung setelah lewat tenggang waktu yang

ditentukan dalam peraturan dasarnya, yang dihitung sejak tanggal

diterimanya permohonan yang bersangkutan.

2) Pasal 3 ayat (3)

Tenggang waktu 90 hari dihitung setelah lewat batasnya waktu 4 bulan

yang dihitung sejak tanggal diterimanya permohonan yang bersangkutan.


3) Dalam hal peraturan dasarnya menentukan bahwa suatu Keputusan itu

harus diumumkan, maka tenggang waktu 90 hari dihitung sejak hari

pengumuman.
BAB III

KESIMPULAN

Indonesia sebagai Negara Hukum, menjamin hak Asasi Manusia tiap-tiap

penduduknya. termasuk dalam hal administrasi Negara. Pemerintah sebagai aparat

yang melaksanakan kegiatan administrasi di Negara ini, tidak menutup kemungkinan

untuk melakukan penyelewengan-penyelewengan kekuasaan, sehingga merugikan

masyarakat Indonsia. Untuk itu, Pemerintah berdasarkan Undang-undang Nomor 5

Tahun 1986 jo UU No. 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang

berdasarkan Pasal 144 diberikan perlindungan hukum terhadap warga masyarakat

atas perbuatan yang dilakukan oleh penguasa.

Peradilan Tata Usaha Negara adalah Peradilan yang menyelenggarakan dan

menyelesaikan sengketa administrasi negara yang menyangkut fungsi dalam

menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah. Dimana

Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha

Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata

Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya

Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.


DAFTAR PUSTAKA

Amrah Muslimin, 1985, Beberapa Asas dan Pengertian Pokok tentang Administrasi
dan Hukum Administrasi, Bandung: Alumni.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Edisi Kedua. Balai Pustaka.

Indroharto, 1993, Usaha Memahami Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha


Negara (Buku II), Jakarta: Sinar Harapan.

Wicipto Setiadi, 1994. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Suatu
Perbandingan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Zairin Harahap, 2001. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.