Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

METODE PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL


“Cara Terpadu Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini”

Disusun Oleh:
1. Herlega Oktaria 1811250050
2. Putri Yanti 1811250069

Dosen Pembimbing:
Dr. Zubaedi, M.Sg. M.Pd

PRODI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI


FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
TAHUN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum, wr, wb.


Segala puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, shalawat
dan salam juga disampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
Serta sahabat dan keluarganya, seayun langkah dan seiring bahu dalam
menegakkan agama Allah. Dengan kebaikan beliau telah membawa kita dari alam
kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisan, maupun isinya. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran-saran yang dapat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen kami
Bapak Dr. Zubaedi, M.Sg. M.Pd yang telah memberikan pembelajaran dan ilmu
pengetahuan kepada kami. Serta penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
semua rekan-rekan yang telah berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata semoga apa yang telah disampaikan dalam makalah ini dapat
menjadi referensi serta bermanfaat bagi khalayak pembaca.
Wassalamu’alaikum, wr, wb

Bengkulu, 17 Maret 2021

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Terpadu...........................................................3
B. Pengertian Sosial Emosional Anak Usia Dini......................................6
C. Karakteristik Sosial Emosonal Anak Usia Dini ...................................8
D. Sasaran Pengembangan Emosi Anak Usia Dini...................................9
E. Metode Pengembangan Sosial Anak Usia Dini....................................10
F. Kegiatan Untuk Pengembangan Sosial Emosi Anak............................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Karakteristik perkembangan anak TK bersifat holistic atau
menyeluruh atau terpadu, artinya antara aspek perkembangan yang satu
dengan yang lainnya saling berkaitan, aspek perkembangan yang satu
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya.
Pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran terpadu. Dengan
pendekatan terpadu anak akan lebih mudah dalam membangun konsep
tentang benda atau peristiwa yang ada di lingkungannya.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam
mata pelajaran. Dengan adanya itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan
keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi
siswa. Bermakna disini memberikan makna bahwa pada pembelajaran
terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari
melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep
dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.
Untuk itu guru dituntut harus mampu merancang dan melaksanakan
program pengalaman belajar dengan tepat, Manfaat dari pembelajaran terpadu
yaitu banyak topik-topik yang tertuang disetiap mata pelajaran mempunyai
keterkaitan konsep yang dipelajari oleh siswa. Sebagai guru, harus pandai
dalam memilih topik yang sesuai dalam membimbing pembelajaran,
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan Pengertian Pendekatan Terpadu?
2. Jelaskan Pengertian Sosial Emosional Anak Usia Dini?
3. Sebutkan Karakteristik Sosial Emosonal Anak Usia Dini ?
4. Sebutkan Sasaran Pengembangan Emosi Anak Usia Dini?
5. Sebutkan Metode Pengembangan Sosial Anak Usia Dini?
6. Sebutkan Kegiatan Untuk Pengembangan Sosial Emosi Anak?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Pendekatan Terpadu.
2. Untuk Mengetahui Pengertian Sosial Emosional Anak Usia Dini.
3. Untuk Mengetahui Karakteristik Sosial Emosonal Anak Usia Dini.
4. Untuk Mengetahui Sasaran Pengembangan Emosi Anak Usia Dini.
5. Untuk Mengetahui Metode Pengembangan Sosial Anak Usia Dini.
6. Untuk Mengetahui Kegiatan Untuk Pengembangan Sosial Emosi Anak.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan Terpadu


Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai
suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Dikatakan bermakna
karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-
konsepyang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Adapun
pengertian lain pembelajaran terpadu ialah pembelajaran yang menggunakan
tema sebagai pemesrsatu dan pemikat materi dari beberapa mata pelajaran
secara terintegrasi dalam pertemuan tatap muka dan praktik pengamatan.1
Kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan
yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
perkembangan anak. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran
yangmenolak driil sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur
intelektual anak. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvesional,
pembelajaran terpadu tampaknya lebih menekankan keterlibatan anak dalam
belajar, membuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan
pembuatan keputusan.
Karakteristik perkembangan anak TK bersifat holistik atau
menyeluruh, atau terpadu, artinya antara aspek yang satu dengan yang lain
saling berkaitan, aspek perkembangan yang satu mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya. Pembelajaran yang cocok
adalah pembelajaran terpadu dengan berbasis pada tema, karena melalui tema
anak akan lebih mudah dalam membangun konsep tentang benda atau
peristiwa yang ada dilingkungannya. Dengan pembelajaran terpadu sejak dini
anak sudah terlatih mengaitkan informsi yang satu dengan lainnya sehingga

1
Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta: Erlangga, 2013), h.251.
secara wajar dapat menghadapi situasi yang berbeda-beda serta
sekaligusdapat belajar secara aktif dan terlibat langsung dalam kehidupan
nyata, bahkan pembelajaran ini dapat menyentuh semua aspak kecerdasan
anak.
Berikut ini adalah pengertian pembelajaran terpadu menurut beberapa
ahli:
1. Menurut Prabowo
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar
yang melibatkan beberapa bidang studi, Pendekatan belajar mengajar
seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang
bermakna kepada anak didik kita, Arti bermakna disini dikarenakan
dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh
pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan
melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang sudah mereka pahami.
2. Menurut Sugiyanto
Model pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang
memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif
mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik,
Pembelajaran ini merupakan model yang mencoba memadukan beberapa
pokok bahasan.2
Didalam pembelajaran terpadu pun juga memiliki ciri-ciri, yaitu
sebagai berikut:3
1. Berpusat pada anak
Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa (student centered).
Pembalajaran terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat
pada anak, karena pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu
sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa, baik
secara individu maupun secara kelompok, Siswa dapat aktif mencari,
2
Sugiyanto,  Model-Model Pembelajaran Inovatif , (Surakarta: Yuma Pustaka, 2008),
h.22.
3
Tim Pengembang PGSD, Pembelajaran Terpadu, (Bandung: Maulana, 2001), h.7.
menggali, dan manemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu
pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya,
Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak
menempatkan siswa sebagai subjek belajar, Peran guru lebih banyak
sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada
siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung pada anak
Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung
kepada siswa (direct experiences), Dengan pengalaman langsung ini,
siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk
memahami hal-hal yang lebih abstrak, Hasil yang nyata didapat dari
segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep
lain yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih
bermakna, Hal ini diharapkan dapat berakibat pada kemampuan siswa
untuk dapat menerapan perolahan belajaranya pada pemecahan masalah-
masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses
pembelajaran
Pembelajaran terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai
mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran, Dengan demikian,
siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh, Hal ini
diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
4. Bersikap luwes
Pembelajaran terpadu bersifat luwes (fleksibel), sebab guru dapat
mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran
yang lainnya, bahkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan
di mana sekolah dan siswa berada.
Adapun ciri-ciri pembelajaran terpadu menurut Hilda Karli dan
Margaretha yang mengemukakan beberapa ciri-ciri pembelajaran terpadu
sebagai berikut:4
1. Holistik
Suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran
terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami
suatu fenomena dari segala sisi.
2. Bermakna
Keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah
kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu
menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah
nyata didalam kehidupannya.
3. Aktif
Pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan
diskoveri-inkuiri, Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran yang secara tidak langsun dapat memotivasi anak untuk
belajar
B. Pengertian Sosial Emosional Anak Usia Dini
Sosial adalah kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, kegiatan
yang berkaitan dengan pihak lain yang memerlukan sosialisasi dalam hal
tingkah laku yang dapat diterima oleh orang lain, belajar memainkan peran
sosial yang dapat diterima oleh orang lain, serta mengembangkan sikap sosial
yang layak di terima oleh orang lain. Kemampuan sosial anak usia dini
diarahkan untuk pengembangan sosial yang baik, seperti kerja sama, tolong
menolong, berbagi, simpati, empati dan saling membutuhkan satu sama lain.
Untuk itu, sasaran pengembangan perilaku sosial pada anak usia dini ialah
untuk berketerampilan berkomunikasi, keterampilan memiliki rasa senang
dan periang, menjalin persahabatan, memiliki etika tata karma yang baik.
Dengan demikian, materi perkembangan sosial yang diterapan ditaman

4
Hilda Karli dan Maragretha, Pembelajaran Tematik Terpadu, (Bandung :Bina Media
Informasi, 2002), h.22.
kanak- kanak meliputi : disiplin, kerja sama, tolong menolong, empati, dan
tanggung jawab.5
Menurut Bar-Tal dalam martini Jamaris perilaku sosial diartikan
sebagai perilaku yang dilakukan secara sukarela (voluntary), yang dapat
menguntungkan atau menyenangkan orang lain tanpa antisipasi reward
eksternal. Prilaku sosial ini dilakukan dengan tujuan yang baik, seperti
menolong, membantu, berbagi, yang menyumbang atau menderma.6
Emosi merupakan suatu keadaan pada diri organisme ataupun individu
pada suatu waktu tertentu yang diwarnai dengan adanya gradasi efektif mulai
dari tingkatan yang lemah sampai pada tingkatan yang kuat (mendalam),
seperti tidak teralu kecewa dan sangat kecewa.
Kecerdasan emosional yaitu kemampuan untuk mengendalikan,
mengolah, dan mengontrol emosi agar mampu merespon secara positif setiap
kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi ini.7
Berbagai emosi dapat muncul dalam diri seperti sedih, gembira,
kecewa, benci, cinta, marah. Sebutan yang diberikan pada emosi tersebut
akan mempengaruhi bagai mana anak berfikir dan bertindak mengenai
perasaan tersebut.
Menurut dalam Sunarto dan Hartono memberikan pengertian “emosi
sebagai pengalaman afektif yang disertai penyesuaian diri individu tentang
keadaan mental dan fisik, dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Dengan demikian, dapat di pahami bahwa emosi adalah perasaan batin
seseoramg, baik berupa pergolakan pikiran, nafsu, keadaan mental dan fisik
yang dapat muncul atau termanisfestasi kedalam bentukbentuk atau gejala-
gejala seperti takut, cemas, marah, murung, kesal, iri, cemburu, senang, kasih
sayang, dan ingin tahu.”
Berdasarkan uraian di atas dapat di pahami bahwa emosional
merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan berbagai
5
Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini, (Jakarta: Perenada Media Group,
2014), h.138.
6
Ibid, h.139.
7
Riana Mashar, Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2011), h.60.
emosional anak seperti takut, cemas, marah, murung, kesali, iri, cemburu,
senang kasih sayang, dan ingin tahu. Perubahan sifat anak harus disertai
usaha guru untuk menumbuh kembangkan kemampuan emosional anak.
Sebagai hasil pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan sosial
emosional anak.
C. Karakteristik Sosial Emosonal Anak Usia Dini
Hurlok mengklafikasikan pola prilaku sosial pada anak usia dini
kedalam pola prilaku sebagai berikut:8
1. Meniru
Tindakan agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan
perilaku orang yang sangat ia kagumi. Anak mampu perilaku guru yang
diperagakan sesuai dengan tema pembelajaran.
2. Persaingan
Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang
lain.Persaingan ini biasanya sudah tampak pada usia empat tahun. Anak
bersaing dengan teman untuk meraih prestasi seperti berlomba-lomba
dalam memperoleh juara dalam suatu permaianan, menujukan antusias
dalam mengerjakan sesuatu sendiri.
3. Kerja sama
Mulai usia tahun ketiga akhir, anak mulai bermain secara bersama
serta kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat baik dalam
frekuensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan
meningkatkan kesempatan untuk bermain dengan orang lain.
4. Simpati
Karena simpati membutuhkan pengertian tentang perasaanperasaan
dan emosi orang lain, maka hal ini hanya kadang-kadang timbul sebelum
tiga tahun, semakin banyak kontak bermain, semakin cepat simpati
berkembang.
5. Empati

8
Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini..”, h.139.
Membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain,
tetap disamping itu juga membutuhkan untuk membayangkandiri sendiri
di tempat orang lain.
6. Dukungan social
Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak dukungan dari
teman-teman menjadi lebih penting dari pada persetujuan orang dewasa.
7. Berbagi
Anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh
persetujuan sosial ialah membagi miliknya, trutama mainan untuk anak -
anak lainya. Pada momen-momen tertentu, anak juga rela membagi
makamnan kepada anak lain dalam rangka mempertebal tali pertemanan
mereka dan menunjukan indentitas keakraban antar mereka.
D. Sasaran Pengembangan Emosi Anak Usia Dini
Sebagaimana teori belajar era Quantum yang menyatakan bahwa
informasi yang memasuki otak akan menuju otak tengah, Otak tengah
berfungsi sebagai semacam pusat pengarah, Jika memutuskan informasi
penting, ia mengalihkan informasi tersebut ke “otak berpikir”, Fungsi otak
tengah tidak hanya sebuah “pusat pengarah”, tetapi juga bagian otak yang
mengendalikan emosi, Jadi jika informasi baru disampaikan dengan carayang
menyenangkan, maka seseorang dapat belajar dan mengingat dengan baik,
Jika hal yang dipelajari memasukkan unsur warna, ilustrasi, permainan dan
iringan lagu, Emosi terlibat secara positif sehingga orang akan belajar lebih
baik.
Hal yang penting untuk diperhatikan dan dibutuhkan anak dalam
upaya pengembangan emosi yang sehat adalah sebagai berikut:
1. Rasa cinta dan kasih sayang
2. Rasa saling memiliki
3. Rasa diterima apa adanya
4. Diberi kesempatan untuk mandiri dan membuat keputusan sendiri
5. Rasa aman
6. Diberi kepercayaan pada dirinya
7. Diperlakukan sebagai seseorang yang mempunyai identitas
Ada lima cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu proses
pengembangan emosi anak, yaitu:
1. Kemampuan untuk mengenali emosi diri
2. Kemampuan untuk mengelola dan mengeksprseikan emosi secara tepat
3. Kemampuan untuk memotivasi diri
4. Kemampuan untuk memahami perassaan orang lain
5. Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain
Sedangkan materi pembelajaran emosi di taman kanak-kanak meliputi
rasa cinta, kasih sayang, empati serta pengendalian emosi.
E. Metode Pengembangan Sosial Anak Usia Dini
Salah satu keahlian guru yang diharapkan adalah kemampuannya
dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk peserta
didiknya, Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses
pengembangan sosial diantaranya adalah:9
1. Bernyanyi dan Bermain Musik
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional
manusia, oleh karenanya, bermain musik bagi anak penting dan
memberikan pengaruh yang kuat dalam pengembangan emosinya, Musik
dapat menumbuhkan rasa kebangsaan, kesatuan, kagum, gembira, bahkan
kepuasan rohaniah dan jasmani, Manfaat yang lain diantaranya adalah
mendorong gerak pikir dan rasa membangkitkan kekuatan dalam jiwa
dan membentuk watak. Musik juga dapat memerikan kepuasan rohaniah
dan membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak, Selain
itu, musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang
untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan ilahi serta semesta alam.
2. Bermain peran
Adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan
tokok-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada

9
Ali Nugraha, Metode Pengembangan Sosial Emosional, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2011), h. 21.
disekitar anak, melalui permaian ini daya majinasi kreatvitas, empati
serta penghayatan anak dapat berkembang, Anak-anak dapat menjadi
apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi
terhadap objek seperti yang diharapkannya, Jika ia mengagumi ibunya,
maka ia akan memerankan tokoh ibunnya seperti yang biasa ia lihat,
Salah satu cara bagi anak untuk menelusuri dunianya, salah satunya
adalah dengan meniru tindakan dan karakter dari orang-orang yang
berada disekitarnya, Ini merupakan bagian paling awal dari bentuk
drama, yang tidak dapat disamakan dengan drama atau ditafsirkan
sebagai penampilan.
3. Hand Puppet
Hand pupet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan,
merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia TK,
melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi,
mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya,
Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak
membutuhkan kawan dalam melakukannya, walaupun masih ada
beberapa anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan
bola tangannya, Namun sekalipun permainan dilakukan anak sendirian,
itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-
temannya, Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam
mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan
Hand Puppet ini untuk terapi, Dengan permainan ini anak-anak yang
mengalami permasalahan emosional pun akan terbantu.
4. Bercerita
Bercerita bagi seorang anak adalah suatu yang menyenangkan,
Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apapun
yang dia inginkan, Seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak
dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangan sosialnya,
Bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang erat
dengan anak, melalui bercerita, para pendidik dapat berinteraksi secara
hangat dan akrab, terlebih lagi jika mereka dapat melengkapi dengan
cerita-cerita itu dengan unsur humor.
5. Permainan gerak dan lagu
Merupakan aktivitas bermain musik sambil menari, dan anak akan
lebih senang jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan,
Teknik pelaksaaannya mudah, pertama kita dapat memutar musik klasik
di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan
musik, Tiba-tiba musik dimatikan di tengah-tengah dan anak-anak pun
berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi patung, Begitu dan
seterusnya di ulang lagi dengan menggunakan berbagai macam lagu
sehingga semakin menyenangkan dan emosi anak akan semakin
terekspresikan.
F. Kegiatan Untuk Pengembangan Sosial Emosi Anak
Pengembangan karakter melalui pembiasaan ini dapat dilakukan
secara terjadwal atau tidak terjadwal baik di dalam maupun di luar kelas,
Kegiatan pembiasaan di sekolah terdiri atas Kegiatan Rutin, Spontan,
Terprogram dan Keteladanan.10
1. Kegiatan Rutin
Kegiatan ini sering juga disebut sebagai pembiasaan yang
dilakukan dengan cara penjadwalan secara terus menerus hingga pola
perilaku yang diharapkan melekat menjadi kebiasaan positif pada setiap
anak, kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan secara reguler dan
terus menerus disekolah.
Tujuan dari penyediaan program atau kegiatan rutin adalah
menyediakan suatu bentuk kegiatan yang dijadwalkan secara terus-
menerus dan atau periodik yang diharapkan dapat berfungsi dalam
pembentukan kebiasaan yang diperlukan anak prasekolah atau TK dalam
berinteraksi, bersosialisasi dan bermasyarakat, sehingga pola perilaku
tersebut dapat melekat pada anak secara lebih wajar (alamiah), tetapi
tetap terencana dan terukur ketercapaiannya.

10
Ibid, h.24.
Selain itu juga untuk membiasakan siswa melakukan sesuatu
dengan baik. Kegiatan pembiasaan yang termasuk kegiatan rutin adalah
sebagai berikut:
a. Berdoa sebelum memulai kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik
berdoa sebelum memulia segala aktifitas. Kegiatan dilaksanakan
setiap pagi secara terpusat dari ruang informasi dimana pada setiap
pagi dengan petugas yang terjadwal.
b. Membaca Asmaul Husna
Kegiatan ini bertujuan membiasakan peserta didik untuk
berdzikir, mengingat nama-nama Allah, Kegiatan ini dilaksanakan
secara terpusat dari ruang insformasi dengan petugas yang terjadwal.
c. Hormat Bendera Merah Putih
Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan jiwa nasionalisme
dan bangga sebagai bangsa pada peserta didik
d. Berdoa di akhir pelajaran
e. Kebersihan Kelas
2. Kegiatan Terprogram
Kegiatan terprogram adalah kegiatan yang dibuat secara terencana
menjadi sasaran atau agenda utama saat program itu dilaksanakan,
Pembelajaran dapat dirancang dalam silabus, baik untuk jangka waktu
yang pendek maupun panjang. Kegiatan Terprogram ialah kegiatan yang
dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan kalender pendidikan
atau jadwal yang telah ditetapkan, membiasakan kegiatan ini artinya
membiasakan siswa dan personil sekolah aktif dalam melaksanakan
kegiatan sekolah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing,
Secara umum tujuan penembangan pembelajaran secara
terprogram, supaya segala kemampuan yang dituangkan dalam
kurikulum prasekolah dapat tercapai lebih optimal, sistematis, efektif,
dan efisien. Sehingga program ini berfungsi dalam mencapai kegiatan
yang lebih terukur, lebih produktif, dan lebih berkualitas. Adapun secara
lebih khusus dengan pengembangan yang bersifat terprogram ini adalah :
a. Anak dapat terfasilitasi secara lebih terarah dan professional dalam
perkembangannya, karena kegiatan berdasarkan rancangan yang
telah dipersiapkan secara matang sebelumnya.
b. Kemajuan pengembangan anak lebih dapat terkontrol, terukur dan
mengacu pada standar perilaku dan emosi yang berdasarkan
karakteristik anak usia prasekolah.
c. Berbagai bentuk gangguan perkembangan lebih mudah terdeteksi,
sehingga berbagai tindakan baik preventif maupun kuratif dapat
segera ditangani secara cepat, tepat, dan baik.
Secara umum ruang lingkup program untuk pengembangan
perilaku ini sama seperti yang akan dikembangkan dalam kegiatan rutin.
Tetapi akan menjadi berbeda isi programnya, jika rancangan program
ditujukan pada anak tertentu atau sering disebut sebagai layanan
individual, misalkan saja program untuk menangani anak yang mogok
sekolah, program untuk menangani anak yang sulit berpisah dengan
orang tua.
Dapat juga pembentukan dan peningkatan perilaku deprogram
dalam kegiatan insidental, misalkan melalui pesantren kilat, perayaan
hari besar keagamaan, kunjungan ke panti asuhan, dan sebagainya yang
dianggap dapat menumbuh-kembangkan pola perilaku anak yang positif.
Kesuksesan dari kegiatan yang terprogram ini ditentukan oleh beberapa
faktor.
a. Kematangan perencanaan, yaitu : perencanaan dibuat dan
dipersiapkan dengan waktu yang cukup serta berisikan segala
kebutuhan yang akan dilakukan dalam program itu.
b. Kesiapan dukungan sarana, yaitu : kegiatan pembentukan perilaku
akan semakin optimal jika sarananya tercukupi, jika program itu
diluar sekolah, harus juga disediakan kendaraan yang cukup.
c. Kesatuan tim kerja, yaitu : guru, staf, dan anak harus memiliki
kesamaan sasaran. Bahkan jika melibatkan orang tua, peran mereka
juga perlu dikomunikasikan agar semua orang yang terlibat mengerti
hak dan kewajibannya secara baik.
Contoh :
a. Kegiatan Class Meeting
b. Kegiatan Memperingati Hari-Hari Besar Nasional
c. Kegiatan Karyawisata
d. Kegiatan Lomba Mata Pelajaran
e. Kegiatan Pentas Seni Akhir Tahun (PESAT)
3. Kegiatan spontan
Kegiatan spontan adalah pembelajaran yang dikembangkan untuk
menanggapi stimulus langsung dari anak sebagai konsekuensi konteks
pembelajaran yang bersifat dinamis, terutama pada kelas TK. Penting
dilakukan pembelajaran spontan karena pemberian efek kepuasan yang
sangat tinggi pada anak. Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dapat
dilakukan tanpa dibatasi oleh waktu, tempat dan ruang.
Secara umum tujuan dari pembelajaran spontan adalah untuk
meningkatkan apresiasi anak terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam
setiap bidang pengembangan, karena pembelajaran disajikan dengan
kejadian yang sangat nyata dan diminati oleh anak.
Pembelajaran yang baik akan berfungsi secara efektif dalam
memenuhi kepuasan, menjaga minat dan motivasi, serta meningkatkan
kebermaknaan belajar.
Contohnya:
a. Membiasakan mengucapkan salam dan bersalaman kepada guru,
karyawan dan sesama siswa
b. Membiasakan bersikap sopan santun
c. Membiasakan membuang sampah pada tempatnya
d. Membiasakane.
e. Membiasakan menghargai pendapat orang lainf.
f. Membiasakan minta izin masuk/keluar kelas atau ruangan
g. Membiasakan menolong atau membantu orang lainh.
h. Membiasakan konsultasi kepada guru pembimbing dan atau
gurulain sesuai kebutuhan
4. Kegiatan keteladanan
Yang dimaksud dengan keteladanan disini adalah pembelajaran
yang ditampilkan melalui contoh-contoh yang baik dan menggunakan
berbagai contoh yang telah diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan
standar serta sistem nilai tertentu. Pendekatan ini penting karena anak
usia TK merupakan peniru yang hebat dan mudah menyerap dari apa
yang dilihatnya.
Tujuan dari pembelajaran teladan adalah untuk mengarahkan anak
pada berbagai contoh pola perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat,
dengan cara menampilkannya langsung dihadapan atau dalam kehidupan
bersama anak. Pembelajaran teladan disajikan secara wajar dan alamiah,
sehingga fungsi pembelajaran ini untuk membentuk karakter dan perilaku
dasar yang dapat diterima menjadi efektif.
Program dan isinya yang dapt ditularkan kepada anak terkait
dengan pengembangan cukup luas cakupannya. Tetapi secara umum
keteladaan yang dapat ditularkan kepada anak meliputi.
a. Keteladanan dalam beribadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing, seperti: abad berdoa, abad shalat,
abad membaca kitab suci, dan sebagainya.
b.  Keteladanan dlaam berhubungan dengan orang lain, seperti: cara
menyapa, cara meminta, cara berkomunikasi, tatakrama, sopan
santun, mengendalikan marah, dan lain-lain.
c. Keteladanan dalam bekerja dan menyelesaikan masalah, seperti:
bersabar, semangat, menjaga kondisi kerja, displin, dan sebagainya.
d. Teladan dalam berpakaian atau berbusana, seperti: berpakaian kerja,
berpakaian pesta, berpakaian ibadah, termasuk: menggunakan
sepatu, make up, dan sebagainya.
e. Teladan gaya hidup: tidak boros, mandiri, sederhana, tidak berfoya-
foya, dan sebagainya.
f. Teladan cara belajar: sikap belajar, pemanfaatan waktu belajar, abad
belajar, dan sebagainya.
g. Keteladanan dalam menyikapi lingkungan: buang sampah pada
tempatnya, memberikan selokan sekolah oleh para guru dan diikuti
oleh anak, dan sebagainya.
h. Dan masih banyak yang lainnya, sesuai dengan perkembangan
budaya dan kebutuhan isi keteladanan yang diperlukan oleh anak.
Contoh:
a. Membiasakan berpakaian rapi
b. Mebiasakan datang tepat waktu
c. Membiasakan berbahasa dengan baik
d. Membiasakan rajin membaca
e. Membiasakan bersikap ramah
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai
suatu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Adapun pengertian
lain pembelajaran terpadu ialah pembelajaran yang menggunakan tema
sebagai pemesrsatu dan pemikat materi dari beberapa mata pelajaran secara
terintegrasi dalam pertemuan tatap muka dan praktik pengamatan.
Didalam pembelajaran terpadu pun juga memiliki ciri-ciri, yaitu
berpusat pada anak, memberikan pengalaman langsung pada anak,
menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses
pembelajaran, dan bersikap luwes. Adapun ciri-ciri pembelajaran terpadu
menurut Hilda Karli dan Margaretha yang mengemukakan beberapa ciri-ciri
pembelajaran terpadu adalah holistik, bermakna, dan aktif
Sosial adalah kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, kegiatan
yang berkaitan dengan pihak lain yang memerlukan sosialisasi dalam hal
tingkah laku yang dapat diterima oleh orang lain, belajar memainkan peran
sosial yang dapat diterima oleh orang lain, serta mengembangkan sikap sosial
yang layak di terima oleh orang lain.
Emosi merupakan suatu keadaan pada diri organisme ataupun individu
pada suatu waktu tertentu yang diwarnai dengan adanya gradasi efektif mulai
dari tingkatan yang lemah sampai pada tingkatan yang kuat (mendalam),
seperti tidak teralu kecewa dan sangat kecewa. Kecerdasan emosional yaitu
kemampuan untuk mengendalikan, mengolah, dan mengontrol emosi agar
mampu merespon secara positif setiap kondisi yang merangsang munculnya
emosi-emosi ini.
Hurlok mengklafikasikan pola prilaku sosial pada anak usia dini
kedalam pola prilaku yaitu meniru, persaingan, kerja sama, simpati, empati,
dukungan social, dan membagi
Hal yang penting untuk diperhatikan dan dibutuhkan anak dalam
upaya pengembangan emosi yang sehat adalah rasa cinta dan kasih saying,
rasa saling memiliki, rasa diterima apa adanya, diberi kesempatan untuk
mandiri dan membuat keputusan sendiri, rasa aman, diberi kepercayaan pada
dirinya, dan diperlakukan sebagai seseorang yang mempunyai identitas.
Ada lima cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu proses
pengembangan emosi anak, yaitu kemampuan untuk mengenali emosi diri,
kemampuan untuk mengelola dan mengeksprseikan emosi secara tepat,
kemampuan untuk memotivasi diri, kemampuan untuk memahami perassaan
orang lain, dan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain.
Metode yang dapat digunakan untuk membantu proses pengembangan
sosial diantaranya adalah
bernyanyi dan bermain musik, bermain peran, hand puppet, bercerita,
dan permainan gerak dan lagu. Pengembangan karakter melalui pembiasaan
ini dapat dilakukan secara terjadwal atau tidak terjadwal baik di dalam
maupun di luar kelas, kegiatan pembiasaan di sekolah terdiri atas kegiatan
rutin, spontan, terprogram dan keteladanan.
DAFTAR PUSTAKA

Karli, Hilda dan Maragretha. (2002). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung:


Bina Media Informasi.
Mashar, Riana. (2011). Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Nugraha, Ali. (2011). Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Sugiyanto. (2008). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma
Pustaka.
Susanto, Ahmad. (2014). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Perenada
Media Group.
Suyanto dan Jihad, Asep. (2013). Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Erlangga.
Tim Pengembang PGSD. (2001). Pembelajaran Terpadu. Bandung: Maulana.

Anda mungkin juga menyukai