Anda di halaman 1dari 5

1 a.

Kriminologi dapat didefinisikan sebagai studi sistematis tentang sifat, jenis, penyebab, dan
pengendalian dari perilaku kejahatan, penyimpangan, kenakalan, serta pelanggaran hukum. Kriminologi
adalah ilmu sosial terapan di mana kriminolog bekerja untuk membangun pengetahuan tentang
kejahatan dan pengendaliannya berdasarkan penelitian empiris. Penelitian ini membentuk dasar untuk
pemahaman, penjelasan, prediksi, pencegahan, dan kebijakan dalam sistem peradilan pidana. Meskipun
sangat dipengaruhi oleh sosiologi, kriminologi juga berakar pada sejumlah disiplin ilmu lain, seperti
antropologi, biologi, ekonomi, geografi, sejarah, filsafat, ilmu politik, psikiatri, dan psikologi. Masing-
masing disiplin mengembangkan pemikiran, sudut pandang, serta metode yang berbeda untuk
mempelajari dan menganalisis penyebab kejahatan dengan berbagai implikasi kebijakan.

b. Kaitan kriminologi dengan ilmu pidana

Ilmu kriminologi dan pidana disatukan dan menjadi fokus dalam mempelajari mengenai kejahatan.
Karena berbeda keilmuan, membuat prinsip yang digunakan juga berbeda. Hal ini karena objek dan
tujuan dari masing masing ilmu berbeda. Pada ilmu pidana objeknya berupa aturan hukum tentang
kejahatan yang menjadi akibat dari hukum dengan pidana. Sedangkan tujuannya adalah untuk
mendapatkan pengertian mengenai pidana sehingga bisa menggunakannya sebaik mungkin. Apabila
penggunaan pidana dilakukan secara baik, maka bisa mencapai keadilan hukum yang stabil. Berbeda
dengan ilmu pidana, ilmu kriminologi memiliki objek yaitu manusia yang melakukan kejahatan
dibelakang berlakunya peraturan. Sedangkan untuk tujuannya adalah untuk mendapatkan pengertian
mengenai penyebab kejahatan, dan bisa memberikan pidana yang sesuai denga tindakan yang
dilakukan.

Kriminologi dengan Antropologi


Hubungan kriminologi dengan antropologi menjelaskan tentang perilaku kejahatan atau perilaku yang
melanggar hukum yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat. Contohnya budaya carok di
Madura atau harakiri di Jepang. Meskipun kedua aksi ini merupakan sesuatu yang melanggar hukum
pidana, namun dapat disahkan oleh penganut budaya tersebut.
Kriminologi dengan Psikologi
Psikologi menjelaskan tentang kejiwaan seseorang. Dengan begitu, hubungan kriminologi dengan
psikologi sangat berguna untuk menjelaskan kepribadian ataupun kondisi kejiwaan dari pelaku
kejahatan.
Kriminologi dengan Sosiologi
Kriminologi menjelaskan kejahatan sebagai suatu gejala sosial dari sudut pandang sosiologi. Dalam
sosiologi, dikatakan bahwa timbulnya kejahatan bersamaan dengan munculnya masyarakat. Artinya,
kejahatan merupakan suatu produk yang dihasilkan oleh masyarakat.
Kriminologi dengan Kriminalistik
Kriminalistik merupakan ilmu terapan dari berbagai ilmu yang mempelajari bukti mati dan menjelaskan
tentang sebab-sebabnya. Kriminalistik membantu mengungkapkan kejahatan melalui beberapa cabang
ilmu yang ada di dalamnya. Contohnya, ilmu tentang balistik yang menjelaskan tentang senjata api yang
membantu kriminologi jika terjadi kejahatan dengan menggunakan senjata api.

c. Ilmu pengetahuan memiliki beragam cabang yang saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan yang kita pelajari berasal dari satu cabang ilmu yaitu ilmu
filsafat yang kemudian dikembangkan melalui berbagai macam pemikiran. Munculnya beragam ilmu
pengetahuan disebabkan adanya perbedaan objek serta metode penelitian ataupun pengembangan dari
ilmu pengetahuan itu sendiri,

d. Disiplin analitis merupakan sistem ajaran yang analistis yang menganalisis sera menjelaskan
segala gejala yang dihadapi : sosiologi, psikologi, ekonomi.

Disiplin prespektif merupakan ajaran yang menentukan apakah yang seyogyanya dilakukan
dalam menghadapi kenyataan tertentu : ilmu hukum (dogmatik hukum).

Pada umumnya, kalangan ilmiah berpendapat bahwa sifat-sifat (dasar pembenar, sistematis,
dan intersubyektif). Suatu pengetahuan untuk dapat digolongkan ke dalam ilmu atau
pengetahuan ilmiah dasar pembenarandasar ini mengharuskan seluruh cara kerja ilmiah
diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang setinggi mungkin pada pengetahuan yang
dihasilkan. Ini berarti pertama-tama pemahaman yang akan diuji dalam suatu cara kerja ilmiah
harus dapat dibenarkan secara a priori(sebelum diuji melalui metode ilmiah). Pemahaman ini
dapat berasal dari pengetahuan hasil tangkapan empiric (menggunakan kelima indera, dengan
atampa alat bantu indera), dapat juga hasil pengelohan rasional (menggunakan berbagai
bentuk berpikir), atau dari keduanya. Intinya dasar pembenaran ini adalah, bahwa pemahaman
mengenai ilmu pengetahuan teruji secara ilmiah.

Sistematik, maksudnya terdapat sistem di dalam susunan suatu pengetahuan ilmiah (produk)
dan di dalam memperoleh ilmu pengetahuan itu (proses atau metode). Suatu pengkajian atau
penelitian ilmiah tidak akan membatasi dirinya hanya pada satu bahan imformasi saja,
melainkan senantiasa meletakan hubungan antar jumlah imformasi, sambil berusaha agar
hubungan-hubungan tersebut dapat merupakan suatu kebulatan.

Intersubyektif , maksudnya pengetahuan yang diperoleh oleh seorang subyek harus mengalami
verifikasi oleh subyek-subyek lainnya, supaya pengetahuan itu lebih terjamin keabsahannya
atau kebenarannya.

2 a. mempunyai fungsi untuk mempelajari sejauh mana peran dari seorang korban dalam
terjadinya tindak pidana, serta bagaimana perlindungan yang harus diberikan oleh pemeritah
terhadap seseorang yang telah menjadi korban kejahatan. Disini dapat terlihat bahwa korban
sebenarnya juga berperan dalam terjadinya tindak pidana pencurian, walaupun peran korban
disini bersifat pasif tapi korban juga memiliki andil yang fungsional dalam terjadinya kejahatan.
Pada kenyataanya dapat dikatakan bahwa tidak mungkin timbul suatu kejahatan kalau tidak
ada si korban kejahatan, yang merupakan peserta utama dan si penjahat atau pelaku dalam hal
terjadinya suatu kejahatan dan hal pemenuhan kepentingan si pelaku yang berakibat pada
penderitaan si korban. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa korban mempunyai tanggung
jawab fungsional dalam terjadinya kejahatan

b. Mengapa terjadi seperti ini Karena di era teknologi saat ini banyak individu yang begitu
mudah dihasut dengan informasi informasi yang ada di media massa tanpa menyaring lagi apa
itu baik atau tidak tanpa mempedulika resiko yang bisa saja dapat dianggal sebagai suatu tindak
kejahatan.

c resiko yang akan diakibatkan oleh informasi tersebut dapat merugikan bagi si pembuat
informasi dan juga yang lainya karena akan menyebabkan berbagai pandangan atau opini
negatif yang dapat menimbulkan kekacauan.

d. Dampak fear of crime seperti rasa takut terhadap kejahatan dapat menghasilkan kepanikan
pada masyarakat, gangguan sosial dan dapat menimbulkan kerugian dalam hal kematian
terhadap kecelakaan, cedera dan bunuh diri (Forst 2009:302). Kekerasan adalah ciri terorisme,
mereka menargetkan kekuasaan dan memberikan kecemasan, namun pada kenyataanya
sampai saat ini dampak dari terorisme lebih sedikit memberikan risiko terhadap kematian.
Justru kecelakaan kendaraan adalah kejahatan yang lebih menimbulkan risiko terhadap
kematian. Dan oleh karena itu terorisme seharusnya tidak lebih menimbulkan ketakutan.

3 a. Menurut analisis saya perilaku kriminal berasal dari sifat manusia sebagai makhluk rasional
dan hedonistik. Hedonis, karena orang cenderung bertindak untuk kepentingan mereka sendiri.
Sementara rasional, mampu menghitung kelebihan dan kekurangan dari tindakan itu sendiri,
menurut sekolah klasik, seorang individu tidak hanya seorang hedonis, tetapi juga rasional, dan
oleh karena itu selalu menghitung kelebihan dan kekurangan dari setiap tindakan, termasuk
apakah ia telah melakukan kejahatan

b. Aliran pemikiran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas
merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik
yang bersifat perorangan maupun yang bersifat kelompok. Intelegensi membuat manusia
mampu mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti dia adalah penguasa dari nasibnya, pemimpin
dari jiwanya, makhluk yang mampu memahami dirinya dan berindak untuk mencapai
kepentingan dan kehendaknya

c. Konsep keadilan menurut aliran ini adalah :” suatu hukum yang pasti untuk perbuatan –
perbuatan yang sama tanpa memperhatikan sifat dari sipembuat dan pula tanpa
memperhatikan kemungkinan adanya peristiwa-peristiwa tertentu yang memaksa terjadinya
perbuatan tersebut”

d. Aliran kritis sesungguhnya memusatkan perhatian pada kritik tentang kami terhadap
intervensi kekuasaan dalam menentukan suatu perbuatan sebagai kejahatan. Itulah sebabnya,
aliran ini menggugat eksistensi hukum pidana. Pendukung aliran menganggap bahwa pihak-
pihak yang membuat hukum pidana hanyalah sekelompok kecil dari anggota masyarakat yang
kebetulan memiliki kekuasaan untuk membuat dan membentuk hukum pidana tersebut. Jadi,
hal yang dikatakan sebagai kejahatan dalam hukum pidana dapat saja dianggap oleh
masyarakat (umum) sebagai hal yang bukan tindak kejahatan (tidak jahat). Dan tentunya, hal
tersebut terjadi jika persepsi para pembuat hukum pidana berbeda dengan persepsi luas pada
umumnya.

4 a. Ini dikarenakan masyarakat membeda-bedakan, kelompok sosial ini dibagi berdasarkan


peran, hak dan kewajiban yang saling melengkapi satu sama lain. Namun, pada prosesnya
pembagian kelompok berdasarkan keberagaman suku, ras dan budaya seringkali memicu
terjadinya konflik di masyarakat.

b. Penyebab terjadinya kriminalitas adalah faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah
dorongan yang terjadi dari dirinya sendiri, sementara faktor ekstern adalah faktor yang tercipta
dari luar dirinya, faktor inilah yang bisa dikatakan cukup kompleks dan bervariasi. Kesenjangan
sosial, kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, dsb, merupakan contoh penyebab terjadinya tindak
kriminal yang berasal dari luar dirinya.

c. white collar crime merupakan sebuah fenomena kejahatan yang cukup luas, baik terkait
definisi maupun pengklasifikasian tindakannya. Dalam memahami white collar crime diperlukan
focus pemahan terhadap tipologi pelakunya terlebih dahulu. Dengan ini suatu tindak kejahatan
dapat digolongkan ke dalam bentuk white collar crime atau bukan. Di Asia sendiri, white collar
crime sudah marak terjadi sejak terjadinya krisis ekonomi yang jelas berpengaruh terhadap
penurunan pendapatan negara dan peningkatan hutang yang menjadi lading terjadinya tindak
kejahatan ini. White collar crime di Asia juga dapat diidentifikasikan berdasarkan ciri khas dari
masing-masing region, seperti Asia Barat dengan white collar crime yang kerap terafiliasi
dengan perusahaan offshore dan Asia Tenggara yang kerap melibatkan peran usahawan.
Terakhir, white collar crime di Asia juga dapat dilihat berdasarkan peran atau kontrol
pemerintah di dalam kegiatan ekonomi dan politik. Dimana pada negara yang kontrolnya tinggi
pada kegiatan ekonomi politik, white collar crime banyak terjadi di dalam instansi negara.
Sedangkan pada negara yang kegiatan ekonomi politiknya lebih banyak menggunakan peran
swasta, white collar crime justru seringkali terjadi pada perusahaan-perusahaan swasta.
d. Rumah Tangga adalah merupakan wadah dimana dua oranganak manusia yang berbeda
dipersatukan dalam sebuahikatan perkawinan. Terkadang perkawinan tersebutdibumbui
dengan kebahagiaan dan tidak sedikit pula yangselalu dibumbui dengan pertengkaran bahkan
menimbulkankekerasan terhadap salah satu pihak. Penyebab terjadinyakekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) oleh suami terhadapisteri antara lain adalah dimana laki-laki dianggap
palingdominan daripada perempuan dalam rumah tangga,sehingga mempunyai kewenangan
penuh terhadap istri danberhak melakukan apa saja sesuka hatinya, karena himpitanekonomi
keluarga, himpitan masalah kota besar yangmendorong stress, kondisi lingkungan dan
pekerjaan yangberat mendorong tingginya temperamental seseorangmaupun karena kondisi
kejiwaan seseorang.